cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 3 (2014)" : 8 Documents clear
PENATALAKSANAAN ADENOKARSINOMA IN SITU SERVIKS PADA KEHAMILAN Ketut Suwiyoga, I Gde Sastra Winata,
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adenokarsinoma in situ merupakan salah satu lesi premaligna serviks dan insidennya pada kehamilan cenderung meningkat dalam satu dekade terakhir. Tata laksana adenokarsinoma in situ (AIS) serviks pada kehamilan belum banyak dijelaskan secara terinci pada kepustakaan yang ada saat ini. Oleh karenanya, penting untuk mengetahui bagaimana perjalanan progresifitas AIS dan tata laksana yang sesuai, agar memberikan luaran yang optimal, baik untuk ibu maupun bayi. Tata laksana adenokarsinoma in situ serviks pada kehamilan terbagi atas tata laksana konservatif dan tata laksana invasif. Tata laksana konservatif dikerjakan dengan pengawasan secara berkelanjutan dan dijadwalkan pap smear atau kolposkopi serial. Sedangkan tata laksana invasif dikerjakan dengan melakukan konisasi. Kedua bentuk tata laksana ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah didapatkan perburukan atau tidak. Selanjutnya, AIS pada kehamilan yang ditata laksana  secara konservatif, terapi definitifnya dikerjakan setelah persalinan. Setiap pilihan terapi yang dikerjakan akan memberikan dampak pada ibu maupun bayi. Oleh karenanya, penting untuk mendiskusikan dengan pasien setiap pilihan tata laksana yang akan dikerjakan.   Kata kunci: adenokarsinoma in situ serviks, kehamilan
PERANAN BRACHYTHERAPY SEBAGAI TERAPI PADA KANKER SERVIKS Mayun Mayura, I G P
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker serviks merupakan suatu keganasan memiliki insiden rendah di Eropa Barat dan Amerika Utara tetapi masih tinggi insidennya di negara berkembang. Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16,18,31,33 memainkan peran penting dalam terjadinya kanker serviks dan ditemukan pada 90 % dari semua wanita dengan kanker serviks. Dalam beberapa dekade terakhir, peningkatan insiden kanker serviks terutama terjadi pada wanita muda berusia 35-55 tahun. Sebanyak 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke uterus. Gejala tergantung pada tahap penyakit yaitu penyakit tanpa gejala pada awal penyakit dan berbagai gejala seperti keputihan dan perdarahan pada penyakit lanjut sesuai dengan ekstensi tumor pada individu. Faktor prognosis yang paling penting adalah ukuran tumor, ekstensi tumor, dan keterlibatan kelenjar getah bening. Terapi kanker serviks dilakukan bila mana diagnosis telah dipastikan secara histologik dan sesudah dikerjakan perencanaan yang matang oleh tim yang sanggup melakukan rehabilitasi dan pengamatan lanjutan (tim kanker/tim onkologi). Pemilihan pengobatan kanker serviks tergantung pada ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum, dan rencana penderita untuk hamil lagi. Standar pengobatan kanker serviks meliputi pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi. Pengobatan kanker serviks stadium IB dan IIA tergantung ukuran tumornya. Bila ukuran tumor tidak melebih 4 cm, disarankan radikal histerektomi ataupun radioterapi dengan/tanpa kemo. Bila ukuran tumor lebih dari 4 cm, pasien disarankan menjalani radioterapi dan kemoterapi berbasis cisplatin, histerektomi, ataupun kemo berbasis cisplatin dilanjutkan dengan histerektomi. Salah satu dari terapi radiasi yang sedang dikembangkan saat ini yaitu brachytherapy. Brachytherapy memainkan peran penting dalam pengobatan semua kanker serviks invasif. Dalam pengobatan radikal, brachytherapy biasanya dikombinasikan dengan radioterapi eksternal, tetapi juga dapat dikombinasikan dengan aplikasi/ penanaman sebelum dan/atau pasca operasi. Baru-baru ini, radioterapi telah digabungkan dengan kemoterapi berbasis platinum simultan pada kanker serviks stadium IB hingga IVA. Brachytherapy terutama diterapkan sebagai prosedur intrakavitari, pada kasus tertentu dilengkapi dengan implan interstitial. Brachytherapy radikal untuk kanker serviks selalu didasarkan pada penggunaan sumber intrauterin dan intravaginal.
AKURASI CARIK CELUP URIN UNTUK MENDETEKSI BAKTERIURI ASIMTOMATIS PADA KEHAMILAN PRETERM Suwardewa, Tjokorda G A
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakteriuri asimtomatis adalah adanya bakteri lebih dari 105 CFU /ml  pada urin tanpa disertai gejala klinik, hal ini dapat menyebabkan terjadinya persalinan preterm apabila tidak terdeteksi dan diobati. Kultur urin adalah baku emas untuk mendiagnosis bakteriuri asimtomatis, namun pemeriksaan ini mahal dan sulit dikerjakan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kepekaan carik celup urin untuk mendeteksi bakteriuri asimtomatis pada kehamilan preterm. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah memberikan metode skrining yang lebih cepat, murah dan akurat dalam mendeteksi bakteriuri asimtomatis. Desain pada penelitian ini adalah uji diagnostik, melibatkan 88 orang wanita hamil  preterm yang datang ke Poliklinik atau IRD Kebidanan dan Kandungan RSUP Sanglah dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.            Dengan analisis tabel 2x2 didapatkan carik celup urin memiliki sensitivitas 84,21%, spesifisitas 81,16%, nilai prediktif positif 55,17%, nilai prediktif negatif 94,92%, nilai likelihood ratio positif 4,47, nilai likelihood ratio negatif 0,19 dan akurasi sebesar 81,82%. Dari hasil tersebut disimpukan carik celup urin dapat digunakan untuk mendeteksi adanya bakteriuri asimtomatis pada kehamilan preterm, terutama pada daerah dengan sumber daya terbatas.
TERDAPAT PERBEDAAN EKSPRESI HER-2/NEU PADA KANKER OVARIUM DERAJAT DIFERENSIASI BAIK DAN BURUK Mega Putra, Gede
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker ovarium masih menjadi masalah kesehatan di dunia terkait dengan insiden dan mortalitasnya. HER-2/neu  merupakan salah satu faktor yang diduga berperan dalam mekanisme karsinogenesis kanker ovarium epithelial. Penelitian ini merupakan studi cross-sectionaldi Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Patologi Anatomi dan Rekam Medis Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar yang dilakukan mulaiJuli 2011 sampai Juli 2013 dengan sampelpenelitian sebanyak 44 buah blok parafin. Sampel blok parafin ini dikelompokkan berdasarkan atas derajat diferensiasi kanker ovarium, yaitu: kanker ovarium derajat diferensiasi baik, sedang, dan buruk. Kemudian masing-masing kelompok stadium dilakukan pemeriksaan ekspresi HER-2/neu dengan teknik imunohistokimia. Selanjutnya dilakukan penilaian perbedaan ekspresi HER-2/neu pada  kanker ovarium derajat diferensiasi baik,sedang, dan buruk Uji Chi-square. Penelitian ini memperoleh adanya perbedaan ekspresi HER-2/neu pada kanker ovarium derajat diferensiasi baik dan buruk (p =0,034). Sedangkan pada analisis statistik ekspresi HER-2/neu pada kanker ovarium derajat diferensiasi baik dan sedang (p =0,330) demikian pula ekspresi HER-2/neu pada kanker ovarium derajat diferensiasi sedang dan buruk (p =0,358) masing-masing tidak terdapat perbedaan. Disimpulkan bahwa terdapat perbedaan ekspresi HER-2/neu pada kanker ovarium derajat diferensiasi baik dan buruk.
HUBUNGAN ANTARA DIAMETER FOLIKEL DENGAN MATURITAS INTI OOSIT PADA SIKLUS ANTAGONIS FERTILISASI IN VITRO Wardhiana, I P G
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu tahap dalam fertilisasi in vitro adalah seleksi oosit matur yang akan digunakan dalam fertilisasi. Dalam menentukan folikel terbaik agar klinisi mampu mendapatkan oosit matur dan berkualitas untuk keberhasilan program FIV tentunya dibutuhkan petunjuk praktis dalam menentukan saat dimulainya stimulasi siklus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara diameter folikel kecil (< 18 mm) maupun besar (> 18mm) dengan  maturitas inti oosit pada siklus antagonis FIV. Rancangan penelitian ini observasional analitik (cross-sectional) yang dilaksanakan di Klinik Bayi Tabung Graha Tunjung, RSUP Sanglah, Denpasar. Sampel penelitian adalah folikel-folikel yang mengandung inti oosit (61 Folikel), dilakukan dengan cara consecutive sampling mulai 1 September 2011 - 31 Agustus 2012. Data dianalisis memakai uji Chi Square dengan software SPSS for windows 17.0 version. Sejumlah 61 sampel diukur diameternya dengan menggunakan TVS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara diameter folikel dengan maturitas inti oosit pada siklus antagonis FIV secara bermakna dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,324.
PERBEDAAN KADAR INTERLEUKIN-8 SERUM PADA PERSALINAN PRETERM DAN PERSALINAN ATERM Raka Budayasa, A A G
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20 sampai 37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. Interleukin-8 (IL-8) mengambil peran dalam terjadinya persalinan preterm melalui proses pematangan servik. Pada persalinan aterm, terjadi proses serupa tetapi sekresi interleukin-8 lebih tinggi pada persalinan preterm. Untuk mengetahui perbedaan kadar interleukin-8 pada persalinan preterm dan persalinan aterm. Penelitian ini merupakan desain cross sectional analitik dengan 68 sampel, dimana 29sampel dengan persalinan preterm dan 39sampel dengan persalinan aterm.Kadar interleukin-8 diperiksa di Laboratorium Prodia Denpasar. Uji analisis yang digunakan adalah dengan t-independent sample test dengan tingkat kemaknaan ?= 0,05. Rerata kadar interleukin-8 pada kelompok persalinan pretermadalah 23,56 ± 10,69 pg/ml, sedangkan pada kelompok persalinan aterm sebesar 12,19 ± 5,79 pg/ml.Analisis kemaknaan dengan t-independent sample test didapatkan nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa rerata kadar interleukin-8 pada kedua kelompok berbeda bermakna. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa kadar interleukin-8 serum pada persalinan preterm lebih tinggi daripada persalinan aterm dan perbedaan tersebut secara statistik bermakna. 
PERBEDAAN KADAR ANTI OKSIDAN ENZIMATIK KATALASE PADA KEHAMILAN YANG MENGALAMI ABORTUS IMINENS DAN KEHAMILAN TRIMESTER PERTAMA NORMAL Suardika, Anom
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk mengetahui perbedaan kadar antioksidan enzimatik katalase pada abortus imminen dan kehamilan trimester pertama normal. Penelitian cross sectional yang dilaksanakan di Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/ RSUP Sanglah Denpasar selama periode Desember 2011 sampai dengan Desember 2012,dimana terkumpul 76 sampel darah terdiri atas 30 orang sampel kehamilan normal dan 46 orang sampel abortus imminens.Data tersebut kemudian dianalisa deskriptif dan uji normalitas dengan Saphiro Wilk test. Komparabilitas karakteristik dengan uji t-independent untuk variabel umur ibu, umur kehamilan dan paritas serta perbedaan rerata kadar antioksidan enzimatik katalase antara abortus imminens dan kehamilan trimester pertama normal diuji dengan t-independent. Rerata umur ibu pada kelompok abortus imminen adalah 27,59 tahun (SD 5,40) dan pada kelompok kehamilan normal adalah 30,27 (SD 6,70), secara statistik tidak berbeda bermakna (p>0,05). Rerata paritas ibu pada kelompok abortus imminen adalah 0,96 (SD 1,11) dan pada kelompok kehamilan normal adalah 1,07 (SD 1,02), secara statistik tidak berbeda bermakna (p>0,05). Sementara itu rerata umur kehamilan pada kelompok abortus imminen adalah 8,63 minggu (SD 1,78) dan pada kelompok kehamilan normal adalah 9,13 (SD 2,29), secara statistik tidak berbeda bermakna (p>0,05). Pada perhitungan rerata kadar antioksidan enzimatik katalase pada kelompok kehamilan normal sebesar 822,50  ng/ml (SD 30,29), sedangkan rerata kadar antioksidan enzimatik katalase pada kelompok abortus imminen sebesar 629,70 ng/ml (SD 13,49). Dengan demikian didapatkan perbedaan rerata antara kelompok abortus imminen dan hamil normal adalah 192,81 (SD 5,17), di mana hasil kedua kelompok ini berbeda secara bermakna (p<0,001). Terdapat perbedaan rerata kadar antioksidan enzimatik katalase pada abortus imminen dan kehamilan trimester pertama normal.
KADAR SUPEROXIDE DISMUTASE SERUM YANG RENDAH SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERJADINYA ABORTUS INKOMPLIT TRIMESTER PERTAMA Suyasa Jaya, Made
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abortus merupakan komplikasi kehamilan pada trimester pertama. Angka kejadian abortus spontan tinggi sejak saat konsepsi dimana sebagian besar kejadian tersebut tanpa disadari karena diduga suatu haid biasa. Abortus inkomplit merupakan abortus dimana sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri. Penyebab pasti abortus tidak selalu jelas,tetapi stres oksidatif yang terjadi pada proses plasentasi diperkirakan sebagai penyebab. Superoxide dismutase (SOD) merupakan antioksidan enzimatis yang penting dalam mengatasi stres oksidatif karena berperan dalam mengkonversi radikal bebas anion superoksida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran SOD serum pada abortus inkomplit. Manfaat dari penelitian ini diharapkan ditemukan suatu metode pencegahan insiden abortus. Desain pada penelitian ini berupa studi kasus-kontrol yang melibatkan 72 orang wanita yang dikelompokkan menjadi 36 orang kasus abortus inkomplit dan 36 orang hamil muda usia kehamilan kurang dari 14 minggu sebagai kontrol yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, yang datang ke Rumah  Sakit Sanglah Denpasar. Dilakukan pemeriksaan serum darah untuk mengetahui kadar SOD serum pada kedua kelompok dengan metode Elisa. Berdasarkan uji t-independent diperoleh hasil yaitu tidak terdapat perbedaan bermakna dalam hal umur ibu, umur kehamilan dan paritas antara kelompok kasus abortus inkomplit dan kelompok kontrol yaitu hamil muda usia kehamilan kurang dari 14 minggu (p>0.05). Terdapat perbedaan (p<0.05) yang secara signifikan bermakna antara kadar SOD serum pada abortus inkomplit (4,06 ±0.49) dan hamil muda normal usia kehamilan kurang dari 14 minggu (5,49 ±1,52). Dengan uji Chi-Square diperoleh nilai rasio odds (RO=17,5;IK95%=5,39-56,78,p=0,001) Berdasarkan kurva ROC diperoleh nilai cut of point kadar SOD serum adalah sebesar 4,31U/ml. Kadar SOD serum ? 4,31U/ml pada wanita hamil muda usia kehamilan kurang dari 14 minggu memiliki risiko untuk terjadinya abortus inkomplit sebesar 17,5 kali.

Page 1 of 1 | Total Record : 8