cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 31 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2010)" : 31 Documents clear
Hubungan antara Status Ekonomi, Status Pendidikan dan Keharmonisan Keluarga dengan Kesadaran Adanya Demensia dalam Keluarga Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1560

Abstract

Dementia in the elderly are often not realized because the onset is not clear and progressive history of their illness but slowly. Patients and families often assume that the decline in cognitive function that occurred in early dementia is a natural thing. Overall status of economic, education andfamily harmony allegedly had a role to knowledge of the incidence of dementia on family members. The study aims to determine the relationship between economic status, education andfamily harmony to the knowledge of the incidence of dementia on family members. This study used cross sectional method. Research subjects were 51 elderly people, one of whom were excluded because of severe hearing loss, making it hard communication time of the study. The method of guided interviews undertaken to obtain the status of education and economic status. APGAR Score is used to determine the level of family harmony and the MMSE (score minimental examination) are used to diagnose dementia. Chi squares analysis used to determine the relationship between variables. The results showed a significant correlation between educational status of the family with awareness of dementia in the family (p = 0.007). APGAR economic status andfamily values are not significantly related to awareness of dementia in the family, with a value of p in sequence are 0.427 and 0.231.Demensia pada usia lanjut sering tidak disadari karena awitannya tidak j elas dan perjalanan penyakitnya progresif namun perlahan. Pasien dan keluarga sering menganggap bahwa penurunan fungsi kognitif yang terjadi pada awal demensia merupakan hal yang wajar. Status ekonomi, pendidikan dan keharmonisan keluarga diduga mempunyai peran terhadap pengetahuan adanya kejadian demensia pada anggota keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status ekonomi, pendidikan dan keharmonisan keluarga terhadap pengetahuan adanya kejadian demensia terhadap anggota keluarga. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Subyek penelitian sebanyak 51 orang lansia, satu diantaranya dieksklusi karena adanya gangguan pendengaran yang berat sehingga menyulitkan komunikasi saat dilakukan penelitian. Metode wawancara terpimpin dilakukan untuk mendapatkan data status pendidikan dan status ekonomi. Nilai APGAR digunakan untuk menentukan tingkat keharmonisan keluarga dan MMSE (minimentalscore examination) digunakan untuk menegakkan diagnosis demensia. Analisis chi squares digunakan untuk menentukan keeratan hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan bermakna antara status pendidikan keluarga dengan kesadaran adanya demensia dalam keluarga (p=0,007). Status ekonomi dan nilai APGAR keluarga tidak berhubungan yang bermakna kesadaran adanya demensia dalam keluarga, dengan nilai p secara berurutan adalah 0,427 dan 0,231.
Vulvodinia, Diagnosis dan Penatalaksanaan Susetiati, Devi Artami
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1565

Abstract

Vulvodynia is often described as discomfort or burning pain in the vulvar area, occurring in the absence of visible pathology or a specific, clinically identifiable disorder. The aim of this this article is to give more information about vulvodinia, diagnose and management with literature study method. The diagnosis of vulvodynia is made after taking a careful history, ruling out infectious or dermatologic abnormalities, and eliciting pain in response to light pressure on the labia, introitus, or hymenal remnants. Several treatment options have been used, although the evidence for many of these treatments is incomplete. Treatments include oral medications that decrease nerve hypersensitivity (e.g., tricyclic antidepressants, selective serotonin reuptake inhibitors, anticonvulsants), pelvic floor biofeedback, cognitive behavioral therapy, local treatments, and (rarely) surgery. Most women experience substantial improvement when one or more treatments are used. It can be concluded that vulvodinia ’s management until right now has not been standardized yet because of its etiology.Vulvodinia merupakan rasa tidak nyaman pada vulva, kebanyakan pasien merasa nyeri terbakar, stinging, iritasi, dan lecet pada daerah tersebut, keluhan berlangsung kronik tanpa disertai gambaran klinis yang spesifik atau gangguan neurologis. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan tentang vulvodinia, diagnosis dan penatalaksanaannya dengan metode studi pustaka. Diagnosis vulvodinia ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti dengan menyingkirkan infeksi atau kelainan kulit dan pemeriksaan rasa nyeri terhadap rangsang tekanan ringan pada labia, introitus, atau sisa-sisa himen. Beberapa pilihan terapi telah digunakan meskipun belum cukup terbukti efektivitasnya. Terapi oral dengan menggunakan obat-obatan yang dapat menurunkan hipersensitivitas saraf (misal antidepresan trisiklik, selective serotonin reuptake inhibitors, antikonvulsan), pelvic floor biofeedback, cognitive behavioral therapy, terapi lokal, dan yang jarang dilakukan adalah terapi bedah. Kebanyakan wanita penderita vulvodinia mengalami perbaikan yang berarti ketika menggunakan salah satu atau kombinasi terapi. Disimpulkan bahwa sampai saat ini belum ada standarisasi terapi vulvodinia, hal ini karena vulvodinia merupakan suatu penyakit dengan berbagai kemungkinan etiologi yang belum pasti.
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Cacing Tanah (Lumbricus sp) terhadap Berbagai Bakteri Patogen secara Invitro Suryani, Lilis
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the modern society now, the active compound ofearthworm is used as medical materials. In fact, many cosmetic products utilize that active materials as softened skin substrate, facial moisturizer, and antiseptic. As herbal products, there has been a lot of branded tonic that used earthworms extracts as a mixture of active material. Earthworms have mechanic immunity against pathogen organism by producing extracellulair hyaline, granular amoebocytes and chloragocytes. Hyaline and granular amoebocytes have the ability to phagocyte, chloragocyte producing cytotoxic extracellulair and antibacterial substance. This research is an experimental laboratory to observe the effect of antibacterial earthworm (Lumbricus sp) against the pathogenic bacteria invitro. The antibacterial activity extract earthworm (Lumbricus sp) has been tested by the determination of the minimal inhibitory consentration (MIC) and minimal bactericidal concentration (MBC) using tube dilution method . The bacteria test used Staphylococcus aureus, Streptococcus beta hemolyticus, Vibrio cholerae and Shigella flexneri wild strain. The results of this study shows that the MIC earthworm extract against Staphylococcus aureus is 4.17 g%, against Streptococcus beta hemoliticus is 12.5 gr%, against Vibrio cholerae is 16.7 gr% and Shigella flexneri is 2.08 gr%. It is concluded that earthworm (Lumbricus sp) extract possess an antibacterial activity against Staphylococcus aureus and Shigella flexneri as bactericidal and against Streptococcus beta hemolyticus and Vibrio cholerae as bacteriostatic.Dalam dunia moderen sekarang ini, cacing tanah digunakan sebagai bahan obat. Bahkan, tak sedikit produk kosmetik yang memanfaatkan cacing tanah sebagai substrat pelembut kulit, pelembab wajah, dan antiinfeksi. Sebagai produk herbal, telah banyak merek tonikum yang menggunakan ekstrak cacing tanah sebagai campuran bahan aktif. Cacing tanah memiliki mekanisme imunitas terhadap organisme pathogen dengan cara menghasilkan hyaline, granular amoebocytes dan chloragocytes. Hyaline dan granular amoebocytes punya kemampuan fagositosis , chloragocytes menghasilkan zat ekstraseluler yang sitotoksik dan antibakterial. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri ekstrak cacing tanah (Lumbricus sp) terhadap bakteri patogen secara in vitro. Penentuan daya antimikroba ekstrak cacing tanah (Lumbricus sp) dengan metode pengenceran tabung (tube dilution methode) untuk melihat kadar hambatan minimal (KHM) dan kadar  bakterisidal minimal (KBM). Bakteri uji yang digunakan adalah bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus beta hemoliticus, Vibrio cholerae dan Shigellaflexneri strain lokal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KHM ekstrak cacing tanah terhadap Staphylococcus aureus sebesar 4,17 gr%, terhadap Streptococcus beta hemoliticus sebesar 12,5 gr%, terhadap Vibrio cholerae sebesar 16,7 gr% dan terhadap Shigella flexneri sebesar 2,08 gr%. Disimpulkan bahwa ekstrak cacing tanah (Lumbricus sp) memiliki efek bakterisid terhadap Staphylococcus aureus dan Shigella flexneri, sedangkan terhadap Streptococcus beta hemoliticus dan Vibrio cholerae bersifat bakteristatik
Pengaruh Serbuk Cabai Rawit (Capsicum frutescens L) terhadap Nafsu Makan dan Berat Badan Anak Tikus Putih (Rattus norvegicus L) Ritonga, Ratna Sari; Indriawati, Ratna
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lost of appetite factor in children approxiantely between 25% and can increase until 40-70% especially in chonic infection and premature infants. It has consequence to reduce their body weight. The aim of this study is to find out the influence of Capsicum frutescens L to appetiteand body weight of Rattus norvegicus L. The samples consisted of 24 Rattus norvegicus L, male and female, devided into 4 groups. every group was given Capsicum frutescens L powder such with 60 mg, 90 mg, I20 mg and one group used for control. Such group was being adapted for one week and then was given the treatment for three weeks. The analized result using Anova test showed that there was significant different between the amount rest of food and body weight increasing of Rattus norvegicus L given Capsicum frutescens L to each treatment group. Among various groups of treatment the most effective dosis is I20 mg.It is concluded that Capsicum frutescens L has the potential effect to stimulate the Rattus norvegicus L appetite and to increase body weight.Faktor kesulitan makan pada anak dialami sekitar 25% usia anak, dan jumlah akan meningkat sekitar 40 - 70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Faktor yang paling banyak menimbulkan kesulitan makan yaitu kurangnya nafsu makan. Kesulitan makan akan menyebabkan berat badan menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari serbuk cabai rawit (Capsicum frutescens L) terhadap nafsu makan dan berat badan anak tikus putih (Rattus norvegicus L). Sampel adalah 24 ekor tikus, jantan dan betina, dan dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok diberikan serbuk cabai rawit dengan dosis 60 mg/hari/ekor, 90 mg/hari/ekor, 120 mg/hari/ekor, dan kelompok kontrol. Sampel diadaptasikan selama seminggu, kemudian diberi perlakuan selama 3 minggu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan sisa makanan yang bermakna secara statistik antara jumlah sisa makanan dan peningkatan berat badan Rattus norvegicus L. Serbuk cabai rawit (Capsicum frutescens L) dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan anak tikus putih (Rattus norvegicus L) dengan dosis efektif yaitu 120 mg/hari/ekor untuk meningkatkan nafsu makan dan lebih efektif pada jantan. Disimpulkan bahwa pemberian Capsicum frutescens L dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan Rattus norvegicus L.
Vitrektomi pada Pasien dengan Retinopati Diabetik Setyandriana, Yunani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1566

Abstract

Retinopathy is a primary morbidity occurring in retinopathy diabetic patients and may cause blindness. The failure of laser treatment to stop the new neovascularization may result in severe vision damage. Vitrectomy is indicated in severe vision patients to improve their vision. The aims of the study were to discuss vitrectomy in diabetic retinopathy patients, refresh the knowledge on how and when Vitrectomy should be performed, and to understand the side effect in order to obtain optimal vision improvement. The method is literature study. Progressive fibrovascular proliferation in diabetic retinopathy patients may lead to retinal detachment. The detachment of posterior retinal without involvement of fovea can be observed. However, if fovea is involved, vitrectomy is indicated. If adequate Laser fails due to media opacity, cataract surgery may be performed. Laser photocoagulation can be conducted a few days postsurgery. Alternatively, both vitrectomy and endolaser may be recommended along with lensectomy and intraocular lens implantation. Diabetic Retinopathy Vitrectomy Study(DRVS) concluded:1) in severe vitreous bleeding eyes, early vitrectomy may result in improved vision despite the high risk of vision loss which needs to be considered.2)In the IDDM patients, especially those with severe vitreous bleeding, early vitrectomy is more beneficial and may have a good result. Postoperative complications may occur including retinal detachment, vitreous bleeding, rubeosis iridis, and other types of complications, which require further considerations for optimal result.The prognosis after vitrectomy depends on the macular function. Surgery for vitreous bleeding without macula detachment generally brings a good result.Retinopati merupakan penyebab morbiditas utama pada pasien diabetes dengan akibat akhir yang paling ditakuti adalah kebutaan. Kegagalan terapi laser untuk menghentikan proliferasi pembuluh darah baru dapat menyebabkan kerusakan penglihatan yang parah. Pada pasien dengan kerusakan penglihatan yang berat, vitrektomi merupakan terapi yang dapat diharapkan untuk memperbaikinya. Kajian ini membahas tentang vitrektomi pada retinopati DM, menyegarkan pengetahuan kita tentang bagaimana dan kapan vitrektomi dilaksanakan serta mengerti efek yang terjadi supaya didapatkan perbaikan penglihatan yang seoptimal mungkin. Proliferasi fibrovaskular yang progresif pada diabetes dapat mengakibatkan lepasnya retina. Lepasnya bagian posterior tanpa melibatkan fovea dapat tetap stabil dan harus diobservasi, namun begitu fovea terlibat, vitrektomi merupakan indikasi. Jika fotokoagulasi panretinal yang adekuat tidak dapat dilakukan karena opasitas media, pembedahan katarak dapat dilakukan, dan fotokoagulasi laser dapat dilakukan setelah beberapa hari pasca pembedahan. Sebagai alternative, vitrektomi dan endolaser dapat dilakukan bersama dengan lensektomi dengan pemasangan lensa intraocular. Penelitian DRVS menyimpulkan: 1) untuk mata dengan perdarahan vitreus berat, vitrektomi awal menghasilkan tajam penglihatan yang lebih baik, meskipun risiko lebih banyak kehilangan visus sampai tidak didapatkan persepsi cahaya harus dipikirkan. 2) pasien dengan IDDM, khususnya dengan perdarahan vitreus berat, vitrektomi awal lebih menguntungkan dan menghasilkan pemulihan tajam penglihatan yang baik. Komplikasi post operasi dapat terjadi, diantaranya yaitu pelepasan retina, perdarahan vitreus, rubeosis iridis, dan komplikasi lain harus pula dipikirkan lebih lanjut supaya didapatkan hasil yang optimal. Disimpulkan bahwa prognosis penglihatan setelah vitrektomi tergantung pada fungsi macula. Pembedahan untuk perdarahan vitreus tanpa pelepasan macula biasanya menghasilkan ketajaman penglihatan yang baik.
Pengaruh Musik Mozart terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Dokter Gigi Abdillah, Nova; Saleh, Edwyn
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1557

Abstract

The aim of this study was to examine the influence of Mozart’s music as an instrument in reducing patient’s anxiety while visiting dentist’s clinic. 100 subjects between age of 13 - 70 years and fulfilled the inclusion criteria participated in this study. In this quasi-experimental study the subjects were questioned about their feeling of anxious before entered and after went out from the dentist’s practice room, while Mozart’s music playing during the treatment. Patient’s anxiety score were obtained by Modified Dental Anxiety Scale (MDAS). Data were evaluated using Wilcoxon Signed Rank Test. This study showed that there ’s changes ofpatient ’s anxiety level after listening Mozart’s music during dental treatment. One patient experienced increasing of dental anxiety levels, 48patients didn ’t experience of dental anxiety level changes, and 51 patients experienced decreasing of dental anxiety levels. Result of statistical test showed p=0,000 (p 0,5) it means that there ’s a significant differences ofpatient’s anxiety levels after dental treatment with Mozart ’s music playing in dentist ’s practice room. In conclusion, Mozart ’s music can be used as an alternative instrument to reduce anxiety levels of the patient during dental treatment at the dentist’s clinic.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh musik Mozart terhadap tingkat kecemasan pasien yang berkunjung ke klinik dokter gigi. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuasi-eksperimental pada 100 pasien yang berusia 13 - 70 tahun dan memenuhi kriteria inklusi subjek penelitian. Pada subjek penelitian dilakukan penilaian terhadap kecemasan sebelum masuk dan sesudah keluar dari ruang praktek dokter gigi, dimana pada saat perawatan berlangsung, diputarkan musik Mozart. Skor kecemasan dinilai dengan Modified Dental Anxiety Scale (MDAS). Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perubahan tingkat kecemasan sesudah dilakukan perawatan dengan mendengarkan musik Mozart. Satu pasien mengalami peningkatan tingkat kecemasan, 48 pasien tidak mengalami perubahan tingkat kecemasan, dan 51 pasien mengalami penurunan tingkat kecemasan. Hasil uji statistis menunjukkan hasil p=0,000 (p 0,05) yang artinya terdapat perbedaan yang sangat bermakna pada perubahan tingkat kecemasan pasien sesudah diputarkan musik Mozart.Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa musik Mozart dapat digunakan sebagai alternatif piranti untuk mengurangi kecemasan pasien yang sedang melakukan perawatan kesehatan gigi di klinik dokter gigi.
Gambaran Strategi Koping Keluarga dalam Merawat Pasien Skizofrenia di Wilayah Kecamatan Kasihan Bantul Wardaningsih, Shanti; Rochmawati, Elya; Sutarjo, Puji
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1562

Abstract

Family Coping Strategy remains important method that implemented by member of family, even treating the mentality disorder patient among family members becomes necessity because of the increasing number of mentality disorder relapse, which predicted to get setback into the patient, as much as 95% of patients become chronic along their lives. This research attempts at investigating and identifying general description of family coping strategy in treating psychological disorder patient in Puskesmas, Kasihan Bantul Yogyakarta. It is qualitative research using in-depth interview. Determining of participant by using purposive sampling. Number ofparticipants is five person particularly members whose closed relationship, staying at the same place and interacting with patientfor at least years. With range of age is 17-65 years old. The result of this research is referred to previous researches which seeking for determinant faktors for instances, internal family coping strategy and external family coping strategy. This research concludes that description offamily coping strategy in treating patient with mentality disorder can be seen through several factors for instance factor offaith, financial, knowledge, type of communication, and social support.Strategi koping keluarga merupakan upaya penting yang harus dilakukan oleh anggota keluarga, bahkan dalam merawat penderita gangguan jiwa dikalangan keluarga menjadi hal paling pokok. Angka kekambuhan gangguan jiwa semakin meningkat, diperkirakan sebesar 95% pasien menjadi kronik dengan gejala-gejala sepanjang hidupnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran strategi koping keluarga dalam merawat penderita gangguan jiwa di wilayah Kecamatan Kasihan Bantul. Penelitian ini menggunakan rancangan fenomologi dengan metode wawancara mendalam (indeepth interview) merupakan penelitian kualitatif. Pengambilan partisipan menggunakan purposive sampling. Jumlah partisipan 5 orang yaitu keluarga yang masih ada hubungan darah dengan penderita gangguan jiwa yang mengalami gangguan jiwa minimal 5 tahun dan tinggal satu rumah serta berinteraksi langsung dengan penderita, umur 17-65 tahun. Hasil penelitian menunjukkan gambaran strategi koping keluarga dalam merawat pasien skizofrenia dapat dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya dan tipe-tipe strategi koping yang sering digunakan oleh keluarga yaitu strategi koping keluarga internal dan strategi koping keluarga eksternal. Disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi strategi koping adalah yaitu faktor keyakinan, keuangan, pengetahuan, pola- pola komunikasi, dukungan sosial. Strategi koping yang sering digunakan dapat dilihat dari tipe-tipe strategi koping keluarga yaitu strategi koping keluarga internal berupa mengandalkan kelompok keluarga, pengontrolan makna dari masalah, pemecahan masalah bersama-sama dan pengungkapan bersama.
Peningkatan Mutu Rumah Sakit dengan Akreditasi Kusbaryanto, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hospital accreditation is a recognition by the government for hospitals that have met the standards set. The general objective of accreditation is to get a description about the level of compliance with the standards established by the hospitals in Indonesia, so the quality of hospital services can be accounted for. Accreditation is beneficial to both the hospital itself, the community and hospital owner. Accreditation of hospitals in Indonesia conducted by the Commission on Accreditation of Hospitals (KARS). Hospital accreditation is one way to assess the quality of hospital services. Improved quality of hospital services is very important, because the hospital provides the most critical and dangerous in the system of care for activities of the target is the human soul. The goal of this paper is to better understand that accreditation is very important to improve the quality of the hospital.Akreditasi Rumah Sakit adalah pengakuan pemerintah kepada rumah sakit yang telah memenuhi standar yang telah tetapkan. Tujuan umum akreditasi adalah untuk mendapatkan gambaran sejauh mana pemenuhan standar yang telah ditetapkan oleh rumah sakit-rumah sakit di Indonesia, sehingga mutu pelayanan rumah sakit dapat dipertanggungjawabkan. Akreditasi sangat bermanfaat baik bagi rumah sakit itu sendiri, masyarakat maupun pemilik rumah sakit. Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia dilakukan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Akreditasi rumah sakit merupakan salah satu cara untuk menilai mutu pelayanan rumah sakit. Peningkatan mutu pelayanan rumah sakit merupakan hal yang sangat penting, karena rumah sakit memberikan pelayanan yang paling kritis dan berbahaya dalam sistem pelayanan dan sasaran kegiatannya adalah jiwa manusia. Tujuan penulisan makalah ini adalah agar lebih dipahami bahwa akreditasi sangat penting bagi peningkatan mutu rumah sakit.
Kemampuan Membaca pada Anak Tuna Rungu di SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta Widuri, Asti
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reading activity is an important factor in almost all aspects of life and is significantly correlated with gaining information and knowledge. Speech perception, production and the development of language are closely associated as well as become the key of learning to reading process. Deaf children who received early intervention at SLB-B Karnnamanohara, actually to improve verbal communication ability at the optimal age of speech and language development were expected to have optimal language quotient in order to support their learning to read process and gain normal reading ability. The aim of this study is to identify the reading ability of deaf children at SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta. The design of this study was descriptive. The subjects were all student at SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta who met the inclusion and exclusion criteria. Reading skill test was conducted when the subjects had received 1 year training minimally. The average of reading ability score of deaf children at SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta is 11, 89 or 74%. The deaf children that reach over the average score were 63%. Higher average score was found in early training, higher class, feminin, hearing aid wearing children.Kegiatan membaca merupakan faktor yang penting dalam hampir seluruh aspek kehidupan dan berhubungan secara signifikan dengan pencapaian informasi dan pengetahuan. Persepsi suara, produksi suara dan perkembangan bahasa berhubungan sangat erat bahkan menjadi kunci dalam proses belajar membaca. Anak tuna rungu yang mendapatkan intervensi awal di SLB-B Karnnamanohara secara nyata meningkatkan kemampuan komunikasi verbal pada masa optimal perkembangan bicara dan bahasa sehingga mencapai kecerdasan bahasa yang optimal yang mendukung kegiatan belajar membaca pada anak tuna rungu sehingga dapat mencapai kemampuan membaca yang normal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui skor kemampuan membaca pada anak tuna rungu yang bersekolah di SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, sampel diambil dari seluruh siswa SLB-B Karnnamanohara yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Tes kemampuan membaca diberikan pada siswa yang telah mendapatkan minimal 1 tahun pendidikan. Rata-rata hasil skor tes kemampuan membaca pada anak tuna rungu di SLB-B Karnnamanohara adalah 11,89 atau 74%. Anak tuna rungu yang mempunyai skor kemampuan membaca diatas rata-rata adalah 63%, Skor lebih tinggi diperlihatkan pada anak dengan pendidikan awal, kelas yang lebih tinggi, anak dengan jenis kelamin wanita, dan anak yang memakai alat bantu dengar.
Deteksi Resistensi Insektisida Nyamuk Aedes Aegypti Berdasarkan Aktifitas Enzim Glutation S-Transferase Sundari, Sri; Orbayinah, Salmah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1563

Abstract

Organophosphate insecticide especially temephos and malathion have been used to eliminate mosquito and larvae Aedes aegypti in Yogyakarta province since 1974 up to now. Using by unappropriate chemical insecticide in long term causes resistance of mosquito to the insecticide. It indicates the increasing of Glutation-S-transferase and hydrolyses activity.The biochemical research method conducted at 1995 in Yogyakarta demonstrsted that mosquito and larvae Ae.aegypti based on enzyme esterase activity tend to be resist to organophosphate insecticide. The purpose of this research is to evaluate the resistance status of Ae. Aegypti mosquito to malathion insecticide in some villages in Bantul district based on Glutation-S- transferase activity. This research design was cross sectional study . Sample was collected randomly from these villages : Badegan, Palbapang and Bogoran in Bantul District. There were 48 mosquitos taken for examination of Glutation-S-tranferase activity.The result of examination based on Glutation-S-tranferase activity showed that the average of Ae. Aegypti mosquito resistance in three villages of Bantul District such as: moderate resistance (RS) 15%, susceptible (SS) 85%. However, statitiscally, there was no significant difference of resistance status of mosquito among three villages based on Glutation-S-tranferase (p 0,05).Insektisida kimia organofosfat (OP), khususnya temefos dan malathion selalu dipakai untuk memberantas Aedes aegypti stadium dewasa dan larva di Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1974. Penggunaan insektisida dengan dosis yang kurang tepat dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan resistensi nyamuk terhadap insektisida. Keadaan ini akan ditandai dengan peningkatan aktifitas enzim Glutation-S-transferase dan hidrolase. Penelitian yang dilakukan pada tahun 1995 melaporkan bahwa sudah terjadi kecenderungan resistensi nyamuk dan larva Ae. Aegypti terhadap organofosfat di Yogyakarta yang didasarkan pada aktifitas enzim esterase. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat resistensi nyamuk Ae. Aegypti di beberapa wilayah Bantul yang didasarkan pada aktifitas enzim Glutation-S- transferase. Penelitian ini merupakan penelitian analitik nonparamerik dengan desain cross sectional. Penentuan sampel dengan sampel random sampling dari 3 wilayah di Kabupaten Bantul yaitu Badegan, Palbapang dan Bogoran. Dari masing- masing wilayah diambil 48 nyamuk yang dilakukan pemeriksaan Glutation-S- transferase. Hasil penelitian yang didasarkan aktifitas ensim Glutation-S- transferase menunjukkan bahwa rata-rata tingkat resistensi nyamuk di 3 wilayah Kabupaten Bantul adalah sebagai berikut: resistensi sedang (RS) 15%, rentan (SS) 85%. Dari hasil analsis statistis diperolah hasil bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna status resistensi nyamuk berdasarkan aktifitas Glutation-S- transferase di 3 wilayah tersebut (p 0,05).

Page 1 of 4 | Total Record : 31


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue