cover
Contact Name
Sugiarto Pramono
Contact Email
spektrumfisip@unwahas.ac.id
Phone
+628122884193
Journal Mail Official
spektrumfisip@unwahas.ac.id
Editorial Address
JL. Menoreh Tengah X / 22, Sampangan, Gajahmungkur, Sampangan, Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah 50232, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
SPEKTRUM Jurnal Ilmu Politik Hubungan Internasional
ISSN : 18296580     EISSN : 28095642     DOI : 10.31942/spektrum.v19i1
Core Subject : Social,
Spectrum aims to publish scientific articles that focus on the development of thought, theory, and research covering issues of international relations and politics at large.
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2010)" : 4 Documents clear
PERAN NUKLIR KOREA UTARA SEBAGAI INSTRUMEN DIPLOMASI POLITIK INTERNASIONAL Andi Purwono; Ahmad Saifuddin Zuhri
SPEKTRUM Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.227 KB) | DOI: 10.31942/spektrum.v7i2.483

Abstract

Abstraksi Korea Utara kembali menjadi sorotan dunia atas pengembangan program nuklirnya. Setelah mengambil langkah swasembada pangan dan nasionalisasi seluruh lahan dan industri, Korea Utara mengembangkan industri nuklir sebagai upaya memodernisasi persenjataan militernya. Korea Utara telah menjadikan nuklir sebagai instrumen diplomasi terhadap dunia internasional demi meraih kepentingan nasionalnya.  Alasan Korea Utara menggunakan nuklir sebagai alat diplomasi adalah pertama, alasan rejim survive. Korea Utara menganggap efek deterrent kepemilikan kemampuan serang nuklir akan menggaransi kelangsungan hidup rejim Pyongyang yang tidak lain adalah rejim komunis yang masih ingin eksis di belahan bumi. Kedua, alasan ekonomi. Korut menggunakan program nuklirnya sebagai instrumen diplomasi untuk mendapat bantuan ekonomi. Adapun konsesi yang diberikan Korea Utara adalah seperti penghentian sementara program nuklirnya atau ijin inspeksi IAEA dilakukan dengan imbalan bantuan makanan dan bahan bakar dari Cina dan Korea Selatan, serta pembangunan reaktor nuklir sipil di Korea Utara oleh pihak Korea Selatan dan Jepang. Korea Utara bahkan meminta konsesi untuk sekedar hadir di meja perundingan, sebagaimana syarat Pyongyang agar Washington mencairkan rekening 25 juta dollar miliknya yang dibekukan di Makau tahun 2005 sebelum kembali ke meja perundingan. Ketiga, alasan keamanan. Bagi Korea Utara, program nuklirnya merupakan cara diplomasi yang efektif untuk membawa Amerika Serikat mengarah pada langkah negosiasi. Meskipun pada awalnya, tujuan penegembangan reaktor nuklir di Korea Utara ditujukan untuk penelitian. Namun seiring dengan berkembangnya dinamika politik internasional, Korea Utara pun menggunakan teknologi nuklir yang dimilikinya sebagai sebuah bentuk diplomasi koersif dalam rangka mencapai tujuan atau kepentingan nasionalnyawilayah dan keberadaan NKRI.   Kata kunci: Nuklir, Diplomasi, Politik Internasional
Konstruktivisme dalam Studi Hubungan Internasional: Gagasan dan Posisi Teoritik Sugiarto Pramono; Andi Purwono
SPEKTRUM Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.492 KB) | DOI: 10.31942/spektrum.v7i2.485

Abstract

Abstrak Konstruktivisme acapkali dicibir karena ketidak jelasannya dalam menyuguhkan hasil analisa terhadap realitas hubungan internasional, namun hujatan itu acapkali muncul dari kesalahpahaman para pengkritik terhadap gagasan Konstruktivisme. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan gaya Konstruktivisme dalam memahami realitas hubungan internasional dan mengetahui letak perspektif ini dalam pemetaan teoritik. Kata kunci: shared idea, konstruktivisme
Resensi Buku: Model Pembangunan India dan Cina Sugiarto Pramono
SPEKTRUM Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.171 KB) | DOI: 10.31942/spektrum.v7i2.486

Abstract

Ekonom Goldman Sachs (bank investasi terbesar AS) pada tahun 2001 meramalkan India dan Cina—disamping Brasil dan Rusia yang kemudian dikenal dengan singkatan BRIC—akan menjadi empat ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2050. Ramalan Goldman Sachs bukanlah omong kosong, dalam beberapa dekade terakhir baik India maupun Cina menunjukan tren positif pertumbuhan ekonominya dan bila kedua negara mampu meningkatkan atau setidaknya mempertahankan pertumbuhan tersebut maka apa yang diramalkan itu bukan mustahil menjadi kenyataan.
SEPARATISME DALAM KONTEKS GLOBAL (STUDI TENTANG EKSISTENSI REPUBLIK MALUKU SELATAN (RMS) SEBAGAI GERAKAN SEPARATIS INDONESIA) Anna Yulia Hartati
SPEKTRUM Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.734 KB) | DOI: 10.31942/spektrum.v7i2.836

Abstract

Abstraksi Kenyataan sejarah tidak dapat dipungkiri, bahwa Republik Maluku Selatan (RMS) pernah "hidup" di Ambon ( Maluku tengah pada umumnya), walaupun tidak lama. Bagi para aktivis RMS, kenyataan sejarah juga membuktikan bahwa RMS bukanlah gerakan separatis" seperti yang dipikirkan banyak orang saat ini. RMS menurut mereka, didirikan, "sebelum" negara Kesatuan RI, menjadi seperti yang sekarang ini, dengan wilayah kesatuan dari Sabang sampai ke Merauke. Konflik-konflik di Maluku disinyalir juga ada keterlibatan RMS. Eksistensi gerakan RMS makin menguat. Didalam negeri hari kelahiran RMS selalu diperingati setiap tanggal 25 April, sedangkan dalam konteks global mereka memanfaatkan kemajuan teknologi media, untuk memperoleh dukungan di dunia internasional. Tokoh-tokoh RMS juga masih ada di Belanda dan terus mendukung perjuangan RMS di Maluku. Gerakan ini tidak bisa dipandang sebelah mata oleh pemerintah RI, karena menyangkut keutuhan wilayah dan keberadaan NKRI. Kata kunci: Separatisme, Konflik Maluku, Tokoh RMS

Page 1 of 1 | Total Record : 4