cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 287 Documents
Phenotypic Performance and Early Selection of Three Cayenne Pepper (Capsicum frutescens L.) Varieties in Response to Gamma Irradiation Firnanda Ranggawikya; Theresa Dwi Kurnia; Yuniel Melvanolo Zendrato
Jurnal AGRO Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.55061

Abstract

The development of cayenne pepper (Capsicum frutescens L.) varieties through mutation breeding represents a strategic approach to enhancing agricultural productivity and food security. This research aimed to evaluate phenotypic diversity and select mutant genotypes from three distinct cayenne pepper varieties induced by gamma radiation. The study was conducted using a two-factor experiment: three cayenne pepper varieties and five gamma ray dose ranges (0, 100, 200, 300, and 400 Gy), arranged in a randomized complete block design (RCBD) with three replications. The results demonstrated that the interaction between varieties and irradiation doses significantly influenced seed viability, growth characteristics, and yield components. High irradiation doses (300 and 400 Gy) caused a drastic reduction in germination rates, falling as low as 42.50%, and increased seedling mortality up to 87.50%. Conversely, low-to-moderate doses effectively expanded quantitative variability in plant height, flowering age, and fruit dimensions. Quantitative analysis revealed that selected mutant genotypes exhibited superior phenotypic performance; genotype V2G1 demonstrated the highest yield potential with an average fruit weight of 3.26 g, while genotype V3G1 exhibited a desirable early-maturing trait. While qualitative characters such as fruit shape and plant growth habit remained largely stable, significant quantitative shifts confirmed the effectiveness of gamma radiation to increase the phenotypic variability. Based on a selection index integrating multiple agronomic traits, three mutant genotypes (V2G1, V3G1, and V1G1) were identified as the candidates for further improvement in chili breeding programs. Key words: Cayenne pepper, gamma irradiation, mutation breeding, phenotypic, selection index.   ABSTRAK Pengembangan varietas unggul cabai rawit (Capsicum frutescens L.) melalui pemuliaan mutasi merupakan pendekatan strategis untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman fenotipik serta menyeleksi genotipe mutan unggul dari tiga varietas cabai rawit yang diinduksi dengan radiasi gamma. Penelitian dilakukan menggunakan percobaan dua faktor: tiga varietas cabai rawit dan lima dosis sinar gamma (0, 100, 200, 300, dan 400 Gy ) yang disusun dalam rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara varietas dan dosis iradiasi berpengaruh nyata terhadap viabilitas benih, karakter pertumbuhan, dan komponen hasil. Dosis iradiasi tinggi (300 dan 400 Gy) menyebabkan penurunan drastis pada tingkat perkecambahan hingga mencapai 42,50% serta meningkatkan mortalitas bibit hingga 87,50%. Sebaliknya, dosis rendah hingga sedang efektif dalam meningkatkan keragaman kuantitatif pada tinggi tanaman, umur berbunga, dan dimensi buah. Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa genotipe V2G1 menunjukkan potensi hasil tertinggi dengan rata-rata bobot buah 3,26 g, sedangkan genotipe V3G1 memiliki sifat genjah yang diinginkan dengan waktu berbunga. Sementara itu, karakter kualitatif seperti bentuk buah dan tipe pertumbuhan tanaman relatif stabil, perubahan kuantitatif yang signifikan mengonfirmasi efektivitas radiasi gamma dalam meningkatkan variabilitas fenotipik. Berdasarkan indeks seleksi yang mengintegrasikan berbagai sifat agronomis, tiga genotipe mutan (V2G1, V3G1, dan V1G1) diidentifikasi sebagai kandidat untuk pengembangan program pemuliaan cabai ke depan. Kata kunci: cabai rawit, fenotipik, iradiasi gamma, pemuliaan mutasi, indeks seleksi.
Penjaringan dan Potensi Isolat Bakteri Pelarut Kalium Dari Pertambangan Felspar Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Jagung Diyan Herdiyantoro; Mieke Rochimi Setiawati; Tualar Simarmata; Alif Razaqa Al-Farra; Aqilla Ziat Achsantama
Jurnal AGRO Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.55082

Abstract

Superior bacterial isolates and optimum growth conditions for potassium-solubilizing bacteria (KSB) are essential for effective biofertilizer formulation. This study aimed to screen superior KSB isolates from feldspar mining areas, determine optimum inoculation dosage and pH levels, and evaluate their effects on maize growth. KSB were isolated via serial dilution of rhizosphere soil samples on Aleksandrov selective media. Isolates were selected using scoring and ranking methods based on their K-feldspar mineral solubilization capacity. Growth optimization employed a completely randomized design with seven inoculation doses (0.00–1.50% v/v) and nine pH levels (5.0–9.0), followed by quadratic polynomial regression analysis. A maize bioassay used a randomized block design with two treatments (with and without KSB inoculation), analyzed via independent T-tests and Pearson correlation. Three superior KSB isolates were isolated from feldspar mining areas, namely Kosakonia sacchari (KSB B1), Burkholderia sp. (KSB B4), and Kosakonia sacchari (KSB B3). An inoculation dose of 0.98% and pH 7.0 indicated the optimum growth conditions of KSB. Compared to the control, KSB inoculation increased KSB populations, root volume (26.06%), stomatal conductance (39.27%), chlorophyll index (62.44%), and potassium (K) uptake (43.28%). A strong positive correlation was found between K-uptake and root volume (r = 0.72). These optimum growth conditions enhance maize growth and K-uptake, demonstrating KSB's potential as a biofertilizer to improve crop productivity in K-deficient soils. Key words: K-feldspar, KSB, K-uptake, Optimization, Selection   ABSTRAK Isolat bakteri unggul dan kondisi pertumbuhan optimum bakteri pelarut kalium (BPK) yang teridentifikasi diperlukan untuk formulasi pupuk hayati yang efektif. Penelitian bertujuan untuk menjaring isolat BPK unggul dari area pertambangan felspar, menentukan dosis inokulasi serta tingkat pH optimum, dan menguji pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Isolasi BPK melalui pengenceran berseri sampel tanah rizosfer pada media selektif Aleksandrov. Isolat BPK diseleksi menggunakan metode penskoran dan pemeringkatan berdasarkan kemampuan melarutkan mineral K-felspar. Optimasi pertumbuhan BPK menggunakan rancangan acak lengkap dengan tujuh dosis inokulasi (0,00–1,50% v/v) dan sembilan tingkat pH (5,0–9,0) serta analisis regresi polinomial kuadratik. Uji hayati tanaman jagung menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua perlakuan (dengan dan tanpa inokulasi BPK) serta analisis uji t saling bebas dan korelasi Pearson. Tiga isolat unggul BPK dapat diisolasi dari area pertambangan felspar, yaitu Kosakonia sacchari (BPK B1), Burkholderia sp. (BPK B4), dan Kosakonia sacchari (BPK B3). Dosis inokulasi 0,98% dan pH 7,0 menunjukkan kondisi pertumbuhan optimum BPK. Inokulasi dapat meningkatkan populasi BPK, 26,06% volume akar, 39,27% konduktivitas stomata, 62,44% indeks kadar klorofil, dan 43,28% serapan kalium (K) tanaman jagung dibandingkan kontrol. Korelasi positif kuat ditemukan antara serapan K dan volume akar (r = 0,72). Kondisi pertumbuhan optimum BPK dapat meningkatkan pertumbuhan dan serapan K tanaman jagung yang menunjukkan potensi aplikasi BPK sebagai pupuk hayati dalam meningkatkan produktivitas tanaman pada tanah yang kekurangan K. Kata kunci: BPK, K-felspar, Optimasi, Seleksi, Serapan K
Optimizing Plant Spacing to Improve Growth and Yield of Sweet Potato (Ipomoea batatas L.) Under Low Soil Fertility Conditions Muzna Ardin Abdul Gafur; Zulkarnain Sangadji; Desi Ratna Sari
Jurnal AGRO Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.55114

Abstract

Sweet potato (Ipomoea batatas L.) is an important food crop in tropical regions, but its productivity remains low on infertile soils where suboptimal agronomic practices, including inappropriate plant spacing, restrict plant growth and tuber development. This study evaluated the effect of different plant spacing arrangements on the growth and yield of sweet potato cultivated under low soil fertility conditions. A randomized complete block design with six spacing treatments J1 (40 × 30 cm), J2 (50 × 50 cm), J3 (75 × 30 cm), and J4 (75 × 50 cm) and three replications was used. Growth parameters and yield components were analyzed using analysis of variance followed by the Honest Significant Difference (HSD) test at the 5% significance level. Plant spacing significantly affected vegetative growth and tuber yield. The spacing of 75 × 50 cm produced the best overall performance, resulting in the highest plant height (278.83 cm), the greatest number of leaves (33.28 leaves plant⁻¹), the largest tuber diameter (5.49 cm), the highest tuber weight per plant (2.83 oz plant⁻¹), and the highest tuber weight per plot (4.53 kg plot⁻¹), equivalent to an estimated yield of 12.58 t ha⁻¹. The superior performance of this spacing is attributed to a more favorable balance between plant population and competition for light, water, and nutrients, thereby enhancing photosynthetic efficiency and assimilate partitioning to storage roots. These findings demonstrate that optimizing plant spacing is an effective and practical agronomic strategy for improving sweet potato productivity on low-fertility soils and may contribute to more sustainable sweet potato production in similar agroecological environments. Keywords: sweet potato, plant spacing, low-fertility soil, tuber yield, agronomic management.   ABSTRAK Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan tanaman pangan penting di wilayah tropis, namun produktivitasnya masih rendah pada tanah kurang subur akibat praktik agronomi yang suboptimal seperti pengaturan jarak tanam yang tidak tepat yang menghambat pertumbuhan tanaman dan perkembangan umbi. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh berbagai pengaturan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil ubi jalar yang dibudidayakan pada kondisi tanah dengan tingkat kesuburan rendah. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan enam perlakuan jarak tanam J1 (40 × 30 cm), J2 (50 × 50 cm), J3 (75 × 30 cm), dan J4 (75 × 50 cm) serta tiga ulangan. Parameter pertumbuhan dan komponen hasil dianalisis menggunakan analisis ragam yang diikuti dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf signifikansi 5%. Jarak tanam berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif dan hasil umbi. Jarak tanam 75 × 50 cm menghasilkan performa terbaik secara keseluruhan, dengan capaian berupa tinggi tanaman tertinggi (278,83 cm), jumlah daun terbanyak (33,28 helai tanaman⁻¹), diameter umbi terbesar (5,49 cm), bobot umbi per tanaman tertinggi (2,83 oz tanaman⁻¹), dan bobot umbi per petak tertinggi (4,53 kg petak⁻¹), yang setara dengan estimasi hasil 12,58 ton ha⁻¹. Performa unggul pada jarak tanam ini disebabkan oleh keseimbangan yang lebih baik antara populasi tanaman dan kompetisi untuk mendapatkan cahaya, air, dan hara, sehingga meningkatkan efisiensi fotosintesis serta alokasi asimilat ke akar penyimpanan (umbi). Temuan ini menunjukkan bahwa optimalisasi jarak tanam merupakan strategi agronomi yang efektif dan praktis untuk meningkatkan produktivitas ubi jalar pada tanah kurang subur, serta dapat berkontribusi pada produksi ubi jalar yang lebih berkelanjutan di lingkungan agroekologi serupa. Kata kunci: ubi jalar, jarak tanam, tanah kurang subur, hasil umbi, pengelolaan agronomi.
Morphological Diversity of Coffea arabica L. with Yellow, Orange, and Purple Fruit from Temanggung Aswin Hendry Atmoko; Sri Hartati; Parjanto
Jurnal AGRO Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.55184

Abstract

Temanggung possesses unique Arabica coffee accessions with yellow, orange, and purple ripe fruits. However, their morphological diversity has not yet been documented using standardized IPGRI descriptors. This study evaluated the morphological diversity of 15 Coffea arabica accessions with distinct fruit color using 29 qualitative morphological characters. The results revealed substantial variation among accessions, Shannon–Wiener diversity index (H′) ranging from 0.000 to 1.679, with an average of 0.721, suggesting overall moderate diversity. Highly variable traits included young leaf color, shoot color, fruit color, fruit shape, and seed shape. While characters such as venation pattern, bud wax color, domatia shape, and inflorescence position were uniform across accessions. Fruit color, the primary distinguishing trait, exhibited high diversity (H′ = 1.552), comprising six distinct categories, with orange being the most dominant. Fruit color showed substantial variation, but no consistent morphological pattern was observed across accessions with different fruit colors. Further genetic and association analyses are needed to clarify the relationship between fruit color and other qualitative traits. Cluster analysis using the Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean (UPGMA) implemented in NTSYSpc version 2.02i grouped the accessions into two major clusters, with one accession forming a distinct cluster, reflecting its unique morphological characteristics. The similarity index ranged from 0.27 to 0.75, indicating moderate to high diversity and the absence of closely identical accessions based on morphological traits. These findings confirm that observed Arabica coffee accessions from Temanggung possess considerable morphological variability, providing a valuable genetic resource for selection and breeding programs. Key words: Arabica coffee, germplasm, local, morphological variation, phenotype   ABSTRAK Temanggung memiliki aksesi kopi Arabika yang unik dengan buah matang berwarna kuning, oranye, dan ungu. Namun keragaman morfologinya belum didokumentasikan dengan menggunakan deskriptor berstandar IPGRI. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman morfologi 15 aksesi Coffea arabica dengan warna buah yang berbeda menggunakan 29 karakter morfologi kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan variasi morfologi yang cukup besar antar aksesi, dengan indeks keragaman Shannon–Wiener (H′) berkisar antara 0.000–1.679 dan rata-rata 0.721, yang menunjukkan tingkat keragaman sedang. Karakter dengan keragaman tinggi meliputi warna daun muda, warna tunas, warna buah, bentuk buah, dan bentuk biji. Sedangkan, pola venasi daun, warna wax kuncup, bentuk domatia, dan posisi bunga menunjukkan kondisi yang seragam pada seluruh aksesi. Warna buah sebagai karakter pembeda utama memiliki keragaman tinggi (H′ = 1.552) dengan enam kategori warna, didominasi oleh warna oranye. Meskipun demikian, tidak ditemukan pola morfologi yang konsisten pada aksesi dengan warna buah yang berbeda. Oleh karena itu, analisis genetik dan analisis asosiasi masih diperlukan untuk mengklarifikasi hubungan antara warna buah dan karakter morfologi kualitatif lainnya. Analisis klaster menggunakan metode Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean (UPGMA) dengan aplikasi NTSYSpc versi 2.02i mengelompokkan aksesi menjadi dua klaster besar, dengan satu aksesi membentuk cluster yang berbeda, mencerminkan karakteristik morfologi yang unik. Indeks kemiripan berkisar antara 0.27–0.75, menunjukkan keragaman morfologi sedang hingga tinggi tanpa adanya aksesi yang identik. Temuan ini menegaskan bahwa aksesi kopi Arabika Temanggung memiliki keragaman morfologi yang tinggi dan berpotensi menjadi sumber daya genetik yang penting untuk program seleksi dan pemuliaan. Kata kunci: Fenotip, kopi Arabika, lokal, plasma nutfah, variasi morfologi
Pengaruh Konsentrasi dan Periode Penyemprotan Fe Melalui Daun Terhadap Hasil dan Mutu Benih Padi Ciherang Agustiansyah; Kuswanta Futas Hidayat; Paul Benyamin Timotiwu; Griselda Aufa Fredella; Ria Putri
Jurnal AGRO Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.55736

Abstract

Rice is the main staple food in Indonesia; therefore, improving yield and seed quality is essential. Agronomic biofortification through foliar application of iron (Fe) is one approach to enhance Fe availability and support the development of high-quality seeds. This study aimed to determine the effects of FeSO₄·7H₂O concentration, foliar application period, and their interaction on the yield and seed quality of Ciherang rice. The experiment used a randomized complete block design in a 3×2 factorial arrangement, consisting of FeSO₄·7H₂O concentrations (0.1, 0.3, 0.5%) and two spraying periods (twice and four times). Results indicated that Fe concentration significantly affected the growth, yield, and seed quality of Ciherang variety. The spraying period significantly affected the number of filled grains per panicle, total grains per panicle, percentage of filled grains, percentage of unfilled grains, and seed quality. The interaction between both factors significantly affected the number and percentage of filled grains as well as the number of unfilled grains. Four-time spraying during critical growth stages produced the highest number of filled spikelets, particularly at a concentration of 0.5%. Foliar FeSO₄·7H₂O treatment on the Ciherang variety increased the Fe content in rice compared to the average Fe content in the Ciherang variety. Key words: Ciherang rice, FeSO4.7H2O, foliar spraying, agronomic biofortification, seed quality   ABSTRAK Padi merupakan sumber pangan utama di Indonesia sehingga peningkatan hasil dan mutu benih penting dilakukan. Biofortifikasi agronomis melalui penyemprotan Fe menjadi salah satu cara untuk meningkatkan ketersediaan Fe serta mendukung pembentukan benih yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi FeSO₄·7H₂O, periode penyemprotan, dan interaksinya terhadap hasil dan mutu benih padi varietas Ciherang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial 3×2 dengan konsentrasi FeSO₄·7H₂O (0,1; 0,3; 0,5%) dan dua periode penyemprotan (dua dan empat kali). Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi Fe mempengaruhi pertumbuhan, hasil, dan mutu benih padi varietas Ciherang. Periode penyemprotan berpengaruh pada jumlah gabah isi per malai, jumlah gabah total per malai, persentase gabah isi, dan persentase gabah hampa, serta mutu benih. Interaksi keduanya berpengaruh terhadap jumlah dan persentase gabah isi serta jumlah gabah hampa. Penyemprotan empat kali pada fase kritis memberikan hasil gabah isi tertinggi, terutama pada konsentrasi 0,5%. Perlakuan penyemprotan FeSO₄·7H₂O pada varietas Ciherang dapat meningkatkan kandungan Fe pada beras dibandingkan dengan kandungan Fe rata-rata pada varietas Ciherang. Kata kunci: biofortifikasi agronomis, FeSO4.7H2O, mutu benih, padi Ciherang, penyemprotan daun,
Perubahan Mutu Fisiologis dan Biokimia Benih Hanjeli pada Berbagai Kadar Air Awal Selama Penyimpanan Muhamad Kadapi; Monica Christina Natalia; Anne Nuraini; Fiky Yulianto Wicaksono; Happy Suryati
Jurnal AGRO Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.56058

Abstract

The moisture content of stored seeds is a key factors determining shelf life by preventing deterioration that causes physiological and biochemical seed changes. This study aims to determine the effect of initial seed moisture content on the physiological and biochemical properties of hanjeli (Coix lacryma-jobi L.) seeds during three months of open storage. Initial moisture contents were 14, 12, and 10%. Physiological parameters included germination, vigor index, T50, and electrical conductivity, while biochemical parameters included MDA and lipid content. These were evaluated at 0 and 3 months post-storage to assess changes in seed quality using Duncan’s multiple range test and t-tests. This study employed a completely randomized design with 3 replicates. The results showed that initial moisture content of the seeds affects the physiological and biochemical quality of hanjeli seeds after storage. The 10% moisture content treatment exhibited the lowest quality, with highest increases in DHL and MDA; the DHL value rose from 0.0404 to 0.0691 μS cm⁻¹ g⁻¹ at 3 BSP. Germination decreased from 81.67 to 58.77%, as did the vigor index and lipid content. The 14% moisture content, the increase in MDA did not yet show a real effect on the decline in the physiological and biochemical quality of the seeds; there was no drastic decrease in vigor or germination rate. Determining the initial moisture content of storage and the 14% moisture content is important to prevent seed damage early in storage, presumably caused by excessive drying. Further research is needed on storage techniques to maintain moisture content.  Keywords: Biochemical, Coix lacryma-jobi L., Physiology, Storage, Water Content   ABSTRAK  Kadar air benih simpan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan umur simpan benih untuk mencegah terjadinya deteriorasi yang berpengaruh terhadap perubahan fisiologis dan biokimia benih. Penelitian ini, bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar air awal benih terhadap fisiologis dan biokimia benih hanjeli (Coix lacryma-jobi L.) selama penyimpanan. Adapun tingkat kadar air awal pada penelitian ini adalah 14, 12, dan 10% sebagai perlakuan yang disimpan selama tiga bulan secara open storage. Pengamatan fisiologis benih yaitu daya berkecambah, indeks vigor, T50 dan daya hantar listrik, serta pengamatan biokimia yaitu MDA dan Lemak yang dievaluasi 0 dan 3 bulan setelah penyimpanan untuk menilai perubahan kualitas benih menggunakan uji duncan dan uji t. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kadar air awal benih mempengaruhi kualitas fisiologis dan biokimia benih hanjeli setelah penyimpanan. Kadar air 10% menunjukkan kualitas benih paling rendah dengan indikator nilai DHL dan MDA yang mengalami peningkatan paling tinggi yaitu nilai DHL semula 0,0404 μS cm-1 g-1 menjadi 0,0691 μS cm-1 g-1 pada 3 BSP. Daya berkecambah mengalami penurunan dari 81,67 menjadi 58,77% demikian juga indeks vigor, dan kandungan lipid. Pada perlakuan kadar air 14% peningkatan MDA yang terjadi belum menunjukkan pengaruh yang berarti terhadap penurunan kualitas fisiologis dan biokimia benih, tidak mengalami penurunan vigor dan daya berkecambah yang drastis. Pentingnya penentuan kadar air awal penyimpanan dan kadar air 14% dapat menghindari kerusakan benih di awal penyimpanan yang diduga disebabkan pengeringan. Penelitian selanjutnya yang diperlukan adalah teknik penyimpanan untuk mempertahankan kadar air simpan. Kata kunci: Biokimia, Coix lacryma-jobi L., Fisiologis, Kadar Air, Penyimpanan
Skrining Bakteri Pelarut Fosfat Asal Ekosistem Mangrove Bengkalis, Riau Sebagai Kandidat Pemacu Pertumbuhan Jagung (Zea mays L.) Hana Zahra; Delita Zul
Jurnal AGRO Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.56302

Abstract

The development of biofertilizers based on indigenous microorganisms is an important strategy to sustainably enhance crop productivity. Mangrove ecosystems represent potential sources of bacteria with diverse metabolic capabilities, including phosphate-solubilizing bacteria (PSB). However, information regarding the multifunctional characteristics of PSB isolated from the Bengkalis mangrove ecosystem, Riau, Indonesia remains limited. This study aimed to evaluate the potential of 25 PSB from the Bengkalis mangrove ecosystem as biofertilizer candidates by assessing their cellulolytic activity, potassium-solubilizing ability, indole-3-acetic acid (IAA) production, nitrogen-fixing ability, plant safety test, and plant growth-promoting effects on maize (Zea mays L.). The results showed that 12 isolates exhibited cellulolytic activity, 10 isolates were capable of solubilizing potassium, 14 isolates showed nitrogen-fixing ability, and all isolates produced IAA at varying concentrations. Based on a scoring approach integrating multiple plant growth promoting traits, isolate SMK 2.1 showed the highest potential, followed by MA 2.3, SMB 2.1, and RA 1.2 as promising isolates. In the maize growth assay at 7 days after planting, isolate SMK 2.1 was identified as the most promising isolate, producing the highest fresh weight (0.94 ± 0.21 g), root length (7.72 ± 3.21 cm), and shoot length (19.50 ± 5.27 cm) among all treatments. In addition, all isolates showed negative results in the plant safety test. Although the evaluation was limited to the early growth stage, these findings demonstrate that PSB isolated from the Bengkalis mangrove ecosystem have considerable potential as biofertilizer candidates and represent valuable indigenous microbial resources for sustainable agriculture. Key words: Biofertilizer, indole-3-acetic acid, mangrove ecosystem, phosphate-solubilizing bacteria, plant growth-promoting bacteria   ABSTRAK  Pengembangan biofertilizer berbasis mikroorganisme lokal merupakan strategi penting untuk meningkatkan produktivitas tanaman secara berkelanjutan. Ekosistem mangrove berpotensi menjadi sumber bakteri dengan kemampuan beragam, termasuk bakteri pelarut fosfat (BPF). Namun, informasi mengenai karakter multifungsi BPF asal mangrove di Bengkalis, Riau masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi 25 isolat BPF asal ekosistem mangrove Bengkalis sebagai kandidat agen biofertilizer melalui pengujian aktivitas selulolitik, pelarutan kalium, produksi hormon indole-3-acetic acid (IAA), kemampuan penambatan nitrogen, uji keamanan tanaman, serta potensinya dalam memacu pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays L.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 isolat memiliki aktivitas selulolitik, 10 isolat mampu melarutkan kalium, 14 isolat mampu menambat nitrogen, dan seluruh isolat mampu menghasilkan hormon IAA dengan konsentrasi yang bervariasi. Berdasarkan sistem skoring yang mengintegrasikan berbagai karakter pemacu pertumbuhan tanaman, isolat SMK 2.1 memperoleh nilai tertinggi, diikuti isolat MA 2.3, SMB 2.1, dan RA 1.2 sebagai isolat potensial. Pada uji pemacuan pertumbuhan tanaman jagung umur 7 hari setelah tanam, isolat SMK 2.1 merupakan isolat paling potensial yang ditunjukkan oleh berat segar (0,94±0,21 g), panjang akar (7,72±3,21 cm), dan panjang tajuk (19,5±5,27 cm) yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Seluruh isolat juga menunjukkan hasil negatif pada uji keamanan tanaman. Meskipun pengujian masih terbatas pada fase awal pertumbuhan, hasil ini menunjukkan bahwa BPF asal mangrove Bengkalis berpotensi sebagai kandidat biofertilizer dan sumber agen hayati lokal untuk pertanian berkelanjutan. Kata kunci: Biofertilizer, bakteri pelarut fosfat, ekosistem mangrove, indole-3-acetic acid, plant growth-promoting bacteria