cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 31 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2010)" : 31 Documents clear
Efek Hepatoprotektif Mimosa pudica terhadap Serum Alkaline Phosphatase (ALP) pada Tikus (Rattus norvegicus) Adhiutami, Rahmawati; Pramono, Ardi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1554

Abstract

This research used experimental research that hadpurposed to prove the hepatoprotective effect of Mimosa pudica from ALP level. Subject research were Wistar male rats, 2 month age, weight were 180 - 250 gr. Subject were divided into 2 group, each group included 5 rats. The first group as control group were given food and drink during 10 days and then at 11nd day induced by CCl4 with toxic doses 1 cc/kg BW. The second group as experiment group were given food, drink, and boiled of Mimosa pudica with 1,890 gr/kg BM doses during 10 days. At 11nd day iduced by CCl. ALP level were measured in twice, before and after the research. ALP level were exanimate by use monoreagent IFCC. The result of this research showed that the mean of ALP level in control group pre-test was 69,37 p./l and post-test was 117,89 p./l (p 0,05). Whereas, the mean of ALP level in experiment group pre-test was 71,13 p./l and post-test was 72,38 /i/l (p 0,05). The result from t-test showed that the changed ALP level in control group was significant. It proved that Mimosa pudica boiled decrease ALP level.Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek daun putri malu (Mimosa pudica) sebagai hepatoprotektif. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, objek penelitian adalah tikus jantan galur Wistar (Rattus norvegicus) berusia 2 bulan dengan berat badan 180 - 250 gram. Tikus dibagi dua kelompok masing-masing terdiri dari 5 ekor. Kelompok pertama sebagai kelompok kontrol, hanya diberi makan dan minum selama 10 hari dan pada hari ke-11 diberikan induksi CCl4 dengan dosis toksik 1 cc/kg BB. Kelompok perlakuan diberikan rebusan daun putri malu (Mimosa pudica) dengan dosis 1,890 gram/kg BB selama 10 hari, diberikan juga makan dan minum seperti pada kelompok kontrol, kemudian pada hari ke-11 diinduksi dengan CCl4. Pemeriksaan kadar ALP dilakukan dua kali, sebelum dan sesudah penelitian dilakukan. Pemeriksaan kadar ALP menggunakan monoreagen prosedur IFCC dengan tiga kali pembacaan absorbansi. Hasil penelitian menunjukkan kadar rata-rata ALP sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) penelitian pada kelompok kontrol berturut-turut adalah 69,37 p/l dan 117,89 p/l (p 0,05), sedangkan kadar rata-rata ALP pre-test dan post-test kelompok perlakuan berturut-turut adalah 71,13 p/l dan 72,38 p/l (p 0,05). Disimpulkan bahwa rebusan daun putri malu (Mimosa pudica) bersifat hepatoprotektif.
Pengaruh Serbuk Cabai Rawit (Capsicum frutescens L) terhadap Nafsu Makan dan Berat Badan Anak Tikus Putih (Rattus norvegicus L) Ratna Sari Ritonga; Ratna Indriawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1561

Abstract

Lost of appetite factor in children approxiantely between 25% and can increase until 40-70% especially in chonic infection and premature infants. It has consequence to reduce their body weight. The aim of this study is to find out the influence of Capsicum frutescens L to appetiteand body weight of Rattus norvegicus L. The samples consisted of 24 Rattus norvegicus L, male and female, devided into 4 groups. every group was given Capsicum frutescens L powder such with 60 mg, 90 mg, I20 mg and one group used for control. Such group was being adapted for one week and then was given the treatment for three weeks. The analized result using Anova test showed that there was significant different between the amount rest of food and body weight increasing of Rattus norvegicus L given Capsicum frutescens L to each treatment group. Among various groups of treatment the most effective dosis is I20 mg.It is concluded that Capsicum frutescens L has the potential effect to stimulate the Rattus norvegicus L appetite and to increase body weight.Faktor kesulitan makan pada anak dialami sekitar 25% usia anak, dan jumlah akan meningkat sekitar 40 - 70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Faktor yang paling banyak menimbulkan kesulitan makan yaitu kurangnya nafsu makan. Kesulitan makan akan menyebabkan berat badan menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari serbuk cabai rawit (Capsicum frutescens L) terhadap nafsu makan dan berat badan anak tikus putih (Rattus norvegicus L). Sampel adalah 24 ekor tikus, jantan dan betina, dan dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok diberikan serbuk cabai rawit dengan dosis 60 mg/hari/ekor, 90 mg/hari/ekor, 120 mg/hari/ekor, dan kelompok kontrol. Sampel diadaptasikan selama seminggu, kemudian diberi perlakuan selama 3 minggu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan sisa makanan yang bermakna secara statistik antara jumlah sisa makanan dan peningkatan berat badan Rattus norvegicus L. Serbuk cabai rawit (Capsicum frutescens L) dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan anak tikus putih (Rattus norvegicus L) dengan dosis efektif yaitu 120 mg/hari/ekor untuk meningkatkan nafsu makan dan lebih efektif pada jantan. Disimpulkan bahwa pemberian Capsicum frutescens L dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan Rattus norvegicus L.
Perbedaan Skor Kecerdasan Emosi dan Kecemasan Siswa Kelas Akselerasi dan Kelas Reguler Warih Andan Puspitosari
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1564

Abstract

Acceleration is designedfor students with extraordinary capabilities. They are expected to graduate earlier, but on the other side the full schedules and minimum social interactions would bring negative consequences, such as low emotional quotient and hight level of anxiety. It S said that success determined by 20% of IQ and the rest by emotional quotient (EQ). The aims of this research is identify the difference of emotional quotient score and anxiety score between acceleration students and regular students in Muhammadiyah 1 Highschool in Yogyakarta. This is a cross-sectional analytic descriptive study. It’s conducted at Muhammadiyah 1 Highschool in Yogyakarta on August-October 2008. The study took two populations. Sample taken were all of acceleration students 45 and regular students. Instruments used include BarOn Emotional Quotient Inventory-YV, Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) Data were analyzed with independent t-test There is significant difference of anxiety score but no significant difference of EQ score between acceleration students and regular students (p=0,024, p=0,646). Conclusions this research are : (l)Acceleration students have higher score of anxiety than regular students. (2)There is no significant difference of EQ score between acceleration students and regular students.Program kelas akselerasi diperuntukkan bagi siswa yang memiliki kemampuan luar biasa, agar bisa menyelesaikan studi lebih cepat dan mengembangkan kemampuannya secara optimal. Padatnya kegiatan dan terbatasnya interaksi serta kesempatan bersosialisasi dikhawatirkan akan berdampak buruk pada siswa, dintaranya adalah rendahnya kecerdasan emosi dan tingginya tingkat kecemasan. Rendahnya kecerdasan emosi dan tingginya tingkat kecemasan justru akan menurunkan produktifitas siswa. Kesuksesan seseorang lebih 80% ditentukan oleh kecerdasan emosinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan skor kecerdasan emosi dan kecemasan antara siswa kelas akselerasi dan siswa kelas regular di SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional deskriptif analitik. Penelitian dilakukan di SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada bulan Agustus-Oktober 2008. Populasi penelitian adalah siswa kelas akselerasi dan siswa kelas regular. Jumlah sampel untuk kelas akselerasi 45 siswa dan kelas reguler 58 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuestioner kecerdasan emosi BarOn Emotional Quotient Inventory-YV, kuestioner kecemasan Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS). Data dianalisis dengan Independent t-Test. Terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara skor kecemasan siswa kelas akselerasi dan regular dengan p=0,024. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara skor kecerdasan emosi siswa kelas akselerasi dan regular dengan p=0,646. Kesimpulan dari penelitian ini adalah : 1) Skor kecemasan siswa kelas akselerasi lebih tinggi dibanding siswa kelas regular, 2) Tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara skor kecerdasan emosi siswa kelas akselerasi dan regular
Psychosocial Aspects of Childbearing Arofiati, Fitri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1568

Abstract

Salah satu isu nasional dalam bidang kesehatan adalah tindakan pencegahan terhadap masalah yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak. Aspek psikososial merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesiapan ibu akan kehamilan dan kelahiran (mempunyai anggota keluarga baru). Kehamilan dan kelahiran merupakan kejadian yang berhubungan dengan pengalaman manusia secara bio-psiko-sosial dan budaya. Respon ibu terhadap kehamilan dan kelahiran berbeda-beda, dipengaruhi oleh umur, kesehatan, status sosial ekonomi dan latar belakang budaya. Individu ibu dan keluarga sangat membutuhkan informasi yang cukup agar dapat mempersiapkan dengan baik proses kehamilan, kelahiran (kehadiran anggota keluarga yang baru).One of the health care national issues is the preventive of the problems related with maternal-child. Psychosocial aspect is one factor that will involve the readiness of mother to her pregnancy and childbirth (the readiness of having new family member).Pregnancy and childbirth or childbearing is the event which is closely related with some experiences of human being: bio-psycho-social and cultural. Every mother would has different response to the event of pregnancy and childbirth, depends on the age, health status, socio-economical level, and cultural background. Mother as an individual and family needs enough information for the readiness of pregnancy and childbirth (the readiness of having new family member).
Pengaruh Ekstrak Etanol Bawang Merah (Allium cepa L) terhadap Kadar Kolestrol Total Tikus (Rattus norvegicus) Cita Auli Nisa; Linda Rosita
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1555

Abstract

The purpose of this study was to determine the optimal dosage of 70% ethanol extract of red onion bulbs that effectively lower total cholesterol rats given high fat diet. This study is an experimental laboratory. Thirty male Wistar rats with 170-250gr weight divided five groups, group I: control, group II: 30mg/200g bw dose of garlic extract, group III: 60mg/200g bw dose of garlic extract, group IV: 120mg/200g bb dose of garlic extract, and group V: positive control, were given doses of 0.72 mg/200g bw simvastatin suspension. All groups were given high fat diet alone for 7 days to increase total cholesterol. Measurement of serum total cholesterol by CHOD-PAP method performed before treatment on day 0, on the 8th day after administration of high-fat diet for 7 days, and on the 16th day after administration of high-fat diet and ethanol extract of red onion over 7 days from the 9th until the 15th day. The results were tested statistically by paired t test. Concluded that 70% ethanol extract of red onion (Allium cepa L.) with a dose of600 mg / kg or 120 mg/200 GBB equivalent statistically significant lower serum total cholesterol levels of rats (Rattus norvegicus) Wistar male.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis ekstrak etanol 70% umbi bawang merah yang efektif menurunkan kadar kolesterol total tikus diberi diet lemak tinggi. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium. Tigapuluh tikus Wistar jantan dengan 170- 250gr berat badan dibagi lima kelompok, kelompok I: kontrol, kelompok II: 30mg/200g bb dosis ekstrak bawang, kelompok III: 60mg/200g bb dosis ekstrak bawang, kelompok IV : 120mg/200g bb dosis ekstrak bawang, dan kelompok V: kontrol positif, diberi dosis 0,72 mg/200g bb suspensi simvastatin. Semua kelompok diberi diet lemak tinggi saja selama 7 hari untuk meningkatkan kadar kolesterol total. Pengukuran kadar kolesterol total serum dengan metode CHOD-PAP dilakukan sebelum perlakuan pada hari ke-0, pada hari ke-8 setelah pemberian diet lemak tinggi selama 7 hari, dan pada hari ke-16 setelah pemberian diet lemak tinggi dan ekstrak etanol bawang merah selama 7 hari dari hari ke-9 sampai hari ke-15. Hasil penelitian diuji statistik dengan uji t berpasangan. Disimpulkan bahwa ekstrak etanol 70% bawang merah (Allium cepa L.) dengan dosis sebesar 600 mg/kg BB atau setara 120 mg/200 gBB secara statistik bermakna menurunkan kadar kolesterol total serum tikus (Rattus norvegicus) galur Wistar jantan.
Vitrektomi pada Pasien dengan Retinopati Diabetik Setyandriana, Yunani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1566

Abstract

Retinopathy is a primary morbidity occurring in retinopathy diabetic patients and may cause blindness. The failure of laser treatment to stop the new neovascularization may result in severe vision damage. Vitrectomy is indicated in severe vision patients to improve their vision. The aims of the study were to discuss vitrectomy in diabetic retinopathy patients, refresh the knowledge on how and when Vitrectomy should be performed, and to understand the side effect in order to obtain optimal vision improvement. The method is literature study. Progressive fibrovascular proliferation in diabetic retinopathy patients may lead to retinal detachment. The detachment of posterior retinal without involvement of fovea can be observed. However, if fovea is involved, vitrectomy is indicated. If adequate Laser fails due to media opacity, cataract surgery may be performed. Laser photocoagulation can be conducted a few days postsurgery. Alternatively, both vitrectomy and endolaser may be recommended along with lensectomy and intraocular lens implantation. Diabetic Retinopathy Vitrectomy Study(DRVS) concluded:1) in severe vitreous bleeding eyes, early vitrectomy may result in improved vision despite the high risk of vision loss which needs to be considered.2)In the IDDM patients, especially those with severe vitreous bleeding, early vitrectomy is more beneficial and may have a good result. Postoperative complications may occur including retinal detachment, vitreous bleeding, rubeosis iridis, and other types of complications, which require further considerations for optimal result.The prognosis after vitrectomy depends on the macular function. Surgery for vitreous bleeding without macula detachment generally brings a good result.Retinopati merupakan penyebab morbiditas utama pada pasien diabetes dengan akibat akhir yang paling ditakuti adalah kebutaan. Kegagalan terapi laser untuk menghentikan proliferasi pembuluh darah baru dapat menyebabkan kerusakan penglihatan yang parah. Pada pasien dengan kerusakan penglihatan yang berat, vitrektomi merupakan terapi yang dapat diharapkan untuk memperbaikinya. Kajian ini membahas tentang vitrektomi pada retinopati DM, menyegarkan pengetahuan kita tentang bagaimana dan kapan vitrektomi dilaksanakan serta mengerti efek yang terjadi supaya didapatkan perbaikan penglihatan yang seoptimal mungkin. Proliferasi fibrovaskular yang progresif pada diabetes dapat mengakibatkan lepasnya retina. Lepasnya bagian posterior tanpa melibatkan fovea dapat tetap stabil dan harus diobservasi, namun begitu fovea terlibat, vitrektomi merupakan indikasi. Jika fotokoagulasi panretinal yang adekuat tidak dapat dilakukan karena opasitas media, pembedahan katarak dapat dilakukan, dan fotokoagulasi laser dapat dilakukan setelah beberapa hari pasca pembedahan. Sebagai alternative, vitrektomi dan endolaser dapat dilakukan bersama dengan lensektomi dengan pemasangan lensa intraocular. Penelitian DRVS menyimpulkan: 1) untuk mata dengan perdarahan vitreus berat, vitrektomi awal menghasilkan tajam penglihatan yang lebih baik, meskipun risiko lebih banyak kehilangan visus sampai tidak didapatkan persepsi cahaya harus dipikirkan. 2) pasien dengan IDDM, khususnya dengan perdarahan vitreus berat, vitrektomi awal lebih menguntungkan dan menghasilkan pemulihan tajam penglihatan yang baik. Komplikasi post operasi dapat terjadi, diantaranya yaitu pelepasan retina, perdarahan vitreus, rubeosis iridis, dan komplikasi lain harus pula dipikirkan lebih lanjut supaya didapatkan hasil yang optimal. Disimpulkan bahwa prognosis penglihatan setelah vitrektomi tergantung pada fungsi macula. Pembedahan untuk perdarahan vitreus tanpa pelepasan macula biasanya menghasilkan ketajaman penglihatan yang baik.
Hubungan antara Status Ekonomi, Status Pendidikan dan Keharmonisan Keluarga dengan Kesadaran Adanya Demensia dalam Keluarga Tri Wahyuliati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1560

Abstract

Dementia in the elderly are often not realized because the onset is not clear and progressive history of their illness but slowly. Patients and families often assume that the decline in cognitive function that occurred in early dementia is a natural thing. Overall status of economic, education andfamily harmony allegedly had a role to knowledge of the incidence of dementia on family members. The study aims to determine the relationship between economic status, education andfamily harmony to the knowledge of the incidence of dementia on family members. This study used cross sectional method. Research subjects were 51 elderly people, one of whom were excluded because of severe hearing loss, making it hard communication time of the study. The method of guided interviews undertaken to obtain the status of education and economic status. APGAR Score is used to determine the level of family harmony and the MMSE (score minimental examination) are used to diagnose dementia. Chi squares analysis used to determine the relationship between variables. The results showed a significant correlation between educational status of the family with awareness of dementia in the family (p = 0.007). APGAR economic status andfamily values are not significantly related to awareness of dementia in the family, with a value of p in sequence are 0.427 and 0.231.Demensia pada usia lanjut sering tidak disadari karena awitannya tidak j elas dan perjalanan penyakitnya progresif namun perlahan. Pasien dan keluarga sering menganggap bahwa penurunan fungsi kognitif yang terjadi pada awal demensia merupakan hal yang wajar. Status ekonomi, pendidikan dan keharmonisan keluarga diduga mempunyai peran terhadap pengetahuan adanya kejadian demensia pada anggota keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status ekonomi, pendidikan dan keharmonisan keluarga terhadap pengetahuan adanya kejadian demensia terhadap anggota keluarga. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Subyek penelitian sebanyak 51 orang lansia, satu diantaranya dieksklusi karena adanya gangguan pendengaran yang berat sehingga menyulitkan komunikasi saat dilakukan penelitian. Metode wawancara terpimpin dilakukan untuk mendapatkan data status pendidikan dan status ekonomi. Nilai APGAR digunakan untuk menentukan tingkat keharmonisan keluarga dan MMSE (minimentalscore examination) digunakan untuk menegakkan diagnosis demensia. Analisis chi squares digunakan untuk menentukan keeratan hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan bermakna antara status pendidikan keluarga dengan kesadaran adanya demensia dalam keluarga (p=0,007). Status ekonomi dan nilai APGAR keluarga tidak berhubungan yang bermakna kesadaran adanya demensia dalam keluarga, dengan nilai p secara berurutan adalah 0,427 dan 0,231.
Kemampuan Membaca pada Anak Tuna Rungu di SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta Asti Widuri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1558

Abstract

Reading activity is an important factor in almost all aspects of life and is significantly correlated with gaining information and knowledge. Speech perception, production and the development of language are closely associated as well as become the key of learning to reading process. Deaf children who received early intervention at SLB-B Karnnamanohara, actually to improve verbal communication ability at the optimal age of speech and language development were expected to have optimal language quotient in order to support their learning to read process and gain normal reading ability. The aim of this study is to identify the reading ability of deaf children at SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta. The design of this study was descriptive. The subjects were all student at SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta who met the inclusion and exclusion criteria. Reading skill test was conducted when the subjects had received 1 year training minimally. The average of reading ability score of deaf children at SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta is 11, 89 or 74%. The deaf children that reach over the average score were 63%. Higher average score was found in early training, higher class, feminin, hearing aid wearing children.Kegiatan membaca merupakan faktor yang penting dalam hampir seluruh aspek kehidupan dan berhubungan secara signifikan dengan pencapaian informasi dan pengetahuan. Persepsi suara, produksi suara dan perkembangan bahasa berhubungan sangat erat bahkan menjadi kunci dalam proses belajar membaca. Anak tuna rungu yang mendapatkan intervensi awal di SLB-B Karnnamanohara secara nyata meningkatkan kemampuan komunikasi verbal pada masa optimal perkembangan bicara dan bahasa sehingga mencapai kecerdasan bahasa yang optimal yang mendukung kegiatan belajar membaca pada anak tuna rungu sehingga dapat mencapai kemampuan membaca yang normal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui skor kemampuan membaca pada anak tuna rungu yang bersekolah di SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, sampel diambil dari seluruh siswa SLB-B Karnnamanohara yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Tes kemampuan membaca diberikan pada siswa yang telah mendapatkan minimal 1 tahun pendidikan. Rata-rata hasil skor tes kemampuan membaca pada anak tuna rungu di SLB-B Karnnamanohara adalah 11,89 atau 74%. Anak tuna rungu yang mempunyai skor kemampuan membaca diatas rata-rata adalah 63%, Skor lebih tinggi diperlihatkan pada anak dengan pendidikan awal, kelas yang lebih tinggi, anak dengan jenis kelamin wanita, dan anak yang memakai alat bantu dengar.
Evaluasi Kesejahteraan Sekolah dengan Pendekatan Model Sekolah Sejahtera di SMP 24 Malang Yoyok Bekti Prasetyo
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1559

Abstract

One of model that can be developed on school health programs is The School Well-being Model. Indicators prosperous school includes four dimensions: school conditions (having), social relationships (loving), the mean self-fullfiment (being), and health status. This study aims to evaluate the condition of SMP 24 Malang based welfare indicators of The School Well¬being Model. Descriptive research design was to determine the school prosper with school welfare conditions. Data collection using the School Health Promotion Survey (SHPS). The condition of SMP 24 Malang is a dusty (73.3%) and noise (61.9%). There are difficulties in doing the task group students (71.3%) and interact with friends (55.5%). There are difficulties in preparing for the exam students (51.8%) and homework (32.8%). Perceived health problems in the past month is feeling tired and weak (42.1%), headache (36.8%) and, insomnia (23.9%). Health promotion schools that need it suggests the hearing conversation program, counseling programs, measures to reduce physical and psychological stress.Salah satu model yang dapat dikembangkan pada program kesehatan sekolah adalah Model Sekolah Sejahtera (The School Well-being Model). Indikator sekolah sejahtera meliputi empat dimensi yaitu: school condition (having), social relationship (loving), mean self-fullfiment (being), dan health status. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kondisi kesejahteraan SMP 24 Malang berdasarkan indikator Model Sekolah Sejahtera. Desain penelitian adalah deskriptif untuk menentukan sekolah sejahtera dengan Kondisi kesejahteraan sekolah. Pengumpulan data menggunakan Survei Promosi Kesehatan Sekolah (School Health Promotion Survey/SHPS). Kondisi sekolah di SMP 24 Malang adalah berdebu (73,3%) dan suara bising (61,9%). Ada kesulitan siswa dalam mengerjakan tugas kelompok (71,3%) dan berinteraksi dengan teman (55,5%). Ada kesulitan siswa dalam mempersiapkan ujian (51,8%) dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR) (32,8%). Masalah kesehatan yang dirasakan dalam sebulan terakhir adalah merasa lelah dan lemas (42,1%), sakit kepala (36,8%), sulit tidur (23,9%). Promosi kesehatan sekolah yang perlu disarankan adalah hearing conversation program, program konseling, tindakan untuk mengurangi stres fisik dan psikologis.
Vulvodinia, Diagnosis dan Penatalaksanaan Devi Artami Susetiati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1565

Abstract

Vulvodynia is often described as discomfort or burning pain in the vulvar area, occurring in the absence of visible pathology or a specific, clinically identifiable disorder. The aim of this this article is to give more information about vulvodinia, diagnose and management with literature study method. The diagnosis of vulvodynia is made after taking a careful history, ruling out infectious or dermatologic abnormalities, and eliciting pain in response to light pressure on the labia, introitus, or hymenal remnants. Several treatment options have been used, although the evidence for many of these treatments is incomplete. Treatments include oral medications that decrease nerve hypersensitivity (e.g., tricyclic antidepressants, selective serotonin reuptake inhibitors, anticonvulsants), pelvic floor biofeedback, cognitive behavioral therapy, local treatments, and (rarely) surgery. Most women experience substantial improvement when one or more treatments are used. It can be concluded that vulvodinia ’s management until right now has not been standardized yet because of its etiology.Vulvodinia merupakan rasa tidak nyaman pada vulva, kebanyakan pasien merasa nyeri terbakar, stinging, iritasi, dan lecet pada daerah tersebut, keluhan berlangsung kronik tanpa disertai gambaran klinis yang spesifik atau gangguan neurologis. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan tentang vulvodinia, diagnosis dan penatalaksanaannya dengan metode studi pustaka. Diagnosis vulvodinia ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti dengan menyingkirkan infeksi atau kelainan kulit dan pemeriksaan rasa nyeri terhadap rangsang tekanan ringan pada labia, introitus, atau sisa-sisa himen. Beberapa pilihan terapi telah digunakan meskipun belum cukup terbukti efektivitasnya. Terapi oral dengan menggunakan obat-obatan yang dapat menurunkan hipersensitivitas saraf (misal antidepresan trisiklik, selective serotonin reuptake inhibitors, antikonvulsan), pelvic floor biofeedback, cognitive behavioral therapy, terapi lokal, dan yang jarang dilakukan adalah terapi bedah. Kebanyakan wanita penderita vulvodinia mengalami perbaikan yang berarti ketika menggunakan salah satu atau kombinasi terapi. Disimpulkan bahwa sampai saat ini belum ada standarisasi terapi vulvodinia, hal ini karena vulvodinia merupakan suatu penyakit dengan berbagai kemungkinan etiologi yang belum pasti.

Page 3 of 4 | Total Record : 31


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015): January Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue