cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Perawatan Maloklusi Angle Kelas II Divisi 2 dengan Impaksi Kaninus Mandibula menggunakan Alat Cekat Begg Ruliyanto Ruliyanto; Sri Suparwitri; Soekarsono H
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.968 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.7976

Abstract

Gigi kaninus sangat penting untuk estetika dan fungsi mastikasi seseorang.  Impaksi gigi adalah gagalnya gigi untuk muncul ke dalam lengkung gigi yang dapat disebabkan karena kekurangan ruang, adanya sesuatu yang menghalangi jalur erupsi gigi atau karena faktor keturunan. Prevalensi impaks gigi kaninus maksila adalah 0,9-2,2%, sedangkan impaksi gigi kaninus mandibula lebih jarang terjadi. Alternatif perawatan gigi impaksi kaninus mandibula adalah operasi exposure dan diikuti dengan kekuatan erupsi alat cekat ortodontik. Tujuan dari perawatan adalah untuk koreksi malrelasi dan malposisi gigi geligi, khususnya koreksi gigi kaninus impaksi menggunakan teknik Begg. Pasien perempuan, 17 tahun, gigi sangat berjejal, gigi kaninus kanan rahang bawah impaksi, kelas II divisi 2 Angle, deep overbite, pergeseran midline gigi  rahang atas dan bawah ke arah kanan, overjet 2,49 mm dan overbite 5,45 mm. Perawatan dilakukan dengan menggunakan alat cekat Begg dengan pencabutan keempat gigi premolar pertama. Operasi exposure dilakukan untuk membuka gigi kaninus kanan bawah yang impaksi yang diikuti perekatan braket ortodontik. Kawat busur multiloop, anchorage bend dan elastik intermaksiler klas II digunakan pada tahap leveling dan unraveling. General alignment dicapai dalam waktu 13 bulan, pergeseran midline terkoreksi, gigi kaninus kanan rahang bawah erupsi sempurna, relasi kaninus kelas I Angle, overjet 2,00 mm, overbite 2,68 mm. Saat ini perawatan masih berlangsung pada tahap koreksi kesejajaran akar gigi. Kesimpulan perawatan maloklusi angle klas II divisi 2 dengan berjejal parah dan impaksi kaninus mandibula dalam kasus ini membutuhkan operasi exposure gigi kaninus impaksi diikuti alat cekat teknik Begg. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 199-207.
Ekspresi Caspase-3 pada Sel Epitel Rongga Mulut (Kb Cell Line) setelah Paparan Ekstrak Kopi Suryani Hutomo; Yanti Ivana Suryanto; Heni Susilowati; Agustinus Rudolf Phym; Devi Chretella Maheswara
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.968 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8739

Abstract

Kopi adalah minuman yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat sehari-hari. Telah diketahui bahwa kopi mengandung kafein seperti yang terdapat juga pada teh dan coklat. Kandungan terbanyak kafein terdapat pada kopi. Kafein mempunyai struktur kimia 1, 3, 7- trimethylxanthine dan merupakan derivat xanthine. Senyawa ini dapat menginduksi kematian sel yang mengarah pada apoptosis, namun mekanisme yang terlibat belum diketahui dengan jelas. Tingginya konsumsi kopi di dunia yang selalu meningkat mengindikasikan perlunya dilakukan penelitian untuk mengetahui efek kafein pada epitel rongga mulut yang berkontak langsung dengan kafein. Penelitian terdahulu melaporkan bahwa ekstrak kopi menyebabkan kerusakan sel yang sebagian besar mengarah pada apoptosis, tetapi mekanismenya belum jelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis mekanisme kematian sel KB yang diinduksi oleh kafein melalui aktivasi caspase-3. Sel KB sebagai model epitel oral (5x10⁴sel) dikultur dalam DMEM menggunakan 24 wells microplate selama 24 jam sebelum perlakuan. Sel selanjutnya dipapar dengan kafein dengan konsentrasi 100 µg/ml, 200 µg/ml, 400 µg/ml dan diinkubasi selama 24 dan 48 jam dalam DMEM. Doxorubicin (0,5625 µg/ml) digunakan sebagai kontrol positif induksi apoptosis. Teknik imunositokimia terhadap caspase-3 dilakukan pada sel setelah dipapar kafein untuk mengamati adanya ekspresi caspase-3 sebagai ciri apoptosis. Identifikasi caspase-3 dilakukan menggunakan mikroskop fase kontras. Ekspresi protein caspase-3 terdeteksi pada sitoplasma sel KB. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya ekspresi caspase-3 aktif yang ditandai dengan warna cokelat dengan intensitas kuat pada sitoplasma sebagian besar sel setelah dipapar kafein dengan konsentrasi 100 μg/ml dan 200 µg/ml selama 24 jam. Disimpulkan bahwa ekstrak kopi menyebabkan apoptosis sel KB melalui jalur aktivasi caspase-3. The Expression of Caspase-3 in Oral Cavity (Kb Cell Line) after Exposure to Coffee Extract. People widely consume coffee in daily meals. It is known there is caffeine found in coffee like it is found in tea and chocolate. Caffeine is found in the greatest amount of coffee. This 1, 3, 7- trimethyl xanthine substance is a derivate of xanthine that is consumed by almost all people in the world. This substance could induce cell death that mainly is apoptosis, but how the mechanism has not been clearly understood. Considering that coffee is widely consumed in the whole world, it is necessary to conduct an experiment to find any possible effect of caffeine to oral epitel that make direct exposure to caffeine. This experiment is targeted to analyze the mechanism of cell death which caused by caffeine through activation of caspase-3. KB cells as oral epithelial model (5x1044 sel) were cultured in DMEM using 24 well microplate for 24 hours before treatment. Then caffeine was given with concentration of 100 µg/ml, 200 µg/ml and 400 µg/ml. Cells were then incubated for 24 and 48 hours period in DMEM. Doxorubicin (0,5625 µg/ml) was used as a positive control of apoptosis induction. Immunocytochemistry technique was then done to observe any caspase three expression as a marker for apoptosis. Identification of active caspase-3 was then done using contrast phase microscope. The results showed expression of caspase-3 in KB cells cytoplasm which observed as high intensity of brown colored molecules in cell cytoplasm after 100 μg/ml and 200 µg/ml caffeine exposure in 24 hours. It was concluded that coffee extract induce KB cells apoptosis through caspase-3 activation mechanism.
Pembuatan Pasta Gigi Katekin Teh Hijau dan Uji Daya Hambat terhadap Bakteri Streptococcus Mutans dan Lactobascillus Ascidopillus Fajriani Fajriani; Sartini Djide
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 1, No 1 (2015): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.097 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8866

Abstract

Pembuatan pasta gigi ini dilatar belakangi oleh keinginan peneliti agar memudahkan masyarakat menggunakan bahan alami katekin teh hijau yang hasilnya langsung di uji efektifitasnya terhadap daya hambat bakteri kariogenik. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pembuatan prodak pasta gigi katekin teh hijau dengan formula yang sesuai dengan hasil uji dan melakukan pengujian daya hambat pasta gigi katekin teh hijau terhadap bakteri streptococcus mutans dan lactobacillus acidophilus. Pembuatan pasta gigi katekin teh hijau didahului dengan pembuatan ekstrak katekin dan uji konsentrasi hambat minimal (KHM) dan uji konsentrasi bunuh minimal (KBH) menggunakan metode dilusi cair.Peracikan formula dan pembuatan pasta gigi katekin teh hijau dilakukan sesuai hasil uji KHM (MIC). Pasta gigi katekin teh hijau ini dilakukan pengukuran kadar total flavonoid dan total polifenol, selanjutnya pengukuran uji daya hambat pasta gigi katekin teh hijau dilakukan dengan metode difusi menggunakan well (sumuran) sebagai reservoar sampel uji terhadap bakteri streptococus mutans dan lactobacilus acidophilus. Hasil diperoleh prodak pasta gigi katekin teh hijau dengan kandungan kadar flavonoid 77% dan kadar polifenol 41%, sedangkan hasil uji diameter hambatan pasta gigi katekin teh hijau terhadap bakteri streptococcus mutans 17,2 mm dan bakteri lactobacillus acidophilus 19,6 mm. Hasil ini menunjukkan bahwa prodak katekin teh hijau ini sangat efektif digunakan sehari-hari sebagai perawatan gigi dan juga sebagai antibakteri kariogenik. Making Green Tea Catechin Toothpaste and Inhibition Test Against Streptococcus Mutans and Acidophilus Lactobaccilus. The manufacture of this toothpaste is motivated by the desire of researchers to facilitate the public to use natural ingredients of green tea catechins whose result effectiveness against cariogenic bacteria was directly tested inhibition. This study is to find the right formula composition for greentea catechins toothpaste based on the result of the inhibition properties of greentea cathecins against tostreptococcus mutans dan lactobacillus acidophilus. The manufacture of greentea catechins toothpaste was after making catechins extracts and testing minimal inhibition concentration (MIC) and minimal bactericidal concentration (MBC) using liquid dilution method. The toothpaste was then made according to the result of MIC. The toothpaste’s flavonoid and polyphenol total contain was measured; then the inhibition property of the toothpaste to was measured using diffusion method with wells as the sample reservoar for streptococus mutans dan lactobacilus acidophilus. It is found that the toothpaste contains 77% flavonoid and 41% polyphenol, and the diameter of the inhibition property of green tea catechyn is 17.2 mm for streptococus mutans and 19.6 mm for lactobacilus acidophilus. This result shows that greentea catechyn toothpaste is very effective for daily oral care which is antibacterial.
Autotranplantasi Caninus Maxilla pada Soket Incisivus Lateral Maxilla menggunakan Anestesi Lokal Adi Subekti Putra; Maria Gorreti Widyastuti; Poerwati Soetji Rahajoe
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 1, No 2 (2015): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.768 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.9119

Abstract

Autotransplantation of Maxillary Canines in Lateral Incisor Socket Using Local Anesthetic. Autotransplantation as the primary option that has many benefits over a period of mixed dentition for contributing to stimulating bone growth; it is not obtained on dental implants. Autotransplantation donor tooth is best when root development reaches half or one-third of the total length with open apex, with a success rate of 94%. However in the complete root, the success rate is lower (84%) due to periodontal issues which are often damaged when making the donor. In this case report, the authors performed the autotransplantation using a whole root donor tooth. Embedded teeth were used to replace deciduous canine teeth with rampant caries. The aim of this case is to replace rampant caries teeth that are not anatomically perfect.
Profil Bibir dan Posisi Insisivus Perawatan Kasus Borderline Klas I dengan Pencabutan dan Tanpa Pencabutan Yenni Hanimastuti; Pinandi Sri Pudyani; Darmawan Sutantyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.956 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.7668

Abstract

Penentuan rencana perawatan ortodontik dengan pencabutan atau tanpa pencabutan masih menjadi perdebatan, terutama pada kasus borderline.Perawatan ortodontik dengan atau tanpa pencabutan dapat mempengaruhi profil wajah.Perubahan pada penampilan wajah terjadi akibat adanya perubahan posisi gigi anterior yang dapat mempengaruhi perubahan profil jaringan lunak wajah terutama pada daerah bibir. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan perubahan profil bibir dan posisi gigi insisivus pada kasus borderline klas I antara perawatan dengan pencabutan 4 premolar kedua dan tanpa pencabutan. Penelitian dilakukan pada 28 sefalogram lateral kasus borderline klas I  yang dirawat dengan teknik straight wire, terdiri dari 2 kelompok (13 kasus dengan pencabutan dan 15 kasus tanpa pencabutan). Masing-masing sefalogram dilakukan pengukuran profil bibir,yaitu jarak bibir atas dan bawah terhadapVertical Reference Plane (VRP) dan sudut interlabial; serta posisi gigi insisivus, yaitu jarak gigi insisivus atas dan bawah terhadap Vertical Reference Plane (VRP), sebelum dan sesudah perawatan. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap awal perawatan kedua kelompok memiliki karakteristik profil bibir dan posisi gigi insisivus yang sama (p>0,05). Terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) pada perubahan posisi bibir, sudut interlabial, dan posisi gigi insisivus antara kelompok yang dirawat dengan pencabutan dan tanpa pencabutan setelah perawatan ortodontik. Kesimpulan penelitian ini adalah profil bibir dan posisi gigi insisivus pada kasus borderline klas I yang dirawat dengan pencabutan 4 premolar kedua menjadi lebih retrusif daripada profil bibir dan posisi gigi insisivus kasus borderline klas I yang dirawat tanpa pencabutan.Lips Profile And Incisivus Position In Class Iborder Line Cases With Or Wthout Extraction. Determining whether an orthodontic treatment plan should be with or without extraction is still debatable, particularly for borderline cases. In fact, such a treatment could affect the facial profile. The change in facial appearance is caused by the reposition of anterior teeth which could cause facial soft tissue profile changes, particularly at the lips area. The aim of this study is to compare the changes of lips profile and incisors position in class I borderline cases which have been treated with extraction of 4 second premolars and non-extraction.The study was conducted on 28 lateral cephalograms of class I borderline cases which have been treated with straight wire technique, as divided into two groups (13 extraction and 15 non-extraction cases). Each cephalograms had measured on lips profile, which was the distance of upper and lower lips to Vertical Reference Plane (VRP) and interlabial angle; and the position of incisors, which was the distance of upper and lower incisors to Vertical Reference Plane (VRP), at pre and post-treatment. The results of this study have shown that at the initial treatment, lips profile and incisors position for both groups have similar characteristics (p>0,05). There are significant differences (p<0.05) on lips position, interlabial angle, and incisors position changes between the extraction and non- extractiion cases after orthodontic treatment. From this study, it can be concluded that lips profile and incisors position in class I borderline cases treated with the extraction of second bicuspid are more retruded than that of non-extraction cases
Pengaruh Lama Perendaman dan Jenis Minuman Beralkohol Bir dan Tuak terhadap Kekerasan Email Gigi Manusia (In Vitro) Malida Magista; Archadian Nuryanti; Ivan Arie Wahyudi
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (844.219 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8539

Abstract

Erosi gigi merupakan hilangnya lapisan email gigi karena asam. Jenis asam, pH rendah, serta kandungan kalsium, fosfat, dan fluoride pada bir dan tuak diduga merupakan faktor kimiawi penyebab erosi gigi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lama perendaman dan jenis minuman beralkohol bir dan tuak terhadap kekerasan email gigi manusia (in vitro). Penelitian ini menggunakan 14 sampel gigi premolar pertama atas. Setiap gigi dibagi menjadi 2 bagian, bukal dan palatal. kemudian dibagi menjadi 7 kelompok perlakuan, yaitu kelompok (A1) perendaman dalam bir (ringan); (A2) kelompok perendaman dalam bir sedang; kelompok (A3) perendaman dalam bir berat, kelompok (B1): perendaman dalam tuak ringan, (B2): perendaman dalam tuak sedang, (B3): perendaman dalam tuak berat dan kelompok kontrol (C). Uji kekerasan email gigi dilakukan menggunakan Micro Vickers Hardness Tester. Pengujian kekerasan awal email gigi dilakukan sebelum perendaman gigi. Perendaman gigi premolar pertama atas pada bir dan tuak dilakukan selama 10 detik, 50 detik, dan 250 detik perhari dengan penyimpanan subjek penelitian pada saliva buatan. Uji kekerasan akhir email gigi dilakukan setelah perlakuan selama 30 hari. Nilai perubahan kekerasan email gigi merupakan selisih nilai kekerasan akhir dan nilai kekerasan awal email gigi. Sebagai tambahan data, pada bir dan tuak juga diukur kandungan pH, kalsium, dan fosfor. Data dianalisis menggunakan uji ANAVA dua jalur dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil analisis ANAVA dua jalur menujukkan bahwa jenis minuman dan lama perendaman berpengaruh bermakna terhadap kekerasan email gigi (p<0,05). Hasil uji LSD menunjukkan adanya perbedaan rerata yang signifikan (p<0,05) antar kelompok uji bir dan tuak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh jenis minuman beralkohol bir dan tuak dan lama perendaman terhadap kekerasan email gigi manusia (in vitro).The Effect Of Contact Time And Alcohol Beverages Beer And Tuak On Human Dental Enamel Hardness (In Vitro). Dental erosion is the loss of dental hard tissue, associated with acid. Acid type, low pH, and concentration of calcium, phosphate, and fluoride are being estimated as chemical factors of dental erosion. The purpose of this study was to determine the effect of contact time and alcohol beverages beer and tuak on human dental enamel hardness (in vitro).This study was using 14 samples maxillary first premolar. Each tooth was divided into two parts, buccal and palatal. Then divided into 7 treatment groups, i.e. groups of light beer “drinkers” (A1), moderate beer “drinkers” group (A2), heavy beer “drinker” group (A3), light tuak “drinker” group (B1), moderate tuak “drinkers” group (B2), the group “drinkers” heavy tuak (B3) and control group (C). Enamel hardness values were monitored using Micro Vickers Hardness Tester. Initial enamel hardness value was tested before the treatment. Maxilla first premolar teeth were exposed to beer and tuak for 10 seconds, 50 seconds, and 250 seconds per day for 30 days in the presence of artificial saliva. Final enamel hardness value was monitored after 30 days of treatment. Enamel hardness difference values were calculated by subtracting initial and final enamel hardness value. As supporting data, It was measured pH and concentration of calcium and phosphor in beer and tuak. Data was being analyzed by two-way ANOVA and LSD test. Results showed that contact time and alcohol beverage beer and tuak had a significant influence to enamel hardness value (p<0.05). LSD test showed that some groups had significant average difference (p<0.05). It was concluded that contact time and type of alcohol beverages beer and tuak had effect on human dental enamel hardness (in vitro).
Penetapan Dokter Gigi Layanan Primer di Indonesia Iwan Dewanto
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.851 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.9833

Abstract

Pelaksanaan jaminan kesehatan nasional (JKN) di Indonesia yang di implementasikan pada tahun 2014 merupakan tantangan untuk dapat melakukan perubahan pelayanan yang lebih terstruktur. Konsep pelayanan sistem jaminan kesehatan nasional di Indonesia membagi pelayanan menjadi 3 struktur layanan yaitu pelayanan primer, pelayanansekunder dan pelayanan tersier. Pola pembiayaan yang digunakan untuk pelayanan primer adalah sistem kapitasi, sedangkan untuk pelayanan sekunder dan tersier menggunakan sistem DRG (Diagnosis Related Group) yang di Indonesia digunakan istilah Indonesia Case-Based Group (INA CBG`s). Kondisi kesadaran masyarakat Indonesia untuk kesehatangigi dan mulut masih belum baik, sehingga memerlukan perbaikan proses, aksesibilitas, dan konsep pelayanan yang lebih baik. Perbaikan tersebut dapat dilaksanakan dalam bentuk pelayanan primer kedokteran gigi, dengan konsep kendali mutu dan kendali biaya. Tujuan dari penulisan telaah ilmiah ini adalah memberikan kajian pada penetapan pelayanan di bidang kedokteran gigi menjadi pelayanan primer dalam sistem JKN, sesuai dengan kaedah, kondisi dan peraturan yang berlaku. Dokter gigi layanan primer sebagai first professional degree yang peran dan fungsinya adalah di pelayanan tingkat primer (primary health services) berfungsi sebagai gate-keeper pada pemberi pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang diharapkan dapat menertibkan sistem rujukan dalam Sistem Kesehatan Nasional. Dokter gigi layanan primerdiharapkan dapat menyelesaikan keluhan masyarakat akan kesehatan gigi yang termasuk dalam batas kompetensi dan kewenangannya, sehingga masyarakat tidak perlu mengorbankan sumber daya yang lebih besar untuk mendapatkan perawatan tingkat spesialis yang sesungguhnya tidak mereka perlukan. Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat merupakan hal yang mutlak diperlukan oleh masyarakat Indonesia di masa yang akan datang. Determination Of Primary Dental Services In Indonesia. The implementation of Indonesia National Health Security (JKN) is a challange from developing a better structure of healthcare. The structure of health services is divided into three tiered system, which is primary care, secondary care, and tertiary care. Model of financing used for the primary care is capitation system, while for secondary and tertiary care system is claim system based on Indonesia Case-Based Group (CBG INA `s). Improvement of oral health services by general dentist can be carried out in the form of primary care dentistry by quality and cost control.The aim of this study is to provide a scientific study on the determination of dental services offered by general dentist as primary care in National Health Security system, according to the rules, conditions and regulations. Primary care dentists have function at the main level of care (primary health services) as a gate-keeper. They are expected to enforce referral system in the National Health Security System. Primary care dentist issupposed to resolve oral health problem within their competence and authority, so people do not need to go to specialist care that is not needed. Thus, improving the quality of oral health services provided for the public is a must.
Restorasi Resin Komposit Menggunakan Pasak Tapered Self Threading Pada Molar Ketiga Kiri Mandibula Ellen Krisanti; Tri Endra Untara
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.991 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8381

Abstract

Morfologi saluran akar gigi molar mandibula ketiga memiliki variasi yang lebih kompleks dibandingkan gigi molar lainnya.   Pada gigi molar ketiga sering dilakukan pencabutan, namun dalam keadaan tertentu gigi molar ketiga dapat dipertahankan. Perawatan saluran akar satu kunjungan merupakan pilihan untuk terapi kasus ini. Tujuan laporan kasus ini untuk memperlihatkan keberhasilan dari perawatan saluran akar satu kunjungan pada gigi molar ketiga nekrosis pulpa disertai restorasi resin komposit dengan pasak tapered self theading. Pasien wanita 20 tahun datang ke RSGM Prof Soedomo FKG UGM dengan keluhan sakit saat pengunyahan pada gigi molar ketiga dan positif pada perkusi. Gambaran radiografis menunjukkan restorasi yang tidak sempurna, terdapat celah antara kavitas dengan restorasi. Rencana perawatan pada kasus ini, perawatan saluran akar satu kunjungan dan resin komposit dengan pasak tapered self threading sebagai restorasi akhir. Kesimpulan dari perawatan saluran akar satu kunjungan memiliki rekontaminasi mikroorganisme yang lebih kecil dibandingkan dengan multi kunjungan sehingga menjamin keberhasilan perawatannya. Restorasi resin komposit secara direkdengan pasak tapered self threadingmerupakan restorasi alternatif pasca perawatan endodontikkarena lebih cepat dan kuat.Composite Resin Restoration Using Tapered Self Threading Poston Left Mandibular Third Molar. Root canal morphology of mandibular third molar has more complex variation than the other molars. In third molar, the extraction teeth are often executed; however, the third molar can be maintained in other conditions. One visit root canal treatment is a therapy option for this case. The purpose of this case report is to show the success of one visit root canal treatment in third molar with pulp necrosis by restoring the composite resin through tapered self-treading post. A 20 year-old female patient who came to the Prof Soedomo RSGM, FKG UGM complained about the pain when chewing food on her third molar and positive in percussion. The radiographs showed that there was an incomplete restoration. There was a gap between cavities with restoration. The treatment plan for this case was one visit root canal treatment and composite resin with tapered self-threading post as final restoration. From the case, it can concluded that one visit root canal treatment results in a smaller chance for microorganism recontamination than the multi-visit in order to ensure the success of the treatment. Direct composite resin restoration with tapered self-threading dowel is an alternative restoration after endodontic treatment because it works out faster and more retentive.
Perawatan Maloklusi Klas II Divisi 1 Dentoskeletal Disertai Retrusi Mandibula Dengan Alat Fungsional Bionator Afini Putri Luthfianty; Sri Suparwitri; Soekarsono Hardjono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.217 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8759

Abstract

Maloklusi klas II divisi 1 dentoskeletal disertai dengan retrusi mandibula dan lengkung rahang yang sempit dapat terjadi akibat dari faktor keturunan dan diperparah oleh kebiasaan buruk. Kondisi maloklusi tersebut ditandai dengan adanya palatal bite dan overjet yang besar. Perawatan maloklusi klas II divisi 1 pada masa pertumbuhan dan perkembangan dapat dilakukan dengan menggunakan alat ortodontik fungsional, salah satunya adalah Bionator. Pemilihan bionator bertujuan untuk menuntun rahang bawah untuk bergerak ke posisi yang diinginkan dan memperlebar lengkung rahang. Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah menyajikan hasil kemajuan perawatan maloklusi klas II divisi 1 dengan menggunakan alat ortodontik fungsional Bionator. Pasien perempuan berumur 12 tahun mengeluhkan gigi depan atas maju sehingga mengganggu penampilan. Diagnosa kasus adalah maloklusi klas II divisi 1 dentoskeletal disertai dengan retrusi mandibula, bidental protrusif, palatal bite, kontraksi lengkung rahang dan malposisi gigi individual. Pasien dirawat dengan menggunakan alat ortodontik fungsional Bionator. Perawatan setelah tiga bulan, secara klinis terlihat profil pasien terkoreksi, overjet berkurang, palatal bite hilang, dan open bite posterior. Treatment of dentoskeletal class II division I with mandibula retrussion using Bionator appliance. Malocclusion Class II division 1 dentosceletal followed with mandibular retrusion and contraction of arch could be happened by genetic and bad habit. It was showed with severe palatal bite and overjet. In the development and growth phase, the treatment for that condition is fuctional appliance, such as Bionator. Bionator arranged lower jaw to the good position and distraction the arch. The purpose of this case report is to present the treatment of malocclusion dentosceletal Class II division 1 with fuctional appliance Bionator. A 12 years old female patient complained of front upper teeth are protrusive. Diagnosis is malocclusion Class II division 1 dentosceletal followed with mandibular retrusion, bidental protrusive, palatal bite, contraction of jaw and malposition individual teeth. The patient treated with fuctional appliance Bionator. After 3 months treatment, patient`s profile corrected, decreased overjet, no palatal bite, and open bite posterior. 
Pengaruh Gigi Impaksi Molar Ketiga terhadap Ketebalan Angulus Mandibula Berdasarkan Jenis Kelamin Hendri Poernomo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 1, No 1 (2015): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.22 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8941

Abstract

Fraktur mandibula sering terjadi pada praktek kedokteran gigi. Fraktur biasanya terjadi di daerah angulus mandibula tepat di daerah yang terdapat gigi impaksi. Masalah yang ditimbulkan akibat fraktur mandibula, yaitu hilangnya keseimbangan, terputusnya komponen neurovascular dan cedera pada jaringan disekitar fraktur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan ketebalan tulang angulus mandibula antara kelompok yang memiliki gigi impaksi dengan kelompok yang tidak memiliki gigi impaksi serta jenis kelamin berdasarkan radiografis. Jenis penelitian deskriptif analitik menggunakan 40 sampel foto rontgen panoramik. Hasil penelitian terdapat perbedaan rata-rata antara pasien yang memiliki gigi impaksi dan tanpa gigi impaksi yaitu 1,44. Pada pasien impaksi gigi molar ketiga menurut jenis kelaminmenunjukkan perbedaan rerata ketebalan angulus mandibula sebesar 1,19 pada laki-laki dan 1,16 pada perempuan serta pasien tanpa impaksi menunjukkan nilai rerata ketebalan angulus mandibula sebesar 1,48 pada laki-laki dan 1,40 pada perempuan. Berdasarkan perhitungan T-test terdapat perbedaan yang bermakna (ρ<0,05). Kesimpulan bahwa adanya perbedaan signifikan ketebalan angulus mandibula pada pasien dengan gigi impaksi molar ketiga rahang bawah dan kelompok pasien tanpa gigi impaksi molar ketiga rahang bawah, serta jenis kelamin. Effect of impacted teeth on thickness of the angle of mandible based on gender. Mandibular fractures often occur in dental practice. Fractures usually occur in the angle of the mandible within the area of the impacted tooth. Some problems that are caused by mandibular fractures area are, the loss of balance, the breaking of neurovascular components and injury to the tissue surrounding the fracture. The purpose of this study is to determine the differences in bone thickness of the angle of the mandible between the groups that have an impacted tooth with the group that does not have an impacted tooth with different gender based on radiographic. This analytic descriptive study used 40 samples of panoramic radiographs. The study results show that the average difference between patients that have impacted tooth with patients that do not have is 1,44. Patients with impacted third molar based on gender show an average difference of the thickness of mandibular angle of 1,19 for men and 1,16 for women and patients with no impaction show an average thickness of the mandibular angle of 1,48 for men and 1,40 for women. Based on T-test calculation, there is a significant difference (ρ <0.05). The conclusion of study is that there is significant differences in the thickness of the angle of the mandible based on group of patients with impacted mandibular third molar, with the group of patients without impacted mandibular third molar.