cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1 (2014)" : 8 Documents clear
POST SECTIO CAESARIAN CHORIOCARCINOMA RESISTED TO COMBINE CHEMOTHERAPY Ketut Suwiyoga, I Gde Sastra Winata,
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reported a case, 20 years old women diagnose with choriocarcinoma stage II with bidelfis uncials uterine, complained abnormal vaginal bleeding after 2 months post sectio caesaria. Done curettage with Anatomy Pathology examination result are rest pregnancy products. Two weeks after curettage, patient still complained vaginal bleeding. On physical examination found uterine enlargement appropriate 16-18 weeks, soft consistency. Positive pregnancy test with serum ?-hCG > 1500 mIU/ml. With ultrasonography seen duplex uterine, smaller at left uterine, at right uterine seen hypo-hyper echoic mass size 4x4 cm, was concluded as rest intrauterine pregnancy product and uterine duplex. After that was curettage with Anatomy pathology, the result is looks like choriocarcinoma. Patient was given combine chemoteraphy with Etoposide, Methotrexate (MTX), Actinomycin D (ACD), Cyclophosphamide, Oncovine (EMACO). After EMACO 3 series, the forth was delayed 1 month with increasing serum ?-hCG 38,43 mIU/ml. So this patient was diagnose with choriocarcinoma stage II post EMACO chemoteraphy 3 series (chemoresisten). Continued with hysterectomy supravaginal ( resection right delfis uterine) and give the EMACO 4th series. serum ?-hCG level was decrease to 0 mIU/ml after the EMACO 4th series. After the second EMACO the serum ?-hCG level also 0 mIU/ml, so we conclude this patient was remission.
EKSPRESI PROTEIN BCL-2 TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN DERAJAT DIFERENSIASI SEL PADA KANKER OVARIUM EPITELIAL Megadhana, Wayan
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker ovarium merupakan suatu keganasan di bidang ginekologi yang cukup banyak dijumpai di kalangan wanita. Sekitar 90 % dari kanker ovarium berasal dari jaringan epitelial. Berdasarkan penilaian mikroskopis, sel kanker ovarium epitelial dapat dibagi menjadi derajat diferensiasi baik, sedang, dan buruk. Ratusan gen terkait kanker telah ditemukan. Gen pengatur apoptosis merupakan salah satu gen yang penting karena dengan menurunnya proses apoptosis merupakan salah satu dari tujuh perubahan mendasar pada transformasi keganasan kanker. Mutasi sel pada gen yang mengatur proses apoptosis dapat menyebabkan sel kanker ovarium epitelial resisten terhadap apoptosis, sehingga sel dapat menyerupai atau gagal menyerupai sel normalnya. Salah satu gen yang berperan dalam proses apoptosis adalah gen Bcl-2. Overekspresi Bcl-2 dapat mencegah atau mengurangi kematian sel yang di induksi oleh berbagai macam stimulus. Dengan demikian maka dalam penelitian ini dilakukan untuk mencari hubungan antara ekspresi bcl-2 dengan derajat diferensiasi sel pada kanker ovarium epitelial   Penelitian ini merupakan studi cross-sectional di Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Patologi Anatomi dan Rekam Medis Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar yang dilakukan mulai Januari 2012 sampai bulan Desember 2013 dengan sampel penelitian sebanyak 51 buah blok parafin. Sampel blok parafin ini dikelompokkan berdasarkan derajat diferensiasi kanker ovarium epitelial yaitu derajat diferensiasi baik, sedang dan buruk. Masing-masing kelompok derajat diferensiasi kanker ovarium epitelial dilakukan pemeriksaan ekspresi protein bcl-2 dengan teknik imunohistokimia, yang kemudian dilakukan analisis hubungan antara ekspresi protein bcl-2 pada kanker ovarium epitelial pada derajat diferensiasi baik, sedang dan buruk dengan menggunakan uji Spearman.   Penelitian ini memperoleh rerata umur (P=0,217), paritas (P=0,809) dan Indek Massa Tubuh (IMT) (P=0,363), pada ketiga kelompok derajat diferensiasi kanker ovarium epitelial adalah homogen. Berdasarkan uji Spearman diperoleh tidak terdapat hubungan antara ekspresi protein bcl-2 dengan derajat diferensiasi sel pada kanker ovarium epitelial (r=0,217, P=0,127).  
KADAR PHOSPHORYLATED INSULIN GROWTH FACTOR BINDING PROTEIN-1 YANG TINGGI PADA SEKRET SERVIKS MENINGKATKAN RISIKO PERSALINAN PRETERM Suwardewa, Tjokorda G A
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan preterm adalah munculnya kontraksi uterus dengan intensitas dan frekuensi yang cukup untuk menyebabkan penipisan dan dilatasi serviks sebelum memasuki usia gestasi yang matang, antara umur kehamilan  20 sampai 37 minggu.Untuk mengetahui risiko persalinanan preterm pada kadar phIGFBP-1 yang tinggi pada sekret serviks dengan tes partus Actim.Penelitian ini menggunakan desain case control analitik. Jumlah sampel sebesar 56 sampel, dimana 26 sampel kasus persalinan preterm dan 26 sampel kontrol kehamilan preterm, yang dipasangkan (matching) dalam  hal umur  ibu, umur kehamilan dan paritas. Pengambilan spesimen dari sekret serviks dengan menggunakan swab dacron, kemudian dimasukkan ke dalam larutan ekstrak selama 10 detik. Larutan  ph IGFBP-1 diuji dengan dipstik partus Actim. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji Chi-Square (p < 0,01). Rasio Odds digunakan untuk menilai besarnya risiko dan analisis multivariat dengan regresi logistik.Uji Chi-Square antara phIGFBP-1 dengan risiko terjadinya persalinan preterm didapatkan nilai p=0,001. Hal ini berarti kejadian persalinan preterm pada kedua kelompok berbeda secara bermakna. Nilai Rasio Odds sebesar 10,39 (IK 95% = 2,73-39,56, p=0,001) yang berarti bahwa kadar phIGFBP-1 yang tinggi pada sekret serviks dapat meningkatkan risiko terjadinya persalinan preterm sebesar 10 kali.
KEHAMILAN DENGAN LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK Somadina Duarsa, Iswara
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehamilan pada ibu dengan penyakit Lupus Eritematosus sangat berhubungan dengan tingkat kesakitan dan kematian ibu dan janin, yang sampai saat ini masih menjadi salah satu indikator kesehatan nasional. Lupus Eritematosus Sistemik (LES) adalah penyakit inflamasi autoimun kronis akibat pengendapan kompleks imun yang tidak spesifik pada berbagai organ yang penyebabnya belum diketahui secara jelas, serta manifestasi klinis, perjalanan penyakit, dan prognosis yang sangat beragam. Penyakit ini terutama menyerang wanita usia reproduksi dengan angka kematian yang cukup tinggi. Faktor genetik, imunologik dan hormonal serta lingkungan diduga berperan dalam patofisiologi LES.Di bidang Obstetri penyakit ini dianggap penting karena LES dapat merupakan satu penyakit kehamilan, di mana mempunyai potensi untuk mengakibatkan kematian janin, kelahiran preterm, maupun kelainan pertumbuhan janin.Bayi yang lahir dari ibu yang mengidap LES dapat menyebabkan Lupus Eritematosus Neonatal, walaupun jarang (1: 20.000 kelahiran hidup). Risiko kematian ibu hamil yang menderita LES memiliki dampak 20x lebih tinggi karena komplikasi yang disebabkan oleh pre-eklampsia, thrombosis, infeksi dan kelainan darah.7 Mengingat manifestasi klinis, perjalanan penyakit LES sangat beragam dan risiko kematian yang tinggi maka penulis tertarik membuat sari pustaka ini, untuk bisa mengenali lebih awal ibu hamil dengan LES, melakukan perawatan antenatal, intranatal dan postnatal yang lebih komprehensif dan terarah pada kehamilan dengan lupus eritematosus.  
PERBANDINGAN ANTARA MGSO4 DAN NIFEDIPIN SEBAGAI TOKOLITIK PADA PRETERM LABOR Sindhu, Ida Bagus
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan preterm bertanggung jawab terhadap 75 hingga 90 persen morbiditas dan mortalitas perinatal yang berkaitan dengan kelainan kongenital, gangguan neurodeveleopmental, sepsis, perdarahan intraventrikular, respiratory distress sindrome, displasia bronkopulmonal, necrotizing enterocolitis dan retionopathy of prematurity. Persalinan preterm didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu. Walaupun alasan terjadinya keadaan ini belum diketahui secara pasti, hal ini berkaitan dengan faktor demografi seperti peningkatan usia maternal saat hamil dan peningkatan prevalensi diabetes mellitus.
TIDAK TERDAPAT PERBEDAAN YANG BERMAKNA ANTARA NILAI ABSOLUT CD4 DAN PERSENTASE CD4 IBU HAMIL TERINFEKSI HIV PADA TRIMESTER II DAN III DI RSUP SANGLAH Doster Mahayasa, Putu
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transmisi HIV dari ibu ke anak selama kehamilan memiliki nilai yang bervariasi, antara 15-40 % apabila tidak mendapatkan terapi. Sedangkan untuk transmisi melalui ASI diperkirakan dapat mencapai 30-40 %. Seroprevalensi HIV pada kehamilan menunjukkan tren yang meningkat dari tahun ke tahun, yaitu 0.7 % pada tahun 2003–2004 menjadi 0.9 % pada tahun 2005–2006. Nilai persentase CD4 merupakan faktor risiko independen dan dapat digunakan untuk memprediksi risiko terjadinya pertumbuhan janin terhambat (PJT) pada bayi dengan ibu positif HIV, sedangkan studi yang memakai nilai absolut CD4 gagal menunjukkan korelasi tersebut.   Pada kehamilan terjadi hemodilusi sebesar 40-50 % selama kehamilan dengan puncaknya pada usia kehamilan 32-34 minggu. Nilai absolut CD4 diduga dipengaruhi oleh besaran hemodilusi itu sendiri yang berbeda pada setiap Trimester kehamilan. Pengaruh hemodilusi pada persentase CD4 diduga tidak bermakna. Dengan demikian, penelitian tentang perbandingan antara nilai absolut CD4 dengan persentase CD4 Trimester II dan III pada ibu hamil terinfeksi HIV sangat penting dilakukan untuk melihat variasi dari nilai hitung absolut CD4 dan persentase CD4, sehingga dapat menetukan metode pemeriksaan yang tepat untuk untuk menilai status imun ibu hamil dengan HIV.   Penelitian dengan metode kohort dilakukan pada 20 wanita hamil Trimester II dan III dengan infeksi HIV untuk membuktikan pengaruh kehamilan terhadap variasi nilai hitung absolut CD4 dan persentase CD4 pada kehamilan dengan HIV Trimester II dan III. Hasil uji t-paired didapatkan nilai p > 0,05 pada kedua nilai CD4. Hal ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna pada rerata nilai CD4, baik absolut maupun persentase CD4 antara Trimester II dan Trimester III. Hasil uji chi-square dilakukan untuk menilai pengaruh kehamilan terhadap perubahan nilai absolut CD4 dan persentase CD4 pada kehamilan dengan HIV Trimester II dan III menunjukkan hasil yang tidak bermakna (RR = 1,00, IK 95% = 0,43-2,33, p=1,00). Nilai absolut CD4 dan persentase CD4 cenderung tidak mengalami fluktuasi yang bermakna selama kehamilan Trimester II dan III. Dapat dikatakan nilai absolut CD4 merupakan parameter yang dapat dipercaya dalam menilai status imun ibu hamil dengan HIV tanpa perlu melakukan pemeriksaan tambahan persentase CD4. Nilai hitung persentase CD4 kemungkinan memiliki nilai prediktor tersendiri dalam menilai status imun pasien hamil dengan HIV, apabila terdapat faktor lain di luar kehamilan yang dapat mempengaruhi nilai hitung absolut CD4.
PERAN KLINIS CA 125 PADA KANKER OVARIUM Sastra Winata, Gede
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu keganasan ginekologi yang cukup sering ditemui dan merupakan kanker ginekologi yang paling mematikan adalah kanker ovarium. Kanker ovarium merupakan kanker ginekologi terbanyak kedua dan berkontribusi sebesar 3% dari seluruh kanker pada wanita di Amerika Serikat. Kanker ovarium juga merupakan penyebab ke-5 terbanyak dari kematian wanita yang disebabkan oleh kanker. Di Indonesia kanker ovarium menempati urutan ke empat dengan angka kejadian 15 kasus per 100.000 wanita. Sedangkan di Rumah Sakit Sanglah angka kejadian kanker ovarium sebanyak 35% dari seluruh kanker ginekologi dengan angka harapan hidup selama 5 tahun hanya 15%. Dua per tiga dari kasus kanker ovarium ditemukan pada wanita dengan usia diatas 55 tahun. Karena kanker ovarium hanya sedikit yang menunjukkan gejala spesifik,  maka sekitar 70% kasus kanker ovarium saat terdiagnosis sudah berada pada stadium lanjut, hal ini berdampak pada tingginya angka mortalitas dari kanker ovarium. Pada stadium lanjut, angka 5-years survival rate dibawah 30%. Sebaliknya, jika terdiagnosis pada stadium I,  5-years survival rate meningkat drastis yakni sebesar 90%. Berbagai faktor yang berkaitan dengan reproduksi, genetik, dan faktor lingkungan dihubungkan dengan terjadinya kanker ovarium, diantaranya adalah nuliparitas, menars awal, menopause terlambat, ras kulit putih, peningkatan usia dan faktor genetik. Secara umum, faktor risiko diatas berhubungan dengan siklus ovarium yang tidak terputus selama masa reproduksi. Stimulasi yang berulang-ulang dari epitel permukaan ovarium dianggap dapat bertransformasi menjadi suatu keganasan. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, telah ditemukan tumor marker yang dianggap berhubungan dengan kanker ovarium, yakni CA-125. CA-125 atau disebut juga Cancer Antigen 125 atau Carbohydrate Antigen 125 pertama kali ditemukan oleh Bast dkk pada tahun 1981. CA-125 terdapat pada semua jaringan yang berasal dari derivat sel mesotel dan epitel coelomik, diantaranya pleura, perikardium, peritoneum, tuba, endometrium dan endoserviks. CA-125 merupakan tumor marker yang paling sering digunakan pada kanker ovarium, sering disebut sebagai “Gold Standard” untuk diagnosis kanker ovarium. Peranan CA-125 pada kanker ovarium sudah banyak diteliti, diantaranya adalah untuk deteksi dini, monitoring respon terapi, dan monitoring terjadinya rekurensi.
PERAN MRI DALAM DIAGNOSTIK KANKER SERVIKS Mayun Mayura, I G P
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Magnetic Resonance Imaging telah semakin digunakan dalam penentuan stadium kanker serviks , karena pada tahap awal penyakit ini kinerjanya dapat dibandingkan dengan temuan intraoperatif dan , pada stadium lanjut , hal itu menunjukkan lebih unggul evaluasi klinis . Selain itu , pencitraan resonansi magnetik menyajikan resolusi gambar yang sangat baik untuk kepadatan yang berbeda dari struktur panggul , tidak memerlukan radiasi pengion , nyaman bagi pasien , meningkatkan de penentuan stadium , memungkinkan deteksi dini kekambuhan dan identifikasi faktor-faktor prognostik yang handal yang berkontribusi proses pengambilan keputusan dan hasil prediksi terapi dengan efektivitas biaya yang sangat baik . Artikel ini ditujukan untuk mengkaji aspek yang paling penting dari pencitraan resonansi magnetik pada stadium kanker serviks . Saat ini, karsinoma serviks uterus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Meskipun kelangsungan hidup lebih lama dari pasien karena diagnosis awal dan terapi yang lebih efektif, penyakit ini masih tetap sebagai penyebab utama kematian terkait kanker perempuan di sebagian besar negara-negara berkembang (1). Karsinoma serviks adalah penyakit tumbuh lambat, biasanya menyerang vagina dan ruang paraserviks sepanjang parametrium dan ligamentum uterosakrum. Juga, kandung kemih, rektum, panggul dan kelenjar getah bening paraaortik dapat menyerang (2). Pola penyebaran panggul karsinoma serviks membatasi pemanfaatan bedah pengobatan untuk tahap awal penyakit ini, mengingat kurangnya margin keamanan dalam reseksi tumor yang mungkin sudah mempengaruhi ruang paraserviks. Penentuan stadium yang direkomendasikan oleh International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) diadopsi secara luas baik untuk perencanaan terapi dan terapi pasca-ikutan, namun telah terbukti tidak akurat dalam estimasi tingkat tumor yang sebenarnya. Namun, di negara berkembang, peralatan pencitraan dasar tidak selalu tersedia secara luas dalam pelayanan kesehatan, maka pemeriksaan ginekologi akhirnya menjadi alternatif utama untuk penentuan stadium karsinoma serviks. Keterlibatan parametrium  dievaluasi dengan pemeriksaan rektal merupakan parameter yang sering ciri karsinoma stadium lanjut (6). Kesalahan dapat terjadi, terutama akibat meremehkan jumlah penyakit sebagai konsekuensi dari keterbatasan pemeriksaan klinis-ginekologi (7) .

Page 1 of 1 | Total Record : 8