cover
Contact Name
Agus Chalid
Contact Email
gulid.p@gmail.com
Phone
+6285220013654
Journal Mail Official
gmhc.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical and Health Communication
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : https://doi.org/10.29313/gmhc
Core Subject : Health, Science,
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2014)" : 14 Documents clear
Efek Jus Gel Lidah Buaya (Aloe vera L.) dalam Menghambat Penyerapan Glukosa di Saluran Cerna pada Manusia Christian, Evan; Jasaputra, Diana Krisanti; Rahardja, Fanny
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah. Prevalensi DM di Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia. Pencegahan dan penatalaksanaannya menjadi sangat penting, sehingga diperlukan terapi komplementer alternatif yang salah satunya adalah lidah buaya. Tujuan penelitian ini untuk menilai efek jus gel lidah buaya (Aloe vera L.) dalam menghambat penyerapan glukosa di saluran cerna pada manusia. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Farmakologi Unversitas Kristen Maranatha Bandung selama Desember 2011 sampai Desember 2012. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimental dengan desain penelitian cross over. Penelitian dilakukan pada 10 orang subjek penelitian dan masing-masing memperoleh 3 perlakuan yaitu pemberian akuades, acarbose, dan jus gel lidah buaya yang diberikan saat makan. Kadar glukosa darah diukur pada saat puasa dan 2 jam post prandial. Uji analisis statistik dilakukan dengan menggunakan metode analysis of varians (ANOVA), dengan α = 0,05 dengan Uji lanjut Fisher LSD. Hasilnya menunjukkan adanya kenaikan kadar glukosa darah 2 jam post prandial oleh jus gel lidah buaya sebesar 14,35%, sedangkan akuades 23,91%. Hal ini menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05) yang berarti jus gel lidah buaya menghambat penyerapan glukosa pada saluran cerna. Potensi jus gel lidah buaya ini setara dengan acarbose yang menaikkan kadar glukosa darah 2 jam post prandial sebesar 12,31 % (p>0,05). Simpulan dari penelitian ini adalah jus gel lidah buaya menghambat penyerapan glukosa di saluran cerna pada manusia. Kata kunci: Lidah buaya (Aloe vera L.), penyerapan glukosa The Effect of ALOE VERA L Gel Juice  as Glucose Absorption Inhibitors in Gastrointestinal Tract on Humans Abstract Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease characterized by elevated blood glucose levels. The prevalence of DM in Indonesia ranks fourth in the world. Prevention and management are very important, that the necessary complementary alternative such as aloe vera is encouraged. This study aim to assess the effect of aloe vera gel juice in inhibiting the absorption of glucose in the gastrointestinal tract on humans. The study was a quasi experimental study with cross over study design conducted on 10 subjects during December 2011 to December 2012 in laboratory Department of Pharmacology Maranatha Christian University Bandung. Treatments given into 3 categories that are distilled water, acarbose, and the juice of aloe vera gel in meal time. FastingBlood glucose levels and after 2 hours post prandialswere measured. The data was analyzed using analysis of varians  (ANOVA), with α = 0.05 and the Fisher LSD test. The results showed that an increase in blood glucose levels after 2 hours post prandials was 14.35% in subjects given aloe vera gel juice, and 23.91% for distilled water and show significant differences (p<0.05. It means that aloe vera gel juice inhibited glucose absorption in the gastrointestinal tract. The potential of aloe vera gel juice is equivalent to acarbose which increases blood glucose levels 2 hours post prandials at 12.31% (p>0.05). The conclusion of this study is aloe vera gel juice inhibit glucose absorption in the gastrointestinal tract on humans. Key words: Aloe vera (Aloe vera L.), glucose inhibition 
Soursop Effect in Cervical Cancer Apoptosys Mechanism Yuniarti, Lelly; Sastramihardja, Herri; Purbaningsih, Wida; Tejasari, Maya; Respati, Titik; Hestu, Enggar; Adithya, Agly
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Cervical cancer is the fifth leading cancer cause of women death  in Indonesia.  Acetogenin, flavonoids, and tannins in sour sop leaves have anti-cancer effects through regulated genes which involved in apoptotic process such as in Caspase-3. This study aimed to determine the effect of ethanol extract of sour sop leaves to apoptosis and Caspase-3 gene expression in HeLa cell cultures. This was an in vitro study using HeLa cell culture samples  divided into 4 groups. The first group was HeLa cell cultures without  sour sop leaves ethanol extract. The 2nd ,3rd, and 4th group were HeLa cells cultures which were given sour sop leaves ethanol extract with concentration of 60 μg/mL, 120 mg / mL, and 240 mg / mL respectivelly. Apoptosis in each group was examined using TUNEL method and the expression of the caspase 3 gene by RT-PCR. One Way ANOVA with confidence level of 95% were used as statistical analysis.The result showed the effect of the sour sop leaves ethanol extract increased the apoptosis percentage in HeLa cells culture but did not affect the gene expression of Caspase-3.Key words: apoptosis, caspase-3, sour sop leaves Efek Daun sirsak dalam Mekanisme Apoptosis Kanker Serviks Abstrak Kanker serviks adalah penyebab kematian kelima untuk wanita di Indonesia. Asetogenin, flavonoid, dan tannin dalam daun sirsak terbukti mempunyai pengaruh anti kanker melalui regulasi gen melalui proses apoptosis seperti pada caspase-3. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek ekstrak etanol daun sirsak untuk apoptosis dan ekspresi gen caspase-3 dalam kultur sel HeLa. Penelitian ini adalah penelitian in vitro menggunakan sel kultur HeLa yang dibagi menjadi 4 kelompok. Grup pertama adalah sel kultur HeLa tanpa ekstrak etanol daun sirsak sedangkan grup dua, tiga dan empat adalah sel kultur HeLa yang mendapat ekstraks etanol daun sirsak dengan konsentrasi  60μg/mL, 120 mg / mL, dan 240 mg / mL secara bertururt turut. Apoptosis dalam setiap kelompok diperiksa dengan menggunakan metode  terminal deoxynucleotidyl transferase-mediated (TUNEL) dan ekspresi gen caspase-3 dengan menggunakan reverse transciptase-polimerase chain reaction (RT-PCR). One Way analysis of varians (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% digunakan untuk analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun sirsak meningkatkan persentase apoptosis dari kultur sel HeLa tetepi tidak berpengaruh pada ekspresi gen Caspase- 3. Kata kunci: Apoptosis, Caspase-3, ekstrak daun sirsak 
Peran Kedelai (Glycine Max L) dalam Pencegahan Apoptosis pada Cedera Jaringan Hati Tejasari, Maya; Shahib, Nurhalim; Iwan, Djanuarsih; Sastramihardja, Herri S
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada liver injury akibat berbagai sebab, terjadi apoptosis sel yang sangat banyak yang dapat memengaruhi fungsi metabolik hati.  Isoflavon kedelai telah diketahui dapat mencegah apoptosis sel pada folikel ovarium dan osteoblas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kedelai pada pencegahan apoptosis sel pada jaringan hati mencit yang diinduksi CCl4.  Penelitian dilakukan menggunakan 30 ekor mencit jantan galur DDY berumur 8─10 minggu yang dibagi dalam 6 kelompok perlakuan.  Kelompok 1 merupakan kontrol positif yang hanya diberi makanan pelet standar selama 3 minggu kemudian diberi 0,2 mL larutan CCl4 per oral selama 4 hari. Kelompok 2 merupakan kontrol negatif yang hanya diberi makanan pelet standar dan tidak diberi CCl4, sedangkan kelompok 3─6 merupakan kelompok uji yang selain diberi makanan pelet standar juga diberi kedelai dengan kadar berturut-turut 145,6 mg/hari, 218,4 mg/hari, 291,2 mg/hari dan 364 mg/hari selama 3 minggu kemudian diberi 0,2 mL larutan CCl4 peroral selama 4 hari.  Seluruh kelompok kemudian dikorbankan dan diambil organ hatinya untuk dilakukan pemeriksaan histokimia terminal deoxynucleotidyl transferase-mediated dUTP Nick end labeling (TUNEL).  Parameter yang diukur adalah jumlah apoptosis sel pada sayatan jaringan hati mencit menggunakan mikroskop cahaya.  Data disajikan dan dianalisis secara statistik menggunakan uji analysis of varians (ANOVA) untuk menganalisis perbedaan antar kelompok. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dari hasil pemeriksaan imunohistokimia TUNEL tampak jumlah sel yang mengalami apoptosis pada kelompok yang diberi kedelai lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberi kedelai. Analisis uji ANOVA antara kelompok tersebut menunjukan perbedaaan yang signifikan dengan nilai p<0,05. Simpulan, bahwa pemberian kedelai dapat mencegah apoptosis sel pada jaringan hati mencit yang diinduksi CCl4.  Kata kunci : Apoptosis,  CCl4, isoflavon, kedelai, liver injury, TUNEL Soy (Glycine max L.) Prevent Apoptotic Cells in Liver Tissue Injury Abstract In the state of liver injury by any cause there are numerous apoptotic cells influencing metabolic function of the liver.  Soy isoflavone (Glycine max L.) known to have effect that inhibit apoptotic cells in follicle and osteoblast.  The aim of this study is to evaluate whether soy has anti apoptotic effect of  CCl4 induced liver  injury in mice. This study use 30 male DDY mice 8─10 weeks old, divided into 6 groups.   Group I acted as positive control, received standard pellet for 3 weeks and induced by 0,2 mLCCl4 per oral.  Group II, the negative control, received only standard pellet.  Group III─VI received standard pellet and treated by soybean extract 145.6 mg, 218.4 mg, 291.2 mg and 364 mg per day respectively administrated orally for 3 weeks and then induced by 0.2 ml CCl4 per oral.  After 4 days of CCl4 induced, the effect of soybean extract was evaluated using histo-chemistry evaluation Terminal deoxynucleotidyl transferase-mediated dUTP nick end labeling (TUNEL).  The identification and quantification of the apoptotic cells in mice liver tissue were done using light microscopy and showed that the TUNEL immune-histochemical examination. The results showed that the number of cells undergoing apoptosis in the group treated by soybean extract were less than the group that was not treated. The results enhanced by analysis of varians (ANOVA)  between the groups showed a significant difference with p<0.05. In conclusion, soy administrated orally could  prevent apoptotic cells in liver tissue.   Key words:  Apoptotic, CCl4, isoflavone, liver injury, soybean, TUNEL 
Karakteristik Penderita Drop Out Pengobatan Tuberkulosis Paru di Garut Respati, Titik; Nurkomarasari, Nevi; , Budiman
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tuberkulosis masih menjadi masalah penyakit infeksi di dunia termasuk di Indonesia. Walaupun penggunaan Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy (DOTS) sebagai terapi yang direkomendasikan World Helath Organization (WHO) dipergunakan, kasus drop out masih cukup tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan faktor yang mempengaruhi kejadian drop out di Puskesmas Sukamerang, Garut selama tahun 2011. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan instrument penelitian berupa kuesioner yang didasarkan pada petunjuk perawatan TB yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan. Subjek adalah semua penderita TB yang drop out selama pengobatan di Puskesmas Sukamerang, Garut sejumlah 30 orang. Analisis data dilakukan menggunakan statistical programme for social sciense (SPSS) versi 17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien TB drop out adalah laki-laki dengan usia < 35 tahun, pendidikan tamat SMP, pendapatan di bawah upah minimum regional dan bekerja sebagai buruh. Tingkat pengetahuan tentang TB paru penderita drop out pengobatan TB paru dan sikap mereka termasuk kurang baik walaupun peran pengawas menelan obat (PMO) telah cukup baik. Masalah tersebut ditambah dengan sulitnya akses menuju pelayanan kesehatan. Upaya penting dalam penanganan kasus TB adalah bagaimana memotivasi penderita agar mereka mau menyelesaikan pengobatan sesuai dengan program  yang ditetapkan. Untuk mewujudkan upaya tersebut, diharapkan program penanggulangan TB paru  dapat meningkatkan upaya penjaringan penderita TB paru dan meningkatkan strategi pelaksanaan pengobatan TB paru melalui penyebaran informasi tentang pengobatan TB paru dan peningkatan peranan PMO.  Kata kunci: Drop out, pengetahuan dan sikap,  tuberkulosis (TB) Characteristics of Drop Out Patients During Treatment of Pulmonary Tuberculosis in Garut Abstract Tuberculosis is still one of the major infectious disease in the world including Indonesia. Although the therapy using Directly Observed Treatment Short course Chemotherapy (DOTS) recomended by World Health Organization has been used, the drop out cases is still high. This study aim was to describe factors contributing to drop out cases in Sukamerang Health Center, Garut during year 2011. This was a cross sectional study using standard questionairres based on Ministry of Health Tuberculosis handbook. Subjects were all , 30  drop out patients during medication at Sukamerang Health Center. Statistical Programee for social science (SPSS) version 17 was used to analize the result. The study results showed  that majority of drop out cases were male less than 35 years old with junior high school education and monthly earning of less than IDR 800.000. Knowledge of TB and attitude towards medication were not satisfactory although the role of pengawas minum obat (PMO ) was quite good. The results showed that the problem was heightened by their difficulty to access the health services. The important aspect in the treatment of tuberculosis is determining how to motivate people to complete the treatment in accordance with the established regiment. To achieve that, various pulmonary TB control programs needs to be enhanced to assist pulmonary TB patients.   Key words: Drop out, knowledge and attitude,  tuberculosis (TB) 
Labu Kuning (Cucurbita moschata Durch.) untuk Penurunan Kadar Glukosa Darah Puasa pada Tikus Model Diabetik Fathonah, Rahmi; Indriyanti, Anita; Kharisma, Yuktiana
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Diabetes melitus didefinisikan sebagai penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat defisiensi insulin atau penurunan efektivitas insulin dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi akut maupun kronik. Salah satu obat tradisional yang mempunyai efek anti diabetik adalah labu kuning (Cucurbita moschata Durch.) yang mengandung flavonoid, beta-karoten, vitamin C, dan vitamin E. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek dan rentang dosis efektif ekstrak air labu kuning terhadap penurunan kadar glukosa darah puasa pada tikus model diabetik. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik dengan menggunakan disain rancangan acak lengkap terhadap 28 ekor tikus putih jantan galur Wistar yang terbagi dalam empat kelompok yaitu kelompok I (diet biasa, induksi aloksan), kelompok II (diet biasa, induksi aloksan, ekstrak air labu kuning dosis 56 mg/200grBB/hari per oral), kelompok III (diet biasa, induksi aloksan, ekstrak air labu kuning dosis 112 mg/200grBB/hari per oral), dan kelompok IV (diet biasa, induksi aloksan, ekstrak air labu kuning dosis 224 mg/200grBB/hari per oral). Pengukuran kadar glukosa darah puasa dilakukan setelah masa adaptasi, setelah diinduksi aloksan, hari ke-7 dan hari ke-14 perlakuan. Data dianalisis dengan menggunakan uji repeated analysis of varians (ANOVA) lalu dilanjutkan dengan uji post-hoc Tamhane’s T2. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak air labu kuning dengan rentang dosis 56 mg/200grBB/ hari per oral sampai 112 mg/200grBB/hari per oral selama 14 hari dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa dengan bermakna. Penurunan kadar glukosa darah puasa diduga karena labu kuning mengandung flavonoid, beta-karoten, vitamin C dan vitamin E.  Kata kunci : Diabetes melitus,ekstrak air labu kuning, glukosa darah puasa Pumpkin (Curcubita moschata Durch) to Decline of Blood Glucose Fasting Levels in Diabetic Mice   Abstract   Diabetes mellitus defined as syndrome of metabolic diseases characterized by hyperglycemia due to insulin deficiency or decreased effectiveness of insulin that cause various acute and chronic complications. One of the traditional medicines which have anti-diabetic effect is pumpkin (Cucurbita moschata Durch) which contains flavonoids, beta-carotene, vitamin C, and vitamin E. The purpose of this study is to determine the effects and the effective dose range of pumpkin water extracts to the decline of blood glucose fasting levels in diabetic mice. This study was an  experimental research with complete randomized design using 28 white male wistar mice divided into four groups i.e. group I (normal diet, alloxan induce), group II (normal diet, alloxan induce, water extract of pumpkin at the dose 56 mg/200grBW/day orally), group III (normal diet, alloxan induce,  pumpkin water extract with the dose of 112 mg/200grBW/day orally), and group IV (normal diet, alloxan induce, pumpkin water extract orally with the dose of 224 mg/200grBW/day). Measurement of blood glucose fasting levels done after the adaptation period, after alloxan induced, on day 7th and day 14th of treatment. Data was analyzed using repeated ANOVA test followed by post-hoc test. The results showed that administration of pumpkin water extract with dose ranges of 56 mg/200grBB/day orally to 112 mg/200grBB/day orally for 14 days can lower blood glucose fasting levels. The decrease in blood glucose fasting levels presumably was because pumpkin contains flavonoid, beta-carotene, vitamin C and vitamin E which known to have those effects.   Key words : Blood glucose fasting level, diabetes mellitus,pumpkin water extract 
Bekatul (Oryza sativa L) untuk Menghambat Peningkatan Kadar Kolesterol Darah Kania, Astri; Kharisma, Yuktiana; Dewi, Miranti Kania
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Penyakit kardiovaskuler disebabkan oleh pembentukan aterosklerosis pada pembuluh darah. Konsumsi larutan tepung bekatul (Oryza sativa L) dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk mencegah terjadinya aterosklerosis dengan cara menghambat peningkatan kadar kolesterol darah. Penelitian ini untuk menilai efek larutan tepung bejatul terhadap penghambatan peningkatan kadar kolesterol darah. Penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan acak lengkap telah dilakukan pada 20 ekor tikus putih jantan galur Wistar yang dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok I adalah kontrol negatif yang diberikan diet tinggi lemak dan propiltiurasil (PTU) 0,01%, kelompok II merupakan kontrol positif yang hanya diberi pelet. Kelompok III, IV, dan V adalah kelompok perlakuan yang diberikan sediaan uji 0,27 gram/200 gram BB, 0,54 gram/200 gram BB, dan 1,08 gram/200 gram BB, DTL dan PTU 0,01% secara bersamaan. Pengukuran kadar kolesterol darah dilakukan sebelum diberikan perlakuan (hari ke-7) dan setelah diberikan perlakuan (hari ke-21) dengan menggunakan metode kolorimetrik enzimatik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa larutan tepung bekatul memiliki efek penghambatan terhadap peningkatan kadar kolesterol darah dengan dosis 0,54 gram/200 gram BB. Efek penghambatan tersebut diakibatkan oleh mekanisme interaksi  dari orizanol, fitosterol, dan omega-3 yang terdapat dalam larutan tepung bekatul.  Kata kunci : Bekatul, efek penghambatan, kolesterol darah Rice Bran (Oryza sativa L.) Inhibit the Increase of Blood Cholesterol Level Abstract Cardiovascular disease is the major cause of mortality and morbidity in the world, including Indonesia. This disease caused by atherosclerosis formation in blood vessel. Consumption of rice bran is one alternative to prevent atherosclerosis by inhibiting the increase of blood cholesterol level. The Aim of study was to analyze rice bran in inhibiting the increase of blood choelsterol level. The laboratory experimental study with complete randomized design has been conducted to 20 male mice Wistar strain divided into five groups. Group I is the negative control group with high-fat diet and 0,01 % propylthiouracil (PTU), group II is the positive control group with standard diet, and group III, IV and V are the treatment group which were given 0,27 gram/200 gram of BW, 0,54 gram/200 gram of BW, and 1,08 gram/200 gram of BW, DTL, and  0,01 % PTU.  The measurement of the blood cholesterol rate conducted before treatment (7th days) and after treatment (21st days)  using enzymatic colorimetric method. The result showed that the dose of rice bran solution inhibit the increased of blood cholesterol level at 0,54 gram/200 gram of BW. Inhibitory effect was caused by the interaction mechanism betweem oryzanol, phytosterol, and omega-3 that are in the rice bran solution. Key words : Blood cholesterol, cardiovascular, inhibition effect,  rice bran 
Sanitasi, Higiene Perorangan, dan Pencemaran Tanah oleh Cacing pada Kecacingan pada Anak di Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo Kota Kupang, Provinsi nusa Tenggara Timur Sinaga, Eni; Wanti, Wanti; Kusmiyati, Kusmiyati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penyakit kecacingan banyak ditemukan di daerah dengan kelembaban tinggi terutama pada kelompok masyarakat dengan higiene perorangan dan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kondisi sanitasi, higiene perorangan, pencemaran tanah oleh cacing dengan kejadian kecacingan pada anak umur 1 – 5 tahun di Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional study dilakukan pada Mei- November 2012. Sampel penelitian 50 anak usia 1–5 tahun sebanyak 50 orang yang diambil secara random sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi kuadrat (X2) dengan program statistical product and service solution (SPSS). Prevalensi kecacingan pada anak usia 1-5tahun di Kelurahan Liliba adalah 38%. Hasil Uji chi kuadrat menunjukkan hanya ada satu variabel yang berhubungan dengan kejadian kecacingan di Liliba yaitu higiene perorangan (p=0,005). Variabel yang tidak berhubungan dengan kejadian kecacingan pada anak 1 – 5 tahun di Liliba yaitu kondisi sarana air bersih (p=0,07), kondisi jamban (p=0,128), dan pencemaran tanah oleh cacing (p=0,309). Penelitian ini membuktikan ada hubungan bermakna antara higiene perorangan dan kejadian kecacingan, sehingga diharapkan orangtua lebih memperhatikan higiene perorangan anaknya seperti memotong kuku, mencuci tangan setelah bermain dan sebelum makan, mencuci tangan setelah buang air besar dan memberikan alas kaki saat bermain. Dinkes Kota dan Puskesmas khususnya secara periodic setiap 6 bulan sekali diharapkan melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan kecacingan dengan penyuluhan dan pemberian obat cacing kepada anak usia 1 – 5 tahun. Kata kunci: Higiene perorangan, kecacingan, kondisi lingkungan Sanitation, Personal Hygiene, and Helminth Contamination of Helminth infectionin Children at Liliba Subdistrict, Oebobo Kupang, East Nusa Tenggara Province Abstract Helminth infection was found especially in the area with high humidity and in the community with bad personal higiene and inadequate sanitation. The objective of this study is to describe the relation between sanitation, personal hygiene, helminth contamination in the soil and helminth infection in children 1 – 5 years old in Liliba subdistrict Oebobo Kupang, East Nusa Tenggara Province. This was an observational study with cross sectional approach was done on May to November 2012. A systematic random sampling  of 50 children  1 – 5 years old involved in this study. Analysis using statistical product and servicesolution (SPSS) program ver 17 was done with chi square (X2). The results showed that the prevalence of helminth infection on children 1 – 5 years old was 38%. One variable showed significant relationship with helminth infection is personal hygiene with p=0.005 while the availability of clean water, sanitation and soil contamination showed no significant relationship with p=0.07; p=0.128 and p=0.309 respectivelly. The study emphasized the need for personal hygiene that encouraged parents to help children exercise personal hygiene better. Several activities such as nail cutting, washing hands after playing and before eating, washing hands after defecating and using sandals for feet protections need to be promoted. Local Health department need to prevent the infection by promoting healthy living and distribute preventive drug especially for children 1-5 years old. Key words: Helminth infection, personal hygiene, sanitation, children. 
Karakteristik Penderita Drop Out Pengobatan Tuberkulosis Paru di Garut Nevi Nurkomarasari; Titik Respati; Budiman Budiman
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2943.891 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i1.1526

Abstract

Tuberkulosis masih menjadi masalah penyakit infeksi di dunia termasuk di Indonesia. Walaupun penggunaan Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy (DOTS) sebagai terapi yang direkomendasikan World Helath Organization (WHO) dipergunakan, kasus drop out masih cukup tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan faktor yang mempengaruhi kejadian drop out di Puskesmas Sukamerang, Garut selama tahun 2011. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan instrument penelitian berupa kuesioner yang didasarkan pada petunjuk perawatan TB yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan. Subjek adalah semua penderita TB yang drop out selama pengobatan di Puskesmas Sukamerang, Garut sejumlah 30 orang. Analisis data dilakukan menggunakan statistical programme for social sciense (SPSS) versi 17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien TB drop out adalah laki-laki dengan usia <35 tahun, pendidikan tamat SMP, pendapatan di bawah upah minimum regional dan bekerja sebagai buruh. Tingkat pengetahuan tentang TB paru penderita drop out pengobatan TB paru dan sikap mereka termasuk kurang baik walaupun peran pengawas menelan obat (PMO) telah cukup baik. Masalah tersebut ditambah dengan sulitnya akses menuju pelayanan kesehatan. Upaya penting dalam penanganan kasus TB adalah bagaimana memotivasi penderita agar mereka mau menyelesaikan pengobatan sesuai dengan program yang ditetapkan. Untuk mewujudkan upaya tersebut, diharapkan program penanggulangan TB paru dapat meningkatkan upaya penjaringan penderita TB paru dan meningkatkan strategi pelaksanaan pengobatan TB paru melalui penyebaran informasi tentang pengobatan TB paru dan peningkatan peranan PMO. CHARACTERISTICS OF DROP OUT PATIENTS DURING TREATMENT OF PULMONARY TUBERCULOSIS IN GARUTTuberculosis is still one of the major infectious disease in the world including Indonesia. Although the therapy using Directly Observed Treatment Short course Chemotherapy (DOTS) recomended by World Health Organization has been used, the drop out cases is still high. This study aim was to describe factors contributing to drop out cases in Sukamerang Health Center, Garut during year 2011. This was a cross sectional study using standard questionairres based on Ministry of Health Tuberculosis handbook. Subjects were all , 30  drop out patients during medication at Sukamerang Health Center. Statistical Programee for social science (SPSS) version 17 was used to analize the result. The study results showed  that majority of drop out cases were male less than 35 years old with junior high school education and monthly earning of less than IDR 800.000. Knowledge of TB and attitude towards medication were not satisfactory although the role of pengawas minum obat (PMO) was quite good. The results showed that the problem was heightened by their difficulty to access the health services. The important aspect in the treatment of tuberculosis is determining how to motivate people to complete the treatment in accordance with the established regiment. To achieve that, various pulmonary TB control programs needs to be enhanced to assist pulmonary TB patients.
Labu Kuning (Cucurbita moschata Durch.) untuk Penurunan Kadar Glukosa Darah Puasa pada Tikus Model Diabetik Rahmi Fathonah; Anita Indriyanti; Yuktiana Kharisma
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3456.384 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i1.1527

Abstract

Diabetes melitus didefinisikan sebagai penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat defisiensi insulin atau penurunan efektivitas insulin dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi akut maupun kronik. Salah satu obat tradisional yang mempunyai efek anti diabetik adalah labu kuning (Cucurbita moschata Durch.) yang mengandung flavonoid, beta-karoten, vitamin C, dan vitamin E. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek dan rentang dosis efektif ekstrak air labu kuning terhadap penurunan kadar glukosa darah puasa pada tikus model diabetik. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik dengan menggunakan disain rancangan acak lengkap terhadap 28 ekor tikus putih jantan galur Wistar yang terbagi dalam empat kelompok yaitu kelompok I (diet biasa, induksi aloksan), kelompok II (diet biasa, induksi aloksan, ekstrak air labu kuning dosis 56 mg/200 gBB/hari per oral), kelompok III (diet biasa, induksi aloksan, ekstrak air labu kuning dosis 112 mg/200 gBB/hari per oral), dan kelompok IV (diet biasa, induksi aloksan, ekstrak air labu kuning dosis 224 mg/200 gBB/hari per oral). Pengukuran kadar glukosa darah puasa dilakukan setelah masa adaptasi, setelah diinduksi aloksan, hari ke-7, dan hari ke-14 perlakuan. Data dianalisis dengan menggunakan uji repeated analysis of varians (ANOVA) lalu dilanjutkan dengan uji post-hoc Tamhane’s T2. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak air labu kuning dengan rentang dosis 56 mg/200 gBB/ hari per oral sampai 112 mg/200 gBB/hari per oral selama 14 hari dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa dengan bermakna. Penurunan kadar glukosa darah puasa diduga karena labu kuning mengandung flavonoid, beta-karoten, vitamin C dan vitamin E. PUMPKIN (CURCUBITA MOSCHATA DURCH.) TO DECLINE OF BLOOD GLUCOSE FASTING LEVELS IN DIABETIC MICEDiabetes mellitus defined as syndrome of metabolic diseases characterized by hyperglycemia due to insulin deficiency or decreased effectiveness of insulin that cause various acute and chronic complications. One of the traditional medicines which have anti-diabetic effect is pumpkin (Cucurbita moschata Durch.) which contains flavonoids, beta-carotene, vitamin C, and vitamin E. The purpose of this study is to determine the effects and the effective dose range of pumpkin water extracts to the decline of blood glucose fasting levels in diabetic mice. This study was an experimental research with complete randomized design using 28 white male wistar mice divided into four groups i.e. group I (normal diet, alloxan induce), group II (normal diet, alloxan induce, water extract of pumpkin at the dose 56 mg/200 gBW/day orally), group III (normal diet, alloxan induce,  pumpkin water extract with the dose of 112 mg/200 gBW/day orally), and group IV (normal diet, alloxan induce, pumpkin water extract orally with the dose of 224 mg/200 gBW/day). Measurement of blood glucose fasting levels done after the adaptation period, after alloxan induced, on day 7th and day 14th of treatment. Data was analyzed using repeated ANOVA test followed by post-hoc test. The results showed that administration of pumpkin water extract with dose ranges of 56 mg/200 gBB/day orally to 112 mg/200 gBB/day orally for 14 days can lower blood glucose fasting levels. The decrease in blood glucose fasting levels presumably was because pumpkin contains flavonoid, beta-carotene, vitamin C and vitamin E which known to have those effects.
Efek Jus Gel Lidah Buaya (Aloe vera L.) dalam Menghambat Penyerapan Glukosa di Saluran Cerna pada Manusia Diana Krisanti Jasaputra; Fanny Rahardja; Evan Christian
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2113.669 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i1.1523

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah. Prevalensi DM di Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia. Pencegahan dan penatalaksanaannya menjadi sangat penting, sehingga diperlukan terapi komplementer alternatif yang salah satunya adalah lidah buaya. Tujuan penelitian ini untuk menilai efek jus gel lidah buaya (Aloe vera L.) dalam menghambat penyerapan glukosa di saluran cerna pada manusia. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Farmakologi Unversitas Kristen Maranatha Bandung selama Desember 2011 sampai Desember 2012. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimental dengan desain penelitian cross over. Penelitian dilakukan pada 10 orang subjek penelitian dan masing-masing memperoleh 3 perlakuan yaitu pemberian akuades, acarbose, dan jus gel lidah buaya yang diberikan saat makan. Kadar glukosa darah diukur pada saat puasa dan 2 jam post prandial. Uji analisis statistik dilakukan dengan menggunakan metode analysis of varians (ANOVA), dengan α = 0,05 dengan Uji lanjut Fisher LSD. Hasilnya menunjukkan adanya kenaikan kadar glukosa darah 2 jam post prandial oleh jus gel lidah buaya sebesar 14,35%, sedangkan akuades 23,91%. Hal ini menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05) yang berarti jus gel lidah buaya menghambat penyerapan glukosa pada saluran cerna. Potensi jus gel lidah buaya ini setara dengan acarbose yang menaikkan kadar glukosa darah 2 jam post prandial sebesar 12,31 % (p>0,05). Simpulan dari penelitian ini adalah jus gel lidah buaya menghambat penyerapan glukosa di saluran cerna pada manusia. THE EFFECT OF ALOE vera L GEL JUICE AS GLUCOSE ABSORPTION INHIBITORS IN GASTROINTESTINAL TRACT ON HUMANSDiabetes mellitus (DM) is a chronic disease characterized by elevated blood glucose levels. The prevalence of DM in Indonesia ranks fourth in the world. Prevention and management are very important, that the necessary complementary alternative such as aloe vera is encouraged. This study aim to assess the effect of aloe vera gel juice in inhibiting the absorption of glucose in the gastrointestinal tract on humans. The study was a quasi experimental study with cross over study design conducted on 10 subjects during December 2011 to December 2012 in laboratory Department of Pharmacology Maranatha Christian University Bandung. Treatments given into 3 categories that are distilled water, acarbose, and the juice of aloe vera gel in meal time. FastingBlood glucose levels and after 2 hours post prandialswere measured. The data was analyzed using analysis of varians (ANOVA), with α=0.05 and the Fisher LSD test. The results showed that an increase in blood glucose levels after 2 hours post prandials was 14.35% in subjects given aloe vera gel juice, and 23.91% for distilled water and show significant differences (p<0.05. It means that aloe vera gel juice inhibited glucose absorption in the gastrointestinal tract. The potential of aloe vera gel juice is equivalent to acarbose which increases blood glucose levels 2 hours post prandials at 12.31% (p>0.05). The conclusion of this study is aloe vera gel juice inhibit glucose absorption in the gastrointestinal tract on humans.

Page 1 of 2 | Total Record : 14