cover
Contact Name
Teti Estiasih
Contact Email
-
Phone
+62341580106
Journal Mail Official
jpathp@ub.ac.id
Editorial Address
Jl. Veteran Malang 65145 Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pangan dan Agroindustri
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 26852861     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.jpa
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 1,080 Documents
EKSTRAKSI ANTIOKSIDAN DAUN SIRSAK METODE ULTRASONIC BATH (KAJIAN RASIO BAHAN : PELARUT DAN LAMA EKSTRAKSI) [IN PRESS JANUARI 2016] Hana Handayani; Feronika Heppy Sriherfyna; Yunianta Yunianta
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun sirsak salah satu yang banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional.Senyawa bioaktif dan antioksidan seperti tannin, flavonoid, polifenol, Annonaceuous acetogenius, dan saponin banyak terdapat pada daun sirsak.Senyawa-senyawa tersebut memiliki kemampuan sitotoksik yang dapat menghambat dan mereduksi radikal bebas. Ekstraksi konvensional umumnya memakan waktu yang lama dan melibatkan proses termal yang dapat merusak senyawa antioksidan, sehingga diperlukan metode yang lebih efisien salah satunya menggunakan metode ultrasonik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio bahan : pelarut dan lama ekstraksi menggunakan metode ultrasonik sehingga dihasilkan ekstrak daun sirsak terbaik. Penelitian ini disusun menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu rasio bahan : pelarut (1:5, 1:10, 1;15) dan lama ekstraksi (10, 15, 20 menit). Perlakuan terbaik diperoleh dari rasio bahan : pelarut 1:10 (b/v) dan lama ekstraksi 20 menit dengan rendemen 11.72%, kandungan total fenol 15213.33 ppm, kadar flavonoid 45843 ppm, aktivitas antioksidan 78.14% dan nilai IC50 15.58 ppm.   Kata kunci: Antioksidan, Daun Sirsak, Ultrasonik
STRAIN IMPROVEMENT Acetobacter xylinum MENGGUNAKAN ETHYL METHANE SULFONATE (EMS) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI SELULOSA BAKTERI [IN PRESS JANUARI 2016] Raida Amelia Ifadah; Joni Kusnadi; Sudarma Dita Wijayanti
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Acetobacter xylinum adalah bakteri yang digunakan pada produksi selulosa bakteri, namun produktivitasnya masih rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitasnya adalah dengan melakukan strain improvement menggunakan Ethyl Methane Sulfonate (EMS). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui lama waktu kontak EMS optimum yang mampu menghasilkan Acetobacter xylinum mutan dan mengetahui peningkatan selulosa yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kuantitatif dengan perlakuan EMS 5µl/ml dan lama waktu kontak 1, 2, 3, 4, 5 jam. Isolat mutan yang didapat  diuji kemampuan produksi selulosanya dan dibandingkan dengan wildtype. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan mutagenesis EMS 5µl/ml pada Acetobacter xylinum selama 5 jam menghasilkan rasio kematian sebesar 91.75% dan menghasilkan 8 isolat mutan. Isolat  mutan M6 menghasilkan rendemen selulosa 67.19%, nilai ini 36.54% lebih tinggi dibandingkan wildtype. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa penggunaan mutagenesis dengan EMS dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan produksi selulosa dari Acetobacter xylinum.   Kata Kunci: Acetobacter xylinum, Ethyl Methane Sulfonate (EMS), Mutagenesis, Selulosa bakteri
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SUPLEMEN HERBAL DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) DAN KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L.): KAJIAN PUSTAKA [IN PRESS JANUARI 2016] Mega Leny Puspitasari; Tara Viantya Wulansari; Tri Dewanti Widyaningsih; Jaya Mahar Maligan; Nur Ida Panca Nugrahini
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stres oksidatif merupakan suatu kondisi yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem pertahanan antioksidan di dalam tubuh. Konsumsi suplemen herbal menjadi trend saat ini untuk menjaga kesehatan (preventif) karena dianggap mempunyai banyak manfaat dan khasiat dan tanpa efek samping. Daun sirsak (Annona muricata L) dan kulit manggis (Garcinia mangostana L) merupakan salah satu bahan yang digunakan sebagai suplemen herbal dan sangat popular di pasaran. Pada daun sirsak ditemukan senyawa acetogenin yang bermanfaat mengobati berbagai penyakit. Senyawa α-mangostin merupakan senyawa paling banyak yang ditemukan dalam kulit buah manggis dan berfungsi sebagai antioksidan. Tingginya kandungan senyawa fenolik telah diketahui memiliki berbagai efek biologis seperti aktivitas antioksidan melalui mekanisme sebagai pereduksi, penangkap radikal bebas, pengkhelat logam, peredam terbentuknya oksigen singlet serta pendonor elektron.   Kata kunci: Daun sirsak, Kulit manggis, Stres oksidatif, Suplemen herbal
STUDI PEMBUATAN KEFIR NIRA SIWALAN (Borassus flabellifer L.) (PENGARUH PENGENCERAN NIRA SIWALAN DAN METODE INKUBASI) [IN PRESS JANUARI 2016] M Fatkhul Mubin; Elok Zubaidah
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nira siwalan merupakan salah satu produk hasil pohon siwalan (Borassus flabellifer) dengan kandungan gula yang tinggi. Kandungan gula yang tinggi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai minuman probiotik antara lain water kefir. Water kefir terdiri dari berbagai mikroba yang kompleks, sehingga dibutuhkan metode inkubasi serta jumlah pemenuhan nutrisi yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengenceran nira siwalan dan metode inkubasi terhadap produk akhir kefir nira siwalan. Penelitian disusun menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu pengenceran nira (1:5 dan 1:7) dan metode inkubasi (25 oC selama 24 jam, 37 oC selama 12 jam dan 37 oC selama 4 jam). Perlakuan terbaik adalah kefir nira siwalan dengan perlakuan metode inkubasi suhu 25 oC selama 24 jam dengan pengenceran nira siwalan 1:7 yakni dengan nilai total BAL  5.62 x 107 cfu/ml; total khamir 1.20 x 106 cfu/ml; pH 3.73; total asam 0.86%; dan total gula sebesar 10.33 %.   Kata Kunci: Diversifikasi Produk, Metode Inkubasi, Nira Siwalan, Water Kefir
PEMBUATAN KERUPUK CEKEREMES KAJIAN PROPORSI TEPUNG (MOCAF : BUNGKIL KACANG : TAPIOKA) SERTA PENAMBAHAN KONSENTRASI CMC [IN PRESS JANUARI 2016] Wahyu Remadani; Wahono Hadi Susanto
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modifikasi yang dilakukan dari kerupuk cekeremes dengan proporsi tepung mocaf, tepung bungkil kacang dan tepung tapioka untuk memperbaiki nutrisi serta penambahan konsentrasi CMC yang diharapkan dapat memperbaiki kualitas kerupuk secara fisik. Penelitian untuk mengetahui proporsi tepung mocaf, bungkil kacang dan tapioka serta konsentrsai CMC yang tepat dalam pembuatan kerupuk cekeremes untuk mendapatkan perlakuan terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor, yaitu proporsi tepung digunakan mocaf:bungkil kacang:tapioka (40:30:30, 60:20:20 dan 80:10:10) dan konsentrasi CMC (0.50%, 1.00% dan 1.50%) dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukan proporsi proporsi tepung memberikan pengaruh sangat nyata (α=0.01) terhadap kadar air, kadar pati, kadar lemak, kadar protein, daya kembang, kecerahan dan kadar lemak kerupuk matang. Perlakuan penambahan konsentrasi CMC berpengaruh sangat nyata (α= 0.01) terhadap kadar air dan daya kembang. Perlakuan penambahan konsentrasi CMC berpengaruh nyata (α= 0.05) pada kadar protein. Proporsi tepung 80:10:10 serta konsentrasi CMC 1.50% merupakan perlakuan terbaik.   Kata kunci: CMC (Carboxymethyl Cellulose), Kerupuk Cekeremes, Mocaf
ORGANOLEPTIK DAN KARAKTERISTIK FISIK KEFIR ROSELLA MERAH (Hibiscus sabdariffa L.) DARI TEH ROSELLA MERAH DI PASARAN [IN PRESS JANUARI 2016] Afifah Puji Hastuti; Joni Kusnadi
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki keanekaragaman tanaman, salah satu tanaman tersebut yaitu rosella merah (Hibiscus sabdariffa L.). Water kefir merupakan minumam probiotik yang mengandung bakteri baik bagi tubuh manusia. Pada saat ini, banyak produsen yang memanfaatkan teh rosella merah kering dalam bentuk teh seduh maupun teh celup, namun dalam bentuk lain seperti kefir teh rosella merah belum dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan membandingkan sifat organoleptik dan fisik kefir teh rosella merah yang terbuat dari berbagai macam merk teh rosella merah yang beredar di pasaran baik berjenis seduh maupun celup. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan 1 faktor perlakuan (6 merek teh rosella merah yang beredar di pasaran) dengan 3 ulangan. Perlakuan terbaik dengan Metode De Garmo diperoleh pada kefir teh rosella merah berjenis seduh merk Rosella Merah dengan karakteristik organoleptik rasa 3.05, aroma 2.75, warna 2.80, dan karakteristik fisik warna (L*) 24.43, warna (a+) 52.70, warna (b+) 8.70. Kefir teh rosella merah merupakan produk minuman fermentasi yang memiliki sifat fungsional sebagai antibakteri.   Kata Kunci : Kefir Teh Rosella Merah, Organoleptik, Probiotik, Water Kefir
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG AMPAS TAHU DAN JENIS KOAGULAN PADA PEMBUATAN TAHU BERSERAT [IN PRESS JANUARI 2016] Diwyacitta Antya Putri; Sudarminto Setyo Yuwono
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahu memiliki kandungan serat yang rendah dibanding dengan olahan kedelai lain. Tepung ampas tahu dapat ditambahkan untuk meningkatkan kadar serat tahu, dengan pemilihan koagulan yang tepat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung ampas tahu dan jenis koagulan pada karakteristik tahu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dua faktor (konsentrasi tepung ampas tahu dan jenis koagulan) dengan tiga ulangan. Konsentrasi tepung ampas tahu dan jenis koagulan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air dan protein. Kandungan serat meningkat dengan meningkatnya konsentrasi tepung ampas tahu. Kadar serat tahu dengan koagulan whey lebih tinggi dari pada cuka. Tahu dengan koagulan cuka memiliki rendemen lebih tinggi dari pada koagulan whey. Tahu tanpa tepung ampas tahu memiliki tekstur terbaik, sedangkan tekstur tahu dengan koagulan whey lebih kokoh. Berdasarkan organoleptik, rerata kesukaan rasa tertinggi adalah kombinasi tepung ampas tahu 1% dengan koagulan cuka.   Kata kunci: Koagulan, Serat, Tahu berserat, Tepung ampas tahu
PENGARUH JENIS PETIS DAN PROPORSI KACANG TANAH : PETIS TERHADAP SIFAT FISIK, KIMIA DAN ORGANOLEPTIK PEMBUATAN BUMBU TAHU TEK INSTAN [IN PRESS JANUARI 2016] Yunita Prameswari; Sudarminto Setyo Yuwono
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahu tek adalah salah satu makanan tradisional Jawa Timur. Tahu tek terdiri dari tahu goreng, lontong, kentang goreng, taoge, mentimun dan penambahan bumbu. Masyarakat biasanya membuat bumbu tahu tek secara langsung untuk dikonsumsi pada saat itu juga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis petis dan proporsi kacang tanah : petis terhadap sifat fisik, kimia dan organoleptik serta untuk mendapatkan perlakuan terbaik bumbu tahu tek instan. Metode penelitian ini disusun secara faktorial yang dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor I yaitu jenis petis (Petis Udang, Petis Ikan, Petis Kupang) dan  faktor II yaitu proporsi kacang tanah : petis (53:32% dan 47:38%). Perlakuan terbaik diperoleh pada bumbu tahu tek instan dengan perlakuan jenis petis udang dan proporsi kacang tanah : petis 53 : 32%. Karakteristik perlakuan terbaik bumbu tahu tek instan dengan kadar air sebesar 14.72%, Aw 0.67, lemak sebesar 31.48% , waktu pencampuran 120 detik, viskositas 9190 cP, kecerahan 28.16, tekstur 6.83 N, dan Total Plate Count 2.0x102 CFU/ml. Nilai kesukaan rasa 3.90, aroma 4.20 dan warna 3.50.   Kata kunci: Jenis Petis, Proporsi, Tahu Tek Instan, Kacang Tanah
PENGARUH KONSENTRASI PENGEMULSI LESITIN DAN PROPORSI TAPE SINGKONG TERHADAP KUALITAS FISIK, KIMIA, ORGANOLEPTIK KUE DONAT [IN PRESS JANUARI 2016] Ni Made Ayu Octaviana; Yunianta Yunianta; Indria Purwantiningrum
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pengemulsi lesitin dan proporsi tape singkong terhadap kualitas fisik, kimia dan organoleptik kue donat. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang disusun dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Dimana faktor 1 yaitu pengemulsi lesitin terdiri dari 3 level (0.20 %. 0.40 %, 0.60 %), dan faktor 2 yaitu tape singkong terdiri dari 3 level (5 %, 10 %, 15 %). Data dianalisis menggunakan ANOVA (α=5 %). Jika terdapat beda nyata dilakukan uji lanjut menggunakan uji BNT atau DMRT pada taraf 5 %. Untuk mengetahui kualitas kue donat dilakukan analisis fisik, kimia dan organoleptik. Pilihan perlakuan terbaik digunakan metode Zeleny. Kue donat perlakuan terbaik dari segi kimia, fisik, dan organoleptik diperoleh pada perlakuan pengemulsi lesitin 0.60 % dan tape singkong 15 %. Perlakuan terbaik ini memiliki karakteristik meliputi kadar air 31.36 %, kadar protein 5.26 %, kadar abu 1.14 %, kadar lemak 33.42 %, serat kasar 13.49 %, total gula 0.82 %, elastisitas tekstur 3 N, keempukan tekstur 0.12 mm/g.s, daya kembang 233.33 %, porositas melintang 25.67, porositas membujur 30.33, kecerahan warna (L) 52.81, warna kemerahan (a) 11.72, warna kekuningan (b) 27.86, rasa 2.79 (suka), warna 2.85 (suka), aroma 2.67 (suka), tekstur 2.69 (suka). Dan karakeristik kue donat perlakuan terbaik setelah penyimpanan 3 hari memiliki kadar air 27.54 %, pH 5.40, keempukan tekstur 0.0962 mm/g.s, elastisitas 6 N.   Kata kunci: Kue Donat, Pengemulsi Lesitin, Tape Singkong
PENGARUH PROPORSI (NIRA : AIR) DAN PROSES PASTEURISASI TERHADAP KUALITAS MINUMAN LEGEN DALAM KEMASAN [IN PRESS JANUARI 2016] Meilani Anugrah Gusti; Simon Bambang Widjanarko; Feronika Heppy Sriherfyna
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nira siwalan atau Legen (istilah Indonesia) didapatkan dari penderesan pohon siwalan. Kandungan gula yang tinggi dari nira siwalan ini membuat minuman Legen tidak tahan lama. Oleh karena itu, diperlukan teknologi untuk mengolah nira siwalan supaya tidak cepat basi salah satunya adalah  teknologi pasteurisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh proporsi nira siwalan murni dan proses pasteurisasi dalam pembuatan minuman Legen dalam kemasan sehingga memiliki karakteristik yang mampu diterima oleh konsumen. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Tersarang (Nested Design). Faktor I adalah proses pasteurisasi (1x dan 2x) sedangkan Faktor II adalah proporsi nira siwalan (40:60, 50:50, dan 60:40). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Analysis of Varian (ANOVA). Pemilihan perlakuan terbaik dilakukan dengan metode Multiple attribute. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah minuman Legen dalam kemasan dengan proporsi nira:air 50:50 dan proses pasteurisasi 2X.   Kata Kunci: Legen Kemasan, Nira Siwalan, Pasteurisasi, Proporsi Nira

Page 70 of 108 | Total Record : 1080


Filter by Year

2013 2026