cover
Contact Name
Fikri Zul Fahmi
Contact Email
jrcp@itb.ac.id
Phone
+6222-86010050
Journal Mail Official
jrcp@itb.ac.id
Editorial Address
The Institute for Research and Community Services (LPPM), Center for Research and Community Services (CRCS) Building, 6th Floor, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia,
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Regional and City Planning
ISSN : 25026429     EISSN : 25026429     DOI : https://doi.org/10.5614/jpwk
Journal of Regional and City Planning or JRCP is an open access journal mainly focusing on urban and regional studies and planning in transitional, developing and emerging economies. JRCP covers topics related to the analysis, sciences, development, intervention, and design of communities, cities, and regions including their physical, spatial, technological, economic, social and political environments. The journal is committed to create a multidisciplinary forum in the field by seeking original paper submissions from planners, architects, geographers, economists, sociologists, humanists, political scientists, environmentalists, engineers and other who are interested in the history, transformation and future of cities and regions in transitional, developing and emerging economies.
Articles 1,011 Documents
Mitigating Climate Change Related Floods in Urban Poor Areas: Green Infrastructure Approach Fahmyddin Araaf Tauhid; Hoferdy Zawani
Journal of Regional and City Planning Vol. 29 No. 2 (2018)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jrcp.2018.29.2.2

Abstract

Abstract. Natural disasters continue to hit urban areas worldwide, undermining community resilience capacity. The combination of increasing precipitation because of climate change, sea level rise, and uncontrolled rapid urbanization bring greater risk of flooding impacts in urban areas. Such flooding has a disproportionate effect on the urban poor, who often live in informal settlements. Meanwhile, the rapid expansion of informal settlements encroaching on floodplains that restrict the storage of flood waters and the expansion of impermeable urban surfaces also contribute to the increasing magnitude and frequency of flooding. Therefore, it is important to acknowledge the urban poor as the most vulnerable community and also as key party in mitigation efforts. Although mitigation measures are currently in place to lessen the impact of climate change related floods in urban poor areas, little attention has been given to the use of green infrastructure as a mitigation strategy. Hence, this study aimed to examine current practices of green infrastructure (GI) in urban poor areas of Kibera (Kenya), Madurai (India) and Old Fadama (Ghana) to mitigate climate related flood impacts. Using the multiple case study method, it was investigated how urban stakeholders address and overcome the critical issues of governance, finance and awareness to secure the success of GI implementation. It was found that GI requires comprehensive understanding of political, social, economic and environmental aspects of the urban poor population to secure the success of initiatives, while cohesive cooperation and full participation of urban stakeholders is the key.  Keywords: Mitigation, climate change, flood, urban poor, green infrastructure.Abstrak. Bencana alam yang melanda wilayah perkotaan di berbagai penjuru dunia berpotensi mengancam kapasitas ketahanan masyarakat. Perpaduan antara peningkatan curah hujan akibat perubahan iklim, kenaikan permukaan air laut, dan pesatnya urbanisasi yang tidak terkendali, membawa risiko banjir yang lebih besar di daerah perkotaan. Ancaman banjir merugikan masyarakat miskin kota yang mayoritas tinggal di permukiman informal. Sementara itu, tumbuhnya permukiman informal secara pesat yang menjangkau wilayah rawan banjir menyebabkan berkurangnya kawasan resapan dan penyimpanan air yang berkontribusi pada peningkatan besaran dan frekuensi banjir. Oleh karena itu, pengakuan terhadap keberadaan kaum miskin kota sebagai komunitas yang paling rentan dan juga aktor kunci dalam upaya mitigasi bencana diperlukan. Meskipun mitigasi bencana saat ini baru dipahami sebagai upaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim, khususnya banjir di daerah miskin perkotaan, saat ini perhatian mulai tertuju pada penggunaan infrastruktur hijau sebagai salah satu alternatif strategi mitigasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji praktik-praktik infrastruktur hijau di daerah miskin perkotaan di Kibera (Kenya), Madurai (India) dan Old Fadama (Ghana) untuk mengurangi dampak banjir akibat perubahan iklim. Metode multiple case study digunakan untuk menyelidiki bagaimana para pemangku kepentingan menyuarakan dan mengatasi berbagai permasalahan tata pemerintahan, keuangan dan kesadaran untuk mensukseskan penerapan infrastruktur hijau. Sementara itu, keberhasilan penerapan infrastruktur hijau membutuhkan pemahaman yang komprehensif tentang isu-isu politik, sosial, ekonomi dan lingkungan dalam konteks masyarakat miskin kota, disamping kemitraan yang kooperatif dan partisipasi penuh para pemangku kepentingan sebagai kunci utama.Kata kunci: Mitigasi, perubahan iklim, banjir, miskin kota, infrastruktur hijau.Abstract. Natural disasters continue to hit urban areas worldwide, undermining community resilience capacity. The combination of increasing precipitation because of climate change,sea level rise, and uncontrolled rapid urbanization bring greater risk of flooding impacts in urban areas. Such flooding has a disproportionate effect on the urban poor, who often live in informal settlements. Meanwhile, the rapid expansion of informal settlements encroaching on floodplains that restrict the storage of flood waters and the expansion of impermeable urban surfaces also contribute to the increasing magnitude and frequency of flooding. Therefore, it is important to acknowledge the urban poor as the most vulnerable community and also as key party in mitigation efforts. Although mitigation measures are currently in place to lessen the impact of climate change related floods in urban poor areas, little attention has been given to the use of green infrastructure as a mitigation strategy. Hence, this study aimed to examine current practices of green infrastructure (GI) in urban poor areas of Kibera (Kenya), Madurai (India) and Old Fadama (Ghana) to mitigate climate related flood impacts. Using the multiple case study method, it was investigated how urban stakeholdersaddress and overcome the critical issues of governance, finance and awareness to secure the success of GI implementation. It was found that GI requires comprehensive understanding of political, social, economic and environmental aspects of the urban poor population to secure the success of initiatives, while cohesive cooperation and full participation of urban stakeholders is the key.  Keywords: Mitigation, climate change, flood, urban poor, green infrastructure. [Diterima: 22 Februari 2018; diterima dalam bentuk akhir: 28 Mei 2018] Abstrak. Bencana alam yang melanda wilayah perkotaan di berbagai penjuru dunia berpotensi mengancam kapasitas ketahanan masyarakat. Perpaduan antara peningkatan curah hujan akibat perubahan iklim, kenaikan permukaan air laut, dan pesatnya urbanisasi yang tidak terkendali, membawa risiko banjir yang lebih besar di daerah perkotaan. Ancaman banjir merugikan masyarakat miskin kota yang mayoritas tinggal di permukiman informal. Sementara itu, tumbuhnya permukiman informal secara pesat yang menjangkau wilayah rawan banjir menyebabkan berkurangnya kawasan resapan dan penyimpanan air yang berkontribusi pada peningkatan besaran dan frekuensi banjir. Oleh karena itu, pengakuan terhadap keberadaan kaum miskin kota sebagai komunitas yang paling rentan dan juga aktor kunci dalam upaya mitigasi bencana diperlukan. Meskipun mitigasi bencana saat ini baru dipahami sebagai upaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim, khususnya banjir di daerah miskin perkotaan, saat ini perhatian mulai tertuju pada penggunaan infrastruktur hijau sebagai salah satu alternatif strategi mitigasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji praktik-praktik infrastruktur hijau di daerah miskin perkotaan di Kibera (Kenya), Madurai (India) dan Old Fadama (Ghana) untuk mengurangi dampak banjir akibat perubahan iklim. Metode multiple case study digunakan untuk menyelidiki bagaimana para pemangku kepentingan menyuarakan dan mengatasi berbagai permasalahan tata pemerintahan, keuangan dan kesadaran untuk mensukseskan penerapan infrastruktur hijau. Sementara itu, keberhasilan penerapan infrastruktur hijau membutuhkan pemahaman yang komprehensif tentang isu-isu politik, sosial, ekonomi dan lingkungan dalam konteks masyarakat miskin kota, disamping kemitraan yang kooperatif dan partisipasi penuh para pemangku kepentingan sebagai kunci utama.Kata kunci: Mitigasi, perubahan iklim, banjir, miskin kota, infrastruktur hijau.
Changing the Mindset to Encourage Innovation in Resolving Problems in the Built Environment: Exploring the Role of Online Gaming Platforms to Deliver Collaborative Learning and Teaching Shahed Khan; Julie Brunner; David Gibson
Journal of Regional and City Planning Vol. 29 No. 2 (2018)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jrcp.2018.29.2.1

Abstract

Abstract. As educators we seek to set up meaningful graduate attributes to encourage creativity and a drive for innovation among our graduates in order to produce professionals not content with learning how to do more of the same, but who have the courage to push the boundaries of their profession and innovate. Referring to preparatory research on work in progress at Curtin University, we explored the capacity of team teaching using online gaming platform technology. We investigated the feasibility of engaging teams of students in practical applications of theoretical concepts of communicative and collaborative planning and decision-making, along with the dynamics and politics of community consultation in a pluralistic society. We ascertained the potential of developing students' interpersonal and intercultural skills to develop collaborative partnerships through engagement with fellow students and a wide range of stakeholders/partners, simulating real-life situations using serious gaming platforms. It is contended that through a collaborative and experiential learning-approach to teaching and by employing state-of-the-art online gaming/teaching platforms, we could enable students to deal with real-life issues in simulated and sufficiently supervised conditions to encourage creativity and risk taking. This would encourage students to strive for creativity in solving contextual problems in their search for innovative solutions to complex and wicked problems. It is also contended that state-of-the-art delivery of curricula could free up academics during teaching sessions to concentrate on inspiring students to explore innovative and creative solutions for these problems.Keywords. Creativity, innovation, collaborative learning and teaching, online gaming platform, wicked problemsAbstrak.Sebagai pengajar kita berupaya membentuk lulusan yang berkarakter dengan mendorong upaya kreatif dan inovatif pada siswa sehingga terbentuk lulusan profesional yang tidak hanya ahli dalam melakukan hal yang sama secara berulang, tetapi juga memiliki keberanian untuk berinovasi dan mendobrak batas-batas profesi mereka. Mengacu pada persiapan pekerjaan yang sedang berjalan di Curtin University, kami meneliti kapasitas pembelajaran berkelompok dengan menggunakan platform teknologi permainan daring. Kami menyelidiki potensi pelibatan kelompok-kelompok siswa secara langsung dalam penerapan konsep teoetisi perencanaan komunikatif dan kolaboratif, serta pengambilan keputusan dalam dinamika dan politik musyawarah pada kelompok masyarakat yang bersifat majemuk. Kami meneliti bagaimana potensi pengembangan keterampilan interpersonal dan interkultural masing-masing siswa dapat berkontribusi dalam pengembangan kemitraan kolaboratif melalui pelibatan antar sesama siswa dengan berbagai pemangku kepentingan dalam simulasi situasi kehidupan nyata menggunakan platform game yang serius. Melalui pembelajaran dengan pendekatan yang kolaboratif dan eksploratif, serta pemahaman pengalaman pengajaran menggunakan platform teknologi permainan daring, siswa diharapkan sapat lebih memahami maslaah di lapangan. Dalam kondisi yang disimulasikan dan diawasi dengan baik, siswa didorong untuk lebih kreatif dan berani dalam mengambil risiko. Kondisi ini diharapkan mampu mendorong siswa untuk berupaya lebih keras untuk memecahkan masalah kontekstual secara kreatif dan menemukan solusi yang inovatif untuk masalah yang kompleks. Penyampaian materi kurikulum dan pengalaman tentang  pembelajaran dengan platform teknologi permainan daring ini diharapkan memberi kebebasan yang lebih bagi pengajar untuk fokus pada siswa yang menginspirasi dalam lebih menggali solusi yang inovatif dan kreatif untuk masalah tersebut.Kata kunci. Kreativitas, inovasi, pembelajaran dan pengajaran kolaboratif, platform game online, masalah kompleks.
The Spatial Transformation of Traditional Rural Villages Driven by Private Investment in China’s Developed Areas: The Case of Daxi Village, Anji County Simin Yan; Chen Chen
Journal of Regional and City Planning Vol. 29 No. 2 (2018)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jrcp.2018.29.2.6

Abstract

Abstract. Restricted by political ideology and institutional barriers, the development of rural China has in the past relied heavily on government spending. However, with institutional reform and the development of a market economy, private investment is playing an increasingly important role in rural development, especially in traditional rural villages. Daxi village in Anji County of Zhejiang Province is a typical case. Investment in the Tianhuangping Hydropower Station and the Beautiful Villlages policy supported by the public sector (government and state-owned enterprises) have been important driving forces in attracting private investments in rural tourism and have had a profound impact on the physical, economic and social space of Daxi village. This research used interviews with key subjects, including government officials, non-local investors and returned migrants, and a questionnaire survey among local residents. It was found that with the growth of private investment, location, transportation, natural resources, development policies and superior human resources are the most important factors that drive spatial transformation. Finally, it also offers a discussion on how the Daxi model may shed light on rural development in developing countries with an urban-rural dichotomy.Keywords. spatial transformation, private investment, rural development, Daxi village.Abstrak. Dibatasi oleh ideologi politik dan hambatan institusional, perkembangan pedesaan Cina di masa lalu sangat bergantung pada belanja pemerintah. Namun, dengan reformasi kelembagaan dan pengembangan ekonomi pasar, investasi swasta memainkan peran yang semakin penting dalam pembangunan pedesaan, terutama di desa-desa pedesaan tradisional. Desa Daxi di Kabupaten Anji, Provinsi Zhejiang adalah kasus yang tipikal. Investasi di Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Tianhuangping dan kebijakan Desa Indah yang didukung oleh sektor publik (pemerintah dan badan usaha milik negara) telah menjadi dorongan yang penting dalam menarik investasi swasta pada pariwisata pedesaan dan memiliki dampak besar pada ruang fisik, ekonomi dan sosial Desa Daxi. Penelitian ini menggunakan wawancara dengan subyek-subyek utama, termasuk pejabat pemerintah, investor non-lokal dan migran yang telah kembali, dan survei kuesioner di antara penduduk setempat. Ditemukan bahwa dengan pertumbuhan investasi swasta, lokasi, transportasi, sumber daya alam, kebijakan pembangunan dan sumber daya manusia yang unggul adalah faktor paling penting yang mendorong transformasi spasial. Akhirnya, penelitian ini juga menawarkan diskusi tentang bagaimana model Daxi dapat menjelaskan perkembangan pedesaan di negara-negara berkembang dengan dikotomi kota-desa.Kata kunci. transformasi spasial, investasi swasta, pembangunan pedesaan, Desa Daxi.
Research on the City Network of Guangdong, Hongkong and Macao from the Perspective of Information Flow: Analysis based on Baidu Index Qixuan Wang; Min Zhao
Journal of Regional and City Planning Vol. 29 No. 3 (2018)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jrcp.2018.29.3.6

Abstract

In the context of the rapid development of informatization and globalization, the theoretical methods of urban scholars have shifted from a 'space of places' appraoch, which looks at geographical areas, to a 'space of flows' approach, which is based on flows of people, goods, capital, and information between cities. The rapid development of the Internet makes the connections between cities more dynamic than ever before. The subject of this study are cities in three provincial administrative units in Southern China: Guangdong, Hong Kong and Macao. The development of the Internet provides an opportunity to analyse the relationships between the cities in this region from the viewpoint of information flow. Using the area distribution model in Baidu Index (a website of the Baidu company), this study recorded the web search volume, simulated the information flows, and analysed the network correlation degrees between the cities in Guangdong, Hong Kong and Macau. The conclusions are: (1) from the perspective of information flow, the city network in Guangdong, Hong Kong and Macao has a clear 'core-periphery' structure, which amplifies the difference in urban hierarchy between big and small cities; (2) the cities in the traditional Pearl River Delta core region have a stronger ability to aggregate information flows and geographical proximity reflects information flow; (3) information flows between the cities in Guangdong and Hong Kong and Macao are not smooth, and thus needs to be improved.Keywords. City network; area of Guangdong-Hongkong-Macau; information flow; Baidu Index.Abstrak. Dalam konteks perkembangan informatisasi dan globalisasi yang pesat, metode teoritis para peneliti perkotaan telah bergeser dari pendekatan 'ruang tempat' yang melihat wilayah geografis, ke pendekatan 'ruang arus' yang didasarkan pada arus manusia, barang, kapital, dan informasi antar kota. Pesatnya perkembangan internet membuat hubungan antar kota lebih dinamis dari sebelumnya. Subyek penelitian ini adalah kota-kota di tiga unit administrasi provinsi di Cina Selatan: Guangdong, Hong Kong, dan Macao. Perkembangan Internet memberi kesempatan untuk menganalisis hubungan antara kota-kota di wilayah ini dari sudut pandang arus informasi. Dengan menggunakan model distribusi area pada indeks Baidu (sebuah situs perusahaan Baidu), makalah ini mencatat jumlah pencarian web, mensimulasikan arus informasi, dan menganalisis tingkat korelasi jaringan di antara kota-kota di Guangdong, Hong Kong dan Macau. Kesimpulannya adalah: (1) Dari perspektif arus informasi, jaringan kota di Guangdong, Hong Kong dan Macao memiliki struktur 'inti-pinggiran' yang jelas, yang memperkuat perbedaan dalam struktur hirarki perkotaan antara kota-kota besar dan kecil; (2) Kota-kota di wilayah inti Pearl River Delta tradisional memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk mengumpulkan arus informasi dan kedekatan geografis juga mencerminkan arus informasi; (3) Arus informasi antara kota-kota Guangdong dan Hong Kong dan Macao tidak lancar, sehingga perlu ditingkatkan.Kata Kunci. Jaringan kota; wilayah Guangdong-Hongkong-Macau; arus informasi; Indeks Baidu.
The Changing Structure of China’s Pearl River Delta Megacity Region Junru Song; Min Zhao
Journal of Regional and City Planning Vol. 29 No. 3 (2018)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jrcp.2018.29.3.1

Abstract

Based on traditional spatial gravity interaction models, urban quality and the time it takes for people or goods to move between cities are strongly correlated and the extent to which cities are integrated or have the capacity to become integrated into an interconnected urban network changes as travel time between cities changes. This paper analyses China’s Pearl River Delta (PRD) megacity region based on a modified gravity model combined with spatial analysis. It also analyzes economic relations between cities within the PRD megacity region, and compares China’s recent ‘new-style’ urbanization planning in Guangdong Province – the region’s largest and economically most important province – with planning for Guangdong that pre-dated China’s 2014 National New Style Urbanization Plan. The results show that PRD is now a bi-polar megacity region dominated by Guangzhou and Shenzhen and that four out of six cities the province planned to integrate into the core after 2005 have been integrated, but two have not. In order to build a successful global urban region, PRD needs to continue to improve its core, accelerate the integration of city clusters that can realistically be integrated, continue to study the integration potential of cities with less development potential and pay attention to balanced development of peripheral cities. Keywords. Pearl River Delta, the gravity model, economic spatial connection. Abstrak. Berdasarkan model interaksi gravitasi spasial tradisional, kualitas perkotaan sangat berhubungan dengan waktu tempuh untuk manusia dan barang berpindah dari satu kota ke kota yanglain. Selain itu juga tergantung sejauh mana kota-kota terintegrasi atau memiliki kapasitas untuk terintegrasi ke dalam perubahan jaringan perkotaan yang saling terhubung disebabkan oleh perubahan waktu perjalanan antar kota. Makalah ini menganalisis kawasan mega region Pearl River Delta (PRD) Cina berdasarkan pada model gravitasi yang dimodifikasi yang dikombinasikan dengan analisis spasial. Makalah ini juga menganalisa hubungan ekonomi di antara kota-kota di dalam wilayah megaregion PRD, dan membandingkan perencanaan urbanisasi "gaya baru" di Provinsi Guangdong - provinsi terbesar dan paling penting secara ekonomi di wilayah ini - dengan perencanaan untuk Guangdong yang telah ada sebelum adanya Rencana Urbanisasi Nasional Cina Gaya Baru Tahun 2014. Hasilnya menunjukkan bahwa PRD sekarang menjadi wilayah megaurban bi-polar yang didominasi oleh Guangzhou dan Shenzhen dan bahwa empat dari enam kota yang direncanakan provinsi untuk berintegrasi ke dalam kota inti setelah tahun 2005, namun dua di antaranya belum. Dalam rangka membangun kawasan perkotaan global yang sukses, PRD perlu terus meningkatkan kota intinya, mempercepat integrasi klaster kota yang memang dapat diintegrasikan, terus mengkaji potensi integrasi kota dengan potensi pengembangan yang lebih sedikit dan memberikan perhatian pada keseimbangan pengembangan kota periferal. Kata Kunci. Pearl River Delta, model gravitasi, koneksi spasial ekonomi.
Historic Institutionalism and Urban Morphology in Jakarta: Moving Towards Building Flood Resiliency into the Formal Planning and Development System David Wallace Mathewson
Journal of Regional and City Planning Vol. 29 No. 3 (2018)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jrcp.2018.29.3.2

Abstract

This paper examines issues around flooding and rapid urban development in Jakarta, specifically the manner in which the former has influenced the spatial growth of the city over time. It takes a historic-institutionalism perspective within the context of changing government responses to flood management, where previous approaches failed to take into consideration existing local ecology, flood patterns and natural drainage systems. Jakarta is slowly moving towards more sustainable and resilient approaches to flood management through pilot programmes aimed at reclaiming or restoring water bodies while creating urban green space to assist with water absorption, despite the local government not having incorporated sustainable flood management systems or mitigation measures into the formal planning system. This paper shows how flooding has influenced spatial development and urban morphology in the city historically, which has led the city administration to the realisation that new approaches are required. The methodology includes document and literature research, GIS as well as satellite based mapping and imagery to determine spatial development patterns and where additional mitigation measures may be required, as well as flooding and drainage documentation. The paper reveals a series of potential strategies for the initial stages of planning policy implementation and a potential framework for developing planning-incorporated measures at a wider scale across Jakarta's affected areas. This study has wide implications for a number of large developing cities in the Global South that face multiple development challenges in addition to flooding.Keywords. Historic institutionalism, urban morphology, flood resiliency, urban planning.Abstrak. Makalah ini mengkaji isu-isu seputar banjir dan pembangunan perkotaan di Jakarta yang cepat, khususnya bagaimana fenomena banjir mempengaruhi pertumbuhan spasial kota dari waktu ke waktu. Dibutuhkan perspektif historis-institusionalisme dalam konteks perubahan respons pemerintah terhadap manajemen banjir, yakni ketika pendekatan sebelumnya gagal mempertimbangkan ekologi lokal yang ada, pola banjir dan sistem drainase alami. Jakarta perlahan bergerak menuju pendekatan manajemen banjir yang lebih berkelanjutan dan tangguh melalui program percontohan yang bertujuan untuk merebut kembali atau memulihkan badan air sambil menciptakan ruang hijau perkotaan untuk membantu penyerapan air meski pemerintah daerah belum memasukkan sistem manajemen banjir berkelanjutan atau langkah-langkah mitigasi ke dalam sistem perencanaan formal. Makalah ini menunjukkan bagaimana banjir telah mempengaruhi perkembangan ruang dan morfologi perkotaan di kota secara historis yang telah menyebabkan pemerintah kota untuk menyadari akan perlunya pendekatan baru. Metodologi makalah mencakup penelitian dokumen dan literatur, pemetaan dan citra berbasis GIS dan satelit untuk menentukan pola pengembangan ruang apabila langkah-langkah mitigasi tambahan mungkin diperlukan, serta dokumentasi banjir dan drainase. Makalah ini mengungkapkan serangkaian strategi potensial untuk tahap awal implementasi kebijakan perencanaan dan kerangka potensial untuk mengembangkan langkah-langkah yang memasukkan perencanaan pada skala yang lebih luas di seluruh wilayah yang terkena dampak di Jakarta. Studi ini memiliki implikasi luas bagi sejumlah kota besar yang berkembang yang menghadapi berbagai tantangan pembangunan selain banjir.Kata Kunci. Institusionalisme historis, morfologi perkotaan, ketahanan banjir, perencanaan kota.
Rethinking Temporary Use Coordinators for the Regeneration of Underused Urban Spaces in Seoul Kon Kim
Journal of Regional and City Planning Vol. 30 No. 1 (2019)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.1.1

Abstract

This paper looks into a new policy framework of the Seoul Metropolitan Government that aims to create a new urban governance and use a citizens' participation as an urban regeneration tool. Particular attention is paid to the transformation process of new urban governance and its contribution to the regeneration process of underused urban spaces in the long term. Using a case study approach, a link was identified between the roles of coordinator groups and the long-term legacy of reuse of underused urban spaces. This trend is contextualised within the hierarchical fiscal mechanism in which new urban programmes are established and implemented. The findings emphasise the constant role of coordinator groups and the significance of the soft content curated by them in the regeneration process of the underused urban spaces in Seoul. Abstrak. Makalah ini melihat kerangka kebijakan baru dari Pemerintah Metropolitan Seoul yang bertujuan untuk menciptakan tata kota baru dan menggunakan partisipasi warga sebagai alat regenerasi perkotaan. Perhatian khusus diberikan kepada proses transformasi pemerintahan kota baru dan kontribusinya terhadap proses regenerasi ruang perkotaan yang kurang dimanfaatkan dalam jangka panjang. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus, hubungan telah diidentifikasi antara peran kelompok koordinator dan warisan jangka panjang dari penggunaan kembali ruang perkotaan yang kurang dimanfaatkan. Tren ini dikontekstualisasikan dalam mekanisme fiskal hirarkis di mana program-program urban baru ditetapkan dan diimplementasikan. Temuan ini menekankan peran menerus dari kelompok koordinator dan pentingnya konten lunak yang dikuratori oleh mereka dalam proses regenerasi ruang perkotaan yang kurang dimanfaatkan di Seoul.Kata Kunci. Penggunaan lahan sementara, taktik sehari-hari, koordinator strategis, pemerintahan kota.
A Regional, Strategic Growth-Management Approach to Urban and Peri-Urban Development in South East Queensland, Australia Bhishna Nanda Bajracharya; Peter Hastings
Journal of Regional and City Planning Vol. 29 No. 3 (2018)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jrcp.2018.29.3.3

Abstract

The approach and efficacy of South East Queensland's (Australia) regional planning strategy to manage urban and peri-urban growth is described and discussed from document analysis. Framed within the urban containment paradigm, the South East Queensland Regional Plan 2017 establishes specific principles and statutory planning controls to direct the spatial distribution of growth while attempting to preserve natural, cultural and productive landscapes and overall liveability. Identification of desired regional growth patterns, coordinated governance, economic and infrastructure development, and plan monitoring are key attributes of a framework that has generally resulted in acceptable regional outcomes. Nevertheless, a number of challenges remain for containing urban growth and maintaining regional resilience and sustainability amidst continuing growth pressures. This paper highlights three contemporary issues of interest: greater recognition and delineation of peri-urban areas, integration of regional planning and disaster management, and growth management of peri-urban master planned communities. The need for ongoing, independent plan evaluation is also identified.Keywords. Urban development, regional planning, peri-urban development, growth management, governance, South East Queensland.Abstrak. Pendekatan dan keberhasilan perencanaan stretegis wilayah South East Queensland (Australia) dalam mengelola pertumbuhan perkotaan dan peri-urban dijelaskan dan didiskusikan dari dokumen analisis. Dibingkai dalam paradigma pembatasan perkotaan (urban containment), South East Queensland Regional Plan 2017 menetapkan prinsip-prinsip spesifik dan peraturan pengendalian perencanaan untuk mengarahkan distribusi spasial pertumbuhan diiringi dengan upaya pelestarian lingkungan, lahan budidaya dan lahan produktif, serta tingkat kualitas hidup secara keseluruhan. Identifikasi pola pertumbuhan regional yang diinginkan, tata kelola pemerintahan yang terkoordinasi, pembangunan ekonomi dan infrastruktur, dan pemantauan rencana merupakan faktor kunci untuk menghasilkan dampak wilayah yang dikehendaki. Namun demikian, masih terdapat sejumlah tantangan untuk melakukan pembatasan pertumbuhan kota dan mempertahankan ketahanan dan keberlanjutan wilayah masih tampak di tengah tekanan pertumbuhan yang terus berlanjut. Makalah ini menyoroti tiga isu kontemporer, yaitu pengakuan yang lebih besar dan penggambaran wilayah peri-urban, integrasi perencanaan wilayah dan manajemen bencana, dan manajemen pertumbuhan komunitas perencanaan induk peri-urban. Makalah ini juga mengidentifikasi kebutuhan untuk evaluasi rencana yang independen dan berkelanjutan.Kata Kunci. Pembangunan perkotaan, perencanaan regional, pengembangan peri-urban, manajemen pertumbuhan, pemerintahan, Queensland Tenggara.
Spatial Structure Remodeling in Yangtze River Delta Region Under High-speed Railway Network Organization Yishuai Zhang
Journal of Regional and City Planning Vol. 30 No. 1 (2019)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.1.2

Abstract

In recent years, China's high-speed railway construction has developed rapidly, playing an extremely important role in the exchange of elements between cities and supporting the operation of the national urban system. The Yangtze River Delta region is one of the most advanced and balanced regions in China. With the rapid development of China's high-speed railway construction, its regional spatial structure supported by the high-speed railway network has also undergone a series of changes. Based on the data of high-speed trains in the Yangtze River Delta region collected from the official website of the Ministry of Railways, the OD connection matrix between cities in the Yangtze River Delta was constructed, using some indexes such as network correlation degree, network density, central degree, to describe the characteristics of the city network in this region. The results show that, firstly, under the lead of Shanghai, the core corridor in the Yangtze River Delta region has been further strengthened. Secondly, as an important network hub in this region, the regional network status of Nanjing even exceeds that of Shanghai, and cities such as Hangzhou and Hefei also have the function of organizing sub-regional traffic. What is more, under the influence of the high-speed railway, the reach range of the metropolitan area has been greatly improved. A case comparison with the Ring-Bohai and Guangdong-Guangxi area showed that the Yangtze River Delta area is the most balanced among those three. Finally, some prospects for the future development of the Yangtze River Delta are discussed in this paper. Abstrak. Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan jaringab kereta api berkecepatan tinggi di Cina telah berkembang pesat, memainkan peran yang sangat penting dalam pertukaran elemen antara kota dan kota, dan mendukung sistem perkotaan nasional. Wilayah delta sungai Yangtze adalah salah satu daerah yang paling maju dan seimbang di Cina. Dengan perkembangan pesat pembangunan jaringan kereta api berkecepatan tinggi Cina, struktur tata ruang regionalnya yang didukung oleh jaringan kereta api berkecepatan tinggi juga telah mengalami serangkaian perubahan. Berdasarkan data kereta api berkecepatan tinggi di daerah delta sungai Yangtze yang dikumpulkan dari situs resmi kementerian perkeretaapian, dibangun matriks sambungan OD antara kota-kota di delta Sungai Yangtze dengan menggunakan beberapa indeks seperti tingkat korelasi jaringan, kepadatan jaringan, tingkat pemusatan, untuk menggambarkan karakteristik jaringan kota di wilayah ini. Hasilnya menunjukkan bahwa, pertama, di bawah pimpinan Shanghai, koridor inti di wilayah delta Sungai Yangtze telah diperkuat lebih lanjut. Kedua, sebagai hub jaringan penting di wilayah ini, status jaringan regional Nanjing bahkan melebihi Shanghai, dan kota-kota seperti Hangzhou dan Hefei juga memiliki fungsi mengatur lalu lintas sub-regional. Terlebih lagi, dipengaruhi kereta api berkecepatan tinggi, jangkauan area metropolitan telah sangat ditingkatkan. Perbandingan kasus dengan daerah Ring-Bohai dan Guangdong-Guangxi juga menunjukkan bahwa daerah delta Sungai Yangtze adalah yang paling seimbang di antara ketiga wilayah tersebut. Akhirnya, beberapa diskusi dan prospek tentang perkembangan masa depan delta sungai Yangtze disampaikan dalam makalah ini. Kata Kunci. Delta sungai Yangtze, kereta api berkecepatan tinggi, jaringan kota.Kata Kunci. Delta sungai Yangtze, kereta api berkecepatan tinggi, jaringan kota. 
Urban Innovation System and the Role of an Open Web-based Platform: The Case of Amsterdam Smart City Zulfikar Dinar Wahidayat Putra; Wim GM van der Knaap
Journal of Regional and City Planning Vol. 29 No. 3 (2018)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jrcp.2018.29.3.4

Abstract

This study discusses an urban innovation system and the role of digital technology using the Amsterdam Smart City as a case. Based on semi-structured interviews and document analysis, this study reveals that Amsterdam Smart City can be considered an example of a new type of urban innovation system. There are nine actor categories involved with either a one-sided or a bi-directional relationship between them in this innovation system. The actors dynamically interact with each other in different innovation phases based on their interests and resources. Besides, the use of an open web-based platform to connect actors and to exchange information in the innovation system makes the information distributed fairly and transparently among actors. Additionally, more actors can be reached to join the innovation system. There is also no geographical limitation between actors to collaborate and innovate on a specific idea. Therefore, dynamic interactions between actors that are facilitated by an open web-based platform can be a new way of developing an innovation system in urban areas.Keywords. Urban innovation system, smart city, digital technology.Abstrak. Studi ini membahas sistem inovasi perkotaan dan peran teknologi digital, dengan menggunakan Amsterdam Smart City sebagai sebuah kasus. Berdasarkan wawancara semi-terstruktur dan analisis dokumen, penelitian ini mengungkapkan bahwa Amsterdam Smart City dapat dianggap sebagai contoh bentuk baru dari sistem inovasi perkotaan. Ada sembilan kategori aktor yang terlibat dengan hubungan satu-sisi atau dua arah di antara mereka dalam sistem inovasi ini. Para aktor secara dinamis berinteraksi satu sama lain dalam fase inovasi yang berbeda berdasarkan pada minat dan sumber daya mereka. Selain itu, penggunaan platform berbasis web terbuka untuk menghubungkan aktor-aktor dan untuk bertukar informasi dalam sistem inovasi membuat informasi didistribusikan secara adil dan transparan di antara para aktor. Di samping itu, semakin banyak jumlah aktor yang dapat bergabung dengan sistem inovasi ini. Tidak ada batasan geografis di antara para aktor untuk berkolaborasi dan berinovasi pada ide tertentu. Oleh karena itu, interaksi yang dinamis antara para aktor yang difasilitasi oleh platform berbasis web terbuka dapat menjadi cara baru untuk mengembangkan sistem inovasi di wilayah perkotaan.Kata Kunci. Sistem inovasi perkotaan, kota pintar, teknologi digital.

Page 92 of 102 | Total Record : 1011


Filter by Year

1990 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 36 No. 1 (2025) Vol. 35 No. 2 (2024) Vol. 35 No. 1 (2024) Vol. 34 No. 3 (2023) Vol. 34 No. 2 (2023) Vol. 34 No. 1 (2023) Vol. 33 No. 3 (2022) Vol. 33 No. 2 (2022) Vol. 33 No. 1 (2022) Vol. 32 No. 3 (2021) Vol. 32 No. 2 (2021) Vol. 32 No. 1 (2021) Vol. 31 No. 3 (2020) Vol. 31 No. 2 (2020) Vol. 31 No. 1 (2020) Vol 31, No 1 (2020) Vol 30, No 3 (2019) Vol. 30 No. 3 (2019) Vol. 30 No. 2 (2019) Vol 30, No 2 (2019) Vol. 30 No. 1 (2019) Vol 30, No 1 (2019) Vol. 29 No. 3 (2018) Vol 29, No 3 (2018) Vol 29, No 2 (2018) Vol. 29 No. 2 (2018) Vol. 29 No. 1 (2018) Vol 29, No 1 (2018) Vol 28, No 3 (2017) Vol. 28 No. 3 (2017) Vol 28, No 2 (2017) Vol. 28 No. 2 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol. 28 No. 1 (2017) Vol 27, No 3 (2016) Vol. 27 No. 3 (2016) Vol 27, No 2 (2016) Vol. 27 No. 2 (2016) Vol. 27 No. 1 (2016) Vol 27, No 1 (2016) Vol. 26 No. 3 (2015) Vol 26, No 3 (2015) Vol. 26 No. 2 (2015) Vol 26, No 2 (2015) Vol. 26 No. 1 (2015) Vol 26, No 1 (2015) Vol 25, No 3 (2014) Vol. 25 No. 3 (2014) Vol 25, No 2 (2014) Vol. 25 No. 2 (2014) Vol 25, No 1 (2014) Vol. 25 No. 1 (2014) Vol. 24 No. 3 (2013) Vol 24, No 3 (2013) Vol. 24 No. 2 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol. 24 No. 1 (2013) Vol 24, No 1 (2013) Vol 23, No 3 (2012) Vol. 23 No. 3 (2012) Vol 23, No 3 (2012) Vol 23, No 2 (2012) Vol. 23 No. 2 (2012) Vol 23, No 1 (2012) Vol. 23 No. 1 (2012) Vol. 22 No. 3 (2011) Vol 22, No 3 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol. 22 No. 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol. 22 No. 1 (2011) Vol 22, No 1 (2011) Vol. 21 No. 3 (2010) Vol 21, No 3 (2010) Vol. 21 No. 2 (2010) Vol 21, No 2 (2010) Vol. 21 No. 1 (2010) Vol 21, No 1 (2010) Vol 20, No 3 (2009) Vol. 20 No. 3 (2009) Vol 20, No 3 (2009) Vol 20, No 2 (2009) Vol. 20 No. 2 (2009) Vol 20, No 1 (2009) Vol. 20 No. 1 (2009) Vol. 19 No. 3 (2008) Vol 19, No 3 (2008) Vol 19, No 2 (2008) Vol. 19 No. 2 (2008) Vol 19, No 1 (2008) Vol. 19 No. 1 (2008) Vol 18, No 3 (2007) Vol. 18 No. 3 (2007) Vol. 18 No. 2 (2007) Vol 18, No 2 (2007) Vol 18, No 1 (2007) Vol. 18 No. 1 (2007) Vol 17, No 3 (2006) Vol. 17 No. 3 (2006) Vol 17, No 2 (2006) Vol. 17 No. 2 (2006) Vol 17, No 1 (2006) Vol. 17 No. 1 (2006) Vol. 16 No. 3 (2005) Vol 16, No 3 (2005) Vol. 16 No. 2 (2005) Vol 16, No 2 (2005) Vol. 16 No. 1 (2005) Vol 16, No 1 (2005) Vol 15, No 3 (2004) Vol. 15 No. 3 (2004) Vol 15, No 2 (2004) Vol. 15 No. 2 (2004) Vol. 15 No. 1 (2004) Vol 15, No 1 (2004) Vol 14, No 3 (2003) Vol. 14 No. 3 (2003) Vol. 14 No. 2 (2003) Vol 14, No 2 (2003) Vol 12, No 4 (2001) Vol. 12 No. 4 (2001) Vol. 12 No. 3 (2001) Vol 12, No 3 (2001) Vol 12, No 1 (2001) Vol. 12 No. 1 (2001) Vol 11, No 3 (2000) Vol. 11 No. 3 (2000) Vol 11, No 2 (2000) Vol. 11 No. 2 (2000) Vol 10, No 3 (1999) Vol. 10 No. 3 (1999) Vol 10, No 1 (1999) Vol. 10 No. 1 (1999) Vol. 9 No. 2 (1998) Vol 9, No 2 (1998) Vol. 8 No. 3 (1997) Vol 8, No 3 (1997) Vol 8, No 1 (1997) Vol. 8 No. 1 (1997) Vol 7, No 22 (1996) Vol. 7 No. 22 (1996) Vol. 7 No. 21 (1996) Vol 7, No 21 (1996) Vol 7, No 20 (1996) Vol. 7 No. 20 (1996) Vol 6, No 19 (1995) Vol. 6 No. 19 (1995) Vol 6, No 18 (1995) Vol. 6 No. 18 (1995) Vol. 6 No. 17 (1995) Vol 6, No 17 (1995) Vol. 5 No. 16 (1994) Vol 5, No 16 (1994) Vol 5, No 16a (1994): Edisi Khusus Vol 5, No 16 (1994) Vol. 5 No. 16a (1994): Edisi Khusus Vol 5, No 11 (1994) Vol. 5 No. 11 (1994) Vol 4, No 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol. 4 No. 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol 4, No 9 (1993) Vol. 4 No. 9 (1993) Vol 4, No 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol. 4 No. 8 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol 4, No 7 (1993) Vol. 4 No. 7 (1993) Vol. 3 No. 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4 (1992) Vol. 3 No. 4 (1992) Vol. 3 No. 3 (1992) Vol 3, No 3 (1992) Vol 2, No 1 (1991) Vol 2, No 1 (1991) Vol. 2 No. 1 (1991) Vol. 1 No. 1 (1990): Perkenalan Vol 1, No 1 (1990): Perkenalan More Issue