cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kantor LP3M Unismuh Makassar Jl. Sultan Alauddin No. 259 Makassar, Indonesia
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
OCTOPUS : Jurnal Ilmu Perikanan
ISSN : 23020670     EISSN : 27464822     DOI : https://doi.org/10.26618/octopus
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Octopus Ilmu Perikanan terbit dua kali setahun yakni Januari dan Juli berisi artikel ilmiah dalam bentuk hasil penelitian dan non penelitian berupa kajian. Jurnal Octopus Ilmu Perikanan bertujuan untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan perikanan dari para akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan pemerhati perikanan.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2014): Octopus" : 8 Documents clear
Prevalensi Penyakit Karang di Kawasan Konservasi Laut Daerah di Sulawesi Selatan Rahmi Rahmi
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 2 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (754.942 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i2.549

Abstract

Ancaman terhadap terumbu karang biasanya disebabkan oleh polusi dari pupuk, limbah, racun buatan manusia, sedimentasi dan eksploitasi yang berlebihan. Sedangkan ancaman secara globalnya adalah kenaikan suhu air laut sehingga mengakibatkan karang terinfeksi penyakit. Kawasan konservasi laut (KKL) memberikan wawasan kepada masyarakat dan menanamkan kepedulian untuk bersama-sama menjaga ekosistem pesisir yang ada disekitarnya. Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Kapoposang dan pulau Sarappo Lompo sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Pangkep perlu diteliti sehingga menjadi dasar bagi penentuan kawasan konservasi sebagai salah satu cara untuk mengurangi prevalensi penyakit karang.Kata Kunci : Prevalensi, Penyakit dan kawasan konservasi laut.Threats to coral reefs is usually caused by pollution from fertilizers, sewage, toxic manmade, sedimentation and exploitation. While the global threat is the rise in sea water temperature causing coral infected with the disease. Marine protected area (MPA) provides insight to the community and instill awareness to jointly safeguard the coastal ecosystem around it. Wildlife Tourism Bodies (TWP) Kapoposang island and island Sarappo Lompo as Regional Marine Conservation Area (KKLD) Pangkep need to be investigated so that the basic elements of protected areas as one way to reduce the prevalence of coral disease.Keywords: Prevalence, Disease and marine conservation area.
Kelimpahan dan Sebaran Horizontal Phytoplankton bagi Peruntukan Budidaya Ikan ( Studi Kasus Waduk Bilibili Zona I ) Andi Khaeriyah
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 2 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.585 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i2.550

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kelimpahan dan sebaran horizontal phytoplankton bagi peruntukan budidaya keramba jaring apung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2014, bertempat di Desa Bilibili Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel air danau atau waduk, kelimpahan dan sebaran horizontal fitoplankton dan selanjutnya di analisis atau di identifikasi lebih lanjut di laboratorium Kualitas Air Universitas Hasanuddin Makassar. Lokasi Penelitian ini dilakukan dengan 3 stasiun dengan metode pengambilan sampel fitoplankton secara horizontal, Berdasasarkan hasil yang diperoleh didapatkan di Perairan Waduk Bilibili apabila terlihat berdasarkan spesies dan jenis organismenya masih dikatakan memadai untuk melakukan budidaya Keramba Jaring ApungKata Kunci : Kelimpahan, Phytolplankton, Budidaya ikanThis study was conducted to identify and analyze the abundance and distribution of phytoplankton for allotment horizontal floating net cage aquaculture. This research was conducted in May and June 2014, housed in the Village Bilibili Bontomarannu District of Gowa. The material used in this study is a lake or reservoir water samples, the abundance and distribution of phytoplankton and further horizontal analysis or further identification in the laboratory of Water Quality Hasanuddin University, Makassar. Location This research was conducted with 3 stations with sampling methods phytoplankton horizontally, Berdasasarkan results obtained in the Water Reservoir Bilibili when seen by species and type of organism is said to be sufficient to make the cultivation Keramba cage.Keywords: Abundance, Phytolplankton, Raising fish
Ujicoba Lama Perendaman Tirisan Rumput Laut Pasca Panen terhadap Pertumbuhan dan Produksi Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii Akmal Akmal; Lideman Lideman; Andi Elman; IGP Agung; Muh. Suaib; Ilham Ilham
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 2 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.993 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i2.545

Abstract

Bertujuan untuk mengetahui manfaat dan menganalisis kandungan cairan tirisan rumput laut serta mengetahui optimasi lama perendaman dengan menggunakan cairan tirisan rumput laut pasca panen sebagai pupuk cair. Pemberian cairan hasil tirisan rumput laut menitikberatkan pada lama peredaman. Perendaman media cairan tirisan rumput laut dilakukan dengan perlakuan A (4 jam), B (6 jam), dan C (8 jam) serta D (0 jam) sebagai kontrol. Hasil percobaan menunjukkan pertambahan bobot basah rata-rata rumput laut K.alvarezii terjadi peningkatan hari ke-7 sampai ke-21 pada semua. Pada perlakuan A (4 jam) pertambahan bobot rata-rata pada hari ke-21 (12,07±1,28 g) lebih tinggi jika di bandingkan dengan perlakuan B yang menunjukkan pertambahan bobot rata-ratanya hanya 10,72±0,77 g, perlakuan C sekitar 11,18±0,29 g, dan D (pertambahan bobot rata-rata hanya 10,99±0,96 g. Selanjutnya perlakuan A diperoleh pertumbuhan biomass tertinggi 9,543±3,04 g dan terendah pada perlakuan D tanpa perendaman sebagai kontrol hanya 7,150±0,72 g lebih rendah jika dibanding dengan pertumbuhan biomass perlakuan B dan C masing-masing 7,413±0,43 g dan 8,127±1,43 g. Perlakuan A yang dianggap optimal dalam penyerapan unsur hara bagi pertumbuhan biomassa K. alvarezii. Namun demikian, belum dapat dibandingkan dengan jelas lama perendaman tirisan rumput laut yang terbaik untuk laju pertumbuhan harian dan produksi K. alvarezii. Selain itu, perlakuan lama perendaman dikatakan berpengaruh terhadap pertumbuhan walaupun tidak signifikan. Oleh karena itu, cairan hasil tirisan rumput laut dalam kegiatan tersebut memiliki peranan yang cukup dalam proses pemanjangan tallus dan pertambahan bobot.Kata Kunci : Tirisan rumput laut, Pertumbuhan, Biomassa, Kappaphycus alvareziiBertujuan untuk mengetahui manfaat dan menganalisis kandungan cairan tirisan rumput laut serta mengetahui optimasi lama perendaman dengan menggunakan cairan tirisan rumput laut pasca panen sebagai pupuk cair. Pemberian cairan hasil tirisan rumput laut menitikberatkan pada lama peredaman. Perendaman media cairan tirisan rumput laut dilakukan dengan perlakuan A (4 jam), B (6 jam), dan C (8 jam) serta D (0 jam) sebagai kontrol. Hasil percobaan menunjukkan pertambahan bobot basah rata-rata rumput laut K.alvarezii terjadi peningkatan hari ke-7 sampai ke-21 pada semua. Pada perlakuan A (4 jam) pertambahan bobot rata-rata pada hari ke-21 (12,07±1,28 g) lebih tinggi jika di bandingkan dengan perlakuan B yang menunjukkan pertambahan bobot rata-ratanya hanya 10,72±0,77 g, perlakuan C sekitar 11,18±0,29 g, dan D (pertambahan bobot rata-rata hanya 10,99±0,96 g. Selanjutnya perlakuan A diperoleh pertumbuhan biomass tertinggi 9,543±3,04 g dan terendah pada perlakuan D tanpa perendaman sebagai kontrol hanya 7,150±0,72 g lebih rendah jika dibanding dengan pertumbuhan biomass perlakuan B dan C masing-masing 7,413±0,43 g dan 8,127±1,43 g. Perlakuan A yang dianggap optimal dalam penyerapan unsur hara bagi pertumbuhan biomassa K. alvarezii. Namun demikian, belum dapat dibandingkan dengan jelas lama perendaman tirisan rumput laut yang terbaik untuk laju pertumbuhan harian dan produksi K. alvarezii. Selain itu, perlakuan lama perendaman dikatakan berpengaruh terhadap pertumbuhan walaupun tidak signifikan. Oleh karena itu, cairan hasil tirisan rumput laut dalam kegiatan tersebut memiliki peranan yang cukup dalam proses pemanjangan tallus dan pertambahan bobot.Kata Kunci : Tirisan rumput laut, Pertumbuhan, Biomassa, Kappaphycus alvarezii
Frekuensi Perendaman Tirisan Rumput Laut Sebagai Pupuk Cair Terhadap Laju Pertumbuhan dan Produksi Rumput Laut (Kappaphycus Alvarezii) Abdul Malik; Akmal Akmal; Agus Satriyono
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 2 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.99 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i2.551

Abstract

Pertumbuhan relatif harian rumput laut K .alvarezii dengan uji frekuensi perendaman tirisan rumput laut terdapat perbedaan. laju pertumbuhan relatif harian tertinggi pada perlakuan C (0,0357%/hari) dan terendah perlakuan A perendaman 1 kali (0,0182%/hari), sedangkan produksi tertinggi pada perlakuan C perendaman 3 kali (1,5000 gr/m2) dan terendah pada perlakuan B perendaman 2 kali (0,533 gr/m2).Kata Kunci : pertumbuhan relatif, K.alvarezii, perendaman, produksiDaily relative growth of seaweed K .alvarezii with frequency test seepage seaweed soaking there is a difference. relative growth rate of the highest daily in treatment C (0.0357% / day) and the lowest treatment A first immersion times (0.0182% / day), while the highest production in treatment C immersion 3 times (1.5000 gr / m2) and lowest in treatment B soaking 2 times (0.533 gr / m2).Keywords: relative growth, K.alvarezii, soaking, production
Analisa Histologi Sel Euchema Cottoni pada Kedalaman Berbeda Darmawati Darmawati
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 2 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.004 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i2.546

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisa histologi rumput laut Euchema cottoni dengan melihat perubahan sel jaringan rumput laut jenis E.  cottoni yang dibudidayakan pada kedalamanberbeda.Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Takalar, menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan kedalaman perairan 20 cm, 50 cm dan 100 cm, masing-masing dilakukan pengulangan 3 kali. Peubah yang diamati adalah perubahan sel rumput laut E. cottoni pada kedalaman berbeda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman perairan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap perubahan sel rumput laut E. cottoni . Perubahan sel rumput laut lebih cepat pada kedalaman 50 cm dari permukaan air laut.Kata Kunci : Hisologi, Kedalaman perairan, Euchema cottoniThis study aimed to analyze the histology of seaweed Euchema cottoni to see changes in tissue cells of E. cottoni seaweed cultivated on kedalamanberbeda.This study was conducted in Takalar, using a completely randomized design with water depth treatment of 20 cm, 50 cm and 100 cm, respectively be repeated 3 times. The parameters measured were cell changes seaweed E. cottoni at different depths.The results showed that the depth of the water does not provide significant effect on cell changes seaweed E. cottoni. Changes seaweed cells more rapidly at a depth of 50 cm from the surface of the sea.Keywords: Hisologi, water depth, Euchema cottoni.
Pengaruh Peningkatan Konsentrasi Karbondioksida (CO2) terhadap Pertumbuhan Populasi dan Performansi Fitoplankton Adopsi (Emiliania Huxleyi Sp) Skala Laboratorium Sahabuddin Sahabuddin; Andi Khaeriyah; Agus Chadijah
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 2 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.098 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i2.552

Abstract

Emiliania huxleyi sp merupakan fitoplankton kosmopolit yang terdapat di seluruh dunia, Fitoplankton ini biasa juga disebut dengan coccolith, yang memiliki ciri-ciri umum mengandung kapur karbonat (calcareous). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh peningkatan konsentrasi karbondioksida (CO2) terhadap pertumbuhan populasi dan performansi fitoplankton adopsi Emiliania huxleyi skala laboratorium. Pada penelitian ini dipilih lima perlakuan dan tiga ulangan yaitu konsentrasi karbondioksida (CO2) 385 ppm, konsentrasi karbondioksida (CO2) 450 ppm, konsentrasi karbondioksida (CO2) 550 ppm, konsentrasi karbondioksida (CO2) 650 ppm dan konsentrasi karbondioksida (CO2) 750 ppm. Untuk analisis data kepadatan Emiliania huxleyi sp dilakukan dilaboratorium. Parameter yang diamati yaitu kepadatan pertumbuhan harian dengan menggunakan rumus kepadatan yang dihitung setiap hari bersama dengan pengukuran kualitas air yakni, suhu air, derajat keasaman (pH), oksigen terlarut (DO) dan salinitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan Emiliania huxleyi sp dari dari semua perlakuan, kepadatan tertinggi didapatkan pada perlakuan konsentrasi (CO2) 385 ppm, Kedua yaitu konsentrasi (CO2) 450 ppm, ketiga konsentrasi (CO2) 550 ppm, keempat konsentrasi (CO2) 650 ppm dan paling terendah yaitu konsentrasi (CO2) 750 ppm.Kata Kunci : Fitoplankton, Karbondioksida (CO2)Emiliania huxleyi sp is phytoplankton, cosmopolitan with a presence throughout the world, this Phytoplankton also called coccolith, which have the general characteristics of carbonate containing lime (calcareous). This study aimed to determine the effects of increasing concentrations of carbon dioxide (CO2) on the growth of phytoplankton populations and performance Emiliania huxleyi laboratory scale adoption. In this study selected five treatments and three replications, namely the concentration of carbon dioxide (CO2) 385 ppm, the concentration of carbon dioxide (CO2) of 450 ppm, the concentration of carbon dioxide (CO2) 550 ppm, the concentration of carbon dioxide (CO2) of 650 ppm and the concentration of carbon dioxide (CO2) of 750 ppm. Emiliania density for data analysis conducted laboratory huxleyi sp. The parameters observed were daily growth density by using density formula is calculated each day along with the measurement of water quality, water temperature, acidity (pH), dissolved oxygen (DO) and salinity. The results showed that the density Emiliania huxleyi sp of all treatments, the highest density obtained at treatment concentration (CO2) 385 ppm, second is concentration (CO2) of 450 ppm, the third concentration (CO2) 550 ppm, a fourth concentration (CO2) of 650 ppm and ie the lowest concentration (CO2) of 750 ppm.Keywords: phytoplankton, carbon dioxide (CO2)
Analisis Parameter Biologi (Klorofil-A Dan Fitoplankton) Perairan Kawasan Estuaria Sungai Kurilompo bagi Peruntukan Budidaya Perikanan di Kabupaten Maros Burhanuddin Burhanuddin
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 2 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.211 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i2.547

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur analisis parameter biologi (Klorofil-a dan Fitoplankton) perairan kawasan estuaria sungai kurilompo bagi peruntukan usaha budidaya ikan dan udang di kabupaten Maros.Penelitian ini dilakukan di Daerah Kawasan Estuaria Dusun Kurilompo Desa Nisombalia Kabupaten Maros, terus dilanjutkan kelaboratorium Balai Budidaya dan Pengembangan Air Payau Maros untuk mengamati sampel fitoplankton dan Khlorofil-a dan Waktu penelitian ini dilaksanakan selama ± 1 (satu) bulan. Hasil penelitian menunjukkan Kelimpahan fitoplankton dikawasan estuaria kurilompo, berkisar antara 27.25 – 38.975 ind/ml, maka dapat dikatakan perairan kawasan estuaria kurilompo yang mempunyai tingkat kesuburan yang rendah (Oligothrofik). Sedangkan pada keaneragaman fitoplankton tidak stabil mulai dari 0.588 – 0.754, sedangkan fitoplankton yang mendominasi di estuaria kurilompo sangat tinggi sehingga kelimpahan fitoplankton rendah dan keseragaman fitoplankton tinggi. Nilai khlorofil-a yang terukur terkategori sedang.Kata Kunci : Fitoplankton, Kelimpahan,  Dominansi dan Khlorofil-a.This study aims to measure the analysis of biological parameters (chlorophyll-a and phytoplankton) waters of the river estuary area kurilompo for allotment of fish and shrimp cultivation in the district this Maros.Penelitian conducted in the Estuary Region Hamlet Village Kurilompo Nisombalia Maros, continued kelaboratorium Aquaculture Centres Brackish Water Development and Maros to observe samples of phytoplankton and chlorophyll-a and the time the research was conducted for ± 1 (one) month. The results showed kurilompo Phytoplankton abundance of estuarine region, ranging between 27.25 - 38 975 ind / ml, it can be said kurilompo's marine estuaries that have low fertility levels (Oligothrofik). While on a multifaceted phytoplankton are not stable from 0588-0754, while phytoplankton dominate in estuaries kurilompo so high that the abundance of phytoplankton phytoplankton low and high uniformity. The value of chlorophyll-a measured being categorized. Keywords: Phytoplankton, Abundance, Dominance and chlorophyll-a
Studi Kelimpahan dan Sebaran Phytoplankton secara Horizontal (Kasus Sungai Kuri Lompo Kabupaten Maros) Asni Anwar
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 2 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.579 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i2.548

Abstract

Penelitian ini dilakukan di sungai Kurilompo, Dusun Kurilompo, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu Kabupaten Maros. Pada bulan Mei-Juni 2014. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive sampling) dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut adalah salah satu sumber pasokan air untuk usaha pertambakan masyarakat sekitar aliran sungai Kurilompo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran dan kelimpahan phytoplankton secara horizontal dan menentukan keanekaragaman, keseragaman, serta dominansi phytoplankton pada sungai kuri lompo. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan phytoplankton pada tiga stasiun pengamatan selama lima minggu penelitian diperoleh nilai rata-rata berkisar antara 18,5-24,5 ind/L dan menunjukkan nilai keanekaragaman yang sedang dengan kisaran nilai 0,212171 ind/L-0,851241 ind/L yang kemudian menghasilkan nilai keseragaman 0,978082 ind/L pada daerah estuaria atau muara sungai yang tergolong tinggi, daerah pemukiman dengan nilai 0,586516 ind/L dimana nilai tersebut dikategorikan dalam nilai keanekaragaman yang sedang, dan daerah saluran tambak atau kawasan perikanan yang memiliki nilai keanekaragaman yang tergolong rendah dengan nilai 0,306099 ind/L. Pada daerah pemukiman terdapat jenis phytoplankton yang mendominasi yaitu jenis navicula sp dengan nilai tertinggi 0,851852 ind/L.Kata Kunci : Phytoplankton, Kelimpahan dan  KeanekaragamanThis research was conducted in the river Kurilompo, Hamlet Kurilompo, Nisombalia Village, District Marusu Maros. In May-June 2014. The choice of location research done intentionally (purposive sampling) with the consideration that the location is one of the sources of water supply for aquaculture business community around the river Kurilompo. This study aims to determine patterns of distribution and abundance of phytoplankton horizontally and define diversity, uniformity, and dominance of phytoplankton in the river kuri lompo. The results showed the abundance of phytoplankton at three observation stations during the five-week study showed average values ranged from 18.5 to 24.5 ind / L and demonstrate the value of diversity is being with a range of values 0.212171 ind / ind L-0.851241 / L which then produces a uniform value 0.978082 ind / L in estuaries or river estuary that is high, a residential area with a value of 0.586516 ind / L where the value is categorized in the value of diversity is moderate, and the channel region or area of fishery ponds the value of diversity is low with a value of 0.306099 ind / L. In residential areas there is a type of phytoplankton that dominate the type of Navicula sp with the highest value 0.851852 ind / L.Keywords: Phytoplankton, Abundance and Diversity

Page 1 of 1 | Total Record : 8