cover
Contact Name
Surjono
Contact Email
surjono@ub.ac.id
Phone
+62817381534
Journal Mail Official
tatakota@ub.ac.id
Editorial Address
Jurusan Perencanaan WIlayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jalan MT. Haryono No. 167 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Tata Kota dan Daerah
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2338168X     EISSN : 26865742     DOI : 10.21776/ub.takoda
Jurnal Tata Kota dan Daerah (TAKODA) is an Indonesian journal, peer-reviewed publication of original research and review article covering new concepts, theories, methods, and techniques related to urban and regional planning. The journal will cover, but is not limited to, the following topics: Urban planning and design Environment and settlement Regional planning and development Rural studies Disaster management Transportation planning
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2017)" : 5 Documents clear
TINGKAT KEBERLANJUTAN PENGEMBANGAN DESA WISATA GUNUNGSARI KOTA BATU Esa, Francisca; Meidiana, Christia; Sari, Nindya
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Batu merupakan kota di Jawa Timur yang berkembang dari sektor pariwisata dan pertanian. Perkembangan wisata buatan yang massif memberikan dampak secara ekonomi, sosial dan lingkungan bagi masyarakat Kota Batu. Pembangunan pariwisata di Kota Batu sudah sepatutnya menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan salah satu konsep yang dapat diterapkan yaitu ekowisata. Ekowisata merupakan pengembangan wisata yang dapat diterapkan di daerah konservatif dan pedesaan. Sejak tahun 2011 pemerintah Kota Batu mengembangkan 7 desa wisata sebagai salah satu upaya mengurangi dampak negatif wisata masal, salah satunya Desa Gunungsari. Pada akhir tahun 2015 jumlah kunjungan wisata di Kota Batu yaitu 3.961.021 wisatawan, 40% diantaranya berkunjung ke objek wisata non komersial, dan 0.068% dari kunjungan ke objek wisata non komersial berkunjung ke Desa Wisata Gunungsari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberlanjutan pengembangan Desa Wisata Gunungsari. Metode yang digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian yaitu analytical hierarchy process (AHP) dengan mengajukan kuesioner kepada stakeholder dan ahli untuk mengetahui prioritas kriteria dan indikator keberlanjutan wisata pedesaan serta skoring untuk menilai tingkat keberlanjutan pengembangan wisata pedesaan di Desa Gunungsari termasuk tingkat keberlanjutan tinggi (TBT), tingkat keberlanjutan sedang (TBS), atau tingkat keberlanjutan rendah (TBR). Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh hasil bahwa kriteria sosial-masyarakat dan kriteria sarana-prasarana termasuk dalam tingkat keberlanjutan tinggi, sedangkan kriteria pengelolaan-pengembangan termasuk dalam tingkat keberlanjutan rendah
DISTRIBUSI BIOGAS LIMBAH TERNAK DAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) DESA KARANGNONGKO, KABUPATEN MALANG Muhammad, Ramadhan Ilham; Meidiana, Christia; Anggraeni, Mustika
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Energi berkelanjutan telah menjadi sumber energi alternatif yang dapat dilakukan di daerah pedesaan terutama di negara berkembang. Hal ini merupakan karakteristik yang diproses secara alamiah, tidak akan habis, dan dapat berkelanjutan (Perpres No. 5 Pasal 5 Poin 5 Tahun 2006). Penelitian ini memilih Desa Karangnongko sebagai objek lokasi penelitian. Desa Karangnongko merupakan salah satu Desa yang memiliki potensi biogas yang bersumber dari limbah ternak dan juga biogas TPA Paras. Tujuan dari penelitian ini yaitu menghitung besaran ketersediaan dan kebutuhan energi peternak dan non-peternak di Desa Karangnongko. Pada penelitian ini, menggunakan metode supply demand energi, potensi gas metana, dan analisis cluster spasial. Dilakukan pengelompokkan yang di analisis menggunakan analisis cluster spasial menggunakan software ArcGIS, di dapatkan jarak 11 meter. Dari hasil jarak 11 meter di dapatkan 48 kelompok peternak non-biogas di masing- masing dusun. Setelah itu, dilakukan perhitungan ketersediaan dan kebutuhan energi biogas menggunakan analisis supply demand, dan analisis potensi gas metana. Dari hasil perhitungan supply demand energi biogas di dapatkan hasil yaitu sejumlah 381,64 m 3 /hari dan potensi gas metana pada TPA paras yaitu sejumlah 1.899,04 ton CH 4 . Implikasi hasil penelitian ini, peternak dapat melakukan pemanfaatan biogas dengan mengetahui potensi dari limbah ternak, dan bagi masyarakat non-peternak dapat melanjutkan dsitribusi biogas dari TPA Paras.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA LAHAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN KEPANJEN Khoiriyah, Khotimatul; Hasyim, Abdul Wahid; Kurniawan, Eddi Basuki
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Kepanjen telah ditetapkan sebagai Ibu Kota Kabupatan Malang yang termuat dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 dimana memiliki fungsi dan peran sebagai pusat pemerintahan kabupaten. Adanya pemindahan ibu kota kabupaten Malang berdampak pada perubahan guna lahan dari tak terbangun menjadi terbangun. Berdasarkan kebijakan RTRW Provinsi Jawa Timur tahun 2011- 2031 disebutkan bahwa, struktur pusat permukiman perkotaan wilayah Malang Raya diarahkan di Perkotaan Kepanjen. Dengan mengacu kebijakan RTRW Provinsi Jawa Timur tahun 2011-2031, pemerintah berperan untuk merencanakan pengembangan permukiman di Kecamatan Kepanjen, yang menyangkut dengan kebutuhan akan lahan untuk bermukim. Permasalahan yang terdapat diwilayah studi adalah harga lahan yang bervariasi pada wilayah pusat kota dan sub pusat kota, dimana harga lahan tinggi dipengaruhi oleh nilai lahan, maka dari itu tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi harga lahan permukiman pada lahan rumah di Kecamatan Kepanjen dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Faktor yang mempengaruhi harga lahan permukiman adalah luas lahan, lebar jalan, jarak terhadap pusat kota, jarak terhadap sarana perkantoran, jarak terhadap sarana kesehatan, jarak terhadap sekolah, jumlah rute angkutan umum, dan ketersediaan jaringan air bersih. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk pemerintah terkait dengan pengembangan permukiman di Kecamatan Kepanjen
TENEMENT KAMPUNG DI KOTA MALANG TAHUN 1914 - 1940 Wijaya, I Nyoman Suluh; Hariyanto, Annisa Dira; Setyono, Deni Agus
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkampungan dianggap sebagai lingkungan tradisional khas Indonesia yang telah ada sejak masa KolonialismeBelanda (Nababan & Kustiwan, 2015), perkampungan yang telah berkembang pada masa kolonial Belandadisebut sebagai Tenement kampung (Barros & Prawoto dalam Widjaja, 2013). Kampung kota pada umumnyamemiliki permasalahan seperti kepadatan penduduk dan bangunan yang tinggi, perumahan dibangun secara tidakformal, kurang sarana dan prasarana, sehingga kesehatan masyarakat merupakan masalah utama. Namun, adanyapermasalahan-permasalahan lingkungan tersebut tidak membuat penghuni berkeinginan untuk pindah. KotaMalang adalah kota yang tumbuh serta berkembang dengan pesat sejak masa Kolonial Belanda di Tahun 1914 -1940 dan perkampungan pada saat itu berkembang menjadi permukiman penduduk pribumi dan mengalamidegradasi lingkungan. Tenement kampung di Kota Malang merupakan perkampungan lama yang telah dihunisecara turun temurun dengan berbagai macam permasalahan lingkungan. Berdasarkan hal tersebut, maka tujuanpenelitian ini adalah untuk mengidentifikasi persebaran Tenement kampung di Kota Malang. Tenement kampungakan dibedakan menjadi pusat kota dan pinggiran kota, dikarenakan adanya perbedaan karakter permukiman danpenghuni. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis identifikasi kampung kota denganmenggunakan teknik analisis overlay. Hasil dari penelitian ini adalah teridentifikasinya 40 RW yangdikategorikan sebagai Tenement kampung pusat kota dan 7 RW Tenement kampung pinggiran kota.
MODEL SUPPLY-DEMAND LAHAN PERTANIAN DENGAN KONSEP ECOLOGICAL FOOTPRINT Faiz, Syauqi Asyraf; Wicaksono, Agus Dwi; Dinanti, Dian
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Malang melalui RTRW Kabupaten Malang tahun 2010-2030 merupakan wilayah yang diarahkan sebagai pusat perkembangan pertanian termasuk juga di kecamatan-kecamatan yang berbatasan dengan Kota Malang. Kecamatan-kecamatan tersebut juga diarahkan sebagai kawasan penyokong Kota Malang dengan ketersediaan permukiman, fasilitas umum, dan infrastruktur. Dua peranan tata ruang tersebut berdampak pada peningkatan permintaan akan hasil produksi padi namun ketersediaan lahan sawahnya yang justru semakin terbatas. Oleh sebab itu, diperlukan penyeimbang antara dua peran kebijakan sekaligus mengatasi dampak yang muncul. Kajian supply-demand lahan pertanian berdasarkan konsep ecological footprint merupakan cara untuk menyeimbangkan dan menanggulangi dari dampak tersebut. Kajian ini didasari dari model regresi untuk membuat model supply-demand lahan pertanian. Hasilnya, model hasil produksi padi dengan bentuk Y 1 =- 207,983+10,246X 1 dan model tingkat konsumsi beras masyarakat dengan bentuk Y 2 = 8,015+2,080X 5 +0,002x 8 . Berdasarkan model supply-demand yang sudah dirumuskan, pada tahun 2015 permintaan konsumsi adalah sebesar 15.911,09 Ton dan kebutuhan lahan pertanian sebesar 2.161,40 Ha dan permintaan konsumsi terus meningkat menjadi 22.273,00 Ton pada tahun 2035 dengan kebutuhan lahan pertanian sebesar 2.825,41 Ha. Hal ini mengakibatkan 14 desa yang berbatasan dengan Kota Malang akan mengalami defisit lahan sawah. Hingga tahun 2035, terjadi peningkatan kebutuhan lahan sebesar 33,18 Ha/tahun dan ancaman defisit lahan sawah akan semakin besar.

Page 1 of 1 | Total Record : 5