cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 2 (2012): December" : 21 Documents clear
Perbedaan Kekuatan Geser Reparasi Gigi Tiruan Cekat dengan Resin Komposit Packable dan Flowable (Uji Laboratoris pada permukaan logam NiCr) Endang Wahyuningtyas; Suparyono Saleh; Sri Budi Barunawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4344.973 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15533

Abstract

Latar Belakang. Resin komposit merupakan bahan pilihan untuk reparasi Gigi Tiruan Cekat porcelain fused to metal (PFM) Karena estetis baik dan manipulasi mudah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan kekuatan geser perlekatan resin komposit pada permukaan logam Gigi Tiruan Cekat dengan menggunakan resin komposit jenis packable dan jenis flowable. Metode penelitian. Subjek penelitian berupa logam NiCr (Noritake, Japan) berbentuk silinder dengan diameter 10 mm dan tinggi 3 mm. Penelitian dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari 10 subjek. Kelompok pertama reparasi dengan resin komposit packable (Z250™ 3M ESPE, USA) dan kelompok kedua reparasi dengan resin komposit flowable (Dyad flow, Kerr, USA). Permukaan subjek dikasari dengan wheel diamond bur, dietsa dengan asam fosfat 37 % (Scotchbond™, 3M ESPE, USA) kemudian dicuci dan dikeringkan, selanjutnya diaplikasikan silan (Rely X™ Ceramic Primer, 3M ESPE, USA) dan bonding (Adper™ Single Bond, 3M ESPE, USA). Permukaan kemudian dilapisi dengan resin komposit packable dan flowable, disinari selama 40 detik. Subjek penelitian direndam di dalam distilled water dan dimasukkan ke dalam incubator dengan suhu 37°C selama 7 hari. Uji kekuatan geser dilakukan dengan menggunakan Universal Testing Machine. Data dianalisis dengan uji t. hasil uji t menunjukkan terdapat perbedaan bermakna kekuatan geser reparasi gigi tiruan cekat pada permukaan logam (p<0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah kekuatan geser reparasi pada permukaan logam dengan menggunakan resin komposit flowable yang mengandung bahan coupling agent lebih tinggi dibandingkan reparasi pada permukaan porselen dengan menggunakan resin komposit packable. Background. One of selected material by repairing the fixed partial denture was composite resin because of its good aesthetics and low manipulation. The aim. This research was aimed at identifying the differences of shear bond strength of composite resin on metal surface by using different composite resins, namely packable and flowable composite resins. Method. The research subjects were cylinders with 10 mm in diameter and 3 mm in height. The research subjects with metal material of NiCr (Noritke, Japan) involved two groups. The first group comprising 10 repair subjects with composite packable (Z250™, 3M ESPE, USA) and 10 repair subjects with flowable composite (Dyad flow, Kerr, USA). The surface of the subjects were roughned with wheel diamond bur and etched with 37% phosphate acid (Scotbond™, 3M ESPE, USA) were applied. The surface was then coated with packable and flowable composite resins and light-cured for 40 seconds. The research subjects were immersed in distilled water and put into the incubator at temperature of 37°C for 7 days. The shear bond strength test was conducted using the Universal Testing Machine. Data were analyzed using t-test. The result. The research result showed that there were differences of shear bond strength of repair between packable and flowable composite resins. The result of t-test indicated significant diffrences on metal surface (p<0,05). The conclusion of this research is that shear bond strength of repair with flowable composite which contain coupling agent has higher shear bond strength than that of packable composite resin.
Faktor Risiko Terjadinya Karies Baru dengan Pendekatan Kariogram pada Pasien Anak di Klinik Kedokteran Gigi Anak RSGMP Prof. Soedomo Yogyakarta Putri Kusuma Wardani; Al Supartinah; Indah Titien S; SB Sri Rantinah; Emut Lukito; Rinaldi Budi Utomo; Sri Kuswandari
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3174.278 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.12700

Abstract

Latar belakang. Faktor risiko karies adalah faktor yang berhubungan dengan kejadian karies pada individu dan populasi. Faktor risiko karies berbeda antar individu. Untuk menggambarkan interaksi antara faktor-faktor yang berhubungan dengan karies digunakan kariogram. Tujuan. Penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran urutan faktor risiko karies dengan pendekatan kariogram pada pasien anak di klinik Kedokteran Gigi Anak RSGMP Prof. Soedomo. Metode. Subjek terdiri dari 26 anak dalam periode gigi-geligi bercampur. Dilakukan pemeriksaan tentang pengalaman karies, riwayat penyakit sistemik, frekuensi makan, skor plak, aktivitas Streptococcus mutans, volume sekresi saliva, pH saliva dan program fluoridasi. Hasil pemeriksaan dianalisis menggunakan program kariogram. Hasil. Penelitian menunjukkan bahwa rerata persentase faktor bakteri adalah 21,1%, faktor pola makan: 18,1%, faktor kerentanan gigi: 16,1% dan faktor lain-lain: 9,5%. Kesimpulan. Dapat disimpulkan bahwa urutan faktor risiko karies dengan pendekatan kariogram adalah bakteri, pola makan, kerentanan gigi dan faktor lain-lain. Background. Caries risk factor is factor related with caries incidence in individu and population. The caries risk factor is different between individu. For illustrating the interaction between caries related factors may be used cariogram. Aim. The aim of this research was to find out the sequence of caries risk factors from cariogram on children patients at the Clinic of Pediatric Dentistry Prof. Soedomo dental hospital. Method. Subjects were comprised 26 children in the periode of mixed dentition. Examinations were included: experience of caries, the history of systemic disease, daily meal frequency, plaque scoring, activity of Streptococcus mutans, the volume of saliva secretion, pH of saliva, and the participations of fluoridation program. The examination result were analyzed with programme cariogram. Result. The result showed that the mean of percentage bacteria factor was 21,1%, meal pattern factor: 18,1%, susceptible teeth factor: 16,1% and others factors 9,5%. Conclusion. It could be concluded that the sequence of caries risk factors from cariogram were bacteria, meal pattern, susceptible teeth and others factors.
Rehabilitasi Prostetik Paska Hemimaksilektomi pada Pasien Edentulos Novi Tenripada; M.Th Esti Tjahjanti; Erwan Sugiatno
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3446.579 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15539

Abstract

Latar belakang. Hemimaksilektomi adalah reseksi sebagian maksila pada satu sisi. Defek yang dihasilkan setelah hemimaksilektomi akan menyebabkan kecacatan pada wajah serta akan menimbulkan gangguan stomatognatik. Rehabilitasi prostetik merupakan suatu bagian yang penting dalam rekonstruksi rongga mulut pasien pasca pembedahan kanker rongga mulut. Upaya rehabilitasi ini mencakup bentuk perawatan yang melibatkan kerjasama multidisipliner dengan bagian ilmu penyakit mulut, bedah onkologi dan prostodonsi. Tujuan. Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan rehabilitasi prostetik pasca hemimaksilektomi untuk pasien edentulous. Kasus dan penanganan. Pasien laki-laki berumur 65 tahun datang ke RSGM Prof Soedomo dengan diagnose kanker di palatum dan akan dilakukan hemimaksilektomi di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Protesa yang digunakan dalam rehabilitasi prostetik ini adalah obturator imidiat, obturator interim dan obturator definitive. Obturator definitif pada pasien edentulous berupa gigi tiruan lengkap dengan bulb pada sisi defek. Bentuk obturator dibuat dengan mengoptimalisasi retensi dari struktur anatomi yang tersisa. Kesimpulan. Rehabilitasi prostodontik pada pasien edentulous pasca hemimaksilektomi adalah dengan obturator imidiat, obturator interim dan obturator definitive berupa gigi tiruan lengkap dengan bulb. Background. Hemimaxillectomy is resection on unilateral side of maxilla. Maxillary defect that occurred after hemimaxillectomy result in facial deformities and stomatognatic disfunction. Prosthetic rehabilitation is essential part in oral reconstruction after patient undergone oral cancer surgery. Rehabilitative efforts involve treatment modalities involving multidiscipliner teamwork with oral pathologist, oncologist and prosthodontist. Purpose. Purpose of the report was to inform the prosthetic rehabilitation after hemimaxillectomy in completely edentulous patient. Case and treatment. A 65 years male diagnosed cancer on palatal referred to RSGM Prof Soedomo in order to prepare prosthodontic rehabilitation after hemimaxillectomy in RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta. Prosthesis used in this rehabilitation were immediate obturator, interim obturator and definitive obturator. Obturator for completely edentulous patients is complete denture with the bulb on defect side. The shape of obturator was designed to optimalize retention from the remaining anatomical structure. Conclusion. Prosthetic rehabilitation for hemimaxillectomy edentulous patient were immediate obturator, interim obturator and definitive obturator.
Hubungan Dokter Pasien sesuai Harapan Konsil Kedokteran Indonesia Tinjauan pada Profesi Dokter Andy Yok Siswosaputro; Dahlia Herawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3967.081 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15544

Abstract

Latar Belakang. Pelayanan medis oleh dokter mupun dokter gigiberpedoman pada Undang-Undang dan etika yang pada hakekatnya untuk melindungi masyarakat. Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) bertugas menjaga kualitas pelayanan medis sebagai upaya perlindungan kepada masyarakat penggunya, dalam pelaksanaan Undang-Undang no 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran. Fungsi pengawasan KKI meliputi pembinaan terhadap penyelenggaraan praktek kedokteran, terutama dalam rangka mempertahankan profesionalisme dan peningkatan mutu pelayanan medis. Selain itu KKI juga mensosialisasikan hal-hal yang berhubungan dengan dokter dan pelayanan kesehatan pada masyarakat luas. Tujuan penulisan ini adalah agar dokter-dokter gigi dapat memahami dan melaksanakan tindakan kedokteran sesuai harapan KKI dalam rangka membina hubungan dokter dengan pasie. Tinjauan Pustaka. Hubungan yang baik antara dokter dan pasien akan berjalan baik jika dokter memahami pada 1. Esensi hubungan dokter-pasien; 2. Aspek hukum hubungan dokter-pasien; 3. Kesetaraan dalam hubungan dokter-pasien; 4. Persetujuan tindakan kedokteran. Kesimpulan. Dokter dituntut bersikap bijaksana, memperlakukan pasien penuh tanggung jawab secara etika maupun keilmuan. Background. Medical services by a physician or dentist referring to the Law and ethics in truth to protect society. Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) working preserve the quality of medical services in an attempt to cover user communities, in the implementation of Law No 29 of 2004 on the Practice of Medicine. KKI oversight functions include the construction of maintenance medical practice, especially in order to maintain proessionalism and improving the quality of medical services. Additionally KKI also socialize matters relating to doctors and health services in the community. The purpose of this paper is that doctors/dentists can understand and implement the medical actions appropiate expectations KKI in order to foster the relationship between doctor and patient. Review of Literature. Good relationship between doctor and patient will work well if the doctor understands the 1. Essence of the doctor-patient relationship; 2. Legal aspects of the doctor-patient relationship; 3. Equality in the doctor-patient relationship; 4. Medical consent. Conclusion. Physicians are required to be wise, treat patients with ethically responsible and science.
Pemakaian Inclined Bite Plane untuk Koreksi Gigitan Terbalik Interior pada Anak Debrania Santoso; Iwa Sutardjo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3925.844 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15534

Abstract

Latar Belakang. Anak dengan gigitan terbalik pada anterior pada umumnya mempunyai keluhan dalam hal estetik dan fungsi pengunyahan. Kondisi gigitan terbalik biasanya disebabkan oleh adanya kebiasaan buruk dan faktor keturunan yang semakin memperparah keadaan tersebut. Pada kasus ini ditampilkan dua anak dengan gigitan terbalik anterior yang disebabkan oleh adanya kebiasaan buruk bertopang dagu dan mendorong lidah ke gigi anterior bawah. Perawatan menggunakan inclined bite plane dapat mengkoreksi gigitan terbalik anterior. Tujuan. Laporan kasus ini adalah untuk melaporkan bahwa pemakaian alat inlined bite plane dapat mengkoreksi gigitan terbalik anterior pada anak. Kasus. Dua orang anak perempuan dengan kasus gigitan terbalik anterior dilakukan pemeriksaan di poli gigi anak RSGM. Dari anamnesa diketahui bahwa anak pertama memiliki kebiasaan buruk bertopang dagu dan anak kedua mendorong lidah ke gigi anterior bawah. Perawatan yang dipilih adalah menggunakan alat inlined bite plane yang harus digunakan setiap hari saat tidur kecuali waktu makan dan menggosok gigi. Perawatan lanjutan pasien pertama tetap menggunakan alat removable dan pasien kedua dengan fixed orthodonti. Kesimpulan. Pasien pertama setelah 7 minggu gigitan terbalik anterior terkoreksi dan kebiasaan buruk dapat dihentikan. Pada pasien kedua gigitan terbalik anterior terkoreksi setelah 5 minggu. Hubungan oklusi pada pasien kedua lebih baik dibandingkan pasien pertama. Background. Children with anterior crossbite generally complaint about aesthetic and masticatory function. Anterior crossbite is usually caused by bad habits and hereditary factors that exacerbated this situation. In this case was displayed two children with anterior crossbite caused by a bad habit pushing the chin with one hand and pushing the tongue to the lower anterior teeth. Treatment approach using inclined bite plane correct the anterior crossbite. Purpose. The purpose of this case report is to report the use of inclined bite plane can corrected anterior crossbite. Case. Two girls with anterior crossbite cases are examined and from the anamnesis is known that the first child has a bad habit pushing chin and the second child pushing tongue to the lower anterior teeth. Treatment of case is to use the inclined bite plane every day while awake and sleeping except when eating and brushing teeth. Conclusion. The anterior crossbite of the first child is corrected after 8 weeks treatment and 5 weeks treatment for the second child. The occlusion of the second child is better than the first child.
Standar Normatif Analisis Sefalograf Postero-Anterior Sub Ras Jawa Indonesia Cendrawasih Andusyana Farmasyanti; Darmawan Sutantyo; Sari Karuniawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4207.05 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.12698

Abstract

Latar Belakang. Pasien dengan kelainan asimetri wajah termasuk diantarnya adalah pasien dengan celah bibir dan lelangit memerlukan analisis cefalometri postero-anterior. Tujuan Penelitian. Penelitian pendahuluan ini dilakukan untuk memperoleh standar normal analisis dimensi transversal wajah pada sefalograf postero-anterior orang Jawa serta mengetahui apakah terdapat perbedaan intra dan inter gender. Cara Penelitian. Sampel terdiri dari 30 orang terdiri dari 24 perempuan dan 6 laki-laki yang beretnis Jawa. Subyek adalah individu dengan estesis dan oklusi wajah yang baik, usia 18-30. Hubungan molar klas I dalam variasinya. Setiap subyek di ambil sefalograf postero anterior untuk diukur lebar dimensi transversal landmark dari Broadbent. Penelitian telah mendapatkan ethical approval. Hasil Penelitian. Setelah dilakukan pengujian statistic Wilcoxon, hanya Bi-Zygomatic(Bi-Zyg) yang berbeda bermakna (p<0,05), kanan 66,33 dan kiri 65,28 pada wanita dan Bi-Maxillary(Bi-Mx) kiri 36,31, kanan 34,27 pada laki-laki. Lebar rata-rata pada satu sisi wajah, berturut-turut laki-laki dan perempuan dalam mm adalah Bi-Latero orbitale (Bi-Lo): 45,99 dan 49,51; Bi-Maxillary (Bi-Mx): 33,04 dan 35,29; Bi-Lateronasal (Bi-Ln): 16,6 dan 18,07; Bi-Condylar (Bi-Cond): 50,66 dan 56,08; dan Bi-Gonial (Bi-Go): 44,27 dan 47,59. Uji beda antar gender, Mann Whitney U, dijumpai laki-laki lebih besar bermakna daripada perempuan kecuali lebar Bi-Zyg (p<0,05). Kesimpulan. Lebar Bi-Zyg perempuan dan Bi-M laki-laki pada sisi kiri lebih besar bermakna (p<0,05) daripada sisi kanan. Lebar semua variabel kecuali Bi-Zyg lebih besar bermakna dibandingkan perempuan (p<0,05). Background. Patient with skeletal disorders such as cleft lip and palate patients need a normal standard anteroposterior cephalometric analysis. Aim. The preliminary research was conducted to obtain a normal standard dimensional analysis of Javanese postero-anterior transverse facial cephalography and determined whether there were differences in intra-and inter-gender. Method. The sample consisted of 30 Javanese people, consisting of 24 females and 6 males. Subjects are individuals with good facial aesthetics and occlusion, aged 18-30. The molar relationship were in Class I and its variation. Each subject was taken their postero anterior sefalograph to measure the width of the transverse dimension base on the Broadbent landmarks and has esthically approved. Result. The width of the left side tend to be larger than the right (mm) but only Bi-zygomatic (Bi-Zyg) were significantly different (p<0.05), 66.33 and 65.28 for female and Bi-maxillary (Bi-Mx) 36.31 and 34.27 for males after Wilcoxon statistical test. Average width of the left side of the face, males and females in mm respectively are Bi-Latero orbitale (Bi-Lo): 45.99 and 49.51; Bi-maxillary (Bi-Mx): 33.04 and 35.29; Bi-Lateronasal (Bi-Ln): 16.6 dan 18.07; Bi-Condylar (Bi-Cond): 50.66 and 56.08; and Bi-Gonial (Bi-Go): 44.27 and 47.59. Mann-Whitney U, found that males are significantly greater than females except the width of the Bi-Zyg (p<0.05). Conclusion. Bi Zyg- Bi-Mx width in woman and men on the left side are significantly greater (p<0.05) than the rght side. The width of all variables except Bi-Zyg are significantly larger than females (p<0.05).
Pembuatan Protesa Maksilofasial Hidung dengan Retensi Magnet Owin Bambang Wijanarko; Endang Wahyuningtyas; Suparyono Saleh
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4046.528 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15540

Abstract

Latar belakang masalah. Restorasi dari cacat masalah. Restorasi dari cacat yang disebabkan tumor di daerah fasial sangat menantang bagi dokter bedah dan ahli prostodonti. Maxillofacial prosthetics adalah cabang kedokteran gigi yang berhubungan dengan cacat baik kongenital maupun yang didapat pada kepala dan leher. Cacat yang didapatkan dibagi menjadi cacat intraoral dan ekstraoral. Cacat intraoral meliputi mandibula, lidah, palatum, keras, sedangkan cacat ekstraoral meliputi daerah lainnya pada kepala dan leher. Tujuan. Laporan kasus ini adalah untuk rehabilitasi daerah wajah pasien dengan memperbaiki fungsi dan estetik dengan membuat protesa maksilofasial hidung sehingga pasien tidak merasa malu. Laporan kasus. Pasien laki-laki, 74 tahun datang atas kemauan sendiri, dan rujukan dari THT ingin dibuatkan hidung dan langit-langit atas buatan karena hidung sudah diamputasi. Dibuatkan prothesa maksilofasial hidung dari bahan silikon karena mempunyai tekstur yang hampir sama dengan kulit, kemudian dipasang kaitan magnet yang dilekatkan dengan obturator sehingga retensi bertambah baik. Protesa dipasang pada kacamata agar mudah cara menggunakan. Kesimpulan. Pasien merasa lebih nyaman ketika bernafas dan berbicara setelah memakai protesa maksilofasial hidung dengan retensi magnet ini. Protesa maksilofasial dapat membantu pasien baik dari sisi estetik maupun fungsional. Background. Restoration of facial defects resulting from ablation of facial neoplasm or anyother reasons is a challenge for the head and neck surgeon, plastic surgeon and prosthontist. Maxillofacial prosthetics is a branch of dentistry that deals with congenital and acquired defects of the head and neck. Acquired defects can be divided into intraoral and extraoral. Intraoral defects may involve the mandible, tongue, soft palate, or hard palate, while extraoral defects may involve any other area of the head or neck. The aim. Of making maxillofacial prosthetics is to make better aesthetics and functional so the patients will not be ashamed with their appearance. Case report. A man age 74 years old came to the prosthodontics clinic of RSGMP Prof. Soedomo, bringing reference letter from ear nose and throat specialist (ENT). She wants to make a nose prostheses because her nose was amputated. Nose prostheses with magnetic attachmet has been made for this patient using silicon material which have almost the same texture as the original one. This prostheses was attached on eye glasses so the patient can use and remove it easily. The result of using nose prostheses is the patient has better aesthetic. Beside that the function of speech and breathing can also be aided. So the conclusion is that the usage of maxillofacial prosthetic on post amputated nose patient can aid both aesthetic and functional.
Peran Dokter Gigi dalam Tumbuh Kembang Anak Berkebutuhan Khusus Indah Titien
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4192.47 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15545

Abstract

Latar belakang. Keberadaan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) semakin lama semakin meningkat. Menurut DepKes RI 2010 8,3 juta. Ditinjau dari sudut pandang kebutuhan akan pelayanan kesehatan, khususnya kesehatan gigi dan mulut, maka kelompok ABK ini lebih membutuhkan dibanding dengan anak-anak pada umumnya. Anak-anak berkebutuhan khusus, karena berbagai keterbatasan yang ada pada mereka, kurang mampu untuk membersihkan sendiri rongga mulutnya, sehingga hal ini meningkatkan faktor risiko kerusakan gigi-gigi dan jaringan lunak sekitarnya. Tujuan Penulisan. Untuk mengkaji peran dokter gigi pada tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus. Tinjauan Pustaka. Nutrisi termasuk faktor lingkungan yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Proses tumbuh kembang anak memerlukan pemenuhan kebutuhan makanan yang baik dan adekuta. Kesehatan gigi dan mulut penting dalam upaya mendapatkan asupan makanan yang cukup mengingat bahwa dalam rongga mulut terdapat alat-alat perncernakan. Alat berkebutuhan khusus, terutama yang mengalami gangguan syaraf motorik mempunyai risiko maltunitrisi. Abnormalitas neurologis menyebabkan perubahan aktivitas fisik, pola motorik halus, dan pola oromotor, seringkali mempengaruhi asupan makanan yang diperlukan. Konsisi ini akan diperparah dengan kesehatan rongga mulut yang buruk sehingga kehilangan sebagian gigi desidui maupun gigi permanen sering dialami anak-anak ini, disisi lain penggunaan protesa pada anak-anak ini banyak yang merupakan kontra indikasi. Upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut bagi anak-anak berkebutuhan khusus merupakan tanggung jawab dokter gigi. Kesimpulan. Anak berkebutuhan khusus lebih membutuhkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dibanding anak-anak lainnya. Peran serta dokter gigi dalam upaya pelayanan gigi dan mulut bagi mereka sangat diperlukan. Peningkatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut lebih diharpakan oleh kelompok anak-anak tersebut, terutama upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut. Background. The existence of Children with Special Needs progressively increased. Although the phenomenon of their existance seems like an iceberg. In everyday life we often encounter these kids around us although the numbers according to the Central Bureau of Statistics is increasingly rising. Seen from the point of view of the need for health services, especially dental and oral health, then the group of children with special needs is move need than children in general. Children with special needs, because of the limitations that exist on their own are less able to clear the oral cavity, so this factor increases the risk of damage teeth and surrounding soft tissue. Purpose. To examine the role of the dentist in the growth and development of children with special needs.  Literature Review. Nutrition including environmental factors that affect the growth and development of children. The process of child development requires meeting the needs good nutrition and adequate. Oral health is important in order to get the nutrition that adequately considering the oral cavity, including digestion. Children with Special Needs, especially with impaired motor neurons are at risk of malnutrition. Neurologic abnormalities cause changes in physical activity, fine motor pattern, and the pattern of oromotor, often affecting food intake is necessary. This condition will be exacerbated by poor oral health that lost some teeth decidouos and permanent teeth are often experienced by these children, on the other hand the use of prostheses in children some time are contra indicated. Efforts to prevent oral disease for children with special needs are the responsibility of the dentist. Conclusion. Children with special needs are more need of oral helath care than other children. The role of the dentist in order to care for their teeth and mouth are very necessary especially the preventation of oral diseases. Improved oral helath services more expected by the group of children. 
Toluidine Blue Vital Staining sebagai Alat Bantu Diagnostik pada Karsinoma Sel Skuamosa Lidah Dwi Suhartiningtyas; Bernadeta Esti Chrismawaty; Dewi Agustina; Goeno Subagyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4412.84 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15535

Abstract

Latar belakang. Karsinoma sel skuamus oral (KSSO) merupakan salah satu kanker mulut yang paling sering terjadi. Deteksi dini kanker mulut menyulitkan oleh karena etiologi yang tidak pasti dan gambaran klinis yang tidak khas. Toluidine blue vital staining (TBVS) dilaporkan dapat membantu penegakan diagnosis KSSO. Tujuan. Penulisan ini bertujuan melaporkan kasus KSSO di lidah yang terdiagnosis melalui TBVS. Kasus dan penanganannya. Laki-laki 77 tahun dengan gigi tiruan lengkap mengeluhkan sakit pada lidah sejak 2 minggu lalu, yang tidak sembuh dengan terapi konvensional. Pasien adalah perokok berat selama 60 tahun. Temuan klinis menunujukkan ulkus soliter berdiameter 2,5 cm pada ventral lidah, tepi membulat, indurasi dan tertutup pseudomembran putih. Temuan lain berupa kandidas mulut pada mukosa palatal, kedua sudut mulut dan dorsum lidah. Berdasar anamnesis dan pemeriksaan klinis, dicurigai adanya keganasan pada lesi lidah. Perawatan awal ditujuan untuk pembersihan rongga mulut, terapi anti jamur dan perbaikan status nutrisi. Lima hari kemudian, dilaporkan adanya kaku lidah dan gangguan fungsi mulut. Klinis tampak ulkus pada lidah semakin dalam dan melebar, untuk memastikan kecurigaan keganasan dilaksanakan pemeriksaan TBVS. Hasil pemeriksaan positif sehingga ditegakkan diagnosis kerja KSSO. Pemeriksaan lebih lanjut, pasien dikirim ke Klinik Bedah Mulut Rumah Sakit Dr. Sarjito. Hasil biopsi positif menunjukkan KSSO, selanjutnya pasien dirujuk ke Klinik Onkologi. Kesimpulan. Karsinoma sel skuamus oral memiliki gambaran klinis tidak khas sehingga penyakit ini sulit terdeteksi secara dini. Diagnosis dan perawatan dini KSSO akan meningkatkan survival rate dan kualitas hidup penderitanya. Metode pemeriksaan diagnostic bantu dengan TBVS sangat membantu dalam penegakan diagnosis keganasan di rongga mulut. Background. Oral squamous cell carcinoma (OSCC) is one of the most oral cancers occurred. Early detection of oral cancer is difficult due to uncertain etiology and atypical clinical feature. Toluidine blue vital staining (TBVS) has been reported to assist the determination of OSCC. Purpose. This writing is intended to report the diagnosis of OSCC on the tongue through TBVS. Case and management. A 77 years old man with a full denture complained a painful tongue since 2 weeks ago, which no responseto conventional therapy. The patient is a heavy smoker for 60 years. Clinical findings showed a solitary ulcer with 2,5 cm in diameters on ventral of the tongue. It’s edges rounded, indurated and covered with white pseudomembranous. Other findings on palate mucosa, corner of the mouth and dorsum of the tongue regarded as oral candidiasis. Based on anamnesis and clinical examination, tongue ulcer is suspected as malignancy. Initial treatment comprises oral debridement, antifungal therapy and improvement of nutrition state. Five days later, tongue stiifness and oral dysfunction were reported. Clinically, the tongue ulcer is getting deeper and more extensive. For the determination of malignancy, TBVS was conducted with the results supported the impression of OSCC. For further examination, the patient was sent to the Oral Surgery Clinic, Dr Sarjito Hospital. Biopsy result is OSCC, then the patient was referred to Oncology Clinic. Conclusion. Oral squamous cell carninoma has an atypical feature so that the lesion is difficult to detect early. Early diagnosis and treatment is important as it increases the survival rate and quality of life of OSCC ptient. Methods of diagnostic to TBVS very helpful in establishing the diagnosis of malignancy in the oral cavity. 
Pengaruh Terapi Panas terhadap Pengurangan Nyeri dan Pembengkakan Wajah setelah Operasi Pengambilan Gigi Impaksi Molar Ketiga Bawah R. Rahardjo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4551.757 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.12701

Abstract

Latar belakang. Pembengkakan dan rasa nyeri yang terjadi paska operasi pengambilan gigi molar ketiga pada rahang bawah sering terjadi dan keadaan ini membuat rasa tidak nyaman bagi penderita. Upaya untuk mengurangi pembengkakan dan rasa nyeri tersebut diberikan obat-obatan atau tindakan lain misal dengan dilakukan dengan kompres panas. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah kompres panas yang dilakukan paska operasi gigi molar ketiga rahang bawah yang impaksi dapat mengurangi pembengkakan dan rasa nyeri yang terjadi. Metode penelitian. Tigapuluh penderita dengan gigi geraham ketiga rahang bawah yang impaksi dilakukan tindakan operasi odontektomi. Subyek dibagi dalam dua kelompok, limabelas penderita diberikan obat anti inflamasi kalium diklofenak 50 mg dua kali sehari selama lima hari dan lima belas penderita dilakukan tindakan dengan kompres panas, dengan Hot-Pack pada suhu 38°C yang diaplikasikan di daerah operasi selama 15 menit secara intermiten tiga kali sehari dimulai setelah hari ketiga. Sebelum operasi dilakukan pengukuran permukaan wajah dari titik anatomis pogonion-tragus, tragus-sudut mulut, dan sudut mata-angulus mandibula yang memberikan gambaran segitiga pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali dengan penggaris kain dan diambil rata-rata. Pengukuran rasa nyeri dilakukan secara subyektif oleh subyek dengan skala VAS (visual analog scale) dengan memberi tanda pada skala VAS pada hari kedua dan kelima. Hasil penelitian dilakukan dengan uji statistik dengan T test. Hasil penelitian. Pada kedua subyek penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada pengurangan pembengkakan untuk kelompok yang diberi obat anti inflamasi kalium diklofenak dan yang diberi tidakan dengan kompres panas dengan Hot-Pack setelah hari kedua dan hari kelima paska operasi, terjadi pula penurunan skala rasa nyeri yang signifikan pada hari kedua dan hari kelima. Background. Swelling and pain post mandibular third molar odontectomy commonly happen thus makes discomfort. Some treatment is done to decrease swelling and pain or by using thermal patch. The aim of this research is to see whether thermal patch post impacted mandibular third molar odontectomy can decrease swelling and pain. Methods. Thirty patients with impacted mandibular third molar undergone odontectomies. Subjects are divided into 2 groups, 15 patients is treated by 50 mg diclofenac potassium antiinflammation twice a day for 5 days and 15 patients is treated by thermal patch application, Hot-Pack, on 38°C on the operation area for 15 minutes, three times a day intermittently started on the third day after surgery. Before the operation, facial measurement is being done, from anatomical points pogonion-tragus, tragus-lip corner, and eye corner-mandible angulus which create a triangle form, the measurement is being done three times with a ruler and being counted. Pain is measured subjectively with VAS (visual analog scale) by the subjects on second and fifth day. Result is carried out statistically by using T-test. Result. Two subjects showed there are swelling decreament on group treated by the potassium diclofenac antiinflammation compared the group with Hot-Pack application on second and fifth day post operation, furthermore there were some significant decreament on the second and fifth day.

Page 2 of 3 | Total Record : 21