cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 5 (2015)" : 8 Documents clear
HUBUNGAN ANTARA KADAR CD4 DENGAN LESI PRAKANKER SERVIKS PADA WANITA TERINFEKSI HIV Jaya Kusuma, AAN.
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 3, No 5 (2015)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Virus HIV ialah RNA virus yang termasuk lentivirus famili retrovirus, menyerang komponen sistem imun manusia, yakni sel limfosit T-CD4, makrofag, dan sel langerhans. Infeksi dari virus ini akan menyebabkan kadar sel CD4 semakin lama semakin menurun melalui mekanisme tertentu. Pada saat kadar CD4 mencapai kadar kurang dari 200 sel/mm³, maka terjadilah kegagalan fungsi dari sistem imun sebagai proteksi, yang pada akhirnya akan membuat tubuh lebih mudah terserang infeksi oportunistik dan keganasan, keadaan  inilah yang disebut dengan AIDS (Nasronudin, 2007). Angka kejadian HIV/AIDS di Indonesia terus meningkat dan telah terjadi fenomena gunung es, jumlah penderita yang ada lebih banyak daripada yang dilaporkan. Hal ini dapat terlihat dari perbedaan pelaporan jumlah penderita HIV/AIDS antara Badan Intel CIA Amerika Serikat dengan Ditjen PPM & PL Depkes RI. Menurut Badan Intel CIA Amerika Serikat, di Indonesia, jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) pada tahun 2007 adalah sebesar 270.000 kasus yang menduduki peringkat ke-25 di dunia dengan angka kematian dilaporkan sebanyak 8.700 kasus yang merupakan peringkat ke-36 di dunia. Sedangkan dari data yang didapatkan pada Ditjen PPM & PL Depkes RI, angka kematian oleh karena AIDS dari tahun 1987 sampai dengan tahun 2009 adalah 3806 kasus. Propinisi Bali merupakan propinsi dengan prevalensi AIDS terbanyak ke-dua sampai dengan bulan Agustus 2010 sebesar 49,16%. Populasi umur 20-29 tahun adalah populasi terbanyak pengidap HIV/AIDS dan lebih dari 25% penderita AIDS adalah wanita. Pada tahun 1993, US Centers for Disease Controls (CDC) melaporkan bahwa Kanker serviks merupakan kanker yang paling banyak (1,3%) ditemukan pada para wanita penderita AIDS sehingga Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menambahkan kanker serviks sebagai salah satu kategori klinis dari stadium AIDS. Dibandingkan dengan keganasan lain yang terjadi pada penderita AIDS, kanker serviks dilaporkan memiliki keadaan klinis dan status imun yang lebih baik (Maiman et al, 1997). Oleh karena itu, diagnosa kanker serviks sering terlambat ditegakkan maupun terlewatkan dan kanker serviks didapatkan tiga kali lebih banyak pada wanita yang terinfeksi HIV dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi (Chiasson et al, 1998). Kanker serviks sendiri merupakan kanker yang terbanyak kedua yang terjadi pada wanita di dunia, hampir 80% di antaranya terjadi di negara berkembang. Hal ini disebabkan karena belum adanya program skrining untuk kanker serviks (Chirenje, 2005). Angka kejadian kanker serviks di Amerika Serikat telah berkurang sebanyak 70% karena adanya program skrining nasional sehingga lesi prakanker serviks dapat terdeteksi dan diterapi lebih dini (Stier et al, 2003). Program skrining kanker serviks pada wanita yang terinfeksi HIV berbeda dengan wanita yang tidak terinfeksi. Program skrining pada wanita yang terinfeksi HIV menurut CDC Amerika Serikat tahun 2006, dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun setelah seseorang dinyatakan terinfeksi HIV, sedangkan di Indonesia sampai saat ini belum ada pedoman untuk skrining kanker serviks pada wanita yang terinfeksi HIV. Seperti yang telah diketahui, etiologi dari lesi prakanker serviks dan kanker serviks adalah infeksi laten dari virus HPV (Human PapilommaVirus) pada serviks uteri. Infeksi HPV terdeteksi pada 99,7% kanker serviks. Virus HPV berdasarkan risiko menyebabkan kanker terdiri atas 3 klasifikasi, yaitu risiko tinggi, kemungkinan risiko tinggi, dan risiko rendah. Kelompok risiko tinggi adalah HPV tipe 16 dan 18, sedangkan risiko rendah adalah HPV tipe 6 dan 11 (Andrijono, 2009). Hubungan antara infeksi kedua virus, yakni HPV dan HIV merupakan hal yang unik, kedua hal tersebut terjadi pada wanita yang memiliki gaya hidup sosial berisiko tinggi, seperti hubungan seksual yang dimulai sejak usia muda, berganti-ganti pasangan seksual, dan wanita dengan pasangan seksual yang berisiko tinggi. Jenis HPV yang banyak menginfeksi pada penderita HIV merupakan HPV risiko tinggi, yaitu HPV tipe 18 (Johnson et al, 1992). Hal ini disebabkan karena sistem imun pada penderita HIV tidak dapat berfungsi dengan baik untuk melawan virus HPV tersebut sehingga timbulah lesi prakanker serviks (Bucccalon et al, 1996). Wanita yang terinfeksi HIV mempunyai risiko dua hingga dua belas kali lebih banyak didapatkannya lesi prakanker serviks daripada yang tidak terinfeksi (Chirenje, 2005). Prevalensi lesi prakanker serviks pada wanita yang terinfeksi HIV di Spanyol sebesar 17,7 % dan 40% pada wanita yang telah memasuki stadium AIDS, sedangkan pada wanita yang tidak terinfeksi HIV sebesar 3,08%. Gangguan pada sistem imun tubuh yang terjadi akibat infeksi dari virus HIV merupakan penyebab tingginya prevalensi terjadinya lesi prakanker serviks (Careras et al, 1997). Indikator yang digunakan dalam menentukan status imun pada penderita HIV adalah jumlah limfosit T – CD4. Sampai pada saat ini, hubungan antara CD4 dengan prevalensi terjadinya lesi prakanker serviks masih menimbulkan kontroversi. Pada sebuah penelitian di Bordeaux, Perancis yang mencari hubungan antara kejadian lesi prakanker serviks pada wanita yang terinfeksi HIV dengan faktor-faktor risikonya, dilaporkan prevalensi lesi prakanker serviks pada wanita yang memiliki kadar limfosit T – CD4 > 500/mm³ sebesar 13,6% sedangkan pada limfosit T – CD4 < 500/mm³ sebesar 38,7%. Pada penelitian ini dapat terlihat bahwa semakin rendahnya status imun penderita HIV, semakin tinggi prevalensi terjadinya lesi prakanker pada serviks (Hocke et al, 1998). Sedangkan pada penelitian di Italia, yang mencari hubungan kadar CD4 dengan prevalensi terjadinya lesi prakanker serviks pada pasien HIV melaporkan bahwa tidak didapatkannya hubungan antara penurunan jumlah CD4 dengan peningkatan prevalensi maupun derajat dari lesi prakanker serviks (Sopracordevole et al, 1994) Hubungan antara status imun tubuh wanita yang terinfeksi HIV dengan kejadian lesi prakanker pada serviks sangatlah menarik untuk dilakukan penelitian, mengingat penelitian ini masih merupakan suatu kontroversi dan belum pernah dilakukan di Indonesia, khususnya di Propinsi Bali. Sampai saat ini di Indonesia belum didapatkan pelaporan mengenai prevalensi lesi prakanker serviks pada wanita yang terinfeksi HIV. Sedangkan program standar skrining kanker serviks pada wanita yang terinfeksi HIV juga belum dijumpai di Indonesia.
HUBUNGAN INFEKSI HIV DENGAN LESI PRAKANKER SERVIKS Sudirtayasa, Wayan
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 3, No 5 (2015)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

merupakan suatu sindroma yang disebabkan oleh infeksi HIV, ditandai dengan terjadinya suatu immunosupresi yang pada akhirnya menyebabkan renatannya tubuh terhadap infeksi opurtunistik, keganasan, wasting syndrome, dan degenerasi sistem saraf pusat. Berbagai sel dapat menjadi sel target dari HIV yaitu CD4, makrofag, dan sel dendritik, akan tetapi HIV virion cenderung menyerang limfosit T. Hal ini dikarenakan pada permukaan limfosit T terdapat reseptor CD4 yang merupakan pasangan  ideal bagi gp 120 pada permukaan envelope dari HIV. Dengan berbagai proses kematian limfosit T tersebut terjadi penurunan jumlah CD4 secara dramatis dari normal yang berkisar 600-1200/mm³ menjadi 200/mm³ atau lebih rendah lagi. Semua mekanisme tersebut menyebabkan penurunan sistem imun sehingga pertahanan individu terhadap mikroorganisme patogen menjadi lemah dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi sekunder sehingga masuk ke stadium AIDS. Pada keadaan dimana sistem immunitas tertekan pada penderita HIV, infeksi virus-virus onkogenik seperti Epstein-Barr virus (EBV), Human Papilloma Virus (HPV), Hepatitis B Virus (HBV), dan Herpes Simplex Virus (HSV) seringkali ditemukan dan virus-virus ini dapat menginfeksi sel-sel target yang spesifik dan menyebabkan proliferasi polyclonal. Pada penderita HIV, insidens ditemukannya abnormalitas hasil pemeriksaan sitologi dan histologi yang disebabkan HPV pada traktus urogenitalis bawah lebih tinggi dibandingkan pada yang tidak terinfeksi HIV. Jenis HPV yang banyak menginfeksi pada penderita HIV merupakan HPV tipe risiko tinggi yang menyebabkan lesi prakanker serviks yaitu tipe 16. Risiko berkembangnya lesi prakanker serviks pada penderita HIV meningkat lima kali lebih banyak, dan immunosupresi yang disebabkan oleh infeksi HIV merupakan peran utama dari patogensis penyakit ini. Selain menyerang sel CD4, virus HIV juga menyerang komponen sistem imun selular lainnya yaitu sel langerhans yang terletak pada epidermis dan mukosa saluran gastrointestinal dan genitalia. Sel langerhans merupakan antigen presenting cell yang spesifik untuk sel CD4. Sel langerhans ini berperan pada saat masuknya virus HIV melalui mukosa, yakni pada saat penularan melalui hubungan seksual. Virus HIV yang masuk melewati mukosa akan ditangkap oleh sel langerhans yang selanjutnya akan dibawa ke kelenjar getah bening lokal yang akhirnya akan direspon oleh sel CD4. Ketika sel langerhans dan sel CD4 yang terinfeksi oleh virus HIV, fungsi dari sel-sel tersebut akan hilang. Sel Langerhans pada epitel mulut rahim ini juga berperan untuk mengambil memproses, dan mentransportasi HPV ke kelenjar getah bening pelvis kemudian menuju ke mulut rahim. Di sini terjadi induksi sel T dan respons CTL melawan HPV secara umum. Sel Th-1 yang mensekresi IFN-? bersama dengan dengan antibodi penetral akan mengontrol infeksi virus yang menyebabkan pecahnya sel dengan menghambat pembentukan virus yang menginfeksi sel sekitar. Interaksi antara infeksi virus HPV dan HIV merupakan interaksi yang kompleks karena sistem imun yang berperan pada kedua virus ini saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Pada saat virus HIV telah menginfeksi seseorang dan menyebabkan kegagalan dari fungsi sistem imun spesifik, tubuh tidak dapat melawan adanya suatu infeksi peristen dari HPV dan HIV gene (tat protein) dapat menimbulkan ekspresi onko protein E6 dan E7 dari HPV yang akhirnya meningkatkan perkembangan sifat onkogenik dari HPV. Sampai pada saat ini masih belum didapatkan konsensus mengenai penanganan lesi prakanker serviks pada penderita HIV. Masih banyak penelitian-penelitian yang dilakukan untuk penanganan lesi prakanker serviks. Terapi surgikal lebih dianjurkan dibandingkan dengan terapi ablatif pada penanganan lesi prakanker serviks dengan infeksi HIV.
KADAR INTERLEUKIN-8 SERUM IBU PADA KEHAMILAN PRETERM DENGAN KETUBAN PECAH SPONTAN DAN KETUBAN TIDAK PECAH Fajar Manuaba, I B G
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 3, No 5 (2015)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan preterm sampai saat ini masih merupakan masalah yang utama khususnya pada bagian obstetri dan perinatologi, oleh karena baik di negara berkembang maupun negara maju penyebab morbiditas dan mortalitas neonatus tertinggi adalah akibat adanya bayi yang lahir preterm,  dimana kurang lebih 75% dari kematian neonatus disebabkan oleh karena bayi yang lahir preterm (Goldenberg, 2000). Ketuban pecah dini ( KPD) preterm dikaitkan dengan 30-40% kelahiran prematur dan diidentifikasi penyebab utama kelahiran prematur, dan terjadi pada sekitar 150.000 kehamilan setiap tahun di Amerika Serikat. Ketika KPD preterm terjadi, risiko yang signifikan terjadi baik untuk janin dan ibu. Kelahiran prematur merupakan masalah yang cukup besar mengingat akan besarnya angka morbiditas dan mortalitas perinatal. Delapan puluh lima persen dari morbiditas dan mortalitas neonatal dikarenakan akibat prematuritas (Goldenberg, 2000). Ketuban pecah dini preterm adalah pecahnya selaput ketuban secara spontan sebelum saatnya persalinan dan terjadi saat usia kehamilan sebelum mencapai 37 minggu. Adapun beberapa faktor risiko terjadinya ketuban pecah spontan pada kehamilan preterm, antara lain: adanya riwayat persalinan preterm, infeksi, kehamilan kembar dan solusio plasenta (Cunningham, 2005).   Penyebab dari KPD preterm dan persalinan preterm sering kali tidak diketahui secara pasti. Berbagai penelitian telah memperoleh bahwa infeksi memegang peranan kurang lebih 25-40% dari seluruh persalinan preterm. Invasi mikroorganisme ke dalam cairan amnion terjadi 12,8%  pada persalinan preterm dengan selaput ketuban utuh dan 32% pada selaput ketuban pecah dini preterm, dan 51% terjadi pada pasien dengan insufisiensi servik (Creasy, 2009). Beberapa konsep yang menjelaskan penyebab terjadinya persalinan preterm pada dasarnya selalu dihubungkan dengan kejadian-kejadian infeksi didalam cairan amnion, utero-placental ischemia, regangan uterus yang berlebihan, kelainan-kelainan endokrin dan suatu tanggap kebal (immune response) yang tidak normal dari ibu maupun janin. Lockwood mengemukakan tentang hubungan antara kejadian persalinan preterm tersebut dengan proses keradangan yang terjadi pada jaringan desidua, korion dan amnion (Lockwood, 2001). Informasi tentang peran sistem kekebalan dalam mekanisme dan persalinan masih sangat kurang. Beberapa penulis mengemukakan tentang peran sistim kekebalan dan interaksi melalui sistim parakrin dan endokrin pada mekanisme terjadinya persalinan preterm. Yang paling mendapat perhatian adalah hubungan antara ekspresi dan efek dari sitokin. Sitokin mempunyai peran dalam tanggap kebal dan saat ini merupakan mediator dalam sistim reproduksi. Interaksi antar sitokin seperti tumor necroting factor ? (TNF-?), interleukin 1 (IL-1), IL-6, IL-8 dan aktivitasnya pada metabolisme asam arakhidonat mungkin mengambil peran dalam hubungan antar infeksi dan persalinan preterm (Muray et al, 2005; McClatchey, 2002). Seiring kemajuan di bidang ilmu kedokteran modern, berbagai penelitian mencurahkan perhatian kepada usaha-usaha untuk dapat menemukan tanda infeksi intra uterin pada wanita hamil yang bisa diperiksa dari cairan amnion, lendir serviks atau vagina dan dari serum ibu. Salah satu petanda infeksi/inflamasi pada kehamilan disini adalah sitokin. Pada pasien-pasien dengan gejala klinis persalinan preterm dan KPD menunjukan peningkatan berbagai sitokin di dalam serum maternal. Sehingga diperkirakan sitokin memainkan peranan penting dalam inisiasi persalinan preterm dan pecahnya selaput ketuban. Salah satu sitokin yang dipercaya memiliki peranan yang penting dalam inisiasi persalinan preterm dan KPD adalah IL-8. Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa peningkatan kadar serum maternal IL-8 berkaitan inisiasi persalinan preterm dan KPD  meskipun hasilnya masih bervariasi (Turhan et al., 2000 ; Sozmen et al., 2005). Kadar IL-8 pada cairan ketuban kehamilan preterm normal < 10.000 pg/ml sedangkan pada korioamnionitis didapatkan kadar IL-8 > 10.000 pg/ml (Puchner, 1993). Kadar IL-8 pada serum maternal persalinan preterm  4,9 (1,0-20,1)pg/ml, sedangkan pada kelahiran preterm 11,5 (1,6-23)pg/ml (Alvarez, 2000). Walaupun berbagai kemajuan dalam penatalaksanaan KPD preterm telah dilakukan untuk memperpanjang periode laten setelah terjadinya KPD preterm dan pencegahan kemungkinan berulangnya kejadian KPD preterm tersebut  antara lain dengan menggunakan progesteron dan atau mengobati jika terdapat infeksi.  Namun kejadian KPD preterm masih saja merupakan menjadi penyebab utama dari masalah lahir bayi prematur (Getahun, 2010). Untuk pengelolaan persalinan preterm dan KPD preterm di RS Sanglah perlu dikembangkan suatu upaya pencegahan yang berdasarkan pada pemahaman terjadinya persalinan preterm dan KPD yang lebih spesifik. Berdasarkan hal tersebut melalui penelitian ini akan dilakukan penilaian perbedaan kadar IL-8 serum ibu pada kehamilan preterm ketuban pecah spontan dengan ketuban tidak pecah, dalam rangka pemanfaatan IL-8 sebagai penanda terjadinya infeksi yang mengakibatkan terjadinya ketuban pecah spontan pada kehamilan preterm. Penelitian ini juga diharapkan menjadi masukan atau tambahan pemikiran dalam rangka mendukung pengembangan ide pemanfaatan IL-8 sebagai deteksi dini terjadinya KPD pada kehamilan preterm.
KADAR MALONDIALDEHID YANG TINGGI MENINGKATKAN RISIKO TERJADINYA PREEKLAMPSIA Putu Surya, I Gede
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 3, No 5 (2015)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Sampai saat ini etiologi dan patogenesis preeklampsia masih belum diketahui dengan pasti, dimana ketidakseimbangan radikal bebas dan antioksidan yang mengakibatkan peroksidasi lipid diduga berperan penting. Malondialdehid merupakan penanda laboratoris peroksidasi lipid yang berperan terhadap terjadinya kerusakan endotel serta manifestasi klinis preeklapmsia. Tujuan: untuk mengetahui apakah kadar serum malondialdehid yang tinggi meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia pada kehamilan. Rancangan penelitian: penelitian ini merupakan studi kasus-kontrol berpasangan. Sejumlah 76 orang ibu hamil diteliti, 38 ibu hamil dengan preeklampsia sebagai kelompok kasus dan 38 ibu dengan kehamilan normal sebagai kelompok kontrol. Pemeriksaan kadar serum malondialdehid dikerjakan di Laboratorium Patologi Klinik RSUP Sanglah Denpasar. Data yang terkumpul dilakukan pengujian normalitas data dengan Kolmogorov-Smirnov, kemudian dilakukan analisa data dengan independent sampel test. Untuk mengetahui kadar malondialdehid terhadap  preeklapmsia dipakai uji Chi-Square. Hasil: pada penelitian ini didapatkan rerata kadar  malondialdehid pada preeklampsia 1,59+0,38 hmol/ml dan pada kehamilan normal 1,11+0,18 hmol/ml. Analisis kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan bahwa nilai t = 7,05 dan nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa rerata kadar MDA pada kedua kelompok berbeda secara bermakna (p<0,05). Berdasarkan nilai titik potong 1,27 hmol/ml, didapatkan bahwa risiko relatif terjadinya preeklampsia adalah sebesar 7 kali (RO=1,27;  IK 95% = 2,58-20,16; p = 0,001). Simpulan: kadar malondialdehid pada preeklampsia berbeda secara bermakna dibandingkan dengan kadar malondialdehid pada kehamilan normal. Tingginya kadar serum malondialdehid  pada kehamilan meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia. Kata kunci: preeklampsia, malondialdehid
PEMATANGAN CERVIX (CERVICAL RIPENING) PADA PERSALINAN PRETERM: PERAN INTERLEUKIN-8 Fajar Manuaba, I B G
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 3, No 5 (2015)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan preterm sampai saat ini masih merupakan masalah yang utama khususnya pada bagian obstetri dan perinatologi. Baik di negara berkembang maupun negara maju penyebab morbiditas dan mortalitas neonatus tertinggi adalah akibat adanya bayi yang lahir preterm, dimana kurang lebih 75% dari kematian neonatus disebabkan oleh karena bayi yang lahir preterm. Di seluruh dunia ditemukan sekitar 70% persalinan preterm merupakam penyebab kematian perinatal dan hampir separuhnya mengalami kelainan neurologis jangka panjang. Penyebab dari persalinan preterm sering kali tidak diketahui secara pasti. Pada pasien-pasien dengan gejala klinis persalinan preterm menunjukan peningkatan berbagai sitokin di dalam serum maternal sehingga diperkirakan sitokin memainkan peranan penting dalam inisiasi persalinan preterm. Salah satu sitokin peradangan pada serum adalah interleukin-8 (IL-8). Proses pematangan servik ditandai dengan perubahan konsistensi, pendataran dan dilatasi servik. Pematangan servik behubungan dengan berkurangnya kadar kolagen serta penurunan jumlah serat kolagen. Selain itu juga terjadi proses penurunan daya regang dari matriks ekstraseluler dari servik. Terdapat perubahan pada proses ini yaitu terjadi penurunan kadar dekorin (dermatan sulfat proteoglikan 2) yang menyebabkan separasi dari serat kolagen. Agen yang dapat digunakan untuk proses pematangan servik adalah interleukin-8. Dapat disimpulkan bahwa peran interleukin-8 adalah menginduksi aktivasi neutrofil sehingga mengalami degranulasi, perubahan bentuk dan kemotaksis. Neutrofil tersebut yang nantinya akan melepaskan enzim kolagenase yaitu matriks metaloproteinase-8 (MMP-8) yang dapat mencerna serat kolagen pada servik. Selain itu interleukin-8 juga bekerja sinergis dengan prostaglandin dalam menginisiasi persalinan preterm melalui proses pematangan servik.
PEMBERIAN ANTI RETRO VIRAL SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN INFEKSI HIV DARI IBU KE BAYI Dwi Aryana, Made Bagus
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 3, No 5 (2015)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kejadian HIV/AIDS di Indonesia terus meningkat dan telah terjadi fenomena gunung es, jumlah penderita yang ada lebih banyak daripada yang dilaporkan. Proporsi penderita HIV antara wanita dan pria adalah 1:1. Pada tahun 2008 didapatkan 15,7 juta wanita yang terinfeksi HIV sedangkan sebanyak 2,1 juta anak-anak berusia kurang dari 15 tahun telah terinfeksi HIV. Penularan HIV sendiri dapat melalui berbagai cara, antara lain melalui cairan genital (sperma dan lendir vagina), darah, dan transmisi dari ibu ke bayi. Penyebab dari infeksi HIV pada anak adalah 90% berasal dari penularan dari ibu sedangkan 10 % sisanya berasal dari proses tranfusi darah. Pada saat ini, target global dari WHO di bidang HIV adalah eliminasi dari penularan infeksi baru HIV pada anak dan mempertahankan keselamatan ibu pada tahun 2015. Transmisi maternal paling besar terjadi pada masa perinatal. Pada penelitian yang dilakukan di Rwanda dan Zaire, proporsi dari penularan ibu yang terinfeksi kepada bayinya adalah 23-30% pada masa kehamilan, 50-65% pada saat melahirkan, dan 12-20% pada saat ibu menyusui bayinya. Akan tetapi angka transmisi ini dapat diturunkan sampai dengan kurang dari 5% dengan upaya-upaya intervensi dari PMTCT (Prevention Mother to Child Transmission). Intervensi yang dilakukan dari PMTCT ada 4 konsep dasar, yaitu mengurangi jumlah ibu hamil dengan HIV positif, menurunkan viral load dari ibu hamil yang terinfeksi HIV, meminimalkan paparan janin terhadap darah dan cairan tubuh ibu, serta optimalisasi kesehatan ibu dengan HIV positif. Salah satu upaya intervensi pencegahan penularan infeksi HIV dari ibu ke bayi adalah pemberian terapi ARV (Anti Retro Viral). Pemberian terapi ARV ini sendiri memiliki tujuan untuk memaksimalkan penekanan replikasi virus, menurunkan hambatan penurunan daya tahan tubuh, serta meningkatkan kembali fungsi daya tahan tubuh. Upaya inervensi pencegahan dengan cara pemberian ARV yang tepat merupakan cara yang paling efektif. Pemberian ARV sebagai upaya pencegahan penularan infesi HIV dari ibu ke bayi mengacu pada acuan yang direkomendasi oleh WHO. Secara umum pemberian ARV ini dapat dibagi menjadi 2 golongan, yakni yang pertama ARV sebagai terapi bagi ibu dan pencegahan penularan serta yang kedua ARV sebagai profilaksis saja. Sebelum ARV diberikan, harus dilakukan pemeriksaan secara holistik kepada penderita baik secara klinis maupun laboratoris. Pemberian ARV sebagai upaya pencegahan penularan infeksi HIV dari ibu ke bayi tidak hanya diberikan bagi ibu saja, namun juga diberikan pada bayinya. Pemberian ARV dilakukan pada saat kehamilan, proses persalinan, maupun pada saat postpartum. Selama dilakukan pemberian terapi ARV, kesehatan ibu maupun janin yang dikandung harus selalu dipantau dengan baik dan  menyeluruh. Sampai saat ini masih banyak obat-obatan ARV yang masih dalam uji klinis. Komplikasi pemberian ARV saat kehamilan dapat terjadi pada ibu maupun  pada bayi. Komplikasi pada ibu yang sering terjadi adalah reaksi hipersensitivitas dan kerusakan pada ginjal maupun liver. Sedangkan komplikasi pada bayi masih merupakan perdebatan apakah obat-obatan ARV atau efek perjalanan penyakit HIV pada ibu yang menjadi penyebab kelainan yang muncul. Diharapkan dengan penangan yang tepat pada wanita dan wanita hamil dengan HIV, penularan infeksi HIV dari ibu ke bayi dapat ditekan sampai semaksimal mungkin. Target global WHO untuk mengeliminasi infeksi HIV dan AIDS dapat terlaksana menuju generasi baru yang bebas HIV dan AIDS
PERAN STRES OKSIDATIF PADA ABORTUS Suardana, Ketut
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 3, No 5 (2015)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abortus merupakan komplikasi kehamilan yang paling sering terjadi. Kehamilan dapat berakhir dengan terjadinya abortus, baik itu abortus iminens, insipien, inkomplit maupun komplit. Sebagian besar abortus terjadi pada trimester pertama. Diperkirakan kejadian abortus spontan (miscarriages) tinggi pada wanita sejak saat konsepsi namun sebagian besar kejadian tersebut tanpa disadari karena diduga suatu haid biasa.1,2 Penyebab abortus tidak selalu jelas, begitu banyak etiologi yang menyebabkan, diantaranya kelainan kromosom pada fetus, faktor ibu seperti infeksi, nutrisi, mioma uteri.2 Saat ini dari perkembangan penelitian terhadap plasenta, muncul teori yang menghubungkan stres oksidatif yang terjadi pada saat proses plasentasi dengan patofisiologi terjadinya abortus.5,6 Beberapa penelitian terbaru menunjukkan stres oksidatif atau ketidakseimbangan oksidan dan antioksidan pada jaringan uteroplasenta memegang peran penting dalam berbagai penyakit termasuk abortus.7 Radikal bebas mempunyai sifat sangat reaktif dan dapat mengubah molekul menjadi radikal. Radikal bebas merupakan suatu bentukan yang dihasilkan oleh pernapasan secara aerob dan reaksi metabolik yang lain. Oksigen paling banyak digunakan selama proses oksidasi dan dikonversi menjadi air, tetapi 1-2% akan menjadi oksigen reaktif terutama superokside (O2-), hidroksil (OH-) dan hidroperoksil (H2O2). Metabolit anion ini sangatlah reaktif dan membutuhkan antioksidan untuk menetralisirnya.7 Terdapat 3 kelompok antioksidan dalam tubuh manusia yaitu: Primer yang bekerja dengan cara mencegah pembentukan radikal bebas yang baru serta mengubah radikal bebas menjadi molekul yang tidak berbahaya ( superoksid dismutase, glutation peroksidase dan katalase), sekunder yang berguna untuk menangkap radikal dan mencegah terjadinya reaksi berantai (Vitamin E, ? karoten, bilirubin dan albumin), dan tersier yang berguna untuk memperbaiki kerusakan biomolekuler yang disebabkan oleh radikal bebas ( DNA repair enzyme dan metionin sulfoksida reduktase).8 Apabila produksi ROS dan radikal bebas yang lain melebihi kapasitas penangkapan oleh antioksidan, maka akan menimbulkan suatu keadaan yang disebut stres oksidatif. Adanya stres oksidatif akan merusak lipid seluler, protein maupun DNA dan menghambat fungsi normal sel. Stres oksidatif pada sinsiotropoblas menyebabkan terjadinya degenerasi pada sinsisiotropobas dan pada akhirnya terjadi abortus.9
PERBEDAAN FUNGSI SEKSUAL PADA PASCA TOTAL ABDOMINAL HYSTERECTOMY DAN SUPRA VAGINAL HYSTERECTOMY DI RSUP SANGLAH DENPASAR Upadana Pemaron, I B
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 3, No 5 (2015)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan :Untuk mengetahui perbedaan fungsi seksual pada pasca Total Abdominal Hysterectomy (TAH) dan Supra Vaginal Hysterectomy (SVH)di RSUP Sanglah Denpasar. Bahan dan cara kerja : Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional analitik. Sampel diambil secara consecutive sampling dari bulan Januari 2011 sampai Januari 2012. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi didapatkan 28 sampel, terdiri dari 14 pasca TAH dan 14 pasca SVH, masing-masing sesuai umur ibu, paritas, dan pendidikan, selanjutnya fungsi seksual dinilai dengan pengisian kuisioner FSFI (Female Sexual Function Index). Skor total kuisioner dianalisa dilakukan dengan uji t-independent. Untuk mengetahui perbedaan fungsi seksual dipakai uji Chi-Square. Hasil : Diperoleh rerata umur pada kelompok pasca TAH dan SVH masing-masing 43,00±1,96 dan 41,71±2,95 dengan p=0,077. Rerata paritas pada kelompok pasca TAH dan SVH masing-masing 2,00±0,96 dan 1,93±1,43 dengan p=0,297 dan Rerata pendidikan pada kelompok pasca TAH dan SVH masing-masing 10,64±3,65 dan 7,79±4,71 dengan p=0,069. Hal ini berarti bahwa karakteristik subyek kedua kelompok adalah sama sehingga pengaruhnya terhadap hasil penelitian dapat diabaikan. Rerata skor total FSFI pada kelompok pasca TAH dan SVH masing-masing 25,5±2,91 dan 28,26±3,17, dengan hasrat seksual (p=0,272), rangsangan (p=0,239), lubrikasi (p=0,014), orgasme (p=0,010), kepuasan (p=0,061), nyeri (p=0,037).Fungsi seksual diuji Chi-Square, didapatkan berbeda bermakna (p=0,042). Kesimpulan: Terdapat perbedaan fungsi seksual pasca TAH dibandingkan dengan pasca SVH.   Kata kunci :  Histerektomi abdominal total, histerektomi supravaginal, fungsi seksual wanita

Page 1 of 1 | Total Record : 8