cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji dan Tingkat Aktivitas Fisik terhadap Obesitas pada Kelompok Usia 11-13 Tahun Indriawati, Ratna; Soraya, Faerus
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2 (s).1615

Abstract

Obesity is a chronic condition characterized by an excess of body fat. Obesity in adolescence also cause a problem for social life and emotional. Food habit in adolescent is significantly influenced by their life style, including the consumption of fast food. This research was aimed to know whether consumption of fast food and physical activity is a risk factor of obesity in adolescent. This research was observed with cross-sectional design. Subject were students of SLTP, aged 11-13 year old samples for obesity were obtained by random sampling. The data of obesity prevalence were calculate based on the number of obesity students. The correlation of fast food consumption and physical activity with obesity was analyzed with regression and correlation analysis. There was no significant correlation between the amount of fast food and fast food consumption frequency and obesity (p 0.05), while the level of physical activity has a significant correlation with obesity (p 0.05). The contribution of fast-food consumption does not increase the risk of obesity and the higher level of physical activity, the lower the risk of obesity.Obesitas merupakan kondisi kronis dengan karakteristik kelebihan lemak tubuh. Obesitas pada remaja juga menyebabkan masalah bagi kehidupan sosial dan emosi yang cukup berarti. Kebiasaan makan pada remaja dipengaruhi secara signifikan oleh perubahan gaya hidup mereka, temasuk mengkonsumsi makanan cepat saji. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah konsumsi fast food dan tingkat aktivitas fisik merupakan faktor risiko terjadinya obesitas pada remaja. Penelitian ini bersifat observasional dengan menggunakan rancangan cross-sectional. Populasi dan sampel adalah remaja SLTP dengan usia 11-13 tahun, dengan pengambilan sampel untuk penjaringan obesitas secara random sampling. Analisis untuk mengetahui hubungan konsumsifast food dan tingkat aktivitas fisik terhadap obesitas dilakukan dengan menggunakan regresi dan korelasi. Tidak ada hubungan yang bermakna antara banyaknyajenisfast food dan frekuensi konsumsi fast food terhadap obesitas (p 0,05) sedangkan tingkat aktivitas fisik memiliki hubungan bermakna dengan obesitas (p 0,05). Kontribusi konsumsi fast food tidak meningkatkan resiko terjadinya obesitas. Semakin tinggi tingkat aktivitas fisik, semakin rendah resiko terjadinya obesitas.
Hubungan Peningkatan Kadar Kolesterol dengan Derajat Keparahan Osteoarthritis Fredianto, Meiky
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17 No 1: January 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini betujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kadar kolesterol total dengan tingkat keparahan osteoarthritis  (OA) berdasarkan sistem derajat Kellgren-Lawrence dan Skor WOMAC. Jenis penelitian ini menggunakan menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross sectional study yang dilakukan pada 30 sampel terdiagnosis OA. Sampel dilakukan pemeriksaan kadar kolesterol total dan tingkat keparahan OA secara objektif dari gambaran radiologi kerusakan sendi dengan menggunakan derajat Kellgren-Lawrence dan secara subjektif dari gejala klinis dengan menggunakan skor WOMAC. Pada penelitian ini sampel berjumlah 30 orang yang terdiagnosis OA dengan usia lebih dari 40 tahun, didapatkan 8 orang (26,7%) memiliki kadar kolesterol normal, 12 orang (40%) dengan borderline tinggi, dan 10 orang (33,3%) dengan hiperkolsterol. Berdasarkan jumlah sampel yang memiliki kadar kolesterol normal, berada pada grade III dan IV berdasarkan gambaran radiologi kerusakan sendi yaitu 3 orang (37,5%) dengan kategori tingkat keparahan sedang berdasarkan gejala klinis 4 orang (50%). Sedangkan kolesterol borderline tinggi berada pada grade II yaitu 4 orang (33,3%) dengan kategori tingkat keparahan sedang berdasarkan gejala klinis, yaitu 7 orang (58, 3%), sedangkan untuk hiperkoleterol berada pada grade II yaitu 4 orang (40%) dengan kategori tingkat keparahan ringan dan berat berdasarkan gejala klinis, yaitu 4 orang (40%). Kadar kolesterol darah dengan tingkat keparahan OA dilihat dari gambaran radiologi didapatkan nilai p=0,692 dan nilai p=0,280. Disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara peningkatan kadar koleterol dengan derajat keparahan OA baik secara objektif dilihat dari gambaran ragiologis maupun secara subjektif dilihat dari skor WOMAC.
Efektifitas Bacillus Thuringiensis Terhadap Larva Culex Quinquefasciatus Pada Berbagai Media Hidup Larva Kesetyaningsih, Tri Wulandari; Suryani, Lilis
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i1.1882

Abstract

One of mosquito that transmitted this disease is Culex quinquefasciatus. Insecticide commonly use for vector control because it can reduce mosquito population easily and rapidly, but have a high risk to pollution and resistancy. Bacillus thuringiensis (Bti) is bacteria that produce toxic crystal to larvae of Coleoptera, Diptera and Lepidoptera. The purpose of this study is to know the efficacy of Bti as larvicide to Cx. quinquefasciatus (L3) that live in media biologic water, rice field water and cesspool water and compare the larvae ’s death among those groups.Subject of this study is Bti (strain H-14) Vectobac 12 US in liquidformula from Abott, USA, then examined its effectivity as larvicide to Cx quinquefasciatus. Twenty larvaes (L3) entered into every group that filled 100 ml of 1,2,3,4,5, and 6 ppm Bti solution and negative group. Observation was carried out after 24 hours exposure to get % of larvae s death. Larvae s death was decided if there is no movement by stick touched. Probit analysis used to decide LD50 and LD 95 and One way anova used to know the significancy difference of% larvae s death among research groups.The result shows that Bti is effective to Cx. quinquefasciatus larvae with LD50 1,43 ppm in aquades group, 2,28 ppm in field water group and 4,56 ppm in cesspool water group. There is no significant difference of% larvae ’s death among research groups.Salah satu nyamuk vektor filariasis adalah Culex quinquefasciatus. Pengendalian vektor dengan insektisida digunakan karena dapat menurunkan populasi nyamuk secara cepat, mudah dan dalam jumlah banyak, namun dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan beresiko terjadi resistensi. Bacillus thuringiensis (Bti) adalah bakteri pembentuk spora menghasilkan kristal toksik terhadap larva Coleoptera, Diptera dan Lepidoptera. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas Bti terhadap larva Cx quinquefasciatus (L3) pada tiga macam media hidup larva yaitu comberan, air sawah dan akuades serta membandingkan diantara ketiganya.Subyek penelitian adalah Bti (strain H-14) Vectobac 12 AS formula cair dari Abott, diuj i efektifitasnya sebagai larvisida Cx quinquefasciatus yang hidup pada media air biologis comberan, air sawah dan akuades. Tiap kelompok terdiri atas enam konsentrasi Bti (1,2,3,4,5 dan 6 ppm) dan kontrol negatif (tanpa Bti) yang dilarutkan dalam 100 ml air media hidup larva dan diisi 200Korespondensi: Tri Wulandari K, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jin. Lingkar Barat Tamantirto Kasihan Bantul Yogyakartaekor L3 Cx. quinquefasciatus. Pengamatan dilakukan 24 setelah pemaparan dengan menghitung prosentase kematian larva. Larva dinyatakan mati bila sama sekali tidak bergerak setelah diusik dengan ujung pipet larva. Analisis Probit digunakan untuk menentukan LD50 dan LD95 dan analisa varians digunakan untuk menentukan signifikansi perbedaan prosen kematian diantara ketiga kelompok perlakuan.Hasil penelitian menunjukkan Bti efektif sebagai larvisida Cx. quinquefasciatus dengan LD50 1,43 ppm pada akuades, 2,28 ppm .pada air sawah dan 4,56 ppm pada comberan sebagai media hidup larva. Tidak ada perbedaan bermakna diantara ketiga media hidup larva yang diujikan.
Studi Prevalensi Mikrofilaremia dan Faktor Risiko Sosial Ekonomi di Kelurahan Puluhan dan Gempol, Kabupaten Klaten Kurniawan, Agung; Kesetyaningsih, Tri Wulandari
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (s) (2008): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i1 (s).1646

Abstract

Lymphatic filariasis is one of the diseases that cause disability which difficult to detect early. One of the filariasis controls is to screen the people who are risk in a possible endemic area to do the early diagnose and early treatment. In the beginning of2007, Klaten had been reported to have 4 filariasis patients and of them is lives in Puluhan village, Jatinom Subdistrict. A prevalence epidemiological survey and a social economic risk factors survey must be done at the people around the patient for filariasis elimination program.The aim of this study is to describe the prevalence and the social economic risk factors of the people who live in Puluhan and Gempol village. A cross-sectional research was done in August 2007 on both Puluhan ’s and Gempol ’s villagers at night (20.00-22.00 am) then identify the microfilaria with thick blood sample method. The social economic risk factor is measured from education, occupation, and salary level. There was 223 subject whose the periphery blood was taken (age mean = 42,3 year; 61,83% are women) and the result of Mf-rate was 0. It is mean that there was no filariasis spreading in this area. The social economic factors show that the people of Puluhan and Gempol village have the education factor of non-school person (50%), the occupation factor of unemployed person (29%) and laborer (26,9%), and salary factor of less than Rp. 600.000,- a month (93%)Penyakit limfatik filariasis adalah salah satu penyakit penyebab kecacatan yang sukar untuk dideteksi awal. Salah satu cara pencegahannya adalah dengan survei penduduk yang berisiko di daerah dengan kemungkinan endemis dengan harapan supaya dapat dilakukan deteksi serta pengobatan awal. Pada awal tahun 2007 ini di Klaten dilaporkan terdapat 4 penderita filariasis dan salah satunya adalah penduduk di Kelurahan Puluhan, Kecamatan Jatinom. Dalam rangka pemberantasan penyakit filariasis, dilakukan survei epidemiologi prevalensi mikrofilaremia serta faktor risiko sosial ekonomi pada penduduk di sekitar penderita.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi mikrofilaremia di kelurahan Puluhan dan Gempol beserta faktor sosial ekonomi. Penelitian dengan desain diskriptif cross sectional dilakukan di bulan Agutus 2007 dengan pengambilan sampel pada pukul 20.00-22.00 WIB pada penduduk di Pedukuhan Jemusan, Brajan, dan Karanggeneng yang terletak di Kelurahan Puluhan dan Gempol. Sampel darah kemudian periksa dengan metode darah tebal untuk melihat adanya mikrofilaremia. Faktor sosial ekonomi dinilai dari tingkat pendidikan, jenis pekerjaan serta tingkat penghasilan. Subyek yang terkumpul sebanyak 223 subyek (rata-rata umur 42,3 tahun (14-83 tahun) serta proporsi penduduk wanita adalah 61,83%) diambil darah tepinya dengan hasil Mf-rate = 0. Hal ini menunjukkan tidak adanya penularan limfatik filariasis di daerah tersebut. Faktor sosial ekonomi tergolong rendah: 29% tidak bekerja; 26,9% buruh, 50% tidak sekolah dan 93% penduduknya berpendapatan kurang dari Rp 600.000 perbulan.
Daya Antibakteri Infusa Bawang Putih (Allium sativum) terhadap Escherichia coli pada Berbagai Firdaus, -; Suryani, Lilis
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1547

Abstract

Garlic (Alliums sativum) is one of medicine plants known by people for a long time. It has been known for its antibacterial effect. In 1944, Cavallito in New York found Allicin, a substance that has special quality as antibacterial. However, it is an unstable substance and easily destroyed by heat and can be disintegrated into sulphur compound. Most people consume garlic by cooking it previously. It is difficult to be consumed raw because it can stimulate gastric juice and salivary gland. Gar¬lic is also irritative as well as has sting odor. By using Macrobroth dilution method, the antibacterial activity of garlic infusion was examined at various levels of heat. The Infusion can be made based on the Indonesian Book of Pharmacology, with modification in various temperatures (37°C - 100°C). Escherichia coli ATCC 25922 and local strain, the collection of Microbiology Laboratory of Medical Faculty Yogyakarta Muhammadiyah University, were used as the bacteria tested. The result of the study were: infusion of garlic (Allium sativum) had anti-bacterial activity against Escherichia coli, the heat influenced minimal in¬hibitory concentration of garlic against Escherichia coli and the 80°C heat¬ing of garlic infusion produced the most effective antibacterial capacity (3.38 gr %).  Bawang putih {Allium sativum) merupakan salah satu tanaman obat yang sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat. Bawang putih diketahui dapat digunakan sebagai obat antibakteri. Pada tahun 1944 Cavallito di New York menemukan Allicin yang merupakan zat berkhasiat sebagai antibakteri. Allicin merupakan zat yang bersifat tidak stabil dan mudah rusak oleh pemanasan. Allicin dapat terurai menjadi senyawa sulfur. Sebagian besar masyarakat mengkonsumsi bawang putih dengan dimasak dulu. Bawang putih sulit dikonsumsi secara mentah karena dapat merangsang asam lambung, kelenjar ludah danbersifat iritatif serta baunya menyengat. Dengan menggunakan metode pengenceran tabung (Macrobroth dilution) dilakukan uji daya antibakteri infusa bawang putih dengan berbagai tingkat pemanasan. Infusa dibuat sesuai dengan yang termaktub dalam Farmakope Indo¬nesia, dengan modifikasi pada variasi suhu pemanasan (37°C-100°C). Bakteri uji yang digunakan adalah Escherichia coli ATCC 25922 dan strain lokal, koleksi Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: infusa bawang putih {Allium sativum) memiliki daya antibakteri terhadap Escherichia coli, pemanasan mempengaruhi kadar hambat minimal infusa bawang putih terhadap Escherichia coli, pemanasar infusa bawang putih {Allium sativum) dengan suhu 80°C menghasilkan days antibakteri yang paling efektif sebesar 3,38 gr%.
Daya Antifungi Ekstrak Etanol Daun Beluntas Putri, Rengganis Krisna; Habib, Inayati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (s) (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of herbal medicine candidate which in developing as antifungal is Pluchea indica, L. Its leaves believed can cure the cough, decrease the fever and also body odor, increase the appetite and also facilitate the digestion. The contain of the leaves are flavonoid, essential oil and saponin that are supposed to have antifungal activity towards Malassezia sp. Tinea versicolor is an infection in human caused by Malassezia, sp. The study aims to determine antifungal activity of the ethanol extract of Pluchea indica leaves against Malassezia, sp.and compare with Ketoconazole as a positive control. The research on antifungal activity of the ethanol extract of Pluchea indica leaves against Malassezia, sp. has been conducted. An examination towards minimal inhibitory concentrations (MIC) and minimal fungicidal concentrations (MFC) is done to determine antifungal activity. MIC of ethanol extract of P. indica leaves and Ketoconazole were determined by macro-broth dilution method, while MFC were determined by cell culture on SDA (Sabaroud Dextrose Agar) plate. First concentration of ethanol extract of P. indica leaves was 25 % and Ketoconazole was 50 %. All of the examination were repeated three times. The result shows that both of MIC and MFC of the ethanol extract of P. indica leaves are 3,125 %. The MIC and MFC of Ketoconazole are 6,25 %. In conclusion, the ethanol extract of P. indica leaves has a higher antifungal activity against Malassezia, sp. than Ketoconazole.Obat tradisional yang mungkin dapat dikembangkan sebagai anti jamur adalah beluntas (Pluchea indica, L). Daun beluntas dipercaya berkhasiat sebagai penurun panas, obat batuk, penghilang bau keringat, menambah nafsu makan (stomakik) dan membantu pencernaan. Daunnya mengandung flavonoid, saponin dan minyak atsiri yang diduga memiliki daya antifungi terhadap Malassezia, sp.. Malassezia, sp.. Tinea versikolor adalah infeksi pada manusia yang disebabkan oleh Malassezia, sp. .Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya daya antifungi ekstrak etanol daun beluntas (P. indica, L.) terhadap Malassezia, sp. dan perbandingan daya antifungi ekstrak daun beluntas dan Ketokonazole terhadap Malassezia, sp. Daya antifungal dikaetahui dengan pengujian terhadap kadar hambat minimal (KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM) ekstrak daun beluntas terhadap jamur. KHM ekstrak daun beluntas diukur dengan menggunakan metode dilusi cair, sedangkan pengukuran KBM dilakukan dengan kultur sel pada media SDA (SabaroudDextrose Agar). Konsentrasi awal ekstrak daun beluntas (P. indica, L.) sebesar 25 % dan Ketokonazole sebesar 50 %. Semua pengujian dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai KHM dan KBM ekstrak daun beluntas (P indica, L.) keduanya sebesar 3,125 %. Ketokonazole mempunyai KHM dan KBM keduanya sebesar 6,25 %. Kesimpulan penelitian adalah ekstrak daun beluntas (P indica, L.) mempunyai daya antifungi terhadapMalassezia, sp. lebih besar dibandingkan dengan Ketokonazole.
Hubungan antara Asupan Protein, Zat Besi dan Vitamin C dengan Kadar Hb pada Anak Umur (7-15) tahun di Desa Sidoharjo, Samigaluh, Kulon Progo Astuti, Yoni
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i2.1581

Abstract

The high risk age of malaria infection in Kulonprogo is 5-14 year old. Anemia is a common condition that caused by chronic infection of malaria. Anemia worsefor patient with malnutrition. This research aims to reveal how dietary intake of children, especially protein, vitamin C and iron intake on the incidence of anemia in aged 7-15 years in malaria endemic malaria. This study use cross sectional - retrospectif design. The research subjects were 61 children (class 4-6 elementary school) from 6 hamlets. They are healthy children, no history of chronic illness other than malaria or kongenita disease. Children fill list of food intake for 7 days. After that weight and height were measured and blood Hb was deternined by Sahli method. Food intake was analyzed using Food Proseccor I. To analyze the relationship between protein intake, vitamin C and iron and hemoglobin concentration were used Pearson test.The result showed that the average ofprotein, iron and vitamin C were 25.064 ± 10.055 g (38.9% RDA (RecommmendedDaily Allowance), 6.523 ± 2.635 mg (56.33% RDA), 69.5% o RDA consecutively. The mean of hemoglobin level was 10.3 ± 1.2 grams / dl. The statistical analysis showed that there were linear relationship between vitamin C and iron (r = 0,765), between iron intake and hemoglobin (r = 0.675). It can be concluded that the low of intake of protein, iron and vitamin C associated with incidence of anemi.Kelompok usia risiko tinggi infeksi malaria di Kulonprogo adalah 5-14 thn. Anemia merupakan kondisi umum yang terjadi akibat infeksi kronis malaria. Anemia akan makin berat bila penderita menderita kekurangan gizi dan protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap hubungan antara asupan makanan anak terutama protein, vitamin C, zat besi terhadap kejadian anemia pada usia 7-15 tahun di daerah endemik malaria. Penelitian menggunakan rancangan cross sectional - retrospectif pada sampel terpilih. Subyek penelitian sebanyak 61 anak (kelas 4-6 sekolah dasar) berasal dari 6 dusun. Anak sehat tidak memiliki riwayat penyakit menahun selain malaria atau penyakit kongenital. Anak mengisi daftar asupan makanan selama 7 hari, setelah itu diukur berat dan tinggi badan, darah diperiksa kadar Hbnya dengan metoda Sahli. Asupan makanan dianalisis dengan Food Proseccor I, untuk mengetahui persen asupan makanan perhari. Analisis hubungan asupan protein, vitamin C, zat besi terhadap kadar hemoglobin digunakan uji korelasi pearson. Hasil penelitian menunjukkan rerata asupan protein, zat besi dan vitamin C berturut-turut adalah sebesar 25,064 ± 10,055 gram (38,9% RDA (Recommended Daily Allowance), 6,523 ± 2,635 mg (56,33% RDA), dan 69,5% RDA. Rerata kadar hemoglobin sebesar 10,3 ± 1,2 gram/dl. Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan linier antara asupan vitamin C dengan asupan zat besi (r= 0,765), dan antara asupan zat besi dengan kadar hemoglobin( r=0,675). Disimpulkan asupan protein, besi dan vitamin C rendah berhubungan dengan kejadian anemia.
Perbandingan Komplikasi Glaukoma Sekunder antara Pasien Post Operasi Tunggal dan Kombinasi Vitrektomi - Sklera Bukle Mahfud, Wowo Masthuro; Setyandriana, Yunani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v14i1.2470

Abstract

Vitrektomi adalah operasi mata untuk mengatasi kelainan retina (selaput saraf mata) atau vitreus (jaringan jernih berbentuk agar yang mengisi bola mata), sedangkan Sclera Buckle adalah cara paling umum untuk menangani ablasi retina. Kedua operasi tersebut bisa menimbulkan beberapa komplikasi dan yang paling sering adalah Glaukoma Sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pe­ngaruh operasi vitrektomi dengan kombinasi operasi virektomi - Sclera Buckle (SB) kejadian glaukoma sekunder. Subyek penelitian adalah pasien yang menjalani operasi vitrektomi, SB, maupun kombinasi keduanya. Dari data penelitian didapatkan jumlah keseluruhan pasien yang menjalani kedua operasi ter­sebut sebanyak 83 pasien. Sampel dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu 1 kelompok pasien operasi tunggal dan 1 kelompok pasien yang menjalani operasi kombinasi dengan tiap kelompok dilihat perkembangannya tiap kali control dengan melihat perubahan tekanan intraocular (TIO) baik untuk mata kanan maupun mata kiri, serta pemeriksaan lapang pandang dan fundus sebagai kriteria untuk menentu­kan apakah terjadi komplikasi glaukoma sekunder. Hasil Chi Square menunjukkan perbedaan yang sig­nifikan antara operasi tunggal (vitrektomi atau SB) dengan operasi kombinasi (SB+Vitrektomi) dengan nilai p 0,001. Disimpulkan bahwa kejadian glaukoma sekunder terbanyak pada pasien yang menjalani ope­rasi kombinasi SB+Vitrektomi dibandingkan dengan operasi tunggal dengan perbedaan yang signifikan.Vitrectomy is an eye surgery to manage retinal disorder (eye nerve membranes) or vitreous (clear tissue that fills the form of the eyeball), meanwhile Sclera Buckle is the most common method to treat retinal detachment. Both methods may result in some complications, and the most frequent is Second­ary Glaucoma. This study aims to compare the effect of vitrectomy surgery and combine virectomy - Sclera Buckle (SB) on the incidence of secondary glaucoma. Subjects were patients who underwent vitrectomy, Sclera Buckle or the combination of both. The data recorded the total number of patients who underwear both methods was 83 patients. The sample were classified into 2 groups, 1 group of patients with a single surgery and one group with combinated surgery, and each group was observed during control time by monitoring the change of IOP (intraocular pressure) in both eyes. Fundus examination and also visual field examination were performed to whether secondary glaucoma complication occured. The result of Chi Square test showed a significant difference between single surgery (vitrectomy or SB) and combinated surgery (vitrectomy and SB) with p value was 0,001. It was concluded that the highest incidence of secondary glaucoma in patients undergoing vitrectomy surgery combined SB compared with a single operation with a significant difference.
Pengaruh Rifampisin terhadap Lama Hidup Mencit Sundari, Sri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 1 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malaria is one among the most important public health problems in tropi¬cal countries like Indonesia. Several actions have been taken to overcome this problem, however its prevalence is still high. Parasite resistance to chlo- roquine and vector resistance to insecticide are the major constraint in deal¬ing with malaria. To provide an alternative treatment which are highly effications, safe, and widely available i.e antibiotics is one among the alternatives and has been used since a long time . One of the antibiotic used is rifampicyn. This study is assessing the effect of rifampicyn to the longevity of Swiss mice infected by Plasmodium berghei. The subjects are fifteen female mice inoculated with Plasmodium berghei. All of them divided into three groups, positive controle, negative controle and experiment group . The experiment groups were randomly allocated into 3 groups of 5 mice wich were treated with rifampicyn 100 mg/kg BW, rifampicyn 200 mg/kg BW and rifampicyn 300 mg/kg BW. Another 2 control groups were given 0,5 ml aquadest per mice, and chloroquine 25 mg/kg BW. All of drugs given twice daily for 5 days. The degree of parasitemia were examined daily using thin blood smears up to death from the inoculation and were analyzed by log-probit method. The longevity of mice was analyzed using anava method. The study showed that rifampicyn 300 mg/kg BW cured Plasmodium berghei infection in Swiss mice (p<0,01) and rifampicyn 200 mg/kg BW gave for longer life (p<0,05). Effective dosage 50 of rifampicyne is 13,533 mg/kg BW.Malaria merupakan salah satu yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di icgara berkembang seperti Indonesia. Beberapa tindakan telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini, tetapi prevalesinya masih tetap tinggi. Resistensi parasit Terhadap klorokuin dan resistensi vektor terhadap insektisida merupakan faktor penyebabnya. Salah satu pilihan pengobatan dalam mengatasi resistensi yang memiliki efikasi tinggi, aman dan sudah digunakan secara luas adalah menggunakan iztibiotika. Salah satu antibiotika yang dapat digunakan adalah Rifampisin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek rifampisin terhadap lama hidup mencit Swiss yang diinfeksi Plasmodium berghei. Subyek penelitian terdiri dari 15 ekor mencit Swiss betina yang diinokulasi dengan Plasmodium berghei. Subyek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kontrol positif, kontrol negatif dan kelompok percobaan. Kelompok percobaan dibagi menjadi 3 kelompok yang masing- masing kelompok terdiri dari 5 ekor yang diberikan pengobatan Rifampisin 100 mg/ kg BB, 200 mg/kg BB, dan 300 mg/kg BB. Dua kelompok yang lain masing-masing diberikan 0,5 ml akuades dan klorokuin 25 mg/kg BB. Pengobatan diberikan 2x/hari selama 5 hari. Pemeriksaan angka parasitemia dilakukan setiap hari dengan pemeriksaan apusan darah tipis. Lama hidup mencit dianalisis dengan Anava dan ED50 menggunakan analisis probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rifampisin 300 mg/kg Bb dapat menyembuhkan mencit Swiss dari infeksi (p<0,01), rifampisin 200 mg/kg Bb memperlama hidup mencit (p<0,05). EDS0 rifampisin adalah 13,533 mg/kg BB.
Hubungan antara Peranan Perawat dengan Sikap Perawat pada Pemberian Informed Consent Sebagai Upaya Perlindungan Hukum Bagi Pasien di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2009 Arofiati, Fitri; Rumila, Erna
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of nurse ’s roles is an advocate for patient that is to advocacy patient ’s right, legal patient’s right is informed consent. Informed consent is patient’s agreement after got information by doctor to do a medical action. Nurse ’s attitude of giving informed consent is facilitator at decision making to a medical action. This study aimed to reveal the correlation between nurse ’s role with nurse ’s attitude in giving informed consent as the law protection effort for patient in PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta. This non-experimental study is a correlation study with cross-sectional approach, used 38 samples with purposive sampling technique. Data analysis used Spearman Rank. The result of this research showed that there were correlation between nurse ’s role and nurse ’s attitude in giving informed consent as the law protection effort for patient, with statistical testp value = 0,000 orp value < 0,05. The conclusion of this research that there are correlation nurse ’s roles with nurse ’s attitude of giving informed consent as the law protection effort for patient in PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta.Salah satu peran perawat adalah sebagai pelindung dan advokat bagi pasien yaitu untuk membela hak pasien, hak legal pasien salah satunya adalah informed consent. Informed consent merupakan persetujuan pasien setelah adanya informasi dari dokter untuk dilakukan suatu tindakan medik. Sikap perawat pada pemberian informed consent adalah sebagai fasilitator dalam pengambilan keputusan mengenai suatu tindakan medik.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran perawat dengan sikap perawat pada pemberian informed consent sebagai upaya perlindungan hukum bagi pasien di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian ini adalah penelitian non experimental dengan rancangan deskriptif korelasi dan menggunakan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel adalah 38 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data menggunakan uji statistik Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan peran perawat dengan sikap perawat pada pemberian informed consent sebagai upaya perlindungan hukum bagi pasien yang ditunjukkan dengan hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,000 atau p< 0,05. Peran dan sikap perawat RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta menunjukkan hasil yang sangat baik dalam pemberian informed consent pada pasien. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan peran perawat dengan sikap perawat pada pemberian informed consent sebagai upaya perlindungan hukum bagi pasien di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta sehingga diharapkan mampu meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dari sisi peran perawat sebagai advokat.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue