cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 2 (2014)" : 8 Documents clear
DESKRIPSI HISTOPATOLOGIK KANKER SERVIKS: ASPEK KLINIK Ketut Suwiyoga, I Gde Sastra Winata, I Nyoman Gede Budiana,
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, sampai saat ini belum ada standar nasional tentang deskripsi histopatologik pada kanker serviks. Hal ini terutama disebabkan oleh karena belum ada pertemuan antara onko-ginekologist dengan patologist. Selain itu, juga disebabkan oleh adanya perbedaan sarana dan prasarana masing-masing, serta adanya perbedaan penerapan kemajuan tentang mekanisme patogenesis, dan sumber daya manusia serta strategi di setiap senter/RS Pendidikan. Standar nasional ini bertujuan untuk menyamakan deskripsi histopatologik terkait dengan penanganan dan pasient safety dengan kendali mutu dan biaya. Deskripsi histopatologik pada kanker serviks diharapkan  memenuhi kebutuhan aspek klinis yang berkaitan dengan penanganan pasien, sehingga  diperlukan suatu konsensus antara onko-ginekologist dengan patologist. Konsensus standar nasional deskripsi histopatologik yang ideal berdasarkan mekanisme invasi dan metastasis kanker serviks. Deskripsi histopatologik kanker serviks meliputi deksripsi umum, dan deskripsi diagnostik. Deskripsi umum meliputi identitas, kondisi, jumlah, jenis prosedur, topografi, deskripsi jaringan yang singkat dan jelas, dan keterkaitannya dengan struktur disekitarnya. Sedangkan deskripsi diagnostik meliputi jenis histopatologis, derajat diferensiasi tumor, perluasan tumor, invasi, lymphatic vascular space invasion, status kelenjar getah bening, dan status batas/tepi reseksi.   Kata kunci: kanker serviks, invasi, metastasis, deskripsi histopatologik
PERBEDAAN KADAR INTERLEUKIN-6 DAN PROSTAGLANDIN E-2 SERUM PADA KEHAMILAN PRETERM DENGAN KETUBAN PECAH DINI DAN KEHAMILAN PRETERM NORMAL Teguh, Mintareja
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketuban Pecah Dini preterm masih merupakan penyebab tersering morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun janin di Indonesia. Hal ini terkait dengan terjadinya persalinan preterm, sepsis neonatorum serta kematian perinatal. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi ketuban pecah dini preterm melalui studi faktor risiko. Infeksi merupakan faktor risiko terbesar dimana sumber utama adalah infeksi ascenden vagina. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kadar IL-6 dan PGE2 serum pada kehamilan preterm dengan ketuban pecah dini dan kehamilan preterm yang normal. Metode Penelitian: Merupakan studi menggunakan rancangan cross-sectional analitik di bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar yang dilakukan pada tanggal 1 Januari 2014 sampai 15 Juli 2014. Sampel penelitian  adalah ibu hamil 20 - 37 minggu yang datang berkunjung ke Kamar Bersalin IRD dan Poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar, consecutive sampling dari populasi terjangkau setelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pada sampel dilakukan pengambilan sampel darah untuk diperiksa kadar serum IL-6 dan PGE2 dengan teknik ELISA di laboratorium RSUP Sanglah. Dilakukan uji normalitas dengan Shapiro – Wilk, uji homogenitas dengan Levene test dan uji komparatif dengan T-Independent  menggunakan bantuan SPSS 17 for windows® version. Hasil Penelitian: Rerata umur ibu, usia kehamilan, dan paritas pada kedua kelompok adalah homogen. Rerata kadar IL-6 pada kelompok Ketuban Pecah Dini Preterm adalah 23,49±24,61 dan rerata Kelompok Hamil Normal adalah 4,50±6,59 (nilai p = 0,002). Rerata kadar IL-6 pada ke dua kelompok berbeda secara bermakna (p < 0,05). Rerata kadar PGE2 Kelompok Ketuban Pecah Dini Preterm adalah 24,84±19,21 dan rerata Kelompok Hamil Normal adalah 9,19±4,33 (p = 0,001) Rerata kadar PGE2  pada ke dua kelompok berbeda secara bermakna (p < 0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan kadar IL-6  dan kadar PGE2 serum pada kehamilan preterm dengan ketuban pecah dini lebih dengan kehamilan preterm yang normal.
PERBANDINGAN EKSPRESI BCL-2 PADA TUMOR OVARIUM EPITELIAL TIPE JINAK, BORDERLINE, DAN GANAS Megadhana, Wayan
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumor ovarium merupakan masalah ginekologi onkologi di seluruh dunia dan keganasannya merupakan penyebab kematian terbanyak pada semua keganasan ginekologi. Pembagian tumor ovarium epitelial tipe jinak, borderline dan ganas menyebabkan keragaman karakteristik tumor sehingga menimbulkan kesulitan dalam penatalaksanaannya. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menemukan suatu marker yang dapat digunakan untuk deteksi dini, prognosis dan pedoman dalam penatalaksanaannya sehingga diharapkan dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas penderita. Beberapa peneliti melakukan pendekatan secara genetika untuk mengungkap etiopatogenesis terjadinya suatu tumor. Salah satu gen yang berperan dalam terjadinya suatu tumor adalah Bcl-2 yang merupakan protein yang mengekspresikan gen BCL2. Dengan demikian maka dalam penelitian ini dilakukan perbandingan ekspresi Bcl-2 pada tumor ovarium epitelial tipe jinak, borderline dan ganas. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional di Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Patologi Anatomi dan Rekam Medis Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar yang dilakukan mulai Maret 2012 sampai Desember  2013 dengan sampel penelitian sebanyak 49 buah blok parafin. Sampel blok parafin ini dikelompokkan berdasarkan atas tipe tumor ovarium epitelial yaitu tipe jinak, borderline dan ganas. Masing-masing kelompok tipe tumor dilakukan pemeriksaan ekspresi Bcl-2 dengan teknik imunohistokimia, yang kemudian dilakukan perbandingan ekspresi Bcl-2 pada tumor ovarium epitelial tipe jinak, borderline dan ganas dengan menggunakan uji Chi-Square. Penelitian ini memperoleh rerata umur, Indek Massa Tubuh (IMT) dan paritas pada ketiga  kelompok tipe tumor ovarium epitelial adalah homogen. Ekspresi Bcl-2 pada tumor ovarium epitelial tipe jinak, borderline dan ganas berturut-turut adalah 0%, 7,69% dan 35%. Berdasarkan uji Chi-Square diperoleh perbedaan ekspresi Bcl-2 pada tumor ovarium epitelial tipe jinak dengan ganas (p=0,009), tidak terdapat perbedaan ekspresi Bcl-2 pada tumor ovarium epitelial tipe jinak dengan borderline (p=0,448) dan tidak terdapat perbedaan ekspresi Bcl-2 pada tumor ovarium epitelial tipe borderline dengan ganas (p=0,082).  
SALINE INFUSION SONOHYSTEROGRAPHY PADA KELAINAN ENDOMETRIUM DAN TES PATENSI TUBA Doster Mahayasa, Putu
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transvaginal Sonography (TVS) uterus dan tuba telah berkembang menjadi prosedur diagnostik rutin untuk mengevaluasi kelainan – kelainan ginekologi. Telah banyak dibuktikan bahwa TVS sangat akurat dalam menemukan kelainan di kavum uteri dan tuba. Prosedur ini memiliki keuntungan di mana untuk pencitraan normal hampir tidak terdapat perbedaan interpretasi meskipun pemeriksaan dilakukan oleh operator yang berbeda. Namun akurasi diagnostiknya akan menurun jika digunakan untuk kasus abnormalitas dan inkonklusif. Di sisi lain, histeroskopi sering digunakan sebagai metode untuk evaluasi endometrium pada  pasien perdarahan uterus abnormal dan dinilai cukup efektif namun metode ini mahal dan invasif. Hysterosalphingography (HSG) dan Laparoskopi merupakan 2 metode klasik yang digunakan untuk tes patensi tuba, tetapi HSG memiliki kerugian antara lain merupakan prosedur yang tidak nyaman, terekspos terhadap radiasi dan meningkatkan risiko infeksi. Sementara itu Laparoskopi walaupun dapat memberikan gambaran anatomi pelvis lebih baik dari HSG tetapi tetap tidak dapat memberikan gambaran kavum uteri, invasif dan mahal, serta tidak dapat disingkirkan efek dari anestesi umum yang digunakan. Saline Infusion Sonohysterography (SIS) sudah diakui sebagai teknik yang baik dalam mengevaluasi kelainan kavum uteri, bahkan SIS dapat meningkatkan akurasi pemeriksaan TVS pada kasus abnormalitas dan inkonklusif.  Selain untuk mengevaluasi kavum uteri, SIS juga digunakan untuk tes patensi tuba pada kasus infertilitas. SIS memiliki kelebihan antara lain merupakan prosedur yang tidak invasif, sehingga meminimalisasi rasa tidak nyaman pada pasien serta bebas efek anestesi umum.
KAJIAN BIOMOLEKULER PADA PERSALINAN PRETERM AKIBAT INFEKSI Sudarsana, Putu
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan preterm didahului oleh berbagai mekanisme. Terdapat empat proses patologis yang terjadi pada persalinan preterm yaitu: 1) Infeksi dan atau inflamasi sistemik pada desidua-korion-amnionitik; 2) Stress maternal yang mengaktifkan aksis hipotalamus-pituitari-adrenal yang melepaskan CRH dan kortikosteroid; 3) perdarahan desidua dan abrupsi plasenta, dan 4) peregangan uterus yang berlebihan akibat polihidramnion atau kehamilan ganda yang menyebabkan peningkatan kadar prostaglandin dan kolagenase. Dampak infeksi bakteri, virus atau parasit bergantung pada virulensi mikroorganisme disamping juga interaksi antara sistem kekebalan tubuh inang. Tubuh inang akan mengembangkan faktor spesifik dan non-spesifik untuk melindungi diri dari patogen, sementara patogen mengeluarkan mekanisme untuk menghindari pertahanan dari inang. Pada kehamilan, proses pertahanan tubuh inang dipengaruhi oleh umur kehamilan, paparan maternal sebelumnya dan kekebalan tubuh, keanekaragaman respon imun individu baik pada bayi maupun ibu, efektifitas sawar plasenta dan perkembangan imunitas fetal. Proses persalinan menyerupai respons inflamasi yang mencakup sekresi sitokin/chemokines oleh tubuh dan infiltrasi sel imun ke jaringan reproduksi dan janin/ibu. Aktivasi jalur inflamasi ini mengarah ke persalinan preterm, yang dapat mengakibatkan terjadinya kelahiran preterm. Persalinan preterm adalah penentu utama morbiditas dan mortalitas neonatus, oleh sebab itu pemahaman proses persalinan di tingkat molekuler dan selular sangat penting untuk mengerti patofisiologi dari persalinan preterm.
PERBEDAAN KADAR SERUM C-REACTIVE PROTEIN PADA PRETERM INPARTU DENGAN PRETERM TIDAK INPARTU Surya Negara, Ketut
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan klinis tidak terbukti cukup sensitif dan spesifik dalam mencegah persalinan preterm. Diketahui bahwa peningkatan kadar serum maternal Interleukin-6 (IL-6) berkaitan inisisasi persalinan preterm. Interleukin-6  berperan sebagai perangsang utama respon protein fase akut, salah satu diantaranya adalah C- reactive protein (CRP). Untuk mengetahui kadar serum CRP pada preterm inpartu dan preterm tidak inpartu, serta untuk mengetahui perbedaan kadar serum preterm inpartu konservatif dan preterm inpartu yang gagal konservatif. Penelitian ini merupakan desain cross sectional analitik. Dari 64 sampel, didapatkan 32 kasus preterm inpartu dan 32 kasus preterm tidak inpartu setelah memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kadar serum CRP di laboratorium patologi klinik RSUP Sanglah. Dari data yang terkumpul, dilakukan pengujian normalitas data dengan Kolmogorov-Smirnov (K-S), setelah itu dilakukan analisis data dengan uji t-independent. Dari hasil analisis didapatkan rerata kadar CRP kelompok preterm inpartu adalah 26,99±44,45 dan rerata kelompok preterm tidak inpartu adalah 3,41±1,85. Analisis kemaknaan dengan uji t-independent didapatkan bahwa nilai t = 2,99 dan nilai p = 0,004. Hal ini berarti bahwa rerata kadar CRP pada kedua kelompok berbeda secara bermakna. Kemudian rerata kadar CRP kelompok preterm inpartu konservatif adalah 31,67±48,08 dan rerata kelompok preterm inpartu lahir adalah 6,15±7,50. Analisis kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan bahwa nilai t = 1,28 dan nilai p = 0,210. Hal ini berarti bahwa rerata kadar CRP pada kedua kelompok tidak berbeda. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa rerata kadar CRP kelompok preterm inpartu adalah 26,99±44,45 dan rerata kadar CRP kelompok preterm tidak inpartu adalah 3,41±1,85, di mana secara statistik berbeda bermakna. Dan tidak terdapat perbedaan bermakna antara preterm inpartu konservatif dengan preterm inpartu yang gagal konservatif.
PERAN MATRIX METALLOPROTEINASE PADA PEMATANGAN SERVIKS DALAM KASUS PERSALINAN PRETERM Suwardewa, Tjokorda G A
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan fundamental antara persalinan aterm dan persalinan preterm dihasilkan dari perbedaan aktivasi masing-masing common pathway, yang mana pada persalinan aterm, terjadi aktivasi fisiologis, sedangkan pada persalinan preterm terjadi aktivasi patologis. Common pathway of parturition artinya setiap kejadian klinis, perubahan biokimiawi, perubahan anatomi, imunologi dan endokrinologi yang terjadi baik pada ibu maupun janinnya pada persalinnan aterm atau persalinan preterm (Romero, 2009). Perubahan-perubahan klinis yang terjadi pada komponen uterus dalam common pathway tersebut antara lain, kontraksi myometrium, pematangan serviks, dan pecahnya membran janin. Pada persalinan preterm ketiga komponen ini harus terjadi secara sinkron. Ada kalanya ketiga hal di atas terjadi tidak sinkron, misalnya hanya kontraksi myometrium saja yang disebut premature contraction, bila hanya membran yang pecah disebut premature rupture of the membrane, sedangkan bila hanya terjadi dilatasi serviks disebut incompetent cervix (Romero, 2009).
PERANAN GLUTATHIONE PEROXIDASE SEBAGAI PENCEGAH TERJADINYA PREEKLAMPSIA Suastika, Made
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampai saat ini penyebab awal preeklampsia masih belum diketahui dengan jelas, sehingga  preeklampsia masih dikenal sebagai the disease of theories. Hipotesis mengenai penyebab preeklampsia yang telah diterima secara luas oleh para ahli mengenai munculnya sindroma klinis preeklampsia ini  salah satunya adalah teori iskemik plasenta yang disebabkan oleh kegagalan invasi tropoblas ke dalam arteri spirales, sehingga menyebabkan suplai darah uteroplasenta menjadi terganggu. Penurunan perfusi uteroplasenta menyebabkan terjadinya kelainan iskemia-hipoksia pada plasenta yang berakibat di produksinya radikal bebas berlebihan dalam sirkulasi maternal. Radikal bebas mempunyai efek toksik khusus yang akan merusak membran dan seluruh struktur sel pembuluh darah yang  di kenal sebagai disfungsi endothel yang selanjutnya akan berdampak pada kerusakan target organ vital tubuh dan menimbulkan berbagi sindroma klinis dari preeklampsia pada tubuh ibu hamil serta mempengaruhi kondisi janin. Bersamaan dengan terbentuknya radikal bebas/oksidant, dalam keadaan normal sistem pertahanan tubuh sebetulnya sudah mampu meredam radikal bebas atau oksidan yang timbul dengan cara memproduksi antioksidan dalam jumlah yang memadai. Tetapi apabila keseimbangan tersebut terganggu dimana oksidan atau radikal bebas diproduksi meningkat dalam jumlah yang melebihi kemampuan tubuh dan produksi antioksidan menurun maka kemungkinan besar akan  terjadi suatu  kerusakan biologis sel yang dikenal sebagai keadaan stres oksidatif.  Hal ini terjadi dalam tubuh akibat produksi Reactive oxygen species (ROS) yang berlebihan maupun akibat defisiensi antioksidan enzimatik dan non-ensimatik. ROS yang berlebihan akan merusak lipid seluler, protein maupun DNA dan menghambat fungsi normal sel. Antioksidan secara biologis mempunyai pengertian yang luas yaitu semua senyawa yang dapat meredam dampak negatif oksidan/radikal bebas, termasuk enzim dan protein pengikat logam. Salah satu antioksidan enzimatik yang penting di dalam tubuh dalam fungsinya sebagai pertahanan pertama terhadap radikal bebas adalah GPX. GPX merupakan enzimatik antioksidan dan selono-enzim yang berperan penting dalam mengatasi stres oksidatif yang berperan dalam pathogenesis terjadinya preeklampsia. Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui kadar aktivitas GPX pada ibu hamil dengan preeklampsia menunjukan hasil yang  cenderung menurun. Penelitian oleh Mystri, 2008 melakukan pengukuran level aktivitas GPX sebagai salah satu pertanda stres oksidatif dimana darah diambil dari darah vena umbilicalis plasenta pada ibu hamil dengan preeklampsia, hasilnya didapatkan penurunan kadar dan aktivitas dari GPX yang cukup signifikan pada ibu hamil dengan preeklampsia di bandingkan dengan ibu hamil normal.

Page 1 of 1 | Total Record : 8