cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Hasil Guna Edukasi Diabetes Menggunakan Telemedicine terhadap Kepatuhan Minum Obat Diabetisi Tipe 2 Prakoso, Denny Anggoro; Ellena, Nindy
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 15, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka insiden dan prevalensi diabetes melitus tipe 2 di berbagai penjuru dunia cenderung mengalami peningkatan. WHO memprediksi Indonesia mengalami kenaikan jumlah pasien dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21.3 juta pada tahun 2030. Kepatuhan pengobatan pasien dengan diabetes melitus umumnya rendah. Telemedicine dapat digunakan sebagai media edukasi diabetes melalui pesan multimedia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hasil guna edukasi diabetes menggunakan telemedicine terhadap kepatuhan minum obat penyandang diabetes melitus tipe 2. Desain penelitian ini adalah quasi experiment pretest-post-test with control group design. Subjek penelitian adalah 56 pasien diabetes melitus tipe 2 yang terdiri dari 28 pasien kelompok perlakuan dan 28 pasien kelompok kontrol. Edukasi diabetes diberikan 8 kali selama 1 bulan. Penilaian tingkat kepatuhan minum obat menggunakan Morisky Medication Adherence Scales (MMAS‐8). Uji analisis statistik dengan wilcoxon signed rank test terhadap kepatuhan minum obat sebelum dan sesudah perlakuan, baik pada kelompok perlakuan dan kontrol, diperoleh nilai p = 0,539 pada kelompok perlakuan dan p = 0,071 pada kelompok kontrol. Hasil uji beda rerata perubahan kepatuhan pengobatan antar kedua kelompok dengan mann-whitney test diperoleh nilai p = 0,098. Edukasi diabetes dengan telemedicine tidak efektif terhadap peningkatan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus tipe 2.The incidence and prevalence rate of diabetes mellitus type 2 in various parts of the world tends to increase. WHO predicts Indonesia has increased the number of diabetician from 8.4 million in 2000 to about 21.3 million in 2030. Medication compliance in patient with chronic disease especially diabetes mellitus is generally low. Telemedicine can be used as a media for diabetes education via multimedia messaging. The study aims to determine the effectiveness of diabetes education using telemedicine to diabetician type 2 medication compliance. This study was quasi experiment with pretest-post-test control group design. The subjects were 56 patients with type 2 diabetes melitus comprising 28 patients in treatment group and 28 patients in control group. Diabetes education is given eight times for 1 month. The evaluation of level of medication compliance using Morisky Medication Adherence Scales (MMAS-8). Statistical analysis test by wilcoxon signed rank test against medication compliance, both, before and after treatment, in the treatment and control group, obtained p = 0.539 in the treatment group and p = 0.071 in the control group. Test results for mean changes in medication compliance between both groups with mann-whitney test obtained p value = 0.098. Diabetes education using telemedicine is not effective to increase medication compliance in patient with diabetes melitus type 2.
Kajian Stress Oksidatif Pada Bayi Prematur Setiawan, Bambang; Suhartono, Eko; Mashuri, Mashuri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preterm babies can be considered as a disease with an oxidative stress compo-nent. Beside that, in preterm babies found any disease which have causal link with the action of reactive oxygen species. Damaged which mediated by reactive oxygen species caused bay decreased of endogenous antioxidant defense. In the hospital preterm babies can expose by some source o oxidative stress, such blood transfusion, high concentration oxygen therapy, and parenteral nutrition feeding.Bayi prematur dapat dipertimbangkan sebagai penyakit akibat komponen stress oksidatif. Kerusakan yang ditimbulkan oleh Senyawa Oksigen Reaktif tersebut diperantarai oleh rendahnya sistem antioksidan endogen. Di samping itu, dalam perawatan di rumah sakit, bayi prematur sering terpajan berbagai kondisi yang merupakan sumber stress oksidatif. Kondisi tersebut dapat berupa transfusi darah, terapi oksigen konsentrasi tinggi, dan pemberian makan dengan nutrisi parenteral.
Hubungan antara Angka Ketahanan Hidup Sperma Lakcitadhini, Yayie; Wahyuni, Alfaina
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 2 (s) (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infertility is when a woman is not pregnant despite having sexual intercourse without protection for one year. In Indonesia there are 15% of reproducstive age couple (15-40 year old) experience infertility problems. The examination of sperm analysis conducted to determine the cause of male infertility before IVF (invitro fertilitation) program. This research was conducted in November-December 2007 at the clinic RSUP Permata Hati. Dr Sardjito Yogyakarta. This study is a nonexperimental retrospective study using secondary data from medical records patient that participate IVF program. The data consist of the result of sperm morphology and SPERST test. Data were analyzed by correlation Spearman test to know the relationship between sperm morphology and the results of SPERST test with fertilization success rate. The results of this study show that 60% of the 35 IVF program participants ages 30¬40 year, 77.2% of whom had sperm normospermia profile. Laboratory data showed 57.2% morphological rate are > 60% with 80% good fertilization rate, 88.6% 24-hour of SPERST test rate are > 50% with 70.9% good fertilizer, and 28, 6% 48-hour SPERST test are > 25% with 80% better fertilization.. Statistical calculations show that the relationship between fertilization rate with the results of laboratory tests in a row is as follows: sperm morphology examination (correlationcoefficient 0.399;P=0.018), SPERST24hours (correlationcoefficient of 0.432; P= 0.010) and SPERST48 hours (correlation coefficient 0.215; P= 0.216). It can be concluded that there was a significant relationship between sperm morphology examination and inspection 24 hours SPERST with fertilization rate.Infertilitas adalah apabila seorang wanita tidak hamil meskipun telah melakukan hubungan seksual tanpa pelindung selama satu tahun. Di Indonesia terdapat 15% dari pasangan usia reprodukstif (15-40 tahun) mengalami masalah infertilitas. Pemeriksaan analisis sperma dilakukan untuk mengetahui penyebab infertilitas dari pihak laki-laki sebelum mengikuti program bayi tabung. Penelitian ini dilakukan pada November-Desember 2007 di klinik Permata Hati RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta. Penelitian ini bersifat noneksperimental retrospektif dari data sekunder rekam medis pasien peserta program bayi tabung IVF (invitro fertilitation) yang melakukan pemeriksaan morfologi sperma dan SPERST antara Januari 2005 - Desember 2007. Data dianalisis dengan uji korelasi Spearman untuk mengetahui hubungan antara morfologi sperma dan hasil pemeriksaan SPERST dengan angka keberhasilan fertilisasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 60% dari 35 peserta program IVF berusia 30-40 tahun, 77,2% diantaranya memiliki profil sperma normospermia. Data hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan 57,2% memiliki angka morfologi > 60% dengan 80% angka fertilisasi bagus, 88,6% memiliki angka SPERST 24 jam > 50% ; 70,9% angka fertilisasi bagus, dan 10 pasien (28,6%) memiliki angka SPERST 48 jam > 25% dengan 80% angka fertilisasi bagus. Penghitungan statistik menunjukkan bahwa hubungan antara angka fertilisasi dengan hasil pemeriksaan laboratorium berturut-turut adalah sebagai berikut: pemeriksaan morfologi sperma (koefisien korelasi 0,399 dengan P 0,018), SPERST 24 jam (koefisien korelasi 0,432 dengan P 0,010) dan pada SPERST 48 jam (koefisien korelasi 0,215 dengan P 0,216). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemeriksaan morfologi sperma dan pemeriksaan SPERST 24 jam terhadap angka keberhasilan fertilisasi.
Pengembangan Instrumen Dukungan Keluarga pada Pengkajian Luka untuk Pasien Luka Kaki Diabetik di Klinik Kitamura Pontianak Putra, Gusti Jhoni; Rosa, Elsye Maria; Sari, Novita Kurnia
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 2: July 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.170204

Abstract

Peningkatan kualitas hidup pasien Luka Kaki Diabetik (LKD) merupakan tujuan dari asuhan keperawatan. Dukungan keluarga merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan pada pasien LKD, hal ini dikarenakan aktifitas dukungan keluarga sangat berpengaruh pada fisiologis tubuh dan kualitas hidup. Belum tersedianya instrumen pengkajian keluarga merupakan perhatian khusus untuk menentukan diagnosis dan intervensi yang sesuai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan pengkajian dukungan keluarga pada pasien LKD. Jenis penelitian ini adalah mixed method dengan desain sequential exploratory. Tahap kualitatif melibatkan 4 partisipan dan tahap kuantitatif melibatkan 73 responden, dengan kriteria inklusi pasien rawat jalan atau rawat inap dan mengalami LKD pada fase proliferasi, sedangkan kriteria ekslusi pasien LKD fase proliferasi membaik dan berhenti melakukan perawatan sebelum minimal waktu penelitian. Uji validitas dengan pendekatan test-retest menggunakan pearson product moment, uji reliabilitas dengan cronbach’s alpha dan Aiken’s V digunakan untuk uji pakar pada 2 orang ahli. Hasil kualitatif didapatkan 4 tema untuk dukungan keluarga. 14 item alat ukur didapatkan hasil yang valid (0,372-0,843 0,235) dan reliabel (Cronbach alpha 0,959 dan 0,976). Hasil indeks validitas konten 0,67-0,83. Disimpulkan bahwa terdapat 4 tema aspek dukungan keluarga dan pengembangan instrumen dukungan keluarga pada pengkajian luka yang terdiri dari 13 item, dinyatakan valid dan reliabel.
Perbedaan Tingkat Ketajaman Visus antara Penambang Pasir di Sungai Serayu dan Perenang di Umbang Tirto Yogyakarta Paryono, -; Mahanggoro, Tri Pitara
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1664

Abstract

The decrease of eyes function like blindness can disturb the daily activities, so in the long term it would be decrease work productivity which is appears economic burden whether for personally, society and country. The disease cause by dust who enters to eyes will appear a big disturb. If this problem still happened will appears dangerous disease even blindness. The purpose of this research is to knowing the difference of the acuteness of vision between sand miner and swimmer.. Subject in this research are 60 people which age 15-35 years old, subject are sand miner in Serayu river and swimmer in umbang tirto yogyakarta, the instrument in this research is optotip Snellen . Data was collected and than analysis by chi-Square and t test. Finally, as this research examines shower the influence time of diving for sand miner, the result is p=0.105, this number is bigger than standard number of p, which is p 0.05. And influence timing of swimming the result is p=0.322, this number is bigger than the standard number of p which is p 0.05. the data using t test for knowing the different of acuteness of vision sand miner and swimmer, t test shower p value is smaller than standard value which is p=0.023. Conclusion is there is influence long activity whether diving or swimmer to acuteness of vision but the influence not really meaning full but there is significant different between acuteness of vision for sand miner and swimmer.Turunnya fungsi mata sebagai indra penglihatan sampai pada kebutaan akan mengganggu aktivitas kerja sehari - hari, sehingga akan menurunkan produktivitas kerja yang mengakibatkan bertambahnya beban ekonomi baik bagi individu, masyarakat dan Negara. Trauma yang diakibatkan oleh debu yang masuk ke dalam mata sudah cukup menimbulkan gangguan hebat. Apabila keadaan ini dibiarkan dapat menimbulkan penyakit yang cukup gawat, bahkan kebutaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat ketajaman visus antara penambang pasir dengan perenang. Subyek dalam penelitian ini adalah 60 orang dengan usia 15-35 tahun, subyek penelitian adalah penambang pasir di sungai Serayu dan perenang di umbang tirto Yogyakarta. Instrumen yang dipakai adalah ototip Snellen. Data di yang diperoleh kemudian dilakukan uji analisis dengan menggunakan Chie-Schuare dan uji t. Hasil penelitian menunjukan pengaruh lama aktivitas menyelam pada penambang pasir didapat nilap p=0.105 nilai ini lebih besar dari nilai p standar yaitu p 0.05 dan pengaruh lama berenang didapat nilai p=0.322 nilai ini lebih besar dari nilap p standar yaitu 0.05. Data tersebut kemudian dilakukan uji t untuk mengetahui perbedaan visus penambang pasir dengan perenang, uji t menunjukan nilai p lebih kecil dari standar yaitu p=. Kesimpulannya adalah ada pengaruh lama aktivitas baik menyelam maupun berenang terhadap tingkat ketajaman visus tetapi pengaruh tersebut tidak bermakna tetapi terdapat perbedaan yang signifikan antara visus penambang pasir dan visus perenang.
Vitrektomi pada Pasien dengan Retinopati Diabetik Setyandriana, Yunani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1566

Abstract

Retinopathy is a primary morbidity occurring in retinopathy diabetic patients and may cause blindness. The failure of laser treatment to stop the new neovascularization may result in severe vision damage. Vitrectomy is indicated in severe vision patients to improve their vision. The aims of the study were to discuss vitrectomy in diabetic retinopathy patients, refresh the knowledge on how and when Vitrectomy should be performed, and to understand the side effect in order to obtain optimal vision improvement. The method is literature study. Progressive fibrovascular proliferation in diabetic retinopathy patients may lead to retinal detachment. The detachment of posterior retinal without involvement of fovea can be observed. However, if fovea is involved, vitrectomy is indicated. If adequate Laser fails due to media opacity, cataract surgery may be performed. Laser photocoagulation can be conducted a few days postsurgery. Alternatively, both vitrectomy and endolaser may be recommended along with lensectomy and intraocular lens implantation. Diabetic Retinopathy Vitrectomy Study(DRVS) concluded:1) in severe vitreous bleeding eyes, early vitrectomy may result in improved vision despite the high risk of vision loss which needs to be considered.2)In the IDDM patients, especially those with severe vitreous bleeding, early vitrectomy is more beneficial and may have a good result. Postoperative complications may occur including retinal detachment, vitreous bleeding, rubeosis iridis, and other types of complications, which require further considerations for optimal result.The prognosis after vitrectomy depends on the macular function. Surgery for vitreous bleeding without macula detachment generally brings a good result.Retinopati merupakan penyebab morbiditas utama pada pasien diabetes dengan akibat akhir yang paling ditakuti adalah kebutaan. Kegagalan terapi laser untuk menghentikan proliferasi pembuluh darah baru dapat menyebabkan kerusakan penglihatan yang parah. Pada pasien dengan kerusakan penglihatan yang berat, vitrektomi merupakan terapi yang dapat diharapkan untuk memperbaikinya. Kajian ini membahas tentang vitrektomi pada retinopati DM, menyegarkan pengetahuan kita tentang bagaimana dan kapan vitrektomi dilaksanakan serta mengerti efek yang terjadi supaya didapatkan perbaikan penglihatan yang seoptimal mungkin. Proliferasi fibrovaskular yang progresif pada diabetes dapat mengakibatkan lepasnya retina. Lepasnya bagian posterior tanpa melibatkan fovea dapat tetap stabil dan harus diobservasi, namun begitu fovea terlibat, vitrektomi merupakan indikasi. Jika fotokoagulasi panretinal yang adekuat tidak dapat dilakukan karena opasitas media, pembedahan katarak dapat dilakukan, dan fotokoagulasi laser dapat dilakukan setelah beberapa hari pasca pembedahan. Sebagai alternative, vitrektomi dan endolaser dapat dilakukan bersama dengan lensektomi dengan pemasangan lensa intraocular. Penelitian DRVS menyimpulkan: 1) untuk mata dengan perdarahan vitreus berat, vitrektomi awal menghasilkan tajam penglihatan yang lebih baik, meskipun risiko lebih banyak kehilangan visus sampai tidak didapatkan persepsi cahaya harus dipikirkan. 2) pasien dengan IDDM, khususnya dengan perdarahan vitreus berat, vitrektomi awal lebih menguntungkan dan menghasilkan pemulihan tajam penglihatan yang baik. Komplikasi post operasi dapat terjadi, diantaranya yaitu pelepasan retina, perdarahan vitreus, rubeosis iridis, dan komplikasi lain harus pula dipikirkan lebih lanjut supaya didapatkan hasil yang optimal. Disimpulkan bahwa prognosis penglihatan setelah vitrektomi tergantung pada fungsi macula. Pembedahan untuk perdarahan vitreus tanpa pelepasan macula biasanya menghasilkan ketajaman penglihatan yang baik.
Motilitas dan Viabilitas Spermatozoa Mencit ( Mus musculus) Setelah Pemberian Solasodin yang Diisolasi dari Terong Kuning (Solatium khasianum) Wahyuni, Alfaina
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The eggplant is consumed and used in traditional medication, for example to reduce male desire. One of the solanum’s alkaloid which may affect on reproduction is solasodine , but it is still unclear. This study was conducted to investigate the effects of solasodine on sperm motility and viability in adult mice.Twenty five healthy mice, 3 months old, and 37- 45 gram of body weight were used. They were divided into five groups. Each group consisted of five mice. Group I, control without any treatment (Kl), group II, treatment with solvent of solasodine, polyvinylpirollidon 1% in aquadest (K2), group III, treatment with solasodine 87,61 mg/kgBw/day (PI), group IV, treatment with solasodine 175,62 mg/kgBW/day (P2) and group V, treatment with solasodine 263,43 mg/kgBW/day (P3). Treatments were given in 36 days. In the 37th day mice were killed for evaluation of sperm motility and viability. The result of this study shows that sperm motility and viability in all treatment groups were significantly reduced (Analysis of Variance cintinued with least significant difference, p < 0,05).Terong banyak dikonsumsi masyarakat dan digunakan sebagai bahan obat osional misalnya untuk menurunkan nafsu seks pria. Salah satu alkaloid solanum ;;~‘Z kemungkinan berpengaruh terhadap fungsi reproduksi adalah solasodin, tetapi . mi masih belum jelas dan perlu penelitian lebih lanjut, Penelitian ini dilakukan eik mengetahui pengaruh pemberian solasodin terhadap kualitas spermatozoa lisusnya motilitas dan viabilitas spermatozoa mencit dewasa.Digunakan 25 ekor mencit jantan umur 3 bulan, sehat, berat 37-45 gram.Mencit i fiompokkan menjadi 5 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 ekor mencit. i rmpok I, kontrol tanpa perlakuan apapun (Kl), kelompok II, diberi larutan vinylpyrollidon 1% dalam aquadest(K2), kelompok III, diberi perlakuan solasodin ;: s 87,81 mg/kgBB/hr (Pl), kelompok IV, diberi solasodin dosis 175,63 mg/kgBB/ in kelompok V diberi solasodin 263,43 mg/kgBB/hr. Perlakuan diberikan selama : izii kemudian pada hari ke-37 semua mencit dimatikan dan diambil cauda :ijdmisnya untuk pemeriksaan motilitas dan viabilitas spermatozoa. Hasil penelitian lezunjukkan bahwa pada semua kelompok perlakuan terjadi penurunan motilitas BE iabilitas spermatozoa secara bermakna (Analisis varian dilanjutkan dengan uji 12 nyata terkecil, p < 0,05).
Selulitis Fasialis dengan Trombosis Sinus Kavernosus Estri, Siti Aminah Tri Susilo; Radiono, Sunardi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i1.1698

Abstract

Facial cellulitis is a facial bacterial infection that spread progressively with serious complication. This is report a 12 aged-years boys with facial cellulitis and cavernous sinus thrombosis. Diagnosed based on the physical examination, erythema and oedema on the right face and palpebra, with pain, opthalmoplegia, pareses of the right n. III and left n. VI. Laboratory examination showed lecocytosis, increasing of C-reactive protein and growth of S. Aureus from blood culture. He was treated with ceftriaxone and amycacine intravenously, analgesic and non-steroid anti-inflammation drugs and physiotherapy. Pareses of the ocular nerves improved within 3 months by physiotherapy.Selulitis fasialis (SF) merupakan infeksi bakteri pada wajah yang dapat cepat meluas dengan komplikasi serius. Tulisan ini melaporkan seorang anak laki-laki 12 tahun dengan selulitis fasialis disertai trombosis sinus kavernosus. Diagnosis ditegakkan berdasar gambaran klinis berupa edem dan eritem fasial dan palpebra bagian kanan, teraba hangat dan nyeri tekan, optalmoplegi, parese n. III kanan dan n. VI kiri, dan hasil pemeriksaan laboratoium yaitu leukositosis, peningkatan C-reactive protein dan dari kultur darah tumbuh S.aureus. Penderita diberikan terapi seftriakson dan amikasin intravena, analgetik dan antiinflamasi non-steroid dengan fisioterapi. Parese saraf mata membaik setelah 3 bulan fisioterapi.
Pengaruh Lamanya Penyimpanan terhadap Pertumbuhan Bakteri pada Nasi yang dimasak di Rice Cooker dengan Nasi yang Dikukus Habib, Inayati; Aminudin, Muhamad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rice is an essential food for the Indonesian people, therefore its security must being important. Among different kind of cooking rice there are by using Electronic Rice Cooker and by steamed. The temperature influences profoundly against bacterial growth and its physiological activity. The endurance to temperature is different for each bacterial species. It is worth to investigate the different time storing of rice between being steamed and cooked Electronic Rice Cooker against bacterial growth. The aim of this study is to know the storing time between rice cooked by steamed and by Electronic Rice Cooker against bacterial growth which is still proper to be consumed The Research uses time series design method, with 0 hours, 2 hour, 4 hours, 6 hours and 8 hour depository. Rice counted 10 gram which taken from top, middle, and basic, left and right side. Then given 10 cc NaCl and diluted until 10000 times, then included to Petridis which contain jell count. The kind of bacteria made preparation smear colored with gram staining. The counting of bacterial amount after Petridis incubated in temperature ±37° C during 24 hours. The Result of preparation smear got 2 bacteria type that is gram (-) bacillus bacteria and of gram (+) coccids bacteria. Growth of germ number compare diametrical with improvement of time storing. At rice cook with Rice Cooker still competent up to standard consumed during 8 hour, while steamed rice during 6 hour. It can concluded that from growth of germ aspect, rice better cooked with Rice Cooker than steamed.Suhu sangat mempengaruhi pertumbuhan dan kegiatan fisiologi bakteri suatu mikroba atau bakteri. Daya tahan terhadap suhu berbeda bagi tiap spesies mikroba, sehingga perlu diteliti perbedaan lama penyimpanan nasi yang dimasak di Rice Cooker dan yang dikukus terhadap pertumbuhan kuman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lamanya waktu penyimpanan nasi yang dimasak dengan Rice Cooker dan nasi yang dikukus terhadap pertumbuhan bakteri yang masih memenuhi syarat untuk dikonsumsi. Metode Penelitian dengan metode time series design dengan waktu 0 jam, 2 jam, 4 jam, 6 jam dan 8 jam. Nasi ditimbang sebanyak 10 gram diambil dari bagian atas, tengah, bawah, samping kanan dan bagian samping kiri, kemudian diberi NaCl sebanyak 10 cc dan diencerkan sampai 10000X dan dimasukkan ke piring petri yang berisi count agar. Untuk melihat jenis kuman dibuat preparat apus yang diwarnai dengan cat gram. Penghitungan jumlah angka kuman setelah piring petri diinkubasi pada suhu ±37° C selama 24 jam. Hasil pengamatan preparat apus didapatkan 2 jenis kuman yaitu bakteri batang gram (-) dan kokus gram (+). Pertumbuhan angka kuman berbanding lurus dengan peningkatan lama penyimpanan. Pada nasi yang dimasak dengan Rice Cooker masih memenuhi syarat layak dikonsumsi selama 8 jam, sedangkan nasi yang dikukus selama 6 jam. Dapat disimpulkan bahwa dari segi angka kuman, nasi lebih baikjika dimasak dan disimpan di Rice Cooker daripada nasi yang dikukus.
Penurunan Kadar Interleukin-18 Cairan Peritoneal pada Penderita Endometriosis Astuti, Yoni
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 2 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v4i2.1751

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan konsentrasi interleukin- 15 (IL-18) pada cairan peritoneal dan serum penderita endometriosis yang -bandingkan dengan kelompok control( tidak menderita endometriosis). Metode penelitian yang digunakan adalah kajian analitik prospektif. Subyek yang terlibat sebanyak 44 penderita yang melakukan bedah laparoscopic pada penyakit ginekologi ringan. Pengambilan cairan peritoneal dan serum sebagai specimen ulakukan sebelum dan sesudah tindakan bedah laparoskopis untuk analisis kadar IL-18. Konsentrasi IL-18 cairan peritoneal dan serum dihubungkan dengan adanya endometriosis, tingkat penyakit, dan fase siklus menstruasi. Hasilnya menunjukkan bahwa Interleukin -18 dapat dideteksi pada 98% specimen cairan peritoneal dan 84 pada specimen serum. Konsentrasi IL-18 cairan peritoneal secara statistic lebih rendah bermakna pada penderita endometriosis dari pada kelompok control. Sedangkan IL-18 serum tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara penderita fndomeriosis dan kelompok kontrol. Konsentrasi IL-18 cairan peritoneal dan serum remyata tidak berhubungan dengan endometriosis, maupun fase siklus menstruasi. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah turunnya kadar IL-18 pada cairan reritoneal penderita endometriosis berperan penting pada patogenesis penyakit ini.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue