cover
Contact Name
I Made Dwiki Arta Kusuma
Contact Email
dwikiarta29@gmail.com
Phone
082237782324
Journal Mail Official
info.jurnalkedokteranunwar@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa Gedung F2 Lantai 3 Jalan Terompong Nomor 24, Tanjung Bungkak, Sumerta, Denpasar Timur, Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
WMJ (Warmadewa Medical Journal)
  • warmadewa_medical_journal
  • Website
Published by Universitas Warmadewa
ISSN : 25274627     EISSN : 25799010     DOI : doi.org/10.22225/wmj
Core Subject : Health,
WMJ (Warmadewa Medical Journal) is the Journal of Medicine & Health, contains scientific articles (Original/ Research Articles, Review Articles, Case Reports) by academic community of the Faculty of Medicine and Health Sciences Warmadewa University, other Faculties of Medicine and Health Sciences and other related Institutions. It is the medium for hardskill and softskills development as an integral part of the Tri Dharma Perguruan Tinggi (Education, Research, Public Service) and health services in the forms of media of communication, information, scientific education, as a subsystem of Medicine and Health holistic and comprehensive services.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 2 (2016): November 2016" : 5 Documents clear
Goiter Sebagai Faktor Predisposisi Karsinoma Tiroid Ni Wayan Armerinayanti
WMJ (Warmadewa Medical Journal) Vol 1 No 2 (2016): November 2016
Publisher : Warmadewa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmj.1.2.27.42-50

Abstract

Goiter merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang dapat berkaitan dengan gangguan primer pada organ tiroid ataupun akibat stimulasi hormonal atau faktor lain terhadap tiroid. Di Indonesia dan di Bali khususnya kasus karsinoma tiroid mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan kasus goiter endemik maupun non endemik. Goiter memiliki faktor risiko sebesar 2,5 kali lipat untuk menimbulkan karsinoma tiroid. Goiter dapat menimbulkan hiperplasia yang bersifat difusa maupun noduler (nodul tunggal dan multipel). Analisis klonal telah membuktikan bahwa hiperplasia merupakan proliferasi yang bersifat poliklonal. Pada tiroid, ditemukan perubahan pola monoklonal pada kelompok nodul yang sebelumnya merupakan nodul hiperplastik. Perubahan poliklonal menjadi monoklonal ini merupakan interaksi antara adanya lesi hiperplastik sebelumnya dengan predisposisi genetik yang selanjutnya menciptakan lingkungan mutagenik, ditandai oleh peningkatan proliferasi sel disertai pembentukan radikal bebas yang memicu adanya mutasi somatiktirosit. Pemberian suplementasi iodium pada kasus goiter endemik, dikatakan berkaitan dengan adanya kandungan iodine radioaktif nantinya justru menimbulkan kerusakan rantai DNA melalui tata ulang RET-TRK.Kata Kunci: goiter, predisposisi, karsinoma tiroid. [Goitre as Predisposing Factor of Thyroid Carcinomas].Goitre is an enlargement of thyroid gland which can be associated with primary thyroid disorders or stimulation of the gland by hormones and other factors. In Indonesia and especially in Bali, increase of Thyroid Carcinoma cases had been associated with either endemic or non endemic goiter. Goitre increases 2.5 fold risk of thyroid carcinoma. Goitre may cause diffuse and nodular hyperplasia (either single or multiple nodules). Clonal analysis has been discovered that hyperplasia is considered to be polyclonal proliferation. Monoclonal alterations had also been found in a subset of thyroid nodules that were previously considered hyperplastic. Alterations of polyclonal to monoclonal pattern was considered as interaction between past history of hyperplastic lesion and genetic predisposition which furthermore forming mutagenic environment such as increases of cell proliferation and also free radicals induce- somatic mutation. Iodine supplementation on endemic goiter related with radioactive iodine content which damaging DNA sequences in the form of RET-TRK rearrangement.Keywords: goitre, predispose, thyroid carcinoma.
Efek Pemberian Virgin Coconut Oil (Cocos nucifera) terhadap Dislipidemia pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan Galur Wistar yang Diberi Diet Tinggi Kolesterol Augus Venty; I Gusti Made Aman; Wimpie Pangkahila
WMJ (Warmadewa Medical Journal) Vol 1 No 2 (2016): November 2016
Publisher : Warmadewa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmj.1.2.28.58-65

Abstract

Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai peningkatan kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida diatas nilai normal serta penurunan kolesterol HDL di dalam darah. Virgin coconut oil (VCO) mengandung 92% lemak jenuh sehingga dikaitkan dengan peningkatan resiko penyakit kardiovaskular. Tidak semua asam lemak jenuh buruk bagi kesehatan. VCO terdiri dari medium chain triglycerides (MCT) dan komponen polifenol bekerja secara sinergis dalam mencegah dislipidemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegunaan VCO sebagai alternatif untuk mencegah dislipidemia pada tikus putih jantan galur wistar yang diberi diet tinggi kolesterol. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental murni dengan randomized post-test only control group design menggunakan 36 ekor tikus putih jantan. Semua sampel diberikan diet tinggi kolesterol, lalu dibagi menjadi 2 kelompok secara random yaitu kelompok kontrol yang diberikan plasebo berupa akuades sebanyak 0,8 ml/ hari dan kelompok perlakuan yang diberikan VCO sebanyak 0,8 ml/ 200 gram berat badan/ hari selama 28 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rerata kolesterol total kelompok perlakuan lebih rendah dari kelompok kontrol (113,49±4,31 mg/dl vs 222,61±6,41 mg/dl) (p<0,05). Rerata trigliserida kelompok perlakuan lebih rendah dari kelompok kontrol (91,46±5,56 mg/dl vs 153,51±5,40 mg/dl) (p<0,05). Rerata kolesterol LDL kelompok perlakuan lebih rendah dari kelompok kontrol (37,94±3,32 mg/dl vs 71,25±2,76  mg/dl) (p<0,05). Rerata kolesterol HDL kolesterol total kelompok perlakuan lebih tinggi dari kelompok kontrol (41,62±1,58 mg/dl vs 25,02±2,59 mg/dl) (p<0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa virgin coconut oil mencegah dislipidemia pada tikus jantan galur wistar yang diberi diet tinggi kolesterol.Kata Kunci: virgin coconut oil, profil lipid, dislipidemia. [The Effect of Virgin Coconut Oil (Cocos nucifera) to Dyslipidemia in Male Wistar Rats (Rattus norvegicus) Fed with High Cholesterol Diet].Dyslipidemia is a lipid metabolism disorder followed by high total cholesterol level, high LDL cholesterol level, high tryglyceride level and low HDL cholesterol level. Virgin coconut oil (VCO) contains 92% saturated fat that is associated with an increased risk of cardiovascular disease. Not all saturated fatty acids are bad for health. VCO consist of medium chain triglycerides (MCTs) and polyphenol components that work synergistically in preventing dyslipidemia. This research was aimed to determine the usefulness of VCO as an alternative to prevent dyslipidemia in male wistar rats fed with high cholesterol diet. This study was a true experimental research with randomized post-test only control group design using 36 male rats. All samples were given a high cholesterol diet and were divided into 2 groups randomly: a control group were given a placebo (distilled water) 0,8 ml/ day and a treatment group were given VCO 0,8 ml/ 200gram weight/ day for 28 days. The results showed that the treatment group had a significantly lower total cholesterol levels compared to the control group (113,49±4,31 mg/dl vs 222,61±6,41 mg/dl) (p<0,05). The treatment group had a significantly lower triglycerides levels compared to the control group (91,46±5,56 mg/dl vs 153,51±5,40 mg/dl) (p<0,05). The treatment group had a significantly lower LDL cholesterol levels compared to the control group (37,94±3,32 mg/dl vs 71,25±2,76  mg/dl) (p<0,05). The treatment group had a significantly higher HDL cholesterol levels compared to the control group (41,62±1,58 mg/dl vs 25,02±2,59 mg/dl) (p<0,05). This research concluded that virgin coconut oil was proved in preventing dyslipidemia in male wistar rats fed with high cholesterol diet.Keywords: virgin coconut oil, lipid profile, dyslipidemia.
Perkiraan Tinggi Badan Berdasarkan Tulang Panjang Usia 17-22 Tahun I Gusti Ngurah Putu Sana; Dewa Ayu Agung Alit Suka Astini; I Ketut Tangking Widarsa; I Nyoman Sueta; I Wayan Suwitra; Komang Trisna Sumadewi
WMJ (Warmadewa Medical Journal) Vol 1 No 2 (2016): November 2016
Publisher : Warmadewa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmj.1.2.29.66-70

Abstract

Perkiraan tinggi badan sangat penting pada antropologi forensik dalam identifikasi jenasah akan tetapi belum ada model yang baku untuk tujuan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model perkiraan tinggi badan dengan menggunakan tulang panjang sebagai prediktor. Metode penelitian dengan desain observasional melalui studi cross sectional dilakukan terhadap 96 sampel mahasiswa dipilih secara stratified random dari total 199 mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi, usia 17-22 tahun. Tinggi badan diukur menggunakan ZT-120 Health Scale dan panjang tulang humerus, radius, ulna, femur, tibia dan fibula diukur dengan menggunakan spreading caliper. Model estimasi tinggi badan menggunakan model regresi linier berganda dengan panjang tulang panjang sebagai prediktor. Untuk estimasi tinggi badan laki-laki terdapat tiga tulang sebagai prediktor yaitu tulang tibia kiri, humerus kanan, dan radius kanan dengan koefisien regresi 0,94 (±0,3), 0,82 (±0,3), dan 0,79 (±0.4) secara berurutan. Prediktor untuk tinggi perempuan adalah tulang fibula kiri, ulna kiri, dan humerus kiri dengan koefisien regresi 1,13 (±0,3), 1,20 (±0,4), dan 0,85 (±0,4) secara berurutan. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tulang tibia kiri, humerus kanan, dan radius kanan dapat dipakai memperkirakan tinggi badan laki-laki dan tulang fibula kiri, ulna kiri, dan humerus kiri untuk tinggi badan perempuan.Kata kunci: tinggi badan, tulang panjang, tibia, fibula. [Estimated Stature Based on Long Bone Age 17-22 Years]             The estimation of stature is very important in forensic anthropology in the identification of bodies, but there is no standard model for the purpose. This study aims to develop a model estimated height, using a predictor of long bones. A total of 96 samples of randomly selected students from a total of 199 students, aged 17-22 years. Height was measured using ZT-120 Health Scale and the length of the humerus, radius, ulna, femur, tibia and fibula was measured by using a spreading caliper. Height estimation model using multiple linear regression model with long bone length as a predictor. to estimate the height of men there are three bones as predictors, the left tibia, right humerus and a right radius, with a regression coefficient of 0.94 (±0.3), 0.82 (±0.3), and 0.79 (±0.4) sequentially. Predictors for the high women are left fibula, left ulna and left humerus, with regression koefsien 1.13 (±0.3), 1.20 (±0.4), and 0.85 (±0.4) sequentially. From this study it can be concluded that the left tibia, right humerus and right radius can be used estimate the height of men, and left fibula, left ulna and left humerus can be used estimate the height of women.Keyword: stature, long bone, tibia, fibula.
Korelasi Antara Kadar Leptin dengan IMT, Lingkar Pinggang dan RLPP pada Orang Dewasa Obesitas Usia 19-25 Tahun di Universitas Warmadewa Komang Trisna Sumadewi
WMJ (Warmadewa Medical Journal) Vol 1 No 2 (2016): November 2016
Publisher : Warmadewa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmj.1.2.30.71-82

Abstract

Obesitas berdampak secara fisik maupun psikologis yang berkaitan dengan sindrom metabolik dan penyakit kardiovaskuler. Pengukuran antropometri seperti Indeks Massa Tubuh (IMT), lingkar pinggang, lingkar panggul dan rasio lingkar pinggang panggul (RLPP) digunakan untuk identifikasi obesitas. Leptin berasal dari jaringan adiposa yang dapat mengindikasikan banyaknya timbunan lemak yang terdapat dalam tubuh. Leptin dapat bekerja secara sentral sebagai hormon metabolik melalui mekanisme umpan balik negatif untuk menekan nafsu makan dan meningkatkan pembakaran kalori melalui peningkatan aktivitas tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya korelasi antara kadar leptin dengan IMT, lingkar pinggang, RLPP pada orang dewasa obesitas usia 19-25 tahun di Universitas Warmadewa. Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasi dengan teknik pengambilan data cross sectional. Pengambilan 52 sampel darah baik laki-laki maupun perempuan yang mengalami obesitas dilakukan di Universitas Warmadewa dan diperiksa di Laboratorium Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa. Setiap sampel diperiksa tinggi badan, berat badan, lingkar pinggang, lingkar panggul dan kadar serum leptinnya dengan metode sandwich ELISA. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif dan korelasi. Hasil yang didapatkan, leptin berkorelasi signifikan dengan IMT (p=0,000; r=0,871 untuk perempuan; p=0,001; r=0,549 untuk laki-laki), lingkar pinggang (p=0,001; r=0,695 untuk perempuan; p=0,003; r=0,490 untuk laki-laki); RLPP (p=0,041; r=0,485 untuk perempuan; p=0,019; r=0,401 untuk laki-laki). Interval kepercayaan sebesar 95%. Kadar serum leptin memiliki korelasi positif dan signifikan dengan IMT, lingkar pinggang dan RLPP.Kata kunci: Leptin, IMT, lingkar pinggang, RLPP, obesitas. [Positive Correlation between Leptin Concentration, Body Mass Index, Waist Circumference and Waist-Hip Circumference Ratio in Obese Adults Aged 19-25 Years Old at Warmadewa University].Obesity causes negative impacts both psychologically as well as physically related to metabolic syndrome and cardiovascular diseases. Anthropometric measurements such as Body Mass Index (BMI), waist circumference, hip circumference, waist-hip circumference ratio (WHR) are used to identify obesity. Leptin originates from adipose tissue which can be used to identify obesity. Leptin works centrally as metabolic hormone through feedback negative mechanism to inhibit appetite and to increase calorie combustion along with increased body activity. This study aimed to confirm the correlation between leptin concentration and BMI, waist circumference, and WHR in adult obese individuals aged 19-25 years old at Warmadewa University. This study was an analytic correlation study carried out with a cross sectional data collection technique. Fifty two blood samples were collected from adult obese individuals at Warmadewa University, which were examined in Biomolecular Laboratory, Faculty of Medicine Warmadewa University. Fifty two adult obese individuals aged 19-25 years old, male and female, were measured for their height, weight, waist circumference, hip circumference and leptin concentration, by using sandwich ELISA method. Data were analyzed descriptively as well as statistically to assess the correlation. From this study, it was found that serum leptin concentration had a correlation with BMI (r=0.871 in females; p=0.001; r=0.549 in males), waist circumference (p=0.001; r=0.695 in females; p=0.003; r=0.490 in males); WHR (p=0.041; r=0.485 in females; p=0.019; r=0.401 in males). Confidence Interval (CI) 95%. Serum leptin concentration has significant positive correlation with BMI, waist circumference and WHR.Keywords: Leptin, BMI, waist circumference, WHR, Obesity.
Kemudahan dan Efek Samping Penggunaan Inserter Baru (R_inserter) Untuk Pemasangan IUD CuT-380A Pascasalin Kadek Agus Kurniawan
WMJ (Warmadewa Medical Journal) Vol 1 No 2 (2016): November 2016
Publisher : Warmadewa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmj.1.2.26.51-57

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasari oleh penggunaan IUD di Indonesia yang relatif rendah yakni 7,2% dari seluruh pemakaian alat kontrasepsi. Selama ini pemasangan IUD yang baku adalah mengunakan prinsip ”no touch and withdrawl technique”. IUD pascasalin yang sekarang digunakan adalah IUD biasa dimana panjang insertor tidak sesuai dengan kedalaman rongga rahim sehingga prinsip di atas tidak bisa dilakukan, dan keadaan ini  dapat meningkatkan risiko infeksi. Oleh karena itu penulis berusaha membuat insertor baru yang sesuai dengan kedalaman uterus pascasalin. Tujuannya untuk mengetahui apakah IUD R_inserter baru ini bisa dipasang secara no touch dan withdrawl technique dengan mudah dan untuk mengetahui efek samping yang terjadi. Metode yang digunakan merupakan Uji klinis fase II, post test observation. Selama kurun waktu 9 bulan pengamatan diperoleh 142 klien yang memenuhi kriteria penelitian. Lama pemasangan rata-rata adalah 3,89 ± 2,08 menit dengan minimum 2 menit dan maksimum 10 menit. Tidak ada kesulitan yang dirasakan. Secara kumulatif kejadian ekspulsi dalam 3 dan 6 bulan masing-masing 9,9% dan 10,6%. Kejadian seperti nyeri, perdarahan dan infeksi relatif lebih kecil dan dapat diatasi. Angka kelangsungan selama 3 dan 6 berturut turut adalah 89,4% dan 86,6%. Tidak dijumpai perforasi dan kehamilan pada penelitian ini. Adapun kesimpulan yang bisa didapat dari IUD R_Inserter baru dapat dipasang dengan mudah. Angka kejadian tertinggi adalah ekspulsi terjadi dalam satu bulan pertama pasca pasang.Kata kunci: R_inserter, ekspulsi, angka kelangsungan. [The Easiness and Side Effect Using New Inserter (R_inserter) for Insertion of CuT-380A IUD During Postpartum Periods].The Background this study because the rate of IUD use in Indonesia is relatively low at 7.2% among all contraceptive user. The standard insertion of IUD should be a no touch and withdrawal technique. With the conventional inserter this IUD is not able to be used during postpartum period. The new inserter should be devised. Objectives spesific To find out whether the new R_inserter could be used to insert IUD during postpartum period in no touch and withdrawal technique easily and to find out side effects and complication that might occur. Study design for this riset phase II clinical trial, post test observation. During 9 months period of study has recruited as many as 142 clients who meet the eligibility criteria. Mean duration of insertions was 3,89 ± 2,08 minutes, with the minimum 2 minutes and the maximum 10 minutes. No difficulties were perceived by insertors. Cumulative expulsion rate were 9.9% and 10.6% for 3 and 6 months respectively. Continuation rates were 89.4% and 86.6% for 3 and 6 months respectively. No perforations, no pregnancy was found during this study and the conclusion is the new R_inserter could be used easily for CuT insersions. The highest incidence rates are expulsion occured in the first month after insersions.Keywords: R_inserter, expulsion, continuation rate.

Page 1 of 1 | Total Record : 5