cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
JURNAL PENELITIAN KEISLAMAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Penelitian KeIslaman adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M IAIN Mataram, terbit setahun dua kali.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 2 (2016): (Juli)" : 7 Documents clear
FATWA-FATWA KEAGAMAAN PENYEBAB KONFLIK (Analisis Isi Brosur Ahad Pagi MTA Surakarta) Khalim, Samidi
JURNAL PENELITIAN KEISLAMAN Vol 12, No 2 (2016): (Juli)
Publisher : LP2M IAIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) adalah lembaga pendidikan dan dakwah Islamiyah yang berkedudukan di Surakarta. Paham keagamaan yang diusung oleh MTA adalah gerakan purifikasi, kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah. Terdapat beberapa kitab hadis yang dijadikan rujukan untuk fatwa-fatwa keagamaan MTA, diantara kitab-kitab tersebut adalah: Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, al-Musnad, Sunan Abi Dawud, al-Mu’jam al-Kabir, Sunan al-Tirmidzi, al-Mustadrak, al-Muwatta, Sunan al-Nasa’i, Riyad al-Salihin, Nail al-Autar dan Kanz al-‘Ummal. Bidang ilmu kalam atau tauhid yang dijadikan rujukan oleh MTA ada dua kitab, yaitu: Madarij al-Salikin ditulis oleh Ibn al-Qayyim al-Jauziyah (murid Ibn Taimiyah) dan al-Firqah al-Nājiyah yang ditulis oleh Muhammad bin Jamil Zainu. Sedangkan dalam bidang sejarah Islam, kitab-kitab yang digunakan oleh MTA ada tiga, yaitu: Al-Sirat al-Halabiyyah oleh ‘Ali bin Ibrahim al-Halabi, Al-Sīrat al-Nabawiyah oleh Ibn Hisyām, dan Nūr al-Yaqīn oleh Muhammad al-Khudarī Bik. Pimpinan MTA berperan sebagai pihak yang mengarahkan anggotanya untuk memahami agama dalam versi MTA. Paham keagamaan yang selanjutnya adalah penolakan terhadap praktik Islam yang bercampur dengan unsur budaya lokal. MTA menolak segala praktik ibadah yang bercampur dengan budaya lokal seperti yasinan, tahlilan, manaqiban dan selamatan. Tradisi ruwatan yang dilaksanakan untuk keselamatan seseorang, tradisi bersih desa untuk keselamatan masyarakat, tradisi labuhan, salat tarawih 20 rakaat, selamatan orang meninggal (7 hari, 40 hari dan 100 hari), azan dua kali dalam shalat Jumat, tradisi haul, peringatan hari besar Islam, talqin, tahlilan, yasinan, manaqib, ziarah kubur, sekaten, doa bersama setelah sholat, shalawatan dan membaca Barzanji dianggap bid’ah dan khurafat. Ajaran-ajaran tersebut menurut MTA tidak pernah di contohkan oleh Rasulullah saw, sehingga dianggap bid’ah dan sesat. Umat islam dalam menjalankan amal ibadah harus mengikuti al-Qur’an dan meneladani Rasulullah. Paham keagamaan yang dikembangkan oleh MTA ini memiliki potensi konflik ditengah-tengah masyarakat sehingga sering kali mendapatkan penolakan di beberapa daerah. Konflik itu terutama yang berkaitan dengan persoalan pensikapan MTA terhadap perilaku masyarakat yang dipandang sebagai perbuatan bid’ah dan khurafat, bahkan kadang-kadang dinilai sebagai perbuatan syirik. Dengan demikian, segala praktek keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat atau umat Islam di luar MTA dipandang sesat, karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah (laisa min al-Islam).
PERANAN MAJELIS TA’LIM AL-BAROKAH MASJID AL-MUJAHIDIN DALAM PEMBINAAN KEHIDUPAN BERAGAMA DI PERUMNAS KELURAHAN TANJUNG KARANG PERMAI KECAMATAN SEKARBELA KOTA MATARAM Fattah, Abdul
JURNAL PENELITIAN KEISLAMAN Vol 12, No 2 (2016): (Juli)
Publisher : LP2M IAIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada dasarnya majelis ta’lim dengan agama Islam tidak bisa dipisahkan, disebabkan keduanya bertujuan membentuk suatu upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan manusia mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, dan mengamalkan ajaran Agama Islam dari sumber utamanya yakni kitab suci Al-Qur’an dan Al-Hadits. Artikel ini memaparkan peranan majelis ta’lim dalam pembinaan kehidupan beragama. Penelitian dilakukan di Majelis Ta’lim Al-Barokah Masjid Al-Mujahidin Perumnas Kelurahan Tanjung Karang Permai Kecamatan Sekarbela Kota Mataram. Majelis ta’lim ini memiliki 32 orang pengurus serta lebih dari 150 orang jama’ah. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimanakah peranan Majelis Ta’lim Al-Barokah Masjid Al-Mujahidin dalam pembinaan kehidupan beragama di Perumnas Kelurahan Tanjung Karang Kecamatan Sekarbela Kota Mataram? Dalam pembinaan keagamaan bagi masyarakat di Kelurahan Tanjung Karang Permai Kecamatan Sekarbela Kota Mataram, Majelis Ta’lim Al-Barokah memiliki peran yang sangat positif. Hal ini terlihat dari penerapan ajaran agama yang diberikan melalui kajian-kajian yang dilakukan oleh Majelis Ta’lim dengan sungguh-sungguh. Peran riilnya terbaca melalui dimensi fungsi/peranan keagamaan, pendidikan, sosial, seni dan budaya Islam, serta ekonomi.
OPTIMALISASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI SENTRALISASI NILAI KARAKTER RELIGIUS DALAM KURIKULUM 2013 Sultoni, Achmad; Alfan, Alfan; Maksum, Ali
JURNAL PENELITIAN KEISLAMAN Vol 12, No 2 (2016): (Juli)
Publisher : LP2M IAIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerintah Indonesia mengimplementasikan Kurikulum 2013 untuk mengatasi persoalan karakter dan moral bangsa Indonesia. Implementasi dari Kurikulum 2013 tentunya menghadapi beberapa kendala. Salah satunya adalah masalah teoritis yang menempatkan karakter agama dan karakter sosial dalam posisi yang sama, dan juga aspek skill dan kognitif. Ini bertentangan dengan Islam yang menempatkan pembelajaran agama sebagai dasar bagi nilai-nilai sosial serta aspek skill dan kognitif. Sebagai hasilnya, permasalahan ini menjadikan rintangan bagi implementasi Kurikulum 2013 karena menghasilkan siswa-siswa yang sekuler. Oleh karena itu menjadi penting untuk memformulasikan konsep dan juga implementasi Kurikulum 2013 yang memusatkan pada nilai-nilai agama dalam rangka mengoptimalkan pendidikan karakter. Melalui pendekatan kualitatif dan juga metode penelitian pustaka dengan analisis deskriptif, maka temuan dalam penelitian ini adalah: 1) pemusatan nilai Kurikulum 2013 dilakukan melalui integrasi nilai-nilai agama dengan ilmu alam serta sosial dan sebaliknya yang keduanya berada dalam kurikulum dengan aktivitas yang lebih banyak, 2) ada beberapa cara untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013 diantaranya adalah: mendesain KI-KD dan pokok pelajaran, pemilihan metode dan media, dan juga peran dari guru.
BEREBUT AKSES MENUJU SURGA (Relasi Gender dalam Ritual Keagamaan di Lombok) Jumarim, Jumarim
JURNAL PENELITIAN KEISLAMAN Vol 12, No 2 (2016): (Juli)
Publisher : LP2M IAIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepanjang sejarah kemanusiaan, agama, adat, negara selalu menjadi panggung sosialisasi dan internalisasi bias gender dalam bingkai budaya patriarki, sekalipun, Menurut Nasaruddin Umar, al-Qur’an memiliki perspektif ke arah kesetaraan dan keadilan gender. Masyarakat Sasak, dalam meniti hidup dan kehidupan tak terhindar untuk melaksanakan seremoni dan ritual keagamaan, minimal sebanyak 8 kali dalam bentuk begawe, baik begawe pati maupun begawe urip. Apapun bentuk, jenis dan cakupan begawe dalam tradisi Sasak, mesti diawali dan diakhiri dengan proses ritual keagamaan berupa tahlilan, syarakalan dan do’a. Setiap ritual keagaman pada masyarakat Sasak, dikonstruksi secara sosial sebagai wilayah sakral, sehingga membatasi pelakunya hanya bagi pihak yang memiliki jenis kelamin laki-laki dan mengebirikan jenis kelamin lainnya, perempuan. Padahal dari sisi potensi dan keterampilan emperik, perempuan senantiasa mampu menjalankan apapun bentuk dan jenis peran yang selama ini dikonstruksi sebagai wilayah yang hanya terjangkau oleh pihak laki-laki, terutama dalam domain agama atau wilayah sosial yang beridmensi ritual keagamaan. Penelitian yang menggunakan kualittaifdeskriptif tentang peran majelis taklim Miftahul Jannah menunjukkan adanya pergeseran dan perebutan wilayah dengan aksi yang ditopang skill keagamaan dan moral terpuji dan istikamah, sehingga dipercaya publik untuk menjadi pemeran utama dalam beragam jenis sosial-budaya berdimensi ritual keagamaan di Mataram dan sekitarnya. Bahkan, di tangan perempuan, pelaksanaan ritual keagamaan menemukan kekayaan maknanya, di luar seremoni, yaitu, ketaatan kepada Allah (ibadah), kesetiaan kepada sumai dan orangtua (berdoa), refreshing dari kepenatan urusan domestik dan bahkan memiliki dimensi ekonomis sekaligus.
MODERNISASI SISTEM MANAJEMEN DAN KURIKULUM PONDOK PESANTREN Al Idrus, Ali Jadid
JURNAL PENELITIAN KEISLAMAN Vol 12, No 2 (2016): (Juli)
Publisher : LP2M IAIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesantren sebagai lembaga pendidikan memiliki tujuan untuk menanamkan nilai-nilai keimanan, kebangsaan dan kemasyarakatan dengan mempertahan eksistensi tradisi pesantren dalam mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik untuk menjadi ahli ilmu agama Islam (mutafaqih) dan atau menjadi muslim yang memiliki keterampilan atau keahlian untuk membangun kehidupan Islami di masyarakat. Tujuan pesantren ini tidak terlepas dari faktor sejarah, sosiologis, psikologis maupun kebudayaan bangsa Indonesia khususnya. Pondok pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam: (1) pengembangan kehidupan beragama (dinniyah), berbangsa (wathaniyah), dan bermasyarakat (basyariyah), (2) mempersiapakan generasi Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah, (3) Lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan, pegabdian serta sebagai inspirator, (4) Lembaga pendidikan yang memberikan keteladanan, pioneer serta educator, dan (5) Menjadi lembaga pendidikan yang modern, professional dan proposional. Modernisasi sitem merupakan bagian dari ibadah kepada Allah maupun untuk sesama manusia, karena ibadah maka selalu didasari oleh nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al Hadits. Selain itu petunjuk-petunjuk yang telah diberikan para sahabat, tabi’in sampai dengan para ulama’ shaleh yang kemudian di lanjutkan sebagai nilai dalam menghadapi globalisasi. Selanjutnya dari hasil observasi juga diperoleh gambaran bahwa pengembangan pendidikan sebagai tempat kaderisasi, militansi, intelektualitas, dan mutu yang berdaya saing berdasarkan Al-Qur’an dan Al Hadist serta melanjutkan perjuangan para ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan cara mempertahankan tradisi-tradisi pesantren.
MANAJEMEN PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU BERBASIS RELIGIUS DI SDIT ANAK SHOLEH MATARAM Hadi, Lalu Sirajul
JURNAL PENELITIAN KEISLAMAN Vol 12, No 2 (2016): (Juli)
Publisher : LP2M IAIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kualitas proses dan hasil pembelajaran ditentukan oleh kompetensi yang dimiliki guru, yang didasarkan pada nilai-nilai religius yang dirujuk sebagai keyakinan, pengetahuan, pemahaman dan pengamalan. Maka, dibutuhkan manajemen pengembangan yang tepat, baik pada aspek pedagogik maupun pada aspek religius. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan (1) konsep performance kompetensi pedagogik guru berbasis religius (2) strategi pengembangan kompetensi pedagogik guru berbasis religius dan (3) implikasi manajemen pengembangan kompetensi pedagogik guru berbasis religius di SDIT Anak Sholeh Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis studi kasus. Tekhik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi partisipan dan dokumentasi. Teknik analisis dilakukan dengan proses reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan serta pengujian kesimpulan data (drawaing and verifying conclusions).Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan tingkat kepercayaan (credibility), kebergantungan (dependability) dan objektivitas (confirmablity). Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) konsep performance kompetensi pedagogik religius adalah unjuk kerja guru yang dibangun berdasarkan potensi, ability, capabeltiey, capacity dan afeksi religius dalam mewujudkan kinerja guru dalam proses dan hasil pembelajaran yang dilandasai dengan nilai-nilai religius sebagai spirit, motivasi dan ideologi (2) pengembangan kompetensi pedagogik religius guru belum dilakukan melalui tahapan dan langkah-langkah yang sistematis, holisitk dan sestemik, kegiatan pengembangan bersifat general-temporary karena tanpa melalui proses analisis penilaian (assessment analysis) dan analisis kebutuhan (need analysis) yang komprehensif dan objektiv. Strategi pengembangan dapat dilakukan dengan menggunakan model pengembangan kompetensi berkelanjutan melalui pendekatan religius learning community (3) implikasi manajemen pengembangan kompetensi pedagogik berbasis religius, adalah; Pertama, implikasi bagi guru (personal impact), terbangunnya kepercayaan diri (self confident), kepuasan diri (self satisfication), kualitas kinerja, dan produktivitas dalam proses pembelajaran dengan menjadikan nilai-nilai religius sebagai spirit, motivasi dan ideologi. Kedua, implikasi bagi sekolah (institution impact), tercipta dan terjaganya kepercayaan stakeholder sebagai pengguna pendidikan.
MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS NILAI-NILAI RELIGIUS (Studi Kasus di SMA Islam NW Al-Azhar) Sulhan, Ahmad
JURNAL PENELITIAN KEISLAMAN Vol 12, No 2 (2016): (Juli)
Publisher : LP2M IAIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai religius diwujudkan melalui pembentukan/pengembangan nilai-nilai religius yang diinternalisasikan dalam mewujudkan budaya religius, maka dibutuhkan manajemen, baik perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menemukan: (1) konsep pendidikan karakter berbasis nilai-nilai religius yang dikembangkan di SMA Islam NW Al-Azhar, untuk menemukan (2) model perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai religius di SMA Islam NW Al-Azhar, (3) implikasi model manajemen pendidikan karakter berbasis nilai-nilai religius di SMA Islam NW Al-Azhar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan (1) wawancara mendalam, (2) observasi partisipan, dan (3) dokumentasi. Data dianalisis dengan interactive model yang terdiri dari data collection, data reduction, data display dan conclusion. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan uji kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) konsep pendidikan karakter berbasis nilai-nilai religius adalah: (a) pendidikan karakter berbudaya religius awareness, (b) nilai-nilai religius awareness, dikembangkan dari nilai-nilai: keikhlasan, amanah, kepatuhan (ta’at), istiqamah, peduli lingkungan, kejujuran, tanggung jawab, (c) menggunakan prinsip perpaduan moral knowing, moral feeling dan moral action melalui pendekatan keteladanan; (2) model perencanaan pendidikan karakter dilandasi model yang integratif. Model pelaksanaannya menggunakan pembiasaan, model keteladanan, pengintegrasian kegiatan dan program ekstrakurikuler, intra dan ko-kurikuler dan pembentukan lingkungan (bi’ah) yang kondusif. Model pengawasan menggunakan manajemen kontrol internal melalui tata tertib dan buku attitude, dan eksternal melalui kerjasama dengan orang tua/wali peserta didik; (3) Implikasinya bagi kebijakan sekolah berupa kurikulum pendidikan karakter berbasis nilai-nilai religius, perangkat peraturan proses pembiasaan; sistem manajemen pendidikan karakter yang integratif; budaya sekolah yang berkarakter religius awareness: memiliki kesadaran mewujudkan nilai-nilai religius: beriman dan taqwa, mencintai ilmu pengetahuan, beramal shaleh, percaya diri, berbudi pekerti luhur.

Page 1 of 1 | Total Record : 7