cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Biomedika
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 399 Documents
MODULASI SEL PUNCA MESENKIMAL DALAM MENURUNKAN KADAR HIGH SENSITIVITY C-REACTIVE PROTEIN SEBAGAI TERAPI NEFRITIS LUPUS Indah Putri Maharani; Zainal Arifin Adnan; Arief Nurudhin
Biomedika Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i1.4340

Abstract

Systemic Lupus Erythematosus merupakan penyakit inflamasi autoimun kronis dengan gambaran klinis luas dan perjalanan penyakit beragam. Pemberian pristan intraperitoneal dapat menginduksi lupus pada mencit. Secretome sel punca mesenkimal bekerja secara parakrin memberikan efek antinflamasi dan imunomodulasi antara lain mensupresi sel T dan sel B autoreaktif. High Sensitivity C-Reactive Protein (hsCRP) terkait dengan patogenesis SLE dan selaras dengan aktifitas penyakit.Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh secretome sel punca mesenkimal terhadap kadar hsCRP pada mencit model lupus dengan induksi pristan. Desain penelitian adalah eksperimental dengan randomisasi, post test only control group design, sampel 21 ekor mencit betina Mus Musculus galur Balb/C, dibagi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol (injeksi intraperitoneal NaCl 0,9% 0,5 ml), kelompok perlakuan (injeksi pristan intraperitoneal 0,5 ml) dan kelompok terapi (injeksi intraperitoneal pristan 0,5 ml dan secretome 0,45 ml). Penelitian dilakukan selama 3 minggu, secretome diberikan pada akhir penelitian. Sesudah perlakuan dinilai kadar hsCRP secara ELISA. Analisis statistik menggunakan SPSS 22 for windows dengan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan Mann-Whitney U test. P bermakna jika p0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar hsCRP pada ketiga kelompok yaitu kontrol 440.68(110.08-564.29) ng/ mL; perlakuan (pristan) 2964.26(601.13-3926.10) ng/mL; terapi pristan+secretome) 506.93(207.62-1473.46) ng/mL, dengan kemaknaan p=0.008. Terdapat perbedaan bermakna kadar hsCRP antara kelompok pristan vs pristan+secretome (2457.33 ng/mL; p=0.047). Secretome sel punca mesenkimal mampu menurunkan kadar hsCRP pada mencit model lupus dengan induksi pristan.Kata Kunci: High Sensitivity C-Reactive Protein, Nefritis lupus, Secretome
EFEK ANTIDIABETIK EKSTRAK ETANOL DAUN MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa) PADA TIKUS DIABETES YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOSIN Ira Cinta Lestari
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7019

Abstract

ABSTRAKDaun mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) diketahui memiliki efek anti hiperglikemik dengan menghambat aktivitas enzim pencerna karbohidrat a-glucosidase, namun efeknya pada kondisi diabetes belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antidiabetik ekstrak etanol daun mahkota dewa (EEDMD) terhadap berat badan dan kadar glukosa darah tikus model diabetes. Studi eksperimental dengan rancangan post test only control group design dilakukan terhadap subjek 45 ekor tikus Sprague Dawley. Subjek dikelompokkan dalam kontrol normal, kontrol diabetes diberi pelarut dan diabetes diberi 7mg/200g, 14mg/200g, and 28mg/200g  EEDMD secara peroral, sekali sehari selama 3, 14 dan 25 hari. Model tikus diabetes dibuat dengan injeksi streptozotosin dan nicotinamide. Hasil analisa statistik berat badan dan kadar glukosa puasa antar kelompok terdapat perbedaan yang signifikan. Sehingga kesimpulan penelitian ini adalah pemberian EEDMD memiliki efek antidiabetik pada tikus diabetes yang dinduksi stretozotosin.Kata kunci: Diabetes Mellitus, Phaleria Macrocarpa, Ekstrak Etanol, Streptozotosin, Antidiabetik ABSTRACTPhaleria macrocarpa leaf has been known to have anti-hyperglycemic effects by inhibiting the activity of a-glucosidase carbohydrates digestive enzyme, but the systemic effect on diabetic condition is unknown yet. This study was conducted to investigate the antidiabetic effect of ethanolic extract of Phaleria macrocarpa leaf (EEPML) on body weight and blood glucose levels of diabetic rat model. This was a quasi experimental study with post test only control group design. Fourty five male Sprague Dawley rats were classified into normal control group, diabetic control group with solvent, diabetic with 7mg/200g, 14mg/200g, and 28mg/200g of EEPML peroral administration, once a day for 3, 14 and 25 days. The diabetic rat model was made by streptozotocin and nicotinamide injection. Results : Statistical analysis of mean body weight and fasting blood glucose level showed there were significant differences between treatment groups. Conclusion : Administration of EEPML is able to affect the body weight and blood glucose level of diabetic rat model. Keywords: Diabetes Mellitus, Phaleria Macrocarpa, Ethanolic Extract, Streptozotocin, Antidiabetic
PERBEDAAN FREKUENSI DIARE ANTARA BAYI YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DENGAN BAYI YANG DIBERI SUSU FORMULA PADA RENTANG USIA 2- 4 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KLATEN TENGAH Putri Rahmitasari; Burhannudin Ichsan; Sahilah Ermawati
Biomedika Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v4i2.255

Abstract

The main indicator of public health’s degree is infant mortility rate (IMR). One of the main things that cause infant mortility is diarrhea. The existence of diarrhea’s incidence in infants can be caused due to errors in the form of food other than breast milk feeding at the age of 4 months or the practise of infant feeding with formula milk (replacement feeding). This research was an observational analytic research with cross sectional approach. Samples obtained amounted to 80 respondents who are infants aged 2-4 months in various “posyandu” in the area of Central Klaten. This sample had fulfiilled the predetermined criteria. The research instrument used a questionnaire. for the result, there were 21 respondents of 80 respondents obtained who had diarrhea. Respondents of exclusive breastfeeding who had frequency of diarrhea is rarely as many as 5 babies, whereas 1 baby for often category. Respondents of infant formula who had frequency of diarrhea is rarely as many as 12 babies, whereas 3 babies for often category. There were significant differences between infants who were breastfed exclusively with formula-fed infants againts diarrhea frequency indicated by the value of p = 0,032.Keywords: Frequency of Diarrhea, Exclusive Breast Feeding, Formula Feeding Infant, Infants Aged 2-4 Months
HUBUNGAN ADIKSI GAME ONLINE DAN MEROKOK DENGAN STRES PADA REMAJA Bima Tirta Pradana Ajie Gewab; Erika Diana Risanti; Erna Herawati; Nur Mahmudah
Biomedika Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i2.10737

Abstract

ABSTRAK Remaja merupakan individu labil yang mudah stres akibat modernisasi. Pemilihan manajemen stres pada remaja yang tidak efektif seperti merokok dan bermain game online menimbulkan adaptasi tubuh yang buruk sehingga berakhir dengan maladaptif atau kegagalan adaptasi masalah yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis adiksi game online dan merokok dengan tingkat stres pada remaja. Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah semua remaja yang bermain game online di Surakarta, sedangkan sampel penelitian sebanyak 56 remaja. Pengumpulan data penelitian menggunakan kuesioner, sedangkan analisis data menggunakan uji Chi square dan Regresi Logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan adiksi game online dengan stres remaja (p= 0,001; OR= 5,312) dan terdapat hubungan merokok dengan stres remaja (p= 0,000; OR= 5,455), sedangkan besarnya hubungan adiksi game online dan merokok terhadap tingkat stres sebesar 39,0%. Kesimpulan penelitian adalah adiksi game online dan merokok termasuk mekanisme pengalihan tingkat stres pada remaja.Kata Kunci: Stres Remaja, Adiksi Game Online, Merokok ABSTRACT Adolescents are labile individuals who are easily stress by modernization. Ineffective adolescent stress management choices, such as smoking and playing online games, caused in poor body adaptation, resulting in maladaptive or failure to adapt the problems. This study aimed to analyze online game addiction and smoking with stress levels in adolescents. This study was an analytic observational study used a cross sectional approach. The population was all adolescents who played online games in Surakarta, while the study sample was 56 adolescents. The research data was collected using a questionnaire, while the data analysis used the Chi square test and Logistic Regression. The results showed that there was a relationship between online game addiction and adolescent stress (p= 0.001; OR= 5.312) and there was a relationship between smoking behavior and teen stress levels (p= 0.000; OR= 5.455), while the magnitude of the relationship between online game addiction and smoking behavior was stress level of 39.0%. We concluded that online game addiction and smoking behavior included in the mechanism of transferring stress levels in teenagers. Keywords: Adolescent Stres, Online Game Addiction, Smoking
UJI DAYA ANTIHELMINTIK EKSTRAK ETANOL 70 % BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP CACING Ascaridia galli In vitro Yusmira G; Isti’anah S
Biomedika Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v7i1.1586

Abstract

Prevalensi penyakit Askariasisdi Indonesia masih cukup tinggi, terutama pada anak-anak.Penyakit ini juga memiliki dampak merugikan, sehingga diperlukan usaha untuk mengatasi infeksi Ascaris lumbricoides. Penggunaan obat cacing di masyarakat masih belum optimal, sehingga perlu adanya alternatif pengobatan lain untuk penyakit ini. Bawang putih (Allium sativum L.) mengandung saponin dan flavonoid yang diduga memiliki efek antihelmintik. Mengetahui daya antihelmintik ekstrak etanol 70% bawang putih (Allium sativum L.) terhadap cacing Ascaridia galli In vitro.Penelitian merupakan eksperimental laboratoris.Ekstrak etanol 70% bawang putih (Allium sativum L.) terdiri atas 4 konsentrasi 100%, 50%, 25% dan 12,5% dengan empat kali replikasi. Padasetiap kelompok perlakuan dimasukkan 10 ekor cacing yang diamati kematiannya setiap 1 jam sampai batas maksimal. Data dianalisis menggunakan One Way Anova, dan dilanjutkan dengan analisis probit dilakukan untuk mengetahui LC50, LC90, LT50 dan LT90. Rerata waktu kematian cacing pada konsentrasi 100%, 50%, 25% dan12,5% serta kelompok kontrol menunjukkan perbedaan yang bermakna p=0,000 (p0,05) dengan LC50 sebesar 26,852% dan LC90 sebesar 65,85%. Pada konsentrasi 100% ekstrak etanol 70% bawang putih (Allium sativum) nilai LT50 adalah 3,207 jam dan nilai LT90 adalah 5,481 jam. Ekstrak etanol 70% bawang putih (Allium sativum L.) memiliki efek antihelmintik terhadap cacing Ascaridia galli in vitro.Kata Kunci : Antihelmintik, Bawang putih (Allium sativum), Ascaridia galli, in vitro
HUBUNGAN GAYA HIDUP DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI KELURAHAN SAWANGAN BARU KOTA DEPOK TAHUN 2015 Solehatul Mahmudah; Taufik Maryusman; Firlia Ayu Arini; Ibnu Malkan
Biomedika Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v8i2.2915

Abstract

Beberapa faktor resiko diduga memiliki peran dalam terjadinya hipertensi seperti gaya hidup, pola makan dan usia. Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko penyebab terjadinya penyakit kardiovaskuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup dan pola makan dengan kejadian hipertensi pada lansia. Penelitian cross sectional ini diikuti oleh 74 responden dengan cara purposive sampling. Hasil penelitian in mendapatkan proporsi lansia yang mengalami hipertensi sebesar 26,4%. Analisis bivariat menggunakan uji chisquare dan analisis multivariat dengan regresi logistik ganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara aktivitas fisik (p=0,024 OR=3,596), asupan lemak (p=0,008 OR=4,364), dan asupan natrium (p=0,001OR=6,103) dengan kejadian hipertensi. Analisis multivariat menunjukkan asupan natrium (OR Exp(B)=4,627)sebagai faktor resiko yang paling berhubungan dengan kejadian hipertensi. Kata Kunci: Hipertensi, Gaya Hidup, Pola Makan
PERBEDAAN PENGGUNAAN DRAIN DAN TANPA PENGGUNAAN DRAIN INTRA ABDOMEN TERHADAP LAMA PERAWATAN PASCAOPERASI LAPAROTOMI APENDISITIS PERFORASI Rahmadi Indra; Ida Bagus B.S.A; Untung Alfianto
Biomedika Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i1.5852

Abstract

ABSTRAKApendisitis menjadi salah satu kasus bedah abdomen yang paling sering terjadi di dunia.Apendisitis perforasi berhubungan dengan tingkat mortalitas yang tinggi. Peradangan akut pada apendiks perforasi memerlukan tindakan pembedahan segera untuk mencegah terjadinya komplikasi berbahaya. Tindakan pascabedah sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi lanjutan. Pemasangan drain diharapkan mampu menurunkan risiko komplikasi abses intra-abdominal, meskipun demikian, drain intraabdomen setelah operasi apendisitis dalam kasus apendisitis perforasi masih kontroversi. Ada beberapa ahli bedah yang memilih untuk tidak memasang drain pasca bedah. Penelitian ini untuk mengetahui ada perbedaan penggunaan drain dan tanpa penggunaan drain intra abdomen terhadap lama perawatan pascaoperasi laparotomi apendisitis perforasi. Subjek penelitian ini adalah pasien apendisitis perforasi yang pasca-apendiktomi, dengan total sampel 20. Teknik sampling menggunakan random sampling. Jenis penelitian ini desain eksperimen semu (quasi experiment) dengan metode Posstest-Only Control Design. Dalam rancangan ini sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu, kelompok I dilakukan pemasangan drain intra abdomen dan kelompok II tidak dilakukan pemasangan drain kemudian dilakukan follow up untuk menilai lamanya perawatan pascaoperasi pada apendisitis perforasi. Mayoritas pasien pascaoperasi apendisitis perforasi berumur antara 40-60 tahun (45%). Penyembuhan luka dan terjadinya komplikasi pasien pascaoperasi apendisitis perforasi baik yang dipasang drain maupun yang tidak dipasang drain semuanya mengalami proses penyembuhan luka dengan baik (100%) dan tidak ada yang mengalami komplikasi (100%). Lama perawatan pasien tanpa dipasang drain tercepat perawatan 4 hari dan paling lama 6 hari, sedangkan yang dipasang drain cenderung lebih lama, yaitu tercepat 5 hari dan terlama 8 hari. Ada perbedaan yang signifikan antara lama perawatan pasien pasca operasi apendisitis perforasi dengan yang dipasang drain dengan yang tidak dipasang drain dengan nilai p=0,001. Secara statistik terdapat hubungan yang sangat signifikan antara lama perawatan pasien pascaoperasi apendisitis perforasi dengan yang dipasang drain dengan yang tidak dipasang drain. Kata Kunci: Drain Apendisitis Perforasi, Lama Perawatan
PERBEDAAN OPTIC NERVE SHEATH DIAMETER (ONSD) PADA RESPONDEN NORMAL DAN NYERI KEPALA Sulistyani Sulistyani; Rivan Danuaji
Biomedika Vol 11, No 2 (2019): Biomedika Agustus 2019
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v11i2.8466

Abstract

Nyeri kepala merupakan salah satu tanda adanya peningkatan tekanan intrakranial. Nervus optikus merupakan saraf kranialis yang mudah dipengaruhi langsung oleh adanya peningkatan tekanan intrakranial. Kelainan nervus optikus dapat diketahui dengan adanya pelebaran optic nerve sheath diameter (ONSD). ONSD dapat diukur dengan transorbital sonografi yang bersifat noninvasif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan nilai ONSD pada responden normal dan nyeri kepala. Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik dengan metode cross sectional. Responden diambil dari pasien rawat inap dan responden normal. Hasil penelitian didapatkan Rata – rata nilai ONSD pada pasien nyeri kepala adalah 0,52 ± 0,86 dan pada responden normal adalah 0,40 ± 0,57 (p 0,05). Terdapat perbedaan signifikan nilai ONSD pada pasien normal dan nyeri kepala. Pasien nyeri kepala akibat peningkatan intrakranial dapat dideteksi dengan pemeriksaan ONSD yang bersifat non invasif.Kata Kunci: Optic Nerve Sheath Diameter (ONSD), Responden Normal, Nyeri KepalaHeadache is one of the symptoms of increased intracranial pressure. The optic nerve is part of the cranial nerve can be affected directly by the increased intracranial pressure. Opticus nerve can be examined from ONSD dilatation examination by non invasif sonography transorbital. The research aimed to defferentiate the optic nerve sheath diameter (ONSD) on the normal volunteer and headache. Analysis observational with cross sectional method was conducted in ward patients with headache at RSDM in April-May 2015. Mean ONSD in headache patient is 0,52 ± 0,86 and normal volunteers 0,40 ± 0,57 (p 0,05). The significant different ONSD value between headache and normal volunteers. Headache with intracranial increased can be detected with non invasif ONSD examination.Keyword: Optic nerve sheath diameter , headache , normal volunteer 
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN HAND HYGIENE DENGAN KEPATUHAN PELAKSANAAN HAND HYGIENE PADA PESERTA PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER Anietya Widyanita; Ekorini Listiowati
Biomedika Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v6i1.281

Abstract

Prevention and Control Program (PPI) including hospital accreditation assessment. One of the standard phase is hand hygiene. The hands of health care are often contact with the patient and his environment, thus becoming the most common transmission of HAIs. Hand hygiene can reduce HAIs if done with appropriate recommendation. This study was conducted to determine the relationship between the level of knowledge of hand hygiene and hand hygiene compliance implementation. This study was observational analytic with cross sectional approach. Subjects were participants of educational programs in the medical profession with a total sampling technique. Instrument research using questionnaires and observation sheet. Analyzed with descriptive statistics, the average level of knowledge and implementation of hand hygiene compliance in respondents is less. Analysis distribution of respondents by sex, male totaled 17 people and female totaled 14 people, distribution of respondents according to the level of knowledge, less value totaled 29 people (93.5%) and enough value totaled 2 people (6.5%), distribution of respondents according to the level of compliance, less value totaled 26 people (83.9%) and good value totaled 5 people (16.1%). Analysis using a correlation test, 0.599 correlation value, where p0.005, positively related. This study shows that there is a positive relationship between the level of knowledge of hand hygiene and hand hygiene compliance implementation. The average level of knowledge has less value. The average rate of hand hygiene compliance implementation has less value.Keywords: Knowledge level of hand hygiene-Implementation of hand hygiene compliance
GAMBARAN HISTOPATOLOGI EKSPRESI INTERFERON GAMMA (IFNγ) PADA FIBROADENOMA MAMMAE (FAM) DAN INVASIVE NO SPECIAL TYPE (NST) BREAST CARCINOMA Yuni Prastyo K; Udadi Sadhana; Dik Puspasari
Biomedika Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i2.5843

Abstract

International Agency for Research Cancer tahun 2012 melaporkan bahwa 1,7 juta wanita menderita kanker payudara. Penyakit ini masih menjadi penyebab utama kematian kanker pada wanita. Fibroadenoma merupakan lesi jinak payudara yang sering ditemukan. Terdapat 50% dari seluruh biopsi payudara.. Morfologi terbanyak pada keganasan payudara adalah Invasive NST breast carcinoma sebanyak 70%-80%. Berbagai faktor terlibat dalam pertumbuhan tumor payudara, antara lain genetika, diet, faktor reproduksi, hormon dan imunitas. Gangguan mekanisme imun memiliki peran penting pada patogenesis terjadinya tumor. Wanita dengan tumor payudara memperlihatkan adanya kekacauan pada sistem imun tubuh. Hal ini ditandai dengan rendahnya kadar Interferon ᵧ dan peningkatan IL4, IL6 serta IL10. Murine melaporkan tentang peran penting Interferon ᵧ dalam kekebalan tumor. Ketika terjadi penurunan kadarnya, secara spontan akan memicu tumbuhnya tumor. Interferon ᵧ sitotoksik pada beberapa sel-sel ganas dan memiliki aktivitas anti-angiogenik. Namun, penggunaannya di klinis masih terbatas. Tujuan penelitian adalah untuk membuktikan adanya perbedaan ekspresi Interferon ᵧ pada sediaan histopatologi. yang terdiagnosis sebagai fibroadenoma mammae intrakanalikular dan perikanalikular variant (FAM) dan Invasive No Special Type (NST) breast carcinoma. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik observasional dengan desain case control. Sampel terbagi 2 yaitu kelompok dengan diagnosa  fibroadenoma mammae intrakanalikular dan perikanalikular variant  sebanyak 10 sampel dan kelompok Invasive NST breast carcinoma  sebanyak 27 sampel. kemudian dilanjutkan pemeriksaan imunohistokimia interferon γ. Data yang terkumpul tidak terdistribusi normal, sehingga dilakukan uji non-parametrik dengan menggunakan uji Fishers exact dan hipotesis satu arah (one-sided). Data hasil Penelitian diolah menggunakan uji Fisher’s exact dan hipotesis satu arah (one sided) dan didapatkan tingkat signifikansi p = 0.036 (p 0.05). Terdapat perbedaan proporsi ekspresi Interferon γ yang positif antara FAM intrakanalikular dan perikanalikular variant dan NST, di mana proporsi ekspresi positif Interferon γ pada FAM intrakanalikular dan perikanalikular variant lebih besar dari pada NST. Secara statistik perbedaan ini bermakna (p 0.05). Dapat disimpulan bahwa terdapat perbedaan bermakna tentang ekspresi interferon ᵧ pada sediaan histopatologi fibroadenoma mammae intrakanalikular dan perikanalikular variant dibanding pada sediaan Invasive NST breast carcinoma KataKunci: Interferon γ, fibroadenoma mammae, Invasive breast carcinoma of No Special Type

Filter by Year

2009 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 2 (2022): Biomedika Agustus 2022 Vol 14, No 1 (2022): Biomedika Februari 2022 Vol 13, No 2 (2021): Biomedika Agustus 2021 Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021 Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020 Vol 12, No 1 (2020): Biomedika Februari 2020 Vol 11, No 2 (2019): Biomedika Agustus 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Online First More Issue