cover
Contact Name
Hero Patrianto
Contact Email
jurnal.atavisme@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.atavisme@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo 61252, Indonesia
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
ISSN : 1410900X     EISSN : 25035215     DOI : 10.24257
Core Subject : Education,
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2013): ATAVISME, Edisi Desember 2013" : 8 Documents clear
IDENTITY CONSTRUCTION IN SAMUEL BECKETT’S WAITING FOR GODOT Fajar, Yusri
ATAVISME Vol 16, No 2 (2013): ATAVISME, Edisi Desember 2013
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.149 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v16i2.88.129-140

Abstract

This paper scrutinizes the formation of the identity of the characters in Samuel Beckett?s famous play Waiting for Godot. One of the characters whose identity is constructed is Godot, a mysterious absent figure. The other characters, such as Vladimir and Estragon actively construct Godot?s identity. Thus, the formation of identity cannot be separated from the social construction in which a lot of characteristics are attributed by the members of the large community. The theory of identity elaborated by Stuart Hall and Erikson is employed to examine the play. The study shows that Godot and other characters? identity is unstable and fluid. The characteristics of their identity are ambiguous and even challenged. Abstrak: Artikel ini mengkaji pembentukan identitas karakter dalam drama terkenal Waiting for Godot karya Samuel Beckett. Salah satu karakter yang dikonstruksi identitasnya adalah Godot, sosok misterius yang tidak pernah muncul. Karakter lain, seperti Vladimir dan Estragon secara aktif mengonstruksi identitas Godot. Oleh sebab itu, pembentukan identitas tidak dapat dipisahkan dari konstruksi sosial yang dimasuki banyak karakteristik oleh anggota masyarakat luas. Teori identitas Stuart Hall dan Erikson digunakan untuk menganalisis drama tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa identitas Godot dan karakter lain tidak stabil dan cair. Karakteristik identitas mereka ambigu dan bahkan meragukan. Kata-­Kata Kunci: identit; ambiguitas; Godot
POSISI PEREMPUAN DALAM TEMPURUNG DAN AYU MANDA: DUA NOVEL KARYA PEREMPUAN DAN LAKI­LAKI PENGARANG BALI Santosa, Anang
ATAVISME Vol 16, No 2 (2013): ATAVISME, Edisi Desember 2013
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.063 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v16i2.96.229-245

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan posisi tokoh­tokoh perempuan dalam dua novel karya pengarang Bali-Tempurung dan Ayu Manda dengan pendekatan feminis. Tempurung karya perempuan pengarang, Oka Rusmini, dan Ayu Manda garapan I Made Iwan Darmawan. Kedua novel tersebut sama­sama diterbitkan pada tahun 2010. Kedua novel tersebut dipilih karena sangat kental menyajikan beragam persoalan perempuan. Eksploitasi gender sebagai sebuah konstruk sosial budaya, mengakibatkan timbulnya ketidakadilan­ketidakadilan. Ironisnya, ketidakadilan tersebut mengalami pembiaran akibat ketatnya hegemoni adat dan tatanan dalam masyarakat. Masalah tersebut dimunculkan secara padat dan cepat dalam novel Tempurung dan Ayu Manda. Novel Tempurung menampilkan gambaran perempuan­perempuan yang dihegemoni oleh budaya dan masyarakatnya. Pada novel Ayu Manda yang mengambil latar waktu 1960­an, geliat penolakan terhadap ketidakadilan mulai ditampilkan. Akan tetapi, ketika perempuan mulai berbicara tentang dan terlibat cinta, perempuan akan berhadapan dengan kuasa adat istiadat dan tradisi yang siap memarginalkan tubuhnya jika tidak bersepaham dengannya. Temuan yang didapat dari hasil penelitian ini adalah perempuan­perempuan dalam kedua novel tersebut diposisikan sebagai manusia yang berjenis kelamin berbeda sehingga harus diperlakukan berbeda pula. Abstract: This article aims to describe the position of female characters in two novels written by Balinese writers, Tempurung and Ayu Manda, using feminist approach. Tempurung was written by a female writer, Oka Rusmini, whereas Ayu Manda is a work of I Made Iwan Darmawan. Both novels were published in 2010. The two novels were chosen for strongly presenting various woman issues. Gender exploitation as a sociocultural construction brings about discriminations. Ironically, ironically, those discriminations have been allowed because of a firm hegemony of tradition and social order of society. The issue is solidly and fast presented in the two novels. Tempurung depicts the women who are hegemonized by their culture and society. In Ayu Manda, which takes the setting of the 1960s, refusals toward discrimination have started to emerge. However, when a woman starts to talk about and be involved in love, she will face the power of custom and tradition ready to marginalize her body if they disagree with them. The result of the study shows that the women in the two novels are positioned as being of different sex so they have to be treated differently from man. Key Words: woman; gender; feminism
MARGINALISASI PROFESI DUKUN BAYI DALAM PUISI “NINI­NINI DUKUN BAYI” KARYA IMAN BUDHI SANTOSA Prabowo, Dhanu Priyo
ATAVISME Vol 16, No 2 (2013): ATAVISME, Edisi Desember 2013
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.624 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v16i2.93.195-203

Abstract

Tujuan kajian ini adalah mengungkapkan (1) makna referensial puisi ?Nini-­Nini Dukun Bayi?; (2) ungramatikalitas, makna simbolik, dan pasangan oposisi puisi tersebut. Kajian ini menggunakan teori semiotik­struktural Riffaterre. Metode yang dipergunakan dalam penelitian adalah telaah kepustakaan. Sifat puisi mengungkapkan sesuatu dengan tidak langsung karena puisi mempunyai dua lapis makna (makna referensial dan makna semiotik). Dari analisis data ditemukan (1) makna referensial puisi ?Nini­-Nini Dukun Bayi? yang mengungkapkan terpinggirnya profesi dukun bayi oleh bidan; (2) ungramatikalitas, makna simbolik, dan pasangan oposisi puisi ?Nini­Nini Dukun Bayi? dalam persoalan kemodernan dan ketradisionalan. Abstract: This research aims to reveal (1) referential meaning of a poem entitled ?Nini­-Nini Dukun Bayi?; (2) ungrammaticality, symbolic meaning, and opposition pairs of the poem. Semiotic­ structural theory of Riffaterre and library research method are conducted in this research. Poetry has an indirect expression with two layers meaning (referential and semiotic). The analysis shows (1) referential meaning of ?Nini-­Nini Dukun Bayi? poem that illustrates marginalization of dukun bayi ?traditional midwife? by bidan ?midwife; (2) ungrammaticality, symbolic meaning, and opposition pairs of ?Nini­Nini Dukun Bayi? in modernity and traditional matters. Key Words: semiotic, marginal, traditional, modern, nini dukun bayi
QUEERING THE CONSTRUCTION OF GENDER IDENTITY IN CHRIS COLUMBUS’ MOVIE MRS. DOUBTFIRE Agustina, Pradipta; Maimunah, Maimunah
ATAVISME Vol 16, No 2 (2013): ATAVISME, Edisi Desember 2013
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.805 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v16i2.89.141-152

Abstract

The construction of traditional gender roles has affected the understanding of being feminine and masculine. This understanding seems to influence gender performance in the film Mrs. Doubtfire. This one­hour­and­fifty­seven­minute film was directed by Chris Columbus. This study is conducted to examine how gender performativity is illustrated in the film and what ideology lies within the film. Queer theory, especially gender performativity by Judith Butler is used as the framework of the study. The study is done by observing and analysing chosen scenes from the film focusing on the performance of Daniel Hillard as Euphegenia Doubtfire. Narrative aspect of the film is not only the main concern; the non­narrative is also part of the analysis especially on costume, makeup, performance and color. The main finding of this study is this film in one hand celebrates traditional gender roles but on the other hand promotes gender as performance. Femininity is pictured as fluid. Therefore, it is also a performativity. The contestation between those two opposing ideas is smoothly wrapped through amusing film such as Mrs. Doubtfire. Abstrak: Film Mrs. Doubtfire karya Chris Columbus menampilkan konstruksi yang berbeda dengan konstruksi peran gender yang telah menjadi mainstream. Berdurasi 1 jam dan 57 menit, film ini menampilkan konstruksi maskulinitas dan femininitas yang dapat saling bertukar, cair, dan tidak baku. Studi ini mengkaji dua pertanyaan utama. Pertama, bagaimana konstruksi peran gender digugat melalui performativitas gender? Kedua, ideologi apa yang terdapat dalam film? Teori Queer terutama gender performativitas yang dikemukakan oleh Judith Butler menjadi kerangka penelitian ini. Penelitian ini dilakukan dengan mengobservasi dan menganalisis adegan terpilih dengan berfokus pada penampilan Daniel Hillard sebagai Euphegenia Doubtfire. Aspek naratif dalam film bukan satu­satunya perhatian utama. Aspek non­naratif juga menjadi bagian analisis kostum, tata rias, penampilan, dan warna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film ini pada satu sisi mengonfirmasi peran gender yang tradisional, tetapi di lain pihak juga mencoba menawarkan performativitas gender. Ideologi film ini menggambarkan femininitas sebagai sesuatu yang cair sehingga femininitas juga sesuatu yang sifatnya performativitas. Kontestasi antara kedua hal tersebut disajikan dengan menarik dalam film Mrs. Doubtfire. Kata­Kata Kunci: konstruksi gender; performativitas gende; teori queer
PEREMPUAN DENGAN SEGALA LUKA DALAM KUMPULAN CERPEN SUATU HARI BUKAN DI HARI MINGGU Wahyuni, Dessy
ATAVISME Vol 16, No 2 (2013): ATAVISME, Edisi Desember 2013
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.725 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v16i2.97.247-257

Abstract

Empat belas cerpen Yetti A. Ka yang terangkum dalam Satu Hari Bukan di Hari Minggu menghadirkan realita perempuan yang terluka dan kecewa meskipun mereka hidup secara bebas. Oleh sebab itu, masalah penulisan ini adalah bagaimana bentuk penggambaran Yetti A. Ka mengenai para perempuan dan segala luka yang mereka miliki dalam kumpulan cerpen tersebut? Melalui pendekatan feminisme, dapat disimpulkan bahwa perempuan yang disajikan pengarang ini sesungguhnya merasa terikat oleh budaya patriarki. Akan tetapi, dengan segala kebebasan yang mereka miliki, mereka tetap memilih menjadi perempuan dalam lingkaran patriarki tersebut meskipun dengan membawa luka yang tidak pernah usai. Abstract: Yetti A. Ka?s fourteen short stories compiled in Suatu Hari Bukan di Hari Minggu collection represent the reality of women who were hurt and disappointed, although they had a free life. Therefore, the problem of this article is formulated as follows: how is the shape of Yetti A. Ka?s depiction on the women and all the injuries they have in the short story collection? Through the perspective of feminism, it can be concluded that the women presented by the author actually feel bound by a patriarchal culture. However, with all the freedom they have, they still choose to be a woman in a patriarchal circle, although with a wound that never ends. Key Words: short story collection, the perspective of feminism, women's injury
HUBUNGAN INTERTEKSTUAL “DAME DAN DUFUN” DENGAN “JAKA TARUB” Muntihanah, Muntihanah
ATAVISME Vol 16, No 2 (2013): ATAVISME, Edisi Desember 2013
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v16i2.91.169-182

Abstract

?Dame dan Dufun? merupakan cerita yang berasal dari Suku Mooi yang mendiami Desa Maribu, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Dengan menggunakan teori intertekstual, dapat ditemukan bahwa cerita ?Dame dan Dufun? berhipogram pada cerita ?Jaka Tarub?. Hubungan intertekstual kedua cerita terjadi pada tataran intrinsik dan ekstrinsik. Pada tataran intrinsik, ?Dame dan Dufun? banyak menyerap unsur cerita ?Jaka Tarub? ke dalam ceritanya. Hal ini terlihat dari banyaknya persamaan motif di dalam kedua cerita tersebut. Meskipun banyak memiliki kesamaan motif, sebagian besar motif tersebut terdapat dalam tahapan perkembangan alur yang berbeda. Pada tataran ekstrinsik terjadi penyimpangan berupa perlawanan terhadap hipogramnya, cerita ?Jaka Tarub?. Penyimpangan ini muncul karena adanya perbedaan pandangan kosmologi dan perbedaan pandangan mengenai konsep bidadari dengan cerita hipogramnya. Abstract: ?Dame and Dufun? is a story from Mooi Tribe which lives in Maribu Village, West Sentani District, Jayapura Regency, Papua Province. Using intertextual theory, it can be found that the story of ?Dame and Dufun? is similar to hypogram story of ?Jaka Tarub?. Intertextual relations on both stories happen in the intrinsic and extrinsic levels. At the intrinsic level, the story of ? Dame and Dufun? has absorbed many elements of ?Jaka Tarub? story. It can be seen from the resemblance of motifs of those stories. Although they have many common motifs, the most are found in different stages of plot development. At the level of extrinsic, distortions which controvert with its hypogram, story of ?Jaka Tarub?, occur. These distortions arise because of different views and perspectives on cosmology of angel concept with its hypogram. Key Words: intertextual relationship; hypogram; extrinsic level; intrinsic level
DIMENSI ALAM KEHIDUPAN DAN MANUNGGALING KAWULA­GUSTI DALAM SERAT JATIMURTI Asmara, Andi
ATAVISME Vol 16, No 2 (2013): ATAVISME, Edisi Desember 2013
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v16i2.90.153-167

Abstract

Artikel ini bertujuan memahami dimensi alam kehidupan dan proses pencapaian manunggaling kawula­Gusti menurut Serat Jatimurti. Terpahaminya dimensi alam kehidupan tersebut diharapkan mampu menuntun pelaku mistik kejawen mencapai tujuan mistiknya. Puncak laku mistik orang kejawen adalah manunggaling kawul ­Gusti. Metode yang digunakan adalah metode analisis wacana dan interprestasi. Teori yang dmanfaatkan ialah teori pragmatik. Teori pragmatik diterapkan karena berkait erat dengan manfaat karya sastra bagi pembaca dan masyarakat. Hasil pengkajian ini adalah terungkapnya berbagai dimensi alam kehidupan dan makna manunggaling kawula­ Gusti, yaitu menyatunya gesang sejati atau urip sejati dengan Kang Maha Gesang atau Kang Maha Urip, Tuhan Yang Maha Esa. Abstract: The aim of this article is to comprehend the dimension of natural life and the achievement process of manunggaling kawula Gusti ?the unity of human soul and God? according to Serat Jatimurti. It is expected that comprehending the natural life dimensions can lead the performer of mystic of kejawen to get his mystical goal. The ultimate mystical goal of the kejawen people is manunggaling kawula Gusti. The data was analyzed by using discourse analysis and interpretation method. The pragmatic theory was applied because it was closely related with the benefit of the literary works for the reader and the society. This study has found various dimensions of natural life and the meaning of manunggaling kawula Gusti, which is the unity of true gesang or true urip ?life? with God, Kang Maha Gesang or Kang Maha Urip ?the eternal?. Key Words: natural life dimension, manunggaling kawula­Gusti, Serat Jatimurti
SASTRA LOKAL DAN INDUSTRI KREATIF: REVITALISASI SASTRA DAN BUDAYA USING Anoegrajekti, Novi
ATAVISME Vol 16, No 2 (2013): ATAVISME, Edisi Desember 2013
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v16i2.92.183-193

Abstract

Pemerintah mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Industri Kreatif. Seni pertunjukan, termasuk tradisi lisan yang ada di dalam pertunjukan menjadi salah satu prioritas yang akan dikembangkan agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukungnya. Tujuan tersebut representatif karena masyarakat Indonesia memiliki beragam seni pertunjukan dan sastra lokal yang apabila dikelola dengan baik bisa menjadi penopang munculnya ekonomi kreatif. Banyuwangi, misalnya, memiliki beragam seni pertunjukan dan tradisi lisan, seperti syair­ syair gandrung, lagu­lagu dalam pertunjukan angklung, cerita rakyat jinggoan, dan tradisi wangsalan dan basanan. Sampai saat ini, dinas terkait di Banyuwangi belum dapat membuat kebijakan yang mampu mendukung terciptanya pola pikir, sistem, dan praktik industri kreatif berbasis lokalitas dan tetap mengedepankan karakteristik nilai­nilai kultural yang ada. Untuk itu, tulisan ini bertujuan mengembangkan model industri kreatif berbasis sastra lokal dan budaya Using. Dengan metode etnografis dan analisis yang menggunakan pendekatan cultural studies, model tersebut diharapkan mampu mengembangkan industri kreatif di wilayah lokal. Abstract: The Indonesian government announced the year of 2009 as the Creative Industry Year. Performing art, including oral tradition existing in performance, has become a priority which will be developed to improve the prosperity of its supporting community. This goal is representative because Indonesian people have various performing arts and local literature which, if well managed, will support the creative economy. Banyuwangi, for instance, has various performing arts and oral tradition, such as gandrung poems, songs in angklung performance, jinggoan folklores, and traditions of wangsalan and basanan. To date, the relevant services of Banyuwangi government have not been able to make policies able to support the creation of creative industry pattern of thinking, system, and practice which are locally based and keep on proposing the characteristics of existing cultural values. Therefore, this article is aimed at developing a creative industry model based on Using local literature and culture. By using ethnography method and cultural studies approach, the model is expected to be able to develop the creative industry in the local area. Key Words: local literature; Using culture; creative industry; revitalization

Page 1 of 1 | Total Record : 8