cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
eksplorium@batan.go.id
Editorial Address
BULETIN PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN GALIAN NUKLIR Jl. Lebak Bulus Raya No. 9, Ps. Jumat, Jakarta 12440, Indonesia, Telp (021) 7691775, 7695394, 75912956 Fax (021)7691977
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir
ISSN : 08541418     EISSN : 2503426x     DOI : https://doi.org/10.17146/eksplorium
Core Subject : Social,
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir, adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN yang telah diakreditasi LIPI No.749/AU2/P2MI-LIPI/08/2016 dan menempati peringkat SINTA 2
Arjuna Subject : -
Articles 194 Documents
Penentuan Daerah Prospek Logam Tanah Jarang di Pulau Singkep Ngadenin Ngadenin; Adhika Junara Karunianto; Frederikus Dian Indrastomo
EKSPLORIUM Vol 41, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.1.5853

Abstract

ABSTRAK Logam tanah jarang merupakan bahan stategis yang digunakan pada perangkat teknologi tinggi dan energi bersih. Di Indonesia logam tanah jarang terkandung dalam mineral monasit, zirkon, dan xenotim sebagai mineral-mineral ikutan pada penambangan timah di zona granit jalur timah Kepulauan Riau hingga Bangka Belitung. Singkep merupakan salah satu wilayah potensial logam tanah jarang karena terletak pada zona granit jalur timah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daerah prospek logam tanah jarang di Pulau Singkep. Metoda yang digunakan adalah pengambilan 25 sampel konsentrat dulang pada beberapa tailing bekas tambang timah di Pulau Singkep. Sampel diambil pada setiap formasi batuan yang ada di Pulau Singkep dari batuan berumur tua hingga batuan berumur muda berturut-turut adalah kuarsit Bukit Duabelas berumur Permo-Karbon, komplek malihan Persing berumur Permo-Karbon, granit Muncung berumur Trias, granit Tanjungbuku berumur Yura, endapan rawa dan aluvium berumur Holosen. Setiap sampel konsentrat dulang dibagi menjadi dua bagian untuk analisis kandungan logam tanah jarang dan analisis mineral butir. Dua puluh lima (25) sampel dianalisis kandungan logam tanah jarangnya dan 14 sampel dianalisis kandungan mineral butirnya. Hasil analisis kandungan logam tanah jarang dan mineral butir menunjukkan bahwa daerah prospek logam tanah jarang terletak pada beberapa tailing bekas tambang timah di wilayah formasi batuan granit Muncung. Kadar lanthanum tertinggi mencapai 20100 ppm, cerium 37100 ppm, yttrium 9872 ppm dan neodymium 2840 ppm di mineral monasit, zirkon dan alanit.ABSTRACT Rare earth elements (REE) are strategic material used in high-tech and clean energy devices. In Indonesia, REE contained in monazite, zircon, and xenotime minerals as accessories minerals in tin mining located in the granite tin belt of Riau Islands to Bangka Belitung. Singkep is one of the potential areas of REE because its location is in the granite tin belt. The goal of the study is to determine the REE prospects in Singkep Island. The method used by taking 25 pan concentrated samples on some tailing ex tin mining on the Singkep island. These samples were taken from each rock formation on Singkep Island in sequence from older to younger rocks formation, respectively. They are Permian Carboniferous of Bukit Duabelas quartzites, Permian Carboniferous of Persing Metamorphic Rocks, Triassic Muncung granite, Jurassic Tanjungbuku granite, Holocene swamps deposits and alluvium. Each sample of pan concentrated is divided into two parts for REE content and grain mineral analysis. All 25 samples were analyzed for REE content, while only 14 samples for the grain mineral. The results of REE content and grain mineral analysis indicate that the REE prospect area located in the tailings ex tin mining in the rock formation of the Muncung granite area. The highest concentration of lanthanum reached 20100 ppm, cerium 37100 ppm, yttrium 9872 ppm, and neodymium 2840 ppm in monazite, zircon, and allanite.
Karakteristik Alterasi dan Mineralisasi Tipe Epitermal Daerah Gunung Budheg dan Sekitarnya, Tulungagung, Jawa Timur Rinal Khaidar Ali; Tri Winarno; Muhammad Ainurrofiq Jamalulail
EKSPLORIUM Vol 41, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.1.5676

Abstract

ABSTRAK Penemuan bongkah-bongkah vuggy quartz di sekitar Desa Pojok, daerah Gunung Budheg, Tulungagung, Jawa Timur, mengindikasikan adanya proses endapan mineral di daerah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas lebih detail karakteristik alterasi dan mineralisasi serta tipe endapan mineral di daerah penelitian. Metode penelitian berupa pengamatan lapangan dilengkapi dengan analisis laboratorium petrografi, X-ray Difraction (XRD) dan mineragrafi. Satuan batuan di daerah penelitian tersusun atas enam satuan litologi yaitu satuan intrusi dasit, satuan lava andesit, satuan breksi andesit, satuan breksi polimik, satuan batugamping terumbu dan aluvium. Tipe alterasi di daerah penelitian adalah alterasi profilitik, argilik, argilik lanjut, dan silisifikasi. Alterasi profilitik dicirikan oleh melimpahnya mineral klorit. Alterasi argilik dicirikan dengan melimpahnya mineral kaolin, sementara argilik lanjut dicirikan oleh hadirnya mineral kaolinit dan alunit. Alterasi silisifikasi yang dicirikan oleh melimpahnya mineral kuarsa. Mineral logam yang ditemukan di daerah penelitian didominasi oleh kelompok mineral sulfida seperti kovelit, kalkosit, enargit, kalkopirit, pirit,  dan jarosit. Emas native ditemukan berasosiasi dengan enargit. Sistem endapan mineral pada daerah penelitian merupakan sistem epitermal sulfidasi tinggi dicirikan oleh kuarsa berongga (vuggy quartz) yang termineralisasi dan kehadiran mineral kaolin sebagai mineral hasil alterasi.ABSTRACT The discovery of vuggy quartz boulders around Pojok Village, Gunung Budheg area, Tulungagung, East Java, indicates the presence of mineral deposits process in this area. This study aims to discuss detailed characteristics of alteration and mineralization as well as mineral deposits type in the study area. The research methods are field observations completed with petrography, X-ray Diffraction (XRD), and mineragraphy laboratory analysis. The rock unit in the study area consists of six lithology units, a dacitic intrusion, andesitic lava, andesitic breccia, poly-mix breccia, reef limestone, and alluvium. The study area's alteration types are profilitic alteration, argillic alteration, advanced argillic, and silicification alteration. The profilitic alteration characterized by the abundance of chlorite minerals. The argillic alteration characterized by the abundance of kaolin minerals, while the advanced argillic alteration by the presence of kaolinite and alunite minerals. The silicification alteration characterized by abundance quartz minerals. The metallic minerals dominated in the area are sulfide minerals such as covellite, chalcocite, enargite, chalcopyrite, pyrite, and jarosite. The native gold found in an association with enargite. The study area's mineral deposit system is an epithermal high sulfidation system characterized by mineralized vuggy quartz and the presence of kaolinite mineral as an alteration mineral.
Pengendapan Uranium pada Monasit Bangka sebagai Ammonium Diuranate (ADU) Menggunakan Gas NH3 Riesna Prassanti; Ahmad Miftah Fauzan; Aditya Widian Putra; Afiq Azfar Pratama; Erlan Dewita; Rachmat Fauzi Hidayat; Budi Yuli Ani; Yoga Permana
EKSPLORIUM Vol 41, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.1.5879

Abstract

ABSTRAK Monasit, sebagai produk ikutan penambangan timah, mengandung unsur-unsur logam tanah jarang (LTJ) serta unsur radioaktif seperti uranium (U) dan torium (Th). Penelitian dan pengembangan pengolahan monasit di Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-Badan Tenaga Nuklir Nasional (PTBGN-BATAN) telah berhasil memisahkan LTJ sebagai senyawa hidroksida dengan recovery 85%. Unsur radioaktif U dan Th masing-masing diperoleh sebagai produk dalam bentuk konsentrat senyawa ammonium diuranate (ADU)/(NH4)2U2O7 dan torium hidroksida (Th(OH)4). Pada penelitian sebelumnya, pemisahan U sebagai ADU pada monasit dilakukan dengan proses pengendapan menggunakan larutan NH4OH. Pada penelitian, U ini akan diendapkan sebagai ADU menggunakan reagen gas NH3 dengan tujuan memperoleh kondisi optimum pengendapan. Umpan pengendapan berupa larutan (U,Th,LTJ) sulfat diperoleh dari proses pengolahan monasit secara basa yaitu dekomposisi menggunakan NaOH, pelarutan parsial menggunakan HCl, dan pelarutan total menggunakan H2SO4. Parameter yang diteliti meliputi pengaruh laju alir gas NH3, temperatur proses, dan waktu kontak terhadap recovery U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi statis pH-7, kondisi optimum pengendapan U menggunakan gas NH3 adalah pada laju alir gas NH3 150 ml/menit, temperatur proses 30oC, dan waktu kontak 15 menit dengan recovery pengendapan U 100%, Th 99,97%, dan LTJ 99,93%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa unsur U sudah terambil seluruhnya akan tetapi masih bercampur dengan unsur lain yaitu Th dan LTJ, sehingga diperlukan penelitian berikutnya untuk memperoleh U dengan kemurnian yang tinggi pada kondisi pH optimum.ABSTRACT Monazite, as a by-product of tin mining, contains rare earth elements (REE) and radioactive elements like uranium (U) and thorium (Th). The monazite processing Research and Development at the Center for Nuclear Mineral Technology-National Nuclear Energy Agency (PTBGN-BATAN) has succeeded in separating REE as a hydroxide compound with an 85% recovery. The radioactive elements U and Th are each obtained as a product in the form of concentrated compounds of ammonium diuranate (ADU)/(NH4)2U2O7 and thorium hydroxide (Th(OH)4). In previous studies, the separation of U as ADU in monazite was carried out by the precipitation process using NH4OH solution. In this research, U will be precipitated as an ADU using NH3 gas reagents to obtain precipitation optimum conditions. Precipitation feed in the form of (U, Th, REE) sulfate solution derived from the monazite processing using the alkali or base method, which includes decomposition using NaOH, partial dissolution using HCl, and total dissolution using H2SO4. The parameters studied include the effect of NH3 gas flow rate, process temperature, and contact time on U recovery. The results showed that on the static pH-7 condition, the optimum state of U precipitation using NH3 gas is at NH3 gas flow rate of 150 ml/minutes, processing temperature of 30oC, and 15 minutes contact time with precipitation recovery of U 100%, Th 99.97%, and REE 99.93%. These results indicate that U has been taken entirely but still mixed with other elements, which are Th and REE, so that further research is needed to obtain U with high purity on optimum pH condition.
Seismisitas di Wilayah Jawa Tengah dan Sekitarnya Berdasarkan Hasil Relokasi Hiposenter dari Empat Jaringan Seismik Menggunakan Model Kecepatan 3-D Mohamad Ramdhan; Priyobudi Priyobudi; Said Kristyawan; Andry Syaly Sembiring
EKSPLORIUM Vol 41, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.1.5828

Abstract

ABSTRAK Relokasi hiposenter merupakan suatu metode yang digunakan untuk mendapatkan parameter-parameter gempa yang presisi. Parameter-parameter tersebut digunakan untuk studi tektonik lanjut seperti seismic hazard assessment pada suatu area. Penggunan model kecepatan 3-D secara teori akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan model 1-D karena model kecepatan di bawah permukaan bumi lebih mendekati model 3-D. Sebanyak 767 event gempa yang direkam oleh jaringan seismik DOMERAPI, MERAMEX, BMKG, dan BPPTKG digunakan pada penelitian ini. Gempa-gempa tersebut direlokasi dengan model kecepatan 3-D dan dianalisis untuk studi seismotektonik di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya. Hasil relokasi hiposenter menggunakan model kecepatan 3-D berhasil mendeteksi sejumlah fitur tektonik secara lebih jelas seperti struktur kolom yang berkaitan dengan Struktur backthrust di selatan Kebumen. Penampang vertikal arah barat-timur yang melewati Sesar Opak mengindikasikan arah dip bidang sesarnya ke arah timur. Zona seismik ganda yang terdeteksi pada studi sebelumnya tidak bisa teridentifikasi dengan baik pada studi ini. Sejumlah gempa volcano-tectonic (VT) berkaitan dengan aktivitas magma dangkal Gunung Merapi terdeteksi juga dengan jelas pada studi ini.ABSTRACT Hypocenter relocation is a method used to get precise earthquake parameters. They will be useful for an advanced tectonic study like seismic hazard assessment in an area. The hypocenter relocation using a 3-D velocity model will theoretically obtain better results than a 1-D velocity model because the earth subsurface model is closed with a 3-D model. Some 767 earthquakes recorded by DOMERAPI, MERAMEX, BMKG, and BPPTKG networks used in this research. They were relocated by using a 3-D velocity model and analyzed for seismotectonic study in Central Java area and its surroundings. The result of hypocenter relocation using a 3-D velocity model is successfully detecting some tectonic features more clearly like columnar structure related to the backthrust structure at the south of Kebumen. The west-east vertical cross-section crossing the Opak fault indicates the dip of the fault plane is directing to the east. This study could not identify the double seismic zone, which was detected by the previous research. Some volcano-tectonic (VT) earthquakes related to the shallow magma activity of Mount Merapi also are detected clearly in this study.
Analisis Kualitas dan Perkuatan Terowongan Eksplorasi Uranium Eko Remaja Kalan, Kalimantan Barat menggunakan Metode RMR (Rock Mass Rating) Yuni Faizah; Wira Cakrabuana; Dhatu Kamajati; Putri Rahmawati
EKSPLORIUM Vol 41, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.1.5859

Abstract

ABSTRAK Terowongan Eksplorasi Uranium Eko Remaja Kalan (TEURK) di Kalimantan Barat yang dibangun pada tahun 1980 merupakan salah satu sarana penelitian cebakan uranium di Indonesia. Terowongan ini menembus Bukit Eko Remaja sepanjang 618 m, mulai dari pintu Remaja hingga TRK-7. Mineralisasi uranium di lokasi ini dikontrol oleh urat-urat tak beraturan (stockwork) yang sangat rapat pada batuan metalanau dan metapelit. Tingginya kerapatan struktur geologi tersebut membentuk beberapa zona lemah di dalam terowongan. Zona lemah tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya longsor batu dan tanah. Penyangga sementara terbuat dari tiang-tiang kayu dipasang di zona tersebut untuk perkuatan terowongan. Saat ini tiang kayu tersebut tidak lagi mampu menyangga terowongan sehingga sering terjadi longsor batu dan tanah di dalam terowongan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas massa batuan aktual dan menentukan jenis perkuatan yang sesuai agar terowongan tetap aman. Survei palu Schmidt dan scanline pada zona tak berpenyangga (kedalaman 50–297 m dan 355–538 m) dilakukan untuk mengambil data parameter klasifikasi Rock Mass Rating (RMR). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa massa batuan TEURK di kedalaman tersebut memiliki nilai RMR 52-71 (sedang–baik). Perkuatan yang direkomendasikan adalah pemasangan baut batu dan beton semprot konvensional.ABSTRACT Tunnel for Exploration of Uranium Eko Remaja Kalan (TEURK) in West Kalimantan, built-in 1980, is one of the uranium deposit research facilities in Indonesia. The tunnel penetrated Eko Remaja Hill along 618 m, from Remaja to TRK-7 access. Uranium mineralization in this area controlled by dense stockwork veins on metasilt and metasandstone rocks. The high-dense geological structures create some weak zones in the tunnel. These zones are potentially causing rocks and soil slides. Temporary supports made of wood-piles were installed in these zones to support the tunnel. Currently, these piles are not capable at the tunnel, so that rocks and soil slides occurred inside the tunnel. The research aimed to determine the quality of actual rock mass and determine the appropriate type of reinforcement to keep the tunnel safe. Schmidt hammer and scanline surveys on the unsupported zone (50–297 m and 355–538 m depth) carried out to collect the classification parameter data of Rock Mass Rating (RMR). The measurement result shows that the rock mass of TEURK on the depth has an RMR value of 52–71 (fair-good). Reinforcement recommendations for the tunnel are rock bolts and conventional shotcretes installation.
Kajian Risiko Pajanan Sinar Gama dan Radon pada Pekerja di Area Terowongan Eksplorasi Uranium Remaja, Kalimantan Barat Tajudin Noor; Mila Tejamaya; Miki Arian Saputra; Tri Purwanti
EKSPLORIUM Vol 41, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.2.5882

Abstract

ABSTRAK Kajian risiko pajanan radiasi gama dan gas radon dilakukan di area terowongan eksplorasi uranium dalam upaya melindungi pekerja dari bahaya radiasi pengion di tempat kerja. Pengukuran pajanan sinar gama dan konsentrasi gas radon dilakukan di dalam terowongan eksplorasi uranium Remaja dan sekitar kamp pekerja di daerah Kalan, Kalimantan Barat. Pajanan sinar gama diukur menggunakan surveimeter gama, sementara pajanan radon (222Rn/220Rn) menggunakan detektor pasif RADUET. Konsentrasi gas radon dan toron di dalam terowongan secara umum cukup tinggi, berkisar antara 188,84 hingga 495,86 Bq/m3 (rata-rata 375,80 Bq/m3) sementara toron berkisar antara 58,07 hingga 340,73 Bq/m3 (rata-rata 189,80 Bq/m3). Nilai tersebut berada di atas reference level radon (300 Bq/m3) yang disaranakan oleh International Commission on Radiation Protection (ICRP). Dosis efektif tahunan sinar gama mencapai nilai 147,88 mSv di dalam terowongan eksplorasi. Nilai tersebut berada di atas nilai batas dosis untuk pekerja, yaitu 20 mSv. Pengendalian pajanan sangat penting dilakukan dengan memenuhi prinsip “as low as reasonably achievable” (ALARA) dan proteksi radiasi eksterna untuk melindungi pekerja di dalam terowongan dari masalah kesehatan yang disebabkan oleh pajanan dari sinar gama, radon, dan toron.ABSTRACT A risk assessment of gamma radiation and radon gas exposure is carried out in the uranium exploration tunnel area to protect workers from the ionizing radiation hazards in the workplace. Measurement of gamma-ray exposure and radon gas concentrations were carried out in Remaja uranium exploration tunnel and around the workers camp in Kalan Area, West Kalimantan. Gamma exposure was measured using a gamma survey meter while radon (222Rn/220Rn) using RADUET passive detector. The concentrations of radon and thoron gas inside the tunnel generally are high, ranging from 188.84 to 495.86 Bq/m3 (375.80 Bq/m3 average) and 58.07 to 340.73 Bq/m3 (189.80 Bq/m3 average) respectively. These values are above the radon reference level (300 Bq/m3)which is recommended by the International Commission on Radiation Protection (ICRP). The annual gamma effective dose reaches 147.88mSv inside the tunnel. This value is exceeding the 20 mSv dose limit value for workers. It is necessary to control the exposure by fulfilled the principle of “as low as reasonably achievable” (ALARA) and external radiation protection to secure workers inside the tunnel from a health issue caused by gamma-ray, radon, and thoron exposures.
Peralihan Rezim Tektonik: Implikasinya pada Konsentrasi Torium di Mamasa dan Tana Toraja, Sulawesi-Indonesia Sugeng Purwo Saputro; Dwi Ratih Purwaningsih; Bambang Priadi
EKSPLORIUM Vol 41, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.2.6063

Abstract

ABSTRAK Mamasa dan Tana Toraja secara geografis merupakan bagian dari lengan barat Pulau Sulawesi. Batuan-batuan mafik di daerah tersebut dan sekitarnya memiliki nilai laju radiasi tinggi dan anomali kandungan torium (Th). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme tataan tektonik yang berperan dalam peningkatan konsentrasi Th. Enam sampel batuan dianalisis menggunakan analisis petrografi dan geokimia (AAS, ICP-MS, NA, dan XRF), dilengkapi dengan pentarikhan umur menggunakan metode 40K-40Ar pada sampel batuan terpilih. Pengamatan petrografi memperlihatkan kehadiran mineral plagioklas, olivin, piroksen, hornblenda, nefelin, dan alanit pada batuan yang diidentifikasi sebagai nefelin-basanit, basalt, trakhibasalt, dan gabro. Sejumlah tekstur yang tampak pada batuan tersebut mengindikasikan kontaminasi dan perubahan kondisi tektonik. Analisis geokimia menunjukkan bahwa nefelin-basanit, basalt, trakhibasalt, dan gabro (absarokit) terbentuk pada batas kontinental aktif (ACM) yang sedang mengalami transisi dari subduksi aktif (penunjaman ke arah barat) menjadi post-subduksi. Perubahan tataan tektonik membuat magma membeku pada kondisi yang sangat ekstrim. Proses pembekuan magma diinterpretasikan terjadi pada umur sekitar 13,10-11,02 Ma. Mekanisme tersebut berperan penting terhadap terjadinya peningkatan konsentrasi torium di Mamasa dan Tana Toraja.ABSTRACT Mamasa and Tana Toraja geographically are part of the western arm of Sulawesi Island. The mafic rocks in these areas and their surroundings have high radiation dose rate and thorium (Th) anomaly content. This research aim is to determine tectonic setting mechanism which play the important role on the increasing of Th concentration. Six rock samples were analysed using petrography and geochemical analyses (AAS, ICP-MS, NA, and XRF) completed with the 40K-40Ar dating on selected rock samples. Petrography observations show plagioclase, olivine, pyroxene, hornblende, nepheline, and allanite minerals presence in the rocks which identified as nepheline-basanite, basalt, trachybasalt, and gabbro. Numbers of texture appearances in the rocks indicate contamination and changes on tectonic setting. Geochemistry analysis shows that nepheline-basanite, basalt, trachybasalt, and gabbro (absarokite) were formed at the active continental margin (ACM), which is undergoing active subduction (westward subduction) to post-subduction transition. The changing of tectonic setting made magma solidify in extreme conditions. The magma solidify process is interpreted to occur at the age of 13.10-11.02 Ma. These mechanisms play an important role for the increase of thorium concentration in Mamasa and Tana Toraja.
Fitoremediasi Limbah Radioaktif Cair Menggunakan Kayu Apu (Pistia stratiotes) Untuk Menurunkan Kadar Torium Prima Soheti; La Ode Sumarlin; Dany Poltak Marisi
EKSPLORIUM Vol 41, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.2.6092

Abstract

ABSTRAK Limbah torium (Th) merupakan limbah radioaktif pemancar alfa yang berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup sehingga perlu dilakukan pengolahan limbah yang efektif dengan fitoremediasi. Fitoremediasi adalah kemampuan tumbuhan untuk mengurangi bahan pencemar yang ada dalam lingkungan. Tujuan penelitian adalah menguji kemampuan tumbuhan kayu apu dalam menurunkan kadar Th dari limbah yang terkontaminasi Th. Kadar Th pada tumbuhan kayu apu dan limbah cair dianalisis dengan Spektrofotometer UV-VIS sementara radioaktivitasnya diukur dengan Ludlum Model 1000 Scaler. Parameter terjadinya fitoremediasi antara lain kondisi fisik tumbuhan yang menurun, pH limbah yang mendekati netral, dan suhu yang fluktuatif mengikuti suhu lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan biomassa tumbuhan kayu apu mengalami penurunan setelah fitoremediasi menjadi 96,2% dengan efisiensi remediasi sebesar 97,4% dari konsentrasi awal limbah radioaktif cair Th sebesar 10 ppm. Hal ini disebabkan karena terjadinya penyerapan Th sehingga mengakibatkan akumulasi Th pada tumbuhan kayu apu sebesar 4069,4 mg/kg. Tumbuhan kayu apu juga mampu menurunkan radioaktivitas limbah cair Th menjadi 0,631 Bq/L dari radioaktivitas awal sebesar 2,819 Bq/L. Tingkat radioaktivitas sudah di bawah Tingkat Klierens dan limbah dapat dilepas ke lingkungan dengan aman.ABSTRACT Thorium (Th) waste is an alpha-emitting radioactive waste that is harmful to the environment and living things so it is necessary to treat the waste effectively with phytoremediation. Phytoremediation is a plant ability to reduce pollutants presence in the environment. This research aim is examining apu wood plant ability to reduce Th contents from Th-contaminated waste. The UV-VIS spectrophotometer analysed Th level in apu wood plant and liquid waste while the Ludlum Model 1000 Scaler measured their radioactivity. The parameters for phytoremediation occurrence include the decreasing physical condition of the plants, the pH of the waste that is close to neutral, and the temperature that fluctuates with the ambient temperature. The results showed that the plant biomass of apu wood decreased after phytoremediation to 96.2% with a remediation efficiency of 97.4% from the initial concentration of Th liquid radioactive waste of 10 ppm. This is due to thorium absorption resulting in thorium accumulation in apu wood plants of 4,069.4 mg/kg. Apu wood was also able to reduce Th liquid waste radioactivity to 0.631 Bq/L from the initial radioactivity of 2.819 Bq/L. The radioactivity level is below the Klierens Level and it is safe to release the waste into the environment.
Peran Kontaminasi Kerak pada Diferensiasi Magma Pembentuk Batuan Vulkanik Sungai Ampalas, Mamuju, Sulawesi Barat Windi Anarta Draniswari; Sekar Indah Tri Kusuma; Tyto Baskara Adimedha; I Gde Sukadana
EKSPLORIUM Vol 41, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.2.6040

Abstract

ABSTRAK Anomali radiometri telah ditemukan di area Sungai Amplas pada bongkah batuan vulkanik. Nilai yang terukur dari spektrometer gama adalah 787 ppm eU dan 223 ppm eTh. Penemuan ini menarik untuk pengembangan eksplorasi. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui karekteristik batuan pembawa mineral radioaktif dari sampel in-situ. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik petrologi dan geokimia batuan vulkanik Ampalas sebagai studi awal untuk mengetahui proses akumulasi mineral radioaktif pada batuan vulkanik Ampalas. Metodologi yang digunakan meliputi pengamatan lapangan, pengambilan sampel batuan, analisis petrografi dan X-Ray Fluorescence (XRF). Batuan vulkanik ampalas tersusun atas ponolit, foidit, dan foid-syenit. Tekstur batuannya terdiri dari porfiritik, aliran, rim piroksen, zoning, pseudo-leusit, korosi, inklusi mafik, dan sieve. Karakteristik geokimia menunjukkan alkalinitas tinggi dan indikasi pengayaan mineral radioaktif yang tersebar dalam batuan. Proses magmatis yang berperan dalam pembentukan batuan vulkanik adalah fraksionasi kristal (fraksionasi leusit dan alkali felspar), asimilasi kerak kontinen, dan pencampuran magma. Interaksi antara magma dan kerak menyebabkan diferensiasi magma berkelanjutan yang menghasilkan akumulasi uranium dan torium lebih tinggi.ABSTRACT Anomalous radiometry has been found in Ampalas River Area on volcanic rock boulder. The values measured from gamma spectrometer are 787 ppm eU and 223 ppm eTh. This discovery is promising for exploration development. Further study need to figure the radioactive mineral bearing rock characteristic from in-situ samples. The research aim is to determine the petrology and geochemical characteristics of Ampalas volcanic rocks as preliminary study to find radioactive mineral accumulation process of Ampalas volcanic rocks. The methodologies are field observation, rock sampling, petrography, and X-Ray fluorescence (XRF) analyses. The Ampalas volcanic rocks consist of phonolite, phoidite, and phoid syenite. Their textures are porphyritic, flow, pyroxene rim, zoning, pseudo-leucite, corrosion, mafic inclusions, and sieve. The geochemical characteristics show high alkalinity and radioactive mineral enrichment disseminating on rock. The magmatic processes which play a significant role in radioactive mineral-bearing rocks formation are crystal fractionations (leucite and alkaline feldspar fractionations), continental crust assimilation, and magma mixing. Long interaction between magma and crust creates advanced magma differentiation causing higher uranium and thorium accumulation.  
Reduksi Torium Pada Limbah Cair Pengolahan Monasit Menggunakan Resin Penukar Anion Laili Hasna; Suci Amalia; Dany Poltak Marisi
EKSPLORIUM Vol 41, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.2.6006

Abstract

ABSTRAK Dampak dari pemisahan logam tanah jarang pada monasit adalah limbah cair yang mengandung unsur radioaktif torium yang berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup. Metode standar dalam pemisahan torium dari limbah cair adalah dengan menggunakan resin penukar anion. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis resin penukar anion, massa resin, dan waktu kontak yang optimum untuk menurunkan kadar torium dalam limbah cair monasit. Hasil menunjukkan bahwa laju penukaran optimum terjadi pada resin Amberlite IRA402 dengan waktu kontak 60 menit dan massa 1 gram yaitu sebesar 57,7%. Sementara itu, pada resin Tulsion A23, laju penukaran optimum sebesar 50,7% terjadi pada waktu kontak 50 menit dan massa resin 1 gram. Uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan nyata pada variasi jenis resin dan waktu kontak yang menunjukkan nilai signifikan >0,05. Pada waktu yang sama, terdapat perbedaan nyata pada variasi massa resin dengan hasil nilai signifikan <0,05. Uji Duncan menyatakan massa resin kecil (0,25 dan 0,5 gram) cocok untuk Tulsion A23 dan massa resin besar (0,75 dan1 gram) cocok untuk resin Amberlite IRA402.ABSTRACT The effect of separating rare earths from monazite is wastewater containing the radioactive element thorium which is harmful to the environment and living things. A standard method of separating thorium from wastewater is with anion-exchange resin. This study determines the optimum type of anion-exchange resin, resin weight, and contact time to reduce thorium levels in monazite wastewater. The results showed that the optimum exchange rate that occurred in Amberlite IRA402 resin is 57.7%, at 60 minutes and 1 gram. Meanwhile, the optimum exchange rate for Tulsion A23 resin is 50.7%, at 50 minutes and 1 gram. The statistical test showed that there was no significant difference in the resin type and contact time variation, which showed a considerable value >0.05. At the same time there was a substantial difference in resin mass variation with a significant value <0.05. The Duncan test stated that lighter resin masses (0.25 and 0.5 gram) are suitable for Tulsion A23 and heavier resin masses (0.75 and 1 gram) are ideal for Amberlite IRA402.