cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2021)" : 12 Documents clear
Pengaruh konsentrasi Si biogenic dan N-total terhadap pertumbuhan dan konsentrasi nitrat tanaman selada hidroponik Salamet Ginandjar; Budy Frasetya Taufik Qurrohman; Panji Rahmatullah
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/11959

Abstract

Tanaman selada merupakan sayuran yang dikonsumsi dalam bentuk segar. Karakteristiknya sebagai tanaman akumulator nitrat perlu diimbangi pemupukan N dan aplikasi Silika (Si) sesuai kebutuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari interaksi ekstrak silika sekam padi (ESSP) dan N-total, serta memperoleh konsentrasi  ESSP dan N-total yang tepat untuk menghasilkan panen selada yang tinggi tetapi aman bagi kesehatan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial, faktor pertama adalah konsentrasi ESSP (0 ppm, 30 ppm, 60 ppm, 90 ppm) dan faktor kedua adalah konsentrasi N-total (100 ppm, 200 ppm, 300 ppm), setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman 35 hari setelah tanam (HST), luas daun, berat kering tanaman, berat segar tanaman, kandungan nitrat pada daun selada. Data dianalisis dengan analisis varians taraf 5% dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf nyata 5%, sedangkan parameter kandungan nitrat dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil analisis varians konsentrasi ESSP dan konsentrasi N-total berinteraksi pada tinggi tanaman dan berpengaruh mandiri terhadap berat kering tanaman dan berat segar tanaman. Aplikasi ekstrak silika sekam padi 30 ppm meningkatkan hasil panen 28% lebih tinggi dan menurunkan 12% kandungan nitrat tanaman selada pada N total 100-300 ppm.AbstractLettuce is a freshly consumed vegetable. Its characteristics as a nitrate accumulator plant need to be balanced with N fertilization and Silica (Si) applications according to the plant required. This research aimed to study the interaction between rice husk silica extract (ESSP) and total N to obtain the right ESSP and total N concentrations to produce high yield lettuce and safely consumed it. This study used a factorial completely randomized design. The first factor was ESSP concentrations (0 ppm, 30 ppm, 60 ppm, 90 ppm) and the second factor was total N concentrations (100 ppm, 200 ppm, 300 ppm). Each treatment combination was repeated 3 times. The parameters observed were plant height in 35 days after planting, leaf area, plant dry weight, fresh plant weight, and nitrat e content in lettuce leaves. The  data  were  analyzed  by analysis of variance at the 5%, and post-test by DMRT at the 5% significant level, the nitrate content used descriptive analysis. Based on the analysis of variance, ESSP concentration and total N concentration interacted on plant height. The ESSP concentration and total N concentration independently affected plant dry weight and fresh plant weight. Application of 30 ppm rice husk silica extract increased 28% higher yield and decreased 12% nitrate content of lettuce plants at N-total of 100-300 ppm.
Keberhasilan dan kompatibilitas penyerbukan sendiri dan silang pada hibridisasi interspesifik ciplukan (Physalis spp) Zainyah Salmah Arruum; Budi Waluyo
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/9368

Abstract

Tanaman ciplukan digunakan untuk menghasilkan buah segar, bahan baku nutraceutical, dan biofarmasi. Kapasitas genetik ciplukan dapat ditingkatkan dengan hibridisasi interspesifik. Ketidakcocokan adalah masalah yang muncul pada persilangan antarspesies. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari keberhasilan dan kompatibilitas penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang hibridisasi interspesifik ciplukan. Penelitian dilaksanakan di Seed and Nursery Industry, Agro Techno Park, Universitas Brawijaya pada bulan Januari sampai Juni 2020. Penelitian menggunakan bahan 5 spesies ciplukan, yaitu Physalis P. angulata, P. peruviana, P. pruinosa, P. pubescens, dan P. ixocarpa. Pola perkawinan dialel digunakan serta pengamatan terhadap hasil penyerbukan diamati. Hasil penyerbukan silang interspesifik memiliki derajat kompatibilitas yang berbeda. Kompatibilitas penyerbukan sendiri pada setiap spesies tinggi. Penyerbukan silang interspesifik P. pubescens (PPB-68154-04) x P. angulata (PAN-69281) kompatibel. Inkompatibilitas parsial terdapat pada penyerbukan silang interspesifik P. angulata (PAN-69281) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. pubescens (PPB-68154-04) x P. ixocarpa (PIX-4418-2) , P. pruinosa (PPN+3101) x P. angulata (PAN-69281), dan P. pruinosa (PPN+3101) x P. ixocarpa (PIX-4418-2). Inkompatibilitas lengkap terjadi pada penyerbukan silang P. angulata (PAN-69281) x P. pubescens (PPB-68154-04), P. angulata (PAN-69281) x P. pruinosa (PPN+3101), P. pubescens (PPB-68154-04) x P. pruinosa (PPN+3101), P. pruinosa (PPN+3101) x P. pubescens (PPB-68154-04), P. pruinosa (PPN+3101) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. peruviana (PPV-45311-03) dan P. ixocarpa (PIX-4418-2). Penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang yang kompatibel menghasilkan perbedaan pada karakteristik buah dan benih. P. pruinosa (PPN+3101), P. angulata (PAN-69281), dan P. pubescens (PPB-68154-04) menghasilkan jumlah benih yang berbeda pada penyerbukan silang interspesifik.AbstractCiplukan is used as a fresh fruit, nutraceutical raw materials, and biopharmaceuticals. Genetic capacity of ciplukan can be increased by interspecific hybridization. Incompatibility is an issue obtained during the interspecific hybridization. Research objective was to study success rate and compatibility of self-pollination and cross-pollination ciplukan interspecific hybridization. Research was conducted at Seed and Nursery Industry, Agro Techno Park, Universitas Brawijaya from January to June 2020. Physalis P. angulata, P. peruviana, P. pruinosa, P. pubescens, and P. ixocarpa were species included in this study. A diallel mating design pattern was used as well as observations of pollination. Interspecific cross pollination was found to have differing degrees of compatibility. Compatibility of self-pollination in each species is high. Interspecific cross-pollination of P. pubescens (PPB-68154-04) x P. angulata (PAN-69281) is compatible. Partial incompatibilities exist in interspecific cross-pollination of P. angulata (PAN-69281) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. pubescens (PPB-68154-04) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. pruinosa (PPN+3101) x P. angulata (PAN-69281), and P. pruinosa (PPN+3101) x P. ixocarpa (PIX-4418-2). Complete incompatibility occurred in cross-pollination of P. angulata (PAN-69281) x P. pubescens (PPB-68154-04), P. angulata (PAN-69281) x P. pruinosa (PPN+3101), P. pubescens (PPB-68154-04) x P. pruinosa (PPN+3101), P. pruinosa (PPN+3101) x P. pubescens (PPB-68154-04), P. pruinosa (PPN+3101) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. peruviana (PPV-45311-03) and P. ixocarpa (PIX-4418-2). Compatible self-pollination and cross-pollination resulted differences in fruit and seed characteristics. P. pruinosa (PPN+3101), P. angulata (PAN-69281), and P. pubescens (PPB-68154-04) developed different numbers of seeds following interspecific cross-pollination.
Parameter genetik kultivar-kultivar jagung local pada cekaman salinitas sedang sakka bin samudin; Jeki Moh. Adnan Khalik; Ruli Akbar; Muliati Muliati; Mustakin Mustakin
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/10280

Abstract

Produktivitas jagung di Sulawesi Tengah masih relatif rendah dibanding produksi nasional sehingga perlu ditingkatkan melalui pemuliaan tanaman. Penelitian bertujuan untuk mengkaji parameter genetik tanaman jagung pada cekaman salinitas sedang.  Penelitian dilaksanakan pada Juni sampai Agustus 2019, di Green House Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 6 perlakuan genotip dan diulang 3 kali serta 5 unit tanaman per perlakuan sehingga terdapat 90 unit percobaan. Parameter genetik yang di analisis adalah koefisiean keragaman genotipik, koefisien keragaman fenotipik, heritabilitas, kemajuan genetik, korelasi, dan analisis sidik lintas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehijauan daun, bobot tongkol berkelobot, berat tongkol tidak berkelobot, dan berat biji pertongkol memiliki koefisien keragaman genetik tinggi. Kehijauan daun, berat tongkol berkelobot, bobot tongkol tidak berkelobot, panjang tongkol tidak berkelobot, diamater tongkol, berat biji per tongkol dan bobot 100 biji memiliki nilai heritabilitas dan kemajuan genetik tinggi. Seleksi secara tidak langsung dapat dilakukan pada umur panen agar diperoleh hasil jagung lokal yang tinggi pada kondisi tercekam salinitas sedang. Karakter-karakter tersebut dapat dijadikan acuan dalam menyeleksi tanaman jagung dengan cekaman salinitas sedang untuk program pemuliaan jagung.AbstractThe productivity of maize in Central Sulawesi is relatively low compared to national production and needs to be improved by plant breeding. The study aimed to examine the genetic parameters of the maize plant traits at moderate salinity stress. The research was conducted from June to August 2019, at the Green House of the Faculty of Agriculture, Tadulako University, Palu. The genetic parameters analyzed were genetic coefficient of variation, phenotypic coefficient of variation, heritability, genetic advance, correlation, and path analysis. The experimental design used a completely randomized design consisting of six genotypic treatments and repeated three times. The results showed that the leaves greenness, the weight of the cob with and without husk, and weight of seeds per cob had a high genetic coefficient of variation. Leaf greenness, the weight of the ear with and without husk, ear length without husk, ear diameter, seed weight per ear and yield have a high value of heritability and genetic advance. Indirect selection can be applied through harvest time trait to obtain a high local maize yield in moderate salinity stress condition. These traits can be used as a reference in selecting maize plants with moderate salinity stress for maize breeding programs.
The effect of shoot explant types of eleven stevia (Stevia rebaudiana Bertoni) accessions on in vitro growth Suseno Amien; Arini Zahra Azhari; Citra Bakti; Haris Maulana
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/13367

Abstract

Explants play an important role in thepropagation system of stevia (Stevia rebaudiana Bertoni). A Completely Randomized Design (CRD) was used in this experiment with factorial pattern consisting of two factors, namely three types of explants (shoot tip, first node, and second node) and eleven accessions of stevia namely a1 (Bogor), a2 (Garut), a3 (Canada), a4 (Tawangmangu), a5 (STG1), a6 (SBG 4), a7 (SBG 10), a8 (SGB 2), a9 (BR5), a10 (SGR 7.5), a11 (TR 3.5). The results showed that shoot tip explant was the best explant than first node and second node for the number of shoots (18.11 shoots), number of leaves (93.49 leaves) and wet weight (3.56 grams). The best accession of shoot height was a10(SGR 7.5) (19.95 cm), the highest number of shoots wasa7(SBG 10) (21.87 shoots), the highest number of leaves wasa7(SBG 10) (138.00 leaves), the heaviest wet weight wasa7(SBG 10) (3.56 grams), the highest leaf chlorophyll content was a10 (SGR 7.5) (0.63 µg mL-1). Accessions with the fastest root initiation time at the rooting stage was a11 (TR 3.5) (4.00 DAC), the highest number of roots wasa10 (TR 3.5) (27.11 roots), the best root length wasa2(Garut) (4.51 cm). Information on the best explant types and stevia accessions in the in-vitro multiplication stage can be used as the basis for stevia breeding programs in Indonesia.AbstractEksplan berperan penting dalam sistem perbanyakan Stevia (Stevia rebaudiana Bertoni). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu tiga jenis eksplan (ujung pucuk, ruas pertama, dan ruas kedua) dan sebelas aksesi stevia yaitu a1 (Bogor), a2 (Garut), a3 (Canada), a4 (Tawangmangu), a5 (STG1), a6 (SBG 4), a7 (SBG 10), a8 (SGB 2), a9 (BR5), a10 (SGR 7.5), a11 (TR 3.5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan ujung pucuk merupakan eksplan terbaik dibandingkan buku pertama dan kedua untuk jumlah tunas (18,11 tunas), jumlah daun (93,49 daun) dan berat basah (3,56 gram). Aksesi terbaik pada tinggi pucuk adalah a10(SGR 7.5) (19,95 cm), jumlah pucuk tertinggi a7 (SBG 10) (21,87 pucuk), jumlah daun terbanyak a7 (SBG 10) (138.00 helai daun), bobot basah terberat a7 (SBG 10) (3,56 gram), kandungan klorofil daun tertinggi adalah GR 7,5 (0,63 µg mL-1). Aksesi dengan waktu inisiasi akar tercepat pada tahap perakaran adalah TR 3,5 (4,00 HST), jumlah akar terbanyak adalah TR 3,5 (27,11 akar), panjang akar terbaik adalah a2(Garut) (4,51 cm). Informasi jenis eksplan dan aksesi stevia terbaik pada tahap multiplikasi in-vitro dapat dijadikan dasar program pemuliaan stevia di Indonesia.
Kualitas ubi kentang pada dosis pupuk NPK dan umur panen yang berbeda Kusumiyati Kusumiyati; Diky Indrawibawa; Syariful Mubarok; Gustiono Tegar Prasetyo
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/12292

Abstract

Semakin tingginya permintaan bahan baku kentang untuk french fries khususnya, perlu diimbangi oleh peningkatan suplai kentang dengan kualitas yang memenuhi persyaratan skala industri. Aplikasi dosis pupuk NPK yang tepat serta umur panen yang sesuai merupakan strategi dalam meningkatkan kualitas kentang. Penelitian bertujuan untuk menentukan  dosis pupuk NPK dan umur panen yang dapat menghasilkan ubi kentang dengan kualitas olah terbaik. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama, yaitu dosis pupuk NPK (50, 100, 150% dosis rekomendasi) dan umur panen (90, 105, 120 HST). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK dan umur panen tidak memperlihatkan interaksi. Kadar air dan gula reduksi tidak dipengaruhi oleh perlakuan dosis pupuk dan umur panen. Perlakuan dosis pupuk 150 kg N ha-1, 225 kg P ha-1, dan 225 kg K ha-1 menunjukkan kadar pati ubi tertinggi dengan tingkat kerenyahan french fries paling disukai. Perlakuan umur panen 120 hari setelah tanam (HST) memberikan kadar pati dan tingkat kesukaan warna dan kerenyahan french fries paling tinggi. AbstractThe potato demand is increasing, as a raw material for french fries in particular, yet followed by potato improvement to fulfil the industry requirement. The application of NPK fertilizer in appropriate dosage and harvesting time is the essential strategy to increase potato quality. This study aimed to determine the proper dosage of NPK and harvesting time to obtain the best characteristics of potato tuber for processing. The experimental design used a factorial randomized block design consisting of two factors; NPK fertilizer dosages (50, 100, 150% recommended dosage) and harvesting time (90, 105, 120 DAP). NPK fertilizer dosage had no interaction with harvesting time. Tuber water content and reducing sugars were not affected by NPK fertilizer dosage and harvesting time. The treatment of 150 kg N ha-1, 225 kg P ha-1 and 225 kg K ha-1 had the best tuber starch content, and after processing to be french fries, it showed the most favored crispness. Meanwhile, harvesting time at 120 DAP resulted in the highest tuber starch content, french fries colour and crispness score. Giving a certain dose of NPK fertilizer will affect the quality of potato tubers. The right harvesting time affects on the potato tuber quality.  
Pengaruh media tumbuh dengan aplikasi irigasi tetes terhadap pertumbuhan dan hasil melon Didi Carsidi; Saparso Parso; Kharisun Kharisun; Catur Rahardjo Febrayanto
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/9514

Abstract

 Penggunaan media tumbuh dan volume air yang tepat menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui volume air optimum pada media tumbuh tertentu yang dapat menghasilkan pertumbuhan dan hasil yang optimum. Penelitian menggunakan rancangan split plot 4 x 3, dengan tiga ulangan. Petak utama yaitu volume irigasi tetes dengan empat taraf; 600 ml hari-1 tan-1, 1200 ml hari-1 tan-1, 1800 ml hari-1 tan-1 dan 2400 ml hari-1 tan-1 sedangakan anakan petak yaitu media tumbuh dengan tiga taraf; tanah + arang sekam, tanah + cocopeat, serta tanah + bokhasi. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, total panjang akar tanaman, luas daun, kandungan air nisbi daun, prolin, lebar bukaan stomata, kerapatan stomata, kadar klorofil, umur berbunga, bobot tanaman basah, bobot tanaman kering, bobot buah, lingkaran buah, brix buah, kadar air buah melon, dan kandungan NPK jaringan daun melon. Hasil penelitian menunjukkan volume air 600 ml hari-1 tan-1 optimum dengan media tumbuh tanah + bokhasi pada bobot tanaman segar (1083.33 g) sedangkan volume air 1200 ml hari-1 tan-1 dengan media tumbuh tanah + bokhasi memberikan pengaruh terhadap bobot tanaman kering (95.80 g). Jenis media tumbuh memiliki kapasitas volume air yang berbeda untuk pertumbuhan dan hasil tanaman yang optimal. AbstractThe proper growing media and water volume provide the growth and yield of melon plants. This study aimed to determine the optimum water volume in certain growth media to optimize the growth and yield. The study used a 4 x 3 split plot design with three replications. The main plots were volume of drip irrigations i.e 600 ml day-1 tan-1, 1200 ml day-1 tan-1, 1800 ml day-1 tan-1, and 2400 ml day-1 tan-1 while the sub plots were growing media with three levels i.e soil + husk charcoal, soil + cocopeat, and soil + bokashi. The observed parameters  were plant  height,  leaf number, total plant root length, leaf area, leaf relative water content, proline, stomatal opening width, stomata density, chlorophyll content, flowering age, wet plant weight, dry plant weight, fruit weight, fruit circle, fruit brix, the fruit water content, and NPK content in leaf tissue. The water volume of 600 ml day-1 tan-1 is optimum with growing media soil + bokashi on fresh plant weight (1083.33 g) while the water volume of 1200 ml day-1 tan-1 with soil + bokhasi growing media had an effect on dry plant weight (95.80 g).The types of growing media have different water volume capacities for optimal plant growth and yields.  
Respon tanaman padi (Oryza sativa L.) terhadap sistem tanam dan jumlah bibit Ndari Retno Lestari; soni isnaini; Safiuddin Safiuddin; Yatmin Yatmin; Maryati Maryati
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/10629

Abstract

Sistem tanam (ST) yang sering digunakan petani yaitu ST tegel. Sampai sekarang masih banyak petani yang menggunakan bibit lebih dari tujuh batang per lubang tanam (BpLT). Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari respon tanaman padi terhadap  ST dan jumlah bibit per lubang tanam (JBpLT). Penelitian dilakukan di Desa Raman Aji, Kecamatan Raman Utara, Lampung Timur pada bulan Februari sampai Mei 2016.  Perlakuan disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Lengkap dengan pola split plot.  Petak utama adalah ST jarwo 2:1, ST Jarwo 4:1, dan ST tegel 25 x 25 cm. Anak petak terdiri atas JBpLT: 1 BpLT, 2 BpLT, dan 3 BpLT. Data dianalisis ragam dan dilanjutkan uji orthogonal  kontras, semua pengujian dilakukan pada taraf 5%.  Hasil percobaan menunjukkan bahwa (1) ST jarwo 2:1 dan ST jarwo 4:1 meningkatkan pertumbuhan padi hibrida Mapan P-05 dibandingkan ST tegel 25 x 25 cm, (2) penanaman 1 BpLT meningkatkan komponen hasil padi dibandingkan penanaman 2 BpLT dan 3 BpLT, dan (3) penanaman 1 BpLT memberikan hasil GKG (6,86 t ha-1) yang lebih tinggi dari penanaman 2 BpLT (5,64 t ha-1) dan 3 BpLT (4,59 t ha-1) pada ST jarwo 2:1, ST jarwo 4:1 dan ST tegel 25 x 25 cm, secara berurutan.AbstractThe common planting system (PS) used by the farmers is Tegel system. Yet, many farmers still use more than seven seeds per planting hole (SpPH). The research objective was to study the reponse of rice plants to the planting system and the number SpPH. The research was conducted in Raman Aji Village, Raman Utara, East Lampung from February to May 2016. The treatments were arranged in a RCBD with a split plot pattern (the main plot were the PS i.e. jarwo 2: 1, jarwo 4: 1 and “Tegel” 25 x 25 cm; the subplots are the number of SpPH i.e. 1 SpPH, 2 SpPH, and 3 SpPH). The results showed that (1) the jarwo 2: 1 system increased rice growth compared to the 25 x 25 cm “Tegel”; (2) application of 1 SpPH increased the yield  component  of rice compared to planting 2 SpPH and SpPH; and (3) application of 1 SpPH (6.86 t ha-1) gave the higher weight of milled grain than using 2 SpPH (5.64 t ha-1) and 3 SpPH (4.59 t ha-1), both planted in the jarwo 2:1, jarwo 4:1 and 25 x 25 cm  “Tegel” System
Keragaman genetik dan heritabilitas 12 genotipe bawang merah (Alllium cepa L. var Aggregatum) di dataran tinggi Nurmalita Waluyo; Noladhi Wicaksana; Anas Anas; Iteu M. Hidayat
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/9518

Abstract

Bawang merah (Allium cepa L. var aggregatum) salah satu komoditas hortikultura banyak di konsumsi. Peningkatan permintaan dalam kuantitas dan kualitas untuk komoditas ini meningkatkan ketersediaan varietas unggul. Penelitian dilakukan untuk menduga keragaman genotipe dan fenotipe serta nilai heritabilitas karakter pertumbuhan, komponen hasil dan hasil bawang merah di tiga lokasi dataran tinggi (Lembang 1.250 m dpl, Kab. Bandung Barat; Pacet 971 m dpl, Kab. Bandung; dan Samarang, 970 m dpl, Kab. Garut). Penelitian dilaksanakan dari September sampai Nopember 2019. Materi genetik yaitu 12 genotipe bawang merah terdiri dari 7 klon: B1, B19, B63, B72, B77, B102, dan B222, serta 5 varietas: Trisula, Bali Karet, Maja Cipanas, Bima Brebes dan Sumenep. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Hasil analisis ragam menunjukan genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap seluruh karakter pertumbuhan, komponen hasil, dan hasil. Nilai koefisisen keragaman genotipe dan fenotipe yang tinggi diperlihatkan oleh karakter persentase tanaman berbunga (48,10 % dan 49,01 %), berat basah per umbi (29,71 % dan 30,87 %), dan berat kering per umbi (33,17 % dan 34,29 %). Nilai duga heritabilitas arti luas (Hbs) karakter pada 12 genotipe bawang merah berkisar antara 45,08-96,30 %. Semua karakter yang diuji memiliki nilai heritabilitas tinggi kecuali untuk karakter jumlah daun per rumpun nilai heritabilitasnya sedang. Seleksi bawang merah di dataran tinggi dapat dilakukan pada generasi awal.AbstractShallots (Allium cepa L. var aggregatum) are one of the most widely consumed horticultural commodities in Indonesia. Increased demand in quantity and quality for this commodity improved availability varieties. A study was conducted to estimate variability of genotypes and phenotypes as well as the heritability value of growth characters, yield components, and yields of shallot at three highland locations (Lembang 1.250 m asl, West Bandung District; Pacet 971 m asl, Bandung District; and Samarang 970 m asl, Garut District). The research was conducted from September to November 2019. The genetic material studied was 12 genotypes of shallots consisting of 7 clones: B1, B19, B63, B72, B77, B102, and B222, and 5 varieties: Trisula, Bali Karet, Maja Cipanas, Bima Brebes, and Sumenep. Every experiments in all locations was arranged in Randomized Block Design (RBD) with 3 replications. The analysis of variance results showed that the genotype had a very significant effect on all growth characters, yield components, and yields. High variation coefficient values of genotype and phenotype was found in the character of percentage of flowering plants (48.10% and 49.01%), freshweight per bulb (29.71% and 30.87%), and dry weight per bulb (33.17% and 34.29%). All characters tested had a wide phenotific variability. The estimated value of heritability (broad meaning) of the characters in 12 shallot genotypes ranged from 45.08 to 96.30%. All characters tested has high heritability except for the number of leaves per clump the heritability was moderate. The study is the shallot selection in the highlands can be carried out in the early generations.
Pengaruh pupuk guano dan media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tegak Esty Puri Utami; Indri Heryani; Liberty Chaidir
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/10303

Abstract

Penurunan kualitas tanah karena akumulasi penggunaan pupuk kimia berdampak pada penurunan hasil tanaman buncis tegak. Teknik budidaya organik dengan menggunakan media tanam campuran tanah, arang sekam, dan cocopeat serta penggunaan pupuk guano dilakukan sebagai upaya alternatif peningkatan produksi buncis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dosis pupuk guano dan berbagai jenis media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tegak (Phaseolus vulgaris L.). Penelitian dilaksanakan dari April hingga Mei 2020 di Desa Cileunyi Kulon, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Rancangan percobaan berupa Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dua faktor. Faktor pertama yaitu dosis pupuk guano terdiri atas 4 taraf: kontrol, 5 t ha-1, 10 t ha-1, dan 15 t ha-1. Faktor kedua yaitu media tanam dengan 5 taraf: tanah (kontrol), arang sekam padi, cocopeat, tanah + arang sekam padi, dan tanah + cocopeat. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara dosis pupuk guano dengan media tanam pada tinggi tanaman 28 HST. Dosis pupuk guano berkorelasi positif dengan variabel pertumbuhan tanaman dengan dosis terbaik yaitu 15 t ha-1. Media tanam campuran tanah dan arang sekam menghasilkan tanaman dengan tinggi tanaman, bobot polong segar, dan bobot polong kering tertinggi di antara semua perlakuan. Pupuk guano dapat di aplikasikan pada berbagai media tanam untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman buncis yang optimal.AbstractThe decline in soil quality cause by chemical fertilizer affected to the growth and yield of bush bean. Organic farming using guano fertilizer and combination of soil, husk charcoal, and cocopeat as the planting media can be used as an alternative technology to increase bush bean production. This study aimed to determine the effect of guano fertilizer dosage and various type of growing media on growth and yield of bush bean (Phaseolus vulgaris L.). This study was conducted from April to May 2020 at Cikandang village, Cileunyi Kulon, Cileunyi, Bandung. The experimental design used was factorial randomized block design with two factors. The first factor was dosage of guano fertilizer consisted of 4 levels i.e. control, 5 t ha-1, 10 t ha-1, and 15 t ha-1. The second factor was growing media with 5 levels i.e. soil (control), husk charcoal, cocopeat, soil + husk charcoal, and soil + cocopeat. The results showed the interaction between dosage of guano fertilizer and growing media on plant height in 28 days after planting. The dosage of guano fertilizer had a positive correlation with plant growth traits, and 15 t ha-1 as the best dosage for bush bean growth and yield. The media soil + husk charcoal produced plants with the highest plant height, fresh pod weight, and dry pod weight among all treatments. Guano fertilizer can be applied to various growing media to produce the optimal bush bean growth.
Pengaruh faktor lingkungan terhadap pertumbuhan beberapa aksesi Dioscorea alata L terpilih koleksi kebun raya purwodadi Abban Putri Fiqa; Titik Helen Nursafitri; Fauziah Fauziah; Shofiyatul Masudah
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/10594

Abstract

Uwi (Dioscorea alata L.) merupakan jenis tanaman umbi-umbian berpotensi nutrisi. Namun pemanfaatannya sebagai bahan pangan alternatif masih jarang, karena keterbatasan informasi potensi nutrisi dan sistem budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan uwi. Penelitian dilakukan di lahan percobaan di Kabupaten Pasuruan, pada tujuh aksesi yang dipilih berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, yaitu aksesi nomor 28, 36, dan 86 (Pasuruan), 42 dan 43 (Nganjuk), 57 dan 66 (Malang). Parameter lingkungan yang diamati meliputi suhu udara, kelembaban udara, intensitas cahaya, pH tanah, kelembaban tanah, jumlah dan jenis gulma. Hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif dan statistik dengan uji Biplot menggunakan software Past 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas cahaya dan jumlah jenis gulma merupakan faktor lingkungan yang paling berpengaruh pada pertumbuhan tanaman uwi. Terdapat tiga grup aksesi tanaman uwi berdasarkan perbedaan faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhannya. Aksesi 42, 43 dan 57 dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban udara, aksesi 28, 36 dan 66 dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan aksesi 86 dipengaruhi oleh pH tanah. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar gulma yang tumbuh merupakan tanaman invasif yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman komoditas. Aksesi nomor 42, 43 dan 57 direkomendasikan untuk dibudidayakan di lahan sub optimal dengan kondisi pH asam dan minim air.AbstractWater yam (Dioscorea alataL.) is one of the tubers potentially as nutrition source. However, its utilization as the source of food alternative is still rare causes by limited information about its nutritional content and cultivation. The research aimed to determine the environmental factors effects the growth of water yam. The study was conducted in the trial site at Pasuruan with seven selected accessions of water yam based on previous research i.e. accessions number 28, 36 and 86 (Pasuruan), 42 and 43 (Nganjuk), 57 and 66 (Malang). The observed environmental parameters were the number and type of weeds, temperature, humidity, light intensity, soil pH, and soil moisture. The observations were descriptive and statistically analyzed using Biplot test with Past 3 software. The results showed that the light intensity and the number of weed species are the environmental factors that have the most affected on the growth of water yam plants. Accessions 28, 36 and 66 are affected by light intensity, accession 86 is affected by soil pH, and accessions 42, 43 and 57 are affected by air temperature and humidity. Most of the weeds grown in the study area are invasive species, which affect the growth of cultivated crops, so weeding is needed. Accession number 42, 43 and 57 adaptively grow in sub-optimum land with acidic pH conditions and minimum water capacity.

Page 1 of 2 | Total Record : 12