cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Profil Pemeriksaan Fragilitas Osmotik Eritrosit di RS. Dr. Sardjito Gugun, Adang Muhammad; Sukorini, Usi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 2 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v4i2.1745

Abstract

Osmotic fragility test (OFT) is performed to differentiate anemia diagnose with erythrocyte physical changing. In thalassemia and hemolytic anemia, OFT probably gave variation results that can cause erroneous anemia etiology trac¬ing. Aims of this research are to describe the OFT profile and its comparison with peripheral blood morphology in thalassemia and hemolytic anemia.The method, this retrospective study was conducted in Dr. Sardjito hospital at January 2002 to June 2004. Chi-Square test was used to compare thalassemia and hemolytic anemia proportion in the OFT groups. OFT results from 61 sub¬jects were : increasing 17 (27,8%), increasing-decreasing 17 (27,8%), de¬creasing 15 (24,4%), and normal 12 (20%). There were significantly differ-ence proportions in thalassemia group between decreasing OFT to increasing and normal OFT (p-0,005 ; p=0,002), but no difference to increasing-de¬creasing group. In hemolytic anemia group, the difference proportion found significantly between increasing OFT to normal, increasing-decreasing and decreasing OFT (p=0,03; p-0,005; p=0,000, respectively). In increasing-de¬creasing OFT group, there was no difference in type anemia (p=0,32). Mor¬phologically, target cell was found in 81 % of thalassemia, and spherocyte in 70% of hemolytic anemia. In Dr. Sardjito Hospital, OFT gave variation profile and in Thalassemia and hemolytic anemia groups, morphology evaluation are needed to confirm OFT results.Latar Belakang: Pemeriksaan fragilitas osmotik eritrosit (FOE) ini dilaksanakan untuk membantu diagnosis banding beberapa jenis anemia dengan sifat fisik eritrosit berubah. Aplikasi klinis, Talasemia dan anemia hemolitik memberikan hasil bervariasi sehingga dapat menimbulkan kesalahan interpretasi dalam melacak jenis maupun etiologi anemia.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui variasi hasil FOE dan kesesuaian gambaran morfologi darah tepi pada talasemia dan anemia hemolitik. Penelitian retrospektif ini dilakukan menggunakan data rekam medik. Subyek adalah pasien yang diperiksa fragilitas osmotik eritrositnya di laboratorium Patologi Klinik RS. Dr. Sardjito antara Januari tahun 2002 sampai dengan Juni 2004. Uji Chi- square terhadap proporsi talasemia dan anemia hemolitik pada kelompok hasil FOE. Dari 61 subyek, variasi hasil FOE meliputi : peningkatan fragilitas 17 (27,8%), penurunan fragilitas 17 (24,4%), campuran peningkatan dan penurunan 15 (27,8%) dan normal 12 (20%). Terdapat perbedaan bermakna proporsi talasemia kelompok penurunun FOE terhadap kelompok peningkatan FOE (p=0,005) dan FOE normal (p= 0,002), namun tidak berbeda bermakna dengan hasil campuran penurunan dan peningkatan fragilitas (p= 0,26). Terdapat perbedaan bermakna proporsi ane¬mia hemolitik pada kelompok dengan peningkatan FOE terhadap kelompok normal FOE, campuran penurunan dan peningkatan FOE dan penurunan FOE (p =0,03; p= 0,005; p= 0,000). Tidak terdapat perbedaan bermakna proporsi jenis anemia pada hasil campuran penurunan dan peningkatan FOE (p= 0,32). Gambaran morfologi darah tepi pada kelompok talasemia, 81% memiliki sel target dan pada kelompok anemia hemolitik, 70% memiliki sel spherosit.Hasil FOE di RS Dr. Sardjito menunjukkan gambaran variasi, talasemia maupun anemia hemolitik membutuhkan konfirmasi morfologi darah tepi untuk meninjau kesesuaiannya.
Peran Imunisasi dalam Pencegahan Hepatitis B pada Pegawai Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Gugun, Adang Muhammad; Suryanto, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2 (s).1608

Abstract

The purpose this research is to know endemicity level and prevention hepatitis B. This is a descriptif observational research. Subjects are 87 Medical Faculty of UMY employee. Screening to HBsAg, anti-HBs and anti-HBc are performed by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method and investigating about history of ilness and imunisation of hepatitis B by questionnaire. The result showed that one case positive HBsAg (1,1%) included as low endemicity and not found clinical manifestasion. The history showed that 14 person (16 %) have performed hepatitis B immunization, and 73 person (74 %) have never done. Six subject (43%) immunizationed showed positive anti-HBs with low titer. Hepatitis B history are experienced by two person (2,3%), and they have been health based on clinic and laboratory. One of them has anti-HBc negative. Anti-HBs examination showed 18 (21%) positively, 6 person (33%) have immunization history and 12person (67%) are never. There are 8person who have immunization history are negative anti-HBs. Anti-HBc examination showed that 25person (29%) positively, only one person (4%) has hepatitis B illness history and 24person (96%) have no illness history. Concluded that hepatitis endemicity in Medical Faculty UMY is low.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat endemisitas dan upaya pencegahan Hepatitis B di FK UMY. Jenis penelitian adalah observasional deskriftif. Sampel penelitian adalah 87 pegawai Fakultas Kedokteran UMY. Skrining HBsAg, Anti HBs dan Anti HBc dilakukan dengan metode enzyme- linked immunosorbent assay {ELISA), riwayat sakit dan imunisasi hepatitis B dilacak dengan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan terdapat satu kasus HBsAg positip (1,1%) sehingga termasuk endemis rendah dan anamnesanya menunjukkan tidak ada gejala klinis. Riwayat menunjukkan 14 orang (16%) pernah melakukan imunisasi hepatitis B lengkap dan 73 orang (74%) tidak pernah divaksin. Enam orang (43%) dari yang melakukan imunisasi, memiliki anti-HBs positip dengan titer rendah. Riwayat pernah mengalami sakit hepatitis B terjadi pada 2 orang (2,3%) dan telah sembuh secara klinis dan laboratorik. Salah satu subyek dengan riwayat sakit hepatitis B memiliki hasil anti- HBc negatif. Pemeriksaan anti-HBs menunjukkan 18 orang (21%) positip, 6 orang (33%) diantaranya memiliki riwayat imunisasi dan 12 orang (67%) tidak pernah imunisasi. Delapan orang dengan riwayat imunisasi memiliki anti-HBs negatif. Pemeriksaan anti-HBc menunjukkan 25 orang (29%) positip, 1 orang (4%) diantaranya memiliki riwayat sakit hepatitis B, dan 24 orang (96%) tidak memiliki riwayat sakit hepatitis B. Disimpulkan bahwa endemisitas Hepatitis B di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta rendah.
Pengaruh Paparan Pengharum Ruangan Cair dan Gel terhadap Gambaran His-tologi Pulmo pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Yuningtyaswari, Yuningtyaswari; Haryani, Asti
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 15, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v15i1.2498

Abstract

Pengharum ruangan adalah produk yang mengandung bahan kimia bertujuan mengurangi bau yang tidak menyenangkan di ruangan tertutup. Pengharum ruangan modern tersedia dalam bentuk cair (aerosol) dan gel. Pengharum ruangan mengandung zat adiktif dan pelarut seperti 1,4-dichlorobenzene yang dapat mempengaruhi fungsi pulmo (paru-paru). Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh dan perbedaan paparan pengharum ruangan berbentuk cair dan gel terhadap gambaran histologi pulmo Rattus norvegicus.  Desain penelitian yaitu post-test only control group. Post test dilakukan dengan mengamati gambaran histologi pulmo tikus putih setelah pemaparan pengharum ruangan cair dan gel selama 8 jam/hari dalam jangka waktu 15 hari. Subyek penelitian ada 18 ekor tikus putih. Data diuji dengan menggunakan uji statistik One Way ANOVA dilanjutkan dengan Post Hoc Tukey. Hasil penelitian didapatkan perubahan gambaran histologi pulmo, terutama alveolus tikus putih berupa penebalan septum interalveolar. Analisis data perbandingan antara kelompok kontrol dan perlakuan secara statistik didapatkan p=0,000 artinya terdapat pengaruh dan perubahan bermakna pada pulmo tikus putih yang dipaparkan pengharum ruangan berbentuk cair dan gel. Secara histologi terdapat perbedaan gambaran histologi antara kelompok cair dan gel. Disimpulkan efek pengharum ruangan pada kelompok gel lebih buruk dibandingkan kelompok cair walaupun secara statistik tidak bermakna.            Air freshener is a product that contains chemical substance to lose the odor in closed room. Modern air freshener available in form of liquid (aerosol) and gel. It contains addictive material and solvent such as 1,4-dichlorobenzene that can influence the function of pulmo. The aims to know the influences and the differences of air freshener exposure in form of liquid and gel towards Rattus norvegicus pulmo histological image. Research design used post-test only control group design method. Post test is conducted by observing pulmo’s rat histological  image after gel and liquid air freshener exposure during 8 hours/day in 15 days.  Research subject is 18 rats. Data is analyzed by One Way ANOVA and continued by Post Hoc Tukey. The result of the research shows that there’s changing on pulmo histological image especially in the alveolus that is the thickening of the septum alveolar. P value between control group and others group is p=0,000. It means that there’s significant influences and changes in rat’s pulmo that is exposured by gel and liquid air freshener. Conclude effects of the gel group is worst than liquid group although statistically there’s no significant differences
Antraks Pulmoner dan Bioterorisme Pulmonary Anthrax and Bioterorism Khoiriyah, Umatul
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i2.1876

Abstract

Anthrax is zoonotic disease, which is caused by Bacillus antracis. Bacilllus anthracis has very small spores, which has long been considered a potential biological weapon since world war I.Type of anthrax based on clinical manifesatation are divided into three types : cutaneous anthrax, gastrointestinal anthrax and pulmonary anthrax. Pulmonary anthrax has the worst prognosis. As potential for biological weapon mortality rate reaches 100 % of all victim during 24 hours .Sign and symtomps of pulmonary anthrax are divided into two stages. Prevention and therapy of pulmonary anthrax is effective before stage two as well as decrease the mortality.Antraks merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh Bacillus antracis. Bacillus anthracis, sudah lama digunakan sebagai senjata biologi sejak perang dunia I. Bacillus anthracis mempunyai ukuran spora yang sangat kecil dan sangat efektif sebagai senjata biologi.Berdasar tempat masuk spora, penyakit antraks terbagi atas 3 jenis yaitu. Antraks kulit (cutaneous anthrax), antraks pencernaan {gastrointestinal anthrax), dan antraks paru- paru (pulmonary anthrax). Pulmonary anthrax merupakan anthraks yang paling berbahaya karena angka mortalitas mencapai 100%. Pulmonary anthrax paling potensial digunakan sebagai senjata biologi karena bisa mematikan dalam waktu 24 jam dengan korban banyak.Gejala dan tanda pulmonary anthrax terbagi menjadi dua stadium. Prevensi dan pengobatan dengan vaksinasi dan antibiotik sebelum mencapai stadium dua akan menurunkan angka mortalitas.
Perbedaan Kejadian Hipertensi pada Penduduk yang Tinggal di Dekat dan Jauh dengan Jalur Kereta Api Arfah, Aldila Satyanugraha Al; Noor, Zulkhah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (s) (2008): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i1 (s).1640

Abstract

One of hypertension risk factor is stress because of noise. Source of noise come from railway track. Objectives of this research is to find the difference of hypertension prevalence between risk people who lived near and far from railway track. The research used crossectional causal comparative study. The populations are people 35 years old or more who lived near and far from railway track. The samples were 100 subjects per group. We were collected data by interviewed based on the questioner and measured blood pressure. The data analyses were by Mann-Whitney test and t-test. The hypertension prevalence of people who lived near from railway track with 13 % hypertension stage I, 6 % stage II wasn ’t significantly different with the hypertension prevalence of people who lived far from railway track with 13 % hypertension stage I, 10 % stage II (p=0,435). The difference prevalence of hypertension between people who lived near and far from railway track with hypertension risk factors were BMI 34,61% and 40,00% (p=0,032), smoking23,53%and47,06% (p=0,200), alcoholics 0,00%and 100,00% (p=0,200), history of hypertension 52,94% and54,84% (p=0,000), sports 18,46% and 15,63% (p=0,029), disease caused hypertension 37,50% and 62,50% (p=0,002), high salt diet 32,43% and 28,13% (p=0,034). The nose of railway track wasn’t significantly influence the prevalence of hypertension.Salah satu faktor resiko hipertensi adalah stress akibat bising yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi, salah satunya bisingjalur kereta api. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kejadian hipertensi penduduk pada populasi yang beresiko yang tinggal di dekat dan jauh dari jalur kereta api. Penelitian ini menggunakan metode kausal komparatif cross sectional. Populasi adalah penduduk laki-laki dan perempuan dengan usia 35 tahun atau lebih yang tinggal di dekat dan jauh dari jalur kereta api, dengan total sampel 100 per group. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi yang didasarkan kuesioner dan pengukuran tekanan darah. Analisis data menggunakan Mann-Whitney test dan uji beda t-test. Prevalensi hipertensi penduduk yang tinggal dekat jalur kereta api terdiri atas hipertensi stage I 13 %, stage II 6 %, tidak berbeda bermakna dengan penduduk jauh dari jalur kereta api yakni stage I 13 %, stage II 10 % (p=0,435). Perbedaan prevalensi hipertensi dengan berbagai faktor resiko pada penduduk dekat jalur kereta api dan penduduk jauh jalur kereta api berturut- turut sebagai berikut: BMI 34,61% dan 40,00% (n=0,032), merokok 23,53% dan 47,06% (n=0,200), minum-minuman beralkohol 0,00% dan 100,00% (n=0,200), riwayat hipertensi 52,94% dan 54,84% (n=0,000), tidak melakukan olahraga 18,46% dan 15,63% (n=0,029), penyakit pencetushipertensi 37,50% dan 62,50% (n=0,002), diet tinggi garam 32,43% dan 28,13% (n=0,034). Bising kereta api tidak mempengaruhi prevalensi hipertensi secara bermakna.
Abses Septum Nasi Fakhriani, Rizka; Amiruddin, Tolkha
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 16, No 2: July 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v16i2.4453

Abstract

Abses septum nasi merupakan kasus yang jarang dijumpai. Trauma nasal diketahui sebagai penyebab dari abses septum nasi. Penanganan dini dari penyakit ini sangat penting karena dapat menimbulkan komplikasi yang serius. Pada makalah ini, kami akan melaporkan kasus anak dengan abses septum nasi dengan kecurigaan traumatik. Pasien laki-laki, berusia 9 tahun, datang dengan keluhan hidung tersumbat yang dirasakan sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Keluhan disertai nyeri hidung, keluar sekret dan demam. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan kedua kavum nasi sempit, terdapat pembengkakan septum nasi bilateral dengan permukaan licin, berwarna kemerahan serta terdapat nyeri tekan dan fluktuasi yang konsisten dengan abses septum nasi. Tatalaksana yang dilakukan adalah insisi drainase dan pemberian antibiotik. Pasien kontrol tujuh hari setelahnya dan pemeriksaannya dalam batas normal. Diagnosis dini dan tatalaksana yang tepat sangat penting pada penyakit ini untuk mencegah terjadinya penyebaran infeksi dan komplikasi berat yang dapat menimbulkan gejala sisa.Nasal septal abscess is uncommon. Nasal trauma is known to be a causative factor for development of nasal septal abscess. Early intervention is important as it can cause serious complications. In this case, we will present a child with nasal septal abscess with suspicion on trauma. A 9-year-old male was presented with nasal obstruction since 5 days before presentation. The patient also complained nasal pain, secretions, and fever. On physical examination, there were bilateral nasal cavity fullness and nasal septum swelling, consistent with a nasal septal abscess. Drainage incision and antibiotic administration were done seven days after interventions, the clinical findings were within normal limit. Early diagnosis and management is important to prevent the spread of infection and severe complications which may cause some sequelae.
Efektifitas Model Community As Partner dalam Memberikan Asuhan Keperawatan Komunitas pada Kelompok Balita dengan Gizi Buruk di Kelurahan Pancoran Mas, Kota Depok huriah, titih
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2.1673

Abstract

The prevalence rate of under-five children with poor nutritional status in Indonesia has been increasing. This also happens in Depok City, particularly in Pancoran Mas Village, wherein the prevalence rate of under-five children with poor nutritional status in 2005 reached 1.67% or there were 88 under-five children with poor nutritional status among 5249 under- five children. This study aimed to evaluating the effectiveness of the application of community nursing concept and theory in order to improve health services through community nursing care particularly in under-five children group with poor nutritional status in Pancoran Mas Village, Depok. This was a quasi experiment research using a non-randomized pretest-posttest control group design. Data collection was done using observation, interview, focus group discussion (FGD) dan questionaire. Research instruments used included food journal of under-five children within 24 hours, physical examination guideline, interview guideline, FGD guideline and questionaire. The questionaire was developed based on Community as a Partner Model. Research population was 44 mothers who had under-five children with poor nutritional status in Pancoran Mas Village. Research sample was 30 mothers who had under-five children with poor nutritional status who fulfilled the inlcusion criteria. Primary, seconadry dan tertiary interventions were done to the 30 mothers within 9 months. Evaluation after the implementation of serial community nursing interventions showed that there was an increase in knowledge about nutrition and poor nutrition from 46% to 92%, an increase in attitude from 60% to 96%, and an increase in family skill in meeting the nutrition requirement for under-five children with poor nutritional status from 30% to 85%. Furthermore, there was improvement of nutritional status i.e. from 27 under-five children with poor nutritional status, after interventions they improved to 1 child with poor nutritional status, 19 children with low nutritional status and 12 children with good nutritional status; whereas five children with low nutritional status improved to good nutritional status.Angka prevalensi kasus gizi buruk pada balita di Indonesia semakin menunjukkan peningkatan. Hal ini juga terjadi di Kota Depok khususnya di Kelurahan Pancoran Mas, di mana angka prevalensi gizi buruk pada balita pada tahun 2005 mencapai 1,67% atau terdapat 88 balita gizi buruk dari 5249 balita. Tujuan penelitian ini adalah menilai keefektifan aplikasi teori dan konsep keperawatan komunitas dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan komunitas khususnya pada kelompok balita dengan gizi buruk di Kelurahan Pancoran Mas Depok. Penelitian ini adalah eksperimen semu atau quasi eksperimental menggunakan desain non- randomizedpretest-posttest control group. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, focus group discussion (FGD) dan kuesioner: Alat yang digunakan adalah catatan makanan balita selama 24 jam, pedoman pemeriksaan fisik, pedoman wawancara, pedoman FGD, dan kuesioner. Kuesioner disusun berdasarkan Community as a Partner Model. Populasi penelitian adalah 44 ibu yang memiliki balita dengan gizi buruk di Kelurahan Pancoran Mas Depok. Sampel penelitian adalah 30 ibu yang mempunyai balita dengan gizi buruk yang memenuhi kriteria inklusi. Pada 30 ibu tersebut dilakukan intervensi primer, sekunder dan tertier selama 9 bulan. Evaluasi setelah pelaksanaan rangkaian kegiatan keperawatan komunitas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan tentang gizi dan gizi buruk dari 46% menjadi 92%, peningkatan sikap dari 60% menjadi 96% dan peningkatan keterampilan keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi pada balita gizi buruk dari 30% menjadi 85%. Selain itu, terjadi perbaikan status gizi yaitu dari 27 balita gizi buruk, setelah intervensi menjadi 1 balita gizi buruk, 19 gizi kurang dan 12 gizi baik. Sedangkan dari lima balita gizi kurang telah meningkat menjadi gizi baik.
Distribusi Prevalensi Infestasi Parasit Usus pada Balita Penderita Gizi Buruk di Kasihan, Bantul, Yogyakarta Berdasarkan Faktor Risiko Kesetyaningsih, Tri Wulandari; Riswari, Rizki Ardana; Pitaka, Ririd Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i2.1575

Abstract

Malnutrition is still a public health problem in Indonesia. Severe malnutrition increasing susceptibility to the infection, and the infection is the direct factor influencing nutrition status. Intestinal parasite infestation make worse the sufferer and inhibit the elimination programme. The research purpose is to know the prevalence of intestinal parasite infestation in under five year children with severe malnutrition, and express to its risk factor of intestinal parasite infestation. The subject is all of under five children with severe malnutrition recorded in Primary Health Care in Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Questionnaire and medical record data used to find the risk factors: acces to primary health care, parent ’s formal education, history of chronic infection and social-economic status. Direct and indirect method of faeces examination were carried out by two persons to find cysts or nematode’s eggs. The prevalence of intestinal protozoa infestation are Entamoeba histolytica (56,2%), Entamoeba coli (43,48%), Giardia lamblia (21,74%) and Balantidium coli (4,35%). Infestation of intestinal nematodes are Ascaris lumbricoides (52,17%), hook worm (13,04%) and Enterobius vermicularis (8,96%). The protrude condition of subject family are 84% low social-economic status; 96% low and medium category of parent’s formal education degree; 40% have no sanitation facilities and 64% subject with chronic disease.Gizi buruk merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Gizi buruk menyebabkan penderita rentan terhadap infeksi. Infeksi merupakan faktor langsung yang mempengaruhi gizi buruk. Infestasi parasit usus mengakibatkan penderita gizi buruk menjadi lebih buruk lagi, sehingga menghambat usaha pemberantasan gizi buruk di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infestasi parasit usus pada balita penderita gizi buruk dan distribusi prevalensinya berdasarkan faktor risiko. Subyek penelitian adalah semua balita gizi buruk di Puskesmas Kasihan I dan II, Bantul, Yogyakarta. Kuesioner dan catatan medik untuk mendapatkan data faktor risiko yaitu akses dengan pelayanan kesehatan, tingkat pendidikan orang tua, riwayat infeksi kronis dan tingkat sosial ekonomi. Pemeriksaan feses dengan metode langsung dan tidak langsung untuk menemukan sista atau telur cacing, dilakukan sebanyak dua kali dengan pemeriksa berbeda. Prevalensi infestasi protozoa usus pada balita penderita gizi buruk adalah Entamoeba histolytica (56,52%), Entamoeba coli (43,48%), Giardia lamblia (21,74%), dan 4,35% Balantidium coli. Infestasi cacing usus: Ascaris lumbricoides (52,17%), cacing tambang (13,04%) dan Enterobius vermicularis (8,69%). Kondisi yang menonjol pada keluarga balita gizi buruk adalah 84% berstatus sosial ekonomi rendah, 96% orang tua berpendidikan rendah dan sedang serta 40% mempunyai sarana sanitasi memadai; 64% terinfeksi penyakit kronis.
Prevalensi Seropositif IgM/IgG Toksoplasma pada Wanita Pranikah dan Tinjauan Faktor Risiko Kepemilikan Kucing Sari, Bernadeta Renny Yulianti; Gugun, Adang Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v14i1.2379

Abstract

Toksoplasmosis merupakan suatu penyakit infeksi parasit yang dapat dijumpai hampir di seluruh dunia karena berbagai faktor seperti usia, kebiasaan, gizi, kontak dengan kucing dan konsumsi daging kurang matang. Wanita pranikah memiliki risiko terinfeksi toksoplasma yang berdampak pada kelainan selama kehamilan, kecacatan atau kematian janin. Toksoplasma yang terdeteksi sebelum kehamilan bisa segera diobati sehingga mencegah penularan ke fetus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi seropositif IgM/IgG Toksoplasma pada populasi wanita pranikah dan hubungan kepemilikan kucing dengan prevalensi seropositif IgM/IgG Toksoplasma. Penelitian ini merupakan penelitian obser- vasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subyek penelitian ini adalah wanita pranikah di Kabupaten Bantul berjumlah 90 orang. Data diambil dari hasil kuesioner dilanjutkan pengambilan sampel serum untuk pemeriksaan IgM/IgG anti toksoplasma dengan ELISA. Data dianalisis dengan Fisher test. Hasil menunjukkan 55,6% seropositif Toksoplasma. Ditinjau dari faktor risiko, dari 11 orang berisiko positif memelihara kucing, dan 7 (63,6%) diantaranya seropositif Toksoplasma. Hasil uji Fisher test menun¬jukkan nilai exact test 0,405 ( 0,05) dan CI: 0,716-1,909. Disimpulkan bahwa tidak ada hubungan anta¬ra faktor risiko kepemilikan kucing dengan seropositif IgM/IgG Toksoplasma pada wanita pranikah di Bantul. Toxoplasmosis is a parasitic infection disease that can be found almost all over the world with various factors such as age, habits, nutrition, contact with cats and consumption of undercooked meat. Premarital women have a risk of infection with Toxoplasma that affects the abnormalities during preg¬nancy, disability or death of the fetus. Toxoplasma infection that detected before pregnancy can be treated immediately to prevent transmission to the fetus. This study aims to know the relation between the prevalence of seropositive IgM/IgG Toxoplasma among premarital female population and the rela¬tion between having cats and prevalence of IgM/IgG seropositive toxoplasma. This research is an ana¬lytic observational with the cross sectional approach. Subjects are premarital women that living in Bantul regency amounted 90 sample. The data is taken from questionnaire and serum examined by ELISA to check the IgM/IgG anti Toxoplasma. The data analyzed by Fisher test. The result showed there are 55,6% seropositive IgM/IgG toxoplasma The evaluation of contact with cats risk factor show that 63,6% of 11 respondence are positive having cats. contact with cat risk factor, from 11 women that have positive risk factor, 7 of them have toxoplasma Seropositive (63,6%). Data analysis using Fisher test, show that exact test value 0,405 ( 0,05) and CI: 0,716-1,909. It is concluded that no correlation between contact with cat risk factor with the IgM/IgG Seropositive of Toxoplasma on premarital women in Bantul.
Skrining Tanaman Obat yang Berpotensi Sebagai Antioksidan In Vitro Kristanto, Adi; Mustaqim, Warih Anggoro; Suhartono, Eko; Qamariah, Nur
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 1 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v4i1.1707

Abstract

Brotowali (Tinospora crispa [L] miers), bitter melon (Momordica charantia), and madagascar periwinkle (Catharanthus rosesus [L.] G. Don) are plants that have been used for some disease treatments. The mechanism of action of these plants to cure some diseases corellate with the balance of oxidant and antioxidant. To prove that statement, this study was conducted to evaluate the of antioxidant potential activity in these plants. The method used was antioxi¬dant trial activity with modification of DNP method. The result showed that Madagascar periwinkle (Catharanthus rosesus [L.] G. Don) infusion has the highest antioxidant activity, that was 90, 27%.Tanaman brotowali (Tinospora crispa [L] miers), pare {Momordica charantia), dan tapak dara {Catharanthus rosesus [L.] G. Don) adalah beberapa tanaman yang telah banyak dipergunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Mekanisme tanaman tersebut dalam mengobati penyakit diduga terkait dengan keseimbangan antara oksidan dan antioksidan. Untuk membuktikan hal tersebut, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui potensi aktivitas antioksidan tanaman brotowali, pare, dan tapak dara. Metode yang dipakai berupa pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DNP yang dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infus daun tanaman tapak dara {Catharanthus rosesus [L.] G. Don) mempunyai aktivitas antioksidan paling baik, yaitu 90,27 %.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 15, No 1 (2015) Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue