cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Daya Hambat Ekstrak Etanol Aloe Vera L. terhadap Proliferasi Sel Kanker Rongga Mulut (Sp-C1) secara In Vitro Putri, Gina Arfianti; Supriatno, -; Medawati, Ana
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i1.996

Abstract

Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan biologis lainya, Pada penelitian ini menggunakan Lidah Buaya (Aloe vera L) yang memiliki  banyak khasiat sebagai anti kanker, anti bakteri, anti jamur, anti inflamasi, dan memiliki efek analgesik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji daya hambat proliferasi sel kanker rongga mulut (SP-C1) menggunakan  ekstrak etanol Lidah buaya. Desain penelitian ini adalah eksperimental laboratoris murni. Subjek penelitian pada penelitian ini menggunakan kultur sel kanker lidah (SP-C1) yang dibiakan dalam media Dubelcco’s modified eagle medium (DMEM) yang diberi foetal Bovine Serum 10% (FBS). JenisLidah buaya yang digunakan pada penelitian ini adalah Aloe vera L arborescens. Sel SP-C1 yang tumbuh sub-confluent dipanen menggunakan Tripsin-EDTA 0,25%. Sel sebanyak 1x 104 sel/sumur dimasukkkan cawan petri 24 sumur, sesuai jumlah dengan konsentrasi ekstrak etanol Lidah buaya yang digunakan. Sel di inkubasi selama 24 jam. Setelah inkubasi, semua media dibuang dan diganti dengan media baru yang mengandung berbagai konsentrasi ekstrak Lidah buaya. Sel di inkubasi selama 0, 24, 48 dan 72 jam. Hasil Penelitian menunjukkan pemberian ekstrak etanol Lidah buaya pada konsentrasi 75 mg/ml dan 100 ml/mg cenderung menurunkan jumlah proliferasi sel SP-C1 dibandingkan dengan konsentrasi 0 mg/ml, 25 mg/ml, dan 50 mg/ml dengan signifikansi p0.05. Kesimpulan: Ekstrak etanol Lidah buaya efektif menghambat proliferasi sel kanker rongga mulut SP-C1 secara In Vitro. Cancer is a desease that have characterized uncontrolled mitosis and invasion to the other organs. In this researched used Aloe vera as alternative herbal to cure cancer. Aloe vera contains are anticancer, antifungi, antiinflamation and analgesic. The aim of this research is to know the effect of etanolic extract of Aloe vera in inhihibit proliferation of SP-C1. Design research is pure laboratory experimental. Subject is a culture SP-C1 cells in Dubelcco’s modified eagle medium (DMEM) and foetal Bovine Serum 10% (FBS). The kind of Aloe vera is Aloe vera L arborescens. The Fluectuent SP-C1 cell collect by Tripsin-EDTA 0,25%. Cell put in cawan petri 24 cell/well with etanolic extract of Aloe vera, incubation 24  hours and replace with new media, incubation in 24, 48 and 72 hours. Each group add with MTT solution and counted by ELISA. The  result of this research shows that concentration 75 mg/ml  and 100 mg/ml effective inhibit proliferation of SP-C1 cell compared with 0 mg/ml, 25 mg/ml  and 50 mg/ml with the value of significant level 0.05.
Pengaruh Ekstrak Etanol Umbi Uwi Ungu (Dioscorea alata L.) terhadap Gambaran Histologis Mukosa Intestinum pada Mencit Model Alergi Renata Nurul Setyawati; Idiani Nurul Darmawati; Sri Nabawiyati Nurul Makiyah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 14, No 2 (2014): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v14i2.9384

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol umbi uwi ungu (Dioscorea alata L.) terhadap tingkat infiltrasi radang usus halus pada mencit BALB/c yang disensitisasi alergi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vivo pada hewan uji dengan desain post-test only control group design. Subjek penelitian adalah mencit Balb/C jantan sebanyak 35 ekor dibagi enam kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol normal, kontrol negatif diinduksi ovalbumin, kelompok perlakuan ekstrak etanol D.alata L. (EEDA) peroral dosis 0.31g, 0.62g dan 1.24g/kg selama 28 hari dan disensitisasi alergi dan kelompok kontrol positif (antihistamin + ovalbumin).  Tingkat infiltrasi radang intestinum tenue dinilai menggunakan grade reaksi peradangan dan dianalisis dengan Anova diikuti uiji LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat infiltrasi kelompok perlakuan menunjukkan penurunan sejalan dengan peningkatan dosis dibanding dengan kelompok kontrol negatif secara bermakna (p≤0,05). Tingkat peradangan tertinggi pada kelompok kontrol negatif dan tingkat peradangan terendah pada  EEDA dosis 1.24 g. Disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol D. alata L. dapat menurunkan tingkat infiltrasi sel radang pada mukosa usus mencit BALB/c diinduksi ovalbumin.
Arteria Renalis Accessoria Siti Aminah Tri Susilo Estri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v1i2.1904

Abstract

The vascularisation of the kidneys varies in number and location. The kidney that has two or more renal arteries found in 25-30% of population. The variation of renal arteries arises as result of the persistence of embryonic vessel that normally degeneratic when definitive renal arteries are formed.Vascularisation variation of the kidney in the forms of renalis artery and accessory renal artery were found in one of five cadavers dissected in the Laboratory of Anatomy, Faculty of Medicine, Muhammadiyah University of Yogyakarta.The left kidney has one principal artery and one accessory artery that branched from abdominal aorta. The accessory renal artery was located in the inferior of the principal artery and passed the inferior polus of the left kidney. In this case no obstruction of the ureter nor hydronephrosis was found as the main clinical feature usually observed in the cases.Vaskularisasi pada ren bervariasi pada jumlah dan posisi . Pada 25% - 30% populasi ditemukan adanya ren yang mempunyai 2 atau lebih arteria renalis. Variasi ini berasal dari tetap adanya vasa darah embryonal yang seharusnya mengalami degenerasi ketika vasa renalis (definitive) terbentuk.Variasi vaskularisasi pada ren berupa arteria renalis dan satu arteria renalis accessoria telah ditemukan pada saat diseksi kadafer ke-5 kali di Laboratorium Anatomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.Ren sinistra tampak mempunyai a. renalis sinistra (principalis) dan satu a. renalis accessoria, yang dipercabangkan langsung dari aortae abdominalis. Arteria renalis accessoria terletak di sebelah inferior dari a. renalis sinistra dan pergi ke polus inferior ren sinistrae. Pada kasus ini tidak ditemukan adanya obstruksi ureter maupun hidronefrosis.
Hubungan antara Peranan Perawat dengan Sikap Perawat pada Pemberian Informed Consent Sebagai Upaya Perlindungan Hukum Bagi Pasien di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2009 Arofiati, Fitri; Rumila, Erna
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2.1605

Abstract

One of nurse ’s roles is an advocate for patient that is to advocacy patient ’s right, legal patient’s right is informed consent. Informed consent is patient’s agreement after got information by doctor to do a medical action. Nurse ’s attitude of giving informed consent is facilitator at decision making to a medical action. This study aimed to reveal the correlation between nurse ’s role with nurse ’s attitude in giving informed consent as the law protection effort for patient in PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta. This non-experimental study is a correlation study with cross-sectional approach, used 38 samples with purposive sampling technique. Data analysis used Spearman Rank. The result of this research showed that there were correlation between nurse ’s role and nurse ’s attitude in giving informed consent as the law protection effort for patient, with statistical testp value = 0,000 orp value 0,05. The conclusion of this research that there are correlation nurse ’s roles with nurse ’s attitude of giving informed consent as the law protection effort for patient in PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta.Salah satu peran perawat adalah sebagai pelindung dan advokat bagi pasien yaitu untuk membela hak pasien, hak legal pasien salah satunya adalah informed consent. Informed consent merupakan persetujuan pasien setelah adanya informasi dari dokter untuk dilakukan suatu tindakan medik. Sikap perawat pada pemberian informed consent adalah sebagai fasilitator dalam pengambilan keputusan mengenai suatu tindakan medik.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran perawat dengan sikap perawat pada pemberian informed consent sebagai upaya perlindungan hukum bagi pasien di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian ini adalah penelitian non experimental dengan rancangan deskriptif korelasi dan menggunakan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel adalah 38 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data menggunakan uji statistik Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan peran perawat dengan sikap perawat pada pemberian informed consent sebagai upaya perlindungan hukum bagi pasien yang ditunjukkan dengan hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,000 atau p 0,05. Peran dan sikap perawat RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta menunjukkan hasil yang sangat baik dalam pemberian informed consent pada pasien. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan peran perawat dengan sikap perawat pada pemberian informed consent sebagai upaya perlindungan hukum bagi pasien di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta sehingga diharapkan mampu meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dari sisi peran perawat sebagai advokat.
Hubungan Umur Deteksi Ketulian dengan Tingkat Intelegensi Siswa di SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta Adhiapto, Luhur Budi; Widuri, Asti
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1031

Abstract

Deteksi ketulian pada anak khususnya sebelum usia 3 tahun yang kemudian dilakukan intervensi dini akan menghasilkan perkembangan anak yang sangat memuaskan. Akan tetapi, deteksi dini ketulian di Indonesia masih dilaksanakan secara pasif. Hal ini menyebabkan keterlambatan deteksi dan intervensi yang diberikan pada anak, sedangkan dampak ketulian pada anak khususnya ketulian prelingual sangat besar dan dapat berpengaruh pada masa depan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan deteksi dini ketulian terhadap tingkat intelegensi siswa di SLB-B Karnnamanohara. Jenis penelitian adalah observasional dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian adalah 35 siswa SLB-B Karnnamanohara terbagi dua kelompok yaitu kelompok deteksi dini (3 tahun) dan terlambat (3 tahun) dengan total sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner untuk pengelompokkan status umur deteksi ketulian dan tes intelegensi CPM (Coloured Progressive Matrices) untuk menilai tingkat intelegensi siswa yang dikelompokkan menjadi tingkat intelegensi dibawah rata-rata (25%), rata-rata (75% x 25%) dan diatas rata-rata (75%). Data dianalisis menggunakan Crosstab dilanjutkan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi hubungan antara umur deteksi ketulian dengan tingkat intelegensi adalah p=0,321 (p0,05). Disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara umur deteksi ketulian dengan tingkat intelegensi siswa di SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta. Early detection of deafness in hearing loss children especially before 3 years old and then followed by early intervention will produced a satisfactory child’s growth. In other hand, early detection of deafness children in Indonesia still were done passively. This situation can make late detection and late intervention that given to the children, however deafness impact to the children, especially for prelingual deafness is very huge, and can influence with the child’s future. This research is purposed to know the relation between early detection of deafness with degree of intelligence in Karnnamanohara Hearing Impaired School of Yogyakarta. Design of the research is observational and the data taken by croossectional. Research’s subject were all of the Karnnamanohara Hearing Impaired School of Yogyakarta’s student, the amount were 35 students that devided into two groups, early detection group (3 years old) and late detection group (3  years old). The data taken by questionaire to classified the status of age of deafness’s detection and CPM  (Coloured Progressive Matrice) intelligency test to assess the degree of intelligence that finally divided into under average (25%), average (75%x25%), and above average (75%). Collected data was analysed with Crosstab continued with Spearmann Test. The result showed the significancy value for the relation between the age of deafness’s detection with the degree of intelligency
Pengaruh Metode Sokletasi dan Perkolasi Ekstrak Etanol Kayu Siwak (Salvadora persica) Terhadap Kandungan Zat Senyawa Aktif Kajian pada : Flavonoid, Fenol, Saponin, Tanin, Terpenoid Erlangga Narotama Quddus; Ana Medawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i1 (S).9415

Abstract

Siwak (Salvadora persica) merupakan salah satu tanaman alternatif yang mengandung antimikroba. Kayu siwak diduga memiliki kandungan zat senyawa aktif salvadorin, klorida, sejumlah besar fluorida dan silika, sulfur, vitamin C, serta sejumlah kecil tanin, saponin, flavanoid dan sterol.Dalam memperoleh ekstrak suatu bahan simplisia, komposisi senyawa aktif dari hasil ekstraksi juga dipengaruhi oleh pelarut dan metode penyarian. Metode dasar penyarian itu sendiri terbagi menjadi 3 macam : metode sokletasi, metode perkolasi dan metode maserasi. Pemakaian terhadap ketiga cara diatas disesuaikan dengan kepentingan dalam memperoleh sari. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan zat senyawa aktif ekstrak etanol kayu siwak pada metode perkolasi dan metode sokletasi. Subyek penelitian ini adalah kayu siwak serta hasil ekstrak etanol kayu siwak (Salvadora persica) dengan menggunakan metode perkolasi dan metode sokletasi. Penelitian dilakukan melalui tahap parsiapan yaitu melakukan penyarian terhadap kayu siwak dengan menggunakan metode perkolasi dan sokletasi yang dilakukan di laboratorium Teknologi Fitofarmasetik Fakultas Fannasi Universitas Gajah Mada Kemudian dilakukan identifikasi kandungan zat senyawa aktifpada basil eksnak dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis yang dilakukan di LPPT (Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu). Terdapat 5 zat senyawa aktif yang dij adikan parameter dalam penelitian ini yaitu : flavonoid, saponin, fenol, terpenoid, tanjn yang diduga mempunyai efek antibakteri.Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan kandungan zat senyawa aktif. Pada hasil ekstrak etanol kayu siwak (Salvadora persica) dengan menggunakan metode perkolasi mempunyai kandungan zat senyawa aktif fenol, saponin, terpenoid Sedangkan pada hasil ekstrak etanol kayu siwak dengan menggunakan metode sokletasi mempunyai kandungan zat senyawa aktif fenol, saponin, terpenoid, tanin, flavonoid 
Perbandingan Tingkat Kecemasan Primigravida dan Multigravida Dalam Menghadapi Persalinan Di Wilayah Kerja Puskesmas Wirobrajan Hidayatul Kurniawati; Alfaina Wahyuni
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 14, No 1 (2014): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v14i1.2476

Abstract

Kecemasan adalah pengalaman tidak menyenangkan yang terjadi ketika seseorang merasa khawatir atau ketakutan. Diperkirakan 2%-4% diantara penduduk di suatu fase dari kehidupannya pernah mengalami kecemasan. Sebagai seorang perempuan, kehamilan dan menghadapi persalinan merupakan salah satu fase yang dapat menyebabkan kecemasan. Dibandingkan dengan primigravida, multigravida lebih berpengalaman dalam menghadapi persalinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan apakah terdapat perbedaan tingkat kecemasan primigravida dan multigravida dalam menghadapi persalinan. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Wirobrajan Yogyakarta. Jenis penelitian adalah observasional dengan teknik purposif sampling. Tingkat Kecemasan berupa data interval yang diukur menggunakan Analog Anxiety Scale (AAS). Sampel dengan jumlah 30 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis dengan Independent-Sample T Test. Hasil penelitian diperoleh bahwa responden primigravida dengan kecemasan ringan sebanyak 4 responden (13,33%), cemas sedang sebanyak 3 responden (10%), dan cemas berat sebanyak 1 responden (3,34%). Untuk responden multigravida hanya mengalami cemas ringan dan cemas sedang masing-masing 1 responden (3,34%). Nilai signifikansi (P) 0,05. Disimpulkan bahwa primigravida memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan multigravida dalam menghadapi persalinan.Anxiety is unpleasant experience that happen when someone feel worry or threatening. Approximately 2%-4% of population suffers from anxiety in one phase of their life. As a woman, pregnancy and facing the child birth is one phase that can caused anxiety.  Compare with primigravida, multigravida have more experience in facing the child birth. This research was to know whether there was a differentiation of anxiety level between primigravida and multigravida in facing the child birth. The research was done in Wirobrajan Primary Health Care. The study was observational with purposive sampling technique. The anxiety level was interval data that  measured using Analog Anxiety Scale (AAS). Samples with a number of 30 respondents who is appropriate with the inclusion criteria. Data was analyzed by Independent-Sample T Test. This research found that primigravida with mild anxious there were 4 respondents (13,33%), 3 respondents (10%) with moderate anxious, and  1 respondent (3,34%) with severe anxious. For multigravida, there were 1 respondent (3,34%) with mild anxious and moderate anxious. The (P) value was 0,05. It can be concluded that anxiety level of primigravida is higher than multigravida in facing the child birth.
Pengaruh Lama Hipoksia terhadap Angka Eritrosit dan Kadar Hemoglobin Rattus norvegicus Hidayati Fitrohtul Uyun; Ratna Indriawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i1.1056

Abstract

Oksigen berperan penting dalam proses metabolisme tubuh. Kekurangan oksigen menyebabkan metabolisme berlangsung tidak sempurna. Hipoksia merangsang sistem hematologi dan sirkulasi untuk meningkatkan fungsi oksigenasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh lama hipoksia terhadap angka eritrosit dan kadar hemoglobin Rattus norvegicus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, pre and post control group design. Perlakuan hipoksia menggunakan modifikasi hypoxia chamber dengan pemberian kadar oksigen sebesar 10% dari total volume kandang. Pengukuran eritrosit menggunakan manual haemositometer dan hemoglobin menggunakan spektrofotometer. Analisis data menggunakan uji T test dan oneway anova, Kruskall Wallis dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil rerata ± SD hemoglobin (gr/dl) dari seluruh kelompok kontrol, 12, 24 dan 36 jam hipoksia sebelum dan sesudah secara berturut-turut yakni 10,89 ± 0,755 dan 8,74 ± 0,762. Hasil rerata ± SD eritrosit (juta/¼l) seluruh kelompok kontrol, 12, 24 dan 36 jam sebelum dan sesudah yakni 5,63 ± 0,74 dan 4,19 ± 0,523. Hasil Uji T-test hemoglobin dari kelompok kontrol, 12, 24 dan 36 jam hipoksia secara berturut-turut dengan nilai  p = 0,227, p = 0,492, p = 0,000, p = 0,000 dan hasil uji T-test eritrosit dari kelompok kontrol, 12, 24, 36 jam hipoksia secara berturut-turut dengan nilai p = 0,004, p = 0,243, p = 0,001, p = 0,003. Hasil oneway anova kadar hb (p = 0,000)  dan hasil Kruskall Wallis angka eritrosit (p = 0,018). Disimpulkan bahwa terjadi peningkatan angka eritrosit dan kadar hemoglobin pada perlakuan 12 jam dan penurunan pada perlakuan 24 dan 36 jam hipoksia pada Rattus norvegicus. Oxygen have an important role in body metabolism. Lack of oxygen caused uncomplete metabolism. Hypoxia can stimulate the circulatory system and hematology to improve oxygenation function. This research purpose to knows effect of hypoxia duration to the erythrocyte and hemoglobin on Rattus norvegicus. This is experimental research, pre and post control group design. Hypoxia condition made from modification of hypoxia chamber with 10% oxygen level from total volume of chamber. Measuring of erythrocyte used manual hemocytometer and the hemoglobin use spektrofotometer. Data analysis used T test and oneway anova, Kruskall Wallis with CI 95 %. The result from all of group control, 12, 24 and 36 hour pre and post hemoglobin median ± SD (gr/dl) were 10,89 ± 0,755 and 8,74 ± 0 ,762 and median ± SD of erythrocyte (106/ ¼l) were 5,63 ± 0,74 and 4,19 ± 0,523. The result T test showed the correlation of pre and post hemoglobin from control, 12, 24, and 36 hour duration hypoxia were p = 0,227, p = 0,492, p = 0,000, p = 0,000 and the erythrocyte from control, 12, 24, and 36 hour duration hypoxia were p = 0,004 , p =  0,243, p = 0,001, p = 0,003. Result from Oneway anova from haemoglobin (p = 0,000) and result of Kruskall Wallis from erythrocyte (p = 0,018). It can concluded that there is increasing erythrocyte and hemoglobin on 12 hour and decreasing on 24 and 36 hour hypoxia on Rattus norvegicus.
Kajian Stress Oksidatif Pada Bayi Prematur Bambang Setiawan; Eko Suhartono; Mashuri Mashuri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i1.1861

Abstract

Preterm babies can be considered as a disease with an oxidative stress compo-nent. Beside that, in preterm babies found any disease which have causal link with the action of reactive oxygen species. Damaged which mediated by reactive oxygen species caused bay decreased of endogenous antioxidant defense. In the hospital preterm babies can expose by some source o oxidative stress, such blood transfusion, high concentration oxygen therapy, and parenteral nutrition feeding.Bayi prematur dapat dipertimbangkan sebagai penyakit akibat komponen stress oksidatif. Kerusakan yang ditimbulkan oleh Senyawa Oksigen Reaktif tersebut diperantarai oleh rendahnya sistem antioksidan endogen. Di samping itu, dalam perawatan di rumah sakit, bayi prematur sering terpajan berbagai kondisi yang merupakan sumber stress oksidatif. Kondisi tersebut dapat berupa transfusi darah, terapi oksigen konsentrasi tinggi, dan pemberian makan dengan nutrisi parenteral.
Prevalensi Filariasis dan Perilaku Penduduk Desa Rami Pasai dan Betung dalam Pengobatan Filariasis Sutomo, Adi Heru
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1496

Abstract

In Indonesia, the number of filariasis prevalence is not quite clear, and as a result there may be a confusing problem on the estimation itself Therefore, based on the problem, a simple survey was performed in the Province of Sumatera Selatan, Indonesia. The result of this field survey showed that filariasis prevalence in general was decreased already as the result of mass DEC treatment, except in some specific areas. Some specific cases in the field were founded, for example the distribution of the drugs among the people in those areas, including respon-dents who were chosen as samples, the clinical signs and the people mobiliza-tion. Based on this survey, there is a need to have a more strategic program to eradicate filariasis especially in the remote areas of Indonesia.Di Indonesia jumlah prevalensi filariasis agak tidak jelas, sehingga mungkin angka perkiraannya sendiri juga membingungkan. Oleh karena itu, berdasarkan masalah tersebut, suatu survai sederhana dilakukan di propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Hasil survai lapangan menunjukkan bahwa secara umum prevalensi filariasis sudah menurun sebagai hasil dari pengobatan DEC masai kecuali di beberapa tempat khusus. Beberapa kasus khusus ditemukan di lapangan, sebagai contoh distribusi obat di antara penduduk di tempat-tempat tersebut termasuk responden yang dipilih sebagai subyek, tanda-tanda klinis dan mobilisasi penduduk. Berdasarkan survey ini, diperlukan suatu program yang lebih strategis untuk membasmi filariasis terutama di daerah pedalaman Indonesia.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue