cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
eksplorium@batan.go.id
Editorial Address
BULETIN PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN GALIAN NUKLIR Jl. Lebak Bulus Raya No. 9, Ps. Jumat, Jakarta 12440, Indonesia, Telp (021) 7691775, 7695394, 75912956 Fax (021)7691977
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir
ISSN : 08541418     EISSN : 2503426x     DOI : https://doi.org/10.17146/eksplorium
Core Subject : Social,
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir, adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN yang telah diakreditasi LIPI No.749/AU2/P2MI-LIPI/08/2016 dan menempati peringkat SINTA 2
Arjuna Subject : -
Articles 194 Documents
Pelindian Natrium Zirkonat Menggunakan Asam Klorida Secara Catu Sajima Sajima
EKSPLORIUM Vol 39, No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.398 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.1.4369

Abstract

Penelitian tentang teknologi pengolahan zircon terus dilakukan untuk mengikuti kebutuhan industri pasar. Pengolahan natrium zirkonat dengan pelindian menggunakan asam klorida sebagai pelarut telah dilkukan. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh ukuran butir, temperatur, dan kecepatan pengadukan terhadap zirkon terambil. Penelitian dilakukan dengan memasukkan pelarut (asam klorida 4 N) ke dalam reaktor, kemudian pelarut tersebut dipanaskan sambil diaduk. Umpan dengan ukuran butir tertentu dimasukkan ke dalam reaktor. Kondisi temperatur dan kecepatan pengadukan dijaga tetap. Setelah kondisi operasi tercapai, proses dihentikan kemudian disaring. Hasil penelitian dengan analisis XRF menunjukkan bahwa kondisi proses optimum dicapai pada ukuran butir 90 µm, temperatur 80 oC dan kecepatan pengadukan 200 rpm. Pada kondisi tersebut zirkon terambil sebesar 84.50 %.  Research on zircone processing technology has been continued to follow industrial market needed. Treatment of sodium zirconate with leaching process using hydrochloric acid as solvent has been conducted. The aim of the study is to evaluate the effect of grain size, temperature, and speed of stirring on the extracted zircon. The research starting with introduced the solvent (chloride acid 4 N) into the reactor, then heated while stirring. The feed with a certain grain size was introduced into the reactor. The temperature and stirring conditions were kept steady. Once the operating conditions are reached, the process is stopped and then filtered. The results with XRF analysis showed that the optimum process conditions were achieved on 90 μm grain size, the temperature of 80oC, and stirring speed of 200 rpm. The amount of zircon that taken out were 84.50% on this conditions.
Laju Sedimentasi di Dataran Banjir Sungai Ciujung Hulu Berdasarkan Profil Pb-210 Excess Barokah Aliyanta; Nita Suhartini
EKSPLORIUM Vol 39, No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.702 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.1.4165

Abstract

Laju deposisi sedimen di dataran banjir merupakan salah satu komponen dalam budget sedimen daerah aliran sungai (DAS). Oleh karena itu, perlu dilakukan perhitungan estimasi laju deposisi sedimen di dua lokasi dataran banjir berdasarkan penanggalan umur sedimen dengan teknik Pb-210 excess. Core sedimen diambil di dataran banjir Sungai Ciujung Hulu tiap interval kedalaman 10 cm sampai kedalaman 120 cm. Sedimen yang didapat dikeringkan, diayak, ditimbang 150–300 gr, ditempatkan dalam wadah khusus dan ditutup rapat. Setelah sebulan dalam kondisi tertutup rapat, sampel diukur dengan spektrometer gamma Multichannel analyzer (MCA) untuk mengetahui aktivitas Pb-210 total dan Pb-210 supported. Berdasarkan data Pb-210 total dan Pb-210 supported, terdapat tiga cara berbeda untuk mendapatkan profil Pb-210 excess. Data Pb-210 excess yang diperoleh digunakan untuk menghitung umur sedimen berdasarkan metode constant of the rate of supply (CRS). Melalui umur tiap perlapisan sedimen ini, dapat diketahui adanya zona peralihan laju deposisi sedimen di kedua lokasi. Laju sedimentasi berkisar 1,028 cm/tahun dari tahun 1968 s/d 1987, dan naik menjadi sekitar 2,83 cm/tahun dari tahun 1987–2016 (28,95 tahun) di lokasi 1. Di lokasi 2, laju sedimentasi berkisar 0,676 cm/tahun dari tahun 1950–1993, dan naik menjadi kisaran 3,231 cm/tahun dari kurun waktu tahun 1993–2016 (23 tahun). The rate of deposition of sediment on the floodplain area is one of the constituent component of the sediment budget in watersheds. Therefore, the sedimentation rate estimation has been made in two locations of the floodplains based on the age sediment obtained using Pb-210 excess technique. Sediment cores were taken in the Ciujung Hulu River floodplain every 10 cm depth intervals up to a depth of 120 cm. Sediment was obtained then dried, disaggregated, sifted, weighing 150–300 gr, placed into the special containers and tightly closed. After a month in a sealed condition, samples were measured using gamma spectrometer Multichannel analyzer (MCA) to find out the activity of Pb-210 total and Pb-210 supported. Based on the data of Pb-210 total and Pb-210 supported, there are three different ways to get Pb-210 excess profiles. Obtained Pb-210 excess data is used to calculate the age of the sediments on the basis of the method of constant rate of supply (CRS). Through the age of sediment layers, can be recognized the existence of transitional zone of sediment deposition rate at both locations. The rate of sedimentation ranged from 1.028 cm/year from the years 1968–1987, and rose to about 2.83 cm/year from the years 1987–2016 (28.95 years) at location 1. While in location 2, the rate of sedimentation ranged 0.676 cm/year from the years 1950–1993, and rose to about 3.231 cm/year from the years 1993–2016 (2 years).
Mobilitas Uranium pada Endapan Sedimen Sungai Aktif di Daerah Mamuju, Sulawesi Barat Frida Rosidatul Mu’awanah; Bambang Priadi; Widodo Widodo; I Gde Sukadana; Rian Andriansyah
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.038 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4953

Abstract

ABSTRAKMamuju merupakan daerah yang memiliki nilai laju dosis radiasi (radioaktifitas) tinggi. Daerah penelitian terdiri dari 6 sektor yaitu Sektor Ahu, Orobatu, Takandeang, Botteng, Pangasaan, dan Taan. Variasi batuan pada daerah penelitian tidak mencerminkan distribusi uranium, sehingga diperlukan metode geokimia untuk mengetahui distribusi uranium pada sistem drainase. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mobilitas dan distribusi uranium pada sistem drainase dengan menggunakan sampel sedimen sungai aktif. Analisis mobilitas uranium menggunakan persen labil yang didapatkan dari perbandingan uranium total dan uranium labil. Nilai uranium total didapatkan dari pengukuran X-Ray fluorescence spectrometry dan nilai uranium labil didapatkan dari pengukuran labile fluorimetry. Pengambilan sampel dilakukan pada 4 lokasi potensial berdasarkan data radiometri. Hasil analisis menunjukkan Sektor Ahu memiliki nilai anomali uranium labil >113,44 ppm, Sektor Pangasaan dengan nilai anomali uranium labil >168,63 ppm, Sektor Takandeang dengan nilai anomali uranium labil >74,36 ppm, dan Sektor Botteng dengan nilai anomali uranium labil >84,23 ppm. Tipe anomali yang teridentifikasi pada dua sektor, yaitu anomali pada sektor Ahu berhubungan dengan presipitasi hidrolisat uranium terlarut pada endapan sungai dari lava Ahu dan breksi Tapalang, sementara anomali pada Sektor Takandeang berhubungan dengan pengayaan permukaan uranium in situ pada tanah dan batuan lava Takandeang. ABSTRACTMamuju is an area that has a high dose rate (radioactivity) value. The research area consists of 6 sectors namely Ahu, Orobatu, Takandeang, Botteng, Pangasaan, and Taan Sector. Lithological distribution does not represent the distribution of uranium; therefore geochemical method is needed to observe the distribution of uranium in the drainage system. The aim of this research is to provide an overview of the mobility and distribution of uranium in the drainage system using stream sediment. Uranium mobility analysis uses labile percent obtained from the ratio of total uranium and labile uranium, the total uranium value obtained from the measurement of X-Ray fluorescence spectrometry and the value of labile uranium obtained from measurement of labile fluorimetry. The sample taken from 4 potential areas based on radiometric value Map. The result of analysis shows that Ahu Sector has labile uranium anomaly >113.44 ppm, Pangasaan Sector with labile uranium anomaly >168.63 ppm, Takandeang Sector with uranium labile anomaly values >74.36 ppm, and Botteng Sector with uranium labile anomaly >84.23 ppm. The anomaly types identified from two sectors, namely Ahu Sector anomaly is related to the precipitation of dissolved uranium hydrolysates in stream deposit originating from Ahu lava and Tapalang breccia, while Takandeang Sector anomaly is related to the enrichment of in situ uranium in soil and Takandeang lava.
Pemanfaatan Alumina Waste dari Tailing Bauksit Menjadi Zeolit Adsorben Sy Indra Septiansyah; Maya Santi
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1208.023 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4982

Abstract

ABSTRAKAlumina waste dari tailing bauksit merupakan produk samping yang berasal dari hasil benefisiasi bijih bauksit. Proses benefisiasi dilakukan dengan cara memisahkan partikel-partikel yang ada seperti lumpur atau clay, akar-akar, butiran bijih bauksit berkisar 2 mm yang dibuang atau menjadi waste product atau disebut sebagai limbah tailing. Tingginya kadar alumina dan silika dalam tailing bauksit menjadi salah satu alasan mengapa tailingini dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam pembuatan produk baru yaitu zeolit sintetis. Zeolit sintetis dipilih karena zeolit merupakan produk impor, harganya mahal dan memiliki sifat yang seragam serta >150 jenis zeolit sintetis dapat dibuat secara komersial dan bahkan di industri zeolit dapat dimanfaatkan secara luas sebagai adsorben, penukar ion, membrane, katalis, dan lain-lain.Hasil analisis kimia tailing bauksit menunjukkan komposisi: alumina (Al2O3) sekitar 49,41%, silika (SiO2) sekitar 12,58%, hematit (Fe2O3) sekitar 10,6% dan beberapa oksida anorganik lainnya dalam jumlah yang kecil. Proses konversi tailing  bauksit menjadi zeolit adsorben dilakukan dengan metode fusi kaustik untuk mendapatkan ekstrak fusi (mother liquor) kemudian dilanjutkan dengan penambahan prekursor natrium silikat dengan formula sintesis Si/Al(1:1). Kristalisasi produk dilakukan dengan menggunakan metode hidrotermal pada suhu rendah  dengan variable waktu inkubasi yang ditentukan. Reaksi sodium aluminat dan sodium silikat telah mentransformasi fasa amorf gel menjadi fasa kristalin zeolit yang berbentuk serbuk putih halus.ABSTRACTAlumina waste from bauxite tailings is the by products derived from bauxite ore beneficiation. The beneficiation process is done by separating the particles that exist such as mud or clay, roots, grain, bauxite ore ranges from 2 mm are discarded or be referred to as a waste product or tailings. High concentration of alumina and silica in bauxite tailings considered as one of the reasons why these tailings can be used as base material in the making new products, namely synthetic zeolites. Zeolites synthetic is selected because zeolites are imported, expensive and have uniform properties and >150 types of synthetic zeolites can be made commercially and even in industrial zeolite can be used widely as an adsorbent, ion exchange, membranes, catalysts, etc. The chemical analysis of bauxite tailings showed the composition of alumina (Al2O3) is approximately 49.41% silica (SiO2) is about 12.58%, hematite (Fe2O3) is approximately 10.6% and some other inorganic oxides are small amounts. The conversion process bauxite tailings into zeolite is carried out by caustic fusion method to extract the fusion (alumina precursor) followed by the addition of sodium silicate precursor with synthesis formula 1.2Na2O.0.5SiO2.0.5Al2O3.10H2O and crystallization products is carried out by the hydrothermal method at low temperatures with variable incubation period specified. The results showed that the zeolite synthesis of bauxite tailings using caustic fusion and followed by crystallization at low temperature and under atmospheric pressure has succeeded in transforming the product into an amorphous phase to the crystalline phase product zeolite adsorbent.
Interpretasi Bawah Permukaan Berdasarkan Distribusi Nilai Tahanan Jenis di Daerah Puspiptek, Serpong Adhika Junara Karunianto; Dwi Haryanto; Heri Syaeful; Dhatu Kamajati
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1068.301 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4968

Abstract

ABSTRAKKawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK) Serpong memiliki luas 460 hektar. Sebagian besar kawasan ini merupakan ruang terbuka hijau. Seiring dengan pertumbuhan kegiatan penelitian, kebutuhan sarana infrastruktur dan bangunan juga akan semakin meningkat. Sebagai sarana strategis nasional, diperlukan desin bangunan yang kokoh untuk dan sesuai dengan kondisi bawah permukaan. Survey geolistrik dapat digunakan untuk mengetahui kondisi/informasi di bawah permukaan tanah. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh gambaran di bawah permukaan berdasarkan distribusi nilai geolistrik tahanan jenis di area rencana pembangunan Reaktor Daya Eksperimen (RDE). Pengambilan data tahanan jenis menggunakan alat ukur resistivitymeter multichannel tipe MAE X612EM+ secara 2-D menggunakan 48 channel konfigurasi Wenner-Schlumberger. Jumlah elektroda yang digunakan adalah 48 buah dengan interval jarak antar elektroda 5 m. Berdasarkan pemodelan inversi 2-D telah dihasilkan empat model penampang lintasan yaitu line-1, line 2, line-3, dan line-4. Kesalahan data di tiap lintasan relatif kecil, kurang dari 12%. Interpretasi geologi dilakukan pada pada penampang line-2 dan line-3 menggambarkan keberadaan lapisan A, B, dan C. Lapisan A diduga berupa batuan dengan ukuran butir lempung-lanau yang mengandung material organik dengan rentang nilai tahanan jenis 2-20 ohm-m dan variasi ketebalan sekitar 1-7 m. Lapisan B diduga berupa batupasir yang memiliki rentang nilai tahanan jenis 10-90 ohm-m dengan variasi ketebalan 5-20 m. Lapisan C diduga merupakan batulempung yang memiliki rentang nilai tahanan jenis 2-5000 ohm-m dengan variasi kedalaman 10-20 m. ABSTRACTThe area of Center for Research in Science and Technology (PUSPIPTEK) Serpong is 460 hectares wide. Most of the area is a Green Open Spaces (RTH). In the line with the growth of research activities, the need for infrastructure and building facilities also increases. As a national strategic facility, it is necessary to design buildings that are sturdy for and suitable with subsurface conditions. Geolectrical survey can be used to determine of subsurface condition/information. The purpose of this study is to obtain the ilustration of subsurface, based on the distribution of geoelectric resistivity values in the site of Experimental Power Reactor (RDE) construction. The resistivity data acquisition is using a multichannel resistivitymeter MAE X612EM+ type in 2-D by 48 channel of Wenner-Schlumberger configuration. The numbers of elctrodes used are 48 with an electrode interval of 5 m. Based on 2-D inversion model, there are four section models obtained, namely line-1, line 2, line-3, and line-4. The data error for each section is relatively small, less than 12%. Geological interpretation carried out in the section line-2 and line-3 illustrates the existence of layers A, B, and C. Layer A is interpreted as rock with silt to clay grain size containing organic material with resistivity values range 2-20 ohm-m and thickness varries in 1-7 m. Layer B is interpreted as sandstone which has a range of resistivity values from 10-90 ohm-m with thickness variations 5-20 m. Layer C is interpreted as claystone which has a range of resistivity values from 2-5000 ohm-m with depth variation in 10-20 m.
Cover+Daftar Isi+Indeks Isi Redaksi Eksplorium
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1153.565 KB)

Abstract

Cover dan halaman pengantar pada volume 39, No.2: November 2018
Perhitungan Stage Mixer Settler untuk Pemurnian Torium (Th) dari Pelarutan Monasit Hafni Lissa Nuri; Prayitno Prayitno; Abdul Jami
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.175 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4524

Abstract

ABSTRAKMonasit (Ce, La, Nd, Th,)PO4 dengan kandungan torium (Th) antara 3-4% cukup signifikan untuk diproses menghasilkan Th. Pengolahan awal dilakukan dengan pelindian monasit menggunakan reagen basa karbonat (Na2CO3) untuk mengambil uraniumnya. Sisa tailing dilarutkan dengan asam sulfat untuk menghasilkan larutan Th(SO4)2 yang kemudian dimurnikan dari unsur-unsur pengotornya. Pengolahan dilakukan secara kontinyu menggunakan mixer settler dengan tahapan proses meliputi proses ekstraksi Th, stripping Th dan regenerasi pelarut organik. Ekstraksi Th menggunakan pelarut organik Primene JM-T (RNH2) yang merupakan campuran dari 0,15M Primene JM; 5% Tridecanol; dan 95% Kerosin. Sementara itu, proses stripping Th menggunakan larutan 2M HCl. Untuk efisiensi maka regenerasi pelarut organik menggunakan 1% H2SO4. Untuk mendapatkan recovery dan kemurnian yang tinggi dari Th, penghitungan jumlah stage mixer settler diperlukan dengan menggunakan metode McCabe Thiele. Dari hasil perhitungan diperoleh jumlah stage dalam proses ekstraksi Th adalah 3, proses stripping Th adalah 3 dan regenerasi pelarut organik adalah 2. Recovery total Th sebesar 84,90% diperoleh dengan kemurnian produk mencapai 99,02%. ABSTRACTMonazite (Ce, La, Nd, Th)PO4 with thorium (Th) content between 3-4 % is significant enough to be processed to produce Th. The initial treatments conducted by using carbonate base reagents (Na2CO3) for monazite leaching to fetch the uranium. The remaining tailings were dissolved with sulfuric acid to produce Th(SO4)2 solution which is then purified from its impurities. The processing is carried out continuously using a mixer settler with the process steps include Th extraction, Th stripping, and organic solvents regeneration. Thorium extraction uses a primene JM-T (RNH2) organic solvent which is a mixture of 0.15M Primene JM; 5% Tridecanol and 95% Kerosine. Meanwhile, the Th stripping process uses 2M HCl solution. For efficiency, regeneration of organic solvents uses 1% H2SO4. To obtain a high recovery and purity from Th, it is necessary to calculate the number of stage mixer settlers using the McCabe Thiele method. Based on the calculation, the number of stage for extraction process, Th stripping, and organic solvents regeneration are 3, 3, and 2 respectively. The total recovery of Th is obtained at 84.90 % where product purity reaches 99.02 %.
Subsurface S-type Granitoid Identification Based on Gravity and Seismic Tomography Models in Pacitan, East Java Joko Soesilo; Indriati Retno Palupi; Wiji Raharjo; Sutanto Sutanto; Faris Ahad Sulistyohariyanto; Kevin Gardo Bangkit Ekaristi; Fandi Budi Stiawan
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.064 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4954

Abstract

ABSTRACTGranitoid outcrop has been observed in Montongan, Tulakan Subdistrict, Pacitan District, East Java. Geochemically, granitoid shows peralluminous S-type granitoid which consists of comparable plagioclase and potassium feldspar leading to adamelite and granodiorite variety with andalusite, fine size corundum and cordierite inside. These modal minerals are consistent with its bulk chemical analysis result that shows alumina rich rock. Highly weathered spotted pinkish soil with remaining quartz gravels characterizes its surface. Lateritic pink soil up to more than 25 meters thick covers the granitoid body and this feature is indicative to locate its surface distribution, while its subsurface distribution is remain uncertain. The research aimed to identify granitoid subsurface distribution. To identify the subsurface body, gravity and seismic tomography models were used. According gravity model, the pluton body is 5 km wide which is rootless downward and seems extends eastward. Meanwhile, the north-south seismic tomographic model across Pacitan Region indicates dense solid body override the recent Java subduction zone. The body is assumed to have correlation with surface granitic rock. It supports an idea that there is a micro continent trapped beneath Southern Mountain of East Java. ABSTRAKSingkapan granitoid telah teramati di daerah Montongan, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Secara geokimia, granitoid Pacitan memperlihatkan granitoid peralumina tipe-S yang tersusun berdasarkan perbandingan plagioklas dan kalium felspar menunjuk pada varian adamelit dan granodiorit dengan andalusit, korundum halus dan kordierit di dalamnya. Mineral modal tersebut konsisten dengan hasil analisis kimia total yang menunjukkan batuan kaya alumina. Tanah berwarna merah muda yang sangat lapuk dengan kerikil sisa kuarsa menjadi ciri khas di permukaannya. Tanah laterit merah muda yang tebalnya lebih dari 25 meter menutupi tubuh granitoid tersebut dan menjadi petunjuk penyebaranya di permukaan, namun penyebaran di bawah permukaannya masih belum pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran granitoid di bawah permukaan. Untuk mengidentifikasi tubuh bawah permukaannya, digunakan pemodelan gravitasi dan tomografi seismik. Menurut model gravitasi tubuh pluton mempunyai lebar 5 km dan tampak memanjang ke arah timur yang tidak menentu ke bawahnya. Sementara itu, model tomografi seismik utara-selatan yang memotong wilayah Pacitan, menunjukkan suatu tubuh padat keras berada di atas zona subduksi Jawa saat ini. Tubuh tersebut diasumsikan memiliki hubungan dengan batuan granitik di permukaan. Hal tersebut mendukung ide bahwa terdapat mikro-kontinen terperangkap di bawah Pegunungan Selatan Jawa Timur.
Penurunan Kadar Torium dan Radioaktivitas dalam Limbah Cair Proses Pengolahan Monasit PLUTHO Menggunakan Koagulan FeSO4 Dany Poltak Marisi; Suprihatin Suprihatin; Andes Ismayana
EKSPLORIUM Vol 39, No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.403 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.1.4276

Abstract

Pemisahan unsur radioaktif dan logam tanah jarang yang dilakukan di PLUTHO menghasilkan limbah yang masih mengandung torium dan uranium. Limbah yang dihasilkan memerlukan pengolahan lanjutan agar ramah lingkungan. Tujuan penelitian adalah menurunkan kadar torium dan radioaktivitas dalam limbah cair proses pengolahan monasit pilot plant PLUTHO menggunakan koagulan fero sulfat. Pilot Plant PLUTHO merupakan suatu fasilitas yang didirikan untuk untuk memisahkan uranium, torium, dan logam tanah jarang (LTJ) dari mineral monasit dan mineral lainnya dalam skala pilot. Perlakuan variasi yang dilakukan pada penelitian adalah dosis koagulan dan pH. Pengukuran kadar torium dilakukan dengan metode Spektrofotometer UV-Vis, sedangkan pengukuran radioaktivitas dilakukan dengan alat ukur radiasi Ludlum Model 1000 Scaler. Hasil penelitian menunjukkan kondisi optimum koagulasi pada pH 8,0 dengan dosis koagulan FeSO4 225 mg/L yang dapat menurunkan kadar torium sebesar 45,20 % dan menurunkan radioaktivitas sebesar 100 % dari kadar torium dan radioaktivitas awal yaitu 0,73 mg/L dan 1,35 Bq/g. The separation of radioactive and rare earth mineral carried out in PLUTHO produces waste that still contains thorium and uranium. The resulting waste requires further processing to be environmentally friendly. The purpose of study is to reduce thorium content and radioactivity in liquid waste of PLUTHO monazite treatment process using ferro sulphate coagulant. PLUTHO Pilot Plant is one of facility that built to dissociate uranium, thorium and light rare earth from mineral of monazite. Variations of treatments applied in the research are coagulant dosage and pH. Thorium content is measured by Spectrophotometer UV-Vis method, whereas radioactivity is measured by radiation counting meter Ludlum Model 1000 Scaler. The result shows that the optimum condition of coagulation is in pH 8,0 with concentration of ferro sulphate 225 mg/L which may reduce thorium content up to 45,20 % and reduce radioactivity to 100 % out of its initial thorium content and radioactivity as much as 0,73 mg/L and 1,35 Bq/g, respectively.
Pemisahan Itrium dengan Cara Ekstraksi Menggunakan Solven TOPO Tri Handini; I Made Sukarna; Anisa Dwi Yuniyanti
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.284 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4419

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan proses pemisahan itrium dengan cara ekstraksi menggunakan solven TOPO. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi optimum pengaruh variasi konsentrasi ekstraktan, waktu pengadukan, dan keasaman umpan logam tanah jarang serta mengetahui koefisien distribusi (Kd), faktor pisah (FP), dan efisiensi ekstraksi (%), dengan metode ekstraksi cair-cair. Umpan yang digunakan adalah logam tanah jarang dari pasir senotim. Ekstraktan yang digunakan dalam penelitian adalah TOPO (tri-n-oktilfosfina oksida). Kadar itrium (Y), disprosium (Dy), dan gadolinium (Gd) ditentukan menggunakan spektrometer pendar sinar-X. Kondisi optimum yang diperoleh dari penelitian proses ekstraksi ini meliputi: konsentrasi ekstraktan 20% TOPO dalam kerosin, waktu pengadukan 15 menit, keasaman umpan 0,5 M. Nilai koefisien distribusi yang diperoleh Y = 5,61; Dy = 2,06; Gd = 0,99. Efisiensi ekstraksi Y = 85,13%, Dy = 67,80%, Gd = 50,17% sedangkan faktor pisah Y-Dy = 2,7186 dan Y-Gd = 5,6861. ABSTRACTSeparation process of yttrium by extraction using TOPO solvents has been done. The purpose of this study is to  find out the optimum condition of the variation effect of extractant concentration, stirring time, and acidity of the rare earth feed and to determine the distribution coefficient, separation factor, and extraction efficiency (%), using the liquid-liquid extraction method. The feed used  were rare earth  elements of xenotime sand. The extractant used in the research were TOPO (tri-n-octylphosphine oxide). Concentration of yttrium (Y), disprosium (Dy), and gadolinium (Gd) were  determined using X-ray fluorescene spectrometer. Optimum conditions of the extraction process obtained from this study were: TOPO extractant concentration in kerosene 20%, stirring time 15 minutes, acidity of feed 0.5 M. Obtained value of distribution coefficient  Y = 5.61; Dy = 2.06; Gd = 0.99. For extraction efficiency Y = 85.13%, Dy = 67.80%, Gd = 50.17% whereas separation factor Y-Dy = 2.7186 and Y-Gd = 5.6861.