cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kantor LP3M Unismuh Makassar Jl. Sultan Alauddin No. 259 Makassar, Indonesia
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
OCTOPUS : Jurnal Ilmu Perikanan
ISSN : 23020670     EISSN : 27464822     DOI : https://doi.org/10.26618/octopus
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Octopus Ilmu Perikanan terbit dua kali setahun yakni Januari dan Juli berisi artikel ilmiah dalam bentuk hasil penelitian dan non penelitian berupa kajian. Jurnal Octopus Ilmu Perikanan bertujuan untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan perikanan dari para akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan pemerhati perikanan.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2013): Octopus" : 8 Documents clear
Analisis Kebijakan dan Strategi Pengembangan Usaha Rumput Laut Euchema Cottonii di Kabupaten Bantaeng (Studi Kasus di Kecamatan Bissappu, Bantaeng dan Pa’jukukang) Asni Anwar
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 1 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.551 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i1.521

Abstract

Penelitian bertujuan menganalisis kebijakan dan strategi pengembangan usaha rumput laut E.cottonii yang berlaku saat ini, menganalisis dampak kebijakan dan strategi pengembangan usaha terhadap masyarakat khususnya petani rumput laut, menganalisis kinerja pemerintah dan tokoh masyarakat dalam pengembangan usaha rumput laut, dan menganalisis alternative strategi kebijakan pengembangan usaha yang efektif untuk meningkatkan pendapatan petani rumput laut. Penentuan jumlah sampel dengan menggunakan metode kluster (Singarimbun dan Effendy 2004) sebanyak 50 responden yang mewakili kelompok pembudidaya rumput laut, enam responden mewakili tokoh masyarakat, lima pedagang rumput laut dan lima responden dari pihak pemerintah terkait, tekhnik pengumpulan data dengan tekhnik observasi, wawancara dan FGD(focus group  discussion). Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif, analisis indikator keberhasilan kebijakan dan strategi, analisis kriteria dan indikator kinerja menurut Nikijuluw dan analisis SWOT. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa strategi kebijakan pengembangan usaha rumput laut yang mengacu pada rencana pengembangan budidaya rumput laut dengan program bantuan usaha rumput laut di kabupaten Bantaeng masih kurang nyata, ditandai dengan kegagalan Koperasi Citra Mandiri yang difasilitasi oleh pemerintah. Dengan penilaian ketujuh indikator(pendapatan, pendidikan, motivasi, kesadaran masyarakat, kreativitas dan kenmandirian, pengakuan hak serta program kemitraan) yang berdampak kurang nyata. Alternatif strategi pengembangan usaha yang efektif untuk meningkatkan pendapatan petani rumput laut berupa pengembangan strategi kebijakan antara pemerintah, petani rumput laut dan pedagang dengan melibatkan Perguruan Tinggi sebagai fasilitator tenaga ahli.Kata Kunci : strategi, usaha, rumput laut    The study aims to analyze policies and business development strategies seaweed E.cottonii current, analyze the impact of policies and strategies for business development against people, especially farmers seaweed, analyzing the performance of government and community leaders in the development of seaweed, and analyze alternative policy strategy development effective efforts to improve the income of farmers seaweed. Determination of the number of samples by using cluster (Singarimbun and Effendy 2004) of 50 respondents representing the farmers seaweed, six respondents representing public figures, five merchant seaweed and five respondents from the relevant government authorities, the techniques of data collection techniques of observation, interviews and FGD (focus group discussion). Data were analyzed with descriptive analysis techniques, analysis of indicators of the success of policies and strategies, analysis of criteria and indicators of performance by Nikijuluw and SWOT analysis. The results showed that the strategy of business development policies seaweed which refers to the development plan of seaweed cultivation with seaweed business assistance programs in the district are still lacking real Bantaeng, marked by the failure of Koperasi Citra Mandiri facilitated by the government. With seven votes indicators (income, education, motivation, awareness, creativity and kenmandirian, recognition of the right as well as the partnership program) which affects less real. Alternative business development strategies are effective to increase the income of seaweed farmers in the form of development strategy between government policy, seaweed farmers and traders with the involvement of Higher Education as a facilitator experts.Keywords: strategy, business, seaweed
Kajian Ekonomi Manfaat Hutan Mangrove di Kabupaten Barru Andi Nur Apung Massiseng
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 1 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.063 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i1.527

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki potensi hutan mangrove, untuk mengetahui nilai ekonomi total hutan mangrove, dan untuk mengetahui alokasi alternatif yang paling efisien penggunaan hutan mangrove. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Data diperoleh dengan menggunakan teknik survei dan wawancara langsung kepada responden. Analisis yang digunakan adalah analisis biaya manfaat dengan nilai sekarang bersih dan rasio biaya manfaat. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa nilai ekonomi total hutan mangrove per tahun di Kabupaten Barru adalah Rp. 26.406.030.836. Mereka terdiri dari nilai manfaat langsung menangkap ikan, udang, kepiting, kerang, kelelawar, penggunaan hutan dan bibit bakau sebanyak Rp. 7.424.768.156. Manfaat tidak langsung adalah manfaat hutan mangrove sebagai pemecah gelombang dan nursery ground sebesar Rp. 18.697.233.200. Manfaat opsional konservasi dan farmasi adalah Rp. 368.580.223, dan manfaat eksistensial adalah Rp. 284.029.480. Hasil analisis alternatif penggunaan hutan mangrove menggunakan analisis biaya manfaat dengan tingkat diskon dari 12% dan 20% menunjukkan bahwa alternatif yang paling efisien secara sosial, ekonomi, dan ekologis adalah penggunaan alternatif III, yaitu tetap kondisi luas monokultur, sedangkan tambak polikultur dikonversi ke daerah yang luas hutan mangrove, sehingga menjadi 1.576,12 ha. Manfaat dari nilai sekarang (NPV) sebesar Rp. 41973889970 dengan BCR 9,58% (tingkat diskonto 12%), dan NPV adalah Rp. 39308673421 dengan BCR 7,01% (tingkat diskonto 20%).Kata kunci: Mangrove Forest, Total Nilai Ekonomi, penggunaan Alternatif.The aims of the research are to investigate the potency of mangrove forest, to find out the total economic value of mangrove forest, and to find out the most efficient alternative allocation of the use of mangrove forest. The research use descriptive quantitative analysis.  The data were obtained by using survey technique and direct interview to respondents.  The analysis used was cost benefit analysis with net present value and benefit cost ratio. The results of the research reveal that total economic value of mangrove forest per year in Barru Regency is Rp. 26.406.030.836.  They consist of the value of direct benefit catching fish, shrimps, crabs, shells, bats, the use of woods and mangrove seedling as much as Rp. 7.424.768.156.  The indirect benefit is the benefit of mangrove forest as wave breaker and nursery ground as much as Rp. 18.697.233.200.  The optional benefit of conservation and pharmacy is Rp. 368.580.223, and existential benefit is Rp. 284.029.480.  The results of alternative analysis of the use of mangrove forest using cost benefit analysis with a discount rate of 12% and 20% indicates that the most efficient alternative socially, economically, and ecologically is the use of alternative III, i.e. the remain condition of widespread monoculture, while pond polyculture is converted to a vast area of mangrove forest, so it becomes  1.576,12 ha.  The benefit of the present value (NPV) is Rp. 41,973,889,970 with BCR 9,58% (discount rate 12%), and NPV is Rp. 39,308,673,421 with BCR 7,01% (discount rate 20%).Keywords : Mangrove Forest, Total Economic Value,  Alternative use.
Analisis Kualitas Air Secara Fisik Dan Kimiawi pada Sistem Pemeliharaan Kima Sisik (Tridacna Squamosa) Burhanuddin Burhanuddin
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 1 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.521 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i1.522

Abstract

Rendahnya tingkat kelangsungan hidup larva dan juvenile kima yang dipelihara di hatchery  pulau Barrang Lompo disinyalir akibat rendahnya kualitas air yang digunakan.  Kualitas air yang menurun akibat banyaknya penduduk yang membuang limbah ke laut sementara air hasil buangan hatchery diduga akan berdampak pada keseimbangan ekosistem dan perairan sekitarnya, sehubungan dengan hal tersebut dipandang perlu mengadakan penelitian tentang analisis kualitas air yang digunakan pada pemeliharaan kima sisik (T.squamosa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kualitas air (secara fisik dan kimiawi) yang digunakan untuk pemeliharaan kima sisik (T.squamosa) pada hatchery pulau Barrang Lompo.Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – September 2012 di unit pembenihan (Hatchery) Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas pulau Barrang Lompo. Pengambilan sample air yang difokuskan pada tiga titik utama, yakni lokasi inlet, bak pemeliharaan dan outlet.  Pada lokasi inlet dan oulet dilakukan sampling air dan pendataan parameter kualitas parameter fisik –kimiawi pada saat pasang dan surut, sedangkan sample air dalam bak dilakukan pada bak juvenile dan bak induk , masing-masing unit sampling diulangi sebnayak 3 x, ulasan penelitian dijelaskan secara deskriptif. Nilai suhu rata-rata pada inlet dan outlet pada saat pasang dan surut, yaitu 28°C dan 29°C, pH rata-tara 7,.3, D0 rata-rata  pasang pada inlet 6,08 ppm dan outlet 5,78 ppm sedangkan D0 rata-rata surut pada inlet 5,94 ppm dan outlet 5,93 ppm.  Rata-rata nilai nitrat pada saat pasang yakni 0,256 mg/l  lebih tinggi disbanding rata-rata nilai nitrat pada outlet saat pasang yakni 0,238 mg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data suhu rata-rata pada semua stasiun yaitu 28,5°C masih layak untuk pemeliharaan kima, salinitas rata-rata antara 33,6 – 35 ppt (perbedaan salinitas tidak terlalu menyolok akibat adanya perbedaan penguapan). pH relative netral dengan kisaran 7, D0 menunjukkan kisaran nilai tidak yang tidak terlalu berbeda jauh antara 5,85 – 6,21 ppm dan masih layak untuk media pemeliharaan. Nitrat rata-rata pada semua stasiun yaitu 0,234 -0,275 mg/l sedangkan fosfat nilai rata-ratanya 0,710 – 0,993 ppm.  Dari data kualitas air parameter fisik – kimiawi, menunjukkan kondisi kualitas air di perairan pulau Barrang Lompo masih layak untuk dijadikan media pemeliharaan kima (T. squamosa).  Kondisi kualitas air pada daerah inlet dan setelah digunakan pada bak processing tidak berpengaruh terhadap organisme laut pada daerah outlet.Kata Kunci : Kima sisik, Kualitas air, PemeliharaanLower survival rate of larvae and juvenile clams reared in hatchery island Barrang Lompo allegedly due to the poor quality of water used. Water quality is declining due to the many residents who dispose of waste into the sea while water hatchery waste product is expected to have an impact on the balance of the ecosystem and the surrounding waters, in this regard it is necessary to conduct research on the analysis of quality of water used in the maintenance of clams scales (T.squamosa) , This study aims to determine the level of water quality (physical and chemical) that is used for maintenance clam shell (T.squamosa) at the hatchery island Barrang Lompo.Kegiatan research was conducted in July-September 2012 in hatcheries (Hatchery) Faculty of Marine Science and fisheries Unhas Lompo Barrang island. Taking samples of water that is focused on three main points, namely the location of the inlet, outlet and bath maintenance. At the location of the inlet and outlet water sampling and data collection quality parameters physical parameters -kimiawi at high tide and low tide, the water in the tub while the sample is done in bath tub juvenile and parent, each unit sebnayak 3x repeated sampling, review of the research described in descriptive , The value of the average temperature at the inlet and outlet at high tide and low tide, which is 28 ° C and 29 ° C, pH Average tara 7, .3, D0 average tide at the inlet and outlet of 6.08 ppm 5.78 ppm D0 while the average low tide at the inlet and outlet 5.94 ppm 5.93 ppm. The average value of nitrate at high tide which is 0.256 mg / l higher than the average value of nitrate at high tide outlet that is 0.238 mg. The results showed that the average temperature data at all stations is 28.5 ° C is still feasible for the maintenance of clams, average salinity between 33.6 to 35 ppt (salinity is not too flashy because of differences in evaporation). relatively neutral pH range 7, D0 show the range of values is not that is not too much different between 5.85 to 6.21 ppm and are still eligible to media maintenance. Nitrate average on all stations, namely 0.234 -0.275 mg / l, while the phosphate average value from 0.710 to 0.993 ppm. Of water quality data of physical parameters - chemical, indicate water quality conditions in the waters of the island Barrang Lompo still eligible to be a maintenance media giant clams (T. squamosa). Water quality conditions in the inlet area and after use in the processing bath has no effect on marine organisms at local outlets.Keywords: Kima scales, Water Quality, Maintenance
Keterkaitan Mangrove, Kepiting Bakau (Scylla Olivacea) dan Beberapa Parameter Kualitas Air di Perairan Pesisir Sinjai Timur Andi Chadijah; Yusli Wadritno; Sulistiono Sulistiono
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 1 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.112 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i1.523

Abstract

Kecamatan Sinjai merupakan salah satu daerah kabupaten pesisir yang terletak di Kabupaten Sinjai, memiliki hutan bakau tapi waktu meningkatkan pemanfaatan dan menurunnya kualitas habitat kepiting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari magrove hubungan dengan kepiting lumpur dan kualitas air. Pengumpulan data dilakukan sejak Februari-Mei 2011. Hubungan magrove dengan kepiting lumpur dan kualitas air dianalisis menggunakan oleh Principal Component Analysis (PCA). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa matriks korelasi informasi kunci dijelaskan dalam dua sumbu utama (sumbu 1 dan 2) kualitas informasi masing-masing 47,1% dan 40%, sehingga hasil analisis karakteristik habitat mangrove menurut stasiun penelitian adalah berdasarkan beberapa parameter yang harus dijelaskan melalui dua sumbu utama 87.1% dari total jangkauan.Kata kunci: Mangrove, kepiting MudSinjai Subdistrict is one of the coastal district area located in Sinjai Regency, have mangrove forests but  a time of increasing utilization and declining habitat quality  of crab. The objectives of this research was to study the relationship magrove with mud crab and quality of water. The data was collected since February to May 2011.  The relationship magrove with mud crab and quality of water was analyzed using by Principal Component Analysis (PCA). The results obtained  show that the correlation matrix of key information is described in two main axes (axes 1 and 2) the quality of information respectively 47.1% and 40%, so the results of the analysis of mangrove habitat characteristics according to the research station is based on several parameters have to be explained through two main axes of 87.1% of the total range.Keywords: Mangrove, Mud crabs
Pertumbuhan dan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii yang Dipelihara di Ekosistem Padang Lamun Perairan Puntondo Takalar Alimuddin Alimuddin
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 1 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.487 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i1.524

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui pertumbuhan dan kandungan karaginan rumput laut yang dipelihara dengan berbagai metode pada ekosistem padang lamun.  Dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2011 di perairan Puntondo, Desa Laikang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Analisis kandungan karaginan rumput laut akan dilakukan di Laboratorium  Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.  Wadah budidaya yang digunakan adalah keranjang plastik berukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing  45 x 32 x 17 cm berjumlah 15 buah ditempatkan pada berbagai kedalaman dari permukaan perairan pada kawasan padang lamun sesuai dengan metode budidaya yaitu 20 cm (permukaan),  100 cm  (lepas dasar) dan 250 cm (dasar). Rancangan percobaan yang digunakan  adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan metode budidaya dengan masing-masing 5 ulangan yaitu: (A) permukaan; (B) lepas dasar dan (C) dasar. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji Tukey.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan spesifik dan kandungan karaginan tertinggi dihasilkan metode budidaya lepas dasar yakni masing-masing 1,54%/hari dan 44,8%, sedangkan terendah metode budidaya dasar masing-masing 1,14%/hari dan 39,9%.Kata Kunci : Metode budidaya, Pertumbuhan, Kandungan karaginan, Padang LamunThis study aims to determine the growth and content of carrageenan seaweed that is maintained by a variety of methods in seagrass ecosystems. Conducted from March to June 2011 in the waters Puntondo, Laikang Village, District Mangarabombang, Takalar, South Sulawesi. Carrageenan seaweed content analysis will be conducted at the Laboratory of Department of Fisheries, Faculty of Marine Sciences and Fisheries, Hasanuddin University, Makassar. Container cultivation used are plastic baskets length, width and height each 45 x 32 x 17 cm amounts to 15 pieces placed at various depths from the surface waters in the area of seagrass in accordance with the methods of cultivation which is 20 cm (surface), 100 cm ( freelance basis) and 250 cm (base). The experimental design used was completely randomized design with 3 treatments cultivation methods with 5 replications each, namely: (A) of the surface; (B) off the base and (C) basis. Data were analyzed using analysis of variance followed by Tukey's test. The results showed that the specific growth rate and high carrageenan content is generated off-bottom methods of cultivation which was respectively 1.54% / day and 44.8%, while the lowest basic farming methods respectively 1.14% / day and 39.9 %.Keywords: methods of cultivation, growth, content of carrageenan, Seagrass
Peningkatan Aktifitas Fagositosis Dan Letupan Respirasi Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Dengan Pemberian Xantone Dari Kulit Buah Manggis Mardiana Mardiana; Rahmi Rahmi
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 1 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.385 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i1.525

Abstract

Budidaya  ikan nila  sering mengalami kegagalan akibat adanya serangan penyakit. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemberian xantone yang merupakan imunostimulan  sehingga mampu meningkatkan daya tahan tubuh ikan nila dari serangan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak xantone dari kulit buah manggis terhadap peningkatan respon immune pada ikan nila.  Penelitian ini dilakukan secara in vitro dan in vivo, untuk mengukur intensitas “Letupan respirasi” dilakukan pengukuran anion superoksida (O2-) karena anion superoksida adalah produk utama yang dilepaskan dan letupan respirasi. Sedangkan  aktifitas fagositosis dihitung dengan jumlah sel yang aktif memfagosit sel bakteri dalam seratus sel fagositosis yang dinyatakan dalam persen. Rancangan penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan parameter pengamatan adalah letupan respirasi  dan aktifitas fagositosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pemberian ekstrak xantone pada ikan nila mampu menghambat pertumbuhan bakteri pathogen A. hydrophila. Hasil analisis ragam ANOVA menunjukkan bahwa ikan nila yang diberikan ekstrak xantone, berpengaruh nyata terhadap aktifitas fagositosis ikan nila (P0.05). Hasil uji lanjut W-Tukey perlakuan A berbeda terhadap perlakuan B, C dan D tetapi antar perlakuan B dan perlakuan D tidak berbeda. Hasil uji lanjut W-Tukey pada letupan respirasi juga menunjukkan perbedaan antara perlakuan C dengan perlakuan A dan Perlakuan B tetapi tidak berbeda dengan perlakuan D. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh kesimpulan dengan pemberian xantone  2,10 ppm dapat meningkatkan respon imun  yaitu letupan respirasi dan aktifitas fagositosis pada ikan nila.Kata kunci : Xantone,  ikan nila, Respon Immun.Tilapia fish farming often fail due to their disease. One of the efforts is the provision xantone which is immunostimulatory so as to improve the endurance of tilapia from the disease. This study aimed to analyze the effect of extracts of mangosteen rind xantone to increase the immune response of tilapia. This study was conducted in vitro and in vivo, to measure the intensity of the "Explosion of respiration" measurement of superoxide anion (O2) as superoxide anion is the main product that is released and respiratory burst. While the phagocytosis activity is calculated by the number of active cell in the bacterial cell fagocyt hundred phagocytic cells that expressed in percent. The study design was designed using completely randomized design (CRD) with observation parameter is respiratory burst activity and phagocytosis. The results showed that the extract xantone on tilapia could inhibit the growth of pathogenic bacteria A. hydrophila. Results of analysis of variance ANOVA showed that tilapia were given extracts xantone, significantly affected the activity of phagocytosis tilapia (P 0.05). Further test results W-Tukey different treatment A against treatment B, C and D but between treatments B and D treatment did not differ. Further test results W-Tukey on respiratory outbreaks also show differences between treatment C with treatment A and treatment B but did not differ by treatment with D. Based on these results we concluded with the awarding of 2.10 ppm xantone can boost the immune response is a burst of respiration and activity phagocytosis in tilapia. Keywords: Xantone, tilapia, Response Immun
Analisis Makrozoobentos pada Ekosistem Mangrove di Kabupaten Barru Abdul Malik
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 1 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.254 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i1.520

Abstract

Makrozoobentos biasa digunakan sebagai indikator lingkungan suatu perairan yang tercemar karena memiliki kepekaan dan memberikan reaksi terhadap perubahan yang terjadi. Selain itu makrozoobentos memiliki mobilitas yang rendah sehingga mudah di pengaruhi oleh lingkungan. Hasil yang didapatkan kelimpahan total individu di kerapatan jarang, sedang dan padat berturut-turut adalah 45,76 individu/m2, 30,12 individu/m2 dan 30,08 individu/m2, Indeks keanekaragaman  fauna makrozoobentos di semua plot kategori rendah (0,09-0,37), Keseragaman makrozoobentos, gastropoda yang stabil terutama Sinum maculatum (6,50-11,06), Tricolia affinis (6,00-7,59). Bivalvia  adalah Tellina radiate (0,02-1,24).  Selanjutnya Sipuncula yang diwakili Phascolosoma lurco (0,07-0,64), Polychaeta yang diwakili oleh Eunice fucata (0,03-0,09 ind/m2). Kepiting Sesarma sp (0,04-0,11) dan Uca sp (0,12 ) dan  dominansi makrozoobentos, jenis gastropoda yang baik meliputi Cerithidea quadrata (0,04-0,10), Crepidula convexa (0,04-0,10), Margarites cinereus (0,00-0,01), Telescopium mauritsi (0,02-0,05) dan Urosalpinx perrugata (0,02-0,09). Bivalvia dominasi di setiap kerapatan mangrove baik. Selanjutnya  Sipuncula yang diwakili Phascolosoma lurco (0,03-0,16), Polychaeta yang diwakili oleh Eunice fucata (0,00-0,06).  Kepiting Sesarma sp (0,02-0,06) dan Ucasp (0,01).Kata Kunci:  Makrozoobentos, kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dominansiMakrozoobentos is commonly used as an indicator of an environment polluted waters because it has sensitivity and provide reaction to the changes that occur. In addition makrozoobentos has low mobility so easily influenced by the environment. The result brings an abundance of total individuals in the density of rare, medium and solid in a row is 45,76 individual/m2, 30,12 individual/m2 and, 30,08 individual/ m2, Index makrozoobentos fauna diversity in all plots category low (0.09-0.37), uniformity of makrozoobentos, stable especially gastropod Sinum maculatum (6.50-11.06), Tricolia affinis (6.00-7,59). The home is Tellina radiate (0.02-1.24). Next the Sipuncula Phascolosoma lurco represented (0.07-0.64), Polychaeta represented by Eunice fucata (0.03-0.09 ind/m2). Crab Sesarma sp (0.04-0.11) and Uca sp (0.12) and the dominance of makrozoobentos, a good type of gastropod include Cerithidea quadrata (0.04-0.10), Crepidula convexa (0.04-0.10), Margarites cinereus (0.00-0.01), Telescopium mauritsi (0.02-0.05) and Urosalpinx perrugata (0.02-0.09). The home dominance in every good mangrove density. Next the Sipuncula Phascolosoma lurco represented (0.03-0.16), Polychaeta represented by Eunice fucata (0.00-0.06). Crab Sesarma sp (0.02-0.06) and Uca sp (0.01)Keywords: Makrozoobentos, abundance, diversity, uniformity,  dominance      
Optimasi Tingkat Kerja Osmotik Benih Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes Altivelis) Yang Dipelihara Pada Salinitas Berbeda Hamka Hamka; Zainal Burhanuddin; Faisal Faisal
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 1 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.544 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i1.526

Abstract

Salinitas merupakan  salah satu faktor abiotik penting yang mempengaruhi pertumbuhan organisme akuatik. Kegiatan perekayasaan ini bertujuan untuk mendapatkan salinitas yang optimal dalam pemeliharaan benih ikan kerapu bebek (C.altivelis). Sedangkan sasarannya diharapkan dapat menjadi bahan informasi dalam mengembangkan teknik pemeliharaan benih ikan kerapu bebek sehingga dapat lebih meningkatkan hasil produksi. Kegiatan ini dilakukan dalam waskom dengan volume efektif 40 liter sebanyak empat perlakuan dengan tiga ulangan.  Adapun perlakuannya adalah: Perlakuan A (pemeliharaan dengan salinitas 20 ppt); Perlakuan B (pemeliharaan dengan salinitas 25 ppt); Perlakuan C (pemeliharaan dengan salinitas 30 ppt); dan Perlakuan D (pemeliharaan dengan salinitas 35 ppt). Kegiatan ini dilakukan selama 45 hari dengan padat tebar 20 ekor/waskom.  Pengukuran peubah meliputi Tingkat Kerja Osmotik (TKO), Laju Pertumbuhan (GR), Sintasan (SR) dan Kualitas Air. Nilai TKO rata-rata yang didapatkan adalah pada perlakuan A (216 mOsmol/L H2O); perlakuan B(164 mOsmol/L H2O); perlakuan C (134 mOsmol/L H2O); dan perlakuan D (394 mOsmol/L H2O).  Adapun nilai Laju Pertumbuhan rata-rata yang didapatkan adalah pada perlakuan A (4,83 gr); perlakuan B (5,96 gr); perlakuan C (7,95 gr); dan perlakuan D (3,41 gr).  Sedangkan Sintasan (SR) rata-rata yang didapatkan pada setiap perlakuan adalah perlakuan A (93,33%); perlakuan B (100%); perlakuan C (100%) dan perlakuan D (88,33%).  Hasil pengukuran kualitas air masih menunjukkan kisaran yang layak untuk mendukung kegiatan pemeliharaan benih ikan kerapu bebek.Kata kunci: Osmoregulasi, tingkat kerja osmotik, benih ikan kerapu bebekSalinity is one of the important abiotic factors that affect the growth of aquatic organisms. Engineering activity is aimed to obtain optimal salinity in the maintenance of seed grouper duck (C.altivelis). While the target is expected to be material information in developing techniques grouper seed maintenance duck so as to further increase production. These activities are carried out in a basin with an effective volume of 40 liters a total of four treatments with three replications. The treatment was: Treatment A (with a salinity of 20 ppt maintenance); Treatment B (maintenance with a salinity of 25 ppt); C treatment (maintenance of the salinity of 30 ppt); and Treatment D (maintenance of the salinity of 35 ppt). This activity is carried out for 45 days with stocking density 20 birds / basin. Measurement variables include Osmotic Working Level (TKO), Growth (GR), survival rate (SR) and Water Quality. TKO average value obtained is in treatment A (216 mOsmol / L H2O); treatment B (164 mOsmol / L H2O); treatment C (134 mOsmol / L H2O); and treatment D (394 mOsmol / L H2O). The value of the average growth rate obtained is in treatment A (4.83 g); treatment B (5.96 g); treatment C (7.95 g); and treatment D (3.41 g). While the survival rate (SR) the average obtained in each treatment is the treatment of A (93.33%); treatment B (100%); C treatment (100%) and treatment D (88.33%). Results of water quality measurements still show a decent range to support maintenance activities humpback grouper fish fry.Keywords: Osmoregulation, osmotic work rate, seed grouper duck

Page 1 of 1 | Total Record : 8