cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2017): January" : 7 Documents clear
Ekstrak Buah Legundi (Vitex trifolia) Mampu Menghambat Pembelahan dan Pertumbuhan Sel Tumor Kulit Tikus Lubis, Humairah Medina Liza; Hariaji, Ilham
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 1 (2017): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v17i1.3676

Abstract

Dengan perubahan gaya hidup manusia yang tidak sehat, terpapar radiasi sinar ultraviolet, agen fisika dan kimia secara berlebihan, luka yang lama tidak sembuh khususnya luka bakar dan infeksi virus, yang apabila dibiarkan dan tidak diobati bisa berkembang menjadi kanker. Pengobatan untuk tumor lebih banyak menggunakan obat-obatan sintetik yang juga dapat menimbulkan komplikasi dan kebanyakan belum menunjukkan hasil yang memuaskan, sehingga banyak penelitian ditujukan pada tanaman tradisional yang banyak tumbuh di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi penghambat pembelahan sel dari ekstrak buah legundi (Vitex trifolia). Penelitian ini adalah studi eksperimental dengan menggunakan tikus Wistar yang dibagi dalam 5 kelompok yaitu kelompok kontrol normal (K1), kontrol positif (K2), P1, P2, P3. Ekstrak etanol buah V. trifolia dibagi dalam 2 dosis yaitu 0,5g dan 1g/kgBB/hari/oral selama 3 minggu. Hasil penelitian berupa 3 slide (60%) adalah tumor ganas (nonkeratinizing squamous cellcarcinoma), 1 slide (20%) adalah lesi atipik dan 1 slide (20%) adalah lesi jinak. Setelah pemberian terapi menggunakan buah V. trifolia, kelompok 2, 3, dan 4 yang memiliki lesi tumor mengalami penurunan ukuran (mengecil). Disimpulkan bahwa ekstrak etanol buah V. trifolia memiliki kemampuan untuk menginhibisi aktivitas proliferasi dan pertumbuhan dengan dosis pemberian 0,5 g dan 1 gr/hari.
Penatalaksanaan Kausatif untuk Memperbaiki Fungsi Ginjal Penderita Myeloma Multiple Prasetio Kirmawanto
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 1 (2017): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v17i1.3683

Abstract

Gangguan fungsi ginjal adalah salah satu komplikasi pada myeloma multiple (MM), suatu keganasan sel plasma. Penurunan laju filtrasi glomerulus/Glomerulus Filtration Rate (GFR) terjadi hingga 50% pasien baru terdiagnosa MM dan 9% memerlukan dialysis. Gagal ginjal penderita MM disebut ginjal myeloma dengan penyebab kompleks, akibat langsung maupun tidak langsung dari MM serta dari pengobatan keluhan MM. Laporan ini memaparkan pengelolaan kasus MM dengan faktor penyulit gangguan fungsi ginjal. Lakilaki 48 tahun dengan keluhan utama nyeri punggung sejak satu bulan, didiagnosa mieloma multipel disertai komplikasi ginjal mieloma. Kriteria Durie dan Salmon tingkat penyakit Stadium IIIB. Penatalaksanaan kausatif dengan regimen melphalan dan prednison, khemoterapi konvensional untuk MM. Regimen kemoterapi kombinasi tidak dipilih karena pertimbangan gangguan fungsi ginjal. Penatalaksanaan penurunan fungsi ginjal dengan memperbaiki status hidrasi, menghentikan pemberian obat nefrotoksik dan pemberian diet cukup protein. Terapi pendukung pemberian Bonefos untuk memperlambat proses osteolitik. Anemia diawal perawatan (Hb: 6 g/dL) diperbaiki dengan transfusi Packet Red Cell. Pasien dirawat 21 hari, menjalani satu kali khemoterapi terjadi perbaikan fungsi ginjal, diawal perawatan GFR: 18.45 mL/min menjadi 26.72 mL/min diakhir perawatan. Pasien direncanakan khemoterapi 6 seri interval 28 hari. Penatalaksanaan kausatif kasus ini memberikan hasil yang baik, keluhan nyeri dirasakan sudah sangat berkurang dan fungsi ginjal relatif membaik.
Hubungan Depresi dan Perilaku Makan terhadap Berat Badan Lebih Mahasiswa Kedokteran Muhammad Khotibuddin
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 1 (2017): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v17i1.3682

Abstract

Prevalensi kegemukan pada penduduk Indonesia 18 tahun telah meningkat 2 kali lipat dalam 5 tahun. Penyebab obesitas bersifat multifaktorial, diantaranya adalah depresi dan perilaku makan. Hasil penelitian tentang penyebab obesitas yang sangat beragam terkait perbedaan demografi sosial dan  budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara depresi dan perilaku makan dengan berat badan lebih pada mahasiswa kedokteran. Desain penelitian adalah cross sectional menggunakan sampel acak sebanyak 147 mahasiswa. Berat badan lebih ditentukan dengan indeks masa tubuh (IMT) 25. Variabel depresi diukur dengan kuesioner Beck Depression Inventory (BDI), sedangkan perilaku makan diukur dengan Dutch Eating Behavior Questionaire (DEBQ). Kedua kuesioner sudah dilakukan adaptasi dan pengujian terhadap validitas dan reliabilitasnya. Analisis multivariat menggunakan metode statistik regresi logistik dengan a=0,05 . Hasil menunjukkan bahwa prevalensi berat badan lebih pada mahasiswa kedokteran sebesar 28,6%. Sebanyak 19% responden mengalami depresi. Rata-rata skor BDI sebesar 5,07±6,446, rata-rata restrained eating adalah 21,9±8,57; emotional eating sebesar 27,83±8,67 dan external eating sebesar 28,9±6,65. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa berat badan lebih berhubungan secara signifikan dengan jenis kelamin laki-laki (OR 4,069; 95%CI: 1,491-11,104), skor BDI (OR 1,234; 95%CI: 1,051-1,47) dan restrained eating (OR 1,161; 95%CI: 1,088-1,238). Disimpulkan bahwa restrained eating dan depresi berhubungan dengan BB lebih pada responden terutama pada jenis kelamin laki-laki.
Pengaruh Perbaikan Postur Kerja terhadap Nyeri Muskuloskeletal pada Perawat di Klinik Kitamura Pontianak Wuriani, Wuriani; Rosa, Elsye Maria; Afandi, Mohammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 1 (2017): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v17i1.3679

Abstract

Nyeri muskuloskeletal sering terjadi pada perawat yang memiliki beban kerja yang berat seperti terlalu lama berdiri, lama duduk, lama membungkuk, atau beban yang berat untuk diangkat. Static streching dan perbaikan postur kerja dapat menurunkan risiko nyeri muskulosketal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbaikan postur kerja terhadap nyeri muskuloskeletal pada 15 perawat di klinik Kitamura Pontianak, yang dipilih secara sampling jenuh. Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperiment pre post test without control group design, data berupa skor nyeri dianalisis dengan Nordic Body Map (NBM) pada pada perawat diklinik Kitamura, kemudian memberikan perbaikan postur kerja dengan kursi ergonomi saat merawat luka selama 30 hari berturut-turut, selanjutnya dinilai Nordic Body Map (NBM) kembali menggunakan paired t test. Hasil penelitian ini adalah adanya nyeri leher atas 60% menjadi 0%, agak nyeri leher bawah 80% menjadi 40%, nyeri lengan atas kiri 60% menjadi 26,7% nyeri pinggang 46,7% menjadi 0%, agak nyeri lutut kanan 53,3 % menjadi 6,7% dan agak nyeri betis kiri 40% menjadi 6,7% secara bermakna. Disimpulkan terdapat pengaruh dari perbaikan postur kerja terhadap penurunan nyeri muskuloskeletal.
Pengaruh Durasi Perendaman Oksidasi Madu terhadap Perubahan Warna Gigi in Vitro Erma Sofiani; Gurnita Swasti Yudasmara
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 1 (2017): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v17i1.3677

Abstract

Madu merupakan salah satu bahan alternatif yang aman dalam pemutihan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman hasil oksidasi madu terhadap perubahan warna enamel gigi. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium secara in vitro. Sampel gigi dibagi 5 kelompok masingmasing 5 buah gigi yaitu, kelompok 1 (kontrol negatif): sampel direndam dalam aquadest steril, kelompok 2 (kontrol positif): sampel direndam dalam hidrogen peroksida 3%, kelompok 3: sampel direndam larutan madu selama 30 menit, kelompok 4: sampel direndam larutan madu selama 45 menit dan kelompok 5: sampel direndam larutan madu selama 60 menit. Sebelum dilakukan perendaman, larutan madu dilakukan sentrifugasi selama 30 menit dengan kecepatan 500 rpm. Pengukuran derajat perubahan warna gigi menggunakan shade guide dan spectrophotometer. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon, Kruskall-Wallis, dan Mann-Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan warna antara sebelum dan sesudah perendaman pada kelompok 60 menit berdasarkan uji analisis Wilcoxon. Terdapat pengaruh lama perendaman terhadap perubahan warna pada pengukuran menggunakan shade guide berdasarkan ujianalisis Kruskal-Wallis, namun tidak terdapat pengaruh lama perendaman pada pengukuran menggunakan spectrophotometer. Disimpulkan bahwa terdapat perubahan warna gigi setelah 2 minggu perendaman menggunakan hasil oksidasi madu kelengkeng pada kelompok 60 menit.
Tekanan Interface Pasien Tirah Baring (Bed Rest) Setelah Diintervensi dengan metode Hospital Corner Bed Making Retno Sumara
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 1 (2017): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v17i1.3678

Abstract

Pasien tirah baring jangka lama berisiko mengalami gangguan integritas kulit. Gangguan tersebut dapat diakibatkan oleh tekanan yang lama, iritasi kulit atau imobilisasi (bed rest) yang berakibat timbulnya luka dekubitus. Pasien tirah baring membutuhkan intervensi yang difokuskan pada life support atau organ support yang membutuhkan observasi intensif. Upaya pencegahan luka tekan dilakukan sedini mungkin antara lain dengan pemberian dukungan permukaan (interface pressure). Nilai tekanan interface tinggi berisiko timbulnya ulkus tekanan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tekanan interface pada pasien tirah baring. Metode penelitian eksperimental kuasi dengan pre-post test design. Jumlah sampel 48 responden terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan diintervensi menggunakan metode hospital corner bed making dan kelompok kontrol diintervensi dengan metode bed making tali sudut. Kedua kelompok dilakukan evaluasi selama 3 hari. Instrumen yang digunakan adalah Portable Interface Pressure sensor: Palm Q. Hasil menunjukkan bahwa perubahan tekanan interface pre dan post pada kelompok kontrol cukup tinggi dan mengalami naik-turun yang bervariatif sehingga lebih berisiko mengalami luka tekan, sedangkan pada kelompok perlakuan cenderung mengalami penurunan dan atau stabil. Disimpulkan bahwa tekanan interface pada metode hospital corner bed making tampak lebih rendah daripada metode bed making tali sudut.
Karakteristik Central Serous Chorioretinopathy di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Tahun 2016 Ahmad Ikliluddin
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 1 (2017): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v17i1.3680

Abstract

Central serous chorioretinopathy (CSC) merupakan penyakit pada retina yang ditandai oleh terjadinya ablasi serosa dari lapisan neurosensori retina yang diakibatkan oleh gangguan pada lapisan retinal pigmen epithelium (RPE). CSC kebanyakan terjadi pada usia pertengahan dan lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita. Gejala utama adalah penglihatan kabur, biasanya terjadi pada satu mata dan dirasakan pasien sebagai bayangan hitam yang menghalangi penglihatan yang berhubungan dengan mikropsia atau metamorfsia. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran mengenai karakteristik pasien yang terdiagnosis CSC dan jenis terapi yang diberikan di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo, pada periode Januari 2016 – Desember 2016. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan desain hospital based study. Populasi penelitian ini adalah semua pasien berobat di poli mata Rumah Sakit Mata Cicendo selama periode penelitian. Data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang diperoleh dari status pasien yang terdiagnosis CSC. Karakteristik pasien CSC yang didapatkan paling banyak adalah laki-laki (71,97%), usia 40-49 tahun (43,18%), dengan visus awal saat kedatangan pada rentang 0,4 logMAR - 0,1 logMAR (53,57%). Keterlibatan mata terbanyak bersifat unilateral (93,93%), dengan rerata ketebalan subfovea sentralis saat kedatangan adalah 402,33μm.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue