cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Pengaruh herbisida bahan aktif glifosfat dan parakuat terhadap gulma dan hasil tanaman kacang hijau Al Afgani, Rony; Purwanto, Purwanto; Fauzi, Khafid
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/36446

Abstract

Weed kontrol using herbicides is more efficient and effective. A combination of contact and systemic toxic active ingredients will be more effective in controlling weeds. This research aimed to determine the effectiveness of the combination of active ingredients (paraquat and glyphosate) to control weeds. This research used a Randomized Block Design with non-factorial patern, seven treatments, and was repeated four times. The treatments P1: control without weeding; P2: manual weeding; P3: paraquate 600 g ha-1+ glyphosate 0 g ha-1; P4: Paraquat 450 g ha-1+ glyphosate 360 g ha-1; P5: paraquate 300 g ha-1 + glyphosate 720 g ha-1. The variables observed Summed Domonace Ratio, weeds biomassa, community coeficient, soil bacteria population, and green bean yield. Data were analyzed using ANOVA, and if significantly different, continued with DMRT 5%. The research results showed that the application of a combination of herbicides was able to suppress weed growth in green bean plantings. The herbicide with active ingredient of paraquat 600 g ha-1 was able to suppress weed growth at the beginning of the growth of green bean plants and was able to support the growth and yield components of green bean plants with the highest yield reaching 1258.43 kg ha-1. Parakuat 600 g ha-1 can be used to control weeds. Pengendalian gulma menggunakan herbisida lebih efisien dan efektif. Kombinasi bahan aktif racun kontak dan sistemik akan lebih efektif dalam mengendlaikan gulma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas kombinasi bahan aktif (parakuat dan glifosat) serta mengetahui dosis yang tepat untuk mengendalikan gulma dan pengaruhnya terhadap hasil tanaman kacang hijau. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok non faktorial, tujuh perlakuan, dan diulang empat kali. Perlakuan P1: kontrol tanpa penyiangan; P2: penyiangan manual; P3: parakuat 600 g ha-1+ glifosfat 0 g ha-1; P4: Parakuat 450 g ha-1+ glifosat 360 g ha- 1; P5: parakuat 300 g ha-1 + glifosfat 720 g ha-1. Variabel yang diamati antara lain summed dominace ratio, community coeficient, bobot kering gulma, kepadatan populasi bakteri tanah, dan hasil kacang hijau. Data dianalisis menggunakan ANOVA, dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kombinasi herbisida mampu menekan pertumbuhan gulma pada pertanaman kacang hijau. Herbisida dengan kandungan bahan aktif parakuat 600 g ha-1 mampu menekan pertumbuhan gulma pada awal pertumbuhan tanaman kacang hijau dan mampu mendukung komponen pertumbuhan dan hasil tanaman kacang hijau dengan hasil tertinggi mencapai 1258,43 kg ha-1. Parakuat 600 g ha-1 dapat digunakan untuk mengendalikan gulma.
Kolonisasi mikoriza Claroideoglomus etunicatum dalam menurunkan penyakit busuk akar Rhizoctonia solani pada kacang hijau Chasanah, Laila Uswatun; Kasiamdari, Rina Sri
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/36464

Abstract

Mung bean (Vigna radiata (L.) R. Wilczek) is widely cultivated in Indonesia, but root rot disease caused by Rhizoctonia solani can decrease production. Arbuscular mycorrhiza can be an alternative biocontrol to control root rot. This research aimed to determine the character of R. solani, analyze the growth of mung bean infected by R. solani inoculated with mycorrhizal fungi Claroideoglomus etunicatum, and determine the severity suppression of root rot disease in mung bean inoculated with mycorrhizal fungi C. etunicatum. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with six treatments and four replications including control (without inoculation), R. solani, 120 spores of C. etunicatum, 180 spores of C. etunicatum, 120 spores of C. etunicatum + R. solani, and 180 spores of C. etunicatum + R. solani. This research showed that R. solani had white to brown colonies, cottony, septate hyphae with 90° branching, hyphae width 5.45 – 9.79 μm, multinucleate, slow growth with an abundant-aerial pattern. Inoculation of C. etunicatum on mung bean infected by R. solani had a significant effect on increasing shoot fresh weight, shoot dry weight, and pod length and C. etunicatum reduced the intensity of R. solani disease by 44.44 – 55.46% and reduced the infection of R. solani in mung bean root by 38.10 – 52.38%. In conclusion, C. etunicatum was able to suppress the severity of rot root disease caused by R. solani on mung bean. ABSTRAK Kacang hijau (Vigna radiata (L.) R. Wilczek) banyak dibudidayakan di Indonesia, tetapi penyakit busuk akar akibat Rhizoctonia solani menyebabkan penurunan jumlah produksi. Mikoriza arbuskular dapat menjadi alternatif biokontrol untuk mengendalikan busuk akar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter jamur R. solani, menganalisis pertumbuhan kacang hijau terinfeksi R. solani yang diinokulasi jamur mikoriza Claroideoglomus etunicatum, serta mengetahui penekanan keparahan penyakit busuk akar pada kacang hijau yang diinokulasi jamur mikoriza C. etunicatum. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan empat ulangan, yaitu kontrol (tanpa inokulasi), R. solani, 120 spora C. etunicatum, 180 spora C. etunicatum, 120 spora C. etunicatum + R. solani, dan 180 spora C. etunicatum + R. solani. Penelitian ini menunjukkan bahwa R. solani memiliki koloni putih hingga coklat, cottony, hifa bersekat dengan percabangan 90°, lebar hifa 5,45 – 9,79 μm, multinukleat, pertumbuhan slow dengan pola abundant-aerial. Inokulasi C. etunicatum pada kacang hijau terinfeksi R. solani berpengaruh nyata terhadap peningkatan berat basah tajuk, berat kering tajuk, dan panjang polong serta C. etunicatum menurunkan intensitas penyakit R.solani sebesar 44,44% – 55,56% dan menurunkan infeksi R. solani pada akar kacang hijau sebesar 38,10% – 52,38%. Kesimpulan penelitian ini, C. etunicatum mampu menekan keparahan penyakit busuk akar oleh R. solani pada kacang hijau.
Genetic variability in 12 butterfly pea (Clitoria ternatea L.) accessions: a dual approach with cluster and principal component analysis Algina, Azka; Ustari, Debby; Wicaksono, Arif Affan; Concibido, Vergel; Karuniawan, Agung
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/37117

Abstract

Understanding genetic variability is crucial for enhancing the breeding programs of butterfly pea (Clitoria ternatea L.), particularly in the face of the demand for improved crop varieties. This study aims to (i) evaluate the genetic variability of 12 butterfly pea accessions based on 28 agro-morphological traits and (ii) analyze the genetic relationships among these accessions. The research was conducted from December 2022 to October 2023 at the Ciparanje Experimental Field, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The experimental design employed a Randomized Complete Block Design (RCBD) with 12 accessions and three replications. Observations were made on 28 agro-morphological traits. Data analysis was performed using analysis of variance (ANOVA), principal component analysis (PCA), and agglomerative hierarchical clustering (AHC). ANOVA results indicated significant diversity among the 12 accessions based on 17 agro-morphological traits. PCA results showed that the first six principal components accounted for 89.1% of the total genetic variability and identified all traits as contributing factors to the genetic variability among the accessions. AHC analysis grouped the accessions into two main clusters, with Euclidean distances ranging from 1.00 to 4.00, indicating varying levels of genetic relatedness. These findings underscore the importance of genetic variability in formulating breeding strategies, particularly in the selection of parents based on targeted agro-morphological traits. ABSTRAK Informasi keragaman genetik sangat penting untuk mendukung program pemuliaan tanaman telang (Clitoria ternatea L.), khususnya dalam menghadapi permintaan varietas unggul. Penelitian ini bertujuan untuk (i) mengevaluasi keragaman genetik dari 12 aksesi kembang telang berdasarkan 28 karakter agro-morfologi dan (ii) menganalisis hubungan genetik di antara aksesi-aksesi tersebut berdasarkan 28 karakter agro-morfologi. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2022 hingga Oktober 2023 di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Desain eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 12 aksesi dan tiga ulangan. Pengamatan dilakukan pada 28 karakter agro-morfologi. Analisis data dilakukan dengan analisis varians (ANOVA), analisis komponen utama (PCA), dan pengelompokan hierarki aglomeratif (AHC). Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa 12 aksesi telang beragam secara signifikan berdasarkan 17 karakter agro-morfologi. Hasil PCA menunjukkan bahwa enam komponen utama pertama menjelaskan 89,1% dari total keragaman genetik dan mengidentifikasi 28 karakter agro-morfologi sebagai karakter yang berkontribusi terhadap keragaman genetik 12 aksesi telang. Analisis AHC mengelompokkan 12 aksesi menjadi dua kelompok utama dengan jarak Euclidean berkisar antara 1,00 hingga 4,00, mengindikasikan tingkat kekerabatan genetik yang jauh. Temuan ini menegaskan pentingnya keragaman genetik dalam merumuskan strategi pemuliaan yang efektif, terutama dalam pemilihan tetua berdasarkan karakter agro-morfologi yang ditargetkan.
Respon empat varietas bawang putih (Allium sativum L.) lokal Indonesia terhadap media induksi dan proliferasi kalus embriogenik Hafizah, Rumaisha Afifatul; Sobir, Sobir; Aisyah, Syarifah Iis; Tamami, Djoko; Roostika, Ika
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/37229

Abstract

Establishing a regeneration media of Indonesian local garlic is necessary for several purposes, including plant breeding and large-scale propagation. This study was aimed to evaluate media formulation on callus induction and proliferation of four local garlic varieties (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, and Lumbu Putih) using root cuttings as the explants. MS media supplemented with different concentration of picloram (4 and 6 mg L-1) without and in combination with glutamine (100 mg L-1) alone and casein hydrolysate (3 g L-1) were evaluated. The results showed that the responses of induction and proliferation of embryogenic callus were genotype-dependent because there was no significant interaction between varieties and media formulations. Still, the varieties had a significant interaction with the observed variables. The fastest initiation time of callus induction was obtained from Lumbu Putih, less than 2 weeks after culture. Geol showed the highest percentage of callus formation and fresh weight of callus, 59% and 0,92 g respectively. There were three different types of the callus: (1) friable, glossy, clear white, (2) friable, glossy, transparent yellow, and (3) semi compact, glossy, yellowish to milky white. ABSTRAK Pemantapan media regenerasi bawang putih lokal Indonesia penting dilakukan untuk berbagai tujuan, termasuk pemuliaan tanaman dan perbanyakan skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon in vitro empat varietas bawang putih lokal (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, dan Lumbu Putih) terhadap komposisi media induksi dan proliferasi kalus dengan menggunakan akar sebagai eksplan. Komposisi media yang diujikan meliputi media dasar MS yang mengandung pikloram (4 dan 6 mg L-1), baik tanpa atau dengan penambahan glutamin (100 mg L-1) dan kasein hidrolisat (3 g L-1). Hasil penelitian menunjukkan respon induksi dan proliferasi kalus embriogenik bersifat genotype dependent, sebab tidak terdapat interaksi yang nyata antara faktor varietas dan formulasi media, namun faktor varietas berpengaruh nyata terhadap variabel amatan. Waktu inisiasi kalus tercepat diperoleh dari Lumbu Putih, yaitu kurang dari 2 minggu setelah kultur. Varietas Geol memiliki persentase pembentukan kalus dan bobot segar kalus tertinggi, berturut-turut sebesar 59% dan 0,92 g. Terdapat tiga tipe kalus yang terbentuk, yaitu (1) remah, mengkilap, putih bening, (2) remah, mengkilap, bening kekuningan, dan (3) kompak, mengkilap, kekuningan-putih susu.
Estimasi Daya Gabung Galur Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) Pada Karakter Kegenjahan Dan Hasil Dengan Menggunakan Genotipe+Genotipe x Environment (GGE) Biplot Syihab, Fakhri Nasharul; Karuniawan, Agung; Ismail, Ade; Yuwariah, Yuyun; Ruswandi, Dedi
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/37280

Abstract

Sweet corn is an important commodity in Indonesia, but its productivity is low due to the use of seeds that have undergone genetic degradation. This research aims to estimate general combining ability (GCA) and spesific combining Ability (SCA) on maturity characteristics and sweet corn yield. The research was conducted in Cikajang Village, Garut Regency, from April to July 2023, using a randomized block design with 40 treatments repeated three times. Analysis was carried out using the Genotype + Genotype x Environment (GGE) Biplot method. The variance results showed a significant effect of line, tester, and line x tester interactions on male flowering age, female flowering age, harvest age, and yield. From the GGE Biplot analysis, the "mean vs stability" pattern identified GCA, with 9 lines having good GCA at male flowering age, 14 at female flowering age, 7 at harvest age, and 10 at yield. The "Which Won Where/What" pattern identified SCA, where the 3 best line x tester combinations were found at male flowering age, 2 at female flowering age, 3 at harvest age, and 4 at yield. The use of GGE Biplot makes it easier to estimate combining ability, so that lines with good GCA are recommended as parents, and hybrids with the best SCA are recommended as superior cultivars that produce earliness and high yields. ABSTRAK Jagung manis merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia, namun produktivitasnya rendah karena penggunaan benih yang mengalami degradasi genetik. Penelitian ini bertujuan mengestimasi daya gabung umum (DGU) dan daya gabung khusus (DGK) pada karakter kegenjahan dan hasil jagung manis. Penelitian dilakukan di Desa Cikajang, Kabupaten Garut, dari April hingga Juli 2023, menggunakan rancangan acak kelompok dengan 40 perlakuan yang diulang tiga kali. Analisis dilakukan menggunakan metode Genotipe + Genotipe x Lingkungan (GGE) Biplot. Hasil varians menunjukkan pengaruh signifikan dari line, tester, serta interaksi line x tester terhadap umur berbunga jantan, umur berbunga betina, umur panen, dan hasil. Dari analisis GGE Biplot, pola "mean vs stability" mengidentifikasi DGU, dengan 9 galur memiliki DGU baik pada umur berbunga jantan, 14 pada umur berbunga betina, 7 pada umur panen, dan 10 pada hasil. Pola "Which Won Where/What" mengidentifikasi DGK, di mana 3 kombinasi line x tester terbaik ditemukan pada umur berbunga jantan, 2 pada umur berbunga betina, 3 pada umur panen, dan 4 pada hasil. Penggunaan GGE Biplot mempermudah estimasi daya gabung, sehingga galur dengan DGU baik direkomendasikan sebagai tetua, dan hibrida dengan DGK terbaik direkomendasikan sebagai kultivar unggul yang menghasilkan umur genjah dan hasil tinggi.
Corn growth on gold-mine tailings inoculated with nitrogen-fixing and phosphate-solubilizing bacteria Sunarya, Yaya -; Priyadi, Rudi; Arifin, Mahfud; Hindersah, Reginawanti
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/37408

Abstract

Gold-mine tailings, challenging environment for plant growth, was our study focus. Introducing nitrogen-fixing bacteria (NFB) and phosphate-solubilizing bacteria (PSB) provides nutrients and phytohormones for plant growth. A pot experiment was designed to assess the corn growth on tailing inoculated with NFB and PSB. The research, conducted in a completely randomized block design, was replicated seven times; the treatments were : without inoculation (control), single inoculation of Azo-7.2, single inoculation of BPF-9, a mixture of Azo-7.2 and BPF-9. The results revealed that inoculation of NFB and PSB significantly increased plant height, stem diameter, leaf number, and P-uptake but did not affect leaf area, chlorophyll content, root length, S/R ratio, N-uptake, and plant biomass, and NFB and PSB count in the rhizosphere. Single inoculants of BPF-9 and mixed inoculants increased plant height by 1.2% to 7%, stem diameter, leaves number, and S/R ratio; only mixed inoculation increased N-uptake, however, Azo-7.2 potential to enhance leaf area, chlorophyll content, and corn biomass. The population of NFB and PSB in the rhizosphere of all treated and control plants was slightly lower than the initial population. The research, in particular, verified that the corn growth on tailings inoculated with NFB and PSB was better than that of uninoculated. ABSTRAK Tailing tambang emas yang merupakan tantangan untuk pertumbuhan tanaman, menjadi fokus penelitian ini. Inokulasi bakteri pengikat nitrogen (BPN) dan bakteri pelarut fosfat (BPF) menyediakan nutrisi dan fitohormon yang penting untuk pertumbuhan tanaman. Percobaan pot dirancang untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan jagung (Zea mays L.) pada tailing yang diinokulasi dengan BPN dan BPF. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak kelompok yang diulang sebanyak tujuh kali; perlakuan percobaan adalah tanpa inokulasi (kontrol) dan dengan inokulasi tunggal BPN Azo-7.2 dan BPF-9 serta campuran Azo-7.2 dan BPF-9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi BPN dan BPF dengan nyata meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah daun tetapi tidak mempengaruhi luas daun, kandungan klorofil, panjang akar, biomassa tanaman, serta jumlah BPN dan BPF di rizosfer. Inokulan tunggal BPF-9 dan inokulan campuran campuran meningkatkan tinggi tanaman 1,2% sampai 7%, diameter batang, jumlah daun, dan rasio S/R secara signifikan. Namun Azo-7.2 berpotensi untuk meningkatkan luas daun, kandungan klorofil, dan biomassa jagung. Populasi BPN dan BPF di rizosfer seluruh tanaman yang diberi perlakuan dan kontrol sedikit lebih rendah dibandingkan populasi awal sebelum percobaan. Penelitian ini, secara khusus, memastikan bahwa performansi pertumbuhan jagung pada tailing yang diinokulasi dengan BPN dan BPF lebih baik dibandingkan dengan tanaman di tailing tanpa inokulasi.
Strategi perbaikan tanah untuk meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura di Kawasan penambangan pasir yang terdegradasi Rosalina, Febrianti; Riskawati, Riskawati; Sangadji, Zulkarnain; Lisalohit, Sulaiman; Wardan, Kharisma Dewi Sukma
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/38086

Abstract

The addition of ameliorant materials into the soil on former post-rock mining land was identified as one of the potential approaches in improving soil quality. This study aims to determine the effect of ameliorant materials on the growth and yield of horticultural crops. The study used a Randomized Group Design with five treatments and three. Plants used as indicator plants used two types of horticultural crops (spinach and pakcoy). The treatments consisted of KS0 (Control), KS1 (compost at a dose of 10 t ha-1 + biofertilizer 5 ml L-1), KS2 (compost at a dose of 15 t ha-1 + biofertilizer 10 ml L-1), KS3 (compost at a dose of 20 t ha-1 + biofertilizer 15 ml L-1), and KS4 (compost at a dose of 25 t ha-1 + biofertilizer 20 ml L-1). The results of the research showed that the application of ameliorant material had a significant effect on plant height, number of leaves and wet weight of pakchoy plants, but had no significant effect on plant root length. Treatment with a compost dose of 15 t ha-1 + biofertilizer 10 ml L-1 (KS2) gave the highest results for the growth of Pakcoy plants. The provision of ameliorant had a significant effect on all observation parameters (plant height, number of leaves, wet weight and root length) of spinach plants, where treatment with a compost dose of 20 t ha-1 + biofertilizer 15 ml L-1 (KS3) gave the highest results on growth Spinach plant. These results imply that the ameliorant used can be used as an alternative in improving the quality of former sand mining land. ABSTRAK Penambahan bahan amelioran ke dalam tanah di lahan bekas tambang batuan diidentifikasi sebagai salah satu pendekatan yang berpotensi dalam perbaikan kualitas tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bahan amelioran terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman hortikultura. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima perlakukan dan tiga kelompok. Tanaman yang digunakan sebagai tanaman indikator menggunakan dua jenis tanaman hortikultura (bayam dan pakcoy). Adapun perlakuan yang diberikan terdiri dari Kontrol (KS0), kompos ampas sagu dengan dosis 10 t ha-1 + pupuk hayati 5 ml L-1 (KS1), kompos ampas sagu dengan dosis 15 t ha-1 + pupuk hayati 10 ml L-1 (KS2), kompos ampas sagu dengan dosis 20 t ha-1 + pupuk hayati 15 ml L-1 (KS3), dan kompos ampas sagu dengan dosis 25 t ha-1 + pupuk hayati 20 ml L-1 (KS4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bahan amelioran berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot basah tanaman pakcoy, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap panjang akar tanaman. Perlakuan dengan dosis kompos ampas sagu 15 t ha-1 + pupuk hayati 10 ml L-1 (KS2) memberikan hasil tertinggi terhadap pertumbuhan tanaman Pakcoy. Pemberian bahan amelioran berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan (tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah dan Panjang akar) tanaman bayam, dimana perlakuan dengan dosis kompos ampas sagu 20 t ha-1 + pupuk hayati 15 ml L-1 (KS3) memberikan hasil tertinggi terhadap pertumbuhan tanaman Bayam. Hasil ini memberikan implikasi bahwa bahan amelioran yang digunakan dapat dijadikan sebagai alternatif dalam perbaikan kualitas lahan bekas tambang pasir.
Front Cover and Preface Jurnal Agro 11 (1) AGRO, Jurnal
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/38095

Abstract

Biologi, infestasi dan musih alami Spodoptera frugiperda (J.E.Smith) pada pertanaman jagung di Kabupaten Banggai Yahya, Ivonela Karolina; Pakanyamong, Ambo Abd Kadir; Wahyuniarsih, Desi; Mutmainah, Mutmainah; Wahyudi, Dicky
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/39573

Abstract

Spodoptera frugiperda has a high potential to cause crop failure in corn plantations. However, information on this pest attack is still very limited in Central Sulawesi and there have been no reports of this pest attack in Banggai Regency. The purpose of this study was to analyze the biology, infestation and natural enemies of S. frugiperda in Banggai Regency. This study was conducted in corn plantations owned by the community in Boras village, Sepe village and Dolom village. Observation of the biology of S. frugiperda was done by calculating the time needed at each stage. Observation of infestation was done by observing sample plants that were attacked and observing natural enemies in the form of parasitoids by taking samples of eggs and larvae then observing the parasitoids that appeared, in observing predators by using pitfall traps to trap insects on the ground which were then identified and in observing entomopathogenic fungi by taking samples of infected S. frugiperda larvae in the field and then identifying them. The results showed that the life cycle of S. frugiperda lasts approximately 45 days. The infestation of S. frugiperda is considered very high with an average infestation in the last observation in Boras Village of 84%, Sepe Village of 76% and Dolom Village of 88%. 5 types of natural enemies were found, namely 1 type of egg parasitoid (Telenomus sp.), 1 type of larval parasitoid (Megaselia sp.), 2 types of predators (Lycosa sp. and Forficula sp.), and 1 type of entomopathogenic fungus (Metarhizium sp.). ABSTRAK Spodoptera frugiperda sangat berpotensi menimbulkan gagal panen pada pertanaman jagung. Akan tetapi, informasi mengenai serangan hama ini masih sangat sedikit di Sulawesi Tengah dan belum ada laporan mengenai serangan hama tersebut di Kabupaten Banggai. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis biologi, infestasi dan musuh alami S. frugiperda di Kabupaten Banggai. Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanaman jagung milik masyarakat di Desa Boras, Desa Sepe dan Desa Dolom. Pengamatan biologi S. frugiperda yaitu dengan menghitung waktu yang dibutuhkan pada setiap stadianya. Pengamatan infestasi dilakukan dengan cara mengamati tanaman sampel yang terserang dan pengamatan musuh alami berupa parasitoid yaitu dengan mengambil sampel telur dan larva kemudian diamati parasitoid yang muncul, pada pengamatan predator yaitu dengan menggunakan pitfall-trap untuk memerangkap serangga permukaan tanah yang kemudian diidentifikasi dan pada pengamatan cendawan entomopatogen yaitu dengan mengambil sampel larva S. frugiperda yang terinfeksi di lapangan kemudian diidentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siklus hidup S. frugiperda berlangsung kurang lebih selama 45 hari. Infestasi S. frugiperda tegolong sangat tinggi dengan rata-rata infestasinya pada pengamatan terakhir yaitu di Desa Boras sebesar 84%, Desa Sepe sebesar 76% dan Desa Dolom sebesa 88%. Ditemukan 5 jenis musuh alami yaitu 1 jenis parasitoid telur (Telenomus sp.), 1 jenis parasitoid larva (Megaselia sp.), 2 jenis predator (Lycosa sp. dan Forficula sp.), dan 1 jenis cendawan entomopatogen (Metarhizium sp.).
Agronomic characteristics of nagara sweet potatoes (Ipomoea batatas L.) from south kalimantan wetlands Apriani, Rila Rahma; Nugroho, Agung; Adriani, Dewi Erika; Purnomo, Joko
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/39576

Abstract

Understanding the agronomic characteristics of sweetpotato grown in wetland is critical to optimise cultivation and maximise yield. By studying factors such as plant morphology and yield, as well as environmental conditions, is important to identify varieties and cultivation practices that are most suitable for specific agroecological zones. This research aims to study the agronomic characters of nagara sweet potato in South Kalimantan's wetlands and identify abiotic factors that support its growth. A total of 15 sweet potato accessions were randomly sampled in sweet potato cultivation hotspot areas in July 2024. Hierarchical cluster analysis was conducted to see the similarity of the accessions found. The results showed that the agronomic characters of sweet potato accessions differed from the registered variety (Ubi Nagara KB-1), especially in characteristics type & number of leaf lobes, shape and number of tubers. Sweet potato yield was also found to be lower (14 t ha-1) compared to Ubi Nagara KB-1 (20 t ha-1). Abiotic data were found to be favourable for sweet potato agronomy, except for pH. The accessions found are still recommended to be developed in lebak swamp land, due to their adaptability and potential which is still higher than sweet potato in general (in dry land). Genetic testing is needed to prove that morphological differences are caused by different varieties (genetic) or decreased environmental conditions. ABSTRAK Karakteristik agronomi ubi jalar yang ditanam di lahan basah sangat penting dipelajari untuk mengoptimalkan budidaya dan memaksimalkan hasil panen. Pemahaman faktor-faktor seperti morfologi dan hasil tanaman, serta kondisi lingkungan, penting untuk mengidentifikasi varietas dan praktik budidaya yang paling sesuai untuk zona agroekologi tertentu. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakter agronomi ubi nagara di lahan rawa lebak Kalimantan Selatan dan mengidentifikasi faktor abiotik yang mendukung pertumbuhannya. Sebanyak 15 aksesi ubi jalar diambil secara acak di area sentra budidaya ubi pada Juli 2024. Analisis kluster hierarki dilakukan untuk melihat kekerabatan aksesi yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter agronomi aksesi ubi jalar berbeda dengan varietas yang terdaftar (Ubi Nagara KB-1), terutama pada ciri tipe, jumlah cuping daun, bentuk dan jumlah umbi. Hasil ubi jalar juga ditemukan lebih rendah (14 t ha-1) dibandingkan dengan Ubi Nagara KB-1 (20 t ha-1). Data abiotik ditemukan mendukung agronomi ubi jalar, kecuali pH. Aksesi yang ditemukan masih direkomendasikan untuk dikembangkan di lahan rawa lebak, karena adaptabilitas dan potensinya yang masih lebih tinggi dibanding ubi jalar secara umum (di lahan kering). Uji genetik diperlukan untuk membuktikan perbedaan morfologi disebabkan oleh varietas berbeda (genetik) atau penurunan kondisi lingkungan.