cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kantor LP3M Unismuh Makassar Jl. Sultan Alauddin No. 259 Makassar, Indonesia
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
OCTOPUS : Jurnal Ilmu Perikanan
ISSN : 23020670     EISSN : 27464822     DOI : https://doi.org/10.26618/octopus
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Octopus Ilmu Perikanan terbit dua kali setahun yakni Januari dan Juli berisi artikel ilmiah dalam bentuk hasil penelitian dan non penelitian berupa kajian. Jurnal Octopus Ilmu Perikanan bertujuan untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan perikanan dari para akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan pemerhati perikanan.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2013): Octopus" : 8 Documents clear
Identifikasi Penyakit Karang pada Karang Keras (Scleractinia) di Pulau Barrang Lompo Rahmi Rahmi
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 2 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.179 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i2.533

Abstract

Penelitian ini bertitik tolak dari banyaknya masalah penyakit pada karang keras sehingga dapat menjadi pemicu keberadaan penyakit dengan perkembangan lebih cepat.  Berdasarkan hal tersebut maka penelitian tentang identifikasi penyakit karang  pada karang keras (Scleractinia)  penting untuk dilakukan di pulau Barang Lompo. Tahap awal penelitian dilakukan melalui Penentuan posisi koordinat karang yang terinfeksi penyakit, Penentuan penyakit dilakukan dengan pemasangan Belt Transek (Sabuk transek) berukuran 20 X 2 meter. Pemasangan sabuk transek dilakukan pada sisi pulau bagian barat laut yang terdapat penyakit. Identifikasi karang dan penyakit berdasarkan Veron (1990), Suharsono (2008), Beeden et al.,(2008) coral disease handbook oleh Raymundo tahun 2008 dan Ernesto Weil dan Anthony J. Hooten tahun 2008. Penggunaan kamera bawah air akan membantu untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan penyakit karang yang didapatkan. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan di Pulau barrang Lompo, dapat disimpulkan bahwa penyakit yang menginfeksi pada karang keras di pulau tersebut adalah White Syndrome (WS), Black Band Disease (BBD) dan Brown Band Disease (BrBD), dimana penyakit WS lebih dominan menginfeksi pada karang Porites sp dan penyakit BBD menginfeksi pada Pachyseris sp serta penyakit BrBD ditemukan menginfeksi pada jenis karang Acropora branching.Kata Kunci: Penyakit, Karang Keras dan Pulau Barrang LompoThis study starts from a number of problems in hard coral disease that can be triggered by the presence of disease progress more quickly. Under these conditions, research on the identification of coral disease in hard corals (Scleractinia) important to do on the island Lompo Goods. The initial stage of research conducted through positioning coordinates infected coral disease, determination of disease carried by mounting Belt Transect (belt transect) measuring 20 X 2 meters. Installation of belt transects conducted on the northwestern part of the island contained the disease. Identification of coral and disease by Veron (1990), Suharsono (2008), Beeden et al., (2008) handbook by Raymundo coral disease in 2008 and Ernesto Weil and Anthony J. Hooten 2008. The use of underwater cameras will help to identify and documenting coral disease were obtained. Based on the results of a survey conducted on the island Barrang Lompo, it can be concluded that the disease that infects the hard coral islands are White Syndrome (WS), Black Band Disease (BBD) and Brown Band Disease (BrBD), where the disease WS more dominant infect Porites sp and BBD disease infects Pachyseris sp and BrBD disease found infecting the branching Acropora corals.Keywords: Disease, Hard Coral and Island Barrang Lompo
Analisis Laju Pertumbuhan Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii yang Ditanam Pada Berbagai Kedalaman Darmawati Darmawati
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 2 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.394 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i2.534

Abstract

Kedalaman mempengaruhi tingkat intensitas cahaya yang masuk kedalam perairan, sehingga perlu dilakukan penelitian menganalisis laju pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang ditanam diberbagai kedalaman. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret - Juni 2013 yang bertempat di Desa Laikang Kecamatan Mangarabombang Kabupaten Takalar dengan posisi 50o35.644’LS dan 119o155.565’BT. Peralatan yang digunakan meliputi alat perlengkapan budidaya sistem longline seperti tali ris dari bahan nilon (polyethylene Ø No. 10, 8, 5, dan  2 mm), dan pelampung bola.  Peralatan yang lain meliputi timbangan elektrik untuk menimbang bobot rumput laut, Dalam penelitian ini digunakan metode penanaman dengan sistem long line. Berat awal bibit dalam satu rumpun 50 gram. Jarak tanam rumput laut yang satu ke yang lain adalah 30 cm.  Perlakuan kedalaman terdiri dari A = 20 cm, B = 50 cm dan C = 100 cm dengan 3 kali ulangan. Pengukuran pertumbuhan rumput laut dilakukan dengan cara menimbang bobot basah rumput laut pada setiap tujuh hari. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan rumput laut K. alvarezii dilakukan analisis ragam (Anova). Rata-rata laju pertumbuhan harian pada kedalaman 50 cm  (4,750%), lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan harian pada kedalaman 20 cm  (4,427%), dan pada kedalaman 100 cm (3,892%). Hasil uji lanjut Tukey  menunjukkan bahwa perlakuan kedalaman 20 cm berbeda nyata dengan perlakuan kedalaman 50 cm, dan kedalaman 100 cm, perlakuan kedalaman 50 cm juga berbeda nyata dengan perlakuan kedalaman 100 cm. Tingginya laju pertumbuhan pada perlakuan kedalaman 50 cm dikarenakan pada kedalaman penanaman tersebut secara nyata mempangaruhi pertumbuhan rumput laut dari aspek pencahayaan (fotosintesis) dan aspek suplai nutrisi. Parameter kualitas air seperti suhu, salinitas, pH dan CO2 masih dalam kondisi yang ideal bagi pertumbuhan rumput laut K alvarezii.Kata Kunci : Kedalaman, laju Pertumbuhan dan Kappaphycus alvareziiDepth affect the level of intensity of light coming into the waters, so it is necessary to study to analyze the rate of growth of seaweed Kappaphycus alvarezii planted in different depths. This study was conducted in March-June 2013, which took place in the village of the District Laikang Mangarabombang KabupatenTakalar with 50o35.644'LS position and 119o155.565'BT. Equipment used includes fittings cultivation longline systems such as ris nylon rope (polyethylene Ø No. 10, 8, 5 and 2 mm), and a float ball. Other equipment includes an electric scales for weighting seaweed, In this study used a method of planting with long line system. Initial weight of seeds in one clump 50 grams. Spacing seaweed one to the other is 30 cm. Depth treatment consists of A = 20 cm, 50 cm and B = C = 100 cm with 3 repetitions. Measurement of seaweed growth is done by weighing the wet weight of seaweed in every seven days. To determine the effect of treatment on the growth of seaweed K. alvarezii analysis of variance (ANOVA). The average daily growth rate at a depth of 50 cm (4.750%), higher than the daily growth rate at a depth of 20 cm (4.427%), and at a depth of 100 cm (3.892%). Tukey's test results further show that the treatment depth of 20 cm differ significantly by treatment with a depth of 50 cm, and a depth of 100 cm, 50 cm depth treatment also significantly different from the treatment depth of 100 cm. The high growth rate in the treatment depth of 50 cm due to the depth of planting is expressly mempangaruhi seaweed growth on aspects of lighting (photosynthesis) and aspects of the supply of nutrients. Water quality parameters such as temperature, salinity, pH and CO2 is still in ideal conditions for the growth of seaweed K alvarezii.Keywords: depth, rate of growth and Kappaphycus alvarezii
Korelasi Mangrove dengan Produksi Perikanan Budidaya Abdul Haris Sambu
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 2 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.817 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i2.529

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Samataring dan Desa Tongke Tongke Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai. Tujuan penelitian ini sebagai berikut : (1) menganalisis korelasi antara persentase rasio mangrove dengan peningkatan produksi budidaya utama, (2) menganalisis korelasi antara persentase rasio mangrove dengan peningkatan produksi budidaya sambilan dan (3)  menganalisis korelasi  nilai manfaat langsung ekosistem mangrove dengan peningkatan produksi hasil tangkapan perairan pesisir. Hasil penelitian ini sebgai berikut:(1) persentase rasio mangrove dengan produksi budidaya utama berkorelasi negatif dan menghasilkan persamaan Y=8.800-0.091X dengan nilai R2 0.99, (2) persentase rasio mangrove dengan produksi budidaya sambilan berkorelasi positif dan menghasilkan persamaan Y=0.239+0.016X dengan nilai R2 0.99,dan (3) persentase rasio dengan nilai manfaat langsung ekosistem mangrove berkorelasi positif dengan peningkatan produksi tambak dan hasil tangkapan perikanan pesisir dan menghasilkan persamaan Y=0.347+0.458X dengan nilai R2 0.99Kata Kunci: Korelasi produksi budidaya dan nilai manfaatResearch conducted in the Village and Village Samataring Tongke Tongke East Sinjai district, Sinjai. The purpose of this study as follows: (1) analyze the correlation between the percentage ratio of mangrove with increased production of major cultivation, (2) analyze the correlation between the percentage ratio of mangrove with increased aquaculture production sideline and (3) analyze the correlation value of the direct benefits of mangrove ecosystem to boost output catches of coastal waters. The results of this study sebgai the following: (1) the percentage ratio of mangrove aquaculture production and generate major negative correlation equation Y = 8.800-0.091X with R2 0.99, (2) the percentage ratio of mangrove aquaculture production was positively correlated sideline and produce equation Y = 0.239 + 0.016X with R2 0.99, and (3) the percentage ratio of the value of the direct benefits of mangrove ecosystem is positively correlated with an increase in production ponds and coastal fisheries catch and produce the equation Y = 0347 + 0.458X with R2 0.99Keywords: Correlation aquaculture production and value benefits.
Optimasi Pemberian Kombinasi Maggot dengan Pakan Buatan terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Murni Murni
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 2 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.827 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i2.535

Abstract

Maggot merupakan organisme yang berasal dari telur black soldier (Hermetia illucens) yang dikenal sebagai organisme pembusuk karena kebiasaannya mengkonsumsi bahan-bahan organik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh kombinasi maggot dengan pakan buatan, sehingga menghasilkan pertumbuhan dan sintasan yang optimal terhadap benih ikan nila.  Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – Desember 2013 yang berlokasi di Balai Benih Ikan (BBI) Bontomanai Kabupaten Gowa. Hewan uji yang  digunakan adalah benih Ikan nila hitam  yang berumur ± 3-4 minggu dengan panjang 3 - 5cm dengan bobot rata-rata ± 4 g/ekor. Padat tebar  20 ekor/m2. Wadah yang  digunakan dalam penelitian ini adalah waring hijau dengan ukuran 1x1x1 meter sebanyak 9 buah, alat pengukuran parameter kualitas air dan timbangan digital.  Pemberian pakan uji dilakukan secara secara adlibitum.  Peubah yang diamati berupa pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan relative harian, sintasan dan efisiensi pakan.  Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan  diperoleh hasil pemberian kombinasi pakan buatan (pellet) 50 % dan maggot 50 % memberikan hasil sintasan, pertumbuhan, FCR dan efisiensi pakan yang baik sehimgga Maggot (Hermetia illucens)  layak dijadikan pakan alternatif pada usaha budidaya ikan nila.Kata kunci :  Maggot, Pakan buatan dan ikan nilaMaggot is an organism derived from eggs black soldier (Hermetia illucens) known as spoilage organisms because of his habit of consuming organic ingredients. The purpose of this study was to determine the effects of maggot combination with artificial feed, resulting in optimal growth and survival rate of the tilapia fish. This study was conducted in March-December 2013, which is located in Fish Seed (BBI) Bontomanai Gowa. Test animals used were black tilapia fish seed aged ± 3-4 weeks with a length of 3 - 5cm with an average weight ± 4 g / tail. Stocking density 20 fish / m2. The container used in this study was waring a green with a size of 1x1x1 meters as much as 9 units, instruments measuring water quality parameters and digital scales. Feeding trials conducted in adlibitum. Variables measured in the form of absolute growth, the daily relative growth rate, survival rate and feed efficiency. Based on the research that has been done shows the provision of a combination of artificial feed (pellets) of 50% and 50% give results maggot survival, growth, FCR and feed efficiency was good sehimgga Maggot (Hermetia illucens) worthy alternative feed on the cultivation of tilapia.Keywords: Maggot, artificial feed and tilapia
Analisis Kualitas Air Pada Kerapatan Mangrove yang Berbeda di Kabupaten Barru Abdul Malik
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 2 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.011 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i2.530

Abstract

Kualitas air pada kerapatan mangrove yang berbeda terdapat perbedaan, sehingga dilakukan pengukuran kualitas air dengan menggunakan pengukuran langsung dan analisa laboratorium.  Hasil yang didapatkan pada kerapatan jarang, sedang dan rapat masing-masing; kedalaman: 75-92, 94-106,99-115, suhu: 30,3, 30,2, 30,2, kecerahan : 54, 46, 44, arus: 58, 57, 54, salinitas 26 (sama di tiap kerapatan), pH: 7,3, 7,5, 7,5, DO: 8,0, 7,3, 7,0, NO3: 0,025, 0,005, 0,009, PO4: 0,014 (sama di tiap kerapatan).Kata kunci : kualitas air, kerapatan dan mangroveThe quality of water in mangrove different densities there is a difference, so do water quality measurement using direct measurements and laboratory analysis. Results obtained on the density of rare, medium and meetings respectively; depth: 75-92, 94-106,99-115, temperature: 30.3, 30.2, 30.2, brightness: 54, 46, 44, current: 58, 57, 54, salinity 26 (the same in every density), pH: 7.3, 7.5, 7.5, DO: 8.0, 7.3, 7.0, NO3: 0.025, 0.005, 0.009, PO4: 0.014 (same at each density).Keywords: water quality, density and mangrove
Sintasan dan Percepatan Moulting Kepiting Bakau (Scylla Serrata) dengan Menggunakan Saponin Burhanuddin Burhanuddin
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 2 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.867 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i2.536

Abstract

Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomis penting dan banyak diminati dipasaran.      Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan saponin terhadap sintasan dan percepatan moulting kepiting bakau (Scylla serrata) dan diharapkan dapat bermanfaat bagi seluruh stakeholder terkait serta menjadi salah satu sumber informasi dalam usaha percepatan moulting. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2013 di Balai Budidaya Air Payau Desa Bontoloe, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.  Perlakuan pemberian dosis yang dicobakan terhadap percepatan moulting kepiting bakau (Scylla serrata), adalah sebagai berikut: Perlakuan A = 15 ppm; B = 30 ppm; C = 45 ppm, dan Kontrol (tanpa pemberian saponin).  Adapun peubah yang diamati pada penelitian ini adalah sintasan dan kecepatan moulting.  Sebagai data penunjang, dilakukan pengukuran beberapa parameter kualitas air (suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, dan amoniak). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan saponin tidak berpengaruh nyata terhadap sintasan kepiting bakau, namun berpengaruh sangat nyata terhadap kecepatan moulting.  Kecepatan moulting tertinggi dicapai pada penggunaan saponin 45 ppm, sehingga disarankan untuk budidaya kepiting bakau lunak (soka) sebaiknya menggunakan saponin dosis 45 ppm.  Data kualitas air yang diukur selama penelitian masih menunjukkan kisaran yang layak dan dapat ditolerir oleh kepiting bakau.Kata Kunci : Kepiting bakau, moulting dan SintasanMangrove crab (Scylla serrata) is the one commodity important economic value and much in demand in the market. This study aims to determine the effect of the use of saponin on survival and moulting acceleration of mud crab (Scylla serrata) and expected to be beneficial for all stakeholders concerned as well be one of the resources in an effort to accelerate moulting. This research was conducted in May and June 2013 in the village of Brackish Water Aquaculture Centres Bontoloe, District Galesong, Takalar, South Sulawesi. Treatment doses tested against acceleration moulting mud crab (Scylla serrata), is as follows: Treatment A = 15 ppm; B = 30 ppm; C = 45 ppm, and Control (without giving saponins). The variables were observed in this study is survival and moulting speed. As supporting data, measurement of water quality parameters (temperature, salinity, pH, dissolved oxygen, and ammonia). Based on the results of the study indicate that the use of saponin did not significantly affect survival mud crab, but very significant effect on the speed of moulting. Moulting highest speed reached on the use of saponin 45 ppm, so it is advisable for the cultivation of soft mud crab (shelled) should use the saponin dose of 45 ppm. Water quality data measured during the study still showed decent range and can be tolerated by mangrove crabs.Keywords: mangrove crab, moulting and Survival
Respon Pertumbuhan Berbagai Jenis/Strain Rumput Laut Kappaphycus Spp. di Perairan Pantai Laguruda Sanrobone Takalar Akmal Akmal; Andi Elman; Jumriadi Jumriadi
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 2 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.823 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i2.531

Abstract

Kegiatan diseminasi teknologi dimaksudkan sebagai upaya menyebarluaskan teknologi hasil-hasil perekayasaan budidaya perikanan kepada masyarakat pengguna, sehingga pada akhirnya diharapkan akan berdampak ke arah peningkatan kemampuan dan peningkatan ekonomi kesejahteraan masyarakat.  Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi 3 strain/jenis yang diujikan meliputi Kappaphycus denticulatum (spinosum) dan K. striatum (edule), dan K. alvarezii di perairan Laguruda Desa Laguruda Kecamatan Sanrobone sebagai lokasi diseminasi teknologi budidaya rumput laut.  Hasil menunjukkan bahwa penanaman ketiga jenis/strain rumput laut yang diujicobakan mempunyai pertumbuhan yang rendah. Selama 42 hari periode pemeliharaan terjadi peningkatan bobot 197,29%, 144,22% dan 146,07% secara berturut-turut untuk jenis K. striatum, K. denticulatum dan K. alvarezii (golo-golo).  Terjadi perubahan figmen yang mencolok setelah 45 hari periode penanaman dengan warna figmen yang lebih pucat.Kata kunci : Pertumbuhan, Produksi, Jenis/Strain, Kappaphycus sp.AbstractTechnology dissemination activities intended as an effort to disseminate the results of engineering technologies of aquaculture to the user community, which in turn is expected to have an impact in the direction of increased capacity and improved economic welfare of the community. This activity aims to investigate the response of the growth and production of three strains / species tested include Kappaphycus denticulatum (spinosum) and K. striatum (edule), and K. alvarezii in the waters of the District Sanrobone Laguruda Laguruda village as a location for technology dissemination seaweed cultivation. The results showed that the planting of three species / strains of seaweeds that have been tested have low growth. During the 42-day maintenance period increased weight of 197.29%, 144.22% and 146.07% respectively for type K. striatum, K. and K. denticulatum alvarezii (golo-golo). Figmen striking changes occurred after 45 days of planting period with figmen a paler color.Keywords: Growth, Production, Type / Strain, Kappaphycus sp
Aplikasi Pemberian Alga Pasta Nannochloropsis Dengan Dosis yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Rotifera Brachionus Rotundiformis Skala Laboratorium Andi Khaeriyah
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 2 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.85 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i2.532

Abstract

Salah satu upaya agar pemberian alga pada kultur Brachionus rotundiformis menjadi lebih efektif dan efisien adalah dengan pemberian alga Nannochloropsis sp dalam bentuk pasta. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan dosis yang optimum terhadap pertumbuhan Rotifera jenis Brachionus rotundiformis skala Laboratorium dengan pemberian pakan alga pasta. Penelitian ini dilaksanakan pada Agustus- September 2013 di Balai Budidaya Air Payau Takalar. Wadah yang digunakan dalam penelitian ini adalah ember bervolume 15 liter sebanyak 9 buah yang diisi  air laut  sebanyak 10 liter. Bibit Rotifera yang sudah disiapkan dimasukkan ke dalam media pemeliharaan  dengan kepadatan 15 ekor/ml. Pada penelitian ini, pemberian pakan berupa Nannocloropsis sp.  Rancangan yang  digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan Data yang diperoleh berupa pertumbuhan B. rotundiformis, Nilai rata-rata pertumbuhan relative B. rotundiformis selama penelitian  menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan relative tertinggi pada perlakuan B ( 2 tetes) , kemudian perlakuan C (3 tetes) dan terendah pada perlakuan A (1 tetes). Hasil perhitungan pertumbuhan relatif B. rotundiformis selama penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan relatif dari setiap perlakuan berbeda-beda dan mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya lama pemeliharaan. Analisis sidik ragam rata-rata pertumbuhan relatif B. rotundiformis (ind/ml) selama penelitian menunjukkan bahwa pemberian Nannocloropsis sp. Dengan dosis yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan relatif B. rotundiformis.Kata kunci: Alga, rotifer, dan pertumbuhanOne of the efforts that the provision of algal cultures Brachionus rotundiformis become more effective and efficient is by giving Nannochloropsis sp algae in paste form. The purpose of this study was to determine the optimum dose of the growth Rotifera Brachionus types rotundiformis scale laboratory by feeding the algae paste. The research was conducted in August-September 2013 in Hall Takalar Brackish Water Aquaculture. The container used in this study is a 15 liter bucket volume as much as 9 units were filled with sea water as much as 10 liters. Rotifers prepared seedlings put into maintenance medium with a density of 15 fish / ml. In this study, feeding in the form of Nannocloropsis sp. The design used was completely randomized design (CRD) with three treatments and three replications Data obtained in the form of growth B. rotundiformis, average value B. rotundiformis relative growth during the study showed that on average the highest relative growth in treatment B (2 drops ), then C treatment (3 drops) and the lowest in the treatment of A (1 drop). The result of the calculation of the relative growth of B. rotundiformis during the study showed that the relative growth of each different treatment and decreased with the increase in the length of culture. Analysis of variance on average relative growth B. rotundiformis (ind / ml) during the study showed that giving Nannocloropsis sp. Different doses of the very significant effect on the relative growth B. rotundiformis.Keywords: algae, rotifers, and growth

Page 1 of 1 | Total Record : 8