cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Global Strategis
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19079729     EISSN : 24429600     DOI : -
Jurnal Global & Strategis is a scientific journal published twice a year, every June and December. JGS invite discussions, reviews, and analysis of contemporary against four main themes: international peace and security; international political economy; international businesses and organization; as well as globalization and strategy. JGS published by Cakra Studi Global Strategis (CSGS), center of studies that examine the issues of international relations and this center of studies was under control by Airlangga University International Relations Department.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 2 (2015): Global Strategis" : 9 Documents clear
Memperkokoh Hubungan Indonesia-Australia Vinsensio MA Dugis
Global Strategis Vol. 9 No. 2 (2015): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.636 KB) | DOI: 10.20473/jgs.9.2.2015.309-324

Abstract

Upaya-upaya apa yang dapat dilakukan pemerintah Indonesia dan Australia untuk memperkuat kembali hubungan bilateral Indonesia Australia? Pertanyaan ini tepat untuk diangkat, mengingat Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi dilantik ketika hubungan Indonesia-Australia sekali lagi berada pada titik rendah menyusul terkuaknya upaya skandal penyadapan yang dilakukan para agen intelijen Australia terhadap sejumlah petinggi Indonesia. Situasi kemudian semakin memburuk menyusul penolakan Presiden Jokowi atas permohonan grasi dua terpidana mati warga Australia yang dinyatakan bersalah tahun 2006 sebagai otak perencanaan penyelundupan heroin dari Bali. Tulisan ini berpendapat bahwa kedua pemerintahan dapat belajar pada praktek yang pernah dilakukan semenjak pertengahan tahun 1980an, yaitu membangun kembali hubungan bilateral yang diawali dengan diplomasi pertemanan. Komunikasi hotline langsung antar pemerintah kedua belah pihak diperluas sementara hubungan antar-orang tidak saja diperluas tetapi juga diperdalam. Cara ini membuka banyak kesempatan bagi kedua pihak dapat menemukan kepentingan-kepentingan serupa, yang selanjutnya tentu saja menjadi benih-benih unggul demi membangun kerjasama yang semakin lebih berarti ke depan.
Gerakan Femen di Ukraina dalam Kritik Posmodern Feminisme Terhadap Posfeminisme Dias Pabyantara
Global Strategis Vol. 9 No. 2 (2015): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.975 KB) | DOI: 10.20473/jgs.9.2.2015.227-244

Abstract

This paper argues, posfeminist claims in post-1990 about the absence of oppression of women by patriarchal structures is not entirely true. They are still there. One indication is the emergence of a topless movement called Femen. in Ukraine. They protest against three things: dictatorship, religious institutions and the sex industry. The emergence of the Ukrainian Femen at least supported by two things, domestic and international. Domestic factors consist of democratization and Barbie lifestyle emerging in Ukraine and international factors that include the globalization of information and the ratification of the International Convention CEDAW. These factors support the assumption about the emergence of Femen as postmodern, in a quadrant of the second wave of feminism. This movement has been falsely interpreted as the existence of oppression of female identity in the midst of patriarchal structure.
Global village dan Globalisasi dalam Konteks ke-Indonesiaan Cahyo Pamungkas
Global Strategis Vol. 9 No. 2 (2015): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.946 KB) | DOI: 10.20473/jgs.9.2.2015.245-261

Abstract

Tulisan ini memunculkan definisi global village dalam konteks Indonesia. Bagian pertama dari makalah ini menjelaskan konsep awal global village oleh McLuhan (1962) yang terkait dengan keterhubungan antarwarga dunia. Bagian kedua menerangkan respon terhadap konsep global village dan bagian bagian ketiga menjelaskan perbedaan antara global village dan globalisasi. Akhirnya, penelitian ini menggambarkan global village dan globalisasi dalam konteks Indonesia. Global village dapat didefinisikan sebagai fenomena globalisasi pada masa kini yang dapat dikenali dari akibatnya yakni melemahnya batas-batas nasional, menghilang identitas dan budaya lokal, mengancam ekonomi nasional di tengah-tengah ekspansi modal, dan meningkatnya migrasi internasional. Konsep ini mengacu pada spektrum masyarakat baru yang melampaui batas-batas geografis, ekonomi, politik dan budaya dan menekankan pada arus informasi dalam jaringan komunikasi.
Arab Spring: Dimensi Domestik, Regional dan Global M Muttaqien
Global Strategis Vol. 9 No. 2 (2015): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.277 KB) | DOI: 10.20473/jgs.9.2.2015.262-276

Abstract

Artikel ini menganalisis keterkaitan antara globalisasi dan demokratisasi di negara-negara Arab dengan Arab Spring sebagai studi kasus. Analisis kualitatif dilakukan dengan mengamati dimensi domestik, regional dan global yang melingkupi peristiwa Arab Spring tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa demokratisasi di Arab adalah fenomena lintas batas yang tidak hanya melibatkan aktor negara namun juga aktor non negara mulai dari individu dan kelompok masyarakat sampai dengan msyarakat sipil global. Namun, konsolidasi demokrasi di Timur Tengah adalah jalan yang sulit karena aktor negara diwakili para elitnya menggunakan cara-cara tidak demokratis untuk menghalangi kekuatan oposisi meraih kekuasaan. Pada saat yang bersamaan, negara-negara Barat yang memiliki pengaruh terhadap elit di Timur Tengah tidak serius dalam mendorong penerapan demokrasi. Sedangkan kelompok oposisi yang umumnya berasal dari kekuatan politik Islam dengan menggunakan media dan teknologi informasi mencoba untuk mendemokratiskan siste politik di negara-negara Arab. Mereka meyakini bahwa demokrasi adalah jalan untuk mencegah tampilnya kekuasaan tirani di negara-negara Arab.
Foreign Policy and National Interest: Realism and Its Critiques Munafrizal Manan
Global Strategis Vol. 9 No. 2 (2015): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.415 KB) | DOI: 10.20473/jgs.9.2.2015.175-189

Abstract

Realism stated that conflict or even war among countries are acceptable in order to achieve national interest. Such a view has become the mainstream in international relations (IR) both theoretically and practically. But it does not mean that realist views are the best approach to discuss foreign policy and national interest. Liberalism and global humanism can be used as alternative approaches to discuss it. From the perspective of liberalism and global humanism, foreign policy is not only reflecting national interest, but also dealing with human and global interest. By focussing on the issues of economic globalization, democracy, human rights, and environment, the approaches of liberalism and global humanism show that these issues have now become a part of foreign policy and national interest of countries. It means that if it comes to human and global interests, then countries choose to cooperate globally rather than to involve in conflict or war.
Sengketa Laut Tiongkok Selatan: Ancaman Bagi Komunitas Keamanan ASEAN? Agus Haryanto; Arief Bakhtiar Darmawan
Global Strategis Vol. 9 No. 2 (2015): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.707 KB) | DOI: 10.20473/jgs.9.2.2015.277-296

Abstract

Perbedaan sikap diantara negara ASEAN seringkali disebut sebagai titik kegagalan pembentukan Komunitas Keamanan. Tulisan ini menelaah lebih jauh mengenai komponen pembentuk Komunitas Keamanan dalam konteks sengketa LTS. Menggunakan argument Karl Deutch yang menyatakan ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk masyarakat keamanan, yaitu (1) para pembuat kebijakan dan masyarakat berhenti merenungkan kemungkinan perang (2) negara berhenti mengalokasikan sumber daya untuk membangun kemampuan militer yang ditujukan kepada negara lain dan (3) ada penerimaan dan kepatuhan yang ketat terhadap aturan-aturan dan perjanjian tertentu bila tujuan kolektif unit-unit tidak selaras. Tulisan ini berargumen bahwa ketiga komponen pembentuk Komunitas Keamanan terganggu ketika ASEAN menghadapi sengketa LTS. Pertama, mengganggu upaya penyebaran norma-norma ASEAN. Kedua, mengganggu upaya mekanisme pencegahan konflik. Ketiga, menghambat ikatan kepercayaan diantara anggota ASEAN.
Quo Vadis Melanesian Spearhead Group? Baiq LSW Wardhani
Global Strategis Vol. 9 No. 2 (2015): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.208 KB) | DOI: 10.20473/jgs.9.2.2015.190-206

Abstract

Menguatnya sentimen identitas di dalam Melanesian Spearhead Group (MSG) bersamaan dengan kecenderungan melemahnya kapabilitas kemandirian untuk melakukan tata kelola domestik merupakan salah satu faktor yang menyebabkan berubahnya dinamika di Pasifik Selatan. Salah satunya ditandai dengan menguatnya kekhawatiran bahwa negara-negara di dalam kelompok ini semakin sulit melepaskan diri dari ketergantungan terhadap bantuan luar negeri. Menguatnya sentimen identitas secara empiris dapat diamati dari pergolakan di dalam organisasi tersebut, yang menunjukkan bahwa para anggotanya semakin tidak khawatir pada perbedaan pendapat di antara mereka. Sementara itu lemahnya kapabilitas mengelola secara mandiri persoalan domestik ditunjukkan dengan meningkatnya bantuan finansial dari negara donor. Padahal pada saat yang bersamaan krisis di negara donor dan relatif menurunnya urgensi Pasifik Selatan dalam geopolitik negara-negara donor dapat membawa organisasi regional ini dalam posisi limbo. Alternatif jalan keluar telah diambil, namun menimbulkan pertanyaan, mau dibawa ke manakah MSG?
Diplomasi Soft Power Indonesia melalui Atase Pendidikan dan Kebudayaan Sartika Soesilowati
Global Strategis Vol. 9 No. 2 (2015): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.036 KB) | DOI: 10.20473/jgs.9.2.2015.293-308

Abstract

Studi ini membahas implementasi diplomasi Soft Power Indonesia melalui pertukaran dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan di luar negeri. Bagaimana sebenarnya strategi dan karakter diplomasi ini? Sampai seberapa jauh diplomasi pendidikan memperkuat tujuan dan kepentingan nasional? Apa saja upaya, tantangan dan kesempatan dalam mengimplementasikan tipe diplo-masi ini? Studi ini menguatkan argumen bahwa ada hubungan secara langsung atau tidak langsung antara diplomasi pendidikan dan kepentingan nasional. Disamping beberapa beberapa capaian, masih ada beberapa kekurangan, dan kendala yang menghambat untuk dapat memaksimalkan hasil dari upaya pertukaran pendidikan internasional ini. Artikel ini juga berargumen bahwa diplomasi Soft Power memperkuat signifikansi ‘new diplomacy’ atau ‘neo diplomacy’. Bentuk diplomasi ini melibatkan berbagai aktor sehingga bersifat inklusif dalam proses diplomasi saat ini dibutuhkan. Untuk menjelaskan secara lebih terperinci dari fenomena ini maka juga akan diterangkan dengan studi kasus atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Filipina.
Keamanan Negara dalam Kegiatan Antariksa Nasional: Perspektif Realis Ofensif Totok Sudjatmiko
Global Strategis Vol. 9 No. 2 (2015): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.957 KB) | DOI: 10.20473/jgs.9.2.2015.207-226

Abstract

Antariksa adalah kawasan yang dapat dikolaborasikan dengan penggunaan hard dan soft power dalam konteks keamanan negara. Perkembangan dalam satu kawasan ini akan dapat berdampak langsung pada kawasan lain. Nilai strategis tersebut membuat keamanan negara dalam kegiatan antariksa saat ini menjadi penting dalam kebijakan luar negeri suatu negara. Sehingga kebutuhan akan rasa aman bangsa dan negara dari gangguan dan ancaman pihak lain dapat terpenuhi. Untuk itu keamanan negara terkait kegiatan antariksa harus menempati prioritas utama dalam kebijakan luar negeri. Dimana kemudian Indonesia menuangkan aspek keamanan itu dalam Pasal 1 Ayat 12 dan Pasal 8 UU No. 21 Tahun 2013 Tentang Keantariksaan. Adapun yang menjadi permasalahan penelitian adalah apakah keamanan Indonesia dari antariksa telah tercermin dalam Pasal 1 ayat 12 dan Pasal 8 Undang-Undang No. 21 Tahun 2013 Tentang Keantariksaan yang memuat materi tentang keamanan apabila ditinjau dari kebijakan luar negeri realis ofensif.

Page 1 of 1 | Total Record : 9