Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Articles
16 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5, No 2 (2005)"
:
16 Documents
clear
The Effect Of Celery (Aipum Graveolens L) Juice In Blood Pressure and Serum Cholesterol
Supono, Supono;
Orbayinah, Salmah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Celery juice has been developed as an herbal therapy cheaply to decrease blood pressure and cholesterol. The aim of this study is to know the effect of celery juice in blood pressure and serum cholesterolThe research is a cross sectional which are the students live in Sonosewu and itâs around as a subject of research. They are 19-25 years old. A choice of the subject of research is randomly. The subjects of research have health conditioned, donât have liver, heart, gastrointestinal disease and neuron brain nervous. The research subjects are 14 peoples for blood pressure and 13 peoples for serum cholesterol. The research divided in to 2 phase, the first is a phase which before drink celery juice (control) and the second phase is after (sample). A research subjects have check their blood pressure before and 15-20 minutes after drink placebo or celery juice everyday. The research as long as 20 days, 10 days control (giving placebo) and 10 days sample (giving celery juice), The cholesterol measurements were taken lstday before given placebo, llrddays (after given placebo) and 2Tddays (after given celery juice), then check its total value by use cholesterol KIT reagents with using spectrophotometer methods. Analysis data is done by statistic T-test and also use SPSS 12 W version.The results showed with T-Test statistic that placebo don ât show exchange significantly on blood pressure and cholesterol (a > 0.05). The giving celery juice will cause decrease significantly on blood pressure and cholesterol (a <0.   05). The results indicate that the giving celery juice will decrease blood pressure and cholesterol.Jus seledri dikembangkan sebagai suatu terapi pengobatan yang murah untuk menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol darah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jus seledri terhadap tekanan darah dan kolesterol serum.Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional, dengan subyek penelitian mahasiswa di daerah sonosewu dan sekitarnya, dengan umur 19-25 tahun. Pemilihan subyek penelitian secara acak, dengan kondisi sehat tidak memiliki gangguan fungsi hati, jantung, ginjal, gangguan gastrointestinal dan penyempitan pembuluh darah otak. Jumlah subyek penelitian yang digunakan adalah 14 orang untuk tekanan darah dan 13 orang untuk kadar kolesterol darah. Subyek penelitian dibagi dalam 2 tahap: tahap pertama; sebelum diberikan jus seledri (kontrol) dan tahap kedua; setelah diberikan jus seledri (perlakuan). Masing-masing subyek penelitian diukur tekanan darahya sebelum dan 15-20 menit setelah diberikan plasebo atau jus seledri sehari sekali. Hal ini dilakukan selama 20 hari, yaitu 10 hari kontrol (pemberian plasebo) dan 10 hari sampel (pemberian jus seledri). Pada pengukuran kadar kolesterol, subyek diambil darahnya 1 hari sebelum diberikan plasebo, hari ke-11 (setelah diberikan plasebo) dan hari ke-21 (setelah diberikan jus seledri), kemudian diperiksa kadarnya menggunakan reagen KIT kolesterol dengan metode spektrofotometer. Data dianalisis dengan uji statistik T-Test berpasangan menggunakan SPSS versi 12 W.Hasilnya menunjukkan bahwa pemberian plasebo tidak memberikan perubahan yang bermakna terhadap tekanan darah dan kolesterol (a > 0,05). Sedangkan pemberian jus seledri menyebabkan penurunan yang bermakna terhadap tekanan darah dan kolesterol (a < 0,05). Hasil ini mengindikasikan bahwa pemberian jus seledri dapat menurunkan tekanan darah dan kolesterol.
Paresis Nervus Fasialis pada Otitis Media Supuratif Kronik Tipe Unsafe
Widuri, Asti
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v5i2.1871
Manifestasi klinis otitis media supuratif kronis (OMSK) dapat dibagi dalam dua jenis yaitu OMSK benigna atau tubotimpanal dan OMSK maligna atau attikoantral, yang jenis terakhir ini dapat menimbulkan komplikasi intra dan ekstrakranial.Paresis saraf kranialis adalah salah satu komplikasi ekstrakranial OMSK maligna, disebabkan tumbuhnya kolesteatom timpani yang progresif, destruktif dan merupakan ciri khas OMSK maligna. Paresis saraf fasialis yang disebabkan oleh OMSK maligna bila diketahui sedini mungkin dan cepat ditanggulangi secara operatif akan kembali normal karena bersifat reversibel.Dilaporkan satu kasus OMSK maligna dengan komplikasi paresis yang ditemukan lebih dini dan segera dilakukan operasi mastoidektomi, dekompresi saraf fasialis serta eksplorasi kavitas timpani yang hasilnya mengalami kesembuhan.The chronic suppurative otitis media (CSOM) manifestation is divided into two types, there are the benign type or tubotympanic type and the malignant type or atticoanthral type, the latest can occur intracranial and extracranial complication.Facial nerve paresis is one of the extracranial complication due to malignant type CSOM, caused by progresif cholesteatom grotwh and invasion process JFacial nerve paresis as a extracranial complication due to malignant type CSOM if can detect early and as soon as possibel perform decompression will be back to normal function because still reversibel.A case report of chronic suppurative otitis media malignant type with paresis facialis nerve complication that detected early, perform mastoidectomy operation, facialis nerve dehompression and tympanic cavity exploration have been succes to facialis nerve function.
Antraks Pulmoner dan Bioterorisme Pulmonary Anthrax and Bioterorism
Khoiriyah, Umatul
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v5i2.1876
Anthrax is zoonotic disease, which is caused by Bacillus antracis. Bacilllus anthracis has very small spores, which has long been considered a potential biological weapon since world war I.Type of anthrax based on clinical manifesatation are divided into three types : cutaneous anthrax, gastrointestinal anthrax and pulmonary anthrax. Pulmonary anthrax has the worst prognosis. As potential for biological weapon mortality rate reaches 100 % of all victim during 24 hours .Sign and symtomps of pulmonary anthrax are divided into two stages. Prevention and therapy of pulmonary anthrax is effective before stage two as well as decrease the mortality.Antraks merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh Bacillus antracis. Bacillus anthracis, sudah lama digunakan sebagai senjata biologi sejak perang dunia I. Bacillus anthracis mempunyai ukuran spora yang sangat kecil dan sangat efektif sebagai senjata biologi.Berdasar tempat masuk spora, penyakit antraks terbagi atas 3 jenis yaitu. Antraks kulit (cutaneous anthrax), antraks pencernaan {gastrointestinal anthrax), dan antraks paru- paru (pulmonary anthrax). Pulmonary anthrax merupakan anthraks yang paling berbahaya karena angka mortalitas mencapai 100%. Pulmonary anthrax paling potensial digunakan sebagai senjata biologi karena bisa mematikan dalam waktu 24 jam dengan korban banyak.Gejala dan tanda pulmonary anthrax terbagi menjadi dua stadium. Prevensi dan pengobatan dengan vaksinasi dan antibiotik sebelum mencapai stadium dua akan menurunkan angka mortalitas.
Sumbing Median (Midline Cleft)
Dachlan, Ishandono;
Handaya, A. Yuda;
Sagiran, Sagiran
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Midline Cleft is a midline deformity of the upper lip and nose (Tessier Clasification of Cleft Number 0 ). It is rare and often accompanied by disorder of the central nervous system. Head CT Scan with a better architecture of the brain has a better prognosis and those with poor differentiation of brain die during infancy. The treatment of choice is surgical procedure to correct the deformity by Z-plasty or its modification. The aim of this stydy is to report the management of a midline cleftTwo Cases has been reported, The first case was a 13 year-old girl suffering from a midline upper lip cleft, she visited to Sardjito Hospital because of a cosmetic problem, and she had a good achievements at School, The head CT Scan showed a normal brain architecture. She had undergone an upper lip modification Z- Plasty. The second case was a 2 day-old male baby within absence of collumella and prolabial segment of lip (false median cleft), absence of the premaxilla skeletal and he suffers multiple anomalies, the head CT scan showed poor differentiation of brain.Result of this study showed that the one case has showed a good result after upper lip modification of Z-Plasty, the second case died before treated any surgical operation. It can concluded that midline cleft should be treated with observing other problems or anomalies especially of the brain structure and followed with delicate method of surgical procedure.Sumbing median adalah kelainan median pada bibir atas dan hidung (Klasifikasi Tessier, Cleft Nomor 0). Sumbing median adalah kelainan yang jarang terjadi dan biasanya disertai dengan gangguan sistem syaraf pusat. CT Scan kepala yang menunjukkan struktur otak baik mempunyai prognosis lebih baik, Gambaran struktur otak yang jelek biasanya meninggal pada awal kehidupan atau masa pertumbuhan. Terapi pilihan biasanya berupa prosedur pembedahan untuk mengoreksi kelainan, dengan teknik Z-plasty atau modifikasinya. Tujuan dari kajian ini adalah untuk melaporkan penatalaksanaan dua buah kasus sumbing median.Delaporkan dua kasus sumbing median, kasus pertama wanita usia 13 tahun menderita sumbing pada pertengahan bibir atas, pasien datang ke Rumah sakit Sardjito dengan keluhan kosmetik, pasien mempunyai prestasi yang baik di sekolah. CT Scan kepala menunjukan gambaran otak normal. Pasien dilakukan operasi Z- Plasty pada bibir atas. Kasus ke dua,pasien laki-laki usia 2 hari dengan tidak adanya collumella danprolabial, serta tidak adanya tulang premaxilla, pasien menderita anomali multipel, CT Scan kepala menunjukan gambaran otak yang tidak sempurna.Kasus pertama menunjukan hasil yang baik setelah dilakukan operasi Z-Plasty, kasus kedua meninggal sebelum dilakukan tindakan bedah. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penatalaksanaan sumbing median harus memperhatikan anomali lain terutama struktur otak dan perlu mempertimbangkan teknik operasi yang tepat untuk mendapatkan hasil yang baik.
Masalah-masalah dalam Penatalaksanaan Tekanan Darah Tinggi pada Lanjut Usia dan Peran-peran Pengasuh Utamanya (Caregiver): Sebuah Studi Kualitatif
Khasanah, Uswatun
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/1877
A caring nursing relationship with hypertensive clients at their homes can have positive effects upon their blood pressure. This paper attempts to reveal efforts of the hypertensive older adults and their caregivers in dealing the high blood pressure. This study shows that often older adults they do not realize they are having hypertension at first; accidentally they are diagnosed with hypertension when they seek help for other health problem. While the others realize that they are having hypertension after the screening program conducted by students or health professional.Soon after the older adults realize they are diagnosed with hypertension, changing the risky behaviors, asking and searching information related the disease follows. However, often they neglect the disease management when they feel the disease symptoms disappear. Or still practicing incorrect management, such as improper medical regiment, irregular checking blood pressure till does not manage their high blood pressure at all. The common practices among the hypertensive are alternative medicine used, such as using herbs, holy water, or asking help from the traditional healer as well as the spiritual leader. Concerning older adult caregivers roles are as the main psychological and financial support for the older adults.This study demonstrates various perspectives of older adults and caregivers problems and efforts in maintaining blood pressure within recommended level. This is very useful information for the health professional in caring the hypertensive older adult comprehensively according to their needs and their perspective.Artikel ini mengemukakan tentang persepsi dari lanjut usia dan pengasuhnya tentang usaha-usaha mereka untuk mengontrol tekanan darah tinggi yang dialami oleh para lanjut usia dirumah. Hasil dari penelitian dengan desain kualitatif dan wawancara sebagai tehnik pengumpulan data ini yaitu kebanyaan pada awalnya lanjut usia tidak menyadari bahwa mereka menderita tekanan darah tinggi, baru setelah mereka memeriksakan masalah kesehatan yang lainnya kepada tenaga kesehatan dan dicek tekanan darah tingginya, didapakan tekanan darah tingginya melebihi batas normal yang direkomendasikan. Sedangkan lanjut usia yang lainnya mengetahui kalau mereka menderita tekanan darah tinggi setelah ada program screening dari mahasiswa atau tenaga kesehatan yang lainnya.Segera setelah lanjut usia mengetahui mereka menderita tekanan darah tinggi, maka merubah tingkah laku yang membahayakan kesehatan, bertanya dan mencari informasi yang berkaitan dengan penyakitnya adalah hal yang dilakukan oleh para lanjut usia tersebut. Akan tetapi masih banyak diantara lanjut usia tersebut yang melakukan penatalaksanaan yang kurang tepat, seperti penggunaan obat yang salah, tidak teratur mengontrol tekanan darah atau juga tidak melakukan apapun untuk mengontrol penyakitnya tersebut. Praktek yang sering dilakukan untuk mengontrol tekanan darah tinggi diantaranya yaitu lanjut usia menggunakan pengobatan alternative seperti dengan menggunakan tumbuh-tumbuhan, air suci, atau meminta pertolongan dari pengobat tradisional dan juga pemimpin agama. Tentang pengasuh anjut usia, mereka adalah pendukung secara psykologis dan juga financial.Penelitian ini menunjukkan beberapa perspektif lanjut usia dan pengasuhnya tentang usaha-usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan lanjut usia. Hal ini merupakan informasi yang sangat berharga bagi tenaga kesehatan dalam merawat lanjut usia dengan darah tinggi secara komprehensif dan berdasarkan kebutuhannya dan dengan memperhatikan perspective mereka.
Mengapa Wanita Tidak Memilih Bidan Desa Sebagai Penolong Persalinan ?
Wijayanti, Punik Mumpuni
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v5i2.1873
The rate of mortality and morbidity in pregnancy and delivery remains a big problem for developing country as Indonesia. One of the contributing factors is that a lot of deliveries are assisted by less-education traditional midwives delivery. Although there are adequate village midwives; rural people favor traditional midwives delivery.This study was aimed at identifying why people like less-trained traditional midwives more than village midvives.This is qualitatif study with indepth interview and Focus Group Discusion (FGD). The targets of FGD were (I) mother whose delivery were assisted by less-trained traditional midwives delivery; and (2) mother whose delivery were assisted by well-trained midwives (village midwives). The study employed 19 post-partum mothers from Gebang and Pituruh Purworejo Jawa Tengah.The result of the study suggested that traditional midwivery service emphasizing on familiarity and close relationship are more interesting than formal well-trained midwivery service by village midwives. Therefore; village midwives have to possess a good interpersonal skill in order to provide a successful and safe delivery.Angka kematian dan kesakitan pada kehamilan dan persalinan masih merupakan masalah yang besar di negara berkembang; seperti di Indonesia. Salah satu sebab antara lain masih banyak persalinan yang ditolong oleh dukun bayi yang kurang terdidik. Walaupun telah cukup tersedia bidan desa tetapi masyarakat setempat masih lebih menyukai dukun bayi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari faktor penyebab mengapa masyarakat setempat lebih banyak yang memilih dukun bayi untuk menolong persalinan dibanding dengan bidan desa. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara mendalam (indepth interview) dan FGD {Focus Group Discussion). Sasaran FGD adalah (l)Ibu pasca bersalin dengan dukun (2)Ibu pasca bersalin dengan bidan desa; dan sasaran indepth interview adalah (l)Ibu bersalin dengan dukun; (2) Ibu bersalin dengan bidan desa. Subyek penelitian terdiri dari 19 ibu pasca bersalin yang berasal dari kecamatan Gebang dan Pituruh Kabupaten PurworejoHasil penelitian menunjukkan bahwa pola pelayanan persalinan oleh dukun bayi yang lebih menitikberatkan pada suasana keakraban dan kekeluargaan lebih menarik dibandingkan dengan pola pelayanan persalinan oleh bidan desa yang terkesan formal. Dengan demikian statu keahlian komunikasi dengan masyarakat baik massa maupun interpersonal harus dimiliki oleh bidan desa untuk lebih mensukseskan pertolongan persalinan yang aman.
Perbedaan Efektivitas Pengukuran Suhu Tubuh Menggunakan Termometer Air Raksa Melalui Aksila dan Termometer Membran Timpani pada Klien Demam di RS PKU Muhammadiyah, Yogyakarta 2005
Noor, Zulkhah;
Rochmawati, Erna;
Eni Marlina, Eni
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v5i2.1878
Body temperature is one of the indications of health status and it may be above normal. The average number of clients suffering from fever increases 35% each month. Knowing the body temperature is one of an effective ways to understand the vital symptoms before giving treatment. Thermometers which usually used to measure the body temperature are mercury and timpani membrane thermometers which each of them has its own characteristics. The aim of the study was to find the effectiveness of the two thermometers in measuring body temperature of clients suffering from fever in PKU Muhammadiyah Yogyakarta hospital.This is an observational study with cross sectional design. There were 30 respondents who suffer staying in recovery room. Their body temperatures were checked twice using mercury and timpani membrane thermometers in order to determine the result of measurement, effective time of the measurement and response toward safety level and clients comfort. The subject analysis used t- test and Me Nemar.There were 27 respondents (90%) felt more secure when measured by using mercury thermometer. Me Nemar test shows that mercury thermometer measures the body temperature saver than timpani membrane thermometer. There were 21 respondents (70%) felt more comfortable when their body temperatures were measured by using timpani membrane thermometer. Me Nemar test shows that timpani membrane thermometer measures the body temperature more comfortably. The average difference of the body temperature measured by using mercury thermometer (38,1 ± 0,7) and the average difference of the body temperature measured by using timpani membrane thermometer (38,3 ± 0,7) was ± 0,2. The t-test result shows that measuring the body temperature using mercury thermometer and timpani membrane thermometer does no have any significant difference.The time needed to measure the body temperature using mercury thermometer is 5 minutes while timpani membrane thermometer needs 2 seconds to indicate the body temperature. The clients felt more secure when their body temperature are measured using mercury thermometer. On the other hand, the clients felt more comfortable when their body temperatures are measured using timpani membrane thermometer. The result of the body temperature measured using mercury thermometer and timpani membrane thermometer does not have any significant differences.Suhu tubuh adalah salah satu indikator status kesehatan, perubahannya dapat melebihi nilai normal (demam). Rata-rata tingkat jumlah yang klien dengan demam sekitar 35% setiap bulannya. Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk pengkajian tanda vital yang cepat dan tepat yaitu dengan pengukuran suhu tubuh. Termometer yang sering digunakan yaitu termometer air raksa dan termometer membran timpani yang keduanya memiliki karakteristik tersendiri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan efektivitas pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer air raksa dan termometer membran timpani pada klien demam di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.Jenis penelitian observasional dengan rancangan belah lintang. Sampel adalah klien demam yang dirawat di instalansi rawat inap sebanyak 30 responden. Subyek mendapatkan dua kali pengukuran dengan termometer air raksa dan termometer membran timpani untuk menentukan hasil pengukuran, waktu efektif pengukuran, dan respon terhadap tingkat keamanan dan kenyamanan. Analisa subyek menggunakan uji t-test dan McNemar.Sebanyak 27 orang klien demam (90%) merasa aman bila diukur dengan termometer air raksa. Uji McNemar, termometer air raksa mengukur suhu tubuh lebih aman. Sebanyak 21 orang klien demam (70%) merasa nyaman bila diukur dengan termometer membran timpani. Uji McNemar, termometer membran timpani mengukur suhu tubuh lebih nyaman. Perbedaan rata-rata pengukuran suhu dengan termometer air raksa (38,1±0,7) dan termometer membran timpani (38,3±0,7) ± 0,2. Uji t-test, hasil pengukuran suhu tubuh dengan termometer air raksa berbeda tidak bermakna dengan termometer membran timpani.Waktu efektif pengukuran suhu tubuh dengan termometer air raksa adalah 5 menit, sedangkan termometer membran timpani adalah 2 detik. Klien demam merasa lebih aman diukur dengan termometer air raksa. Klien demam merasa lebih nyaman diukur dengan termometer membran timpani. Hasil pengukuran suhu tubuh termometer air raksa berbeda tidak bermakna dengan termometer membran timpani.
Cell Signaling Pathways in the Neuroprotective Actions of the Green Tea Polyphenol (-)-epigallocatechin-3-gallate: Implications for Neurodegenerative Diseases
Makiyah, Sri Nabawiyati Nurul
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v5i2.1874
Hasil penelitian menunjukkan bukti-bukti yang mendukung hipotesis bahwa gangguan pengaturan zat besi di otak dan stres oksidatif menghasilkan spesies oksigen reaktif dari hidrogen peroksida (H202) dan proses-proses inflamatori yang memacu kaskade peristiwa yang mempengaruhi kematian sel (apoptosis atau nekrosis) pada penyakit neurodegenerative, contohnya penyakit Parkinson, Alzheimer, Huntington dan sclerosis lateral amiotropik.Saat ini pendekatan terapi yang dilakukan bertujuan untuk menetralkan neurotoksisitas yang diinduksi oleh stress oksidatif, mensuport aplikasi scavenger spesies oksigen reaktif, transisi metal khelator (misalnya Fe dan Cu) dan antioksidan polifenol alami non vitamin pada terapi tunggal atau sebagi bagian dari formulasi campuran antioksidan untuk penyakit ini. Bukti-bukti secara eksperimental dan epidemiologis memperlihatkan bahwa flavonoid pada polifenol khususnya yang berasal dari teh hijau dan blueberi, meningkatkan kemampuan kognitif dikaitkan dengan usia dan bersifat neuroprotektif pada model penyakit Parkinson, Alzheimer, dan gangguan iskemia/reperfusi serebral.Penelitian terakhir menunjukkan bahwa sifat scavenger radikal polifenol dari teh hijau dapat dipakai untuk menerangkan kemampuan neuroprotektifnya dan kenyataannya spektrum yang luas dari penyandi seluler mempunyai nilai yang berharga untuk aksi biologisnya. Pada artikel ini juga diulas tentang mekanisme terkini kajian yang berkaitan dengan aktivitas neuroprotektif molekuler dari polifenol (-)- epigallocatechin-3-gallate teh hijau.
Sumbing Median (Midline Cleft)
Ishandono Dachlan;
A. Yuda Handaya;
Sagiran Sagiran
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v5i2.1872
Midline Cleft is a midline deformity of the upper lip and nose (Tessier Clasification of Cleft Number 0 ). It is rare and often accompanied by disorder of the central nervous system. Head CT Scan with a better architecture of the brain has a better prognosis and those with poor differentiation of brain die during infancy. The treatment of choice is surgical procedure to correct the deformity by Z-plasty or its modification. The aim of this stydy is to report the management of a midline cleftTwo Cases has been reported, The first case was a 13 year-old girl suffering from a midline upper lip cleft, she visited to Sardjito Hospital because of a cosmetic problem, and she had a good achievements at School, The head CT Scan showed a normal brain architecture. She had undergone an upper lip modification Z- Plasty. The second case was a 2 day-old male baby within absence of collumella and prolabial segment of lip (false median cleft), absence of the premaxilla skeletal and he suffers multiple anomalies, the head CT scan showed poor differentiation of brain.Result of this study showed that the one case has showed a good result after upper lip modification of Z-Plasty, the second case died before treated any surgical operation. It can concluded that midline cleft should be treated with observing other problems or anomalies especially of the brain structure and followed with delicate method of surgical procedure.Sumbing median adalah kelainan median pada bibir atas dan hidung (Klasifikasi Tessier, Cleft Nomor 0). Sumbing median adalah kelainan yang jarang terjadi dan biasanya disertai dengan gangguan sistem syaraf pusat. CT Scan kepala yang menunjukkan struktur otak baik mempunyai prognosis lebih baik, Gambaran struktur otak yang jelek biasanya meninggal pada awal kehidupan atau masa pertumbuhan. Terapi pilihan biasanya berupa prosedur pembedahan untuk mengoreksi kelainan, dengan teknik Z-plasty atau modifikasinya. Tujuan dari kajian ini adalah untuk melaporkan penatalaksanaan dua buah kasus sumbing median.Delaporkan dua kasus sumbing median, kasus pertama wanita usia 13 tahun menderita sumbing pada pertengahan bibir atas, pasien datang ke Rumah sakit Sardjito dengan keluhan kosmetik, pasien mempunyai prestasi yang baik di sekolah. CT Scan kepala menunjukan gambaran otak normal. Pasien dilakukan operasi Z- Plasty pada bibir atas. Kasus ke dua,pasien laki-laki usia 2 hari dengan tidak adanya collumella danprolabial, serta tidak adanya tulang premaxilla, pasien menderita anomali multipel, CT Scan kepala menunjukan gambaran otak yang tidak sempurna.Kasus pertama menunjukan hasil yang baik setelah dilakukan operasi Z-Plasty, kasus kedua meninggal sebelum dilakukan tindakan bedah. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penatalaksanaan sumbing median harus memperhatikan anomali lain terutama struktur otak dan perlu mempertimbangkan teknik operasi yang tepat untuk mendapatkan hasil yang baik.
Mengapa Wanita Tidak Memilih Bidan Desa Sebagai Penolong Persalinan ?
Punik Mumpuni Wijayanti
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v5i2.1873
The rate of mortality and morbidity in pregnancy and delivery remains a big problem for developing country as Indonesia. One of the contributing factors is that a lot of deliveries are assisted by less-education traditional midwives delivery. Although there are adequate village midwives; rural people favor traditional midwives delivery.This study was aimed at identifying why people like less-trained traditional midwives more than village midvives.This is qualitatif study with indepth interview and Focus Group Discusion (FGD). The targets of FGD were (I) mother whose delivery were assisted by less-trained traditional midwives delivery; and (2) mother whose delivery were assisted by well-trained midwives (village midwives). The study employed 19 post-partum mothers from Gebang and Pituruh Purworejo Jawa Tengah.The result of the study suggested that traditional midwivery service emphasizing on familiarity and close relationship are more interesting than formal well-trained midwivery service by village midwives. Therefore; village midwives have to possess a good interpersonal skill in order to provide a successful and safe delivery.Angka kematian dan kesakitan pada kehamilan dan persalinan masih merupakan masalah yang besar di negara berkembang; seperti di Indonesia. Salah satu sebab antara lain masih banyak persalinan yang ditolong oleh dukun bayi yang kurang terdidik. Walaupun telah cukup tersedia bidan desa tetapi masyarakat setempat masih lebih menyukai dukun bayi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari faktor penyebab mengapa masyarakat setempat lebih banyak yang memilih dukun bayi untuk menolong persalinan dibanding dengan bidan desa. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara mendalam (indepth interview) dan FGD {Focus Group Discussion). Sasaran FGD adalah (l)Ibu pasca bersalin dengan dukun (2)Ibu pasca bersalin dengan bidan desa; dan sasaran indepth interview adalah (l)Ibu bersalin dengan dukun; (2) Ibu bersalin dengan bidan desa. Subyek penelitian terdiri dari 19 ibu pasca bersalin yang berasal dari kecamatan Gebang dan Pituruh Kabupaten PurworejoHasil penelitian menunjukkan bahwa pola pelayanan persalinan oleh dukun bayi yang lebih menitikberatkan pada suasana keakraban dan kekeluargaan lebih menarik dibandingkan dengan pola pelayanan persalinan oleh bidan desa yang terkesan formal. Dengan demikian statu keahlian komunikasi dengan masyarakat baik massa maupun interpersonal harus dimiliki oleh bidan desa untuk lebih mensukseskan pertolongan persalinan yang aman.