cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2005)" : 15 Documents clear
Ekspresi Cyclooxygenase-2 dan angiogenesis pada kanker colorectal: Penelitian di Wuhan University, China Tasminatun, Sri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cyclooxygenase-2 (COX-2) penting pada berbagai fungsi seluler antara lain pertumbuhan dan deferensiasi sel, invasi sel kanker, angiogenesis dan fungsi imun. Angiogenesis sangat berperan pada perkembangan sel-sel kanker. Hubungan antara COX-2 sebagai faktor angiogenik pada kanker colorectal belum diketahui dengan jelas.Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ekspresi COX-2 dalam kanker colorectal dengan vascular endothelial growth factor (VEGF) dan microvascular density (MVD).Metode :Ekspresi cyclooxygenase-2 ,VEGF dan MDV dianalisa dengan tehnikimunohistokimia pada 128 kasus kanker colorectal. Selanjutnya dilakukan analisis hubungan antara ekspresi COX-2 , ekspresi VEGF dan MVD.
Imunitas Seluler Malaria Hidayati, Titiek
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i1.1867

Abstract

Malaria is still a majority infection disease in Indonesia. Although the disease have high rate morbidity and mortality, but literature concerning malaria immunology is still few. There is no effective vaccine available against endemic human malaria at present. The aim of this study is to explain new information about cellular immune response of infection malaria.Malaria infection by Plasmodium falsiparum patient who have not immuned can cause patient died. In the body of patient, malaria parasite is a lot of staying in cell, either in hepatosit and also eritrosit. The cellular immunity assumed more antici¬pated to malaria infection compared to the humoral immuned system. T lymphocyt, macrophage and other phagocyt that helping by pro inflammation cytokin, interleukin 2, TNF A and interferon y, are important component [of] cellular immuned system. The direct phagocytosis and microbisidal is an important mechanism to elliminate the parasite by phagocyte.Malaria masih merupakan penyakit infeksi utama di Indonesia. Tingkat morbiditas dan mortalitas malaria di Indonesia masih tinggi, tetapi literatur mengenai imunologi malaria masih sedikit. Sampai saat ini belum ada vaksin malaria yang mampu melindungi masyarakat yang tinggal di daerah endemic. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji imunitas seluler pada infeksi malaria melalui pendekatan kajian pustaka.Infeksi malaria oleh Plasmodium falsiparum pada penderita yang tidak imun dapat menyebabkan kematian. Dalam tubuh penderita, parasit malaria banyak tinggal di dalam sel baik di dalam hepatosit maupun eritrosit. Imunitas seluler diduga lebih berperan sebagai sistem pertahanan penderita terhadap infeksi malaria dibandingkan dengan sistem imun humoral. Sel limfosit T, makrofag dan fagosit dengan dibantu oleh sitokin pro inflamasi, interleukin 2, TNF a dan interferon y, merupakan komponen utama sistem imun seluler. Fagositosis langsung dan mikrobisidal merupakan cara eliminasi parasit yang utama oleh fagosit.
Kajian Stress Oksidatif Pada Bayi Prematur Setiawan, Bambang; Suhartono, Eko; Mashuri, Mashuri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preterm babies can be considered as a disease with an oxidative stress compo-nent. Beside that, in preterm babies found any disease which have causal link with the action of reactive oxygen species. Damaged which mediated by reactive oxygen species caused bay decreased of endogenous antioxidant defense. In the hospital preterm babies can expose by some source o oxidative stress, such blood transfusion, high concentration oxygen therapy, and parenteral nutrition feeding.Bayi prematur dapat dipertimbangkan sebagai penyakit akibat komponen stress oksidatif. Kerusakan yang ditimbulkan oleh Senyawa Oksigen Reaktif tersebut diperantarai oleh rendahnya sistem antioksidan endogen. Di samping itu, dalam perawatan di rumah sakit, bayi prematur sering terpajan berbagai kondisi yang merupakan sumber stress oksidatif. Kondisi tersebut dapat berupa transfusi darah, terapi oksigen konsentrasi tinggi, dan pemberian makan dengan nutrisi parenteral.
Intensitas Fluoresensi Neuron-Neuron Dopaminergik Di Area Ventralis Tegmenti Setelah Pemberian Alkohol Secara Kronis Pada Tikus (Railus norvegicus) Makiyah, Sri Nabawiyati Nurul; Aswin, Soedjono; HNFS, Marsetyawan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i1.1865

Abstract

The aim of this study is to reveal the effects of chronically alcohol treat-ment on the intensity of fluorescence dopaminergic neurons in the ventral teg-mental area of the rats.In this study, the rats were divided randomly into three groups (each group consists of five rats), i.e. control group (without any treatment), treatment control group (was given 2 ml aquadest intraperitoneally) and treatment group (was given 2 ml of 15 % alcohol intra-peritoneally). After the 25th day, the rats were killed by decapitation followed by taking out their brains and then were processed for immunohistochemically microscopic preparations of ventral teg-mental area.The results of this study showed that the rats, after they were treated with alcohol chronically, showed a decrease in the intensity of fluorescence dopam-inergic neurons in the ventral tegmental area compared with the control group and treatment control group . It is concluded that chronic alcohol treatment pro-duced a decrease in the intensity of fluorescence dopaminergic neurons in the ventral tegmental area.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan pengaruh pemberian alkohol secara kronis terhadap intensitas fluoresensi neuron dopaminergik di area ven- tralis tegmenti pada tikus.Pada penelitian ini tikus (Rattus norvegicus) dibagi menjadi 3 kelompok secara random yaitu kelompok kontrol (K), kelompok kontrol perlakuan (KP) dan kelompok perlakuan (P), tiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. Selama 25 hari, kelompok K tidak diberi perlakuan apa-apa, kelompok KP diberi 2 ml akuades secara intra- peritoneal (ip), dan kelompok P diberi 2 ml alkohol 15% ip. Pada hari ke-26, semua tikus didekapitasi untuk diambil otaknya kemudian dibuat sediaan gambaran mikrokopis area ventralis tegmenti secara imunohistokimiawi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian alkohol secara kronis menurunkan intensitas fluoresensi neuron dopaminergik di area ventralis tegmenti pada tikus dibandingkan dengan tikus kelompok kontrol dan kelompok kontrol perlakuan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pemberian alkohol secara kronis menurunkan intensitas fluoresensi neuron dopaminergik di area ventralis tegmenti pada tikus.
Daya Antibakteri Infusa Umbi Temu Hitam (Curcuma aeroginosa Roxb) terhadap Berbagai Kuman Penyebab Diare In Vitro Suryani, Lilis
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i1.1862

Abstract

Diarrhoea remain a serious health problem in Indonesia. People often use the medicine plant to cure diarrhoea. The medicine plant tike Temu Hitam tuber (Curcuma aeroginosa Roxb) has been used commonly against skin dis¬eases, respiratory diseases as well as digestive diseases (diarrhoea). Microor¬ganism causing diarrhoea include Escherichia coli, Shigella dysenteriae and Vibrio cholerae.This research is an experimental laboratory study to observe the anti-bacterial activity of Temu hitam (Curcuma aeroginosa Roxb) tuber infusion against Escherichia coli, Shigella dysenteriae, and Vibrio cholerae.The antibacterial activity of Temu hitam (Curcuma aeroginosa Roxb) tu-ber infusion has been tested by the determination of the minimal inhibitory con-centration (MIC) and minimal bactericidal concentration (MBC) using tube di-lution method.The result of this study shows that the MIC and the MBC of Temu hitam (Curcuma aeroginosa Roxb) tuber infusion against Escherichia coli is 22,2gr% and 25gr%, Shigella dysenteriae ll,lgr% and 25gr%, Vibrio cholerae l,91gr% and 25gr% respectively.As a conclusion, it is obvious that Temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb) tuber infusion possess an antibacterial activity against Vibrio cholerae, Shigella dysenteriae and Escherichia coli as bacteriostatic. Temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb) tuber infusion has the highest antibacterial activity against Vibrio cholerae while the lowest antibacterial activity is shown against Escherichia coli. Di Indonesia penyakit diare (mencret) masih merupakan masalah serius di bidang kesehatan terutama di daerah pedesaan. Masyarakat di pedesaan sering menggunakan tanaman obat untuk mengobati diare. Salah satu bahan tanaman yang berkhasiat obat adalah umbi temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb). Tanaman ini banyak dipakai sebagai obat tradisional mempunyai khasiat untuk meningkatkan nafsu makan, mengobati penyakit kulit, ruam, borok, obat mulas-mulas, peluruh angin, penambah darah, batuk dan sariawan.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang bertujuan untuk mengetahui daya antibakteri infusa umbi temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb) terhadap beberapa bakteri penyebab diare yaitu: Escherichia coli, Shigella dysenteriae dan Vibrio cholerae.Daya antibakteri ditunjukkan dengan melihat kadar hambat minimal (KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM) infusa umbi temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb) terhadap kuman tersebut dengan metode pengenceran tabung {tube dilution method).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KHM infusa umbi temu hitam {Cur-cuma aeroginosa Roxb) berturut-turut terhadap kuman Escherichia coli 22,2gr%, Shigella dysenteriae 11,1 gr% dan Vibrio cholerae l,91gr%. KBM infusa umbi temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb) berturut-turut terhadap kuman Escherichia coli 25gr%, Shigella dysenteriae 25gr% dan Vibrio cholerae 25gr%.Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa infusa umbi temu hitam {Cur-cuma aeroginosa Roxb) mempunyai daya antibakteri terhadap kuman Escherichia coli, Shigella dysenteriae dan Vibrio cholerae. Infusa umbi temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb) mempunyai daya antibakteri yang kuat terhadap kuman Vibrio cholerae dan lemah terhadap kuman Escherichia coli. Daya antibakteri infusa umbi temu hitam terhadap Escherichia coli, Vibrio cholerae, dan Shigella dysenteriae bersifat bakteriostatik.
Atrophie Blanche Idiopatik Upaya Penegakan Diagnosis Estri, Siti Aminah Tri Susilo; Radiono, Sunardi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Idiopathic atrophie blanche (AB) is a rare case, mostly represent associ-ated with systemic diseases, as secondary AB. Frequency of AB in the general population is 1-5%.A woman, 41 years old was complaint red spots, painful lesion, with white spot and black on the surrounding area and feel since V/2 years ago. There are non palpable purpuric, painful lesion, ulcerate, heal with small and atrophie white scar with hyperpigmentation on the surrounding areas on her lower legs. The biopsy result shows thickening vessels, fibrinoid degeneration with thrombosis, limphocyte infiltrate and extravasation of erythrocyte. Others physical and laboratory examination from blood, routine urinalysis and feces show a normal results besides APTT and PTT that longer result.Diagnose of idiopathic or primary AB performs if no underlying sys¬temic diseases, so needs completely clinical and laboratory examination. In this case, diagnosis of AB based on the anamnesis, physical examination and biopsy result. From laboratory examination such as routine blood, urinalysis and feces test, liver and renal function test, glucose, electrolyte, cholesterol, protein, ASTO, rheuma factor, LE cells show good result. APTT and PTT show a longer than normal. Diagnose of idiopathic AB needs more laboratory examination, but the patient refused.Atrophie blanche (AB) idiopatik merupakan kasus yang jarang ditemukan. Gambaran AB lebih sering disebabkan penyakit sistemik sebagai AB sekunder. Frekuensi AB pada populasi umum 1-5%.Seorang wanita, 41 tahun, datang dengan bercak kemerahan, nyeri, berlanjut menjadi bercak putih dikelilingi kehitaman pada kedua tungkai bawah, sudah berlangsung IV2 tahun. Pada kedua tungkai bawah tampak purpura non palpabel, multipel, ulserasi, dan atropi hipopigmentasi dengan begian tepi hiperpigmentasi. Hasil biopsi tampak penebalan pembuluh darah, degenerasi fibrinoid, trombosis, infiltrat limfosit dan ekstravasasi eritrosit. Hasil pemeriksaan fisik lainnya dan pemeriksaaan darah, urin dan feces dalam batas normal, kecuali pemanjangan APTT dan PIT.Diagnosis AB idiopatik atau primer ditegakkan apabila tidak ditemukan kelainan sistemik yang mendasari, sehingga perlu pemeriksaan klinis dan laboratorium selengkap mungkin. Berdasar anamnesis, pemeriksaan klinis dan biopsi ditegakkan diagnosis AB. Pelacakan kemungkinan kelainan sistemik yang mendasari AB dengan pemeriksaan darah, urin dan feces rutin, tes fungsi hati dan ginjal, gula darah, elektrolit darah, kimia darah, ASTO, rheuma factor dan sel LE dengan hasil dalam batas normal. Pemeriksaan faktor pembekuan darah menunjukkan APTT dan PTT sedikit memanjang. Penegakan diagnosis AB idiopatik masih memerlukan lebih banyak pemeriksaan, namun penderita keberatan.
Kadar Asam Urat Plasma Pada Perokok dan Non Perokok Uric Acid Plasma Level In Smoker an Non Smoker Meida, Nur Shani; Sisindra, Fahmi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i1.1863

Abstract

Cigarette smoking may cause free radical which can increase cell dam-age. To prevent free radical from cigarette smoke, the body must have a defen¬sive antioxidant system to keep up with the oxidant. Naturally, the body is equipped with some compounds known as antioxidanst. One of endogenous antioxidant is uric acids which in small concentration meaningly prevent or postponeundesired effect of free radical.A research of uric acid content in plasma of smoker and non smoker was conducted. This research was intended to find the differences of uric acid con¬tent between smoker and non smoker. The research was a cross sectional study. The sample group considered is plasm from 15 smokers and for control group is plasm from 15 non smokers. The parameter measured was the uric acid content in the blood plasma. Measurement were done through colorimetric enzymatic test “TBHBA”.Results showed that the average content of uric acid in smokers was 7,733 ± 1,820 mg/dl, while in non smoker was at 8,880 ± 2,567 mg/dl. From these t-test, we concluded that there was not significant differences of uric acid in smoker and non smoker.Asap rokok dapat menyebabkan radikal bebas yang dapat meningkatkan kerusakan sel. Untuk menghadapi radikal bebas dari asap rokok maka tubuh harus mempunyai suatu system pertahanan antioksidan yang cukup terhadap beban oksidan. Secara alami tubuh manusia telah dilengkapi senyawa untuk mengurangi dampak negatif oksidan yang disebut dengan antioksidan. Salahsatu antioksidan endogen dalam tubuh yaitu asam urat. Antioksidan merupakan senyawa yang dalam jumlah kecil secara bermakna mampu mencegah atau menunda oksidasi radikal bebas.Telah dilakukan penelitian tentang kadar asam urat plasma pada perokok dan non perokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kadar asam urat plasma antara perokok dan non perokok. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang (cross sectional). Kelompok sample yang digunakan yaitu adalah plasma dari 15 orang perokok dan kelompok kontrol yang digunakan adalah plasma dari 15 orang non perokok. Parameter yang diukur yaitu kadar asam urat plasma. Pengukuran menggunakan metode tes kolorimetrik enzimatik (TBHBA).Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar asam urat plasma pada perokok 7,733 ± 1,820 mg/dl, sedang pada non perokok 8,880 ± 2,567 mg/dl. Dari uji t-test didapat hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar asam urat perokok dan non perokok.
Study Guide Suharto, Agus
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i1.1868

Abstract

Tujuan Fakultas Kedokteran UMY adalah menghasilkan dokter yang profes¬sional, islami bervisi global dan mempunyai kemampuan manajerial. Untuk mencapai semua itu Fakultas Kedokteran berusaha dengan mengubah pendekatan pendidikan dari teacher centred approach ke student centred approach.Perubahan ini membawa dampak, salah satunya adalah dosen dituntut mampu membuat, mendesain, mengembangkan dan mengevaluasi media ajar yang dapat digunakan untuk mendukung proses belajar mahasiswanya.Fungsi tradisional media pembelajaran adalah untuk menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya tentang isi materi pembelajaran kepada mahasiswa. Dalam inovasi mengembangkan media ajar, saat ini ada kecenderungan yang semakin popular dengan membuat study guides. Study guides selain berisi informasi inti juga menyatakan tujuan belajar, prasyarat suatu topic pembelajaran, learning opportunities yang tersedia, self assessment, dan lain-lain.
Meningioma Wahyuliati, Tri; Dahlan, Pernodjo
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumor yang tumbuh didalam rongga kepala atau tumor intra kranial, dapat berasal dari tulang tengkorak, selaput otak atau meninges, nervus cranialis, pembuluh darah, glandula pituitari atau parenkim otak itu sendiri. Angka insidensi tumor intra kranial pada penderita dari semua golongan umur mencapai sekitar 4,2 - 5,4 /100,0002 Tumor intra kranial bisa bermanifestasi dalam berbagai variasi, dari keluhan minimal yang tidak khas sampai pada keluhan berat atau ditemukannya tanda abnormalitas yang berat seperti kelemahan atau kejang. Berbagai manifestasi tersebut yang berupa tanda dan gejala, berhubungan dengan lokasi tumor. Meskipun secara umum tidak ada kelompok gejala yang patognomonik untuk tumor intra kranial.Tanda trias yang khas untuk tumor intra kranial meliputi nyeri kepala, mutah proyektil dan papil edema yang bermanifestasi pada keluhan pandangan kabur yang dirasakan penderita. Hal itu terutama disebabkan karena adanya obstruksi saluran cairan serebrospinal oleh desakan masa tumor. Trias tersebut terutama muncul paling sering pada anak - anak. Pemeriksaan Ct scan dan MRI kepala merupakan pemeriksaan penunjang yang sangat membantu dan handal dalam menegakkan diagnosa tumor otak. Diagnosa pasti tumor otak, seperti halnya tumor dari organ atau jaringan lain adalah dengan biopsi.
Kajian Stress Oksidatif Pada Bayi Prematur Bambang Setiawan; Eko Suhartono; Mashuri Mashuri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i1.1861

Abstract

Preterm babies can be considered as a disease with an oxidative stress compo-nent. Beside that, in preterm babies found any disease which have causal link with the action of reactive oxygen species. Damaged which mediated by reactive oxygen species caused bay decreased of endogenous antioxidant defense. In the hospital preterm babies can expose by some source o oxidative stress, such blood transfusion, high concentration oxygen therapy, and parenteral nutrition feeding.Bayi prematur dapat dipertimbangkan sebagai penyakit akibat komponen stress oksidatif. Kerusakan yang ditimbulkan oleh Senyawa Oksigen Reaktif tersebut diperantarai oleh rendahnya sistem antioksidan endogen. Di samping itu, dalam perawatan di rumah sakit, bayi prematur sering terpajan berbagai kondisi yang merupakan sumber stress oksidatif. Kondisi tersebut dapat berupa transfusi darah, terapi oksigen konsentrasi tinggi, dan pemberian makan dengan nutrisi parenteral.

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue