cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19784279     EISSN : 25494082     DOI : 10.20473
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 30 No. 2 (2018): AGUSTUS" : 12 Documents clear
Sifilis Sekunder pada Pasien HIV: Laporan Kasus Dyatiara Devy Rahadiyanti; Damayanti Damayanti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.592 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.2.2018.178-184

Abstract

Latar Belakang: Sifilis merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh mikroorganisme Treponema pallidum. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat terjadi bersamaan dan saling mempengaruhi. Kasus: Pria, 33 tahun dengan keluhan bercak-bercak merah di badan, kedua tangan dan kaki sejak 1 bulan, tidak nyeri ataupun gatal. Awalnya bercak merah timbul di tangan kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Pasien memiliki riwayat luka di kelamin yang sembuh sendiri 3 bulan sebelumnya. Pemeriksaan fisik ditemukan makula eritematosa multipel batas jelas, diameter 0,5-1 cm, beberapa tertutup skuama tipis. Pasien telah didiagnosis HIV sejak 1 tahun yang lalu dan mendapatkan antiretroviral (ARV) secara rutin. Titer serologi Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) 1:128 dan Treponema pallidum Hemagglutination Assay (TPHA) 1:1280. Pasien diberikan terapi penisilin G 2,4 juta intramuskular dosis tunggal. Kasus ini menunjukkan adanya fluktuasi nilai tes serologis pada bulan keenam dan ke sembilan. Penatalaksanaan: Diagnosis sifilis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratoris. Terapi sifilis sekunder adalah benzathine penisilin G 2,4 juta unit intramuskular dosis tunggal. Diperlukan waktu lebih lama pada terapi pasien sifilis dengan HIV dan follow up tes serologis lebih lanjut masih dibutuhkan hingga 24 bulan. Simpulan: Hasil tes serologis nontreponemal (dapat tinggi, rendah, atau berfluktuasi) dapat ditemui pada pasien sifilis dengan HIV. Kesesuaian antara gambaran klinis, diagnosis, dan strategi manajemen pada pasien sifilis dengan HIV harus dikenali oleh seorang klinisi.
Profil Ekspresi p16ink4a dan Tipe Human papillomavirus (HPV) pada Pasien Kondilomata Akuminata Wanita Afria Arista; Dwi Murtiastutik; Trisniartami Setyaningrum; Gondo Mastutik
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.09 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.2.2018.138-144

Abstract

Latar Belakang: Kondilomata akuminata (KA) merupakan penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh Human papillomavirus (HPV) dengan gejala berupa pertumbuhan tunggal atau multipel pada daerah anogenital. HPV risiko tinggi mempunyai kemampuan untuk berkembang menjadi keganasan, sedangkan HPV risiko rendah sangat jarang menimbulkan keganasan. Pemeriksaan p16ink4a digunakan untuk mendeteksi HPV yang berpotensi kearah keganasan. Deteksi genotipe HPV dengan menggunakan PCR memiliki sensitivitas yang sangat tinggi. Tujuan: Mengevaluasi profil ekspresi p16INK4a  pada lesi KA pada wanita dengan infeksi HPV tipe risiko rendah, risiko tinggi, dan infeksi multipel HPV. Metode: Penelitian deskriptif, observasional, cross sectional dengan melakukan pemeriksaan p16INK4a  dan genotyping HPV dengan teknik PCR lesi KA pada wanita. Hasil: Satu pasien dengan HPV risiko rendah (HPV 6 dan 11) memiliki gambaran p16ink4a negatif,  4 pasien memiliki gambaran p16ink4a sporadis, dan 2 pasien memiliki gambaran p16ink4a fokal, 1 pasien dengan HPV 18 memiliki gambaran p16ink4a difus, 1 pasien dengan infeksi multipel HPV 6,81,82,89 memiliki gambaran p16ink4a fokal, 4 pasien dengan infeksi multipel HPV memiliki gambaran p16ink4a difus. Simpulan: Terdapat 5  pasien dengan gambaran  p16INK4a  yang difus.  p16ink4a yang difus menunjukkan bahwa pada pasien tersebut memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi keganasan.
Studi Retrospektif: Profil Penyakit Rosasea Ade Fernandes; Diah Mira Indramaya
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.365 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.2.2018.145-153

Abstract

Latar Belakang: Rosasea adalah penyakit inflamasi kulit kronis yang biasanya terdapat pada bagian tengah wajah, termasuk pipi, hidung, dagu, dan dahi. Area yang terlibat tidak hanya wajah, tetapi juga daerah sekitarnya seperti leher, dada, punggung, dan kulit kepala serta mata. Tujuan: Mengevaluasi gambaran umum dan evaluasi pasien baru rosasea di Divisi Kosmetik Medik Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode tahun 2013-2015. Metode: Penelitian retrospektif dengan meneliti catatan medik pasien rosasea di Divisi  Kosmetik Medik URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama Januari 2013 sampai Desember 2015. Hasil: Jumlah kunjungan pasien baru rosasea selama periode 2013-2015 sebesar 24 pasien. Sebagian besar pasien adalah wanita. Usia terbanyak adalah 25-44 tahun.  Keluhan utama terbanyak adalah jerawat atau bintil serta kemerahan di wajah. Subtipe rosasea yang paling banyak ditemukan adalah subtipe eritematotelangiektasis sebesar 37,5%. Terapi yang terbanyak untuk pengobatan topikal adalah metronidazol dan pengobatan sistemik adalah doksisiklin. Sebesar 75% pasien melakukan kunjungan ulang. Simpulan: Terdapat penurunan jumlah pasien rosasea. Subtipe rosasea yang banyak ditemukan adalah subtipe eritematotelangiektasis dan subtipe papulopustular, subtipe phymatous hanya sedikit, sedangkan subtipe okular tidak ditemukan.
Laporan Kasus Seri: Pemeriksaan Dermoskopi pada Kasus Eritroderma Psoriasis Nyoman Suryawati; IGAA Praharsini
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.267 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.2.2018.111-116

Abstract

Latar Belakang: Eritroderma merupakan suatu reaksi pada kulit ditandai eritema dan skuama generalisata. Penyakit yang mendasari eritrodema dapat ditelusuri melalui pemeriksaan histopatologis bila dilakukan biopsi multipel. Dermoskopi dilaporkan berguna sebagai alat diagnostik karena dapat menunjukkan pola reaksi yang spesifik. Tujuan: Melaporkan pemeriksaan dermoskopi sebagai alat bantu diagnostik pada kasus eritroderma psoriasis. Kasus: Kasus 1. Laki-laki, 38 tahun, suku Bali dengan eritroderma dan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Pemeriksaan dermoskopi didapatkan pembuluh darah kapiler berbentuk titik dan glomerular dengan dasar eritema dan skuama putih. Pasien mendapat metil prednisolon 3x8 mg, sefoperason sulbaktam 2x1 gram, kotrimoksasol 2x960 mg, azitromisin 1x500 mg, flukonasol 150 mg, nistatin 4x100.000 IU, klortrimeton 3x4 mg, oleum olivarum pada kulit yang bersisik, dan krim kloramfenikol 2% pada ulkus di genetalia. Kasus 2. Perempuan, 46 tahun, suku Sumba dengan eritroderma. Pemeriksaan dermoskopi didapatkan pembuluh darah kapiler berbentuk titik dengan dasar eritema dan skuama putih. Hasil pemeriksaan histopatologis kedua kasus sesuai psoriasis vulgaris. Pasien mendapat metil prednisolon 2x8 mg, cetirizin 1x10 mg, oleum olivarum pada kulit yang bersisik, dan krim natrium fusidat 2% pada ulkus di ujung jari. Simpulan: Pola monomorf dengan skuama putih dan pembuluh darah berbentuk dotted/glomerular dengan latar belakang merah homogen merupakan pola khas dermoskopi untuk eritroderma psoriasis. Hasil dermoskopi pada kedua kasus didukung oleh pemeriksaan histopatologis. Pemeriksaan dermoskopi dapat digunakan sebagai alat bantu diagnostik kasus eritroderma psoriasis.
Uji Akseptabilitas Krim Pelembap Christina Avanti; Widya Ayu Dwi; Mediana Hadiwidjaja
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.772 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.2.2018.154-161

Abstract

Latar Belakang: Mutu produk kosmetik kini tidak hanya dinilai berdasarkan efektivitasnya, namun juga berdasarkan pada sifat-sifat sensori yang dirasakan saat suatu produk digunakan. Tujuan: Didapatkan informasi karakteristik sensori krim pelembap yang beredar di pasar Surabaya yang dikategorikan berdasarkan harga jual, sehingga diketahui karakteristik sensori yang paling menentukan bagi konsumen untuk memilih produk pelembap. Metode: Karakteristik sensori dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan 18 orang panelis yang terlatih untuk mengukur nilai pick up, thickness, soft after feel, film residu dan spreadability masing-masing krim pelembap. Hasil: Dari 9 krim yang diteliti pada penelitian ini, nilai pick up terbaik dimiliki oleh krim yang memiliki harga paling ekonomis, thickness yang terbaik dimiliki oleh krim yang memiliki harga paling eksklusif, soft after feel yang terbaik dimiliki oleh krim yang memiliki harga ekonomis, film residu terbaik dimiliki oleh krim yang memiliki harga eksklusif dan spreadability terbaik dimiliki oleh krim yang memiliki harga ekonomis. Simpulan: Tidak semua krim eksklusif lebih disukai oleh konsumen ditinjau dari karakteristik sensori. Parameter terpenting dalam pemilihan krim pelembap berdasarkan karakteristik sensorinya adalah soft after feel.
Peningkatan Jumlah Protein S100 pada Vitiligo setelah Terapi Narrowband-Ultraviolet B Putri Hendria Wardhani; M. Yulianto Listiawan; Linda Astari
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.393 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.2.2018.117-120

Abstract

Latar Belakang: Vitiligo adalah penyakit depigmentasi yang paling sering dijumpai dengan manifestasi klinis berupa makula berwarna putih susu berbatas tegas, dengan patogenesis kompleks yang belum dipahami dengan baik sehingga evolusi penyakit tidak dapat diprediksi dan hasil terapi seringkali tidak memuaskan. Sampai sekarang Narrowband-Ultraviolet B (NB-UVB) dianggap sebagai pengobatan vitiligo yang paling efektif dan aman. Evaluasi terapi dengan melihat jumlah melanosit melalui pemeriksaan imunohistokimia protein S100 akan menjadi lebih objektif dan akurat. Tujuan: Untuk membandingkan jumlah protein S100 pada pasien vitiligo sebelum dan setelah terapi NB-UVB. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen analitik komparatif dengan menggunakan metode pre-post test yang membandingkan protein S100 pada pasien vitiligo sebelum dan setelah mendapatkan terapi NB-UVB yang dilakukan di Unit Rawat Jalan, RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Dua belas sampel kasus yang didiagnosis vitiligo diobati dengan terapi NB-UVB dua kali seminggu sampai 8 kali terapi. Dosis awal adalah 200 mJ dan secara bertahap meningkat 20% setiap terapi. Dilakukan biopsi sebelum dan setelah terapi dan kemudian protein S100 dibandingkan dengan menggunakan pewarnaan imunohistokimia. Hasil:  Terdapat perbedaan yang bermakna antara jumlah protein S100 pada vitiligo sebelum dan setelah terapi NB-UVB dengan nilai p=0,002 (p=<0,05). Simpulan: Pemeriksaan imunohistokimia protein S100 berguna sebagai indikator keberhasilan terapi pada vitiligo.
Terapi Cairan dan Elektrolit pada Keadaan Gawat Darurat Penyakit Kulit Oki Suwarsa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.456 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.2.2018.162-170

Abstract

Latar Belakang: Kulit berfungi untuk melindungi tubuh dari kehilangan cairan dan elektrolit berlebihan. Pada penyakit nekrolisis epidermal toksik, sindrom Stevens-Johnson, Staphylococcal scalded skin syndrome, dan pemfigus vulgaris terjadi kegawatdaruratan disebabkan oleh terbentuknya bula yang luas, sehingga cairan hilang berlebihan melalui kulit. Tujuan: Terapi cairan dan elektrolit intravena bertujuan mengganti kekurangan air, elektrolit, dan zat makanan yang diperlukan tubuh. Telaah Kepustakaan: Pemberian cairan dan elektrolit harus berdasarkan penyebab, kemudian menentukan jenis, jumlah, serta kecepatan pemberian. Penatalaksanaan meliputi evaluasi status hemodinamik, memeriksa kadar elektrolit, analisis gas darah, memasang tekanan vena sentral, dan kateter urine untuk menghitung kehilangan cairan sehingga dapat diberikan cairan dan elektrolit yang tepat. Terapi suportif pada kegawatdaruratan penyakit kulit sama dengan pasien luka bakar, yaitu menggunakan ‘rule of nine’ untuk bula >10% total area permukaan tubuh.Cairan yang dianjurkan adalah NaCl 0,9%, Ringer laktat, dan dextrosa 5%.Simpulan: Prognosis terapi cairan dan elektrolit pada keadaan gawat darurat penyakit kulit tergantung terapi yang adekuat, kelengkapan unit luka bakar, pemberian cairan yang tepat, dan nutrisi tambahan.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum) terhadap Jumlah Sel Makrofag dan Pembuluh Darah pada Luka Bersih Mencit (Mus musculus) Jantan (Penelitian Eksperimental pada Hewan Coba) Rahel Yuana Sadikim; Willy Sandhika; Iswinarno Doso Saputro
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.462 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.2.2018.121-127

Abstract

Latar Belakang: Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) telah digunakan sebagai obat tradisional khususnya menyangkut penyembuhan luka karena kandungan oleoresin dan minyak atsiri yang tinggi. Namun penjelasan secara ilmiah masih belum banyak diteliti. Proses penyembuhan luka sangat dipengaruhi oleh jumlah makrofag dan pembuluh darah, sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak jahe merah terhadap jumlah sel makrofag dan pembuluh darah pada luka. Tujuan: Membuktikan bahwa ekstrak jahe merah dapat menurunkan jumlah makrofag dan meningkatkan jumlah pembuluh darah pada luka bersih mencit jantan. Metode: Penelitian analitik eksperimental dengan the post test only control group design. Luka bersih pada 32 subjek dibagi dalam 4 kelompok. Kelompok pertama diberi konsumsi aquades steril secara oral selama 3 hari dan kelompok kedua selama 5 hari. Kelompok ketiga diberi ekstrak jahe merah (50 mg/kg bb) secara oral selama 3 hari dan kelompok keempat selama 5 hari. Preparat jaringan kulit dibuat menjadi slide histologi. Slide diamati dengan mikroskop pembesaran 400x dan graticulae. Hasil penghitungan makrofag dan pembuluh darah dibandingkan dengan uji t-2 sampel bebas. Hasil: Jumlah makrofag kelompok perlakuan lebih sedikit dibanding kontrol pada hari ke-3 (p=0,008) namun tidak signifikan pada hari ke-5 (p=0,409). Jumlah pembuluh darah kelompok perlakuan dibanding kontrol tidak signifikan pada hari ke-3 (p=0,721) dan ke-5 (p=0,365). Simpulan: Ekstrak etanol jahe merah dapat menurunkan jumlah sel makrofag pada hari ke-3 secara signifikan tetapi jumlah pembuluh darah tidak berbeda secara bermakna.
Case Report: Developed Infraocular Squamous Cell Carcinoma and Nasal Basal Cell Carcinoma in Xeroderma Pigmentosum Icha Aisyah; Afif Nurul Hidayati
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.077 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.2.2018.171-177

Abstract

Introduction: Xeroderma pigmentosum (XP) is a rare autosomal recessive disease caused by a gene defect in nucleotide excision pathway named nucleotide excision repair (NER),  characterized by photosensitivity of the skin. Case: A 5 year old girl, 15 kgs, came with  brown and black spots on the entire body since she was 7 month old. These complaints were accompanied with itchiness and burning sensation. Since two years ago, a small bump appeared on the nose and below the left eye, increasingly enlarged, also easily  bled. She complained red and watery eyes since two weeks ago. Patient often felt glare. Physical examination all over the body found obtained multiple hypopigmented and hyperpigmented macules unsharply marginated with varying  size from pinpoint to few cm and also dry skin. Right and left opthalmic region showed red, watery eye, and photophobia.  Nasal region showed nodules about 1 cm in size, accompanied by erosion and crusting. Histopathology examination result of left infraoculi  region was malignant squamous cell carcinoma and nasal region was malignant basal cell carcinoma. Patient were diagnosed with XP with infraocular squamous cell carcinoma and nasal basal cell carcinoma. Patient was treated with natrium fusidic 2% cream, sunscreen with sun protecting factor (SPF) 30, moisturizer, chlorpheniramine maleate, chemotherapy, and also educated to avoid sun exposure. Discussion: XP causes a variety of clinical manifestations, often with a skin malignancies. Skin biopsy is mandatory to establish the diagnosis
Perbandingan Terapi Kombinasi Laser CO2-Injeksi Triamsinolon dengan Injeksi Triamsinolon Monoterapi pada Keloid Brama Rachmantyo; M. Yulianto Listiawan; Dwi Murtiastutik; Willy Sandhika
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.627 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.2.2018.128-137

Abstract

Latar Belakang: Keloid adalah hiperplasia jinak dari jaringan fibrosa kulit. Gambaran histopatologi menunjukkan fibroblas dan serat kolagen yang berlebih. Prevalensi pasien keloid di Poli Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya adalah 1,4% (tahun 2013), 1,6% (tahun 2014), dan 1,5% (tahun 2015). Angka kekambuhan keloid pascaterapi injeksi triamsinolon mencapai 33% dalam 1 tahun. Laser CO2 dengan mode kontinu yang diikuti dengan injeksi triamsinolon memiliki efektifitas yang lebih baik dibanding injeksi triamsinolon monoterapi, dengan angka kekambuhan 15,4%. Laser CO2 mode fraksional memiliki masa penyembuhan lebih cepat daripada mode kontinu, karena ablasi terbatas hanya pada microscopic treatment zone (MTZ). Terapi kombinasi laser CO2 fraksional dan injeksi triamsinolon memadukan efek fototermolisis selektif dan efek antimitotik. Tujuan: Mengetahui efektifitas terapi kombinasi laser CO2 fraksional dan injeksi triamsinolon terhadap pasien keloid. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis terbuka yang membandingkan terapi kombinasi laser CO2 fraksional dan triamsinolon asetonid intralesi (perlakuan) dengan terapi tunggal triamsinolon intralesi (kontrol) pada pasien keloid. Hasil: Penelitian ini melibatkan 26 pasien keloid, 13 pasien kelompok kontrol dan 13 pasien kelompok perlakuan. Penurunan tinggi keloid yang signifikan terjadi pada kelompok kontrol dan perlakuan (p=0,005 dan p=0,000), tetapi selisih penurunan tinggi keloid antara kedua kelompok tidak signifikan (p=0,598). Penurunan kepadatan fibroblas pada kelompok kontrol terjadi secara signifikan (p=0,016), tetapi pada kelompok perlakuan meningkat tidak signifikan (p=0,958). Peningkatan kepadatan fibroblas dapat dikarenakan penyusutan kolagen, sehingga fibroblas tampak semakin padat. Simpulan: Terapi injeksi triamsinolon asetonid yang dikombinasi dengan laser CO2 fraksional belum memberikan dampak yang lebih baik daripada terapi tunggal injeksi triamsinolon.

Page 1 of 2 | Total Record : 12