cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 276 Documents
Nanoemulsion biopesticide formulated form Zingiber Purpureum extract and patchouli oil distillation waste for controlling bacterial leaf blight on rice Sundari, Dini; Sri Suharti, Woro; Istiqomah, Dina; Nur Amila, Alya
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.50001

Abstract

Bacterial leaf blight, caused by Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo), is one of the most destructive diseases in rice crops. This study aimed to assess the efficacy of nanoemulsion biopesticides derived from bangle extract (Zingiber purpureum) and patchouli oil distillation waste in controlling Bacterial Leaf Blight (BLB) in rice. The experiment used a Randomized Block Design with six replications, including a control, nanoemulsion biopesticide concentrations of 500, 1000, 1500, and 2000 ppm, and a bactericide as a positive control. The observed parameters included pathology (incubation period, disease intensity, infection rate, and area under disease progression curve) and agronomic traits (plant height, number of tillers, number of panicles, number of grains, 100-grains weight, root and shoot dry weight). The results showed that the application of biopesticide nanoemulsions, although it does not prolong the incubation period, was able to reduce disease intensity up to 8.7% compared to the control at a concentration of 2000 ppm and also lowered the rate of disease infection. The treatment did not have a significant effect on vegetative growth, however nanoemulsion biopesticides at concentrations above 1000 ppm increased production components, including grain number by 32% and 100-grain weight by 6.1% compared to the control. This study demonstrates that the nanoemulsion biopesticide formulation of bangle extract and patchouli oil distillation waste has the potential to be used as an environmentally friendly biopesticide to control Bacterial Leaf Blight while simultaneously increasing rice productivity. ABSTRAK Hawar daun bakteri yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzae merupakan salah satu penyakit paling merusak pada tanaman padi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas biopestisida nanoemulsi berbahan ekstrak bangle (Zingiber purpureum) dan limbah penyulingan nilam dalam menekan hawar daun bakteri pada padi. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas enam perlakuan (kontrol, biopestisida nanoemulsi dengan konsentrasi 500, 1000, 1500, dan 2000 ppm, serta bakterisida sebagai kontrol positif) dengan enam ulangan. Parameter yang diamati meliputi aspek patologi (masa inkubasi, intensitas penyakit, laju infeksi, dan area under disease progression curve) serta aspek agronomi (tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah malai, jumlah biji, bobot 100 biji, bobot kering akar dan tajuk). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tidak memperpanjang masa inkubasi, aplikasi nanoemulsi biopestisida tetapi mampu menekan intensitas penyakit mencapai 8.7% dibandingkan dengan kontrol pada konsentrasi 2000 ppm serta menurunkan laju infeksi penyakit. Perlakuan tidak menunjukkan perbedaan respon terhadap pertumbuhan vegetatif, namun biopestisida nanoemulsi dengan konsentrasi di atas 1000 ppm meningkatkan komponen produksi berupa jumlah biji sebesar 32% dan bobot 100 biji mencapai 6,1% dibandingkan dengan kontrol. Penelitian ini menunjukkan bahwa formulasi biopestisida nanoemulsi ekstrak bangle dan limbah nilam berpotensi digunakan sebagai biopestisida ramah lingkungan untuk mengendalikan hawar daun bakteri sekaligus meningkatkan produktivitas padi.
Genetic parameters and breeding strategies to enhance yield in local sweet potato (Ipomoea batatas (L.) Lam.) germplasm from southeast Sulawesi Boer, Dirvamena; Muzuni, Muzuni; Warhamni, Warhamni
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.50991

Abstract

Sweet potato (Ipomoea batatas (L.) Lam.) is an important food crop with strategic value for food security, dietary diversification, and the sustainability of rural livelihoods in Indonesia. Local sweet potato germplasm from Southeast Sulawesi represents a valuable genetic resource for breeding high-yielding and stress-resilient varieties. This study aimed to evaluate genetic diversity, heritability, trait correlations, and the direct and indirect contributions of agronomic traits to yield in 20 local sweet potato clones originating from Southeast Sulawesi. The experiment utilized a Randomized Complete Block Design (RCBD) with three replications, measuring 14 agronomic and physiological traits. The study was conducted under lowland tropical humid agroecosystem conditions in the Kendari area. Data were analyzed using analysis of variance, broad-sense heritability estimation, Pearson correlation, stepwise regression, and path analysis. Significant genetic variation was observed for all evaluated traits, with heritability values ranging from 58.43% to 97.08%. Tuber weight and tuber number per plant were identified as the primary yield determinants, whereas internode length exhibited a significant negative effect. Stepwise regression and path analysis confirmed that tuber weight had the strongest direct effect on yield, followed by tuber number. The integrative analytical approach applied in this study provides a comprehensive understanding of causal relationships among agronomic traits. These findings indicate that selection based on tuber weight and number of tubers per plant, combined with regulation of excessive vegetative growth, may enhance yield efficiency and support the development of high-yielding, locally adapted sweet potato varieties for tropical agroecosystems. ABSTRAK Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) merupakan tanaman pangan penting yang memiliki nilai strategis dalam mendukung ketahanan pangan, diversifikasi konsumsi, dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pedesaan di Indonesia. Plasma nutfah lokal ubi jalar dari Sulawesi Tenggara merupakan sumber daya genetik yang berharga untuk pemuliaan varietas berdaya hasil tinggi dan toleran terhadap cekaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman genetik, heritabilitas, korelasi antarkarakter, serta kontribusi langsung dan tidak langsung sifat agronomi terhadap hasil pada 20 klon ubi jalar lokal asal Sulawesi Tenggara. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga ulangan, dan sebanyak 14 karakter agronomi dan fisiologis diamati. Penelitian dilaksanakan pada kondisi agroekosistem tropis lembap dataran rendah di wilayah Kendari. Data dianalisis menggunakan analisis ragam, estimasi heritabilitas arti luas, korelasi Pearson, regresi stepwise, dan analisis lintasan. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman genetik yang signifikan pada seluruh karakter yang diamati, dengan nilai heritabilitas berkisar antara 58,43% hingga 97,08%. Bobot umbi dan jumlah umbi per tanaman secara konsisten teridentifikasi sebagai penentu utama hasil, sedangkan panjang ruas menunjukkan pengaruh negatif yang nyata. Regresi stepwise dan analisis lintasan mengonfirmasi bahwa bobot umbi memiliki pengaruh langsung terbesar terhadap hasil, diikuti oleh jumlah umbi per tanaman. Pendekatan analisis integratif ini memberikan pemahaman komprehensif mengenai hubungan kausal antar karakter. Temuan ini mengindikasikan bahwa seleksi berbasis bobot umbi dan jumlah umbi per tanaman, disertai pengendalian pertumbuhan vegetatif yang berlebihan, berpotensi meningkatkan efisiensi hasil serta mendukung pengembangan varietas ubi jalar unggul yang adaptif terhadap agroekosistem tropis.
Respon mortalitas dan pertumbuhan nimfa menjadi imago wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens Stål.) terhadap lima jenis insektisida pada beberapa populasi di pulau Jawa lintang cahya bhekti; siriyah, Siti latifatus; azizah, elia; Irfan, Budi
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.51032

Abstract

Wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens Stål.) merupakan hama utama padi yang menyebabkan gejala hopper burn dan menjadi vektor penyakit virus. Pengendalian dengan insektisida masih menjadi pilihan utama petani, namun efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh riwayat penggunaan di lapangan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh beberapa insektisida (fenobucarb, triflumezopyrim, pymetrozine, imidakloprid, dan nikotin) terhadap mortalitas nimfa serta persentase keberhasilan perubahan nimfa menjadi imago dari enam populasi N. lugens (lima lapangan dan satu standar laboratorium). Percobaan dilakukan menggunakan rancangan split plot dengan tiga ulangan, dan data dianalisis menggunakan ANOVA serta uji lanjut DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenobucarb, triflumezopyrim, dan pymetrozine memberikan mortalitas tinggi (>80%) sekaligus menekan keberhasilan nimfa menjadi imago (<12%). Imidakloprid menunjukkan efektivitas rendah dengan mortalitas hanya 31,2–45,7% dan keberhasilan imago >50%, mengindikasikan adanya ketahanan pada reseptor nikotinat asetilkolin. Nikotin menghasilkan mortalitas sedang (55,8–73,4%) dengan imago 25,6–38,2%, yang kurang presisten namun lebih ramah lingkungan. Perbedaan antar lokasi menunjukkan bahwa populasi dari Karawang dan Indramayu lebih toleran terhadap perlakuan insektisida dibanding populasi lainnya. Hasil ini menegaskan bahwa evaluasi insektisida perlu mempertimbangkan mortalitas dan keberhasilan nimfa menjadi imago sebagai parameter subletal untuk mendukung strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang berkelanjutan. ABSTRACT The brown planthopper (Nilaparvata lugens Stål.) is a major rice pest that causes hopper burn symptoms and acts as a vector for viral diseases. Control with insecticides remains the primary option for farmers, but its effectiveness is greatly influenced by the history of use in the field. This study aimed to evaluate the effect of several insecticides (fenobucarb, triflumezopyrim, pymetrozine, imidacloprid, and nicotine) on nymph mortality and the percentage of successful nymph-to-adult emergence from six populations of N. lugens (five field populations and one laboratory standard population). The experiment was conducted using a split-plot design with three replicates, and the data were analyzed using ANOVA and DMRT follow-up tests at a 5% level. The results showed that fenobucarb, triflumezopyrim, and pymetrozine caused high mortality (>80%) and suppressed the success rate of nymphs becoming adults (<12%). Imidacloprid showed low effectiveness with mortality of only 31.2–45.7% and adult emergence >50%, indicates resistance to acetylcholine nicotinic receptors. Nicotine produced moderate mortality (55.8–73.4%) with adult emergence of 25.6–38.2%, less persistent but more environmentally friendly. The result indicate that population from Karawang and Indramayu are more tolerant to insecticide treatment than other populations. These results confirm that insecticide evaluation should consider mortality and nymph-to-adult emergence success as sublethal parameters to support control strategies.
Perbaikan sifat tanah eks-likuifaksi melalui amandemen bahan organik serta implikasinya terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah lokal palu Sudewi, Sri; Minarni; Bangkele, Lisa Indriani; Jumardin; Sayani
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.51372

Abstract

Tanah bekas likuifaksi umumnya memiliki kandungan bahan organik sangat rendah (<1%), struktur tanah rusak, porositas tidak stabil, serta aktivitas mikroba yang menurun sehingga memerlukan amandemen organik untuk memulihkan sifat fisik, kimia, dan biologinya. Pupuk kandang sapi menjadi pilihan solusi karena kaya C-organik dan unsur hara makro serta mudah terdekomposisi, sedangkan arang sekam berperan memperbaiki aerasi dan porositas tanah berpasir. Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas pupuk kandang sapi dan arang sekam sebagai bahan amandemen tanah eks-likuifaksi di Desa Jono Oge serta dampaknya terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah lokal Palu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuh perlakuan, yaitu amandemen tanah + pupuk kandang (1:1), tanah + arang sekam (1:1), tanah + pupuk kandang + arang sekam (1:1:1), tanah + pupuk kandang (2:1), tanah + arang sekam (2:1), tanah + pupuk kandang + arang sekam (2:1:1), dan tanah tanpa amandemen sebagai kontrol dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah serta pertumbuhan dan hasil tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi tanah bekas likuifaksi, pupuk kandang dan arang sekam rasio 1:1:1 memiliki tinggi tanaman (44,50 cm), bobot segar umbi (20,70 g), dan bobot kering umbi (8,97 g) bawang merah lokal palu tertinggi. Aplikasi bahan organik dengan proporsi seimbang terbukti efektif merehabilitasi tanah bekas likuifaksi dan meningkatkan produktivitas bawang merah lokal Palu sehingga berpotensi diterapkan sebagai strategi pertanian berkelanjutan pada lahan pasca bencana. ABSTRACT Post-liquefaction soil has very low organic matter content (<1%), damaged soil structure, unstable porosity, and decreased microbial activity, so it requires organic amendments to restore its physical, chemical, and biological properties. Cow manure is a solution of choice because it is rich in organic carbon and macronutrients and is readily decomposed, while rice husk charcoal improves aeration and porosity in sandy soil. This study aims to assess the effectiveness of cow manure and rice husk charcoal as amendments to post-liquefaction soil in Jono Oge Village and their impact on the growth and yield of local shallots in Palu. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with seven treatments:  soil + manure (1:1), soil + rice husk charcoal (1:1), soil + manure + rice husk charcoal (1:1:1), soil + manure (2:1), soil + rice husk charcoal (2:1), soil + manure + rice husk charcoal (2:1:1), and soil without amendment as a control with five replications. The parameters observed were soil physical, chemical, and biological properties, plant growth and yield. The results showed that manure and rice husk charcoal in a ratio of 1:1:1 produced the highest of height (44.50 cm), fresh weight of bulbs (20.70 g), and dry weight of bulbs (8.97 g) of local Palu shallot plants. Organic materials application in balanced proportions has been proven effective in rehabilitating liquefied soil and increasing local Palu shallots productivity, suggesting its potential as a sustainable agricultural strategy in post-disaster areas.
Introducing microbial-coated fertilizer to increase the yield and quality of broccoli in a pot experiment Hindersah, Reginawanti; Rochimi Setiawati, Mieke; Rahmatika Risanti, Rara; Aditya, Fasa; Bina Nugraha, Gita
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.51511

Abstract

Increasing broccoli yield and quality is essential to meet consumer expectations for nutrient-rich vegetables. Implementing a balanced mix of chemical fertilizers and biofertilizers may support this goal. A greenhouse experiment was conducted to examine the effect of Bacillus-coated NPK combined fertilizer (BCN) on the growth, nutrient uptake, yield, and vitamin content of broccoli heads. The experiment was arranged in a Randomized Block Design with seven treatments and four replications. These treatments included different combinations of BCN type and dose, two levels of NPK, and a control without fertilizer. Results showed that BCN did not affect plant growth or N, P, and K content in the soil, but it increased the chlorophyll content index, nutrient uptake, and the shoot-to-root ratio. Although BCN did not influence yield, it enhanced Vitamin B-complex and K levels in the broccoli heads. The study concluded that in this short-term experiment, BCN improved N, P, and K levels in the shoots and increased the nutritional value of broccoli heads.  ABSTRAK Peningkatan hasil dan kualitas brokoli merupakan salah satu cara untuk memenuhi harapan konsumen akan sayuran bernilai gizi tinggi. Penerapan pupuk berimbang antara pupuk kimia dan pupuk hayati dapat mendukung harapan tersebut. Percobaan di rumah kaca dilakukan untuk mengamati pengaruh pupuk kombinasi NPK berlapis Bacillus (NBB) terhadap pertumbuhan, penyerapan hara, hasil, dan kandungan vitamin pada bonggol brokoli. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok, terdiri dari tujuh perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan tersebut terdiri dari kombinasi jenis dan dosis NBB, dua dosis NPK, dan satu perlakuan kontrol tanpa ABSTRAK Peningkatan hasil dan kualitas brokoli merupakan salah satu cara untuk memenuhi harapan konsumen akan sayuran bernilai gizi tinggi. Penerapan pupuk berimbang antara pupuk kimia dan pupuk hayati dapat mendukung harapan tersebut. Percobaan di rumah kaca dilakukan untuk mengamati pengaruh pupuk kombinasi NPK berlapis Bacillus (NBB) terhadap pertumbuhan, penyerapan hara, hasil, dan kandungan vitamin pada bonggol brokoli. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok, terdiri dari tujuh perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan tersebut terdiri dari kombinasi jenis dan dosis NBB, dua dosis NPK, dan satu perlakuan kontrol tanpa pupuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NBB tidak memengaruhi pertumbuhan tanaman dan kandungan N, P, dan K dalam tanah, tetapi meningkatkan indeks kandungan klorofil, penyerapan hara, dan rasio pucuk terhadap akar. Meskipun tidak mempengaruhi hasil panen, NBB meningkatkan vitamin B kompleks dan K di bunga brokoli.  Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam percobaan jangka pendek, NBB meningkatkan nutrisi N, P, dan K  pada tajuk serta nilai gizi bunga brokoli.
Analisis jalur antara dosis pupuk kalium dengan fisiologi, pertumbuhan, dan hasil hanjeli pulut Wicaksono, Fiky Yulianto; Qinthara Nail Haysa; Yuwariah, Yuyun; Irwan, Aep Wawan; Nurmala, Tati; Umiyati, Uum
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.52192

Abstract

Kalium merupakan unsur hara yang berperan penting pada produksi tanaman serealia, namun peranannya pada tanaman hanjeli pulut (Coix lacryma-jobi L. var. ma-yuen) masih belum diungkapkan dengan jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh langsung maupun tidak langsung pupuk kalium terhadap karakter fisiologi, pertumbuhan, dan hasil tanaman hanjeli. Percobaan dilakukan dari bulan Januari sampai Mei 2024 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, pada ketinggian 750 m di atas permukaan laut dengan ordo tanah Inceptisols. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri dari enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah dosis pupuk KCl, yaitu 0; 62,5; 125; 250; 375; dan 500 kg ha-1. Pengamatan dilakukan pada indeks kandungan klorofil, konduktansi stomata, indeks luas daun, bobot biomassa, nisbah pupus akar, jumlah srisip, jumlah anakan, jumlah anakan produktif, jumlah malai per anakan, jumlah biji per malai, bobot 100 butir, dan bobot biji per tanaman. Analisis data menggunakan korelasi Pearson dan Analisis Jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk kalium berpengaruh langsung terhadap indeks kandungan klorofil, konduktansi stomata, jumlah srisip per anakan, jumlah malai per anakan, jumlah biji per malai, dan bobot biji per tanaman. Pengaruh tidak langsung dosis pupuk kalium terjadi pada komponen pertumbuhan, yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan, nisbah pupus akar, dan indeks luas daun, melalui jalur komponen fisiologi. Dosis pupuk kalium juga mempengaruhi jumlah anakan produktif secara tidak langsung melalui jalur komponen fisiologi dan komponen pertumbuhan. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa kekurangan kalium dapat dilihat lebih dini melalui pengukuran komponen fisiologi. ABSTRACT Potassium is a nutrient that plays a crucial role in cereal crop production, but its role in Job's tears (Coix lacryma-jobi L.) remains unclear. This study aims to find the direct and indirect effects of potassium fertilizer on the physiological characteristics, growth, and yield of Job's tears. The experiment was conducted from January to May 2024 at the Experimental Garden of the Faculty of Agriculture, Padjadjaran University, at an altitude of 750 m above sea level, with Inceptisols as the soil order. The experimental design employed a Randomized Block Design (RBD), comprising six treatments and four replications. The treatments applied were KCl fertilizer doses, namely 0, 62.5, 125, 250, 375, and 500 kg ha-1. Observations were made on the chlorophyll content index, stomatal conductance, leaf area index, biomass weight, shoot-to-root ratio, number of shoots, number of tillers, number of productive tillers, number of panicles per tiller, number of seeds per panicle, weight of 100 grains, and weight of seeds per plant. Data analysis used Pearson correlation and Path Analysis. The results showed that potassium dose directly affected the chlorophyll content index, stomatal conductance, number of shoots per tiller, number of panicles per tiller, number of seeds per panicle, and seed weight per plant. The potassium dose affected growth components, including plant height, number of tillers, root drop ratio, and leaf area index, indirectly through the physiological component pathway. The dose of potassium fertilizer also affected the number of productive tillers indirectly through the physiological and growth components pathway. The results of this study indicated that early detection of potassium deficiency is possible by assessing physiological components.