cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
S1 Keperawatan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 2 (2014): Keperawatan" : 9 Documents clear
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG POSYANDU LANSIA DI PUSKESMAS PEMBANTU GUNUNG SARI SURABAYA Sari, Ethyca
S1 Keperawatan Vol 3, No 2 (2014): Keperawatan
Publisher : S1 Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.62 KB)

Abstract

Tingkat pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dan terbentuknya perubahan yang dimiliki seseorang untuk membentuk perubahan perilaku yang diharapkan. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan keluarga tentang posyandu lansia. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain deskriptif. Sampel diambil secara totalsampling dengan responden 40 orang keluarga yang mempunyai lansia. Kemudian pengambilan data melalui kuisioner yang diolah dalam bentuk tabulasi. Berdasarkan hasil pengambilan data tingkat pengetahuan keluarga tentang posyandu lansia di Puskesmas Pembantu Gunung Sari Surabaya didapatkan tingkat pengetahuan baik 14 responden keluarga, tingkat pengtahuan cukup 11 responden keluarga, dan tingkat pengetahuan kurang 15 responden keluarga. Dari hal tersebut tingkat pengetahuan responden terbanyak adalah tingkat pengetahuan kurang yaitu sebesar 15 orang (37,5%). Tingkat pengetahuan kurang disebabkan karena kebanyakan pekerjaan mereka adalah wiraswasta, pada waktu malam hari digunakan untuk bekerja dan ketika pagi atau siang harinya waktu mereka gunakan untuk istirahat tidur, jadi membuat mereka tidak ada waktu untuk mencari informasi. Kata kunci : Tingkat Pengetahuan, Keluarga, Posyandu lansia.
HASIL SKRINING METODE PEMERIKSAAN INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT (IVA) PADA WANITA USIA SUBUR DI PUSKESMAS BLOOTO DALAM UPAYA PENCEGAHAN KANKER CERVIKS KOTA MOJOKERTO Basuki, Duwi; Puspitasari, Ayu Agustina
S1 Keperawatan Vol 3, No 2 (2014): Keperawatan
Publisher : S1 Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.62 KB)

Abstract

Angka kejadian kanker cerviks terus terjadi peningkatan dari waktu ke waktu. Salah satu cara untuk mencegahnya adalah dengan dilakukannya skrining menggunakan metode IVA.. Fenomena yang terjadi dimasyarakat khususnya wanita usia subur akibat dari ketidaktahuan serta ketidakmauan menyebabkan rendahnya kunjungan IVA. Hal ini disebabkan oleh rasa malu, malas, dan informasi yang kurang tepat mengenai IVA sehingga mereka datang sudah masuk dengan kategori lesi prakanker. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hasil skrining IVA pada perempuan khususnya wanita usia subur yang sudah menikah di Puskesmas Blooto Kota Mojokerto. Desain penelitian ini adalah Deskriptif. Variabel penelitian ini adalah Skrining Metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) pada Wanita Usia Subur. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita usia subur yang melakukan pemeriksaan IVA di wilayah Puskesmas Kota Mojokerto. Sampel yang diambil dengan cara total sampling sebanyak 20 responden. Data yang dikumpulkan menggunakan lembar observasi data sekunder dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kategori IVA Radang sebanyak 11 orang (55%), IVA Negatif sebanyak 5 orang (25%) dan IVA Positif sebanyak 4 orang (20%). Skrining menunjukkan sebagian responden dengan kategori IVA Positif yang artinya mereka sudah memasuki diagnosis serviks prakanker. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor dari usia, pemakaian KB, pekerjaan, dan paritas. Wanita usia subur diharapkan untuk melakukan pemeriksaan IVA Negatif 5 tahun dan IVA Positif 1 tahun. Kata kunci : Skrining, Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA), Wanita Usia Subur.
HUBUNGAN STIMULASI PSIKOSOSIAL TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSI PADA ANAK PRASEKOLAH DI TK YAYASAN WANITA KERETA API MOJOKERTO Dewi, SKep,Ns., M.Kes, Erika Untari; Sinambela, Novelya
S1 Keperawatan Vol 3, No 2 (2014): Keperawatan
Publisher : S1 Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.62 KB)

Abstract

Pemberian stimulasi psikososial sangat penting dilakukan orang tua untuk penggembangan sosial-emosi anak, sayangnya banyak orang tua yang harus membagi waktunya untuk melakukan memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi ini membuat orang tua tidak optimal dalam pemberian stimulasi psikososial. Sehingga perkembangan sosial-emosi anak menyimpang seperti tidak percaya diri, pesimis, takut salah dan tidak mempunyai inisiatif. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stimulasi psikososial terhadap perkembangan sosial-emosi pada anak prasekolah di TK Yayasan Wanita Kereta Api Mojokerto. Disain penelitian ini menggunakan metode korelasional. Populasinya semua orang tua yang memiliki anak prasekolah sebanyak 44 responden. Dengan jumlah sampel pada penelitian ini 41 responden dan teknik sampling yang digunakan simple random sampling. Variabel independen pada penelitian ini yaitu stimulasi psikososial dan variabel dependen yaitu Perkembangan soail-emosi. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisa dan hasil penelitian didapatkan stimulasi psikososial cukup dengan prosentase 78,1% dan perkembangan sosial-emosi baik dengan prosentase 70,7%. Penelitian ini menggunakan uji stastistik dengan uji regresi ordinal hasil yang diperoleh nilai p
GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEDISIPLINAN DALAM PROSES BELAJAR PADA MAHASISWA D3 KEPERAWATAN ANGKATAN XIV DI AKPER WILLIAM BOOTH SURABAYA Refiltasary, Fransisca; Artini, Budi
S1 Keperawatan Vol 3, No 2 (2014): Keperawatan
Publisher : S1 Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.62 KB)

Abstract

Kedisiplinan merupakan suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan, dan ketertiban. Berdasarkan pengamatan penulis di AKPER William Booth Surabaya, banyak mahasiswa sering melanggar peraturan yang telah ditetapkan, khususnya mahasiswa D3 keperawatan angkatan XIV, sering datang terlambat ke kampus, suka membolos, tidak mengerjakan tugas yang diberikan dosen sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Dalam kedisiplinan proses belajar terdapat beberapa faktor yang memengaruhi, diantaranya faktor motivasi, faktor keluarga, dan faktor lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kedisiplinan dalam proses belajar pada mahasiswa D3 keperawatan angkatan XIV di Akademi Keperawatan William Booth Surabaya. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode Deskriptif dengan populasi sebanyak 24 orang, sampel berjumlah 24 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor motivasi memengaruhi kedisiplinan sebanyak 24 responden yaitu (100%), faktor keluarga memengaruhi kedisiplinan sebanyak 24 responden yaitu (100%), dan faktor lingkungan memengaruhi kedisiplinan sebanyak 24 responden yaitu (100%). Hal ini menunjukan bahwa faktor motivasi, keluarga, dan lingkungan memengaruhi kedisiplinan. Oleh karena itu diharapkan mahasiswa lebih semangat dan mempunyai keinginan untuk lebih meningkatkan kedisiplinan dalam proses belajar, selain itu institusi juga meningkatkan kedisiplinan melalui faktor-faktor tersebut. Kata Kunci : Kedisiplinan, Keluarga, Lingkungan, Motivasi.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KADAR ASAM URAT (GOUT) PADA LAKI-LAKI DEWASA DI RT 04 RW 03 SIMOMULYO BARU SURABAYA Astuti, Setyo Tri Wardhani; Tjahjono, Hendro Djoko
S1 Keperawatan Vol 3, No 2 (2014): Keperawatan
Publisher : S1 Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.62 KB)

Abstract

Asam urat merupakan hasil metabolisme purin. Kadar asam urat normal pria 3,0-7,0 mg/dl. Beberapa faktor yang memengaruhi adalah faktor genetik, diet tinggi purin, alkohol, obesitas, usia. Insiden gout sebesar 1-2% terutama pada pria. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kadar asam urat (gout) pada laki-laki dewasa di RT 04 RW 03 Simomulyo Baru, Surabaya. Penelitian ini menggunakan desain penelitian “ Korelasi ”. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh warga laki-laki dengan kadar asam urat > 7,0 mg/dl sejumlah 40 orang. Sampling dalam penelitian ini adalah Simple random sampling. Pengumpulan data dengan kuesioner, kemudian dilakukan rekapitulasi data, setelah itu di konfirmasikan dalam bentuk tabel frekuensi dan uji bivariat menggunakan chi square dengan nilai p-value sebesar α >0,05. Hasil penelitian ini, faktor genetik dengan nilai p-value 0,018 < α = 0,05, faktor diet tinggi purin dengan nilai p-value 0,003 < α =0,05, faktor alkohol dengan nilai p-value 0,032 < α =0,05, faktor obesitas dengan nilai p-value 0,053 > α =0,05, faktor usia dengan nilai p-value 0,141 > α =0,05. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor yang dominan adalah faktor alkohol. Pengawasan dan pemberian informasi yang baik dapat meminimalkan warga untuk tidak mengkonsumsi minuman beralkohol. Kata kunci: Kadar Asam Urat, Laki-Laki
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA DI DESA TANJUNGAN KEC. KEMLAGI KAB. MOJOKERTO Triwibowo, Heri; Puspitasari, Kiki
S1 Keperawatan Vol 3, No 2 (2014): Keperawatan
Publisher : S1 Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.62 KB)

Abstract

Cognitive function generally is affected by several factors, for instance: physical health, physical activity, mental health, social activity, and social support associated with cognitive impairment. Sport or physical activity probably an important non-pharmacological can be done beneficially for cognitive function and reducing the risk of cognitive impairment. This study aims to prove the relationship between physical activity and cognitive on elderly in Tanjungan village Kec. Kemlagi of Mojokerto. The research design on this study uses analytical analysis with crosssectional approach. The samples being studied were 30 elderly in Tanjungan village Kec. Kemlagi of Mojokerto. Data were collected using questionnaire, physical activity using GPPAQ and cognitive function using MMSE. Based on data obtained 11 respondents (36,7%) of elderly were quite active on physical activity, 9 respondents (30%) of elderly were inactive on physical activity and 1 respondent (3,3%) of elderly was active on physical activity. The result of Spearmen Rho test was  = 0,000 with =0,05 in consequence 
STUDI KOMPARASI HASIL PENYEMBUHAN LUKA EPISIOTOMI YANG DIANASTESI DAN YANG TIDAK DIANASTESI DI RUANG BERSALIN RS.WILLIAM BOOTH SURABAYA Astuti, Eny
S1 Keperawatan Vol 3, No 2 (2014): Keperawatan
Publisher : S1 Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.62 KB)

Abstract

Episiotomi merupakan suatu tindakan insisi pada perineum yang menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina, cincin selaput darah dan jaringan pada septum rektovaginal. Episiotomi menyebabkan luka pada daerah perineum dan luka dapat menyebabkan perdarahan sehingga perlu dilakukan heacting. Pada proses heacting membutuhkan anastesi untuk mengurangi nyeri saat proses penjahitan dan ada beberapa fasilitas kesehatan yang tidak menggunakan anastesi. Oleh karena itu tujuan dari peneliti ini adalah ingin melihat perbedaan hasil penyembuhan episiotomi yang dianastesi dengan yang tidak dianastesi. Desain yang digunakan yaitu studi komparatif dengan teknik sampel simple random sampling. Sampel yang diambil sebanyak 56 orang yang dibagi menjadi 2 (dua) kelompok dimana 28 orang yang dianastesi dan 28 orang yang tidak dianastesi. Data hasil penelitian menunjukkan hasil penyembuhan luka episiotomi yang dianastesi baik sebesar 50%, kurang baik 46% dan jelek 4% sedangkan hasil penyembuhan luka episiotomi yang tidak dianastesi baik sebesar 50%, kurang baik sebesar 50% dan tidak ada hasil penyembuhan luka yang jelek. Hasil penelitian kemudian diuji dengan menggunakan uji Chi Kuadrat. Hasil uji Chi Kuadrat menunjukkan harga Chi Kuadrat lebih besar dari tabel (27,25>5,991) yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan secara signifikan antara responden yang dianastesi dan responden yang tidak dianastesi dalam hasil penyembuhan luka episiotomi. Dalam melakukan penjahitan episiotomi seyogianya memperhatikan cara melakukan penjahitan untuk mendapatkan hasil yang baik. Kata kunci : Anastesi, Episiotomi, Penyembuhan Luka Episiotomi
GAMBARAN HARGA DIRI REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN PUTRA IMMANUEL SURABAYA Mahayati, Lina
S1 Keperawatan Vol 3, No 2 (2014): Keperawatan
Publisher : S1 Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.62 KB)

Abstract

Ciri-ciri seseorang yang mempunyai harga diri rendah yaitu mengkritik diri sendiri atau orang lain, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, sikap negatife pada diri sendiri, sikap pesimis pada kehidupan, perasaan cemas dan takut, mengungkapkan kegagalan pribadi, ketidak mamapuan menentukan tujuan.. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran harga diri pada remaja yang tinggal di panti asuhan Putra Immanuel Surabaya. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif, populasi remaja yang tinggal di panti asuhan sebanyak 20 responden dan menggunakan total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, data yang diperoleh kemudian dihitung dengan tabel distibusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan dari 20 responden diperoleh remaja yang mengalami harga diri positif 15 responden (75%) dan 5 responden (25%) yang mengalami harga diri negatif. Remaja yang tinggal di panti asuhan memiliki harga diri positif. Dengan demikian remaja yang tinggal di panti asuhan tetap mempunyai harga diri yang positif. Kata kunci : harga diri dan remaja yang tinggal di panti asuhan
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN HARGA DIRI REMAJA DI BANJAR PENGENDERAN KEDONGANAN-KUTA Nancye, Pandeirot M; ,., Itayanti
S1 Keperawatan Vol 3, No 2 (2014): Keperawatan
Publisher : S1 Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.62 KB)

Abstract

Pola asuh merupakan pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Harga diri adalah sejauh mana individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten. Pada kenyataannya banyak orang tua menggunakan pola asuh yang kurang tepat pada anaknya yang akhirnya dapat menurunkan harga diri remaja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan harga diri remaja di Banjar Pengenderan Kedonganan-Kuta. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi dengan variable bebas yaitu pola asuh orang tua dan variable terikat yaitu harga diri remaja. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh remaja SMP di Banjar Pengenderan Kedonganan-Kuta sebanyak 75 responden dengan jumlah sampel sebanyak 63 responden yang diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner yang diolah dalam uji statistik non parametric menggunakan uji spearmen. Berdasarkan hasil penelitian hubungan pola asuh orang tua dengan harga diri remaja di Banjar Pengenderan Kedonganan-Kuta didapatkan data sebagian besar mendapatkan pola asuh otoriter dari orang tuanya yaitu sebanyak 34 orang (54%), selebihnya demokratis sebanyak 21 orang (33%) dan permisif sebanyak 8 orang (13%). Sebagian besar responden memiliki harga diri tinggi yaitu sebanyak 55 orang (87%) selebihnya 8 orang (13%) remaja memiliki harga diri rendah. Berdasarkan uji statistik menggunakan SPSS didapatkan hasil signifikan sebesar 0,01. Karena p < 0,05 maka H0 ditolak, kesimpulannya terdapat hubungan pola asuh orang tua dengan harga diri remaja di Banjar Pengenderan Kedonganan-Kuta. Pola asuh otoriter yang diterapkan oleh orang tua pada anaknya cenderung kearah yang positif seperti orang tua memaksa anaknya untuk belajar menari atau bermain gamelan sehingga anaknya memiliki bakat dan dapat meningkatkan harga dirinya. Kata kunci : Pola asuh, Harga diri

Page 1 of 1 | Total Record : 9