ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012"
:
11 Documents
clear
TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM ROMAN PANGLIPUR WUYUNG
Utomo, Imam Budi
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (232.469 KB)
|
DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.53.117-124
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan model tokoh dan penokohan yang men jadi ciri umum dalam roman panglipur wuyung. Untuk itu, teori intrinsik yang mengkhususkan pada unsur tokoh dan penokohan digunakan untuk menganalisisnya. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar tokoh dan penokohan dalam roman panglipur wuyung memiliki tipologi yang sama, yakni menampilkan tokoh berwatak datar (bersifat hitamputih), tam pan/cantik, mengusung tokoh hero, dan lainlain yang merupakan tokoh ideal dengan penggambaran yang klise. Abstract: This research aims to reveal the common feature of character and characterization models in the panglipur wuyung novelette. Therefore, the intrinsic theory specializing in characters and characterizations is used to analyze it. From the research result, it can be seen that most of the characters and characterizations in the panglipur wuyung novelette have the same typology, which shows flat character (black and white features) handsome/beautiful, and carries the hero figures etc. which is an ideal figure of cliche depiction. Key Words: character and characterization, typology, panglipur wuyung novelette
PERNYAIAN DALAM MASYARAKAT TIONGHOA: REFLEKSI DALAM SASTRA PERANAKAN TIONGHOA
Susanto, Dwi
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (249.678 KB)
|
DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.44.15-24
Tulisan ini bertujuan melihat dinamika pemikiran atau pandangan pengarang peranakan Tionghoa tentang pernyaian. Pernyaian telah menjadi kebiasaan atau budaya pada masa kolonial di Indonesia. Baik golongan Eropa maupun Tionghoa menerima praktik budaya ini. Para intelektual peranakan Tionghoa memiliki perbedaan pandangan dan pemikiran terhadap praktik ini. Mereka menulis banyak buku seperti karya sastra dalam menghadapi realitas ini. Menurut pandangan Dilthey, karya sastra adalah pemikiran yang diobjektifkan. Pandangan pragmatisme mengatakan bahwa karya sastra adalah hasil tindakan berpikir para pengarangnya. Pernyaian dalam masyarakat Tionghoa mengalami perubahan makna dari praktik yang ?dilegalkan? menja di praktik yang ?tidak bermoral? karena terjadi perubahan dalam memandang hubungan dalam keluarga dan nilainilai sosial yang baru. Abstract: This paper aims to see the dynamics of mind or worldview of Indonesian Chinese author on concubinage. The concubinage had become a habit or culture in the Indonesia colonial era. Both European and Indonesian Chinese people considered accepting this practices. Many Indonesian Chinese intellectual had different impression or opinion about this immoral practices. They wrote many books, e.g. literary works, about this corrupt attitude. Their ideas had given evidence about their intellectual history which based on mind. According to Dilthey, literary works can be considered as the objective mind. Based on pragmatic tradition, literary works result from the author?s action of thinking. Concubinage exercised by Indonesian Chinese had developed into a new worldview. It is influenced by the new paradigm which considers the family relationship and creating new social value. Key Words: literary works, objective mind, concubinage.
NILAIÂ-NILAI LUHUR BUDAYA DALAM PEPATAH-ÂPEPATAH MADURA
Misnadin, Misnadin
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (208.669 KB)
|
DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.49.75-84
Artikel ini membahas tentang pemahaman dan penafsiran kembali pepatahpepatah Madura guna merevitalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Argumen yang dibangun dalam artikel ini adalah penafsiran kembali pepatah Madura sangat diperlukan untuk dapat memahami nilainilai sosial budaya. Kajian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan fokus pada upaya upaya memahami dan menafsirkan pepatah Madura. Hasil kajian mengkategorisasikan nilainilai sosialbudaya dalam pepatah ke dalam tiga kategori utama, yaitu (1) nilainilai yang perlu dipertahankan dan dikembangkan, (2) nilainilai yang memerlukan penafsiran kembali karena dapat menimbulkan kesalahan penafsiran, dan (3) nilainilai yang perlu ditanamkan untuk mengembangkan nilai-nilai positif yang sejalan dengan perkembangan masyarakat Madura saat ini. Abstract: The present paper deals with understanding and reinterpreting Madurese proverbs in order to revitalize Madurese values. It is argued that reinterpreting Madurese proverbs both textually and contextually is a necessary requirement for a complete understanding of the positive cultural values they contain. The study, which is descriptive and qualitative in nature, focuses on efforts to understand and interpret Madurese proverbs for the purpose of revitalizing the positive values. Results of the study categorize the cultural values in the proverbs into three main headings: (1) values which are necessary to be preserved and developed, (2) values which require reinterpretation because they may result in misunderstanding and cause terrors to other ethnic groups, and (3) values which need to be imbued with in order to develop positive values in line with today?s Madurese society development.
ASPEK RELIGIOSITAS DALAM DUA NOVEL ERICÂEMMANUEL SCHMITT: MONSIEUR IBRAHIM AND THE FLOWERS OF THE KORAN DAN OSCAR AND THE LADY IN PINK
Saraswati, Rina
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (232.178 KB)
|
DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.54.140-147
Tema religiositas merupakan sesuatu yang lazim muncul dalam karya sastra, mengngat kedekatannya dengan masalah filsafat. Bersikap religius intinya adalah berserah diri pada kekuatan yang lebih besar untuk mencapai kebahagiaan yang sifatnya pribadi. Berbicara mengenai religiositas tidak selalu harus dikaitkan dengan agama tertentu. Namun, melalui nilainilai yang diajarkan masingmasing agama akan terefleksikan nilainilai kemanusiaan yang universal yakni cinta, kasih sayang, dan misteri hidup. Aspek religiositas yang universal itulah yang dijadikan inti pembahasan tulisan ini melalui kajian interteks dua karya EricEmmanuel Schmitt: Monsieur Ibrahim and the Flowers of the Koran dan Oscar and the Lady in Pink. Abstract: The theme of religiosity is something that commonly appears in literature, given its proximity to the problems of philosophy. Being religious is essentially surrender to a greater power to achieve happiness which is private in nature. To speak about religiosity is not necessarily associated with any particular religion. But through the values that are taught in each religion, the values of humanity, that is universal love, compassion, and the mystery of life, will be reflected. It is the universal aspect of religiosity that will be the core of the discussion of this paper through intertextual study of two works of EricEmmanuel Schmitt: Monsieur Ibrahim and the Flowers of the Koran and Oscar and the Lady in Pink. Key Words: religiosity, religion, happiness, mystery, intertextual
CERPEN “SUKRI MEMBAWA PISAU BELATI†KARYA HAMSAD RANGKUTI: ANALISIS SEMIOTIK
Supriatin, Yeni Mulyani
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (253.211 KB)
|
DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.45.25-36
Penelitian ini bertujuan mengungkapkan makna cerpen ?Sukri Membawa Pisau Belati? karya Hamsad Rangkuti dengan pendekatan semiotik yang dikembangkan oleh Riffatere dan Culler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen ?Sukri Membawa Pisau Belati? karya Hamsad Rangkuti mengungkapkan situasi psikologis kepribadian manusia yang muncul ke permukaan di antara dua kesadaran, yaitu kesadaran faktual dan arus bawah sadar. Situasi psikologis kepribadian manusia yang dialami protagonis merupakan pengaktualan teori Freud yang dituangkan dalam genre cerpen Abstract: This study aims to reveal the meaning of the short story entitled ?Sukri Membawa Pisau Belati? written by Hamsad Rangkuti using Riffatere and Culler perspective. The results show that the short story entitled "Sukri Membawa Pisau Belati" by Hamsad Rangkuti reveals the psychological situation of the human personality emerging between two awareness, which are factual and current awareness. The psychological situation experienced by the protagonists is the application of Freud's theory as outlined in the genre of stories. Key Words: heuristic, hermeneutics, and current awareness
CERITA TUUNG KUNING: SEBUAH KAJIAN KRITIK FEMINIS
Sukrawati, Cokorda Istri
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.51.95-102
Perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk, seperti marginalisasi, subordinasi, pembentukan stereotipe melalui pelabelan negatif, kekerasan, beban kerja lebih panjang dan lebih banyak, serta sosialisasi ideologi nilai peran gender yang umumnya ditanggung dan dibebankan pada wanita. Semua hal itu digunakan untuk mewahanai kritik sastra feminis, khususnya mengenai citra wanita dalam cerita Tuung Kuning. Citra wanita yang dimaksud adalah semua gambaran atau lukisan mental spiritual dan tingkah laku keseharian wanita. Wanita dalam karyakarya sastra Bali dilukiskan dalam berbagai citra yang pada dasarnya menunjukkan inferioritas wanita. Dalam kajian cerita Tuung Kuning, citra wanita yang paling menonjol adalah ?wanita sebagai korban kesewenangan lakilaki?. Abstract: The gender difference is not really a problem as long as they do not deliver gender inequality. Gender inequality is manifested in various forms, such as marginalization, stereotyping through the formation of negative labeling, violence, longer and more numerous work load, and dissemination of the ideology of gender roles generally incurred and charged to women. All of those are used to drive feminist literary criticism, particularly on women image in the story of Tuung Kuning. The women image in this story is all kinds of an idea or mental illustration of the spiritual and daily behavior of women. Women in Balinese literature are illustrated in various images which essentially demonstrates women inferiorism. In the study of the Tuung Kuning story, the most prominent image of women is ?women as victims of male tyranny?. Key Words: gender, marginalization, violence, and women
MELAWAN KEKUASAAN DENGAN PUISI
Tjahjono, Tengsoe
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.47.49-58
Puisi bukan hanya berurusan dengan bentuk ekspresi dan isi, namun juga aksi, yaitu ba gaimana puisi mampu terlibat dalam membangun kesadaran bagi masyarakat tentang persoalan hidup mereka. Tulisan ini mengaji perlawanan Rendra dan Wiji Thukul terhadap kekuasaan melalui puisi. Fokus kajian adalah alasan Rendra dan Wiji Thukul melakukan perlawanan dan bagaimana konstruksi puisi perlawanan mereka. Kajian ini memakai analisis wacana kritis Fairclough yang meliputi langkahlangkah deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi. Dari kajian itu disimpulkan bahwa Rendra dan Thukul samasama menulis puisi yang mengangkat keberpihakan mereka pada yang tertindas dan dimarginalkan dengan gaya dan latar pribadi yang berbeda. Abstract: Poetry is not just dealing with the type of expression and its content, but also action, that is how poetry can engage in building the community awareness on issues of their lives. This paper tries to analyze the resistance of Rendra and Wiji Thukul to power through poetry. Focus of the study is Rendra and Wiji Thukul?s reasons in taking the fight and how is the construction of their resistance poetry. This study uses Fairclough?s critical discourse analysis that consists of description, interpretation, and explanation. From the study, there is a conclusion that Rendra and Thukul have composed poetries trying to raise their alignment with the marginal community expressed in different styles and personal backgrounds. Key Words: poetry, resistance, power, critical discourse analysis
CITRA PEREMPUAN JAWA DALAM CERITA PENDEK MAJALAH BERBAHASA JAWA
Sungkowati, Yulitin
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.52.103-116
Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan citra perempuan Jawa dalam cerita pendek ma jalah berbahasa Jawa dengan pendekatan feminis. Sumber data yang digunakan dipilih secara purposive, yaitu cerita pendek yang menokohkan perempuan dan membicarakan persoalan perempuan dalam majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat yang terbit setelah bergulirnya reformasi tahun 1998. Pemilihan terbitan sejak tahun 1998 karena sejak itulah terjadi perubahan sosial budaya yang cukup signifikan di Indonesia. Penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut. Majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat yang terbit di era reformasi menampilkan citra perempuan aktif, citra perempuan pelawan, citra perempuan materialis, citra perempuan korban, dan citra perempuan penggerak pembangunan. Abstract: The aim of this paper is to describe Javanese women image in the short story of Javanese magazines using feminist approach. The source of data used are purposively selected, those are short stories characterizing woman and discussing the woman issues in the Javanese magazine Panjebar Semangat published after the reformation in 1998. Publication since 1998 was selected because, in Indonesia, it was the period that the significant socialcultural change took place. The study found the following findings. Javanese magazine, Panjebar Semangat, published in the reformation era showed the image of active women, rebellion women, materialistic women, victim women, and the image of development mover. Key Words: image, Javanese women, feminist
FLUIDITAS ANTARA MASKULINITAS DAN FEMININITAS: REPRESENTASI WARIA DALAM FILM DOKUMENTER DAN FIKSI
Maimunah, Maimunah
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.43.1-14
Dunia Waria menjadi salah satu tema yang muncul dalam perkembangan film Indonesia pasca Orde Baru. Penelitian ini mengkaji dua film dokumenter dan sebuah film fiksi yaitu Betty Bencong Slebor karya Benyamin Sueb (1978) serta dua film dokumenter RenitaRenita karya Tony Trimarsanto (2006) dan Ngudal Piwulang Wandu karya Kukuh Yudha Karnanta (2009). Meng gunakan metode penelitian kualitatif dan teori queer dalam membaca media film, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari ketiga film tersebut terlihat perbedaan dalam memaknai tubuh dan gender. Tokoh Sholeh dalam Ngudal Piwulang Wandu berharap suatu hari nanti kembali menjadi lanang sejati, menikah secara heteroseksual dan memiliki anak. Renita membayangkan tubuh dan identitas gender sebagai perempuan sempurna, sedangkan Betty terlihat menikmati interplay antara tubuh feminine dan maskulinnya. Tubuh dalam konteks ini dapat dilihat sebagai suatu con tinuum, perpaduan antara femininitas dan maskulinitas, bukan suatu entitas yang statis. Perbe daan ketiga tokoh utama dalam memandang tubuh, seksualitas, dan gender mereka juga mere fleksikan bahwa tidak ada identitas dan entitas tunggal dari waria. Abstract: The growing visibility of waria/male to female transgender has become one of the do dominant features in Indonesia?s contemporary film industry. The research examines three waria films: Tony Trimarsanto?s RenitaRenita (2006), Kukuh Yudha Karnanta?s Ngudal Piwulang Wan du (2009), and Benyamin Sueb?s Betty Bencong Slebor (1978). Two basic research questions are, firstly: how is the fluidity of masculinity and femininity represented; secondly how do the waria perceive themselves (selfidentity) in a heterosexual culture. Queer film theory will be used in analyzing the film diegesis. The research finds the fluidity and continuum of the waria main characters in defining the meaning of the self and their bodies. This fluidity offers a playful negotiation to the essentialist concept of gender binary system. Key Words: waria, film, gender identity
TEMA LOKALITAS DALAM CERPEN “MALAM KE-Â9999†KARYA JUSUF AN
puji hastuti, heksa biopsi
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.46.37-48
Cerpen ?Malam ke9999? karya Jusuf AN berkisah tentang seorang anak manusia yang sejak lahir dibuntuti oleh jin yang selalu menggodanya supaya menjauh dari Tuhan. Kajian terhadap cerpen ini betujuan untuk mengetahui tema lokalitas yang terkandung di dalamnya. Lokalitas dalam karya sastra tidak hanya terbatas pada ihwal etnisitas dan lokasi geografi, melainkan juga hal-hal lain terkait dengan kekhasan kelompok tertentu, seperti kepercayaan dan agama. Analisis dilakukan dengan metode hermeneutik (pemaknaan) secara induktif terhadap data yang telah diurai dengan bantuan teori fiksi Stanton, yakni menjadi fakta fakta cerita yang terdiri atas karakter (tokoh), alur, dan latar. Hasil analisis memperlihatkan kesatuan unsur-unsur tersebut mendukung tema lokalitas kehidupan religius dalam pesantren, khususnya mengacu pada kelompok Islam beraliran tasawuf. Abstract: Jusuf AN?s short story ?Malam ke-9999? tells about a man followed by satanic devil since his birth day. The devil intends to tempt him in order to separate him from his God. This study aims to uncover the locality theme of the story. Locality in literary works is not only limited to particular ethnicity and geographical location, but also including other typical matters of certain community, such as belief and religion. Analyzes were performed by using hermeneutics method (that of in interpretation) inductively to the data that have been parsed with the help of Stanton?s fiction theory, that is becoming story facts which consist of character, plot, and setting. The analysis result shows that the unity of those elements supports the theme of religious living in an Islamic boarding school, especially that of tasawuf community. Key Words: theme, locality, ?Malam ke-9999? short story