cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2003)" : 17 Documents clear
Hubungan Asma dan Alergi dengan “Westernisasi” Rosita, Linda
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1549

Abstract

Penelitian ini didisain untuk mengetahui resiko Asma dan Alergi yang disebabkan oleh tingkat “westernisasi”. Apakah ada hubungan Asma dan Alergi di Albania lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di Eropa. Subjek penelitian 2653 penduduk Albania yang berumur 20-44 tahun. Penelitian dilakukan dari tahun 1995-1996. Pada awal penelitian dibagikan kuisioner yang berisi simptom gangguan pemapasan yang diambil dari item-item ECRHS (European Community Respiratory Heath Survey) protokol. Simptom yang paling banyak ditemukan Alergi Nasal pada kelopok laki-laki (n=1260, 14,2%) dan kelompok perempuan (n=1393,12,4%). Dari 2653 yang telah mengisi kuisioner diambil sub sampel untuk menguji hasil tes kulit (skin prick test) 564 orang. Alergian untuk tes kulit ini: tungau debu rumah, kucing, rumput polen, kucing, anjing dan burung. Dominan orang mengalami Alergi pada tungau (18,4%), sedangkn untuk Alergian kurang dari 5%. Tes kulit ini juga dipantau dengan ECRHS (European Community Respi¬ratory Heath Survey). Pengujian juga dilakukan terhadap kadar serum Ig E spesifik. Alergen yang dipakai adalah tungau, rumput timote. Tungai adalah Alergen yang paling sering memacu antibodi Ig E spesifik. Penelitian ini dapat menerangkan penyakit alergi jarang muncul di Albania, karena beberapa faktor yaitu: tingginya konsumsi buah-buahan, yang mengandung antioksida, tingginya konsumsi minyak zaitun, gaya hidup yang berbeda dengan “Westernisasi” mencakup rendahnya tingkat kepemilikan binatang peliharaan, keragaman makanan yang berbeda dengan negara-negara Eropa.Disarikan: Allergy Volume 54 Issue 10 Page 1042 - Oktober 1999 oleh A.Priftanji, E.Qirko, J.C.M. Layzell, M.L. Burr, R. Fifield.
Anemia pada Tuberkulosis Paru Pramono, Ardi; Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1545

Abstract

Pulmonary tuberculosis (TB) is still a serious health problem worldwide. The prevalence of pulmonary TB in Indonesia is 3.43 per ten thousand popu¬lation. It is the second cause of death after cardiovascular diseases or the first cause in infectious diseases. Chronic anemia disease usually occurs in pulmonary tuberculosis. The objective of this study was to reveal the inci¬dence of anemia in patients with tuberculosis. Data was collected from PKU Muhammadiyah Yogyakarta Hospital medical records in the year of 2000. We found 43 male and 23 female subjects who were diagnosed as tuberculosis because of their clinical findings. Patients with cough were 72.73%, 50% with dispneu, 18,18% with “night sweat”, and 24.24% with bloody cough. There were 27.27% patients with positive AFB (Acid-Fast Bacillus), 62.12% with positive chest x-ray. All subjects had Hb concentration of 12% g/dl.. This findings showed that male patients were categorized as anemic, while in fe- I male were normal.Tuberkulosis (TB) paru masih merupakan masalah kesehatan di negara berkembang maupun negara maju. Angka kejadian tuberkulosis paru di Indonesia 3,43 persepuluh ribu penduduk dan merupakan penyebab kematian kedua setelah penyakit kardiovaskuler atau urutan pertama pada penyakit infeksi. Anemia penyaki: kronis sering menyertai penderita dengan tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan untuk: j mengetahui kejadian anemia pada penderita tuberkulosis paru dewasa di YogyakaitL Data diambil dari rekam medik penderita yang berobat di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2000. Didapatkan 66 subjek penderita yang didiagnosis TB paru Diagnosis didasarkan atas hasil uji bakteriologis bakteri tahan asam (BTA) posir h zejala klinis, uji radiologis paru dan pemeriksaan penunjang. Ditemukan gejala klinis penderita berupa batuk 72,73%, keringat malam 18,18%, sesak napas 50% dan eatuk darah pada 24,24% baik sebagai gejala tunggal maupun bersama-sama. Hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan penderita dengan BTA + sebanyak 27,27%, ronsen paru positif 62,12%,. Kadar Hb ditemukan rata-rata 12g% pada pria dan L2g% pada wanita. Kadar Hb pada pria termasuk kategori anemia, sedangkan pada wanita termasuk normal bawah. Anemia yang ditemukan pada penderita TB merupakan anemia pada penyakit kronik. Penanganan anemia jenis ini terutama ditujukan pada penyakit dasar, tetapi perlu diperiksa lebih lanjut apakah benar ane¬mia penyakit kronis atau sebab lain, sehingga penanganan lebih tepat.
Erupsi Obat Fikstum Estri, Siti Aminah Tri Susilo; Pudjiati, Satiti Retno
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1550

Abstract

The fixed drug eruption is one of drug reactions most commonly found.. Clinical pattern of fixed drug eruption (FDE) is characterized by some lessions in the same region (site) for each of the same drug administration. FDE can be diagnosed only based on clinical patterns, from frequent history of drug administration that followed by lessions in the same region. The lessions can vary, including erytema macule or patch followed by an inflammation process and vesicula or bullae in the central lession. To confirm the causa of FDE, it is suggested to conduct a patch test or oral profocation test in several weeks after the lesion resolved. This paper reports the case of the pigmented tipe of FDE with suspected cause of paracetamol or difenhydramin HCl. The lession resolved with metil-prednisolon, mebhidrolin napadisilat and Na Cl compress. The confirmation of the cause of FDE could not be determined because the patch or oral profocation test could not be performed.Erupsi obat fikstum (EOF) merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap obat.yang paling sering teijadi. Gambaran klinisnya mempunyai pola khusus, biasanya terjadi pada tempat yang sama setiap kali penderita terpapar obat yang sama dengan bentuk lesi yang sama. Penegakkan diagnosisnya berdasar gambaran klinis, berupa riwayat penggunaan obat yang berulang dan diikuti timbulnya lesi kulit pada daerah yang sama. Lesi kulit dapat bervariasi, mulai makula/patch eritem yang diikuti proses inflamasi sampai terbentuk bula. Untuk memastikan penyebab EOF sebaiknya dilakukan tes tempel atau tes provokasi oral beberapa minggu setelah erupsi obat membaik. Pada makalah ini dilaporkan kasus erupsi obat fikstum (tipe pigmented) dengan kemungkinan penyebab parasetamol atau difenhidramin-HCl. Lesi kulit membaik dengan pemberian metilprednisolon, mebhidrolin napadisilat serta kompres Na Cl. Kepastian penyebab EOF tidak dapat ditemukan karena tidak dapat dikeijakan tes tempel atau profokasi oral.
Tinjauan Biomedik Puasa Ramadhan Pramono, Ardi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1546

Abstract

Fasting during the month of Ramadan is an obligation for Moslems. They retain from eating and drinking for several hours during the day time from dawn to sunset for about 30 days. However, due to geographic difference Moslems from different part of the world will experience different length of daytime. Those in equatorial regions have more or less little variation, while those in northern or southern hemisphere very much depend on season varia¬tion. Previous studies reveal that fasting during Ramadan may affect biochemi¬cal parameters in human body, however, they seem to remain in normal range. During fasting, the body consumes mainly glucose from gluconeogenesis to produce energy. Glycerol, lactate, and certain amino acids are among others utilised as substrate for gluconeogenesis. This biochemical process produces urea, changes in muscle mass and reduced fat in adiposa tissue. It is sug¬gested that more fat should be consumed while practicing Ramadan fasting.Puasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi muslim yang sudah akil baliq. Puasa dilakukan dengan menahan makan dan minum sejak matahari terbit sampai tenggelam, selama 30 hari di bulan Ramadan. Karena perbedaan muka bumi dan geografis, maka lama puasa setiap hari berbeda di tiap negara. Pada negara di daerah equator sedikit megalami perubahan, sedangkan yang terletak di utara dan selatan garis equator dapat memiliki variasi waktu tergantung musim. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa puasa Ramadan dapat mempengaruhi parameter biokimiawi tubuh, walaupun masih dalam batas normal Selama puasa, glukosa merupakan sumber energi utama yang berasal dari proses glukoneogenesis. Glukoneogenesis berasal dari gliserol, laktat, dan asam amino glukogenik. Proses glukoneogenesis ini menghasilkan urea, perubahan massa otot, dan penurunan lemak di jaringan adipose. Disarankan agar selama menjalankan puasa Ramadan, meningkatkan konsumsi lemak.
Active Learning sebagai Inovasi Pendidikan Mahasiswa Kusumawati, Wiwik
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Waktu terus beijalan demikian pula proses pendidikan terus berkembang sesuai kemajuan zaman, sehingga metode pembelajaran yang menempatkan mahasiswa ialam posisi pasif atau teacher centered sudah tidak sesuai lagi untuk menghadapi 3ntangan ke depan yang lebih berat bagi calon-calon dokter. Metode pembelajaran tradisionil yang selama ini banyak digunakan dalam proses pendidikan dokter di Indonesia mungkin perlu diinovasi dalam beberapa hal agar dapat memenuhi kebutuhan dan tuntutan perkembangan zaman. Inovasi dalam pendidikan tidak hanya dalam hal metode saja tapi juga dalam banyak hal. Inovasi tidak harus dengan merubah secara total kurikulum pendidikannya ataupun metode pembelajarannya tetapi bisa dilakukan secara bertahap atau parsial disesuaikan dengan kemampuan institusi baik dalam hal sarana, biaya, SDM, dll.
Daya Antibakteri Infusa Bawang Putih (Allium sativum) terhadap Escherichia coli pada Berbagai Firdaus, -; Suryani, Lilis
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1547

Abstract

Garlic (Alliums sativum) is one of medicine plants known by people for a long time. It has been known for its antibacterial effect. In 1944, Cavallito in New York found Allicin, a substance that has special quality as antibacterial. However, it is an unstable substance and easily destroyed by heat and can be disintegrated into sulphur compound. Most people consume garlic by cooking it previously. It is difficult to be consumed raw because it can stimulate gastric juice and salivary gland. Gar¬lic is also irritative as well as has sting odor. By using Macrobroth dilution method, the antibacterial activity of garlic infusion was examined at various levels of heat. The Infusion can be made based on the Indonesian Book of Pharmacology, with modification in various temperatures (37°C - 100°C). Escherichia coli ATCC 25922 and local strain, the collection of Microbiology Laboratory of Medical Faculty Yogyakarta Muhammadiyah University, were used as the bacteria tested. The result of the study were: infusion of garlic (Allium sativum) had anti-bacterial activity against Escherichia coli, the heat influenced minimal in¬hibitory concentration of garlic against Escherichia coli and the 80°C heat¬ing of garlic infusion produced the most effective antibacterial capacity (3.38 gr %).  Bawang putih {Allium sativum) merupakan salah satu tanaman obat yang sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat. Bawang putih diketahui dapat digunakan sebagai obat antibakteri. Pada tahun 1944 Cavallito di New York menemukan Allicin yang merupakan zat berkhasiat sebagai antibakteri. Allicin merupakan zat yang bersifat tidak stabil dan mudah rusak oleh pemanasan. Allicin dapat terurai menjadi senyawa sulfur. Sebagian besar masyarakat mengkonsumsi bawang putih dengan dimasak dulu. Bawang putih sulit dikonsumsi secara mentah karena dapat merangsang asam lambung, kelenjar ludah danbersifat iritatif serta baunya menyengat. Dengan menggunakan metode pengenceran tabung (Macrobroth dilution) dilakukan uji daya antibakteri infusa bawang putih dengan berbagai tingkat pemanasan. Infusa dibuat sesuai dengan yang termaktub dalam Farmakope Indo¬nesia, dengan modifikasi pada variasi suhu pemanasan (37°C-100°C). Bakteri uji yang digunakan adalah Escherichia coli ATCC 25922 dan strain lokal, koleksi Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: infusa bawang putih {Allium sativum) memiliki daya antibakteri terhadap Escherichia coli, pemanasan mempengaruhi kadar hambat minimal infusa bawang putih terhadap Escherichia coli, pemanasar infusa bawang putih {Allium sativum) dengan suhu 80°C menghasilkan days antibakteri yang paling efektif sebesar 3,38 gr%.
Respon Imun Selluler: Tinjauan Biomedik pada Pasien Tuberkulosis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Gugun, Adang Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberculosis (TB) is a disease which is still commonly found in developing countries including Indonesia, both in children and adults. The objective of this study was to reveal cellular immune response which include leukocyte count, defferential leukocyte count and erythrocyte sedimentation rate (ESR) in TB patients in PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta. Secondary data was taken from the medical records of lung TB patients whose age ranged from 6 months old until 82 years old. The patients were diagnosed as lung TB based on clinical, immunologic, radiologic and bacte- riologic examinations. ESR was examined using Westergen method and leu-cocyte count with Turk method, while defferential leucocyte count using manual method. The result of this study in leukocyte count showed leucopenia (4,28%), normo (71,4%), leukocytosis (24,2%o). The defferential leukocyte count showed neutrophilia (55,6%), limphocytosis (22,7%), normo (20,2%) and eosinophilia (1,26%). The ESR examination showed an increase in 80% cases. All the re¬sults described the first condition of TB patients who came to PKU Muhammadiyah Hospital studied from their medical records.Tuberkulosis (TB) masih merupakan penyakit yang banyak didapatkan di negara sedang berkembang termasuk di Indonesia, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan respon imun seluler yang meliputi jumlah leukosit dan hitung jenis leukosit (HJL), dan kecepatan endap dsrah (KED pada penderita TB di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Subyek penelitian adalah pasien TB paru berusia 6 bulan sampai dengan 82 nhun dengan mengambil sampel data sekunder dari catatan medik penderita yang islah didiagnosis sebagai TB paru, baik secara klinis, imunologis, radiologis maupun bakteriologis. Penghitungan jumlah leukosit dengan metode Turk dan HJL dengan sara manual. KED dihitung dengan metode Westergen. Hasil penelitian menunjukkan leukopenia (4,28), normo (71,4%) dan leukositosis (24,2%), HJL menunjukkan neutrofilia (55,6%), limfositosis (22,7%), normo (20,2%) ian eosinofilia (1,26%). Hasil Penelitian menunjukkan peningkatan KED (80%). Hasil penelitian ini menguraikan kondisi awal pasien TB yang datang ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang dikaji dari buku rekam medis.
Kandungan Zat Aktif pada Beberapa Jenis Minuman Berenergi Kusbaryanto, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1548

Abstract

The content of active substances in several kinds of energy drinks which are commonly marketed in public include taurine, caffeine, inositol, ginseng, micotinamide, vitamin B1, vitamin B2 and vitamin B6. In the body, each of those active substances has different function, however in general they can increase energy and vitality. The consumption of an energy drink at a standard dose is quite safe, except in hipersensitivity condition. The side effect of caffeine can arise when it is taken more than 250 mg (5 bottles) all at once. Taurine can also result in side effect, although it is very rare. The consumption of inositol and nicotinamide are to be cautious in diabetic patients, because they can increase blood sugar level. The consumption of piridoxin at 50 mg - 2g for a long period of time can result in side effects of sensoric neuropathy and neu-napathy syndrome.Kandungan zat aktif beberapa jenis minuman berenergi yang banyak beredar di masyarakat antara lain ialah taurine, kafein, inositol, ginseng, nicotinamid, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin B6. Di dalam tubuh masing-masing zat aktif tersebut punya peran berbeda-beda, namun secara umum akan meningkatkan energi dan vitalitas tubuh. Konsumsi minuman berenergi dalam dosis normal cukup aman,kecuali ada hipersensitifitas. Efek samping bisa muncul dari kandungan kafein apabila SsEEKimsi melebihi dosis 250 mg(5 botol) sekaligus, bisa juga muncul dari kandungan taurine meskipun sangat jarang terjadi,sedangkan dari kandungan inositol dan nicotinamide perlu waspada bagi penderita penyakit diabetes melithus karena bisa menaikkan kadar gula darah.Dari kandungan piridoksin konsumsi jangka panjang dengan dosis antara 50 mg-2g dapat menyebabkan neuropati sensorik dan sindroma neuropati
Efek Antibakterisid Madu terhadap Escherichia coli Samapta, Alghazali; Sagiran, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1544

Abstract

Allah Azza Wa J alia said in Quran, “From inside a bee’s stomach it is spread off a colourful drink, which consists of medicine that may cure human diseases. (QS. 16:69). The term of “Back to Nature”, brings us to go back to nature, lets human to see alternative medicine besides the conventional medi-cine. There are some limitations of conventional antibiotic, i.e. causing bacte¬ria resistence and side effects in quite a lot cases. This is much different with “honey”, which posseses some superiorities such as easy administration, good absorption, minimal side effects and affordable price of medicine. The antibacterial activity of honey can be used as an alternative antibac-terial remedy which is more superior and has minimal side effect. In Islam, honey is a nutrition, food supplement and a medicine as well. The objective of this research was to reveal the antibacterial effect of honey against Escheri¬chia coli by relating it to the Islam knowledge and technology. The characteristic of honey that has antibacterial activity, is known as the effect of “inhibition ”. The antibacterial avtivity is related to total composition of honey, i.e. high sugar concentration, acidity and the presence of pollen. It is also influenced by a substance like lysozyme, which is more commomly known as inhibine. The antibacterial activity of honey is also related to its osmotic process.. Honey is a saturation liquid and supersaturation of sugar which was said to possess osmotic capability. Water molecule reacts strongly to sugar in honey, leaving only a little water to the microorganism ’s life. Decomposi¬tion of hidrogen peroxide increases reactive-free radical molecules that will react to bacteria and kill it. Osmotic pressure causes hidration of bacteria which hence can not survive.Allah Azza Wa Jalla berfirman dalam Al Qur’an, "Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya,di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia (Q.S.16:69).Istilah,11 Back to nature ”, mengembalikan diri kepada alam, membawa manusia untuk melihat obat alternatif lainnya, disamping obat-obatan yang modem. Terdapat keterbatasan dari antibiotik konvensional, yaitu mengakibatkan resistensi terhadap bakteri dan cukup banyak mengakibatkan efek samping. Madu, mempunyai kelebihan yaitu mudah cara pemberiannya, baik absorbsinya, efek samping minimal, adanya infeksi ganda dan harga obat yang terjangkau. Daya antibakteri yang terdapat dalam madu dapat digunakan sebagai antibakteri alternatif. Efek antibakteri yang dimiliki madu lebih unggul dan juga memiliki efek samping yang ditimbulkan sangat minim. Dalam Islam madu merupakan suatu nutrisi, suplemen tambahan sekaligus obat. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui efek antibakterisid madu terhadap Escherichia coli dengan mengkaitkan pengetahuan Islam dan teknologi. Sifat madu yang memiliki daya antibakteri, disebut efek “inhibisi”. Daya antibakteri berhubungan dengan komposisi total dari madu, yaitu konsentrasi gula yang tinggi, keasaman dan adanya pollen. Dan juga di pengaruhi oleh senyawa sejenis lysozime atau yang lebih dikenal dengan inhibine. Aktivitas antibakterial madu juga berhubungan dengan proses osmotiknya. Madu merupakan larutan saturasi 'dan supersaturasi dari gula yang dikatakan punya kemampuan osmotik. Molekul air bereaksi kuat dengan gula pada madu, menyisakan sedikit air untuk kehidupan mikroorganisme. Dekomposisi hidrogen peroksida meningkatkan radikal bebas yang reaktif yang akan bereaksi dengan bakteri dan membunuhnya. Tekanan osmotik menyebabkan bakteri terhidrasi sehingga bakteri tidak dapat hidup.
Active Learning sebagai Inovasi Pendidikan Mahasiswa Wiwik Kusumawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1551

Abstract

Waktu terus beijalan demikian pula proses pendidikan terus berkembang sesuai kemajuan zaman, sehingga metode pembelajaran yang menempatkan mahasiswa ialam posisi pasif atau teacher centered sudah tidak sesuai lagi untuk menghadapi 3ntangan ke depan yang lebih berat bagi calon-calon dokter. Metode pembelajaran tradisionil yang selama ini banyak digunakan dalam proses pendidikan dokter di Indonesia mungkin perlu diinovasi dalam beberapa hal agar dapat memenuhi kebutuhan dan tuntutan perkembangan zaman. Inovasi dalam pendidikan tidak hanya dalam hal metode saja tapi juga dalam banyak hal. Inovasi tidak harus dengan merubah secara total kurikulum pendidikannya ataupun metode pembelajarannya tetapi bisa dilakukan secara bertahap atau parsial disesuaikan dengan kemampuan institusi baik dalam hal sarana, biaya, SDM, dll.

Page 1 of 2 | Total Record : 17


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue