cover
Contact Name
Fikri Zul Fahmi
Contact Email
jrcp@itb.ac.id
Phone
+6222-86010050
Journal Mail Official
jrcp@itb.ac.id
Editorial Address
The Institute for Research and Community Services (LPPM), Center for Research and Community Services (CRCS) Building, 6th Floor, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia,
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Regional and City Planning
ISSN : 25026429     EISSN : 25026429     DOI : https://doi.org/10.5614/jpwk
Journal of Regional and City Planning or JRCP is an open access journal mainly focusing on urban and regional studies and planning in transitional, developing and emerging economies. JRCP covers topics related to the analysis, sciences, development, intervention, and design of communities, cities, and regions including their physical, spatial, technological, economic, social and political environments. The journal is committed to create a multidisciplinary forum in the field by seeking original paper submissions from planners, architects, geographers, economists, sociologists, humanists, political scientists, environmentalists, engineers and other who are interested in the history, transformation and future of cities and regions in transitional, developing and emerging economies.
Articles 1,011 Documents
Applying the Urban Political Ecology (UPE) Framework to Re-Visit Disaster and Climate Change Vulnerability-Risk Assessments M. Bobby Rahman; Isye Susana Nurhasanah; Erwin Nugraha; Tetty Harahap
Journal of Regional and City Planning Vol. 30 No. 3 (2019)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.3.4

Abstract

Abstract. Vulnerability and risk assessment (VRA) is increasingly becoming more popular as a tool to assess and evaluate the likelihood and externalities that are faced by urban areas because of environmental hazards and climate change. However, urban dynamics are increasingly putting communities in a vulnerable/riskier situation, calling for a more comprehensive and inter-disciplinary approach. Urban Political Ecology (UPE) was utilized as a framework to reflect upon the empirical findings and literature review with two urban villages (kelurahan) in Bandar Lampung, Indonesia"”Kangkung and Kota Karang"”as case studies. We argue that the existing VRA is not adequate to address fundamental issues of environmental hazards and climate change. Different aspects, such as the city's metabolism of human-nature interaction, contribute to producing vulnerability and need to be taken into account. This research also recommends that future urban disaster governance should incorporate the production and alteration of (social) vulnerability by considering spatial and temporal dimensions in disaster risk reduction and climate change adaptation.Abstrak. Penilaian kerentanan dan risiko (VRA) semakin populer sebagai alat untuk menilai dan mengevaluasi kemungkinan dan eksternalitas yang dihadapi oleh daerah perkotaan karena bahaya lingkungan dan perubahan iklim. Namun, dinamika perkotaan dari waktu ke waktu menempatkan masyarakat dalam situasi yang rentan/berisiko, sehingga menyerukan pendekatan yang lebih komprehensif dan antar-disiplin. Kami memobilisasi Ekologi Politik Perkotaan (PDU) digunakan sebagai kerangka kerja untuk merefleksikan temuan empiris dan tinjauan literatur melalui dua desa perkotaan (kelurahan) di Bandar Lampung, Indonesia"”Kangkung dan Kota Karang"”sebagai studi kasus. Kami berpendapat bahwa penilaian kerentanan dan risiko yang saat ini ada tidak memadai untuk menangani masalah-masalah inti dari bahaya-bahaya lingkungan dan perubahan iklim. Aspek-aspek yang berbeda, seperti metabolisme kota dari interaksi manusia-alam, berkontribusi untuk menghasilkan kerentanan, yang perlu diperhitungkan juga. Penelitian ini juga merekomendasikan bahwa tata kelola bencana perkotaan masa depan harus memasukan bagaimana produksi dan perubahan  kerentanan (sosial) dengan mempertimbangkan dimensi spasial dan temporal dalam pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim.Kata kunci. Ekologi politik perkotaan, bencana, perubahan iklim, penilaian kerentanan dan risiko, Bandar Lampung.
The Emergence of International Urban Planning and Design Firms in China from an OLI Perspective Hyung Min Kim; Anthony Kent
Journal of Regional and City Planning Vol. 30 No. 2 (2019)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.2.3

Abstract

There has been high demand for planning and design services at various scales in Chinese cities. International urban planning and design (UPD) firms have taken some of these opportunities. Despite the direct relevance of UPD industries for urbanisation and the important role of international UPD firms, little attention has been paid to their spatial and operational strategies. What are the drivers for international UPD firms appearing in China? What role have they played in China's urbanisation? This research analysed the overall trend of international UPD firms operating in China based on an extensive survey and in-depth interviews with a number of these firms. The findings suggest that the emergence of international UPD firms is largely attributable to planning system reform and internal and global forces that can be understood by the advantages that comprise the OLI framework (ownership-, location-, and internalisation-specific advantages). Ownership-specific advantages such as high-quality urban planning and design skills are the most important element for these firms, contributing to globalised urbanisation. A high locational concentration of the international UPD firms has been observed in the largest Chinese cities, i.e. Shanghai and Beijing. The establishment of international UPD offices is not limited to single Chinese cities but is spreading as further opportunities are sought in and beyond China.Abstrak. Ada permintaan tinggi untuk layanan perencanaan dan desain di berbagai skala di kota-kota Cina. Perusahaan Perencanaan dan Perancangan Kota (PPK) Internasional telah menangkap beberapa peluang ini. Terlepas dari relevansi langsung industri-industri PPK dengan urbanisasi dan peran signifikan perusahaan-perusahaan PPK internasional, sedikit perhatian diberikan pada strategi spasial dan operasional mereka. Apakah yang mendorong kemunculan PPK internasional di Cina? Peran apa yang telah mereka mainkan dalam urbanisasi Tiongkok? Penelitian ini menganalisis tren keseluruhan perusahaan PPK internasional yang beroperasi di Cina dengan survei ekstensif dan studi kasus melalui wawancara mendalam dengan perusahaan. Temuannya menunjukkan bahwa munculnya perusahaan-perusahaan PPK internasional sebagian besar disebabkan oleh perencanaan reformasi sistem dan kekuatan internal dan global yang dapat dipahami dengan menggunakan kerangka kerja OLI  (kepemilikan-, lokasi-, dan keuntungan internalisasi khusus). Keuntungan khusus kepemilikan seperti perencanaan kota dan keterampilan desain berkualitas tinggi adalah unsur yang paling penting bagi perusahaan-perusahaan ini yang berkontribusi terhadap urbanisasi global. Konsentrasi lokasi perusahaan-perusahaan PPK internasional yang tinggi telah diamati di kota-kota Cina terbesar seperti Shanghai dan Beijing. Pembentukan kantor-kantor PPK internasional tidak terbatas pada satu kota di Cina tetapi menyebar ketika peluang lebih lanjut dicari di dalam dan luar Cina.Kata Kunci. Perusahaan perencanaan dan perancangan kota, urbanisasi global, penanaman modal asing, layanan produsen, cina, paradigma OLI.
Place, Space and Identity Through Greening in Kampung Kota Bagas Dwipantara Putra; Ralph Horne; Joe Hurley
Journal of Regional and City Planning Vol. 30 No. 3 (2019)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.3.3

Abstract

As an integral part of the urban landscape in Indonesian cities, kampung kota (urban villages) provide shelter for many marginalised urban dwellers. The presence of green open space in kampung kota has multiple meanings, one of which is the significance it has for the socio-cultural identity of the inhabitants. This article explores the meaning of green open space for kampung dwellers and how it fits in the dynamics of space creation in kampung kota. The methodology employed in this research was a qualitative approach, which was applied in two case studies of separate communities in South Jakarta to understand the meaning of space from their perspective. Based on the findings, green open space plays a significant role in building a community's identity through shared memories and communally agreed images of the neighbourhood, thus confirming the importance of the community in place-making processes in kampung kota.Abstrak. Sebagai bagian integral dari lanskap perkotaan di kota-kota Indonesia, kampung kota (desa kota) menyediakan tempat berteduh bagi banyak penduduk kota yang terpinggirkan. Kehadiran ruang terbuka hijau di kampung kota memiliki banyak makna, salah satunya adalah signifikansinya bagi identitas sosial-budaya penduduk. Artikel ini mengeksplorasi makna ruang terbuka hijau bagi penghuni kampung dan bagaimana ruang itu sesuai dengan dinamika penciptaan ruang di kampung kota. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yang diterapkan dalam dua studi kasus komunitas terpisah di Jakarta Selatan untuk memahami makna ruang dari perspektif mereka. Berdasarkan temuan tersebut, ruang terbuka hijau memainkan peran penting dalam membangun identitas komunitas melalui ingatan bersama dan gambar yang disepakati bersama tentang lingkungan, sehingga menegaskan pentingnya masyarakat dalam proses pembuatan tempat di kampung kota.Kata kunci. Identitas, kampung kota, komunitas, pembuatan tempat.
A Study of the Effects of Lifestyle Changes on Urban Trip Generation with an Approach to Futures Studies: A Case Study of Tehran Region 6 Marzieh Rastad Borujeni; Seyedeh-Samira Shafiee-Masuleh; Seyed Reza Shafiee Masouleh
Journal of Regional and City Planning Vol. 30 No. 3 (2019)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.3.1

Abstract

This research is a descriptive analytical study. The goal was to identify the key factors that affect lifestyle changes and urban trip generation. To achieve this goal, we used two components (pattern, value), 20 criteria (social, economic, cultural, psychological, political, etc.), and 56 variables. For data analysis, the Delphi method, cross-impact analysis and MICMAC were used. The results showed that 25 factors were key factors affecting urban lifestyle changes and urban trip generation. These factors, in order of priority, were: increasing income level of people; more welcoming to urban residents from well-kept homes and high-quality residential neighborhoods; changing role of streets for a new type of recreational trips apart from serving traffic;increasing number of young and adolescents in the region; increasing daily, monthly, seasonal and annual purchases from large retail stores and luxury shopping malls away from downtown; increasing residency of people in new and high-quality urban areas away from the central areas of the city; increasing rate of apartment living and people's preference to stay in apartments rather than single-family houses; increasing number of single people; increasing non work-related trips, etc. Moreover, the results showed that changes in patterns lead to changes in values and, ultimately, lifestyle changes and increased urban trip generation.Abstrak. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi perubahan gaya hidup dan generasi perjalanan perkotaan. Untuk mencapai tujuan ini, kami menggunakan dua komponen (pola, nilai), 20 kriteria (sosial, ekonomi, budaya, psikologis, politik, dan lain-lain), dan 56 variabel. Untuk analisis data, digunakan metode Delphi, analisis dampak silang dan MICMAC. Hasil penelitian menunjukkan ada 25 faktor yang merupakan faktor kunci yang mempengaruhi perubahan gaya hidup perkotaan dan generasi perjalanan perkotaan. Faktor-faktor ini, dalam urutan prioritas, adalah: peningkatan tingkat pendapatan masyarakat, peningkatan sambutan penduduk kota yang berasal dari rumah yang terawat baik dan lingkungan perumahan yang berkualitas tinggi, perubahan peran jalan untuk perjalanan rekreasi jenis baru selain melayani lalu lintas, perluasan kelompok usia muda (kenaikan jumlah kaum muda dan remaja) di wilayah tersebut, peningkatan belanja harian, bulanan, musiman dan tahunan dari toko ritel besar dan pusat perbelanjaan mewah yang jauh dari pusat kota, peningkatan jumlah penduduk di daerah perkotaan baru dan berkualitas tinggi yang jauh dari pusat kota, kenaikan tingkat kehidupan di apartemen dan preferensi orang untuk tinggal di apartemen daripada di rumah keluarga tunggal, penambahan jumlah orang lajang, kenaikan perjalanan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu, hasil menunjukkan bahwa perubahan pola tersebut menyebabkan perubahan nilai dan, pada akhirnya, perubahan gaya hidup dan peningkatan generasi perjalanan perkotaan.Kata kunci. Gaya hidup, generasi perjalanan perkotaan, studi masa depan, metode Delphi.
Morphology of Residential Environment of Singengu Village in Mandailing Julu, North Sumatra Cut Nuraini
Journal of Regional and City Planning Vol. 30 No. 3 (2019)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.3.5

Abstract

This study aimed to determine the morphology of the residential environment of Singengu Village in Mandailing Julu between 1880 and 2019. This time frame was taken because primary data that available were refer to that range of years. This research is an interpretive historical research that narratively constructs the morphology of the residential environment in Singengu Village through four sources: archives, documents, evidence from the location, and explanations from interviewees/eyewitnesses. The result showed that the morphological component of Singengu Village's residential environment includes three main aspects, namely: land-use pattern, building layout, and the road network. The roads in Singengu Village's residential environment are quite unique because they were formed after the construction of the residential area and not vice versa. Aspects of the land use and urban design patterns have a typical Mandailing character because they are consistent with the local concept of bincar-bonom.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan morfologi lingkungan perumahan di Desa Singengu di Mandailing Julu antara tahun 1880 dan 2019. Kerangka waktu ini diambil karena data primer yang tersedia merujuk pada rentang tahun tersebut. Penelitian ini adalah penelitian sejarah interpretatif yang secara naratif membangun morfologi lingkungan perumahan di Desa Singengu melalui empat sumber: arsip, dokumen, bukti dari lokasi, dan penjelasan dari narasumber/saksi mata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen morfologis lingkungan perumahan Desa Singengu meliputi tiga aspek utama, yaitu: pola penggunaan lahan, tata letak bangunan, dan jaringan jalan. Jalan-jalan di lingkungan perumahan Desa Singengu cukup unik karena terbentuk setelah pembangunan daerah perumahan dan bukan sebaliknya. Aspek penggunaan lahan dan pola desain perkotaan memiliki karakter Mandailing yang khas karena konsisten dengan konsep lokal bincar-bonom.Kata kunci. Morfologi, lingkungan perumahan, penggunaan lahan, tata letak bangunan, bincar-bonom.
The Correlational Relationship between Residential Satisfaction, Place Attachment, and Intention to Move: A Preliminary Study in Belawan, Medan Amelia Tri Widya; Hanson Endra Kusuma; Rizal Arifin Lubis
Journal of Regional and City Planning Vol. 30 No. 3 (2019)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2019.30.3.2

Abstract

Intention to move is an attitude affected by dissatisfaction toward one's residence. However, there is no clear correlation between the mediating variable of residential satisfaction and intention to move. The bond or attachment towards a place is one of the factors that cause a person's attitude or behavior. Regarding such a case, this study aimed to find out the correlational relationship between the level of satisfaction and place attachment to the attitude of intention to move. By using a mixed-method approach, this study examined the assessment of physical and non-physical aspects of satisfaction and place attachment dimensions. The research was conducted in Medan Belawan District, Medan City in a slum area that is part of a suburb of Medan. Questionnaires were distributed both directly in the field and online. The collected data were analyzed by principal component analysis and multivariate correlation analysis to seek the relationship between latent variables. The results showed that functional and cognitive attachment are the main predictors of mismatch and opportunities elsewhere.Abstrak. Keinginan pindah merupakan sikap yang dipengaruhi oleh ketidakpuasan seseorang terhadap tempat tinggal. Namun, belum ada korelasi yang jelas antara variabel mediasi kepuasan bermukim dan keinginan pindah. Ikatan atau keterikatan terhadap suatu tempat berperan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi sikap atau perilaku seseorang. Sehubung dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan korelasional antara tingkat kepuasan dan keterikatan tempat dengan sikap keinginan untuk pindah. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran, penelitian ini menguji penilaian aspek fisik dan non-fisik dari kepuasan bermukim dan dimensi keterikatan tempat. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan yang merupakan daerah kumuh pinggiran kota. Kuesioner didistribusikan secara langsung di lapangan maupun online. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan analisis komponen utama dan analisis korelasi multivariat untuk mencari hubungan antara variabel laten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterikatan fungsional dan kognitif merupakan prediktor utama ketidakbetahan dan peluang pindah.Kata kunci. Keterikatan kognitif, keterikatan fungsional, keinginan untuk pindah, kepuasan bermukim.
Rethinking Slum Planning: A Comparative Study of Slum Upgrading Projects Istifada Alhidayatus Sibyan
Journal of Regional and City Planning Vol. 31 No. 1 (2020)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.1.1

Abstract

The stigma slums have of being an urban problem is influenced by theoretical and empirical knowledge. This article reports a comparative study on the failure and success of slum upgrading projects in the Gecekondu slum area in Ankara, Turkey and the Semanggi slum area in Surakarta, Indonesia. In both cases there were different orientations and approaches in planning influenced by the perspective on slums. Related to the result of the study, this article offers at least three key perspectives to understand slums in the context of urban planning. Slum upgrading projects are not always about space formalization, physical improvement, or economic enhancement. Slum upgrading projects are also about community empowerment and social transformation contributing to urban development. The success of a slum upgrading project depends on the approach and perspective toward these urban issues within the local context. Different methods and focuses could result in different outcomes of the project. As such, those differences should be taken into account in the planning process.Abstrak. Stigma permukiman kumuh sebagai masalah perkotaan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan yang bersumber dari teori dan pengetahuan empiris. Artikel ini adalah studi komparatif yang mencoba menggambarkan kegagalan dan keberhasilan proyek peningkatan permukiman kumuh dalam kasus daerah kumuh Gecekondu di Ankara, Turki dan daerah kumuh Semanggi di Surakarta, Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa ada berbagai orientasi dan pendekatan dalam perencanaan. Perbedaan-perbedaan ini dipengaruhi oleh perspektif terhadap kumuh dalam perencanaan. Terkait dengan hasilnya, artikel ini menawarkan setidaknya tiga perspektif kunci untuk memahami daerah kumuh dalam konteks perencanaan kota. Proyek peningkatan permukiman kumuh tidak selalu tentang formalisasi ruang, peningkatan fisik atau peningkatan ekonomi. Selain itu, proyek perbaikan permukiman kumuh adalah tentang pemberdayaan masyarakat dan transformasi sosial yang berkontribusi terhadap pembangunan perkotaan. Keberhasilan proyek peningkatan permukiman kumuh tergantung pada pendekatan dan perspektif konteks lokal terhadap masalah perkotaan ini. Berbagai metode dan fokus dapat menghasilkan berbagai hasil proyek. Dengan demikian, perbedaan-perbedaan tersebut harus diperhitungkan dalam proses perencanaan.Kata kunci. Perspektif, perencanaan, pendekatan perencanaan, orientasi perencanaan, daerah kumuh.
Local Papuan Migrants: Wamena Migrants in an Urban City of Jayapura, Papua-Indonesia Marthen Timisela; Daniel D Kameo; Neil S Rupidara; Roberth Siahainenia
Journal of Regional and City Planning Vol. 31 No. 1 (2020)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.1.3

Abstract

This study aimed to understand the role of local migrants in urban economic development. A qualitative case study approach was used to examine the characteristics and role of the social capital of migrants from Wamena in Jayapura, Indonesia. The data used in this study were collected through in-depth interviews and field observation as well as statistical data from the Central Statistics Agency of Jayapura. The results indicate that the social capital of migrants reconstructed cultural values through an intensification of multi-ethnic relations within the domestic economic system of urban areas. Wamena migrants contributed to the economic growth in urban areas because of the correlation between norms, beliefs and social networking as forms of local wisdom. Local wisdom was able to strengthen the internal and external social relations of the Wamena migrant community in various economic activities as coping and survival strategies. Specifically, the findings of this study offer an additional view to the conceptual framework of sustainable livelihoods from Robert Chambers and Gordon Conway (1991), namely that local wisdom integrated with forms of social capital can be utilized to create sustainable livelihoods. Thus, this study shows that the local migrants from Wamena have formed a community-based economic system integrated with local wisdom to maintain a livelihood in urban areas, in this case Jayapura, Indonesia.Abstrak. Artikel ini bertujuan untuk memahami peran migran lokal dalam pembangunan ekonomi perkotaan. Pendekatan studi kasus kualitatif digunakan untuk memeriksa karakteristik dan peran modal sosial migran dari Wamena di Jayapura, Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan serta data statistik dari Badan Pusat Statistik Jayapura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial yang dibentuk telah merekonstruksi nilai-nilai budaya yang konservatif ke liberal, melalui intensifikasi hubungan multi-etnis yang terintegrasi dalam sistem ekonomi domestik di daerah perkotaan. Migran Wamena memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi di perkotaan karena korelasi antara norma, kepercayaan, dan jejaring sosial sebagai bentuk kearifan lokal. Kearifan lokal mampu memperkuat hubungan sosial internal dan eksternal komunitas migran Wamena dalam berbagai kegiatan ekonomi sebagai strategi koping dan bertahan hidup. Secara khusus, temuan ini menawarkan ide baru dalam kerangka konseptual pendekatan penghidupan berkelanjutan oleh Robert Chambers dan Gordon Conway pada tahun 1991, bahwa kearifan lokal yang diintegrasikan dengan bentuk modal sosial dapat digunakan untuk mempertahankan strategi penghidupan. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa para migran lokal dari Wamena telah membentuk sistem ekonomi berbasis masyarakat yang terintegrasi dengan kearifan lokal untuk mempertahankan mata pencaharian di daerah perkotaan, yang dalam hal ini adalah Jayapura, Indonesia.Kata kunci. Migran lokal, ekonomi perkotaan, pengetahuan lokal, modal sosial.
The Quality of Neighbourhood Facilities and Their Effect on Social Trust in Salak Selatan New Village, Kuala Lumpur Norhaslina Hassan; Tricia Su Ying Lim
Journal of Regional and City Planning Vol. 31 No. 3 (2020)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.3.3

Abstract

This study investigated neighbourhood amenities as socio-spatial settings within which relationships of trust are built through the passage of daily activities. It examined the effect of satisfaction towards neighbourhood facilities on social trust in one of Malaysia's urban villages: Salak South New Village in Kuala Lumpur. Data from 335 survey respondents were analysed using the MANOVA method to determine the influence of neighbourhood facilities satisfaction on social trust. To achieve the aim of this study, five independent variables (IVs) of satisfaction with provided selected neighbourhood facilities were considered: basic utilities, commercial facilities, health facilities, police service and public transport, while two dependent variables (DV) of communal trust and leadership trust were identified that constitute social trust. The findings reveal that satisfaction towards neighbourhood facilities significantly influenced social trust among the respondents. Multivariate analysis showed commercial facilities as the most influential in determining social trust, followed by public transport, health facilities, basic utilities, and finally police service. Therefore, improving neighbourhood facilities and amenities will enhance the satisfaction of residents and accordingly increase social trust. In other words, unmaintained and underdeveloped facilities lessen social trust in a community via resident dissatisfaction. This necessitates engagement of stakeholders including urban planners, local authorities and the residents themselves in the planning process and village development to ensure that the residents will be satisfied with changes for better neighbourhood facilities and social trust is sustained.Abstrak. Makalah ini mempelajari keberadaan fasilitas lingkungan dalam konteks sosio-spasial yang menjadi tempat terbangunnya hubungan kepercayaan melalui perjalanan aktivitas sehari-hari. Makalah ini menguji pengaruh kepuasan terhadap fasilitas lingkungan pada kepercayaan sosial di salah satu desa perkotaan Malaysia - Desa Baru Selatan Salak, di Kuala Lumpur. Data dari 335 responden dianalisis menggunakan metode MANOVA untuk menjelaskan pengaruh kepuasan fasilitas lingkungan terhadap kepercayaan sosial. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, ditentukan lima variabel independen (IV) yang dapat mewakili kepuasan terhadap penyediaan fasilitas lingkungan yang dipilih: utilitas dasar, fasilitas komersial, fasilitas kesehatan, layanan polisi dan angkutan umum; sedangkan dua variabel dependen (DV):Kepercayaan komunal dan kepercayaan kepemimpinan diidetifikasi sebagai yang merupakankepercayaan sosial Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kepuasan terhadap fasilitas lingkungan berpengaruh secara signifikan terhadap kepercayaan sosial di kalangan responden. Analisis multivariat menunjukkan fasilitas komersial sebagai yang paling berpengaruh dalam menentukan kepercayaan sosial; diikuti oleh angkutan umum, fasilitas kesehatan, utilitas dasar, dan terakhir layanan polisi. Oleh karena itu, peningkatan fasilitas dan amenitas lingkungan akan meningkatkan kepuasan penghuni dan karenanya meningkatkan kepercayaan sosial. Dengan kata lain, fasilitas yang tidak terawat dan terbelakang mengurangi kepercayaan sosial dalam masyarakat melalui ketidakpuasan warga. Hal ini membutuhkan keterlibatan pemangku kepentingan termasuk perencana kota, pemerintah daerah dan warga sendiri dalam proses perencanaan dan pembangunan desa untuk memastikan bahwa penduduk desa puas dengan perubahan untuk fasilitas lingkungan yang lebih baik dan kepercayaan sosial dipertahankan.Kata kunci. Kepercayaan sosial, Kepuasan fasilitas, Kelurahan, Ruang lingkungan, Kuala Lumpur.
Urban Planning Organization and Development of Children’s Medical Institutions in Ukraine Irina Bulakh
Journal of Regional and City Planning Vol. 31 No. 1 (2020)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.1.6

Abstract

The urban planning organization and development of children’s medical institutions in Ukraine are considered in this article based on an analysis of the current state of its largest cities, metropolises. Existing problems are outlined, which are primarily related to the excessive number and specialization of medical facilities (compared to European indicators), duplication within the same territory and physical obsolescence of buildings and equipment for medical purposes. This paper contributes to reviewing the transition of planning approaches as well as proposing a fresh approach to the forming of an urban layout of children’s healthcare institutions that is designed to replace the traditional territorial-administrative approach. Abstrak. Artikel ini meninjau lembaga perencanaan kota dan pengembangan institusi medis anak-anak di Ukraina dengan fokus pada analisis kondisi eksisting di kota-kota terbesar, metropolis. Masalah yang ada diuraikan, terutama terkait dengan jumlah yang berlebihan dan spesialisasi fasilitas medis (dibandingkan dengan indikator Eropa), duplikasi dalam wilayah yang sama, keusangan fisik bangunan dan peralatan medis. Makalah ini berkontribusi untuk meninjau transisi pendekatan perencanaan serta mengusulkan pendekatan baru untuk pembentukan tata ruang perkotaan dari institusi kesehatan anak-anak, yang dirancang untuk menggantikan pendekatan tradisional teritorial-administratif. Kata kunci. sistem perencanaan kota dari institusi perawatan kesehatan; lembaga medis anak-anak; Rumah Sakit; klinik rawat jalan.

Page 94 of 102 | Total Record : 1011


Filter by Year

1990 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 36 No. 1 (2025) Vol. 35 No. 2 (2024) Vol. 35 No. 1 (2024) Vol. 34 No. 3 (2023) Vol. 34 No. 2 (2023) Vol. 34 No. 1 (2023) Vol. 33 No. 3 (2022) Vol. 33 No. 2 (2022) Vol. 33 No. 1 (2022) Vol. 32 No. 3 (2021) Vol. 32 No. 2 (2021) Vol. 32 No. 1 (2021) Vol. 31 No. 3 (2020) Vol. 31 No. 2 (2020) Vol. 31 No. 1 (2020) Vol 31, No 1 (2020) Vol 30, No 3 (2019) Vol. 30 No. 3 (2019) Vol. 30 No. 2 (2019) Vol 30, No 2 (2019) Vol 30, No 1 (2019) Vol. 30 No. 1 (2019) Vol. 29 No. 3 (2018) Vol 29, No 3 (2018) Vol 29, No 2 (2018) Vol. 29 No. 2 (2018) Vol. 29 No. 1 (2018) Vol 29, No 1 (2018) Vol 28, No 3 (2017) Vol. 28 No. 3 (2017) Vol 28, No 2 (2017) Vol. 28 No. 2 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol. 28 No. 1 (2017) Vol 27, No 3 (2016) Vol. 27 No. 3 (2016) Vol 27, No 2 (2016) Vol. 27 No. 2 (2016) Vol. 27 No. 1 (2016) Vol 27, No 1 (2016) Vol. 26 No. 3 (2015) Vol 26, No 3 (2015) Vol 26, No 2 (2015) Vol. 26 No. 2 (2015) Vol. 26 No. 1 (2015) Vol 26, No 1 (2015) Vol 25, No 3 (2014) Vol. 25 No. 3 (2014) Vol 25, No 2 (2014) Vol. 25 No. 2 (2014) Vol. 25 No. 1 (2014) Vol 25, No 1 (2014) Vol 24, No 3 (2013) Vol. 24 No. 3 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol. 24 No. 2 (2013) Vol. 24 No. 1 (2013) Vol 24, No 1 (2013) Vol 23, No 3 (2012) Vol. 23 No. 3 (2012) Vol 23, No 3 (2012) Vol 23, No 2 (2012) Vol. 23 No. 2 (2012) Vol 23, No 1 (2012) Vol. 23 No. 1 (2012) Vol. 22 No. 3 (2011) Vol 22, No 3 (2011) Vol. 22 No. 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol 22, No 1 (2011) Vol. 22 No. 1 (2011) Vol. 21 No. 3 (2010) Vol 21, No 3 (2010) Vol. 21 No. 2 (2010) Vol 21, No 2 (2010) Vol 21, No 1 (2010) Vol. 21 No. 1 (2010) Vol. 20 No. 3 (2009) Vol 20, No 3 (2009) Vol 20, No 3 (2009) Vol 20, No 2 (2009) Vol. 20 No. 2 (2009) Vol 20, No 1 (2009) Vol. 20 No. 1 (2009) Vol 19, No 3 (2008) Vol. 19 No. 3 (2008) Vol. 19 No. 2 (2008) Vol 19, No 2 (2008) Vol. 19 No. 1 (2008) Vol 19, No 1 (2008) Vol 18, No 3 (2007) Vol. 18 No. 3 (2007) Vol. 18 No. 2 (2007) Vol 18, No 2 (2007) Vol 18, No 1 (2007) Vol. 18 No. 1 (2007) Vol 17, No 3 (2006) Vol. 17 No. 3 (2006) Vol. 17 No. 2 (2006) Vol 17, No 2 (2006) Vol. 17 No. 1 (2006) Vol 17, No 1 (2006) Vol. 16 No. 3 (2005) Vol 16, No 3 (2005) Vol 16, No 2 (2005) Vol. 16 No. 2 (2005) Vol. 16 No. 1 (2005) Vol 16, No 1 (2005) Vol 15, No 3 (2004) Vol. 15 No. 3 (2004) Vol 15, No 2 (2004) Vol. 15 No. 2 (2004) Vol. 15 No. 1 (2004) Vol 15, No 1 (2004) Vol. 14 No. 3 (2003) Vol 14, No 3 (2003) Vol. 14 No. 2 (2003) Vol 14, No 2 (2003) Vol. 12 No. 4 (2001) Vol 12, No 4 (2001) Vol 12, No 3 (2001) Vol. 12 No. 3 (2001) Vol. 12 No. 1 (2001) Vol 12, No 1 (2001) Vol. 11 No. 3 (2000) Vol 11, No 3 (2000) Vol. 11 No. 2 (2000) Vol 11, No 2 (2000) Vol. 10 No. 3 (1999) Vol 10, No 3 (1999) Vol 10, No 1 (1999) Vol. 10 No. 1 (1999) Vol. 9 No. 2 (1998) Vol 9, No 2 (1998) Vol 8, No 3 (1997) Vol. 8 No. 3 (1997) Vol. 8 No. 1 (1997) Vol 8, No 1 (1997) Vol 7, No 22 (1996) Vol. 7 No. 22 (1996) Vol. 7 No. 21 (1996) Vol 7, No 21 (1996) Vol. 7 No. 20 (1996) Vol 7, No 20 (1996) Vol 6, No 19 (1995) Vol. 6 No. 19 (1995) Vol. 6 No. 18 (1995) Vol 6, No 18 (1995) Vol. 6 No. 17 (1995) Vol 6, No 17 (1995) Vol 5, No 16 (1994) Vol 5, No 16a (1994): Edisi Khusus Vol 5, No 16 (1994) Vol. 5 No. 16a (1994): Edisi Khusus Vol. 5 No. 16 (1994) Vol 5, No 11 (1994) Vol. 5 No. 11 (1994) Vol. 4 No. 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol 4, No 9 (1993) Vol. 4 No. 9 (1993) Vol 4, No 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol. 4 No. 8 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol 4, No 7 (1993) Vol. 4 No. 7 (1993) Vol. 3 No. 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4 (1992) Vol. 3 No. 4 (1992) Vol 3, No 3 (1992) Vol. 3 No. 3 (1992) Vol 2, No 1 (1991) Vol 2, No 1 (1991) Vol. 2 No. 1 (1991) Vol. 1 No. 1 (1990): Perkenalan Vol 1, No 1 (1990): Perkenalan More Issue