cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Biomedika
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 399 Documents
PENGARUH PEMBERIAN 1,25 DIHYDROXYVITAMIN D (CALCITRIOL) TERHADAP KADAR FIBROBLAST GROWTH FACTOR-23 DAN ALBUMINURIA PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK STADIUM V YANG MENJALANI HEMODIALISIS Intan Herlina; Bambang Purwanto; Sugiarto Sugiarto
Biomedika Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i1.4344

Abstract

Penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada pasien Penyakit Ginjal Kronik adalah insiden kardiovaskuler yang didasari oleh proses aterosklerosis yang menyebabkan meningkatnya morbiditas dan mortalitas. Ginjal merupakan tempat utama sintesa 1,25 Dihydroxyvitamin D (Calcitriol), sehingga dengan adanya kerusakan ginjal menyebabkan defisiensi 1,25 Dihydroxyvitamin D (Calcitriol). Pada pasien Penyakit Ginjal Kronik terjadi peningkatan Fibroblast Growth Factor-23 dan Albuminuria akibat dari aktifitas Renin Angiotensin Aldosteron Sistem. Aktifitas RAAS mempengaruhi 1,25 Dihydroxy vitamin D (Calcitriol), Fibroblast Growth Factor-23 melalui Angiotensin 2 dengan cara menghambat reseptor Angiotensin I (AT1) melalui Nicotinmide Adenine Dinucleotide Phosphate Oxidase (NADPH Oksidase) dan Stress Oxidativ. Beberapa penelitian menyimpulkan pemberian 1,25 Dihydroxyvitamin D (Calcitriol) mempunyai efek renoprotektif, anti inflamasi dan antiproteinuric dengan cara menghambat reseptor Angoitensin I (AT1) sehingga mengakibatkan menurunnya albuminuria. Tujuan Penelitian ini adalah untuk membuktikan pemberian 1,25 Dihydroxyvitamin D (Calcitriol) dapat menurunkan kadar Fibroblas Growth Factor-23 dan albuminuria pada pasien Penyakit Ginjal Kronik stadium V yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan randomisasi, subyek penelitian 30 orang, dibagi dalam dua kelompok sampel, kelompok plasebo 15 orang dan kelompok perlakuan 15 orang. Dalam perjalanan, kelompok placebo drop out 4 pasien karena keluarga pasien tidak menyetujui untuk melanjutkan penelitian dan satu lagi mengalami perburukan, sehingga jumlah sampel menjadi 26 orang, terbagi menjadi kelompok placebo sebanyak 11 orang yang diberi placebo dan kelompok perlakuan 15 orang diberi calcitriol 1x0,5 μg peroral selama 4 minggu. Karakteristik penelitian yang berupa variabel kualitatif, uji homogenitas dilakukan menggunakan uji Chi Square. Uji beda dua Rerata menggunakan uji t pada p0.005. Pada kelompok plasebo (n=11) ; Kadar Fibroblast Growth Factor-23 sebelum dan sesudah perlakuan (876,24±795,93 RU/mL vs 1235,69±791,71 RU/mL; p=0,059) dan Albuminuria (72,30±195,06 μg/ mg vs 320,14±208,90 μg/mg; p=0,001). Pada kelompok perlakuan (n=15); Kadar Fibroblast Growth Factor-23 sebelum dan sesudah perlakuan (1210,96±845,97 RU/mL vs 612,33±487,32 RU/mL; p=0,002) dan Albuminuria (206,63±327,25 μg/mg vs 192,89±316,00 μg/mg; p=0,001). Terdapat perbedaan yang bermakna pada selisih ratarata kadar Fibroblast Growth Factor-23 (Delta-FGF-23) sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok placebo vs kelompok perlakuan (-359,45±560,23 RU/mL vs 598,63±608,27 RU/mL; p=0,001) dan selisih rata-rata Albuminuria (Delta-albuminuria) sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok placebo vs kelompok perlakuan (-247,84±189,48 μg/mg vs 13,73±23,15μg/mg;p=0,001. Pemberian suplementasi 1,25 Dihydroxyvitamin D (calcitriol) menurunkan kadar FGF-23 albuminuria secara bermakna pada pasien penyakit ginjal kronik stadium V yang menjalani hemodialisisKata Kunci: Penyakit Ginjal Kronis Stadium V, 1,25 Dihydroxyvitamin D (Calcitriol), Fibroblast Growth Factor-23, Albuminuria
HIPERGLIKEMIA SEBAGAI PREDIKTOR KEBERHASILAN PENGOBATAN PASIEN DENGAN SINDROM KORONER AKUT DI RSUD X SURAKARTA Iin Novita Nurhidayati Mahmuda; Yuniana Nur Rezki; Wildan Priscillah
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7023

Abstract

ABSTRAK Sindrom Koroner Akut atau acute coronary syndrome (ACS) dengan hiperglikemia pada saat masuk memiliki rerata mortalitas yang lebih tinggi, pada penelitian terbaru. Hiperglikemia pada pasien dengan ACS digambarkan sebagai respon akut dari keadaan hiperadrenergik dengan peningkatan risiko trombosis, sehingga bisa memperburuk kondisi pasien ACS selama dirawat di rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan lama tinggal dan mortalitas pada pasien ACS dengan stres hiperglikemia dan tanpa hiperglikemia stres. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional  analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien ACS non-diabetes di RSUD X Surakarta. Data diperoleh dari rekam medis dengan teknik purposive sampling, dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Subjek penelitian sebanyak 68 pasien, 34 pasien ACS dengan hiperglikemia dan 34 pasien ACS tanpa hiperglikemia. Hasil penelitian ini menyatakan ada perbedaan durasi lama tinggal pasien ACS dengan dan tanpa hiperglikemia(p = 0,002) dan tidak ada perbedaan rerata mortalitas diantara keduanya.Kata kunci: Sindrom Koroner Akut, Hiperglikemia, Lama Rawat Inap, Mortalitas ABSTRACT Acute Coronary Syndrome (ACS) in recent studies has been associated with hyperglycemia at the time of admission with higher mortality rates. Hyperglycemia in patients with ACS described as an acute response from a hyperadrenergic state with an increased risk of thrombosis, so it could worsen the condition of the patient ACS during the hospital stay. Aims of this study are to know differences in length of stay and mortality in ACS patients with hyperglycemia stress and without hyperglycaemia stress. This was an analytical observational research design with  cross sectional approach. The subjects were non diabetic ACS patient in RSUD X Surakarta. Data were obtained from medical record with purposive sampling technique, analyzed by Mann-Whitney test. Subjects were 68 patients, 34 patients ACS with hyperglycemia and 34 patients ACS without hyperglycemia. There is a difference in duration long of stay ACS patients with and without hyperglycemia (p = 0.002) and there is no difference in mortality.Keywords: Acute Coronary Syndrome, Hyperglycemia, Length Of Hospitalization, Mortality
PENGHAMBATAN KSANTIN OKSIDASE OLEH KOMBINASI EKSTRAK TEMPUYUNG (Sonchus Arvensis) DAN SALAM (Syzygium Polyanthum) PADA MENCIT HIPERURISEMIA Dr. Muhtadi .; Idi Retnani; Nurcahyanti Wahyuningtyas
Biomedika Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v4i1.259

Abstract

Tempuyung (Sonchus arvensis) and salam (Syzygium polyanthum) leaves can lower uric acid levels were studied. The purpose of this research was to determine mechanism of combined o f tempuyung and salam extracts to reduce uric acid levels by inhibiting xanthine oxidase in hyperuricemic mice. This research used completely randomized design using mice. Fifteen mice were made hiperuricemic by 250 mg/kgBW potassium oxonate p.o then the mice were divided into 3 groups. Group I induced 10 mg/kgBW allopurinol p.o as positive control, group II induced tempuyung-salam p.o each 100 mg/kgBW as the treatment group, group th III induced 0.5 mL/20 gBW distilled water p.o as negative control. Liver was taken 4 day after 2 hours induced potassium oxonate. Data inhibition xanthine oxidase activity was tested with Mann-Whitney. The result showed that the combination of tempuyung-salam extract each 100 mg/kgBW could inhibit xanthine oxidase activity of 51,16%±2,76%, while allopurinol 90,20%±0,16% (p = 0.000).Keyword: Hyperuricemia, Xanthine Oxidase, Sonchus arvensis, Syzygium polyanthum
CORRELATIONS OF CADMIUM EXPOSURE WITH THE UREUM AND CREATININE SERUM LEVELS IN BATURADEN ORNAMENTAL PLANT FARMERS Nafiisah Nafiisah; Agung Saprasetya Dwi Laksana; Joko Mulyanto
Biomedika Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i2.10416

Abstract

ABSTRACT  Baturaden ornamental plant farmers use pesticides and fertilizers containing cadmium to increase growth and plant diseases control. Cadmium is a very toxic heavy metal. Small doses of cadmium exposure in over a long time through respiratory tract, digestion, and skin penetration causes a workload on the kidneys. It resulting kidney damage that characterized by increased ureum and creatinine serum levels. The aimed of this study was determine the correlation of cadmium exposure to kidney function in terms of urea and creatinine serum levels. The research design was an observational analytic approach with cross sectional method. The respondents were 43 farmers. Research data were collected by interviews, measured the  urea and creatinine serum levels, also the cadmium urine levels. Data were analyzed by Spearman test. The results showed that there was a weak significant correlation between cadmium urine to ureum (r= 0.399 and p= 0.008) and creatinine serum levels (r= 0.331 and p= 0.03). We concluded that cadmium exposured correlated with increased ureum and creatinine serum levels.Keywords: Cadmium, Urea Serum Level, Creatinine Serum Level, Ornamental Plant Farmers                                                                                                       ABSTRAK Petani tanaman hias di Baturaden menggunakan pestisida dan pupuk yang mengandung kadmium untuk meningkatkan pertumbuhan dan pengendalian penyakit tanaman. Kadmium adalah logam berat yang sangat beracun. Paparan kadmium dosis kecil dalam jangka waktu yang lama melalui saluran pernafasan, pencernaan, dan penetrasi kulit menyebabkan beban kerja pada ginjal. Hal tersebut mengakibatkan kerusakan ginjal yang ditandai dengan peningkatan kadar ureum dan kreatinin serum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan kadmium terhadap fungsi ginjal ditinjau dari kadar ureum dan kreatinin serum. Desain penelitian adalah observasional analitik dengan metode cross sectional. Respondennya sebanyak 43 petani. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan wawancara, pengukuran kadar urea dan kreatinin serum, serta kadar kadmium urin. Data dianalisis dengan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna yang lemah antara kadar kadmium urin dengan kadar serum ureum (r= 0,399 dan p= 0,008) dan kreatinin (r= 0,331 dan p= 0,03). Kami menyimpulkan bahwa paparan kadmium berkorelasi dengan peningkatan kadar ureum dan kreatinin serum.Kata Kunci: Kadmium, Kadar Ureum Serum, Kadar Kreatini Serum, Petani Tanaman Hias
PENGARUH OLAHRAGA JALAN SANTAI TERHADAP KADARGLUKOSA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS Arkan Adi Widiya; Safari Wahyu Jatmiko; Sigit Widyatmoko
Biomedika Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v7i1.1672

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang terjadi karena pankreas tidak dapat menghasilkan cukup insulin atau tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkan oleh pankreas. Terdapat 4 cara dalam mengontrol kadar glukosa darah yaitu; terapi farmakologi, terapi nutrisi, edukasi cara manajemen diabetes mandiri, dan aktifitas fisik. Berjalan kaki adalah cara yang paling sering ditunjukan sebagai modalitas aktifitas fisik untuk meningkatkan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui engaruh olahraga jalan satai terhadap kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus pada kegiatan olahraga jalan santai. Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sample sebanyak 68 orang yang mengikuti kegiatan olahraga jalan santai di Prolanis Padimas Surakarta. Pengambilan sample dilakukan secara purposive sampling. Kegiatan jalan santai dilakukan sejauh 2 km dengan waktu tempuh 30 menit. Hasil uji statistik beda pemeriksaan glukosa sebelum dan sesudah kegiatan olahraga jalan santai menggunakan uji paired T test didapatkan hasil p0,001 yang menunjukan bahwa hasil signifikan atau bermakna dan memiliki nilai korelasi adalah 0,963 yang menunjukan memiliki pengaruh yang sangat kuat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa olahraga jalan santai sejauh 2 km selama 30 menit dapat menurunkan kadar glukosa darah secara bermakna pada pasien diabtetes mellitus.Kata kunci: Diabetes Melitus, Olahraga Jalan Santai, Kadar Glukosa Darah
THE EFFECTIVENESS OF 70% METHANOLIC EXTRACT OF AVOCADO LEAF (Persea americana Mill) IN DECREASING BLOOD SUGAR LEVELS IN MALE RATS (Rattus norvegicus) WISTAR STRAIN INDUCED ALLOXAN Retno Sintowati; Anindita Putri Handayani; Riandini Aisyah
Biomedika Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v8i1.3018

Abstract

Tanaman alpukat (Persea americana Mill) merupakan tanaman tradisional yang memiliki kandungan flavonoid dan tannin yang dapat menurunkan kadar gula darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas ekstrak metanol 70% daun alpukat (Persea americana Mill) terhadap penurunan kadar gula darah.Metode penelitian menggunakan eksperimental laboratorik dengan rancangan penelitian pretest – posttest with control group design. Hewan uji yang digunakan 25 ekor tikus jantan galur Wistar, umur 2-3 bulan, dan berat badan 150-200 gram yang dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok I: kontrol negatif (aquades), kelompok II: kontrol positif (glibenklamid), kelompok III, IV, V : ekstrak metanol 70% daun alpukat dengan dosis berturut-turut adalah sebagbai berikut: 100 mg/ 200 grBB, 150 mg/ 200 grBB, 200 mg/ 200 grBB. Gula darah diukur dengan alat spektrofotometer. Berdasarkan hasil uji ANOVA, data penurunan kadar gula darah hari ke-7 pemberian ekstrak nilai probabilitas signifikan p = 0, 000 dengan demikian p 0, 05 maka terdapat perbedaan penurunan kadar gula darah yang bermakna. Berdasarkan uji LSD dari semua kelompok didapatkan nilai p 0,05 yang berarti terdapat perbedaan penurunan kadar gula darah yang signifikan antara2 kelompok. Kesimpulan: Ekstrak metanol 70% daun alpukat (Persea americana Mill) dosis 200 mg/200; 100 mg/200 and 150 mg/ 200 gram/berat badan dapat menurunkan kadar gula darah pada mencit jantan galur wistarKata Kunci : Ekstrak metanol 70%, Alpukat (Persea americana Mill), gula darah, diabetes mellitus.
PENGARUH EKSTRAK ETHANOL PROPOLIS TERHADAP KSPRESI PROTEIN CASPASE 8, APOPTOSIS, DAN PROLIFERASI PADA KULTUR SEL ADENOKARSINOMA KOLON (WiDr) Gigih Rahmadanu Poernomo; Paulus Kusnanto; Bambang Purwanto
Biomedika Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i1.5856

Abstract

Kanker kolorektal merupakan kanker terbanyak ketiga pada pria, kedua pada wanita, dan menjadi penyebab kematian keempat, sekitar 8% dari penyebab kematian karena kanker. Sebagian besar pasien kanker kolorektal didiagnosis dalam stadium yang sudah tidak dapat dioperasi. Propolis diketahui memiliki aktivitas anti kanker. Mekanisme anti kanker propolis melalui induksi apoptosis dan juga melalui penghambatan proliferasi dalam siklus sel. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek anti kanker ekstrak ethanol propolis (EEP) yang berasal dari Kerjo, Karanganyar, Indonesia pada kultur sel adenokarsinoma kolorektal (cell line WiDr) melalui pengaruhnya terhadap ekspresi protein Caspase 8, apoptosis dan proliferasi sel. Penelitian ini merupakan penelitian experimental laboratories, post test with control group design. Penelitian dilakukan pada kultur sel WiDr dengan perlakuan pemberian dosis ekstrak ethanol propolis, kontrol positif (5-FU), kombinasi ekstrak ethanol propolis dengan 5-FU, dan kontrol negatif (tanpa obat). Pengamatan ekspresi protein Caspase 8 dilakukan dengan metode imunositokimia, pengamatan apoptosis dilakukan dengan double staining menggunakan pewarnaan akridin oranye–etidium bromide, sedangkan pengamatan proliferasi menggunakan MTT assay dengan doubling time. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa EEP cenderung menekan viabilitas sel WiDr dengan IC sebesar 140 µg/mL. EEP konsentrasi 70,140, 280 µg/mL mampu meningkatkan ekspresi protein Caspase 8 dan menginduksi apoptosis yang sebanding dengan peningkatan konsentrasi yang diberikan. EEP konsentrasi 70 µg/mL dapat menghambat proliferasi sel sebanding dengan EEP konsentrasi 140 dan 280 µg/Ml. Penelitian ini menunjukkan EEP mampu menekan viabilitas sel WiDr. Aktivitas ini kemungkinan terkait dengan kemampuannya dalam meningkatkan ekspresi protein Caspase 8 dan apoptosis sebanding dengan peningkatan konsentrasi yang diberikan. EEP pada konsentrasi terkecil yang diuji (70 µg/mL) mampu menghambat proliferasi pada sel WiDr sebanding dengan dosis yang lebih tinggi. Kata kunci: EEP, Caspase 8, apoptosis, proliferasi, cell line WiDr 
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PASIEN TENTANG KUALITAS DAN KEMAUAN MEMBAYAR PELAYANAN KESEHATAN GIGI DI MMC UMS Edi Karyadi
Biomedika Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v3i2.250

Abstract

Until now there is no standard for measuring the standard willingnesss to pay of patients and patient satisfaction for the quality of dental care. Research purposes to assess the magnitude of willingness to pay for outpatient dental care and want to test the factors that affect willingness to pay for outpatient dental care at the Muhammadiyah Medical Center (MMC UMS). This study was observational analytic study with cross-sectional approach, where all the variables studied were observed at the same time. The study population was patients who received outpatient dental care with simple random sampling. To the adequacy of the sample required a minimum sample size of 120. The data collection by questionnaire content validity technique. The results showed 60.8% of patient education level is college. The average patient’s willingness to pay for dental care Rp.60.833. The average satisfaction score of patients on dental health servicesis 77.35 (including the high satisfaction category). While the average patient income for Rp.2.110.417. Statistical analysis proves’ there is a positive correlation’ between service quality and willingness to pay for dental care patients (r=0247, p 0.05). In this study also proves’ there is a positive correlation’ between the patient and the willingness to pay in comedental care (r=0.730, p 0.05). With the regression test showed the ‘threev ariables (education, income and quality of service)’ jointly able to predict variations in the willingness of patients to pay for 59.7% and statistically  t regression model (valid) (p 0.001).Keywords: education, income, quality of service, willingnestopay
PERBEDAAN JUMLAH TELUR CACING GEOHELMINTH ANTARA SAYURAN DI PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN DI SURAKARTA Rochmadina Suci Bestari; Aulia Nanda Safitri; Ayu Arista Purnama
Biomedika Vol 12, No 1 (2020): Biomedika Februari 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i1.8688

Abstract

ABSTRAKInfeksi cacingan yang disebabkan oleh geohelminth masih terbilang tinggi di Indonesia, yaitu antara 2,5-62 % pada semua umur. Geohelminth  yang sering didapati di Indonesia terdiri dari tiga macam, yaitu Ascaris lumbricoides, hookworm dan Trichuris trichiura. Penularan infeksi geohelminth bisa melalui makanan yang dimakan manusia tanpa dimasak dahulu, larva menembus kulit, dan inhalasi. Jenis sayuran dimakan tanpa dimasak dahulu adalah selada, kemangi dan kubis. Sayuran ini bisa ditemukan di pasar tradisional dan pasar modern. Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti perbedaan jumlah telur cacing yang terdapat pada sayuran di pasar tradisional dan pasar modern di Surakarta. Jenis penelitian ini adalah deskriptif, dengan rancangan penelitian cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 18 sampel. Pengambilan sampel penelitian dilaksanakan di 3 pasar tradisional dan 3 pasar modern di Surakarta. Pemeriksaan metode sentrifugasi dan pengamatan dengan mikroskop di Sub Laboratorium Biokimia FK UMS, Surakarta. Hasil penelitian didapatkan rerata jumlah telur geohelminth pada sampel sayuran kemangi yang dijual di pasar tradisional sebanyak 2,46% dan di pasar modern sebanyak 1,25%, sedangkan tidak terdapat kontaminasi telur geohelminth dari sampel sayuran kubis dan selada. Jenis telur yang terdapat pada sayuran kemangi adalah telur hookworm sebanyak 100%. Bisa disimpulkan bahwa rerata jumlah telur geohelminth pada sampel kemangi dari pasar modern lebih sedikit daripada pasar tradisional. Oleh karena itu, sebaiknya pencucian sayuran dilakukan secara seksama untuk menghilangkan semua telur geohelminth yang terdapat pada sayuran sebelum dikonsumsi manusia.Kata kunci: Geohelminth, Sayuran, Pasar Tradisonal, Pasar ModernABSTRACTGeohelminth infection incidence is still high in Indonesia, 2,5-62% in all ages. Geohelminth causing infection in Indonesia are Ascaris lumbricoides, hookworm and Trichuris trichiura. The transmission of geohelminths are by fecal oral (raw vegetables), larvae infestation and inhalation. Non-cooked food is raw vegetables, for example: lettuce, basil and cabbage. The vegetables found at traditional and modern market. The aim of this research is to know the differences in the number of geohelminths egg between raw vegetables sold at traditional market and modern market. It is descriptive, with cross sectional design. The sample size are 18 vegetables, 3 kinds of vegetables taken from 3 tradisional market, and another 3 kinds are taken from 3 modern market. This research used sentrifuge method and the preparat were investigated by microscope to see geohelminths eggs. The result of this research are the mean of geohelminth egg on basil was 2,46% from traditional market and 1,25% from modern market. The kind of the egg was hookworm. There was no contamination of geohelminth egg on lettuce and cabbage of those markets. It can be concluded that the mean of the egg in traditional market was higher than modern markets. For that reason, there should be good handle of basil before it consumed by human.Key words: Geohelminth, Vegetables, Traditional Market, Modern Market
JUVENILE DERMATOMIYOSITIS: PENEGAKAN DIAGNOSIS Flora Ramona Sigit Prakoeswa; . Suswardana; Retno Danarti
Biomedika Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v6i1.285

Abstract

Juvenile dermatomiyositis (JDM) merupakan suatu penyakit autoimun infl amatif yang jarang dijumpai dan secara khas ditandai oleh adanya lesi-lesi kulit tipikal serta kelemahan otot proksimal yang simetris. Etiologi penyakit tersebut belum diketahui dengan pasti, namun demikian patogenesisnya diketahui bersifat multifaktorial meliputi faktor genetik, paparan sinar ultra violet (UV) serta infeksi oleh berbagai mikroba seperti virus Coxsackie atau Borrelia burgdorferi. Penegakan diagnosis JDM adalah berdasarkan kriteria Bohan-Peter meliputi: 1) kelemahan otot proksimal simetris, 2) peningkatan enzim otot, 3) infl amasi miopati pada hasil biopsi otot 4) gambaran miyopati pada hasil pemeriksaan EMG, dan 5) lesi kulit tipikal. Ditemukannya papul-papul Gottron dan heliotrope rash di kulit, serta adanya kelemahan otot proksimal yang simetris, merupakan manifestasi klinis yang khas untuk JDM. Terapi lini pertama penatalaksanaan JDM adalah kortikosteroid sistemik. Dilaporkan satu kasus JDM pada seorang anak perempuan berusia 6 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya lesi kulit tipikal, kelemahan otot proksimal simetris dan peningkatan kadar enzim penanda infl amasi jaringan muskuloskeletal. Pasien berespon baik terhadap pemberian kortikosteroid adekuat serta tabir surya.Kata Kunci: Juvenile dermatomiyositis, systemic corticosteroid

Filter by Year

2009 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 2 (2022): Biomedika Agustus 2022 Vol 14, No 1 (2022): Biomedika Februari 2022 Vol 13, No 2 (2021): Biomedika Agustus 2021 Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021 Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020 Vol 12, No 1 (2020): Biomedika Februari 2020 Vol 11, No 2 (2019): Biomedika Agustus 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Online First More Issue