cover
Contact Name
Aditya Pandu Wicaksono, S.ST
Contact Email
adityapandu23@ub.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jpt@ub.ac.id
Editorial Address
Department of Agronomy, Faculty of Agriculture Universitas Brawijaya, Jl. Veteran Malang, Indonesia, 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Plantropica: Journal of Agricultural Science
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 25416677     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jpt
Core Subject : Agriculture,
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science aims to provide a forum for international researchers on applied agricultural science to publish the original articles. The scope of PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science are crop science, agronomy, horticulture, plant breeding, agricultural environmental resources, agricultural climatology and plant physiology.
Articles 212 Documents
Pengaruh Bahan Tanam dan Napthalene Acetic Acid (NAA) terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kastuba (Euphorbia pulcherrima) Novita Agustiarini; Sitawati Sitawati
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2021.006.2.5

Abstract

Tanaman kastuba merupakan salah satu tanaman hias yang populer di Indonesia. Salah satu kendala di kebun produksi tanaman kastuba adalah terbatasnya ketersediaan bibit. Bahan stek yang diambil dari bagian pucuk, tengah, dan bawah menyebabkan pengakaran yang tidak serempak. Hormon auksin eksogen perlu ditambahkan untuk merangsang pengakaran pada stek sehingga waktu panen menjadi lebih cepat dan tingkat keberhasilan >80%. Tujuan penelitian untuk mempelajari pengaruh asal bahan tanam dan NAA pada pertumbuhan dan produksi tanaman kastuba. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2019-April 2020 di PT Condido Agro, Pasuruan, Jawa Timur. Alat yang digunakan yaitu pot, kertas label, meteran, paranet, penggaris, alat tulis, silet, LAM, dan kamera. Bahan yang digunakan yaitu stek batang kastuba 24 cm dari pucuk, savanna, arang sekam, pupuk kendang, NAA, dithane M-45 dan air. Penelitian disusun dengan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor yang diulang sebanyak 3 kali. Faktor pertama bahan stek (B) yaitu B1 (0 – ≤8 cm), B2 (>8 – ≤16 cm), dan B3 (>16 - ≤24 cm). Faktor kedua lama perendaman pada NAA (P) yaitu P1 (1 menit), P2 (15 menit), dan P3 (30 menit). Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (Uji F) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian perlakuan B2P1 mendapatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kastuba paling tinggi dibandingkan perlakuan lainnya dan mampu meningkatkan persentase keberhasilan stek, jumlah akar, panjang akar, tinggi tanaman dan luas daun.
Potensi Plant Growth Promoting Bacteria (PGPB) sebagai Pemacu Ketahanan Tanaman Padi terhadap Hawar Malai Padi Dyah Ayu Agustin; Elly Qurrotu A’yun; Tia Indi Marsya; Restu Rizkyta Kusuma
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2021.006.2.1

Abstract

Burkholderia glumae merupakan bakteri yang menyebabkan busuk pada persemaian. Penyakit ini terbawa benih dan menyebabkan kehampaan pada bulir padi. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengkaji keefektifan agens hayati berupa Plant Growth Promoting Bacteria (PGPB) dalam menghambat B.glumae. Penyusunan narrative review ini berdasarkan beberapa database baik literatur nasional maupun internasional, dengan cara kombinasi kata kunci Burkholderia glumae, Isolasi × Burkholderia glumae, Pengendalian × Burkholderia glumae. Berdasarkanhasil penelusuran yang diperoleh karakteristik Burkholderia glumae merupakan bakteri Gram negatif, bersifat aerobik dan motile menggunkan 2-4 flagel. Bakteri ini berbentuk batang, dengan ukuran 0.5-0.7 × 1.5-2.5 ‎μm. Bakteri ini dapat tumbuh pada suhu 11-40°C, dengan suhu optimal 30-35°C. Pada media S-PG B. glumae menghasilkan koloni berbentuk bulat dengan warna kuning bening dibagian tepi dan di bagian tengah koloni berwarna ungu. Sebagai salah satu pengendalian serangan B.glumae yaitu menggunakan varietas tahan. Terdapat penelitian uji ketahanan padi terhadap B. glumae pada 11 varietas. Terdapat 6 vaerietas yang kuat, dengan persentase kejadian penyakit terendah sebesar 6,71% pada varietas Inpari 30. Varietas lemah-sedang yaitu  Cisantana dengan persentase serangan 61.02%. Pada hasil beberapa penelitian isolasi bakteri rizosfer bersifat antagonis terhadap B.glumaedan berpotensi sebagai PGPB karena memproduksi auksin, ACC deaminase, sitokinin, giberelin, fiksasi nitrogen, pelarut fosfat, dan sekuestrasi zat besi oleh siderofor, sehingga dapat memacu dan meningkatkan ketahanan tanaman. Bakteri tersebut diantaranya adalah Enterobacteria sp., dan Streptomyces sp.
Pengaruh Volume dan Frekuensi Pemberian Air Terhadap Lingkungan Mikro, Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Putih (Allium sativum) Tiyas Maulidiya; Nur Edy Suminarti
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2022.007.1.3

Abstract

Tanaman bawang putih merupakan komoditas hortikultura yang umumnya ditanam di wilayah dataran medium hingga dataran tinggi. Permintaan bawang putih terus meningkat, akan tetapi tingkat produksi dari tanaman tersebut belum mampu mengimbangi permintaan konsumen. Pada dataran tinggi luas lahannya semakin sempit, sehingga perlu upaya ekstensifikasi yaitu ke dataran yang lebih rendah. Pengembangan tanaman bawang putih ke wilayah yang lebih rendah terdapat kendala berupa tingginya suhu akibat tingginya penerimaan energi radiasi matahari, sehingga laju evaporasi tinggi yang menyebabkan lebih rendahnya tingkat ketersediaan air bagi tanaman. Oleh karena itu, strategi budidaya yang diterapkan di dataran yang lebih rendah harus mengacu pada efisiensi penggunaan air. Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2020 sampai dengan bulan Mei 2020 di Green House Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya di Desa Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi. Perlakuan penelitian terdiri dari petak utama yaitu volume air yang terdiri dari 4 macam yaitu J1 (400 mm.musim­-1 (50%)), J2 (600 mm.musim-1 (75%)), J3 (800 mm.musim-1 (100%)) dan J4 (1000 mm.musim-1 (125%)), sedangkan anak petak yaitu frekuensi pemberian air yang terdiri dari 3 macam yaitu  P1 (1 hari sekali), P2 (2 hari sekali) dan P3 (3 hari sekali). Percobaan ini diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 36 satuan perlakuan. Lingkungan mikro, pertumbuhan dan hasil tanaman bawang putih dengan pemberian air sebanyak 1000 mm.musim-1 didapatkan hasil tertinggi pada frekuensi 1 hari sekali dengan hasil sebesar 9,43 g.tan-1 pada berat kering umbi.
Eksplorasi dan Karakterisasi Tanaman Durian (Durio zibethinus Murr.) di Kabupaten Trenggalek Fahma Fajar Artana; Sumeru Ashari
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2022.007.1.4

Abstract

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tanaman durian yang tergolong tinggi sehingga perlu dilakukan kegiatan eksplorasi untuk mengumpulkan informasi jenis-jenis durian unggul sebagai bahan untuk meningkatkan keanekaragaman nilai genetik tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi keanekaragaman genetik dan kekerabatan durian yang ada di Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur berdasarkan karakter morfologi pada ketinggian lahan yang berbeda. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Januari sampai Maret 2020. Metode pengambilan sampel tanaman menggunakan metode random sampling dengan sistem diagonal sampling. Data hasil klasifikasi morfologi berupa data biner dianalisis menggunakan Unweighted Pair Group Method with Aritmathic Means (UPGMA) melalui program NTSYSpc 2.02 untuk mengetahui hubungan kekerabatan tanaman berdasarkan jarak genetik dan disajikan dalam bentuk dendogram. Hasil penelitian menunjukan durian lokal memiliki karakter yang beraneka ragam. Keragaman karakter 25 aksesi durian memiliki 89 macam karakter terdiri atas karakter pohon, daun, dan buah. Hasil dendogram dari 25 aksesi durian yang ditemukan menunjukkan koefisien kemiripan 61 - 84% pada karakter kualitatif morfologi aksesi.
Analisis Regresi Linier Multilevel dengan Metode Restricted Estimation Maximum Likelihood (REML) untuk Data Pengukuran Berulang sebagai Kajian Model Pertumbuhan pada Kacang Tanah Arie Purwanto; Umul Aiman
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2022.007.1.5

Abstract

Guna membangun sebuah model matematika yang dapat memberikan gambaran terhadap pertumbuhan tanaman, dibutuhkan suatu analisis mempuni. Diharapkan dengan model yang dihasilkan mampu untuk membantu peneliti dan pihak lain dalam mengkaji pertumbuhan tanaman terutama kacang tanah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode research and development (R&D) dengan pendekatan eksperimen. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier multilevel sebagai pengembangan metode analisis dalam penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model linier berdasarkan model regresi linier multilevel. Metode estimasi restricted estimator maximum likelihood (REML) dipilih karena metode tersebut memiliki hasil estimasi parameter yang bersifat tak bias, dengan demikian dimungkinkan untuk memperoleh estimasi model yang jauh lebih baik. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pertanian UMBY pada Oktober - November 2019. Berdasarkan variabel yang telah ditetapkan diperoleh sebanyak sembilan kombinasi model yang dapat dibentuk. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa model multilevel lebih baik diterapkan dalam representasi model pertumbuhan kacang tanah.  Model terbaik didasarkan pada Akaike Information Criterion (AIC) terendah yang dihasilkan dari kombinasi model yang terbentuk. Selain itu ditemukan adanya Interclass Correlation (IC) sebesar 50,9% yang menunjukkan adanya perbedaan antar perlakukan yang diberikan.
Kajian Etnobotani Tanaman Pekarangan Desa Ngumpul Kabupaten Nganjuk Euis Elih Nurlaelih; Zobby Hendi Zenobia; Dewi Ratih Rizki Damaiyanti
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2022.007.1.1

Abstract

Tanaman pekarangan memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat karena berada pada salah satu ruang hidupnya.  Hubungan tersebut diwujudkan dalam bentuk pemanfaatan dan pengelolaan oleh masyarakat.  Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya tanaman pekarangan akan menimbulkan ketergantungan dan mendorong adanya upaya pelestarian kekayaan plasma nutfah baik secara sadar maupun tidak.  Selain itu, pemanfaatan tanaman pekarangan secara optimal berpotensi untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan tanaman pekarangan oleh masyarakat Desa Ngumpul Kabupaten Nganjuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Ngumpul memanfaatkan tanaman pekarangan untuk memenuhi berbagai kebutuhan yaitu sebagai tanaman pangan (26,7%), tanaman hias (24,6 %), tanaman peneduh (16,9%), tanaman obat (15,8 %), tanaman aromatik (6,8%), tanaman untuk ritual (5,8%), penghasil warna (3,2%), dan tanaman penghasil kayu (0,4%).  Hal ini menunjukkan bahwa tanaman di pekarangan memberikan manfaat yang beragam pada masyarakat.  Tanaman yang sering ditemui di pekarangan Desa Ngumpul adalah Mangga (Mangifera indica), Pisang (Musa paradisiaca), Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius), Kemangi (Ocimum × citriodorum), dan Pepaya (Carica papaya) dengan nilai 0,99-0,86. Berdasarkan familinya, tanaman yang paling banyak ditemui berasal dari famili Araceae dan Myrtaceae.
Pengaturan Pertumbuhan Vegetatif dan Pembungaan Krisan Potong (Chrysanthemum morifolium) Tipe Standar Melalui Rekayasa Fotoperiodisitas dan Konsentrasi GA₃ Kris Wahyuningsih; Sitawati Sitawati; Euis Elih Nurlaelih
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2022.007.1.2

Abstract

Tanaman krisan merupakan tanaman hari pendek di mana inisiasi bunga dipengaruhi oleh fotoperiodisitas. Tanaman krisan yang ditanam di Indonesia dengan fotoperiodisitas rata-rata 12 jam memiliki panjang tangkai ± 60 cm yang tergolong kelas mutu B. Untuk  mempertahankan fase vegetatif serta mencapai panjang tangkai optimal sebagai bunga potong diperlukan upaya penambahan cahaya buatan dari lampu pada malam hari dan pemberian GA₃. Penelitian menggunakan metode Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan 2 faktor yaitu penambahan cahaya dan konsentrasi GA₃ dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan penambahan cahaya dengan konsentrasi GA₃ pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang dan luas daun dan pada parameter waktu muncul bunga, umur panen, panjang tangkai, diameter bunga dan lama kesegaran bunga. Pemberian GA₃ 225 ppm justru menurunkan pertumbuhan panjang tangkai tanaman krisan hingga 13%. Penambahan cahaya 4 jam dan GA₃ 150 ppm menghasilkan panjang tangkai kelas mutu B (63,55 cm), diameter bunga kelas mutu B (7,17 cm) dan umur panen pada 92,78 hst. Penambahan cahaya 8 jam dan GA₃ 150 ppm memberikan hasil paling baik pada pertumbuhan tangkai tanaman krisan. Penambahan cahaya 8 jam dan GA₃ 150 ppm menghasilkan panjang tangkai kelas mutu AA (77 cm), diameter bunga kelas mutu B (7,17 cm) dan umur panen pada 97,67 hst.
Keragaman Genetik dan Heritabilitas Karakter Agronomi dan Kimiawi pada 20 Genotipe Tomat Lokal (Solanum lycopersicum L.) Batari Melyapuri Widarsiono; Listy Anggraeni; Damanhuri Damanhuri
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2022.007.2.9

Abstract

Perakitan varietas unggul baru dilakukan dengan memanfaatkan kekayaan plasma nutfah. Karakter agronomi dan kimiawi plasma nutfah perlu digali untuk mendapatkan informasi keunggulan genetiknya. Keragaman genetik dan heritabilitas pada karakter tanaman sangat berguna untuk keberhasilan seleksi genotipe unggul. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi keragaman genetik dan heritabilitas karakter agronomi dan kimiawi genotipe tomat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juli 2021 di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri atas dua puluh perlakuan genotipe tomat lokal dengan tiga ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua puluh genotipe tomat lokal yang diuji menunjukkan adanya beda nyata terhadap semua karakter pengamatan agronomi dan kimiawi. Semua karakter yang diuji mempunyai nilai heritabilitas yang tinggi. Karakter jumlah buah, bobot per buah, bobot buah per tanaman, dan kekerasan buah memiliki nilai keragaman genetik dan heritabilitas tinggi. Keunggulan genotipe T.3 Lonjong dan T.7 adalah jumlah tandan banyak, ukuran buah besar, buah keras, dan potensi hasil tinggi, dan pada genotipe Tomat ceri merah besar adalah jumlah tandan banyak, jumlah buah banyak, buah keras, dan potensi hasil tinggi. Genotipe T.2 mempunyai kadar gula dan kadar vitamin C tinggi.
Effect of Goat Manure and on Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Growth and Yield of Sweet Corn (Zea mays saccharata Sturt .) Plants Krisdayanti Siahaan
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sweet corn (Zea mays saccharata Sturt) is a food crop that is great demand by Indonesians because has  sweeter taste than ordinary corn and has shorter harvest time. 2012, sweet corn production was 19,377,030 tons, while in 2013 was 18,506,287 tons and in 2014 reached 18,548,872.00 tons with harvest area 3,786,376.00 ha. This shows the national maize production still not sufficient for market needs. Techniques for improving sweet corn cultivation can be done providing PGPR and goat manure. The role of PGPR in plant growth also assisted by the presenoe of goat manure, where goat manure is organic material that functions as a provider of nutrients and nutrients for PGPR so that the microorganisms in PGPR are able to survive in the environment. Goat manure is type of manure that contains lots of organic compounds. Soil organic matter can help improve soil physical, biological and chemical properties. Goat manure is friendly to the environment, abundant availability can reduce production costs and increase production through improved soil structure. This study used a randomized block design (RBD) consisting of 9 treatment combinations with 3 replications. Growth parameters include plant height, number of leaves, leaf area and plant dry weight. Yield parameters include fresh weight of cob, fresh weight cob without husk, cob length, cob diameter, sugar content and corn yield per hectare. The combination of goat manure 10 ton ha-1+PGPR 5 ml/L can increase 32.70% yield per hectare, namely 13.88 tonnes ha-1 compared to the control treatment which is 9.33 tonnes ha-1.
Study of Length of Time to Reach Heat Unit due to Various Volumes and Frequencies of Watering in Garlic Plant (Allium sativum L.) Bahrul Mubin Amin; Nur Edy Suminarti
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2022.007.2.5

Abstract

Garlic is one of the important horticultural commodities in Indonesia which is widely used its tubers as a cooking and medicinal ingredient. The large number of land conversion activities and competition between horticultural crops in the highlands have led to the development of garlic plants directed to lower land with different environmental conditions. The aim of this research is to study the volume and frequency of watering to length of time to reach heat unit of garlic. The research was carried out in February-May 2020 at the Greenhouse of the Faculty of Agriculture, Brawijaya University in Jatimulyo, Lowokwaru, Malang. The tools used are polybags, hoe, measuring cup, knife, tape measure, leaf area meter, camera, treatment board, stationery, lux meter, alcohol thermometer and thermohigrometer. The materials used are Lumbuh Putih variety, soil, and NPK fertilizer. This research was compiled with Split Plot Design with volume of watering as a main plot: J1: 400 mm / season, J2: 600 mm / season, J3: 800 mm / season, and J4: 1000 mm / season, while the frequency watering as a sub-plot: P1: watering once a day, P2: watering once every 2 days, and P3: watering once every 3 days. Total combination of treatments from the two factors was 12 treatments, each treatment repeated 3 times, so there were 36 experimental plots. Each experimental plot consist of 15 plants so there were 540 plants in total. Data observations were analyzed using the F test. If there is an interaction or effect of the treatment, a further test is carried out using the HSD test at 5% level. The results of J4 and P1 treatments required a longer time to reach the heat unit for each phase of garlic plant growth.