cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Peningkatan Mutu Rumah Sakit dengan Akreditasi - Kusbaryanto
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1567

Abstract

Hospital accreditation is a recognition by the government for hospitals that have met the standards set. The general objective of accreditation is to get a description about the level of compliance with the standards established by the hospitals in Indonesia, so the quality of hospital services can be accounted for. Accreditation is beneficial to both the hospital itself, the community and hospital owner. Accreditation of hospitals in Indonesia conducted by the Commission on Accreditation of Hospitals (KARS). Hospital accreditation is one way to assess the quality of hospital services. Improved quality of hospital services is very important, because the hospital provides the most critical and dangerous in the system of care for activities of the target is the human soul. The goal of this paper is to better understand that accreditation is very important to improve the quality of the hospital.Akreditasi Rumah Sakit adalah pengakuan pemerintah kepada rumah sakit yang telah memenuhi standar yang telah tetapkan. Tujuan umum akreditasi adalah untuk mendapatkan gambaran sejauh mana pemenuhan standar yang telah ditetapkan oleh rumah sakit-rumah sakit di Indonesia, sehingga mutu pelayanan rumah sakit dapat dipertanggungjawabkan. Akreditasi sangat bermanfaat baik bagi rumah sakit itu sendiri, masyarakat maupun pemilik rumah sakit. Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia dilakukan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Akreditasi rumah sakit merupakan salah satu cara untuk menilai mutu pelayanan rumah sakit. Peningkatan mutu pelayanan rumah sakit merupakan hal yang sangat penting, karena rumah sakit memberikan pelayanan yang paling kritis dan berbahaya dalam sistem pelayanan dan sasaran kegiatannya adalah jiwa manusia. Tujuan penulisan makalah ini adalah agar lebih dipahami bahwa akreditasi sangat penting bagi peningkatan mutu rumah sakit.
Efikasi Fraksi Etanolik Akar Tempuyung (Sonchus arvensis L.) sebagai Kemoterapi Kanker Kolon Berdasarkan Ekspresi Caspase-9 Brilliana Nur Rohima; Indwiani Astuti; Muhammad Ghufron
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i1.931

Abstract

Kanker kolon merupakan salah satu kanker banyak dijumpai. Kanker kolon merupakan satu dari 10  kanker primer paling sering di Indonesia pada 1988, 1989, dan 1991. Berdasarkan perkembangan globalisasi di Indonesia diperkirakan insidensi dan prevalensi kanker kolon akan meningkat. Apigenin adalah bioflavonoid subkelas flavone yang memiliki potensi terapeutik yang besar, salah satunya adalah memacu apoptosis. Apigenin terdapat dalam tempuyung (Soncus arvensis L.) . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi fraksi etanolik akar tempuyung (Sonchus arvensis L.)  untuk kemoterapi kanker kolon melalui ekspresi caspase-9 pada cell line kanker kolon WiDr. Penelitian dilakukan dengan cara sampel tanaman dideterminasi. Akar tempuyung difraksinasi dan dilakukan uji sitotoksisitas, kemudian dilakukan uji imunohistokimia pada cell line kanker kolon WiDr dengan ditambahkan fraksi akar tempuyung ½ IC50, IC50, dan 2 IC50. Sebagai kontrol negatif digunakan media kultur dan kontrol positif digunakan fluorouracil dosis 46,56 µg/mL, kemudian dibuat preparat histopatologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa determinasi spesies sampel adalah Sonchus arvensis L. Hasil uji sitotoksisitas IC50 fraksi etanolik akar tempuyung adalah 2865,5 µg/mL. Pada penelitian ini tidak dilakukan uji imunohistokimia karena IC50 fraksi etanolik akar tempuyung terlalu besar (e”50 µg/mL). Disimpulkan bahwa fraksi etanolik akar tempuyung (Sonchus arvensis L.)  memiliki potensi yang rendah untuk kemoterapi kanker kolon berdasarkan ekspresi caspase-9 pada cell line kanker kolon WiDr
Hasil Guna Edukasi Diabetes Menggunakan Telemedicine terhadap Kepatuhan Minum Obat Diabetisi Tipe 2 Denny Anggoro Prakoso; Nindy Ellena
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 15, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v15i1.2489

Abstract

Angka insiden dan prevalensi diabetes melitus tipe 2 di berbagai penjuru dunia cenderung mengalami peningkatan. WHO memprediksi Indonesia mengalami kenaikan jumlah pasien dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21.3 juta pada tahun 2030. Kepatuhan pengobatan pasien dengan diabetes melitus umumnya rendah. Telemedicine dapat digunakan sebagai media edukasi diabetes melalui pesan multimedia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hasil guna edukasi diabetes menggunakan telemedicine terhadap kepatuhan minum obat penyandang diabetes melitus tipe 2. Desain penelitian ini adalah quasi experiment pretest-post-test with control group design. Subjek penelitian adalah 56 pasien diabetes melitus tipe 2 yang terdiri dari 28 pasien kelompok perlakuan dan 28 pasien kelompok kontrol. Edukasi diabetes diberikan 8 kali selama 1 bulan. Penilaian tingkat kepatuhan minum obat menggunakan Morisky Medication Adherence Scales (MMAS‐8). Uji analisis statistik dengan wilcoxon signed rank test terhadap kepatuhan minum obat sebelum dan sesudah perlakuan, baik pada kelompok perlakuan dan kontrol, diperoleh nilai p = 0,539 pada kelompok perlakuan dan p = 0,071 pada kelompok kontrol. Hasil uji beda rerata perubahan kepatuhan pengobatan antar kedua kelompok dengan mann-whitney test diperoleh nilai p = 0,098. Edukasi diabetes dengan telemedicine tidak efektif terhadap peningkatan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus tipe 2.The incidence and prevalence rate of diabetes mellitus type 2 in various parts of the world tends to increase. WHO predicts Indonesia has increased the number of diabetician from 8.4 million in 2000 to about 21.3 million in 2030. Medication compliance in patient with chronic disease especially diabetes mellitus is generally low. Telemedicine can be used as a media for diabetes education via multimedia messaging. The study aims to determine the effectiveness of diabetes education using telemedicine to diabetician type 2 medication compliance. This study was quasi experiment with pretest-post-test control group design. The subjects were 56 patients with type 2 diabetes melitus comprising 28 patients in treatment group and 28 patients in control group. Diabetes education is given eight times for 1 month. The evaluation of level of medication compliance using Morisky Medication Adherence Scales (MMAS-8). Statistical analysis test by wilcoxon signed rank test against medication compliance, both, before and after treatment, in the treatment and control group, obtained p = 0.539 in the treatment group and p = 0.071 in the control group. Test results for mean changes in medication compliance between both groups with mann-whitney test obtained p value = 0.098. Diabetes education using telemedicine is not effective to increase medication compliance in patient with diabetes melitus type 2.
Ektasia Kornea Pasca Lasik Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i2.1583

Abstract

The objective of this paper to know prevention and management corneal ectasia after Lasik Corneal ectasia after lasik are weakening of cornea caused by central stromal laser or creation of the flap after lasik surgery. This conditions are feared complication of refractive surgeon. Corneal ectasia after lasik will happen several months until several years after lasik. Incidence of corneal ectasia is still unknown, about 1 over 100.000. Diagnosis of corneal ectasia was established by slitlamp appearance of corneal thinning, with progresif miop, progresif irreguler astigmat and refractive error cannot be corrected. Risk factors of corneal ectasia are family history, young age, corneal thickness lower than 500 micron, corneal asymmetri, abnormal topography, keratoconus and low residual stromal bed. The therapeutic options for corneal ectasia are Rigid Gas Permiable (RGP) contact lenses, eye drops for decreased intraocular pressure, corneal collagen crosslinking - riboflavin (C3-R), intacs implantation, and in the advanced stages, lamellar keratoplasty. A complete ophthalmologic examinations before surgery andfindings the risks factors are important to prevent corneal ectasia after lasik. The prognosis of corneal ectasia after lasik was good.Tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui pencegahan dan pengelolaan ektasia kornea pasca lasik. Ektasia kornea pasca lasik adalah kelemahan kornea akibat ablasi stroma sentral atau pembuatan flap kornea sesudah operasi lasik. Kondisi ini merupakan komplikasi yang paling ditakuti ahli bedah refraktif. Kejadian ektasia kornea pasca lasik dapat terjadi beberapa bulan sampai beberapa tahun pasca lasik. Insidensinya tidak diketahui, diduga sekitar 1 per 100.000. Penegakan diagnosis dilakukan dengan menggunakan slitlamp tampak kornea menipis dan menonjol disertai gejala miop progresif, astigmat irreguler yang meningkat dan kelainan refraksi yang tidak dapat dikoreksi. Beberapa faktor risiko ektasia kornea antara lain riwayat keluarga, umur muda, miop tinggi, ketebalan kornea kurang dari 500 mikron, asimetri kornea, abnormal topografi, keratokonus dan rendahnya residual bed. Beberapa pilihan terapi yang dilakukan yaitu pemakaian lensa kontak RGP, pemakaian obat penurun tekanan intraokuler, pemberian C3-R, implantasi intacs dan tahap lanjut dengan lamellar keratoplasti. Pemeriksaan pre operatif yang lengkap dan penemuan faktor risiko merupakan hal yang penting untuk menghindari terjadinya ektasia kornea pasca lasik. Prognosis pasien ektasia kornea pasca lasik adalah baik.
Pengaruh Terapi Akupunktur terhadap Proses Penurunan Berat Badan Wanita di RS Ludira Husada Yogyakarta Ayu Anggia Trida; - Pujiatun; Ekorini Listiowati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (s) (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i1 (s).1679

Abstract

Losing weight is a step in the right directionfor healthy life and come up self confidence as according to desire many women. Acupuncture as one of the alternative therapy which selected by many women because effective enough for help weight loss and almost without serious side effect. The purpose of this research is to know how big influence of acupuncture therapy to help weight loss process. This research is descriptive study by using primary data from questioners and secondary data from medical record of Ludira Husada Hospital Yogyakarta. The subjects of this research are 20 women who feel overweight / obesity following acupuncture therapy. The data will analyze with statistical test of T-Test. Result of this research at 20 women following acupuncture therapy during 2 package therapy got the most weight loss 4-6 kg (70 %), the most reduction of arm circular size is 1-2 cm (45 %), the most reduction of stomach circular size is 4-6 cm (65 %) and the most reduction of thigh circular size is 4-6 cm (60 %). The result of statistical test with T-Test at the fourth variable got by result 0,000 or p 0,05, its means that there are significant influence at probandus before and after following acupuncture therapy. In this research can be concluded that acupuncture therapy give significant influence for weight loss process.Mengurangi berat badan adalah langkah yang tepat untuk hidup sehat dan tampil percaya diri sesuai dengan keinginan banyak wanita. Akupunktur merupakan salah satu terapi alternatif yang banyak dipilih oleh wanita karena efektifitas menurunkan berat badan cukup tinggi dan relatif aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar pengaruh terapi akupunktur terhadap proses penurunan berat badan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptifdengan menggunakan data primer yang diperoleh melalui kuesioner dan data sekunder dari bagian Rekam Medik RS Ludira Husada Yogyakarta. Subyek penelitian adalah 20 orang wanita yang mempunyai masalah kelebihan berat badan/obesitas yang mengikuti terapi akupunktur. Data dianalisis signifikansinya dengan uji statistik T-Test. Hasil penelitian pada 20 orang wanita yang mengikuti terapi akupunktur selama 2 paket terapi didapatkan hasil penurunan berat badan terbanyak adalah 4-6 kg (70 %), pengurangan ukuran lingkar lengan terbanyak yaitu 1-2 cm (45 %), pengurangan ukuran lingkar perut terbanyak yaitu 4¬6 cm (65 %) dan pengurangan ukuran lingkar paha terbanyak yaitu 4-6 cm (60 %). Hasil uji statistik dengan T-Test pada keempat variabel didapatkan hasil 0,000 atau p 0,05, artinya terdapat pengaruh yang signifikan pada probandus sebelum dan setelah mengikuti terapi akupunktur. Dapat disimpulkan bahwa terapi akupunktur memberikan pengaruh yang signifikan terhadap proses penurunan berat badan.
Perbandingan Korelasi Penentuan Tinggi Badan antara Metode Pengukuran Panjang Tibia Perkutaneus dan Panjang Telapak Kaki Aflanie, Iwan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i3.991

Abstract

Identifikasi adalah menentukan identitas orang yang masih hidup atau sudah meninggal, berdasarkan temuan khusus yang terdapat pada orang tersebut. Penentuan tinggi badan memiliki arti yang penting dalam situasi dimana yang harus diperiksa hanya berupa potongan-potongan atau rangka tubuh, atau hanya sebagian dari tulang. Perkiraan tinggi badan bisa diperoleh dengan menggunakan formula regresi. Keakuratan dari formula regresi dalam menentukan tinggi badan seseorang dipengaruhi oleh pola dan proporsionalitas antara berbagai macam takaran dari berbagai bagian tubuh. Telah diketahui bahwa konsep alometri. Hubungan alometri diantara tulang – tulang adalah sistematis tapi tidak pasti. Pola penelitian yang digunakan adalah analisis cross sectional. Hasil yang dipantau berupa dalam bentuk persamaan regresi dan tingkat korelasi yang koefisien pada kedua bentuk persamaan. Hasil analisi penelitian diselesaikan dengan cara membandingkan koefisien korelasi dari metode pengukuran tibia perkutaneus dan metode pengukuran panjang telapak kaki. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa metode pengukuran panjang tibia perkutaneus memiliki korelasi yang lebih kuat terhadap tinggi tubuh seseorang dibandingkan metode pengukuran panjang telapak kaki. Koefisien korelasi (r) pada metode pengukuran tibia perkutaneus senilai 0,756 untuk tibia kanan dan 0,726 tibia kiri, dengan bentuk persamaan regresi y = 68,499 + 2,632x untuk tibia kanan dan y = 71,921 + 2,529x untuk tibia kiri. Koefisien korelasi (r) untuk metode pengukuran telapak kaki senilai 0,717 untuk telapak kaki kanandan 0,714 untuk telapak kaki kiri dengan bentuk persamaan regresi Y = 73,613 + 3,781X untuk telapak kaki kanan dan y = 74,214 + 3,756x untuk telapak kaki kiri.
Hubungan Depresi dan Perilaku Makan terhadap Berat Badan Lebih Mahasiswa Kedokteran Muhammad Khotibuddin
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 1 (2017): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v17i1.3682

Abstract

Prevalensi kegemukan pada penduduk Indonesia 18 tahun telah meningkat 2 kali lipat dalam 5 tahun. Penyebab obesitas bersifat multifaktorial, diantaranya adalah depresi dan perilaku makan. Hasil penelitian tentang penyebab obesitas yang sangat beragam terkait perbedaan demografi sosial dan  budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara depresi dan perilaku makan dengan berat badan lebih pada mahasiswa kedokteran. Desain penelitian adalah cross sectional menggunakan sampel acak sebanyak 147 mahasiswa. Berat badan lebih ditentukan dengan indeks masa tubuh (IMT) 25. Variabel depresi diukur dengan kuesioner Beck Depression Inventory (BDI), sedangkan perilaku makan diukur dengan Dutch Eating Behavior Questionaire (DEBQ). Kedua kuesioner sudah dilakukan adaptasi dan pengujian terhadap validitas dan reliabilitasnya. Analisis multivariat menggunakan metode statistik regresi logistik dengan a=0,05 . Hasil menunjukkan bahwa prevalensi berat badan lebih pada mahasiswa kedokteran sebesar 28,6%. Sebanyak 19% responden mengalami depresi. Rata-rata skor BDI sebesar 5,07±6,446, rata-rata restrained eating adalah 21,9±8,57; emotional eating sebesar 27,83±8,67 dan external eating sebesar 28,9±6,65. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa berat badan lebih berhubungan secara signifikan dengan jenis kelamin laki-laki (OR 4,069; 95%CI: 1,491-11,104), skor BDI (OR 1,234; 95%CI: 1,051-1,47) dan restrained eating (OR 1,161; 95%CI: 1,088-1,238). Disimpulkan bahwa restrained eating dan depresi berhubungan dengan BB lebih pada responden terutama pada jenis kelamin laki-laki.
Pengaruh Durasi Pemberian Ekstrak Etanol Pegagan (Centella asiatica sp.) terhadap Memori Spasial Tikus Putih (Rattus norvegicus) pascastres Listrik Dwi Cahyani Ratna Sari; Reza Satria Pratama; Soedjono Aswin; Sri Suharmi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i2.932

Abstract

Beberapa penelitian telah dilakukan berkaitan dengan kemampuan pegagan sebagai neurotropik dan neuroprotektif. Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan pengaruh durasi pemberian ekstrak etanol pegagan dalam peningkatan memori spasial tikus putih pascastres. Pada penelitian ini, 21 tikus jantan, usia delapan minggu dibagi dalam tiga kelompok: dua kelompok perlakuan (K1 dan K2) dan satu kelompok kontrol (KN). Kelompok perlakuan menerima ekstrak ethanol pegagan sebesar 150 mg/kgBB/ ml secara oral selama empat(K1) dan enam(K2) minggu. Kelompok kontrol akan menerima aquades 1 ml selama enam minggu. Semua kelompok akan diuji memori dengan menggunakan maze radial delapan lengan selama 12 hari sebelum dan setelah perlakuan. Uji stres listrik selama 10 menit dilakukan sebelum perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan persentase tertinggi ketepatan pemilihan lengan dalam uji maze radial 2 (UMR2) untuk KN, K1 dan K2 masing-masing sebesar 23,6%, 44,8% dan 91,71%, dengan rerata persentase masing-masing sebesar 10,24%, 14,12% dan 53,33%. Uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa persentase ketepatan pemilihan lengan berbeda secara bermakna antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kesimpulannya adalah pegagan mampu meningkatkan memori spasial tikus putih pascastres dan pemberian ekstrak etanol pegagan selama enam minggu memberikan efek peningkatan memori yang lebih signifikan dibanding pemberian selama empat minggu.
Corticosteroid-Induced Central Serous Chorioretinopathy Ade John Nursalim; Vera Sumual
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 20, No 1 (2020): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.200142

Abstract

Central Serous Chorioretinopathy (CSC) is a condition where there is an accumulation of serous fluid in the retinal pigment epithelium layer. The abnormality in the retinal pigment layer of the eye causes vision loss and serous detachment. CSC has a variety of causes, one of which is corticosteroid therapy. This article aims to report a case of a 27-year-old male patient who was diagnosed with CSC. The risk factor indicating CSC, in this case, was long-term oral and the use of a nasal spray to treat patient’s allergic rhinitis. Patients have allergic rhinitis and sneezing. Thus, they are administered to consume tablets of 16 mg methylprednisolone three times a day. The patient has a history of using a nasal spray containing 0.05% mometasone furoate monohydrate for ten years in a row. The patient’s visual acuity is 6/6 on his right eye and 6/15 on his left eye. Posterior segment examination and optical coherence tomography (OCT) were considered effective in identifying the features of patients with CSC, and thus both were administered. It was further found that steroid therapy replacement and healthier lifestyle adjustments could sustain the symptoms and improve the patient’s well-being.
Manajemen Anestesi Pada Operasi Craniotomi Anak Dengan Cedera Kepala Sedang Ardi Pramono
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i1.1891

Abstract

Anesthesia for craniotomy on brain injury needs a knowledge about cerebral phisiology and the effect ofanesthetic agent on brain metabolism. Brain must be prevent from secondary brain injury. Intracranial pressure must be blunt with choosing appropriate technique of induction and maintenance of anesthesia.In this case, we choose general anesthesia technique with semiopen Jackson Rees circuit, endotracheal tube with diameter number 6, and controlled ventilation. Premedication uses fentanyl 25ug to blunt hemodynamic respon following to intubation, induction of anesthesia with pentothal 100 mg, muscle relaxant with atracurium 15 mg and maintenance anesthesia uses sevoflurane, N20 and oxygen. During operation, the mean arterial pressure is between 70-90 mmHg, heart rate about 110/minute and intracranial pressure is not increase. Operation take place about 1 hour and patient was taking care in intensive care unit (ICU) after that to prevent intracranial increased. After 2 days in ICU, patient was transported to ward.Penanganan jejas otak karena trauma kepala mengalami kemajuan yang pesat dengan ditemukannya proses fisiologi otak pada trauma kepala. Manajemen anestesi pada operasi craniotomi memerlukan teknik khusus sehingga tidak menyebabkan cedera otak sekunder (secondary brain injury). Pada kasus bedah saraf, dipilih agen induksi dan rumatan anestesi yang tidak meningkatkan tekanan intrakranial serta perlakuan intubasi y mg smooth.Pada kasus ini, anestesi dilakukan dengan teknik anestesi umum, semiopen sirkuit Jakcson Rees dengan endotrakheal tube (ET) nomor 6, nafas kendali. Premedikasi menggunakan fentanyl 25 ug dengan tujuan untuk menumpulkan respon hemodinamik saat intubasi, induksi menggunakan pentotal dosis 100 mg, fasilitas intubasi menggunakan atracurium 15 mg dan rumatan anestesi menggunakan sevofluran, N20 dan 02. Selama operasi, nilai MAP (mean arterialpressure) berkisar antara 70-90 mmHg dengan nadi sekitar 110 x/menit. Operasi berlangsung sekitar 1 jam. Setelah operasi, pasien dirawat di ICU selama 2 hari dan pulang kembali ke bangsal.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue