cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 276 Documents
Enhancing microbial population and biomass of water spinach grown in tailing and inceptisols by manure amendment Hindersah, Reginawanti; Suryatmana, Pujawati; Herdiyantoro, Diyan; Hamdani, Jajang Sauman
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/39611

Abstract

The impact of tailings accumulated on agricultural land is the loss of soil profile and decreased soil quality, making plants difficult to grow. This study aimed to observe the effect of cow dung manure (CM) doses to gold mine tailings on total fungal and bacterial populations of soil surrounding roots and water spinach biomass and to analyze the correlation between fungal and bacterial populations with water spinach growth parameters. The experiment was designed in a randomized block design with five treatments and five replications. The treatments included without CM (control) and 5, 10, 15, and 20% of CM in tailing. Similar treatments were added to plants grown in mineral soil, i.e. Inceptisols. The results determined the retarded plant growth in tailing compared to that in Inceptisols. The plant grown in tailing was more responsive to manure amendment. The CM increased total fungal and bacterial populations in the soil around the roots, plant height, leaf number, stem thickness, wet weight, and dry weight of intact plants. Applying 5% of CM caused better growth of water spinach than other treatments. Total fungal and bacterial populations were strongly correlated with water spinach height and dry weight. ABSTRAK Dampak negatif penumpukan tailing di lahan pertanian adalah hilangnya profil tanah dan penurunan kualitas tanah sehingga tanaman sulit tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengobservasi pengaruh pemberian dosis pupuk kotoran sapi (PKS) pada tailing tambang emas terhadap populasi jamur dan bakteri total biomassa kangkung darat (Ipomoea reptans (L.) Poir.) serta menganalisis korelasi antara populasi jamur dan bakteri di tanah sekitar perakaran dengan parameter pertumbuhan kangkung. Percobaan pot di rumah kaca disusun dalam rancangan acak kelompok dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan percobaan adalah tanpa dan dengan penambahan 5, 10, 15 dan 20% PKS ke dalam tailing. Perlakuan yang sama diberikan pada tanaman kangkung dengan tanah Inceptisol. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pertumbuhan kangkung di tailing terhambat dibandingkan di tanah Inceptisols, tetapi tanaman di tailing lebih responsif terhadap aplikasi PKS. Pupuk kotoran sapi mampu meningkatkan populasi jamur dan bakteri total di sekitar perakaran, tinggi tanaman, jumlah daun, ketebalan batang, bobot basah serta bobot kering tanaman di tailing. Pemberian 5% PKS lebih meningkatkan pertumbuhan tanaman kangkung dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Populasi jamur dan bakteri masing-masing berkorelasi positif dengan hubungan yang sangat kuat dengan bobot kering serta tinggi tanaman kangkung. Percobaan ini menjelaskan bahwa bahan organik penting untuk memperbaiki kualitas tailing dan pertumbuhan tanaman.
Pengaruh metode aplikasi pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas bawang merah Pardono, Pardono; Erdhofin, Erdhofin; Triharyanto, Eddy; Manurung, Ida Rumia
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/39673

Abstract

The demand for shallots continues to experience a significant increase in consumption. The use of appropriate varieties and improved nutrition is one of the efforts to increase shallot production. The purpose of the study was to determine the effect of fertilizer application methods on the growth and yield of several shallot varieties. The research was conducted in May-August 2023 in Ngringo Village, Jaten District, Karanganyar, Central Java with an altitude of 119.6 masl. This study used a factorial Complete Randomized Group Design (CRD) with two factors. Fertilizer application method was the first factor, namely: sowing and leaking. Varieties became the second factor, namely: Bima Brebes, Bauji, Tajuk, and Batu Ijo, resulting in eight treatment combinations with four replications. Observation parameters included plant height, number of leaves, fresh stalk weight, dry stalk weight, number of bulb, fresh weight of bulb, dry weight of bulb, dry weight of bulb per hectare, and bulb diameter. The results showed that the application of fertilizer by sowing can increase plant height 2-3 weeks after planting, fresh weight of bulbs, and dry weight of bulbs of shallots. The Tajuk variety produces plant height at 5 weeks, the number of leaves at 5 weeks, the fresh and dry weight of bulbs, the number of bulbs, and the fresh and dry weight stalk of shallots higher than other varieties. Fertilizer application by sowing can be applied to the Tajuk variety of shallots. ABSTRAK Kebutuhan bawang merah terus mengalami peningkatan konsumsi yang cukup signifikan. Penggunaan varietas yang tepat dan perbaikan nutrisi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi bawang merah. Tujuan penelitian yaitu mengetahui pengaruh cara aplikasi pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas bawang merah. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei-Agustus 2023 di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah dengan ketinggian wilayah 119,6 mdpl. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial dengan dua faktor. Cara aplikasi pupuk menjadi faktor pertama, yaitu: ditabur dan dituangkan. Varietas menjadi faktor kedua, yaitu: Bima Brebes, Bauji, Tajuk, dan Batu Ijo, sehingga terdapat delapan petak kombinasi perlakuan yang diulang empat kali. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, berat brangkasan segar, berat brangkasan kering, jumlah umbi per rumpun, berat segar umbi per rumpun, berat kering umbi per rumpun, berat kering umbi per hektar, dan diameter umbi. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi pupuk dengan cara ditabur dapat meningkatkan tinggi tanaman 2-3 minggu setelah tanam (MST), berat segar umbi per rumpun, dan berat kering umbi per rumpun bawang merah. Varietas Tajuk menghasilkan tinggi tanaman pada 5 MST, jumlah daun pada 5 MST, berat segar dan kering umbi per rumpun, jumlah umbi per rumpun, serta berat brangkasan segar dan kering bawang merah lebih tinggi dibanding varietas lain. Pemberian pupuk dengan cara ditabur dapat diaplikasikan pada bawang merah varietas Tajuk.
Eksplorasi aktinobakteria indigenus untuk Pengendalian penyakit busuk tongkol oleh Fusarium verticillioides pada tanaman jagung Annisa, Tifla Fitri; Yanti, Yulmira; Nurbailis, Nurbailis
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/39831

Abstract

Fusarium verticillioides is a fungus that causes cob rot disease in corn plants. Control of Fusarium verticilliodes by using biological agents that are antagonistic, namely actinobacteria. The research aims to obtain actinobacteria isolates that can control cab rot disease and increase corn growth. The research consisted of 3 stages, 1.) Isolation of indigenous actinobacteria and F.verticillioides. Variables observed were actinobacteria characteristics and biosafety test. 2.) Selection of indigenous actinobacteria to suppress the growth of fungus F. verticillioides. The observed variable is the percentage of inhibition. 3.) The ability of actinobacteria in controlling cob rot in corn plants with 12 treatments and 3 replications, 10 isolates (selection results of stage II), 1 positive control, and 1 negative control, arranged in a completely randomized design. The variables observed were disease development and plant growth. A total of 20 isolates of actinobacteria were obtained isolation results, and the results of biosafety tests obtained as many as 15 isolates of actinobacteria. Actinobacteria isolates that have the potential to suppress the growth of fungus F. verticillioides are actinobacterial isolates APPB BI7, APPB CS7, APPA BI6, APPA AS7, APBC AS7, APPB AS7, APBA AS7, ALKA AS7, APBB BI6, and ALKB AI7 with an inhibition of 62.22-68%. Actinobacteria isolates that have the potential in suppressing the development of cob rot disease and spurring the growth of corn corn plants are isolates with the code APPB BI7, APBB BI6, ALKB AI7, APPB CS7, APPB AS7, APPA AS7, APBA AS7, and APBC AS7. ABSTRAK Fusarium verticillioides merupakan jamur yang menyebabkan penyakit busuk tongkol pada tanaman jagung. Pengendalian Fusarium verticilliodes dengan menggunakan agensia hayati yang bersifat antagonis yaitu aktinobakteria. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan isolat aktinobakteria yang dapat mengendalikan penyakit busuk tongkol serta meningkatkan pertumbuhan jagung. Penelitian terdiri atas 3 tahap, 1.) Isolasi aktinobakteria indigenus dan F.verticillioides. Variabel yang diamati adalah karakteristik aktinobakteria dan uji keamanan hayati. 2.) Seleksi aktinobakteria indigenus untuk menekan pertumbuhan jamur F. verticillioides. Variabel yang diamati adalah persentase daya hambat. 3.) Kemampuan aktinobakteria dalam mengendalikan busuk tongkol pada tanaman jagung dengan 12 perlakuan dan 3 ulangan, 10 isolat (hasil seleksi tahap I dan II), 1 kontrol positif, dan 1 kontrol negatif, disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Variabel yang diamati adalah perkembangan penyakit dan pertumbuhan tanaman. Diperoleh 20 isolat aktinobakteria hasil isolasi, dan hasil uji keamanan hayati diperoleh sebanyak 15 isolat aktinobakteria. Isolat aktinobakteria yang berpotensi dalam menekan pertumbuhan jamur F. verticillioides yaitu isolat aktinobakteria APPB BI7, APPB CS7, APPA BI6, APPA AS7, APBC AS7, APPB AS7, APBA AS7, ALKA AS7, APBB BI6, dan ALKB AI7 dengan daya hambat 62,22-68,06%. Isolat aktinobakteria yang berpotensi dalam menekan perkembangan penyakit busuk tongkol dan memacu pertumbuhan tanaman jagung adalah isolat dengan kode APPB BI7, APBB BI6, ALKB AI7, APPB CS7, APPB AS7, APPA AS7, APBA AS7, dan APBC AS7.
Pengaruh aplikasi nitrogen lepas lambat dan bio elisitor terhadap fisiologi dan hasil tanaman (Oryza sativa L.) Dwiningsih; Totok Agung Dwi, Haryanto; Purwanto, Purwanto
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.45850

Abstract

Salah satu alternatif dalam peningkatan efisiensi pemupukan adalah penggunaan nitrogen lepas lambat. Elisitor dapat meningkatkan penyerapan nutrisi dari tanah, ketahanan tanaman pada serangan hama dan penyakit serta mengurangi pemakaian pupuk kimia sintetis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh aplikasi pupuk nitrogen lepas lambat dan bio elisitor (biosaka) terhadap fisiologi dan hasil produksi pada dua varietas tanaman padi yaitu Inpari Unsoed P20 Tangguh dan Inpari 47 WBC. Penelitian dilaksanakan di lahan Kebun Benih Bojongsari BBTPH Wilayah Banyumas menggunakan metode eksperimental rancangan acak kelompok faktorial (RAK) yang meliputi 12 kombinasi perlakuan dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian N-ZEO-SR Plus memperbaiki aspek fisiologi dan meningkatkan hasil tanaman padi sebesar 47,86% pada level N-ZEO-SR Plus 500 kg ha-1. Pengaruh bio-elisitor terhadap gabah kering giling (GKG) berkaitan dengan N-ZEO-SR Plus. Terdapat saling keterkaitan antara varietas, bio elisitor dan N-ZEO-SR Plus pada fisiologi tanaman padi. Penggunaan pupuk N-ZEO-SR Plus dan bio elisitor pada dua varietas padi tidak berpengaruh terhadap kesehatan tanaman. ABSTRACT One of the alternatives to improve fertilization efficiency is the use of slow-release nitrogen. Elicitor can increase nutrient absorption from the soil, plant resistance to pests and diseases, and reduce the use of synthetic chemical fertilizers. This study aimed to examine the effects of slow-release nitrogen fertilizer and the bio-elicitor (biosaka) on the physiology and yield of two rice varieties (Inpari Unsoed P20 Tangguh and Inpari 47 WBC). The research was conducted at the Bojongsari Seed Farm, BBTPH Banyumas Region, using an experimental design with a factorial randomized block design comprising 12 treatment combinations and three replications. The results showed that applying N-ZEO-SR Plus improved physiological parameters and increased rice yield by 47.86% at a rate of 500 kg ha-1. The effect of bio-elicitors on dry-milled grain was related to N-ZEO-SR Plus. There was a relationship between varieties, bio-elicitors, and N-ZEO-SR Plus on rice plant physiology. The use of N-ZEO-SR Plus fertilizer and bio-elicitors on two rice varieties did not affect plant health.
Mutu awal benih cabai rawit hiyung berdasarkan tingkat kemasakan dan metode ekstraksi Atuf, Muhammad Syamsudin; Ismuhajaroh, Baktinur; Jawak, Gani
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.47973

Abstract

The ripening stage of chili fruits constitutes a critical factor affecting seed quality. This study was conducted to evaluate the effects of fruit ripening stage and extraction method on the initial quality of Hiyung chili seeds. The experiment was arranged in a completely randomized design with two factors: ripening stage (W) and extraction method (E). The ripening stage factor comprised four levels: green (W1, Strong Yellow Green 143A), brown (W2, Light Olive 152A), orange (W3, Vivid Reddish Orange N30A), and red (W4, Vivid Red 44A), as determined using the RHS Color Chart. The extraction methods included manual (E1) and blender extraction (E2). In total, eight treatment combinations were evaluated, each replicated four times, resulting in 32 experimental units. Seed quality was assessed using the paper germination test with 50 seeds per replicate. The parameters measured included initial moisture content (MC), germination percentage (GP), growth rate (GR), vigor index (VI), germination uniformity (GU), and seed electrical conductivity (EC). The MC across all treatments ranged from 74% to 85%. Seeds from the red maturity stage (W4) exhibited the highest GP and GU, recorded at 24% and 6.75%, respectively. The highest GR was observed in the orange maturity stage (W3) treatment (1.92%). All treatments yielded a vigor index of 0%. The combination of red maturity stage with manual extraction (W4E1) resulted in the highest GP, GU, and GR values of 33%, 10%, and 2.67%, respectively. The ripening stage significantly influenced seed quality parameters, specifically GP, GU, and GR. The extraction method had no significant effect on these parameters. However, the interaction between ripening stage and extraction method significantly affected GP and GU.
Respon kultur antera tembakau terhadap media bernutrisi dan AgNPs secara in vitro Khozin, Mohammad Nur; Ahnaf, Yusuf Dary; Dewanti, Parawita; Restanto, Didik Pudji; Iryono
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.49119

Abstract

Tanaman tembakau (Nicotiana tabacum L.) merupakan tanaman musiman bernilai ekonomi tinggi, namun produksinya di Indonesia terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Penggunaan varietas hibrida dapat menjadi solusi karena memiliki produktivitas dan ketahanan penyakit yang lebih baik, tetapi pembentukannya secara konvensional memerlukan waktu lama. Teknik kultur antera dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan galur murni karena menghasilkan tanaman homozigot hanya dalam satu generasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interaksi antara jenis media kultur (MS dan Chu’s N6) dengan penambahan beberapa konsentrasi Nanopartikel silver (AgNPs) yaitu 0,0; 2,5; 5,0; 7,5; dan 10,0 mg L⁻¹ terhadap pertumbuhan antera tembakau secara in vitro. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 10 perlakuan dan 3 ulangan, kemudian data dianalisis menggunakan ANOVA dan diuji lanjut DMRT dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media MS merupakan media terbaik dalam mempercepat dan memperbanyak induksi swelling, kalus, tunas, dan akar, sedangkan konsentrasi AgNPs terbaik diperoleh pada 2,5 mg L⁻¹ yang mampu meningkatkan respons pertumbuhan serta sedikit mengurangi tingkat kontaminasi media. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi media MS dan AgNPs dosis rendah mampu meningkatkan efisiensi regenerasi antera tembakau dan berpotensi digunakan sebagai protokol standar dalam produksi galur murni secara cepat, efisien, dan steril di laboratorium kultur jaringan. ABSTRACT Tobacco (Nicotiana tabacum L.) is a seasonal crop with high economic value, but its production in Indonesia has continued to decline in recent years. The use of hybrid varieties can be a solution because they have better productivity and disease resistance, but their conventional formation requires a long time. Anther culture techniques can be used to accelerate the formation of pure lines because they produce homozygous plants in just one generation. This study aims to determine the interaction between the types of culture media (MS and Chu's N6) with the addition of several concentrations of silver nanoparticles (AgNPs), namely 0, 2.5, 5, 7.5, and 10 mg L⁻¹ on the growth of tobacco anthers in vitro. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with 10 treatments and 3 replications, then the data were analyzed using ANOVA and further tested with DMRT at the 95% level. The results showed that MS medium was the best medium in accelerating and increasing the induction of swelling, callus, shoots, and roots, while the best concentration of AgNPs was obtained at 2.5 mg L⁻¹ which was able to increase the growth response and slightly reduce the level of media contamination. The findings of this study indicate that the combination of MS medium and low-dose AgNPs can increase the efficiency of tobacco anther regeneration and has the potential to be used as a standard protocol in the production of pure lines quickly, efficiently, and sterilely in tissue culture laboratories.
Aplikasi giberelin (GA3) pada bawang merah (Allium ascalonicum L) lokal eban untuk meningkatkan Produksi dan mutu benih di dataran tinggi Tefa, Anna; Kofi, Antonius; Manehat, Arnoldus; Ceunfin, Syprianus; Rusae, Aloysius
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.49154

Abstract

Pengembangan bahan tanam bawang merah dari biji botanis (True Shallot Seed) merupakan salah satu inovasi teknologi dalam meningkatkan kualitas benih. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa giberelin (GA3) mampu menginduksi pembungaan dan meningkatkan produksi true shallot seed (TSS) pada bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan konsentrasi giberelin dan lama perendaman yang pengaruhnya paling baik terhadap hasil umbi, produksi true shallot seed (TSS) dan mutu benih bawang merah lokal Eban. Percobaan dilaksanakan pada bulan Juni sampai Oktober 2024 di Desa Saenam, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Laboratorium Universitas Timor. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi giberelin dengan empat taraf yaitu 0 ppm, 100 ppm, 200 ppm, dan 300 ppm. Faktor kedua adalah lama perendaman dengan tiga taraf yaitu 30, 45 dan 60 menit. Hasil Uji Jarak Berganda Duncan (Duncan's Multiple Range Test/DMRT) menunjukkan bahwa konsentrasi giberelin 200 ppm dan lama perendaman 30 menit menghasilkan jumlah umbi pertanaman 12,33 umbi, berat kering umbi 168,51 g pada konsentrasi giberelin 200 ppm dan lama perendaman 60 menit. Konsentrasi giberelin 300 ppm dan lama perendaman 30 menit meningkatkan persentase tanaman berbunga 54,50%, konsentrasi 100 ppm dan lama perendaman 30 menit meningkatkan jumlah kapsul bernas per umbel 17,67 dan jumlah biji per umbel 37,00. Uji mutu benih TSS yang dihasilkan oleh umbi yang diberi konsentrasi giberelin 300 ppm dan lama perendaman 30 menit menghasilkan potensi tumbuh maksimum 14,66% dan daya berkecambah 14,66%. Perendaman umbi dengan giberelin belum mampu menghasilkan benih dengan viabilitas sesuai standar benih bermutu, sehingga diperlukan penelitian lanjutan. ABSTRACT The development of shallot planting material from botanical seeds (True Shallot Seed) is one of the technological innovations in improving seed quality. Several research results show that gibberellin (GA3) can induce flowering and increase the production of true shallot seed (TSS) in shallots. This study aimed to determine the gibberellin concentration and soaking duration that had the best effect on bulb yield, true shallot seed (TSS) production and seed quality of local Eban shallots. The experiment was conducted from June to October 2024 in Saenam Village, North Central Timor Regency (TTU) and the Timor University Laboratory. The experimental design used was a factorial randomized block design (RAK). The first factor was gibberellin concentration with four levels: 0 ppm, 100 ppm, 200 ppm, and 300 ppm. The second factor was soaking duration with three levels: 0, 30, 45, and 60 minutes. The results of Duncan multiple range test (DMRT) analysis showed that gibberellin concentration of 200 ppm and soaking duration of 30 minutes resulted in 12.33 tubers per plant, dry weight of bulbs of 168.51 g at gibberellin concentration of 200 ppm and soaking duration of 60 minutes. Gibberellin concentration of 300 ppm and soaking duration of 30 minutes increased the percentage of flowering plants by 54.50%, concentration of 100 ppm and soaking duration of 30 minutes increased the number of full capsules per umbel by 17.67 and the number of seeds per umbel by 37.00. The quality test of TSS seeds produced by bulbs given gibberellin concentration of 300 ppm and soaking duration of 30 minutes resulted in a maximum growth potential of 14.66% and germination power of 14.66%. Soaking bulbs with gibberellin has not been able to produce seeds with viability according to quality seed standards, so further research is needed.
Respon morfologi dan parameter genetik karakter biomassa sorgum lokal Indonesia induksi radiasi sinar gamma Zendrato, Yuniel Melvanolo; Kurnia, Theresa Dwi
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.49631

Abstract

Pengembangan program diversifikasi diperlukan untuk menjawab permasalahan pangan dan bioenergi di Indonesia. Tanaman sorgum lokal dapat menjadi alternatif komoditas strategis untuk menjawab tantangan ini, dengan mengkaji kajian keragaman genetik dan potensinya. Pemuliaan mutasi dengan irradiasi sinar gamma dapat meningkatkan keragaman tanaman sorgum yang diarahkan untuk seleksi kandidat unggul. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon morfologi dan parameter genetik karakter biomassa sorgum lokal Indonesia yang diinduksi melalui iradiasi gamma. Tujuh varietas sorgum Indonesia diiradiasi dengan sinar gamma (0, 100, 200, 300, 400, dan 500 Gy) dan ditanam pada kondisi lingkungan suhu berkisar 23-28 oC, curah hujan 3316 mm per tahun, dan pH tanah 5,8. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan keragaman genetik varietas lokal sorgum yang diindikasikan dengan interaksi antara varietas dan dosis sinar gamma yang signifikan (p-value < 0.001) pada beberapa karakter pengamatan.  Karakter biomassa memiliki korelasi positif dengan tinggi tanaman (r=0.92) dan karakter lain seperti diameter batang, karakter daun, dan brix.  Tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang dan brix memiliki heritabilitas >0,87 dan kemajuan genetik persentase rata-rata yang tinggi (GAM) >27,83) sehingga karakter ini dijadikan karakter seleksi untuk biomassa sorgum.  Ada 10 genotipe sorgum yang diseleksi berdasarkan indeks seleksi yang mengarah ke biomassa sorgum, yaitu S1R2, S1R1, S7R2, S6R0, S6R4, S6R5, S6R2, S2R0, S4R3, dan S1R0. Genotipe ini dapat digunakan sebagai materi genetik untuk program pemuliaan sorgum sebagai bioenergi masa depan di Indonesia. ABSTRACT The development of diversification programs is necessary to address food and bioenergy issues in Indonesia. Local sorghum can be used as strategic commodity alternative to address these challenges by examining genetic diversity and potential. Mutant breeding using gamma irradiation can increase the diversity of sorghum for the selection of superior candidates. This study aimed to evaluate the morphological response and genetic parameters of biomass characteristics of local Indonesian sorghum induced by gamma irradiation. Seven Indonesian sorghum varieties were irradiated with gamma rays (0, 100, 200, 300, 400, and 500 Gy) and planted in environmental conditions with temperatures ranging from 23 to 28 °C, annual rainfall of 3316 mm, and soil pH of 5.8, using a randomized complete block design (RCBD) with three replicates. The results showed an increase in the genetic diversity of local sorghum varieties, as indicated by a significant interaction between variety and gamma ray dose (p-value < 0.001) in several observed traits. Biomass traits had a significant positive correlation with plant height (r=0.92) and other traits such as stem diameter, leaf traits, and brix. Plant height, number of leaves, stem diameter, and brix had high heritability (>0.87) and genetic advance per mean (GAM, >27.83), making these traits suitable for selection for sorghum biomass. There are 10 sorghum genotypes selected based on selection indices that lead to sorghum biomass, namely S1R2, S6R0, S1R1, S7R2, S6R4, S6R5, S6R2, S2R0, S4R3, and S7R1. These genotypes can be used as genetic material for sorghum breeding programs for future bioenergy in Indonesia.
Keragaan agronomi dan korelasi komponen hasil galur turunkan esensial padi biofortifikasi inpari IR nutri zinc Rohaeni, Wage Ratna; Yullianida; Sulistiyo, Satria Putra; Muliani, Yenny; Ginting, Sulaiman
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.49633

Abstract

Galur turunan esensial merupakan kelompok tanaman hasil pemuliaan padi yang memiliki sifat unggul dan berpotensi dikembangkan sebagai varietas baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaan serta hubungan antar komponen hasil terhadap produktivitas galur turunan esensial yang dibandingkan dengan varietas tetua Inpari IR Nutri Zinc. Pengujian dilaksanakan pada akhir Januari hingga Juni 2025 di IP2SIP Muara, Bogor, menggunakan rancangan kelompok lengkap terpadu dengan empat ulangan. Galur BP35650*4-SKI-1-3-KNG-0-SKI-0 memiliki umur paling genjah dibandingkan tetua Inpari IR Nutri Zinc. BP35650*4-SKI-38-2-KNG-0-SKI-0 postur tanaman nyata lebih tinggi dibandingkan Inpari IR Nutri Zinc. Semua galur menunjukan tidak berbeda nyata dengan pada karakter Gabah kering Giling (GKG) dengan tetua backcross Inpari IR Nutri Zinc. Beberapa galur mengalami perbaikan karakter ukuran gabah dari tetua backcross (Inpari IR Nutri Zinc = 22,85 g), diantaranya: BP35650*4-SKI-1-3-KNG-0-SKI-0 (25,38 g), BP35650*4-SKI-16-1-KNG-0-SKI-0 (24,83 g), BP35650*4-SKI-19-2-KNG-0-SKI-0 (25,60 g), dan BP35650*4-SKI-22-3-KNG-0-SKI-0 (24,83 g). Jumlah gabah isi permalai menunjukan korelasi kuat terhadap hasil panen pada pengujian ini. Sebaliknya, panjang malai dan bobot 1000 butir memiliki hubungan yang lemah atau bahkan negatif terhadap hasil. Temuan ini memberikan dasar dalam pemilihan galur potensial yang memiliki produktivitas tinggi dan mendukung upaya pengembangan varietas padi unggul. ABSTRACT Essential derived rice lines are a group of breeding lines that have superior properties and have the potential to be developed as new varieties. This study aims to evaluate the diversity and relationship between yield components to the productivity of essential derivative strains compared to the parent variety Inpari IR Nutri Zinc. The test was carried out from the end of January to June 2025 at IP2SIP Muara, Bogor, using a randomized complete block design (RCBD) with four replicates. The BP35650*4-SKI-1-3-KNG-0-SKI-0 strain (106 hst) has the longest lifespan compared to the Inpari IR Nutri Zinc elder (109 hss). BP35650*4-SKI-38-2-KNG-0-SKI-0 (107.1 cm) real plant posture is higher than Inpari IR Nutri Zinc (99.3 cm). All strains show no real difference from the character of GKG with the elder backcross Inpari IR Nutri Zinc. Several lines showed larger grain size compared to Inpari IR Nutri Zinc (22,85 g), including: BP35650*4-SKI-1-3-KNG-0-SKI-0 (25.38 g), BP35650*4-SKI-16-1-KNG-0-SKI-0 (24.83 g), BP35650*4-SKI-19-2-KNG-0-SKI-0 (25.60 g), and BP35650*4-SKI-22-3-KNG-0-SKI-0 (24.83 g). The number of filled grains per panicle has a strong correlation with the yield in this research. In contrast, panicle length and weight of 1000 grains had a weak or even negative relationship with results. These findings provide a basis for selecting potential strains that have high productivity and support efforts to develop superior rice varieties.
Pengaruh aplikasi silika terhadap produktivitas tanaman padi pada tanah sawah dengan status silika berbeda Frasetya, Budy; Suriadikusumah, Abraham; Joy, Benny; Sudirja, Rija
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.49997

Abstract

Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Berbagai upaya dilakukan agar hasil panen tanaman padi terus meningkat. Aplikasi silika (Si) pada tanaman padi masih jarang dilakukan oleh petani sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi terbaik aplikasi Si pada setiap status Si tanah sawah terhadap produktivitas tanaman padi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan ulangan tidak sama. Terdiri dari sembilan perlakuan yang merupakan kombinasi antara status Si tersedia (rendah, sedang dan tinggi) dan aplikasi Si (tanpa pemupukan, ekstrak silika sekam padi 20 dan 40 mL L-1. Variabel penelitian yang diamati yaitu jumlah malai umur 84 dan 98 hari setelah tanam, berat kering biomassa jerami, berat gabah per 1000 butir, berat gabah per rumpun dan berat gabah konversi per hektar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi optimum aplikasi Si berbeda-beda bergantung pada status Si dalam tanah. Level optimum aplikasi Si diperoleh konsentrasi 11 dan 28 mL L-1 untuk Si tersedia sedang dan tinggi. ABSTRACT Rice is a strategic commodity for maintaining national food security. Various efforts are being made to increase rice yields. Application of silica (Si) on rice plants is still rarely carried out by farmers as an effort to increase rice productivity. This study aims to determine the optimal concentration of Si application at each Si status of paddy soil for rice plant productivity. The method used in this study is an experimental method using a completely randomized design with unequal replications. Consisting of nine treatments, a combination of available Si status (low, medium and high) and Si application (no fertilization, rice husk silica extract 20 and 40 mL L-1). The research parameters observed were the number of panicles at 84 and 98 days after planting, dry weight of straw biomass, grain weight per 1000 grains, grain weight per clump and converted grain weight per hectare. The results indicated that the optimal Si application concentration varied according to the soil Si status. The optimum Si application was at concentration of 11 mL L-1 of 28 mL L-1 in paddy soil with a medium and high available Si status, respectively.