cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
eksplorium@batan.go.id
Editorial Address
BULETIN PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN GALIAN NUKLIR Jl. Lebak Bulus Raya No. 9, Ps. Jumat, Jakarta 12440, Indonesia, Telp (021) 7691775, 7695394, 75912956 Fax (021)7691977
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir
ISSN : 08541418     EISSN : 2503426x     DOI : https://doi.org/10.17146/eksplorium
Core Subject : Social,
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir, adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN yang telah diakreditasi LIPI No.749/AU2/P2MI-LIPI/08/2016 dan menempati peringkat SINTA 2
Arjuna Subject : -
Articles 194 Documents
Combined Tide and Storm Influence on Facies Sedimentation of Miocene Miri Formation, Sarawak Yuniarti Ulfa; Nasiman Sapari; Zuhar Zahir Tuan Harith
EKSPLORIUM Vol 32, No 2 (2011): November 2011
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (893.422 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2011.32.2.2814

Abstract

This study was conducted on the sedimentary rocks belonging to the Miri Formation (Middle – Late Miocene). The primary objective of the present study is to provide additional interpretation on the stratigraphy of the Miri Formation in the Miri Field based on the new information gathered from new outcrops in the area. Five outcrops were examined in detail on sedimentology and stratigraphy. Based on lithology, sedimentary structures, bedding geometry and traces fossil, the sediments of the Miri Formation were grouped into fourteen lithofacies. Influence of tide and storm during the depositional processes of the formation were indicated by the group of two main facies associations which are: (i) tide-dominated estuary; and (ii) wave-and-storm dominated facies associations. The tide-dominated estuary system of the Miri Formation are includes variety of sub environments: estuary mouth or tidal channel and sand bars (characterized by trough cross-stratified sandstone with mud drapes facies), estuary channel or upper flow regime of sand flat (characterized by parallel stratified sandstone with mud-laminas facies), mixed-tidal flat (characterized by wavy and flaser bedded sandstone facies), and mud-tidal flat (characterized by rhythmic stratified sandstone-mudstone and lenticular bedding facies). The wave-and-storm dominated varied from lower to middle shoreface (characterized by hummocky cross-stratified sandstone and rhythmic parallel stratified sandstone and laminated siltstone facies), upper shoreface (characterized by swaley cross-stratified sandstone), lower shoreface (interbedded to bioturbated sandstone and siltstone facies), and offshore transitional (characterized by bioturbated sandstone and mudstone interbedding with parallel to hummocky cross-stratified sandstone facies). Penelitian ini dilakukan pada batuan sedimen penyusun Formasi Miri (Miosen Tengah - Akhir). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan interpretasi tambahan pada stratigrafi Formasi Miri di Lapangan Miri berdasarkan informasi baru yang dikumpulkan dari singkapan batuan baru di daerah tersebut. Lima singkapan tersebut diteliti secara rinci berdasarkan aspek sedimentologi dan stratigrafi. Berdasarkan litologi, struktur sedimen, geometri perlapisan dan fosil jejak, sedimen penyusun Formasi Miri dikelompokkan ke dalam empat belas litofasies. Pengaruh pasang surut dan badai selama proses pengendapan formasi diindikasikan dari adanya dua kelompok gabungan fasies utama antara lain: (i) didominasi oleh pasang-surut muara, dan (ii) didominasi oleh gabungan fasies gelombang dan badai. Sistem yang didominasi pasang surut muara pada Formasi Miri meliputi variasi sub-lingkungan: mulut muara atau alur pasang surut, dan gosong sungai (dicirikan oleh fasies batupasir dengan perlapisan saling silang dengan lempung yang mengapung), alur muara atau rezim aliran bagian atas dari dataran pasir (dicirikan oleh fasies batupasir berlapis paralel dengan lumpur berlapis), campuran pasang surut normal (dicirikan oleh fasies batupasir berlapis), dan lumpur pasang surut normal (dicirikan oleh fasies batupasir berlapis ritmik-batulumpur dan perlapisan lenticular). Dominasi pengaruh gelombang dan badai bervariasi dari rendah ke menengah (dicirikan oleh fasies batupasir berlapis silang yang hummocky dan batupasir berlapis paralel berulang dan batulanau berlapis), muka pantai bagian atas (dicirikan oleh batupasir berlapis silang yang swaley), muka pantai bagian bawah (fasies batupasir dan batulanau yang bersisipan sampai bioturtbasi), dan transisi lepas pantai (dicirikan oleh fasies batupasir bioturbasi dan batulumpur yang bersisipan dengan batupasir berlapis paralel sampai berlapis silang yang hummocky).
Cover + Daftar Isi + Kata Pengantar + Indeks Isi + Indeks Mitra Bestari Redaksi Eksplorium
EKSPLORIUM Vol 36, No 1 (2015): Mei 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1325.126 KB)

Abstract

Cover dan halaman pengantar Eksplorium Vol. 36 No. 1 Tahun 2015.
Tataan Tektonika Batuan Gunung Api di Komplek Adang Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat I Gde Sukadana; Agung Harijoko; Lucas Donny Setijadji
EKSPLORIUM Vol 36, No 1 (2015): Mei 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1592.135 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2015.36.1.2769

Abstract

Kompleks batuan gunung api Adang di daerah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat secara lebih detail dapat dikelompokkan menjadi tujuh, yaitu kompleks Tapalang, Ampalas, Adang, Malunda, Karampuang, Sumare, dan Labuan Rano. Komplek Adang merupakan salah satu komplek gunungapi utama yang masih dapat diidentifikasi bentukan morfologinya dengan baik. Komplek ini  tersusunatas batuan gunung api basa hingga intermediet yang memiliki nilai laju dosis radiasi cukup tinggi yang disebabkan oleh kandungan mineral radioaktif di dalamnya. Keterdapatan mineral radioaktif pada batuan basaltik-andesitik belum pernah dijumpai di Indonesia sehingga hal ini menjadi sangat menarik untuk dilakukan penelitian terutama tataan tektonika pembentukan batuan komplek gunung api tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan tipologi magmatik yang terkait dengantataan tektonikanya dengan pendekatan  geokimia batuan gunung api menggunakan analisis X-Ray Fluorescence (XRF). Batuan gunung api Adang merupakan hasil dari proses vulkanisme suatu komplekgunung api yang memiliki pusat erupsi dan beberapa kubah lava. Batuan tersebut tersusun atas batuan trachyte-phonolite, dengan afinitas magmatiknya ultrapotasik, Dari data tersebut dapat diinterpretasi bahwa tataan tektonika magmatologinya adalah active continental margin(ACM). Magma asal yang membentuknya dari aktivitas gunung apinya dipengaruhi oleh kerak benua mikro barat daya (South West/SW) Sulawesi. Adang volcanic complexlocated in Mamuju Region, West Sulawesi can be grouped more detail into seven complexes that are Tapalang, Ampalas, Adang, Malunda, Karampuang, Sumare, and Labuan Rano. Adang complex is one of the main volcanic complexes that still can be identified with good morphological formations. This complex is composed of alkaline volcanic rocks with basic to intermediates composition that have high value of radiation dose rate caused by their radioactive mineral content. Radioactive mineral occurrences on the basaltic-andesitic rocks has never been found in Indonesia, so it becomes very interesting to do research mainly tectonic settings of the volcanic rock complex formation. The purpose of this study is to determine magmatiic typology related with the tectonic setting based on volcanic rock  geochemistry using X-Ray Fluorences (XRF) analysis. Adang volcanic rock is the result of a complex process of volcanism having a volcanic center and several lava domes. They are composed of phonolite to dacite rock, with ultrapotassic affinity, interpretation of data concluded that tectonic setting of magmatism formed in active continental margin (ACM). Magmatism source from vulcanic activities influenced by South WestSulawesi micro-continental crust.
Arah dan Kecepatan Aliran Air Tanah Calon Tapak Disposal Demo di Kawasan Nuklir Serpong Sucipta Sucipta; Risdiyana Setiawan
EKSPLORIUM Vol 37, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.829 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.2.3073

Abstract

ABSTRAKRencana pembangunan dan pengoperasian fasilitas disposal demo di Kawasan Nuklir Serpong memerlukan pengkajian keselamatan untuk memberikan bukti ilmiah bahwa fasilitas tersebut aman bagi keselamatan manusia dan lingkungan. Hasil dari pengkajian keselamatan tersebut digunakan sebagai dasar pemberian izin lingkungan untuk pembangunan dan pengoperasian fasilitas tersebut. Salah satu data tapak yang diperlukan dalam pengkajian keselamatan adalah arah dan kecepatan aliran air tanah. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengetahui arah dan kecepatan aliran air tanah pada zona akuifer bawah calon tapak disposal demo di Kawasan Nuklir Serpong. Penelitian dilakukan dengan menggunakan perunut (tracer) Rhodamin WT. Perunut dilepas pada sumur bor  utama (SBU) dan dipantau pada lubang bor (sumur bor pantau) SBP-1 (A), SBP-2 (B), dan SBP-3 (C). Dari hasil analisis contoh air dan analisis keruangan diperoleh data arah aliran air tanah pada kedalaman 16 m ke arah N 240º E (barat-barat daya) dengan kecepatan antara 0,35 m/hari sampai dengan 0,48 m/hari. ABSTRACTPlan for construction and operation of demo disposal facility in Serpong Nuclear Area requires safety assessments to provide scientific evidence that the facility is safe for human and the environment. The result of the safety assessment is used also as a basis for granting environmental permits for the construction and operation of the facility. One of the site data requirements on the safety assessment is the direction and velocity of groundwater flow. Therefore, a study to determine the direction and velocity of groundwater flow at lower zone aquifer of demo disposal site candidate in Serpong Nuclear Area conducted. The research was carried out by using Rhodamin WT tracer. The tracer released in the main well (SBU) and monitored in SBP-1 (A), SBP-2 (B), and SBP-3 (C) boreholes. Based on the water samples and spatial analysis, groundwater data flow direction at a depth of 16 m towards N 240º E (west-southwest) with a velocity of 0.35 m/day up to 0.48 m/day obtained.
Identifikasi Akuifer Dangkal di Pulau Terdepan NKRI dengan Menggunakan Metode Geolistrik 2D: Studi Kasus Pulau Laut, Kab. Natuna Dino Gunawan Pryambodo; Joko Pihantono; Reiner Arief Troa; Eko Triarso
EKSPLORIUM Vol 37, No 1 (2016): Mei 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.752 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.1.2667

Abstract

Kebutuhan akan air bersih untuk menunjang aktivitas masyarakat di bidang perikanan di pulau terluar sangat diperlukan karena di lokasi tersebut kondisinya minim sumber air tawar. Penelitian geofisika dengan metode Geolistrik 2D telah dilakukan untuk mengidentifikasikan keberadaan akuifer di Pulau Laut, Kabupaten Natuna sebagai pulau terluar dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pengukuran di lapangan dengan enam lintasan geolistrik 2D menggunakan konfigurasi Wenner, bentangan kabel 160 meter, untuk mendapatkan kedalaman penetrasi 26,9 meter di bawah permukaan. Data tahanan jenis di Pulau Laut digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan akuifer di daerah penelitian. Akuifer berada pada kedalaman yang bervariasi di dekat permukaan dengan kedalaman 2,5 – 13 m di jalur utara, jalur PDAM, dan jalur Air Paying; 12 – 26,9 m di jalur Kadur, jalur Air Bunga, dan jalur Air Paying. Nilai tahanan jenis untuk setiap akuifer bervariasi di setiap jalur. Nilainya berkisar antara 0,651 – 14 Ωm. Litologi penyusun akuifer adalah satuan batupasir di jalur Kadur, Air Bunga, Talaga Tasik dan Air Paying; batulanau di jalur PDAM; dan batugamping di jalur utara. The need for fresh water to support community activities in the field of fisheries on the frontier island is necessary because this location has minimal condition to the source of fresh water. Geophysical research with 2D geoelectrical methods conducted to identify the aquifers in the area of Pulau Laut, Natuna Regency as the frontier island of United Country of Republic Indonesia (NKRI). In field, measurement is using six 2D geoelectric lines with Wenner configuration and 160 m cable stretching to obtain 26.9 m sub-surface depth penetration. Resistivity data in Pulau Laut used to identify the aquifer presence in research area. Aquifers are located on varies depth near the surface with a depth of 2.5 – 13 m in north line, PDAM line, and Air Paying line; 12 – 26.9 m in Kadur line, Air Bunga line, and Air Paying line. Resistivity value for each aquifer varies for each line. They are ranging from 0.651 – 14 Ωm. Lithologies, composing the aquifer, are sandstone unit in Kadur, Air Bunga, Talaga Tasik, and Air Paying lines; silstone in PDAM line; and limestone in the north line.  
Kajian Awal Prospek Bahan Galian Monasit Mengandung U dan Elemen Asosiasinya di Semelangan Ketapang, Kalimantan Barat Lilik Subiantoro; Bambang Soetopo; Dwi Haryanto
EKSPLORIUM Vol 32, No 155 (2011): Mei 2011
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (876.347 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2011.32.155.2826

Abstract

Daerah Semelangan termasuk dalam cakupan area geologi regional Ketapang. Analisis kadar geokimia contoh sedimen yang menunjukkan bahwa daerah Semelangan, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang teridentifikasi mengandung endapan mineral radioaktif berupa monasit yang mengandung uranium (U) dan unsur tanah jarang (rare earth elements, REE) yang cukup potensial. Keberadaan elemen radioaktif telah teridentifikasi dari hasil analisis granulometri beberapa sampel mineral berat yang mengandung mineral monasit mencapai 63% dan beberapa sampel mengandung butiran zirkon mencapai 40% (dari jumlah butiran), hasil analisis butiran dari contoh batuan terdapat contoh yang mengandung monasit 0,11%. Studi di daerah ini dilakukan dengan melakukan kajian data sekunder dan evaluasi data laboratorium. Kajian mencakup aspek geologi, batuan sumber, perangkap dan interpretasi sebaran plaser monasit mengandung U, Th dan zirkon beserta REE. Tujuan yang ingin diperoleh adalah informasi tentang karakter geologi dan sebaran sumberdaya bahan galian monasit mengandung Th dan U serta REE dalam monasit dan zircon. Batuan sumber bahan galian monasit, berupa granit berumur 77–115 juta (Yura – Kapur Akhir), termasuk tipe S dari kelompok granit alkali yang terbentuk pada fasa pegmatitik (pegmatitic stage) yang terdefrensiasi tingkat lanjut pada suhu 550 – 600°C. Nilai radioaktivitas anomali batuan granit biotit (400 c/s - 9200 c/s) dicirikan kandungan oleh mineral berupa K-felspar, kuarsa dan plagioklas (rasio K-felspar terhadap plagioklas bervariasi dari 80 – 100 berbanding 10) mengandung mineral penyerta berupa thorit, monasit, zirkon dan alanit. Kadar U batuan granit berkisar dari 2,5 ppm- 64,8 ppm. Sebaran lateral sedimen plaser aluvium mengandung monasit menempati dataran dari lembah banjir antar perbukitan, terletak terpisah dari dataran pantai mengikuti pola sebaran batuan granit (sumber monasit). Daerah propek monasit terletak pada dataran lembah banjir dari DAS S. Pawan, DAS S. Tulah dan DAS S. Laur dengan luas total 2.113.500 Ha. Semelangan study area included in the regional geology Ketapang. Geochemical analysis of sediment samples that represented showed that the region Semelangan Ketapang, District Nanga Tayap, Ketapang identified monazite deposite containing radioactive mineral. The monazite minerals containing rare earth element are potential. The presence of radioactive elements have been identified by the analysis granulometry of some pan consentrate samples. They containt of monazite grain mineral to reach 63% and some sample content of zircon grain mineral up to 40% (from total grains), grain analysis of rock samples are samples containing monazite 0.11 %. Activities study in this area is done by studying ecxisting data and laboratory data evaluation, which covering studies geological aspects, source rock, trap and plaser monazite deposits containing U, Th and REE and zircon. The objective is to obtain information about the character of geological and mineral resource distribution of monazite containing Th and U and rare earth elements in monazite and zircon. Source rock of the monazite minerals is a granite with aged 77-15 million (Yura - Late Cretaceous), including the S type granite group that formed in the alkali granite pegmatitic stage, which highly differentiated advanced at a temperature 550-6000°C. The radioactivity anomalous values is 400 c/s – 9200 c/s (biotite granite) with a mineral character of the form K-feldspar, quartz and plagioclase (K-feldspar to plagioclase ratio varies from 80-100 versus 10), containing minerals association such as thorit, monazite, zircon and alanit. The U content in granite rock ranging from 2.5 ppm - 64.8 ppm U. Lateral distribution plaser alluvial sediments contain monazite occupy flood plains of the valley between the hills, is located separately from the coastal plain and following the granite distribution pattern (source monazite). Monazite prospect region lies at the flood plains of the valley catcment area S. Pawan, S. Tulah and S Laur with a total area of 2.1135 million hectares.
Geologi dan Potensi Terbentuknya Mineralisasi Uranium di Daerah Harau, Sumatera Barat Ngadenin Ngadenin
EKSPLORIUM Vol 34, No 2 (2013): November 2013
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.207 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2013.34.2.2805

Abstract

Kajian ini dilatarbelakangi oleh tatanan geologi daerah Harau dan sekitarnya, Sumatera Barat yang diidentifikasi sebagai daerah favourable bagi akumulasi uranium yang ditunjukkan oleh terdapatnya anomali radioaktivitas pada kelompok batuan sedimen berumur Tersier yang diendapkan pada lingkungan darat  dan terdapatnya anomali kadar uranium pada granit berumur Pra Tersier di beberapa tempat di Sumatera Barat serta terdapatnya anomali radioaktivitas pada kelompok batuan malihan yang berumur Pra Tersier. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui potensi terbentuknya mineralisasi uranium di daerah Harau yang akan digunakan sebagai dasar untuk melakukan penelitian yang lebih detil dalam rangka inventarisasi potensi sumberdaya uranium di Indonesia. Ruang lingkup pembahasan dalam kajian ini  meliputi bahasan geologi, radioaktivitas singkapan batuan dan  geokimia. Susunan stratigrafi daerah kajian dari tua ke muda adalah satuan kuarsit, satuan filit, satuan konglomerat, satuan batupasir, satuan tuf dan aluvium sungai.  Sesar utama yang berkembang pada daerah kajian adalah sesar normal yang berarah baratdaya – timurlaut, Sesar ini membelah daerah kajian menjadi dua bagian dimana bagian tenggara relatif turun terhadap bagian baratlaut. Berdasar tatanan geologi, data radioaktivitas dan kadar uranium batuan daerah Harau dianggap cukup potensial untuk terbentuk mineralisasi uranium tipe batupasir dan tipe urat. Mineralisasi uranium tipe batupasir diperkirakan terbentuk di batupasir Satuan Konglomerat Formasi Brani dan mineralisasi tipe urat diperkirakan terbentuk pada satuan Kuarsit Formasi Kuantan. The Background of this study is due to the geological setting of Harau area and its surrounding, West Sumatera, that is identified as a favourable area for uranium accumulation which is indicated by the presence of anomalous radioactivity in the Tertiary sedimentary rocks deposited on the terrestrial environment and the presence of anomalous uranium contents in Pre-Tertiary granites in several places in West Sumatera, and the presence of radioactivity anomalous in the Pre Tertiary metamorphic rocks. The purpose of this study is to determine the potential formation of uranium mineralization in the Harau area, to be used as a basis to conduct more detailed research in order to inventory the potential of uranium resources in Indonesia. The scope of the discussion in this review includes a discussion of geology, geochemistry and radioactivity of the outcrops. The composition of regional stratigraphic from old to young is quartzite unit, phyllite unit, conglomerate unit, sandstone unit, tuff unit and alluvium river. The main fault that developed in the study area are normal faults trending southwest – northeast. The study area is splitted into two sections where the southeastern part relatives fall down of the northwest. Based on geological setting, radioactivity and uranium data then is assumed that Harau is a potential area for the formation of uranium mineralization in sandstone and its vein type. Sandstone type is expected occur in sandstone conglomerate unit of The Brani Formation and vein type is expected occur in the quartzite unit of The Kuantan Formation.
Interpretasi Deposit Uranium Berdasarkan Data Tahanan Jenis dan Polarisasi Terinduksi di Sektor Rabau Hulu Dwi Haryanto; Supriyanto Supriyanto; Bambang Soetopo; Adhika Junara Karunianto
EKSPLORIUM Vol 36, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.981 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2015.36.2.2774

Abstract

Daerah Rabau Hulu, Kalan, Kalimantan Barat merupakan daerah potensial uranium yang telah dieksplorasi secara detil dengan berbagai metode. Metode tahanan jenis dan polarisasi terinduksi dapat diterapkan dalam eksplorasi deposit uranium yang mineralisasinya berasosiasi dengan mineral sulfida. Pengolahan, analisis, dan interpretasi data tahanan jenis dan polarisasi terinduksi dilakukan untuk dapat mengidentifikasi sebaran deposit uranium dan litologi batuan di daerah penelitian. Deposit uranium di daerah Rabau Hulu pada umumnya berasosiasi dengan sulfida, turmalin, dan terdapat dalam batuan favourable. Indikasi mineralisasi uranium dijumpai dalam bentuk-bentuk tidak teratur dan tidak merata yang terdiri atas mineral uraninit, pirit, kalkopirit, pirhotit, molibdenit, dan ilmenit. Pengambilan data menggunakan konfigurasi dipole-dipole pada area sekitar 36 hektare, terdiri atas 46 lintasan dengan panjang + 425 m. Pengambilan data polarisasi terinduksi dalam kawasan frekuensi dengan titik dan lintasan yang sama dengan data tahanan jenis. Pengolahan data menghasilkan nilai tahanan jenis dan faktor logam yang selanjutnya dibuat penampang 2 dimensi. Penentuan nilai tahanan jenis dan polarisasi terinduksi dilakukan dengan mengkorelasi data sumur bor dengan hasil pengolahan data. Tahanan jenis pada zona deposit uranium bernilai kurang dari 2.000 Ωm dan nilai faktor logamnya lebih besar dari 90 mho/m. Zona deposit uranium ini semakin meluas seiring dengan kedalaman. Distribus deposit uranium berarah barat daya–timur laut dan berbentuk lensa. Rabau Hulu area, Kalan, Kalimantan Barat is a potential area of uranium that has been explored in detail by various methods. Methods of resistivity and induced polarization can be applied in the exploration of uranium deposits in which its mineralization associated with sulphide minerals. Processing, analysis, and interpretation of resistivity and induced polarization data conducted in order to identify the distribution of uranium deposits and lithology of the rocks in the study area. Uranium deposits in the area Rabau Hulu is generally associated with sulphides, tourmaline and contained in favorable rocks. Symptoms of uranium mineralization encountered in other forms of irregular and uneven consists of uraninite, pyrite, chalcopyrite, pyrrhotite, molybdenite, and ilmenite minerals. Data acquisition using dipole-dipole configuration in an area of ​​approximately 36 hectares, 46 lines along + 425 m. Acquisition of induced polarization frequency domain data which the same points and lines with resistivity data. Data processing produces resistivity and metal factor values and subsequently made two-dimensional section. Determination of resistivity and induced polarization are done by correlated boreholes data with the results of data processing. Resistivity of uranium deposits zone worth less than 2,000 Ωm and the value of metal factor greater than 90 mho/m. Uranium deposit zone is expanding along with the depth. Uranium deposits distribution trending Southwestern-Northeast and shaped lens.
Studi Keberadaan Mineralisasi Uranium Di Daerah Biak Numfor, Provinsi Papua Barat Suharji Suharji; Lilik Subiantoro; Heri Syaeful; Kurnia Setiawan Widana; Hery Prabowo
EKSPLORIUM Vol 35, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1638.883 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2014.35.2.2757

Abstract

Penelitian ini dilakukan berdasarkan adanya temuan indikasi mineral radioaktif berupa anomali laju dosis radiasi bernilai relatif tinggi. Hipotesis yang mendasari keberadaan laju dosis radiasi tinggi adalah pengendapan uranium yang berasal dari batuan basal Formasi Auwea, pengkayaan uranium yang berasal dari batugamping pada tanah permukaan, dan pengendapan uranium yang berasal dari penggunaan pupuk pertanian. Penelitian yang  dilakukan bertujuan untuk mendapatkan kesimpulan dari beberapa hipotesis tersebut. Metode penelitian yang diterapkan adalah pemetaan geologi, pengukuran radiometri, kadar uranium (U), thorium (Th), dan potassium (K) di lapangan dengan menggunakan RS 125 untuk mengetahui kadar unsur secara insitu, pengukuran radiometri pupuk tanaman, pengambilan contoh, dan analisis kadar unsur di laboratorium. Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi data survei diketahui bahwa di daerah sekitar Maryendi, Darmapis, dan Denafi, terindikasi adanya zona anomali uranium (U) yang dicirikan oleh keberadaan tanah berwarna coklat tua – coklat kemerahan, dengan nilai dosis radiasi 1,9 sampai 4.032,3 nSv/jam dan kadar uranium (U) berkisar antara 20,27 – 325 ppm eU. Berdasarkan hasil analisis batuan sumber uranium, disimpulkan batugamping merupakan batuan sumber uranium di lokasi penelitian. Hasil pengamatan lapangan terhadap pupuk dan batuan basal Formasi Auwea tidak ditemukan anomali yang dapat mengindikasikan material/batuan tersebut bertindak sebagai sumber uranium. This study was conducted based on the findings of radioactive minerals in the form of indication of relatively high radiation dose rate anomalies. The hypothesis underlying the existence of a high radiation dose rate is the deposition of uranium derived from basalt rock Auwea Formation, uranium enrichment derived from limestone to the soil surface, and the deposition of uranium resulted from the use of fertilizers in agriculture. Therefore the research aimed to obtain the conclusion of its hypotheses. Research methodology applied is geological mapping, radiometric measurement of uranium (U), thorium (Th), and potassium(K) in the field using RS 125 to determine in-situ grade of elements, radiometric measurements of plant fertilizer, sampling, and laboratory analysis of the element grade. Based on the analysis and evaluation of survey data it is known that in the area around Maryendi, Darmapis and Denafi, indicate the presence of anomalous zones which is characterized by the presence of uranium (U) dark brown soil – reddish brown, with the value of the radiation dose of 1.9 to 4,032.3 nSv/h and grade of uranium (U)has 20.27 to 325 ppm eU. Based on the analysis of source rock of uranium, it is concluded that limestone is the source rock of uranium in research area. The results of field observations of the fertilizer and basalt rock of Auwea Formation, it is found that no anomalies may indicate material/rock that acts as the source of uranium.
Pemetaan Geologi dan Identifikasi Sesar Aktif di Lokasi Calon Tapak PLTN Ketapang dan Sekitarnya, Madura Ngadenin Ngadenin; Lilik Subiantoro; Kurnia Setiawan Widana; Agus Sutriyono; P. Widito
EKSPLORIUM Vol 33, No 1 (2012): Mei 2012
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1331.328 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2012.33.1.2835

Abstract

Hasil studi ekonomi terhadap kebutuhan air bersih dan tenaga listrik menyimpulkan bahwa pada 2016 Pulau Madura akan memerlukan desalinasi air laut menjadi air tawar menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir. Guna menunjang rencana pembangunan PLTN, diperlukan lokasi calon tapak yang bebas dari sesar aktif, karena merupakan salah satu faktor penolak utama dalam pemilihan calon tapak. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi geologi dan keberadaan sesar aktif di lokasi calon tapak instalasi desalinasi air laut dengan tenaga nuklir di daerah Ketapang dan sekitarnya, Madura. Metoda yang digunakan adalah interpretasi foto udara dan citra landsat, pemetaan geologi dan struktur geologi serta pembuatan paritan. Litologi di calon tapak Ketapang (Md.01) dan Sokobana (Md.02) berupa batugamping terumbu dan batugamping kapuran membentuk morfologi perbukitan bergelombang. Secara struktural daerah penelitian berupa monoklin dengan sumbu berarah barat-timur, menunjam 10o ke E, perlapisan batuan berarah barat-timur miring 10o - 30o ke utara. Analisis struktur geologi menunjukkan bahwa daerah penelitian bebas dari sesar aktif. The result of economical study about demand of water supply and electric in Madura Island concludes that in 2016 Madura Island will need nuclear desalination plant to process sea water becomes fresh water. In order to support the installation of nuclear desalination plant, it is required site free from active fault, because active fault is mainly rejection factor criteria on site selection process. Aim of the research is to get geological information and identify of active fault in the site candidate of nuclear desalination plant at Ketapang area and its surrounding by interpretation of aerial photograph and land sat imagery, geological and structure geological mapping as well as trenching. The lithology of Ketapang (Md.01) and Sokobana (Md.02) site candidate consists of reef and chalky limestone forming undulating hills morphology. Structurally, research area forms a monocline with East-West trending axis, plunging 10o to East, the direction of strike is West-East, dip 10o - 30o to North. Geological structure analysis show that research area is free from active fault.

Page 6 of 20 | Total Record : 194