cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
eksplorium@batan.go.id
Editorial Address
BULETIN PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN GALIAN NUKLIR Jl. Lebak Bulus Raya No. 9, Ps. Jumat, Jakarta 12440, Indonesia, Telp (021) 7691775, 7695394, 75912956 Fax (021)7691977
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir
ISSN : 08541418     EISSN : 2503426x     DOI : https://doi.org/10.17146/eksplorium
Core Subject : Social,
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir, adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN yang telah diakreditasi LIPI No.749/AU2/P2MI-LIPI/08/2016 dan menempati peringkat SINTA 2
Arjuna Subject : -
Articles 194 Documents
Geostatistics Application On Uranium Resources Classification: Case Study of Rabau Hulu Sector, Kalan, West Kalimantan Heri Syaeful; Suharji Suharji
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1860.095 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4960

Abstract

ABSTRACTIn resources estimation, geostatistics methods have been widely used with the benefit of additional attribute tools to classify resources category. However, inverse distance weighting (IDW) is the only method used previously for estimating the uranium resources in Indonesia. The IDW method provides no additional attribute that could be used to classify the resources category. The objective of research is to find the best practice on geostatistics application in uranium resource estimation adjusted with geological information and determination of acceptable geostatistics estimation attribute for resources categorization. Geostatistics analysis in Rabau Hulu Sector was started with correlation of the orebody between boreholes. The orebodies in Rabau Hulu Sectors are separated individual domain which further considered has the hard domain. The orebody-15 was selected for further geostatistics analysis due to its wide distribution and penetrated most by borehole. Stages in geostatistics analysis cover downhole composites, basic statistics analysis, outliers determination, variogram analysis, and calculation on the anisotropy ellipsoid. Geostatistics analysis shows the availability of the application for two resources estimation attributes, which are kriging efficiency and kriging variance. Based on technical judgment of the orebody continuity versus the borehole intensity, the kriging efficiency is considered compatible with geological information and could be used as parameter for determination of the resources category. ABSTRAKPada estimasi sumber daya, metode geostatistik telah banyak digunakan dengan kelebihan adanya alat atribut tambahan untuk mengklasifikasikan kategori sumber daya. Namun demikian, pembobotan inverse distance (IDW) adalah satu-satunya metode yang sebelumnya digunakan untuk mengestimasi sumber daya uranium di Indonesia. Metode IDW tidak memberikan tambahan atribut yang dapat digunakan dalam mengklasifikasikan kategori sumber daya. Tujuan dari penelitian adalah mendapatkan praktek terbaik untuk aplikasi geostatistik pada estimasi sumber daya disesuaikan dengan informasi geologi dan penentuan atribut geostatistik yang dapat digunakan untuk kategorisasi sumber daya. Analisis geostatistik di Sektor Rabau Hulu diawali dengan korelasi tubuh bijih antara lubang bor. Tubuh-tubuh bijih di Sektor Rabau Hulu merupakan domain individual yang selanjutnya dipertimbangkan memiliki domain tegas. Tubuh bijih-15 dipilih untuk digunakan pada analisis geostatistik selanjutnya karena distribusinya yang luas dan paling banyak dipenetrasi bor. Tahapan dalam analisis geostatistik mencakup komposit downhole, analisis statistik dasar, determinasi outliers, analisis variogram, dan perhitungan ellipsoid anisotropi. Analisis geostatistik menghasilkan kemungkinan aplikasi dua atribut estimasi sumber daya, yaitu kriging efisiensi dan kriging varians. Berdasarkan penilaian teknis kemenerusan tubuh bijih terhadap intensitas lubang bor, kriging efisiensi dipertimbangkan sesuai dengan informasi geologi dan dapat digunakan sebagai parameter untuk penentuan kategori sumber daya.
Estimasi Sumber Daya Uranium Tipe Batupasir di Sektor Aloban, Sibolga, Tapanuli Tengah Roni Cahya Ciputra; Adi Gunawan Muhammad; Tyto Baskara Adimedha; Heri Syaeful; I Gde Sukadana
EKSPLORIUM Vol 40, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1066.391 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2019.40.1.5360

Abstract

ABSTRAKEksplorasi uranium di daerah Sibolga telah dilakukan sejak tahun 1978 oleh BATAN dan berhasil menemukan mineralisasi uranium tipe batupasir. Penelitian mengenai konsep mineralisasi uranium pada batupasir dan konglomerat di Sektor Aloban, Sibolga, telah dilakukan melalui data 22 titik bor yang menghasilkan penampang geologi, peta sebaran anomali, serta data cacahan radiometri dan geokimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumber daya uranium di Sektor Aloban dengan mencari hubungan antara nilai cacahan radiometri dan data geokimia pada data hasil penelitian sebelumnya menggunakan pendekatan geostatistik. Pengolahan geostatistik menggunakan perangkat lunak SGeMS menunjukkan nilai koefisien korelasi 0,5 sehingga data radiometri dan geokimia diinterpretasikan memiliki korelasi yang baik. Estimasi sumber daya uranium dihitung pada Satuan Konglomerat I dan Batupasir I yang memiliki sebaran lapisan mineralisasi tebal dan luas. Nilai kadar rata-rata uranium untuk Satuan Konglomerat I dan Satuan Batupasir I adalah 173,03 ppm U dan 161,54 ppm U secara berurutan. Estimasi sumber daya uranium di Sektor Aloban adalah 415 ton uranium sebagai sumber daya tereka.ABSTRACTUranium explorations in Sibolga Area have been conducted since 1978 by BATAN and successfully result in sandstone-type uranium mineralization. Research related to uranium mineralization concept on sandstone and conglomerate at Aloban Sector, Sibolga has been conducted through 22 boreholes data which resulted in the geological section, anomaly distribution along with radiometry counting and geochemistry data. This research objective is to obtain uranium resources in Aloban Sector by correlating radiometry counting and geochemical data from previous research by using a geostatistic approach. Geostatistical processing using SGeMS software shows a correlation coefficient of 0.5 so that the radiometry and geochemical data are interpreted to have a good correlation. Uranium Resources estimation was measured on Conglomerate I and Sandstone I units which are considered to have thick and wide mineralization distribution. The average uranium grade for Conglomerate I and Sandstone I units are 173.05 ppm U and 161.54 ppm U respectively. Uranium resource estimation at Aloban Sector is 415 tons as inferred resources.  
Cover+Kata Pengantar+Daftar Isi+Indeks Isi Redaksi EKSPLORIUM
EKSPLORIUM Vol 40, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2310.54 KB)

Abstract

Cover dan halaman pengantar pada volume 40, No.2: November 2019
Pendugaan Awal Patahan di Pulau Jawa Menggunakan Anomali Gravitasi dan Riwayat Kegempaan Theo Alvin Ryanto; Hadi Suntoko; Abimanyu Bondan Wicaksono Setiaji
EKSPLORIUM Vol 40, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.238 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2019.40.1.5470

Abstract

ABSTRAKInformasi mengenai keberadaan patahan sangat diperlukan dalam perencanaan pembangunan industri, terutama pada perencanaan tapak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Penelitian ini bertujuan untuk membuat dugaan awal keberadaan patahan di Pulau Jawa dengan menggunakan data anomali gravitasi udara bebas dan riwayat kegempaan. Metodologi yang digunakan adalah dengan memisahkan data anomali gravitasi regional dan residual. Data tersebut kemudian dianalisis dengan cara menarik garis kemenerusan kontras nilai anomali gravitasi regional dan residual yang memiliki kecocokan dengan kemenerusan sebaran titik episentrum gempa. Berdasarkan hasil analisis, beberapa kelurusan di Pulau Jawa diperkirakan sebagai patahan yang berarah relatif utara-selatan dan barat-timur.ABSTRACTInformation related to the fault existences is needed for industrial development planning, mainly on the Nuclear Power Plant (NPP) site planning. This study is aimed to build preliminary prediction on faults existence in Java Island by using free-air gravity and earthquakes history data. The methodologies are separating regional with residual gravity anomalies and then analyzing them by correlating the continuity of their contrast values which have similarities with the distribution of earthquakes epicenters point. Based on the analysis, some lineaments in Java Island are predicted as faults which relatively directing to north-south and west-east.
Studi Mikrotremor dengan Metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) di Tapak RDE, Serpong Eko Rudi Iswanto; Yuni Indrawati; Theo Alvin Riyanto
EKSPLORIUM Vol 40, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (906.732 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2019.40.2.5489

Abstract

ABSTRAKBencana alam seperti kejadian gempa bumi dapat menyebabkan kerusakan pada area tapak dan infrastruktur termasuk fasilitas reaktor nuklir. Fenomena ini perlu dipahami secara komprehensif melalui catatan sejarah karakteristik dinamik tapak. Penggunaan mikrotremor dengan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) telah digunakan secara luas dalam investigasi bawah permukaan sejak satu dekade terakhir. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik geologi setempat dan karakteristik dinamis bawah permukaan. Penelitian ini mengaplikasikan penggunaan mikrotremor metode HVSR di tapak Reaktor Daya Eksperimental (RDE) di Serpong. Pengukuran dilakukan di 15 lokasi, kemudian data diolah dengan metode HVSR menggunakan perangkat lunak Geopsy. Hasil analisis menunjukkan bahwa Tapak RDE mempunyai nilai frekuensi dominan antara 3,06 Hz–23,27 Hz dan faktor amplifikasi 1,84–6,37. Bagian timur laut dan tenggara tapak memiliki indeks kerentanan seismik yang lebih tinggi dibandingkan dengan bagian lainnya. Oleh karena itu, pilihan lokasi gedung reaktor di area barat daya sudah tepat kerena memiliki faktor amplifikasi, ketebalan sedimen, dan indeks kerentanan seismik yang relatif rendah.ABSTRACTNatural disaster like earthquake can cause damage to the site and the infrastructure including nuclear reactor facilities. This phenomenon needs comprehensively understood through its dynamic characteristics historical records of the site. The use of Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) method has been widely used for subsurface investigation since last decade. The aimed of the research is to obtain local geological and subsurface dynamic characetristics. This research is applying the use of HVSR method for Experimental Power Reactor (RDE) in Serpong. The measurements are in 15 locations, and then the data is processed by using Geopsy software. The analysis result shows that the RDE site has dominant frequncy values between 3.06 Hz–23.271 Hz and amplification factor 1.84–6.37. The northeast and southeast areas of the site have higher seismic vulnerability index than in other area. Therefore, the selection for reactor bulding location in the southwest area is proper because it has lower amplification factor, sedimen thickness, and seismic vulnerability index.
Penentuan Kondisi Optimum Proses Ekstraksi Uranium dan Torium dari Terak II Timah dengan Metode Pelindian Asam Sulfat dan Solvent Extraction Trioctylamine (TOA) Mutia Anggraini; Fuad Wafa Nawawi; Kurnia Setiawan Widana
EKSPLORIUM Vol 40, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1767.753 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2019.40.1.5378

Abstract

ABSTRAKTerak II timah merupakan produk hasil samping dari peleburan timah tahap kedua. Terak II timah ini mengandung unsur bernilai ekonomi tinggi berupa unsur radioaktif (uranium dan torium) dan logam tanah jarang (rare earth element). Unsur-unsur tersebut dapat dimanfaatkan apabila telah terpisah satu dengan lainnya. Proses pemisahan unsur radioaktif dan unsur logam tanah jarang telah dilakukan dengan metode pelindian asam sulfat. Hasil proses ini adalah endapan yang mengandung logam tanah jarang dan filtrat yang mengandung unsur radioaktif berupa uranium dan torium sulfat. Penelitian terkait pemisahan uranium dan torium hasil pengolahan terak II timah hanya sedikit dipublikasikan. Paper ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas proses pemisahan uranium dan torium dengan metode solvent extraction menggunakan trioctylamine (TOA). Proses solvent extraction dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi TOA yang digunakan, perbandingan fase aqueous dan fase organik (A/O) dan variasi waktu ekstraksi. Pada penelitian ini diperoleh kondisi optimum proses yaitu konsentrasi TOA 4%, perbandingan A/O 1 : 1, dan waktu pencampuran aqueous dan organik selama 2 menit. Pada kondisi ini uranium dan torium yang terekstrak masing-masing sebanyak 67% dan 0,84%. ABSTRACTTin slag II is a by-product of the second stage of tin smelting. The tin slag II contains high economic value elements in the form of radioactive elements (uranium and thorium) and rare earth elements. These elements can be utilized if they are separated from each other. The process of separating radioactive elements and rare earth elements has been carried out by leaching sulfuric acid method. The results of this process are residue containing rare earth elements and filtrates containing radioactive elements in the form of uranium and thorium sulfate. Research related to the separation of uranium and thorium sulfate in tin slag processing is only slightly published. This paper aims to determine the effectiveness of the uranium and thorium separating process by the solvent extraction method using trioctylamine (TOA). The solvent extraction process is carried out by varying the concentration of TOA used, comparison of the aqueous and organic phase (A/O) and variations in extraction time. In this study, the optimum conditions for the process were obtained at 4% of TOA concentration, 1 : 1 of A/O ratio, and mixing time of aqueous and organic phase for 2 minutes. In this condition, uranium and thorium which extracted were 67% and 0.84% respectively.
Cover+Daftar Isi+Indeks Isi Redaksi Eksplorium
EKSPLORIUM Vol 40, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2055.761 KB)

Abstract

Cover dan halaman pengantar pada volume 40, No.1: Mei 2019
Aktivitas NORM pada Sedimen Dasar di Perairan PLTU Tanjung Jati Jepara dan Kaitannya dengan Ukuran Butir Sedimen serta TOC Navila Bidasari Alviandini; Muslim Muslim; Wahyu Retno Prihatiningsih; Sri Yulina Wulandari
EKSPLORIUM Vol 40, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.586 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2019.40.2.5662

Abstract

ABSTRAKNORM (Naturally Occuring Radioactive Material) merupakan unsur radionuklida yang secara alami sudah ada dalam bumi dan kandungannya dapat meningkat dengan adanya kegiatan industri, seperti PLTU. Kegiatan PLTU menghasilkan bottom ash dan fly ash yang akan terbawa oleh angin kemudian masuk ke perairan dan mengendap pada sedimen dasar perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas NORM pada sedimen dasar terkait kegiatan PLTU Tanjung Jati, Jepara dan hubungannya dengan ukuran butir serta TOC (Total Organic Carbon). Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Pengukuran konsentrasi aktivitas NORM dilakukan menggunakan spektrometri sinar gama detektor HPGe, di Laboratorium Radioekologi Kelautan PTKMR-BATAN. Konsentrasi aktivitas NORM yang terdeteksi yaitu 40K berkisar 442,75–818,40 Bq.Kg-1, 232Th berkisar 99,19–212,34 Bq.Kg-1 dan 226Ra berkisar 42,42–77,77 Bq.Kg-1. Aktivitas NORM menunjukkan adanya hubungan dengan tekstur sedimen, tetapi tidak menunjukkan hubungan dengan kandungan Total Organic Carbon (TOC).ABSTRACTNORM (Naturally Occurring Radioactive Material) is a radionuclide element which naturally exists in the earth and its content can increased with the presence of industrial activities, such as the PLTU. The PLTU activities produce fly ash and bottom ash which will be carried away by the wind and then fall in the waters and settle on the bottom sediments of the waters. This study was aimed to determine the activity of NORM in bottom sediments related activities PLTU Tanjung Jati Jepara and its relationship with grain size and TOC (Total Organic Carbon). Sampling was conducted by purposive sampling method. NORM activity concentration measurements performed using gamma ray spectrometry HPGe detector, in Marine Radioecology Laboratory PTKMR-BATAN. NORM activity concentration detected is 40K ranged 442.75 to 818.40 Bq.Kg-1, 232Th ranged 99.19 to 212.34 Bq.Kg-1 and 226Ra ranged 42.42 to 77.77 Bq.Kg-1. NORM activity shows the relationship with sediment texture, but does not show a relationship with the composition of Total Organic Carbon (TOC).
Pemisahan Cerium dari Logam Tanah Jarang Hidroksida Melalui Kalsinasi dan Pelindian Menggunakan HNO3 Encer Kurnia Trinopiawan; Maria Veronica Purwani; Mutia Anggraini; Riesna Prassanti
EKSPLORIUM Vol 40, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.862 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2019.40.1.5411

Abstract

ABSTRAKAplikasi Logam Tanah Jarang (LTJ) banyak digunakan di berbagai bidang yang berhubungan dengan modernisasi. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan mengembangkan teknik pengolahan untuk mengekstraksi LTJ dari deposit mineral tanah jarang. Pengolahan LTJ hidroksida menjadi cerium oksida, lanthanum oksida dan konsentrat neodimium telah dilakukan oleh PSTA-BATAN bekerjasama dengan PTBGN-BATAN. Setelah dilakukan kajian keekonomian, ternyata penggunaan asam nitrat pekat pada proses pelarutan cerium meyebabkan pemakaian ammonia berlebih. Oleh karena itu, inovasi proses perlu dilakukan menggunakan metode kalsinasi dan pelindian hasil kalsinasi dengan HNO3 encer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas proses kalsinasi dan pelindian dengan HNO3 encer. Kalsinasi pada suhu 1000°C dengan parameter yang diamati adalah waktu kalsinasi, konsentrasi HNO3, dan tingkat pelindian. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kalsinasi dapat mengkonversi LTJ hidroksida menjadi LTJ oksida. Semakin lama waktu kalsinasi, LTJ oksida yang terbentuk semakin sempurna. Proses kalsinasi selama tiga jam meningkatkan kadar La, Ce, dan Nd yang semula 7,80%; 28,00%; dan 15,11% menjadi 12,69%; 45,50%; dan 24,45%. Kinetika reaksi kalsinasi LTJ hidroksida mengikuti proses reaksi kimia dengan persamaan y = 0,3145x + 0,0789 dan R2 = 0,9497. Kemudian, LTJ oksida hasil kalsinasi direaksikan dengan HNO3 encer. Semakin besar konsentrasi HNO3 pada berbagai tingkat pelindian, efisiensi pelindian La dan Nd semakin besar sedangkan Ce tidak dapat dilakukan pelindian atau efisiensi pelindian mendekati nol. Proses pelindian optimum pada kondisi pelindian tiga tingkat menggunakan 1 M HNO3. Kinetika reaksi pelindian mengikuti model susut inti reaksi kimia permukaan dengan persamaan y = 0,1732x – 0,2088 dan R2 = 0,9828.ABSTRACTApplication of Rare Earth Elements (REE) uses broadly in various fields related to modernization. It causes many companies are developing processing techniques to extract REE from rare earth mineral deposits. REE hydroxide processing into cerium oxide, lanthanum oxide, and neodymium concentrates has conducted by PSTA-BATAN in collaboration with PTBGN-BATAN. The previous economic study issued in excessive ammonia caused by the use of concentrated nitric acid in the cerium dissolution process. Therefore, process innovation is necessary to do by calcination and leaching methods using dilute HNO3. This research aims to determine the effectiveness of the calcination and leaching process with dilute HNO3. Calcination conducted at 1000°C temperatures with the observing parameters is calcination time, HNO3 concentration, and leaching rate. The result of the study is that calcination can convert REE hydroxide into REE oxide. The longer calcination time, the easier the REE oxide formed. The three hours calcination process enhances the concentration of La, Ce, and Nd from 7.80%, 28.00%, and 15.11% to 12.69%, 45.50%, and 24.45% respectively. The kinetic reaction of the RE(OH)3 calcination reaction follows a chemical reaction process with the equation y = 0.3145x + 0.0789 and R2 = 0.9497. Then, REE oxide from calcination reacted with dilute HNO3. The higher the concentration of HNO3 at various leaching levels, the better the leaching efficiency of La and Nd while Ce is impossible to leach or the leaching efficiency is close to zero. The optimum leaching process on three levels of leaching conditions is using 1 M HNO3. The leach reaction kinetics follows the core shrinkage model of the surface chemical reaction with the equation y = 0.1732x - 0.2088 and R2 = 0.9828.
Validitas dan Reliabilitas Data Estimasi Kadar Uranium Sektor Lembah Hitam, Kalan, Kalimantan Barat Adi Gunawan Muhammad; Frederikus Dian Indrastomo
EKSPLORIUM Vol 40, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1377.829 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2019.40.2.5672

Abstract

ABSTRAKMineralisasi uranium (U) di Sektor Lembah Hitam pada batuan metalanau dan metapelit sekistosan berasosiasi dengan mineral pirit, pirhotit, magnetit, molibdenit, turmalin, dan kuarsa. Kehadiran mineral U ditandai dengan nilai radiometri batuan yang mencapai 15.000 c/s. Estimasi cepat kadar U adalah menggunakan perhitungan gamma ray hasil logging gross-count gamma lubang bor LH-01. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas data estimasi kadar U. Hasil estimasi kadar U logging disebandingkan dengan analisis geokimia untuk mendapatkan faktor koreksi (Fk). Analisis geokimia menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF) pada sampel batuan terpilih di interval kedalaman yang mewakili batuan dan mineralisasi di lubang tersebut. Estimasi kadar U di kedalaman 8,80–9,81 m berdasarkan gross-count gamma ray menunjukkan nilai kadar 456 ppm eU, sementara analisis XRF menunjukkan rerata kadar 177 ppm U. Nilai faktor koreksi (Fk) yang didapatkan dari estimasi kadar di kedalaman 8,80–9,81 m adalah 0,388. Nilai tersebut menunjukkan validitas dan reliabilitas data estimasi yang digunakan rendah. Kesebandingan estimasi kadar U dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: sistem logging gross-count gamma ray, ketidaksetimbangan uranium, ukuran sampel, dan unsur radioaktif lainnya. Untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas data estimasi, maka diperlukan penambahan sampel analisis XRF dengan mempertimbangkan lingkar dan interval kedalaman lubang bor. ABSTRACTUranium (U) mineralisation in Lembah Hitam Sector in metasilt and schistossic metapellite rocks was assosiated with pyrite, pyrhotite, magnetite, molibdenite, tourmaline, and quartz minerals. The existence of U mineral was marked from its radiometric value reaching 15,000 c/s. The faster way to estimate U grade is using gamma-ray values calculation from gross-count gamma logging at borehole LH-01. The research is aimed to obtain the validity and reliablility of U grade estimating data. The logging estimation result then compared with geochemical analysis to obtain the correction factor (Fk). Geochemical analysis is using X-Ray Fluorescence (XRF) method on selected rock samples represent rock and mineralisastion depth interval inside the borehole. The result of uranium grade estimation using gross-count gamma ray calculation in depth 8.80–9.81 m is 456 eU while based on XRF analysis, the result is 177 ppm U. The correction factor (Fk), obtained from grade estimation at 8.80–9.81 m depth is 0.388. The value indicates that the validity and reliability estimation data is low. Ratio of U grade estimation depends on some factors, like gross-count gamma ray logging system; uranium disequilibrium, sampels size; and other radioactive elements. In order to increase the validity and reliability estimation data, XRF analysis samples should be added by considering the borhole diameter and depth interval.