cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ternak Tropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 25031007     EISSN : 25031007     DOI : -
Core Subject :
TERNAK TROPIKA, Journal of Tropical Animal Production (JTAP) provides for rapid publication of full-length papers, short communication and review articles describing of new finding or theory in Animal Production area. TERNAK TROPIKA has 1 volume with 2 issues per year. TERNAK TROPIKA is published by Department of Animal Priduction, Faculty of Animal Husbandry, Brawijaya University Indonesia in collaboration with Indonesian Society of Animal Science (ISPI
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
EFEK LAMA WAKTU PEMBATASAN PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PERFORMANS AYAM PEDAGING FINISHER Muharlien Muharlien; Achmanu Achmanu; A Kurniawan
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 11, No 2 (2010): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.479 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh lama waktu pembatasan pemberian pakan terhadap performans atau penampilan  produksi ayam pedaging periode finisher. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi tentang lama waktu pembatasan pakan untuk mendapatkan  efisiensi penggunaan pakan kepada masyarakat khususnya peternak  ayam pedaging .. Metode penelitian mengunakan metode percobaan, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan : tanpa pembatasan pemberian pakan (P0), 2 jam/hari pembatasan pemberian pakan (P1), 4 jam/hari pembatasan pemberian pakan (P2) dan 6 jam/hari pembatasan pemberian pakan (P3). Setiap perlakuan diulang 6 kali. Variabel yang diamati :  konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan bila terdapat perbedaan  yang nyata atau sangat nyata dilanjutkan  dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan pembatasan waktu pemberian pakan memberikan perbedaan pengaruh yang sangat nyata (P<0.01) terhadap konsumsi pakan,  memberikan perbedaan pengaruh yang tidak  nyata  terhadap pertambahan bobot badan, dan memberikan perbedaan pengaruh yang  nyata (P<0.05) terhadap konversi pakan. Kesimpulan: Pembatasan   pemberian pakan 6 jam/hari menghasilkan angka konversi pakan terendah (1,69) atau menghasilkan efisiensi pakan yang tinggi pada ayam pedaging finisher. Saran dalam pemeliharaan ayam pedaging finisher untuk efisiensi pakan dapat dilakukan pembatan  pemberian pakan  selama 6 jam setiap hari.   Kata kunci : Ayam pedaging, pembatasan pakan, konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan. EFFECT OF THE LENGTH OF RESTRICTED FEEDING TIME ON  PERFORMANCES  OF  FINISHER BROILER ABSTRACT The aim of the research was to study the effect of the length of restricted feeding time on performance of finisher broiler. Result of the research expected can be used as  information for  broiler farmer  about feed efficiency with restricted feeding time. The method of the research was experiment with Completely Randomized Design (CRD), 4 treatments which were without restricted feeding (PO), 2 hours , 4 hours and 6 hours restricted feeding time with  6 replications. The variables were  feed consumption, body weight gain and feed conversion. The datas was analyzed  with Analysis of Variance, and if significant of difference to be continued with  Honestly Significant Difference (HSD).. The result of the research indicated that restricted feeding had  highly significant  effect (P<0.01) on feed consumption, had not significant  effect on   body weight gain (P>0.05) and significant effect (P<0.05) on feed conversion. The conclution was restricted feeding a long as 6 hours/day had lowest feed conversion (1.69).  Suggested on rearing finisher broiler could be restricted feeding time 6 hours/day for feed efficiency.   Keyword: finisher broiler, feed restriction , feed consumption, body weight gain, feed conversion
PENGARUH LANTAI KANDANG ( RENGGANG DAN RAPAT) DAN IMBANGAN JANTAN-BETINA TERHADAP KONSUMSI PAKAN, BOBOT TELUR, KONVERSI PAKAN DAN TEBAL KERABANG PADA BURUNG PUYUH Achmanu Achmanu; Muharlien Muharlien; Salaby Akhmat
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.995 KB)

Abstract

RINGKASAN   Penelitian dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2010 hingga 24 Juni 2010 di dusun Surowono desa Canggu Kecamatan Badas Kabupaten Kediri. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh lantai kandang (lantai renggang dan lantai rapat) dan  imbangan jantan-betina terhadap konsumsi pakan, bobot telur, konversi pakan dan tebal kerabang burung puyuh. Materi yang digunakan adalah 24 ekor burung puyuh jantan ddengan Koefisien Keragaman (KK) 5,92 % dan 84 ekor betina dengan KK 4,85 % umur 60 hari. Metode penelitian adalah percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pola Faktorial (2x4). Faktor pertama adalah lantai renggang dan lantai rapat. Faktor perlakuan kedua adalah imbangan jantan-betina 1:2, 1:3, 1:4, 1:5. Sehingga diperoleh 8 kombinasi perlakuan. Setiap perlakuan diulang 3 kali. Variabel yang diamati adalah konsumsi pakan, bobot telur, konversi pakan dan tebal kerabang. Data dianalisis dengan sidik ragam dan jika terjadi perbedaan yang signifikan antar perlakuan dilakukan Uji BNT (Beda Nyata Terkecil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lantai kandang tidak memberikan pengaruh yang nyata (P > 0,05) terhadap konsumsi pakan, bobot telur, konversi pakan dan tebal kerabang.  Imbangan jantan-betina berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi pakan, bobot telur dan konversi pakan tetapi tidak berpengaruh terhadap tebal kerabang telur. Tidak terdapat interaksi antara lantai kandang dan imbangan jantan-betina (P > 0.05) terhadap konsumsi pakan, bobot telur, konversi pakan dan tebal kerabang. Kesimpulan bahwa lantai kandang tidak mempengaruhi konsumsi pakan, konversi pakan, bobot telur dan tebal kerabang. Sedangkan semakin besar imbangan jantan-betina maka konsumsi pakan, bobot telur dan konversi pakan semakin menurun. Saran dalam pemeliharaan burung puyuh dapat digunakan kandang sistem lantai renggang atau lantai rapat dengan imbangan jantan-betina 1:4 pada pemeliharaan puyuh. EFFECT OF CAGE FLOOR (SLAT AND LITTER) AND SEX RATIO ON FEED CONSUMPTION,  EGG WEIGHT, FEED CONVERSION AND THICKNESS OF EGGSHELL IN QUAIL Achmanu, Muharlien, Salaby Akhmat ABSTRACT The purpose of this study was to investigate the influence of  cage floor type (slat and litter floor) and sex ratio on feed consumption, egg weight, feed conversion and thickness of quail’s egg shell. The results were expected to provide scientific information about using cage floor type and  sex ratio of quail production and a scientific reference for researchers and other farmers for  increasing the productivity performances of quails. The material were 24 male quails and 84 female ones of 60 days old. The research method was experiment by using Randomized Completely Design (RCD),arranged factorialy (2x4). The observed variables were feed consumption, egg weight, feed conversion and thickness of eggshell. Data were analyzed with ANOVA and if there were significant differences between treatments then calculated with Least Square Different (LSD) test. The results showed that cage floor type did not significantly effect (P>0.05)  on feed consumption, egg weight, feed conversion and thickness of eggshell, while sex ratio had highly significant effect (P < 0,01) on feed consumption, egg weight, feed conversion  and not significant effect on  thickness of eggshell. There was no interaction effect (P> 0.05) between the cage floor and sex ratio on feed consumption, egg weight, feed conversion and thickness of eggshell. The conclusions were cage floor type did not influenced the feed consumption, egg weight, feed conversion and thickness of eggshell. Sex ratio had influenced the feed consumption, egg weight, and feed conversion, but did not influenced the thickness of eggshell. The suggestion was by using slat  or litter floor type of cage with a sex ratio 1:4 had a better  quail egg production performance Keyword :  Cage, floor type , Sex Ratio, Feed Consumption, Egg Weight, Feed Conversion And Eggshell of Quail.
TINGKAT KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN DENGAN KUALITAS DAN DEPOSISI SEMEN YANG BERBEDA PADA SAPI PERANAKAN ONGOLE T Susilawati
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.133 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan kualitas spermatozoa PTM, terutama dari semen beku yang memiliki kualitas di bawah PTM kelas AI dan deposisi semen untuk keberhasilan kebuntingan pada Filial (PO) sapi Ongole. Metodologi yang digunakan adalah percobaan menggunakan 80 PO perempuan sebagai sampel yang diambil secara purposive. Penelitian ini menggunakan 8 perlakuan dengan mengulangi proses di 10 sapi. Perlakuan IB ini yang menggunakan 4 level  kualitas PTM dari semen beku (PTM 5-20%, 20-30%, 30-40% dan ³ 40%) dan 2 jenis deposisi semen (4 dan 4 +). Hasil  penelitian ini menunjukkan bahwa kemungkinan kebuntingan  dengan kualitas semen dengan PTM 20-30% dan 30-40% yang lebih tinggi dibandingkan dengan kualitas semen   PTM 5-20%, meskipun , secara statistik persentase kebuntingan  tidak berbeda. IB menggunakan deposisi semen 4 + hasil 2.168 kali lebih tinggi dari kebuntingan  dibandingkan dengan deposisi semen IB 4. Secara statistik, persentase kebuntingan  dari perbedaan kualitas spermatozoa PTM dan deposisi semen itu tidak signifikan. Oleh karena itu, hasil penelitian ini akan menjadi keuntungan besar, terutama jika ditinjau dari aspek reproduksi. Semen beku yang mempunyai kualitas PTM di bawah standar SNI (20 – 40%) masih dapat menghasilkan kebuntingan pada ternak akseptor IB yaitu berhasil bunting 85% - 95%.  Deposisi semen saat IB pada posisi  4+ menghasilkan kemungkinan kebuntingan lebih tinggi dibandingkan dengan IB pada posisi 4.     pregnancy successfulness with different quality AND Semen deposition  in Filial Ongole (PO) cattle ABSTRACT The objective of this study is to finding out the influence of the different quality of spermatozoa’s PTM, especially from frozen semen that has under grade PTM quality and AI semen deposition to the pregnancy successfulness in Filial  Ongole (PO) cattle. The methodology that is used is experiment using 80 female PO as the sample that is taken purposively. This study used 8 treatments by repeating process in 10 cows. The treatment is AI that is using 4 grades PTM quality of frozen semen (PTM 5-20%, 20-30%, 30-40% and ³40%) and 2 kinds semen deposition (4 and 4+). The finding of this study is showing that the chance of pregnancy by under grade PTM quality semen (PTM 20-30% and PTM 30-40%) is higher compared with under grade PTM quality semen (PTM 5-20%), even though, statistically the percentage of the pregnancy is not significantly different.  The AI using semen deposition 4+ result 2,168 times higher of pregnancy compared with AI semen deposition 4. Statistically, the pregnancy percentage from the different quality of PTM spermatozoa and semen deposition it is not significant.  Hence, the result of this study will be a great advantage, especially in reproduction. The higher PTM quality and the closer semen placementin AI from tuba fallopii as the place of fertilization between ovum and spermatozoa, the higher percentage of pregnancy gotten. It is caused by more motil spermatozoa and the closer distance that have to pass by spermatozoa to fertilize ovum.  There for the change to get fertilization will be higher.   Key Word : Spematozoa, Post Thawing Motility,  semen deposition
Peta Potensi Genetik Sapi Madura Murni di Empat Kabupaten di Madura V. M. A Nurgiartiningsih
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.082 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi potensi genetik sapi Madura murni di empat Kabupaten di Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep). Materi yang digunakan adalah 244 ekor sapi Madura umur 7 hari dan 5 bulan. Data dianalisis dengan analisis ragam rancangan acak lengkap pola searah dengan mengaplikasi software GENSTAT. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak berpengaruh nyata pada BB dan ukuran tubuh sapi Madura murni umur 7 hari dan 5 Bulan. Rataan BB umur 7 hari tidak berbeda nyata di empat kabupaten, sedangkan lingkar dada (LD), panjang badan (PB) dan tinggi gumba (TG) berbeda nyata. Rataan BB, LD dan TG umur 5 bulan di empat kabupaten tidak berbeda nyata, sedangkan PB berbeda nyata. BB umur 5 bulan adalah 70,67 ± 9,44; 74,61 ± 7,98;  71,71 ± 3,67; 74,94 ± 12,69 kg, masing-masing untuk kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Korelasi BB dengan LD sapi Madura umur 5 bulan mempunyai nilai tertinggi yaitu sebesar 0,685. BB (Y) sapi Madura umur 5 bulan dapat diprediksi berdasarkan LD (X) dengan rumus persamaan garis regresi linier sederhana: Y = 18,92 + 0,551 X. Peta potensi penyediaan pejantan dan intensitas penggunaan pejantan untuk mengawini induk sapi Madura di masing-masing kecamatan di setiap kabupaten sangat bervariasi.   Kata kunci: potensi genetik, sapi Madura, korelasi, pejantan, garis regresi linier sederhana. Map of Genetics Potency of pure Madura Cattle at Four Districts in Madura Abstract Research was conducted to identify genetic potency of pure Madura cattle in four districs of Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep). Materials used were 244 Madura cattles consisted of 7 days and 5 months of age. Data were analyzed using ANOVA one way classification applying software GENSTAT. Results showed that sex has no significant effect on body weight (BW) and vital statistics of Madura cattles at 7 days and 5 months of age. Mean of BW at 7 days of age were not significantly different between districs, whereas chest girth (CG), body lenght (BL), and body height (BH) were significantly different. BW, CG, and BH at age of 5 month in four districts were not significantly different, whereas BL was significantly different. BW at 5 months of age were 70.67 ± 9.44; 74.61 ± 7.98;  71.71 ± 3.67; 74.94 ± 12.69 kg, for  Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep, respectively. Correlation between BW and CG at 5 months of age showed the highest value of 0.685. BW (Y) at 5 months of age could be estimated based on CG (X) using simple linear regression equation: Y = 18,92 + 0,551 X. Male availability and the intensity of sire to serve dam at each region in every district were varried. Key words: genetic potency, Madura cattle, correlation, sire, simple linear regression
EFISIENSI PEMANFAATAN PUPUK DI LAHAN PASCA PENANAMAN LEGUMINOSA TERHADAP PRODUKTIVITAS JAGUNG LAMURU DI DESA NAIBONAT, NUSA TENGGARA TIMUR Ratnawaty, Sophia; Kaho, L.M Riwu
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.115 KB)

Abstract

Abstrak Legum sebagai indikator kesuburan tanah padang rumput, karena mempunyai kemampuan untuk memfiksasi nitrogen bebas dari udara ke dalam tanah. Sistem integrasi legum dengan jagung merupakan salah satu cara yang dianjurkan dalam upaya pemulihan unsur hara tanah sehingga produktivitas jagung tidak menurun. Tujuan penelitian untuk mengetahui pada kombinasi yang mana antara spesies leguminosa dan urea yang dapat mengembalikan kesuburan tanah dan prodiksi  jagung,. Rancangan yang digunakan adalah Pola Faktorial dengan rancangan dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Faktor yang dicobakan adalah spesies leguminosa dan level pemberian pupuk urea. Faktor pertama, spesies leguminosa yang terdiri dari 7 spesies, yaitu: Clitoria ternatea, Desmanthus pernambucanus, Aescyonomene americana, Macroptilium bracteatum, Macroptilium triloba, Stylosanthes seabrana, Centrosema pascuorum. Faktor kedua, level pemberian pupuk urea yang terdiri dari 3 taraf yaitu : tanpa pupuk urea (0 kg),   75 kg/ha urea dan  150 kg/ha urea.  Variabel yang diamati adalah biomas tanaman jagung pada 14; 28; 42 dan 56 hari setelah tanam (HST), berat 100 biji dan produksi jagung. Hasil analisis uji Beda Nyata Terkecil (BNT 0,05 %) menunjukkan bahwa Faktor tunggal spesies leguminosa berpengaruh nyata terhadap variabel biomas tanaman jagung pada 28 HST, 42 HST dan produksi kernel jagung dimana spesies Clitoria ternatea menghasilkan biomas tanaman jagung tertinggi dibandingkan dengan spesies leguminosa lainnya pada 28 HST. Hasil penelitian ini memberi kesimpulan bahwa aplikasi urea pada tanaman jagung lamuru cukup satu kali yaitu pada umur 7HST jika ditanam pada lahan yang sebelumnya ditanami leguminosa karena mendapat sumbangan N dari leguminosa. Kata kunci: Efiseiensi, pupuk, produktivitas, jagung lamuru, leguminosa EFFICIENCY OF FERTILIZER AFTER LEGUMINOSE PLANTY TO PRODUCTIVITY OF LAMURU MAIZE AT NAIBONAT VILLAGE, EAST NUSA TENGGARA Abstract Productivity of lamuru maize after leguminose planty had been conducted for 6 months at Naibonat village. The objectives of the trial were to know the combination of leguminose species and nitrogen which returned of land fertility and maize yield. Factorial experiment, with completely randomized design as basic design was apply in this research. The factor of leguminose species are  Clitoria ternatea, Desmanthus pernambucanus, Aescyonomene americana, Macroptilium bracteatum, Macroptilium triloba, Stylosanthes seabrana, Centrosema pascuorum. The factor of level of fertiliser urea are non nitrogen (0 kg/ha), 75 kg/ha N and 150 kg/ha N. Totally, 63 combinations are exist with 3 times replications. The variables in this research are biomassa of maize plant of 14; 28; 42 and 56 day after sowing (DAS), weight of 100 seed corn, and the production of seed corn. Analysis of variance was apply to find out the significance difference between means of combination and least of significance difference (LSD) 0.05% was apply to find out comparisson between treatment means. The results of the research indicated that significance on single factor of leguminose species of biomass maize plant Key word:Efficiency,fertilizer, productivity, lamuru maize, leguminose
STATUS SOSIAL EKONOMI PETERNAK SAPI PERAH DI KECAMATAN PONCOKUSUMO KABUPATEN MALANG Eko Nugroho
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.863 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2010 di Desa Jambesari Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) karakteristik rumah tangga peternak sapi perah di Desa Jambesari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang, (2) status dan jumlah kepemilikan rata-rata sapi perah, produksi susu rata-rata sapi perah, dan harga jual rata-rata susu di Desa Jambesari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Materi penelitian adalah peternak sapi perah yang berdomisili di Desa Jambesari Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan metode survei. Jenis data yang diambil ada dua yakni data primer dan data sekunder yang selanjutnya dianalisa menggunakan software SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia responden masih tergolong produktif, memiliki tingkat pendidikan formal yang tergolong rendah, sangat berpengalaman dalam memelihara ternak sapi perah, dan sebagian besar memiliki aset komersil seperti sepeda motor, sepeda, dan televisi. Rata-rata kepemilikan sapi perah di Desa Jambesari Kecamatan Poncokusumo bervariasi mulai 5,58 ± 2,23 ekor di Dusun Sumber Jambe hingga 6,36 ± 3,56 ekor di Dusun Pabrikan. Adapun produksi susu rata-rata bervariasi mulai 29,62 ± 25,09 liter/hari di Dusun Ngembal hingga tertinggi 47,14 ± 41,13 liter/hari di Dusun Pabrikan. Sedangkan harga jual susu rata-rata yang diterima peternak bervariasi mulai Rp 3.100 ± 54,36 per liter di Dusun Ngembal hingga Rp 3.121,43 ± 88,17 per liter di Dusun Pabrikan. Penelitian ini menyarankan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara lama pengalaman beternak, jumlah kepemilikan sapi perah dengan tingkat pendapatan peternak di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Kata kunci: status social ekonomi, ABSTRACT The study was carried out in the village Jambesari, Poncokusumo sub-district. The objectives of this study were to investigate the characteristics of farm households who raised dairy cattle in Poncokusumo sub-district, Malang regency, to investigate the status of ownership as well as the average ownership of dairy cattle owned by small farm households, the average production of milk and the average selling price of milk. These objectives were achieved through a survey method using a structured questionnaire. The study involved 38 dairy farmers. The household characteristics showed that farmers who kept dairy cattle were relatively at a productive age, less educated, and were predominantly more experienced farmers. A statistical analysis of the data showed that dairy cattle were mostly owned by men rather than women in all the village studied. Moreover, the average ownership of dairy cattle varied from 5,58 ± 2,23 head in the hamlet Sumber Jambe to 6,36 ± 3,56 head in the hamlet Pabrikan. The average production of milk varied from 29,62 ± 25,09 liter/day in the hamlet Ngembal to 47,14 ± 41,13 liter/day in the hamlet Pabrikan. The selling price of milk ranged from IDR 3.100 ± 54,36 per liter in the hamlet Ngembal to IDR 3.121,43 ± 88,17 per liter in the hamlet Pabrikan. Keywords: socio-economic characteristic, smallholder dairy farmer, Poncokusumo
PELUANG USAHA PENGGEMUKAN SAPI DALAM KANDANG KELOMPOK DI DESA TOBU, KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN, NUSA TENGGARA TIMUR Sophia Ratnawaty; Didik A. Budianto
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.526 KB)

Abstract

Abstrak Ternak sapi merupakan komponen penting dalam suatu sistem usahatani di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kehidupan petani hampir tidak dapat dipisahkan dengan ternak meskipun kebutuhan hidup pokok keluarga tani diperoleh dari hasil tanaman pangan. Peningkatan produktivitas melalui perbaikan sistem pemeliharaan melalui pendekatan kandang kelompok akan memberikan dampak positif. Hal ini disebabkan karena, semakin berkembangnya usaha pertanian lahan kering semakin menuntut adanya pembagian lahan pertanian dan peternakan. Penataan demikian mampu melindungi tanaman pangan terhadap gangguan ternak serta tetap menyediakan tempat bagi penggembalaan ternak. Sistem pemeliharaan ternak sapi khususnya sapi penggemukan di Desa Tobu, adalah secara berkelompok (organisasi berkelompok) dimana pengelolaan ternak dalam kandang kelompok tersebut (pemeliharaan oleh individu). Pengkajian bertujuan untuk mengetahui manfaat penggemukan sapi dalam kandang kelompok dapat memperpendek masa pemeliharaan sehingga pendapatan petani meningkat. Rancangan pengkajian yang digunakan adalah penelitian adaptif dengan intervensi teknologi untuk mendapatkan pemahaman dan dinamika petani yang melaksanakan penggemukan sapi dalam kandang kelompok. Hasil kajian diperoleh bahwa terjadi peningkatan jumlah ternak sapi yang digemukan dalam kandang kelompok sebesar 1,17%, introduksi teknologi penggemukan sapi dalam kandang kelompok mampu mempersingkat waktu penggemukan menjadi 8,5 bulan  dari masa pemeliharaan petani selama 36 bulan serta keuntungan yang diperoleh pada teknologi penggemukan sapi dalam kandang kelompok sebesar Rp 1.071.300 dengan nilai R/C sebesar 1,36 sebagai penambahan pendapatan petani dalam usahataninya. Perbaikan pakan berkualitas pada sapi penggemukan dalam kelompok tani akan bermanfaat dalam memperpendek waktu penggemukan, pertambahan bobot badan (PBB) harian lebih tinggi, yang bermuara pada  pendapatan petani lebih besar. Kata Kunci: peluang, penggemukan sapi, kandang kelompok, Desa Tobu Abstract Cattle livestock is an essential component in farming system at East Nusa Tenggara (NTT). The lifestyle of farmer can not separate with livestock although primary of life need farmer family got from food crop. The increasing of productivity through cultivation system improvement through group pen approach give positive impact. It is caused, progressively its amends dries farming agricultural effort progressively charge to mark sense agricultural farm and ranch. Such settlement can protect food plant to livestock trouble and constant makes place for livestock pasturing. Cattle cultivation system especially cattle fattening in Tobu village is grouping (group organization) whereas livestock management in the pen group. The objective of assasment to know benefit of cattle fattening in the pen group and to short time of cultivation that increasing farmer income. Assasment design use sdaptif research with technology intervention for get farmer understood and dynamic that do cattle fattening in the pen group. Result of assament showed that have been increasing sum of fattening livestock in the pen group 1,17%, introduction of cattle fattening technology in the pen group can shorten time of fattening 8,5 month from time of farmer cultivation along 36 month and profit that got from cattle fattening in the pen group is Rp 1.071.300 with R/C ratio 1,36 as adding for farmer income. Improvement of quality feed for cattle fattening in the pen group will get benefit to shorten time of fattening, adding of weight (PBB) daily more higher and the last farmer income more greater. Key words : opportunity, cattle fattening, pen group, Tobu's village
ANALISIS EKONOMI RUMAHTANGGA PETERNAK SAPI POTONG DI KEC. DAMSOL, KABUPATEN DONGGALA, PROPINSI SULAWESI TENGAH Budi Hartono; Sidik Purnomo
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.241 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis kondisi ekonomi rumahtangga peternak sapi potong rakyat. Pengambilan data  dilaksanakan pada bulan Agustus 2009 di Desa Damsol, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah. Sembilan puluh peternak telah dipilih sebagai responden secara purposive random sampling. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dengan tambahan data kuantitatif sederhana seperti tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendapatan usaha sapi potong pola perbibitan dan pola penggemukan tidak ada perbedaan yang moderat, penggunaan tenaga kerja dalam pola perbibitan lebih banyak menyerap tenaga kerja keluarga dibanding pola penggemukan, dan pengeluaran terbesar pada ekonomi rumahtangga peternakan sapi potong rakyat digunakan untuk membeli bibit ternak yang relatif tinggi. Kata Kunci : Usaha ternak sapi potong rakyat,  dan  Ekonomi rumahtangga Household`s Economy Analysis of Small Scale Beef Cattle Farming in Damsol, Donggala Regency, Central Sulawesi Province   ABSTARCT The objectives of this research were analyze the economics condition of beef cattle small farm household. The study was conducted at Damsol, Donggala  Regency, Central Sulawesi Province on August 2009. Ninety  farmers were chosen as respondents by purposive  random sampling method. Data was analyzed using discriptive analysis with additional quantitative data as simple as a frequency distribution table.The result showed that there were not difference  in term of income   of beef cattle fattening pattern and the beef cattle breeding pattern, use of labor in the beef cattle breeding pattern absorb more family labor than the beef cattle fattening pattern, and  most expenditure on economics household of beef cattle small farm used to buy breeding stock was relatively high. Keywords : Small Scale Beef Cattle Farming, and Household’s Economy
PENAMPILAN REPRODUKSI SAPI POTONG DI KABUPATEN BOJONEGORO Moh Nur Ihsan; Sri Wahjuningsih
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.432 KB)

Abstract

abstrak Suatu penelitian untuk mengevaluasi penampilan reproduksi yang diukur berdasarkan indeks fertilitas pada sapi potong telah dilaksanakan di Kabupaten Bojonegoro. Dalam penelitian ini digunakan sampel pemilik sapi yang diambil secara acak dari 11 kelompok peternak yang terdapat di wilayah kerja inseminator di Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro. Variabel yang diukur meliputi Days open (DO), Service per Conception (S/C), Calving Interval (CI), Conception Rate (CR) dan indeks fertilitas (IF). Hasil penetlitian menunjukkan bahwa IF sapi Peranakan Ongole, Limosin dan Simental masing-masing pada paritas 2 dan 3 adalah 47.5 dan 50.6. Disimpulkan bahwa indeks fertilitas masing-masing bangsa sapi maupun paritas tidak menunjukkan perbedaan. Kata kunci: indeks fertilitas, paritas dan sapi potong   REPRODUCTIVE PERFORMANCE OF BEEF CATTLE IN BOJONEGORO REGENCY ABSTRACT The research for evaluation reproductive performance measured by fertility index of beef cattle has carried out at Bojonegoro regency. The materials used in this study is to beef cattle (Ongole, Limousin and Simental filial), used the gathering of secondary data from 11 farmer group in Tambakrejo district, Bojonegoro regency. The observed variables are Service per conception (S / C), Days open (DO), Calving interval (CI), Conception rate (CR) and Fertility index. The experiment showed that  fertility index for Ongole, Limosin and Simental filial in second and thirh parity is 47.5 and 50.6 respectively.  It was concluded  that there was  not  difference of fertility index between Ongole,  Limousin and Simental filial on 2nd and 3th parity. Key words : Fertility index, parity and beef cattle
REVIEW FISIBILITAS KULTUR ANTHRAL FOLIKEL SEBAGAI SUMBER SEL OOSIT IN VITRO KAMBING DARI PRODUK SAMPING RUMAH POTONG HEWAN G Ciptadi; Budi Siswanto; Sri Rahayu; M. Z.Fadli Fadli; N Humaidah
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.47 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ketersediaan sumber sel gamet betina (oosit) immature kambing yang diperoleh dari rumah potong hewan yang dapat dimanfaatkan untuk in vitro maturasi (IVM). Isolasi oosit immature menggunakan  preanthral folikel untuk selanjutnya dilakukan kultur in vitro folikel dan kemudian  dievaluasi perolehan ovari, folikel dan perkembangan oosit in vitro.. . Metode Penelitian adalah percobaan laboratorium. Materi yang digunakan adalah folikel yang diisolasi dari ovarium yang diperoleh dari Rumah Potong Hewan (RPH) Kambing. Perlakuan adalah P0: kultur folikel kambing pra pubertas medium TCM199 tanpa +FSH,  P1: kultur folikel kambing pra pubertas , medium TCM 199  +  FSH. P2: folikel  kambing  dewasa , TCM 199 tanpa  suplementasi FSH.dan P3: folikel  kambing  dewasa , TCM 199 + suplementasi FSH.      Variabel yang diamati adalah; (1) perolehan jumlah ovarium/hari,   (2)  jumlah folikel terisolasi/ovarium dan % kebergasilan oosit yang  mature. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa  rata-rata perolehan rataan per ovary pada pra pubertas adalah  4.32 + 0.54  sedangkan pada  kelompok kambing dewasa adalah 5.19 + 1.99. Nilai perolehan folikel masing-masing kelompok umur adalah pra pubertas 21.00 + 7.14 sedangkan dewasa kelamin adalah 42.29 + 5.77. Kesimpulan  sistem kultur  folikel invitro  merupakan system yang sangat rumit, dengan problem paling besar adalah masalah kontaminasi sel, mengingat waktu kultur yang sangat lama. Disarankan  perlu dilakukan penelitian-penelitian pendahuluan untuk optimasi sistem kultur dan masih diperlukan pencarian medium dan suplmenantasi hormonal yang lebih sesuai untuk kultur folikel ternak kambing lokal. Kata-kata Kunci:  Oosit, Maturasi in vitro (IVM), Preanthral folikel, kambing.        THE FEASIBILITY OF PREANTHRAL FOLICLE CULTURE SYSTEM AS AN ALTERNATIVE SOURCE OF GOAT OOCYTES MATURED IN VITRO   ABSTRACT The culture system of anthral follicles  may provides the means not only of how producing a number of competence oocytes but also of investigating the physiology of follicular development and ovulation. Different culture systems have been developed. The cultured of  isolated  anthral follicle may produce many fertile oocytes in the possible high numbers . The aim of this research is to study  and develop a reliable follicle culture system of goat. In vitro folikel culture  system   was using in this research. Research was focused in anthral follicle on oocyte  potential and producing using in vitro system of goat folicle ovary isolated from local slaughtered house. The mammalian ovary contains a huge number of small follicle of various sizes. The research was conducted using experimental methods with 3 kind of treatment : P1. In vitro culture (IVC)  system using pre pubertal goat folicle with FSH supplementation in culture medium P2.  (IVC system using pre pubertal goat, F3. IVG system using pre sex matures goat  with FSH supplementation in culture medium and P4 , IVG system using matured goat. The result showed that different age of goat (pre puberty and sex matured goat resulted in different potential of  follicle isolated. for each ovary  (4.32 vs. 5.19).  with Total Follicle isolated from each  group of ages were 21.00 + 7.14 and 42.29 + 5.77.  IVG. The main problem of IVG system is contamination during isolation and culture cells  It was concluded that IVG culture system was very complex method and result in low potential of oocyte resources .Key words: Oocyte, In vitro Maturation, anthral follicle, Goat.

Page 2 of 31 | Total Record : 305


Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 26 No. 1 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 25 No. 2 (2024): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 25 No. 1 (2024): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 24 No. 2 (2023): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 24 No. 1 (2023): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 23 No. 2 (2022): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 23 No. 1 (2022): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 22, No 2 (2021): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 22, No 1 (2021): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 21, No 2 (2020): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 21, No 1 (2020): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 2 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 1 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 2 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 1 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 18, No 2 (2017): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 18, No 1 (2017): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 17, No 2 (2016): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 17, No 1 (2016): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 16, No 2 (2015): TERNAK TROPIKA Vol 16, No 1 (2015): TERNAK TROPIKA Vol 15, No 2 (2014): TERNAK TROPIKA Vol 15, No 1 (2014): TERNAK TROPIKA Vol 14, No 2 (2013): Ternak Tropika Vol 14, No 1 (2013): Ternak Tropika Vol 13, No 1 (2012): Ternak Tropika Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika Vol 11, No 2 (2010): Ternak Tropika Vol 11, No 1 (2010): Ternak Tropika Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika Vol 7, No 2 (2007): Ternak Tropika Vol 6, No 2 (2007): Ternak Tropika More Issue