cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Asosiasi Gambaran Tingkat Lesi Foto Toraks Penderita Klinis Tuberkulosis Paru dengan Diabetes Melitus Dibandingkan Non Diabetes Melitus Husein, Muhammad Fikri; Majdawati, Ana
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis di Indonesia menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Prevalensi tuberkulosis meningkat seiring dengan peningkatan prevalensi Diabetes Mellitus (DM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gambaran tingkat lesi foto toraks penderita klinis tuberkulosis paru dengan DM dibandingkan non DM di RS PKU Muham¬madiyah I Yogyakarta. Penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross sectional menggu¬nakan data sekunder catatan rekam medis pasien RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta untuk semua kasus tuberkulosis periode Januari 2010-Desember 2012. Data rekam medis yang digunakan adalah penderita tuberkulosis paru dengan DM dan non DM yang memiliki hasil foto radiologi toraks. Hasil penelitian didapat 19 sampel tuberkulosis paru dengan DM perincian 6 sampel gambaran foto toraks lesi minimal, 10 sampel dengan lesi moderate, 3 sampel dengan lesi lanjut serta 23 sampel tuberkulosis paru non DM dengan perincian 17 sampel dengan gambaran foto toraks lesi minimal, 9 sampel dengan lesi moderat dan 6 sampel dengan lesi lanjut. Hasil analisis chi-kuadrat didapatkan nilai p 0,201 (>0,05, X2= 3,208 dan X2 tabel= 5,991 dengan db= 2). Disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan tingkatan lesi radiologi pada pasien tuberkulosis paru dengan DM dan non DM.Tuberculosis is one of the most common cause of death after heart disease and respiratory tract in Indonesia. The prevalence of tuberculosis increases with the increased prevalence of Diabetes Mellitus (DM). This research aims to know the correlation between chest x-ray imaging in patient with clinical manifestation of pulmonary tuberkulosis with DM and without DM and severity of lungs corresponding to the level of lesion in chest X-ray examination in RS PKU Muhammadiyah I Yogyakarta. This study is observational analytic cross-sectional design using secondary data patient’s medical records RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta for all tuberculosis cases from January 2010-December 2012. Medical record data used is a sample that includes pulmonary tuberculosis patients with DM and non DM having the photos radiology toraks. The results of research obtained 19 samples of pulmonary tuberculosis with Dia¬betes Mellitus 6 samples overview minimal radiographic lesions, 10 samples with moderate lesions, 3 samples with advanced lesions and 23 samples of non-pulmonary tuberculosis Diabetes Mellitus with 17 samples with minimal description of radiographic lesions, 9 samples with moderate lesions, and 6 samples with advanced lesions. After the data were analyzed by Chi square p value 0.201 obtained (> 0.05, X2= 3.208 and X2= 5.991 with tables db= 2. It can be concluded that there is no difference in the level of radiological lesions in patients with pulmonary tuberculosis Diabetes Mellitus and non-Diabetes Mellitus.
Anestesi pada Operasi Palatoplasty dengan Penyulit Tetralogy of Fallot Munandar, Arief
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 1 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di laporkan penatalaksanaan anestesi pada pasien Labiopalatoschisis dengan penyulit Tetralogy of Fallot yang dilakukan operasi palatoplasti pada seorang anak wanita umur 4 tahun, berat badan 9 kg, dengan anestesi umum, status fisik ASA III. Premedikasi dengan midazolam 0,75 mg, sulfas atropin 0,25 mg, ketalar 5 mg. Induksi dengan ketalar 15 mg, fasilitas intubasi dengan Esmeron 6 mg. Pemeliharaan dengan fentanil 20 mg, halotan 0,5% dan oksigen 5 1/mnt. Durante operasi dilakukan monitoring pada tekanan darah, saturasi 02 nadi dan EKG dengan monitor elektrik. Anestesi dilakukan selama 100 menit, operasi berlangsung selama 60 menit. Durante operasi tidak didapatkan penyulit anestesi maupun pembedahan. Pasca operasi pasien tetap terintubasi dengan sedasi, nafas spontan assist. Perawatan pasca operasi dilakukan di ICU.
Analisis Determinan Status Gizi Balita di Yogyakarta Lestari, Nina Dwi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 15, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v15i1.2490

Abstract

Masalah gizi kurang balita merupakan masalah aktual di wilayah Puskesmas Sentolo 1. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi status gizi balita. Penelitian bersifat observasional menggunakan cross sectional. Responden balita 12-59 bulan sebanyak 155 orang. Data determinan status gizi diperoleh melalui kuesioner, sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan indeks Berat Badan/Umur. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara usia balita, riwayat pemberian ASI, asupan makanan, persepsi ibu, pola pengasuhan dengan status gizi balita. Faktor dominan yang mempengaruhi status gizi adalah asupan makanan.Under nutrition was still a prior problem in Sentolo 1 Public Health Center. The objectives of this study were to determine nutritional status in children under five years and related factors. This study was an observational use cross sectional study was conducted with 155 children under five year. Data is determinants of nutritional status was assessed using anthropometric measurement. There was a significant association between child’s age, exclusife breastfeeding, child’s dietary intake, caregivers’ practice and mother’s perception with child’s nutritional status and child’s dietary energy intake  was the most factor that significant correlated.
Daya Antibakteri Infusa Umbi Temu Hitam (Curcuma aeroginosa Roxb) terhadap Berbagai Kuman Penyebab Diare In Vitro Suryani, Lilis
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i1.1862

Abstract

Diarrhoea remain a serious health problem in Indonesia. People often use the medicine plant to cure diarrhoea. The medicine plant tike Temu Hitam tuber (Curcuma aeroginosa Roxb) has been used commonly against skin dis¬eases, respiratory diseases as well as digestive diseases (diarrhoea). Microor¬ganism causing diarrhoea include Escherichia coli, Shigella dysenteriae and Vibrio cholerae.This research is an experimental laboratory study to observe the anti-bacterial activity of Temu hitam (Curcuma aeroginosa Roxb) tuber infusion against Escherichia coli, Shigella dysenteriae, and Vibrio cholerae.The antibacterial activity of Temu hitam (Curcuma aeroginosa Roxb) tu-ber infusion has been tested by the determination of the minimal inhibitory con-centration (MIC) and minimal bactericidal concentration (MBC) using tube di-lution method.The result of this study shows that the MIC and the MBC of Temu hitam (Curcuma aeroginosa Roxb) tuber infusion against Escherichia coli is 22,2gr% and 25gr%, Shigella dysenteriae ll,lgr% and 25gr%, Vibrio cholerae l,91gr% and 25gr% respectively.As a conclusion, it is obvious that Temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb) tuber infusion possess an antibacterial activity against Vibrio cholerae, Shigella dysenteriae and Escherichia coli as bacteriostatic. Temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb) tuber infusion has the highest antibacterial activity against Vibrio cholerae while the lowest antibacterial activity is shown against Escherichia coli. Di Indonesia penyakit diare (mencret) masih merupakan masalah serius di bidang kesehatan terutama di daerah pedesaan. Masyarakat di pedesaan sering menggunakan tanaman obat untuk mengobati diare. Salah satu bahan tanaman yang berkhasiat obat adalah umbi temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb). Tanaman ini banyak dipakai sebagai obat tradisional mempunyai khasiat untuk meningkatkan nafsu makan, mengobati penyakit kulit, ruam, borok, obat mulas-mulas, peluruh angin, penambah darah, batuk dan sariawan.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang bertujuan untuk mengetahui daya antibakteri infusa umbi temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb) terhadap beberapa bakteri penyebab diare yaitu: Escherichia coli, Shigella dysenteriae dan Vibrio cholerae.Daya antibakteri ditunjukkan dengan melihat kadar hambat minimal (KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM) infusa umbi temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb) terhadap kuman tersebut dengan metode pengenceran tabung {tube dilution method).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KHM infusa umbi temu hitam {Cur-cuma aeroginosa Roxb) berturut-turut terhadap kuman Escherichia coli 22,2gr%, Shigella dysenteriae 11,1 gr% dan Vibrio cholerae l,91gr%. KBM infusa umbi temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb) berturut-turut terhadap kuman Escherichia coli 25gr%, Shigella dysenteriae 25gr% dan Vibrio cholerae 25gr%.Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa infusa umbi temu hitam {Cur-cuma aeroginosa Roxb) mempunyai daya antibakteri terhadap kuman Escherichia coli, Shigella dysenteriae dan Vibrio cholerae. Infusa umbi temu hitam {Curcuma aeroginosa Roxb) mempunyai daya antibakteri yang kuat terhadap kuman Vibrio cholerae dan lemah terhadap kuman Escherichia coli. Daya antibakteri infusa umbi temu hitam terhadap Escherichia coli, Vibrio cholerae, dan Shigella dysenteriae bersifat bakteriostatik.
Deteksi Kuman Salmonella pada Ayam Goreng yang Dijual di Warung Makan dan Pola Kepekaan terhadap Berbagai Zat Antibiotika Wulandari, Syuriati; Suryani, Lilis
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i2 (s).1632

Abstract

There are many types of bacteria that cause food poisoned. One of the bacterias is Salmonella typhi. This type of bacteria mostly inhabit the farm animals or wild animals. Mostly bacterias on cats, dogs, rats, flies and cockroaches defile chickens, meat, eggs and raw milk. Salmonella typhi defiles riped foods during storage and serving. Researches meant to detect Salmonella presence on foods sold at restaurants in Yogyakarta are rarely conducted. This research was in demand to find out the safety of the restaurant foods. This research is a retrospective research. The 5 (five) samples tested were fried chickens sold at restaurants along the Patang Puluhan street, Wirobrajan, Yogyakarta. The identification process was proceeded at Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UMY on August 2007. The process included bacteria quantity determination, Salmonella typhi and Salmonella paratyphi identification and sensitivity pattern of both bacteria on antibiotics. The bacteria count test result shows 6612 organism/ml. And that 60% of the fried chicken sample is contaminated with Salmonella typhi, 20% contaminated with Salmonella paratyphi, and 20% contaminated with E. Coli. The antibiotics that still can be used to exterminate Salmonella typhi are Cotrimoxazol and Ciprofloxacin, for Salmonella paratyphi are Amoxicillin, Cotrimoxazol, Seftriaxon and Ciprofloxacin.Banyakjenis kuman yang dapat menyebabkan keracunan makanan dan salah satunya adalah Salmonell typhi. Kuman ini didapat dari hewan peliharaan atau hewan liar. Biasanya pada kucing, anjing, tikus, lalat dan kecoa yang mencemari ayam, daging, telur dan hasil telur, susu mentah. Salmonella typhi mencemarkan makanan melalui makanan yang telah dimasak ketika penyediaan dan penyimpanan. Penelitian ini dilakukan untuk deteksi Salmonella pada makanan ayam goreng yang dijual pada warung makan di Yogyakarta, dengan tujuan untuk mengetahui keamanan makanan yang dijual para pedagang. Penelitian ini bersifat retrospektif. Sampel yang diuji berupa ayam goreng yang dijual di warung makan di sepanjang jalan Patang Puluhan Wirobrajan Yogyakarta sejumlah 5 sampel. Identifikasi dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK UMY pada bulan Agustus 2007. Identifikasi meliputi penentuan jumlah kuman, identifikasi Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi, serta pola kepekaan kedua kuman tersebut terhadap berbagai zat antiboitika. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil penentuan angka kuman diperoleh 6612 organisme/ ml. 60% sampel ayam goreng yang dijual di warung makan terkontaminasi Salmonella typhi. 20% sampel ayam goreng yang dijual di warung makan terkontaminasi Salmonella paratyphi. 20% sampel ayam goreng yang dijual di warung makan terkontaminasi E.coli. Zat antibiotika yang masih poten untuk membunuh kuman Salmonella typhi adalah Kotrimoksazol dan Ciprofloksasin. Salmonella paratyphi adalah Amoksisilin, Kotrimoksazol, Seftriakson, dan Ciprofloksasin.
A Case Report: Papular Urticaria Caused by Flea Bites Rikyanto, Rikyanto; Wahid, Muhammad Amrullah; Saraswati, Frishia Dida; Fajarulhuda, Muhammad; Sari, Inges Prawita
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 2: July 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.170206

Abstract

A case reported on 19 years old Javanese woman living in Giwangan District Yogyakarta diagnosed with papular urticaria caused by flea bites. In Indonesia the weather is hotter and more humid during the whole year, it makes flea season might happens anytime. There is a lot of papular urticaria cases with unknown exact causes, it makes this case is interesting because the patient showed that papular urticaria can be caused by Flea bites bring the possible causes for her complains. This report highlights the importance of the biological and epidemiological aspects from the flea.
Pengaruh Olahraga Terhadap Derajat Nyeri Dismenorea pada Wanita Belum Menikah Cahyaningtias, Putri Leilina; Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1665

Abstract

Dysmenorrhea is a menstrual disorder that usually happens on the age between 15-45 years old. In Surabaya was found 1.07-1.31% and in United State estimtedly that more than 140 million work hour has lost every year because of dysmenorrhea, and also lost of job opportunity until 10-15%. This research was done to know the influence of exercise to the degree of dysmenorrhea pain on the premarietal woman. This research is an analytic observation with cross sectional approach. The population is 107people, all menses woman with or without dysmenorrhea. Every sample divide into 2 groups, exercise and nonexercise groups based on Visual Analogue Scale (VAS). This is the pain divide into no pain, mild pain, moderate pain and severe pain. The people of this research were done in the 3 places: Medical Faculty of UMY, Max Gym and Melia Purosani Gym Centre Yogyakarta. This research was done in 6 months, during June - December 2008. Statistic test result with Mann-Whitney and Wilcoxon Signed Rank test shown the decreasing degree of dysmenorrhea pain significantly, the woman that doesn ’t do exercise feel more pain than the woman that do exercise and after do exercise the degree of pain on the woman that doesn ’t do exercise before has decreasing significantly withp value = 0.001 ( 0.05). This research shown that exercise give the effect to decreasing degree of dysmenorrhea pain on the woman dysmenorrhea. This effect can be obtain by doing regular exercise.Dismenorea merupakan gangguan mentruasi yang sering terjadi pada usia 15-45 tahun. Di Surabaya dijumpai sebesar 1,07%-1,31% dan Di Amerika Serikat diperkirakan bahwa lebih dari 140 juta jam kerja hilang tiap tahunnya karena dismenorea, dan juga kehilangan kesempatan kerja hingga 10-15%. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh aktifitas olahraga tehadap derajat nyeri dismenorhea pada wanita belum menikah. Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Populasinya adalah semua wanita menstruasi dengan atau tanpa dismenorea sejumlah 107 tiap sampelnya yang dibagi menjadi dua kelompok, kelompok yang melakukan olahraga dan kelompok yang tidak melakukan olahraga dinilai berdasarkan skala analog visual, dimana nyeri di bedakan menjadi tidak nyeri, nyeri ringan, nyeri sedang, dan nyeri berat. Tempat penelitian di lakukan di 3 tempat yaitu Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Max Gym, dan Melia Purosani Gym Centre Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan dalam waktu 6 bulan yaitu pada bulan juni sampai dengan Desember 2008. Hasil uji statistik dengan Mann-Whitney test dan Wilcoxon Signed Ranks test menunjukkan penurunan derajat nyeri yang signifikan dimana pada wanita yang tidak melakukan olahraga mengalami nyeri yang lebih hebat dari pada yang olahraga, dan setelah melakukan olahraga derajat nyeri pada wanita yang tadinya tidak melakukan olahraga mengalami penurunan yang sangat signifikan dengan nilai p= 0,001 (0,05). Penelitian ini menjukkan bahwa olahraga memberikan efek berupa menurunnya derajat nyeri pada wanita yang mengalami dismenorhea. Efek ini didapatkan dengan melakukan olahraga secara teratur.
Peningkatan Mutu Rumah Sakit dengan Akreditasi Kusbaryanto, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hospital accreditation is a recognition by the government for hospitals that have met the standards set. The general objective of accreditation is to get a description about the level of compliance with the standards established by the hospitals in Indonesia, so the quality of hospital services can be accounted for. Accreditation is beneficial to both the hospital itself, the community and hospital owner. Accreditation of hospitals in Indonesia conducted by the Commission on Accreditation of Hospitals (KARS). Hospital accreditation is one way to assess the quality of hospital services. Improved quality of hospital services is very important, because the hospital provides the most critical and dangerous in the system of care for activities of the target is the human soul. The goal of this paper is to better understand that accreditation is very important to improve the quality of the hospital.Akreditasi Rumah Sakit adalah pengakuan pemerintah kepada rumah sakit yang telah memenuhi standar yang telah tetapkan. Tujuan umum akreditasi adalah untuk mendapatkan gambaran sejauh mana pemenuhan standar yang telah ditetapkan oleh rumah sakit-rumah sakit di Indonesia, sehingga mutu pelayanan rumah sakit dapat dipertanggungjawabkan. Akreditasi sangat bermanfaat baik bagi rumah sakit itu sendiri, masyarakat maupun pemilik rumah sakit. Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia dilakukan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Akreditasi rumah sakit merupakan salah satu cara untuk menilai mutu pelayanan rumah sakit. Peningkatan mutu pelayanan rumah sakit merupakan hal yang sangat penting, karena rumah sakit memberikan pelayanan yang paling kritis dan berbahaya dalam sistem pelayanan dan sasaran kegiatannya adalah jiwa manusia. Tujuan penulisan makalah ini adalah agar lebih dipahami bahwa akreditasi sangat penting bagi peningkatan mutu rumah sakit.
Pola Kepekaan Kuman Penyebab Infeksi Saluran Kemih dan Resistensinya Majdawati, Ana
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v1i2.1900

Abstract

Urinary Ttract Infection is an infection/inflamation of the urinary tract (this includes the kidneys, the ureters, the bladder and the urethra). This is caused by microorganisms (bacteria, fungi, virus and parasit). Urinary Tract Infection (UTI) is a serious health problem commonly found in children, adult and the elderly. The diagnosis of UTI is confirmed when there is a significant bacteriuria in the urine culture (bacterial rate 10^ CFU/ml) (Kass,1956). The accurate and prompt diagnosis of UTI is very important in helping the management and therapy of UTI on the patients. The data shows that E.coli is the most common cause of UTI (50- 90%), followed by Proteus Spp, Pseudomo-nas Spp and Staphylococcus Spp (Jones et al.,1992).E.coli produces new mutant enzyme called ESBL (Extended Spectrum b- lactamase). This enzyme causes difficulty in the treatment of the microorgan-isms. Some antimicrobial drugs which have the best ability and stability to the ESBL-producing bacteria is Imipenem and Meropenem Meropenem (Comican, MG, et al., 1996). The data from NCCLS (Performance Standart for Antimi-crobial Susceptability Testing, 8ec^ 1998, Ferraro MJ) showed that ESBL-pro-ducing bacteria is resistant to all Cephalosporin and Astreonam groups.Regarding those facts, it is therefore the choice of antimicrobial drugs for UTI treatment must be actually based on the sensitivity pattern of bacteria fiom antibiogram result (based on relevant diagnostic method or empiric data of scientific publication (educated guess) through clinical efficacy results). The availability of antibiotic guidelines is helpful for choosing antimicrobial for UTI therapy in daily practice.In addition, it needs to be paid attention that the sensitivity pattern of bacteria causing UTI varies for each hospital, region or country.Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi/inflamasi pada saluran kemih (termasuk ginjal,ureter,kandung kemih dan uretra) yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri jamur,virus dan parasit). Diagnosis ISK ini ditegakkan apabila didapatkan bakteriuria bermakna dalam biakan kemih (Angka Kuman 10^ CFU/ ml) (Kass,1956). ISK adalah penyakit yang sering dijumpai di masyarakafmenyerang anak-anak/dewasa bahkan pada usia lanjut dan merupakan masalah kesehatan yang serius. Penegakan diagnosa yang cepat,tepat akan sangat membantu dalam hal terapi/penatalaksanaannya terhadap penderita. Dari data yang didapat menunjukkan penyebab tersering ISK adalah Escherichia coli (50% - 90%). Disusul Proteus, Pseudomonas dan Staphylococcus (Jones et al., 1992).Enzim mutan baru yang dikenal dengan nama ESBL (Extended Spectrum b- lactamases) banyak ditemukan pada eschericia coli sebagai penyebab tersering ISK. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri penghasil ESBL,cenderung lebih sulit pada pengobatannya. Beberapa antimikroba pilihan terhadap bekteri penghasil ESBL yang mempunyai aktivitas baik/stabil adalah Imipenem dan Meropenem (Comican,MG et al.1996). Dari data pada NCCLS (Performance Standart for an¬timicrobial Susceptability Testing,8e(L 1998,Ferraro MJ) disebutkan bahwa ESBL ini resisten terhadap semua golongan Sefalosporin dan Astreonam.Dengan melihat kenyataan tersebut diatas,maka pemilihan antimikroba untuk terapi ISK harus benar-benar didasarkan dan disesuaikan dengan pola kepekaan kuman dari hasil antibiogram (berdasar metode diagnostik yang cukup relavan atau data empirik dari publikasi ilmiah (educated - guess) melalui hasil efektifitas klinik (Clinical efficacy). Tersedianya antibiotic guidelines sangat membantu dalam pemilihan terapi antibiotik dalam praktek sehari-hari. Perlu juga diperhatikan bahwa pola kepekaan kuman penyebab ISK ini untuk masing-masing rumah sakit, daerah atau negara dapat memberikan gambaran yang berbeda.
Problematika Kegemukan Kelas Bawah: Tinjauan Antropologi Kesehatan Triratnawati, Atik
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i2.1699

Abstract

Body shapes especially obesity related to cultural value concern with beauty, aestethica, health and efforts to prevent of the condition. The aims of the research are: to find out the Javanese lower class concept of obesity, problems, prevention and health seeking behavior. The qualitative research was carried out by in-depth interview toward 22 (15 women, 7 men) Javanese lower class who live in DIY. Data analysis was done by Medical Anthropology theory. Among the Javanese, body reflected the condition of a person. The over¬weight measurement usually based on general formula such as high minus 100/ll0cm. But some informants used the cloth, which began tight and fat protruding in certain part of body. The awareness of lower class about value of beauty, aesthetics and health including the preventing of obesity was less, but they tried to prevent by diet- reducing carbohydrate and fat, fasting ev¬ery Monday and Thursday, and jamu (herbal medicine). Problems related to health (diseases) and socio-cultural (inconvenient for Muslim when they prayed 5 times a day, awkward when sitting on the floor) is the main problem among obese people. Obesity means gift from Good, so the prevention to reduce the weight is strongless.Bentuk tubuh khususnya kegemukan berkait erat dengan nilai budaya mengenai kecantikan/estetika, kesehatan dan upaya pencegahannya. Tujuan penelitian ini adalah: mengetahui konsep orang Jawa kelas bawah mengenai bentuk tubuh, problem, pencegahan serta upaya penanggulangannya. Penelitian kualitatif dengan wawancara terhadap 22 (15 wanita, 7 pria) orang lawa dari kelas bawah yang bertempat tinggal di DIY. Analisis data dilakukan dengan pendekatan teori Antropologi Kesehatan. Tubuh bagi orang Jawa merupakan pencerminan keadaan bagi pemiliknya. Ukuran kelebihan badan bisa berdasarkan rumus umum antara tinggi badan dikurangi 100/110 cm, namun banyak pula yang mendasarkan pada ukuran baju yang mulai sempit serta tonjolan lemak di bagian tubuh yang terlihat jelas. Kesadaran akan nilai estetika, kecantikan dan kesehatan mengenai kegemukan kurang kuat, sehingga kegemukan cenderung dibiarkan saja walaupun ada dari mereka yang mencoba mengatasi dengan cara: olahraga, mengurangi konsumsi makanan lemak dan karbohidrat atau dengan jamu dan puasa Senin-Kamis. Problem utama kegemukan bagi mereka adalah menyangkut aspek kesehatan (munculnya penyakit) serta sosial budaya (kesulitan melaksanakan sholat bagi orang Islam atau kesulitan duduk di mkar). Pada kelas bawah kegemukan diterima sebagai anugerah Tuhan sehingga 2paya pencegahannya kurang maksimal.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue