cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Biopropal Industri
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 208 Documents
EVALUASI KERAGAMAN GENETIK SEMBILAN VARIETAS RAMBUTAN (Nephelium lappaceum) DENGAN MARKA RAPD - (Evaluation of Nine Rambutan (Nephelium lappaceum) Varieties Genetic Diversity Using RAPD Markers) Anggraheni, Yuliana Galih Dyan; Mulyaningsih, Enung Sri
Biopropal Industri Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.191 KB)

Abstract

High diversity of rambutan varieties is potensial to develop new improved rambutan varieties. Due to limitation of rambutan genetic diversity information, the usage of RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) markers becomes an efficient option. This research aimed to study the diversity of rambutan from the collection of LIPI germplasm garden genotypically. Nine rambutan varieties were analyzed using six RAPD markers which generated 45 bands. Polymorphism analysis showed variation between varieties 56,6% and PIC (Polymorphic Information Content) value 0,2-0,5. UPGMA (Unweighted Pair Group Method Arithmetic) dendogram divided nine rambutan varieties in two groups with similarity index of 85-95%. First group was Si Nyonya varieties and the second group consist of Rapiah, Aceh Lebak, Unidentified, Binjai, Parakan, Si Macan, Aceh Pagar and Lebak Bulus varieties. The group differences allegedly related to the stickiness of the flesh to the seed. Aceh Lebak varieties has the closest genetic relationship to unidentified varieties of 95%.Keywords: genetic diversity, molecular marker, phylogenetic tree, PIC value, rambutanABSTRAKTingginya keragaman varietas rambutan menjadi salah satu potensi untuk mengembangkan varietas unggul baru. Akan tetapi, ketersediaan informasi keragaman genetik rambutan masih terbatas. Penggunaan teknik marka RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) menjadi pilihan untuk analisis keragaman genetik tanaman karena cepat, mudah dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari keragaman rambutan koleksi KPN (Kebun Plasma Nutfah) LIPI secara genotipik. Sembilan varietas rambutan digunakan dalam penelitian ini. Hasil analisis dengan menggunakan enam marka RAPD menghasilkan total pita 45. Hasil analisis polimorfisme menunjukkan keragaman antar varietas sebesar 56,6% dan nilai PIC (Polymorphic Information Content) sebesar 0,2-0,5. Dendogram UPGMA (Unweighted Pair Group Methode Arithmetic) membagi sembilan varietas rambutan dalam dua kelompok dengan indeks kesamaan sebesar 85-95%. Kelompok satu merupakan jenis varietas Si Nyonya sedangkan kelompok kedua terdiri dari varietas Rapiah, Aceh Lebak, Unidentified, Binjai, Parakan, Si Macan, Aceh Pagar dan Lebak Bulus. Perbedaan kelompok ini diduga berkaitan dengan sifat kelekatan daging buah terhadap biji. Varietas Aceh Lebak memiliki kekerabatan paling dekat dengan varietas unidentified sebesar 95%.Kata kunci: keragaman genetik, nilai PIC, penanda molekuler, pohon filogenetik, rambutan
PENINGKATAN KADAR PATI RESISTEN TIPE III TEPUNG SINGKONG TERMODIFIKASI MELALUI FERMENTASI DAN PEMANASAN BERTEKANAN-(Improvement Level of Resistant Starch Type III on Modified Cassava Flour Using Fermentation and Autoclaving-Cooling) Setiarto, Raden Haryo Bimo; Widhyastuti, Nunuk; Sumariyadi, Arumsyah
Biopropal Industri Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2706.862 KB)

Abstract

Modified Cassava flour (Mocaf) is a product derived from cassava flour that uses principles of cassava cell modification through fermentation for 12-72 hours. This study aims to improve the levels of resistant starch in cassava flour using lactic acid bacteria fermentation and autoclaving-cooling. Cassava slices fermented with mixed cultures of lactic acid bacteria (Lactobacillus plantarum B-307:Leuconostoc mesenteroides SU-LS 67=1:1) for 18 hours at 37oC. The fermented cassava then autoclaved (121oC, 15 min) and cooled (4oC, 24 hours) for 1-3 cycles. Cassava slices was dried (70oC, 16 hours), grounded and sieved (80 mesh) to obtain modified cassava flour. Combination of autoclaving-cooling and fermentation could increase resistant starch level of Mocaf. Fermentation with 2 cycles of autoclaving-cooling (FAC-2S) produced the highest resistant starch content (12.51%) compared to other treatments. This value was around 4.5-fold higher than the control (2.81%). Increased levels of resistant starch could contribute to decrease the digestibility of Mocaf.Keywords: autoclaving-cooling, fermentation, lactic acid bacteria, modified cassava flour, resistant starch ABSTRAKTepung singkong termodifikasi (Mocaf) merupakan produk turunan dari tepung singkong yang menggunakan prinsip modifikasi sel singkong secara fermentasi selama 12-72 jam. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kadar pati resisten tepung singkong melalui fermentasi bakteri asam laktat dan pemanasan bertekanan-pendinginan. Irisan singkong difermentasi dengan kultur campuran bakteri asam laktat (Lactobacillus plantarum B-307:Leuconostoc mesenteroides SU-LS 67 = 1:1) selama 18 jam pada suhu 37oC. Irisan singkong fermentasi selanjutnya di autoklaf (121oC, 15 menit) dan didinginkan (4oC, 24 jam) untuk 1-3 siklus. Irisan singkong kemudian dikeringkan (70oC, 16 jam), digiling dan diayak (80 mesh) untuk mendapatkan tepung singkong termodifikasi. Kombinasi pemanasan bertekanan-pendinginan dengan fermentasi mampu meningkatkan kadar pati resisten pada tepung singkong termodifikasi. Perlakuan fermentasi dengan 2 siklus pemanasan bertekanan-pendinginan (FAC-2S) menghasilkan kadar pati resisten tertinggi (12,51%) dibanding perlakuan lainnya dan meningkatkan kadar pati resisten sebesar 4,5 kali lipat dibandingkan perlakuan kontrol (2,81%). Peningkatan kadar pati resisten menyebabkan terjadinya penurunan daya cerna pada tepung singkong termodifikasi.Kata kunci: bakteri asam laktat, fermentasi, pati resisten, pemanasan bertekanan-pendinginan, tepung singkong termodifikasi
EFEK PENAMBAHAN JUS MANGGA DAN CARBOXYMETHYL CELLULOSE PADA MINUMAN FERMENTASI BERBASIS WHEY KEJU SUSU KAMBING - (Effect of Mango Juice and Carboxymethyl Cellulose on Fermented Beverage from Goat Milk Whey Cheese) Desnilasari, Dewi; Rahmadiana, Syafira; Kumalasari, Rima
Biopropal Industri Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.684 KB)

Abstract

Fermented beverage can be made from whey goat cheese base ingredients with Lactobacillus casei as inoculum. This product weakness is the aroma and viscosity that consumers have not liked. The addition of mango juice and carboxymethyl cellulose (CMC) is expected to improve product quality. This study aimed to explore the effect of mango juice and CMC concentrations on product quality. This research used complete randomized design with 2 factors. The analysis included physical, chemical, microbiological and sensory analysis of hedonic test. The results showed that mango juice concentrations significantly affected color and attributes of color, taste, and viscosity while CMC concentrations significantly influenced viscosity, color, and sensory attributes of color, aroma, taste, and viscosity acceptability. Mango juice and CMC concentration did not effect on pH, lactic acid, total soluble solids, protein, L. casei, taste and overall sensory attributes. The average sensory value of panelists indicated a slightly dislike to this product.Keywords: fermented drink, goat milk, mango juice, whey cheeseABSTRAKMinuman fermentasi dapat dibuat dari bahan dasar whey keju susu kambing dengan inokulum Lactobacillus casei. Kelemahan minuman fermentasi ini adalah aroma dan kekentalan yang belum disukai konsumen. Penambahan jus mangga dan carboxymethyl cellulose (CMC) diharapkan dapat meningkatkan mutu produk. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek perbedaan konsentrasi jus mangga (5%, 10% dan 15%) dan konsentrasi CMC (0,3%; 0,5%; 0,7%) terhadap mutu produk. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 2 faktor. Analisis yang dilakukan meliputi analisis fisik (warna dan kekentalan), analisis kimia (pH, asam laktat, total padatan terlarut dan protein), analisis mikrobiologi (total L. casei) dan analisis sensorik uji hedonik (atribut warna, aroma, rasa, kekentalan dan penerimaan keseluruhan). Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi jus mangga berpengaruh nyata terhadap warna dan atribut penerimaan warna, rasa dan kekentalan produk. Konsentrasi CMC berpengaruh nyata terhadap viskositas, warna dan atribut sensorik warna, aroma, rasa dan penerimaan kekentalan. Konsentrasi jus mangga dan konsentrasi CMC tidak berpengaruh terhadap nilai pH, asam laktat, total padatan terlarut, protein, jumlah L. casei dan atribut sensorik rasa dan keseluruhan. Rata-rata nilai kesukaan panelis menunjukkan agak tidak suka dengan minuman fermentasi berbasis whey keju susu kambing, sehingga masih perlu penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan produk yang disukai.Kata kunci: jus mangga, minuman fermentasi, susu kambing, whey keju
PENYERAPAN EMISI CO DAN NOx PADA GAS BUANG KENDARAAN MENGGUNAKAN KARBON AKTIF DARI KULIT CANGKANG BIJI KOPI - (CO and NOx Emissions Adsorption in Gas Vehicles using Activated Carbon from Coffee Bean Shell) Redha, Fauzi; Junaidy, Rio; Hasmita, Ida
Biopropal Industri Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.556 KB)

Abstract

Adsorption technology is one of the technologies that can be applied to control exhaust emissions. This study aimed to utilize the skin biomass waste shell of coffee beans as activated carbon to absorb CO and NOx emissions in vehicle exhaust. Conversion of coffee beans shell into carbon was obtained at 31.14% at 450 oC. The absorption of exhaust emissions was done on four-wheeled diesel vehicles by placing activated carbon in the flue gas channel with two variations of pellet and hollow briquettes. The results showed COE emission reduction of 6.62-39.02% and NOx exhaust gas reduction of 13.08-39.05%. The absorption process also greatly influenced the mechanism of contacting exhaust emissions with the adsorbent. From the results obtained by activated carbon with hollow briquette form gave higher percentage of CO2 and CO2 emissions elimination compared to activated carbon in pellet form.Keywords: acivated carbon, adsorpstion, coffee bean shell, emission gasABSTRAKTeknologi adsorpsi merupakan salah satu teknologi yang dapat diterapkan untuk mengontrol emisi gas buang. Karbon aktif selama ini dikenal sebagai adsorben yang kapasitas adsorpsi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah biomassa kulit cangkang biji kopi sebagai karbon aktif untuk menyerap emisi CO dan NOx pada gas buang kendaraan. Pemanfaatan limbah biomassa cangkang biji kopi menjadi karbon aktif menunjukkan potensi yang baik. Konversi kulit cangkang biji kopi menjadi karbon diperoleh sebesar 31,14% pada temperatur 450oC. Penyerapan emisi gas buang dilakukan pada kendaraan roda empat bermesin diesel dengan menempatkan karbon aktif pada saluran gas buang dengan dua variasi yaitu pelet dan hollow briket. Hasil yang diperoleh menunjukkan penurunan emisi gas buang CO sebesar 6,62-39,02% dan penurunan emisi gas buang NOx sebesar 13,08-39,05%. Proses penyerapan juga sangat berpengaruh kepada mekanisme pengontakan emisi gas buang dengan adsorbent. Dari hasil yang diperoleh karbon aktif dengan bentuk hollow briket memberikan persentase penyisihan emisi gas buang CO dan NOx yang lebih tinggi dibandingkan karbon aktif dengan bentuk pelet. Kata kunci: adsorpsi, cangkang biji kopi, gas emisi, karbon aktif
PENGARUH KOMBINASI PLASTICIZER TERHADAP KARAKTERISTIK EDIBLE FILM DARI KARAGENAN DAN LILIN LEBAH - (The Effect of Plasticizer Combination on Characteristics of Edible Film from Carrageenan and Beeswax) Afifah, Nok; Sholichah, Enny; Indrianti, Novita; Darmajana, Doddy A
Biopropal Industri Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.047 KB)

Abstract

Edible film based on beeswax and carrageenan has been made using two types of plasticizers namely glycerol and sugar. Glycerol at a fixed concentration of 1% was combined with sugar (fructose, glucose and sucrose) each at three concentration levels of 0.5%, 1% and 1.5% w /vt. Edible film has water content, thickness, tensile strength, elongation and vapor transmission rate respectively 13.69-14.91%, 0.059-0.102 mm, 12.62-32.40 MPa, 13.34-43.57% and 17.65-25.38 g/m2/24 hours. The enhancement in plasticizer concentration resulted increasement of moisture content, thickness, elongation and water vapor transmission rate but decreased its tensile strength. All edible films showed lightness in range 84.45-85.61. Edible films with glycerol-sucrose plasticizer showed the lowest lightness. The scanning electron microscopy results indicated that edible films treated with plasticizer glycerol-fructose and glycerol-glucose have more homogeneous and smoother surface than edible control films and edible films with a glycerol-sucrose plasticizer.Keywords: edible film, fructose, glucose, plasticizer, sucrose ABSTRAKEdible film (lembaran tipis dapat dimakan) berbasis karagenan-lilin lebah telah dibuat dengan menggunakan dua jenis plasticizer (bahan pemlastis) yaitu gliserol dan gula. Gliserol pada konsentrasi tetap 1% dikombinasikan dengan gula (fruktosa, glukosa dan sukrosa) masing-masing pada tiga level konsentrasi yaitu 0,5%, 1% dan 1,5% b/vt. Edible film mempunyai kadar air, ketebalan, kuat tarik, elongasi dan kecepatan transmisi uap air masing-masing sebesar 13,69-14,91%, 0,059-0,102 mm, 12,62-32,40 MPa, 13,34-43,57% dan 17,65-25,38 g/m2/24 jam. Kenaikan konsentrasi plasticizer menghasilkan kenaikan kadar air, ketebalan, elongasi dan kecepatan transmisi uap air namun menurunkan kuat tariknya. Semua edible film menunjukkan sifat warna yang baik dengan lightness antara 84,45-85,61 sedangkan edible film dengan plasticizer gliserol-sukrosa memperlihatkan lightness paling rendah. Hasil scanning electron microscopy menunjukkan bahwa edible film yang diberi perlakuan Plasticizer gliserol-fruktosa dan gliserol-glukosa memiliki permukaan yang lebih homogen dan halus daripada edible film kontrol dan edible film dengan plasticizer gliserol-sukrosa. Kata kunci: edible film, fruktosa, glukosa, plasticizer, sukrosa
MIKROFILTRASI ISOLAT TEMPE KEDELAI (Glycine soja L.) DAN DISTRIBUSI PARTIKELNYA SEBAGAI SUMBER ASAM FOLAT (Soybean (Glycine soja L.) Tempe Isolate Microfiltration and its Particle Distribution as Folic Acid Source) Agustine Susilowati; Aspiyanto Aspiyanto; Muhammad Ghozali; Yati Maryati
Biopropal Industri Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v9i2.3393

Abstract

Soybean (Glycine soja L.) fermented (tempe) by Rhizopus oligosporus-C1 has potential as protein isolate of natural folic acid source. This study aimed to determine the differences in protein isolate particle characteristics and their composition. The research was done by smearing tempe on the ratio of 1 part tempe and 4 parts water, filtration escaped 80 mesh and purification through microfiltration system (MF) stirred cells. The results showed that MF system was capable of recovering folic acid, soluble protein, N-amino and total solids in consecutive concentrates 51.41; 73; 74.3 and 34.26%. The resulting MF concentrate drying process yielded smaller particle size powder, brighter color and evenly smoothness with Ø 0.4-100 μm (50.2%) while remaining part (49.8%) of particles measuring between 100-1000 μm with a total composition of 95.12% solids, dissolved protein 0.75 mg mL, N-amino 14.56 mg / mL and folic acid 299.66 μ/mL.Keywords: concentrate, folic acid, microfiltration (MF), particle size, tempeABSTRAKKedelai (Glycine soja L.) yang terfermentasi (tempe) oleh Rhizopus oligosporus-C1 berpotensi sebagai isolat protein sumber asam folat alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik partikel isolat protein dan komposisinya terutama asam folat dari bubur dan konsentrat bubur tempe. Penelitian dilakukan dengan melumatkan tempe pada rasio 1 bagian tempe dan 4 bagian air, filtrasi lolos 80 mesh dan pemurnian melalui sistem mikrofiltrasi (MF) sel berpengaduk. Perolehan bubur tempe dan konsentrat hasil MF selanjutnya dikeringkan dengan pengering vakum pada suhu 30°C dan tekanan absolut 22 cmHg selama 24 jam.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelumatan dan filtrasi meningkatkan asam folat, protein terlarut dan N-amino serta menurunkan total solid bubur dan filtrat. Sistem MF mampu memperoleh kembali asam folat, protein terlarut, N-amino dan total solid dalam konsentrat berturut-turut 51,41%; 73%; 74,3% dan 34,26% dibandingkan konsentrasi komponen-komponen dalam retentat dan permeat. Proses pengeringan konsentrat hasil MF menghasilkan bubuk dengan ukuran partikel lebih kecil, warna lebih cerah dan tingkat kehalusan lebih merata dengan partikel berukuran Ø 0,4-100 µm (50,2%) dan sisanya (49,8%) berupa partikel berukuran antara 100-1000 µm dengan komposisi total padatan 95,12%, protein terlarut 0,75 mg/mL, N-amino 14,56 mg/mL dan asam folat 299,66 µg/mL.Kata kunci: asam folat , konsentrat, mikrofiltrasi (MF), tempe, ukuran partikel
PENINGKATAN GALUR PADA BAKTERI PENGHASIL IAA YANG DIISOLASI DARI BINTIL AKAR TANAMAN TURI (Strain Improvement on IAA-Producing Bacteria Isolated from Root Nodules of Sesbania grandiflora (L)) Tiwit Widowati; Rahayu Fitriani Wangsa Putrie; Sylvia J.R. Lekatompessy; Harmastini Sukiman
Biopropal Industri Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.816 KB) | DOI: 10.36974/jbi.v9i2.3809

Abstract

Production of the Indole Acetic Acid (IAA) hormone from bacteria can be increased by improving the quality of the strain. Increased strains can be done with chemical and physical mutations. The study aimed to increase the production of bacterial IAA isolated from turi plant root nodule through mutation of nitric acid and UV rays. The fresh, healthy and pink colored nodule have been isolated from Turi plant (Sesbania grandiflora (L)) root which obtained 15 bacterial isolates then tested their ability to produce IAA hormone. The results of colorimetric analysis showed that TC 4.3.1.2 had highest IAA (17.72 μg/ml) in cultures plus L-triptofan. Based on 16S rRNA gene analysis,  TC 4.3.1.2 isolate was identified as Rhizobium sp BGC8. The TC 4.3.1.2 isolates were tested by mutation treatment. The nitric acid mutant produced IAA hormones (20.31-24.48 μg ml) were higher than UV mutants (0.61-19.55 μg/ml).Keywords: bacteria, IAA, mutation, strain improvement ABSTRAKProduksi hormon Indole Acetic Acid (IAA) dari bakteri dapat ditingkatkan melalui peningkatkan kualitas galur. Peningkatan galur dapat dilakukan dengan mutasi kimia dan fisik. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan produksi IAA bakteri yang diisolasi dari bintil akar tanaman turi melalui mutasi asam nitrat dan sinar UV. Bintil berwarna merah muda, sehat dan segar telah diisolasi dari akar tanaman Turi (Sesbania grandiflora (L)). Sebanyak 15 isolat bakteri telah diperoleh dan diuji kemampuannya dalam menghasilkan hormon IAA. Hasil analisis kolorimetri menunjukkan bahwa isolat TC 4.3.1.2 menghasilkan IAA tertinggi (17,72 μg/ml) dalam kultur yang ditambah L-triptofan. Berdasarkan analisis gen 16S rRNA, isolat TC 4.3.1.2 teridentifikasi sebagai Rhizobium sp. BGC8. Isolat penghasil IAA tertinggi diuji dengan perlakuan mutasi. Mutan asam nitrat menghasilkan hormon IAA (20,31-24,48 μg/ml) lebih tinggi dibandingkan mutan UV (0,61-19,55 μg/ml).Kata kunci: bakteri, IAA, mutasi, peningkatan galur 
KARAKTERISASI SENYAWA PENGHAMBAT POLIMERISASI HEME DARI BATANG BROTOWALI (Tinospora crispa (L.)) (Characterization of Inhibitor Compounds in Heme Polymerization from Brotowali Stem (Tinospora crispa (L.)) Lilik Sulastri; . Syamsudin; Partomuan Simanjuntak
Biopropal Industri Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.283 KB) | DOI: 10.36974/jbi.v9i2.3778

Abstract

Currently, obstacle in malaria treatment is the emergence of resistance to antimalarials. Brotowali (Tinospora crispa (L.)) is one of the medicinal plant which efficacious as antimalarials. This study aimed to obtain information on the structure prediction of chemical compounds that potential as antimalarials from F.EtOH.4 brotowali stems with heme polymerization inhibition mechanism using Huy method. F.EtOH.4 was fractionated using column chromatography with silica gel 60 as a stationary phase and dichloromethane-methanol eluent. F.EtOH.4.2.1.a has the highest heme polymerization inhibitory activity and chemical structure identification with UV spectroscopy, FTIR and LCMS. The IC50 value of F.EtOH.4.2.1.a was 253.46 ppm and IC50 from chloroquine sulfate was 178.74 ppm as a positive control. Identification of F.EtOH.4.2.1.a isolates based on MS spectrum was the possibility of borapetoside D compounds with molecular formula C33H46O16 and molecular weight of 698. FTIR spectrum results indicated aromatic and alcohol groups and UV spectrum results indicated chromophore groups.Keywords: borapetoside D,  heme polymerization, malaria, Tinospora crispa (L.) ABSTRAKMalaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium falcifarum dan ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina. Saat ini, kendala yang dihadapi dalam pengobatan malaria adalah timbulnya resistensi terhadap antimalaria sehingga mendorong penelitian untuk mencari antimalaria baru. Salah satu tanaman obat yang berkhasiat sebagai antimalaria adalah brotowali (Tinospora crispa (L.)) dengan kandungan alkaloid, glikosida pikroretosid, pikroretin, berberin, palmatin dan kolumbin. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% dan F.EtOH.4 batang brotowali memiliki aktivitas penghambatan ß-hematin tertinggi dengan metode Basilico. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi prediksi struktur senyawa kimia yang berpotensi sebagai antimalaria dari F.EtOH.4 batang brotowali dengan mekanisme penghambatan polimerisasi heme menggunakan metode Huy. F.EtOH.4 difraksinasi menggunakan kolom kromatografi dengan fasa diam silika gel 60 dan eluen diklorometana-metanol. Hasil fraksinasi F.EtOH.4.2, F.EtOH.4.2.1 dan F.EtOH.4.2.1.a masing-masing dilakukan pengujian aktivitas penghambatan pelimerisasi heme. F.EtOH.4.2.1.a adalah fraksi yang mempunyai aktivitas penghambatan polimerisasi heme tertinggi dan dilakukan identifikasi struktur kimia dengan Spektroskopi UV, FTIR dan LCMS. Nilai IC50 dari F.EtOH.4.2.1.a sebesar 253,46 ppm dan IC50 dari klorokuin sulfat sebesar 178,74 ppm sebagai kontrol positif. Identifikasi isolat F.EtOH.4.2.1.a berdasarkan spektrum MS adalah kemungkinan senyawa borapetoside D dengan rumus molekul C33H46O16 dan bobot molekul 698. Hasil spektrum FTIR menunjukkan adanya gugus aromatik dan alkohol dan hasil spektrum UV menunjukkan adanya gugus kromofor.Kata kunci:          borapetoside D, malaria, polimerisasi heme, Tinospora crispa (L.)
KARAKTERISASI KOLAGEN GELEMBUNG RENANG TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) DARI PERAIRAN MALUKU MENGGUNAKAN EKSTRAKSI ASAM (Collagen Characterization from Swim Bladder of Yellowfin Tuna (Thunnus albacares) from Maluku using Acid Extraction) Syarifuddin Idrus; Sugeng Hadinoto; Joice Kolanus
Biopropal Industri Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.747 KB) | DOI: 10.36974/jbi.v9i2.4020

Abstract

Swim bladders is part of byproduct from fish processing industry that contain high collagen protein. One effort to increase the added value of swim bladders is to process them into collagen extracts. The swim bladders was derived from yellowfin tuna (Thunnus albacares) as the dominant catch in Maluku. This research aimed to determine the characteristics of collagen extracts from the waste of swim bladders of yellowfin tuna which included proportion, chemical composition, amino acids and molecular weight. Swim bladders were extracted using 0.5 M and 0.75 M acetic acid. Waste swim bladders of yellowfin tuna has 0.35% of fish weights with 20.27% protein content. The acid extraction yielded collagen that identified as type I collagen with molecular weight between 130-145 kDa. Collagen extraction from swim bladders of yellowfin tuna gave best result using 0.5 M acetic acid which contains 456.40 mg/g proline, glycine 1175.05 mg/g and alanine 338.66 mg/g.Keywords: acetic acid, collagen, swim bladder, yellowfin tuna ABSTRAKGelembung renang merupakan bagian dari limbah hasil samping industri pengolahan ikan yang mengandung protein kolagen tinggi. Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah pada gelembung renang adalah dengan mengolahnya menjadi ekstrak kolagen. Gelembung renang yang diteliti berasal dari ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) sebagai hasil tangkapan dominan di Maluku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ekstrak kolagen dari limbah gelembung renang ikan tuna sirip kuning yang meliputi proporsi, komposisi kimia, asam amino dan berat molekul. Gelembung renang diekstraksi menggunakan asam asetat 0,5 M dan 0,75 M. Limbah gelembung renang ikan tuna sirip kuning memiliki proporsi 0,35% dari seluruh bobot ikan dengan kandungan protein 20,27%. Proses ekstraksi asam menghasilkan kolagen yang teridentifikasi sebagai kolagen tipe I dengan berat molekul antara 130-145 kDa. Ekstraksi kolagen dari gelembung renang ikan tuna sirip kuning memberikan hasil terbaik pada ekstraksi menggunakan asam asetat 0,5 M dimana kandungan prolin 456,40 mg/g, glisin 1175,05 mg/g dan alanin 338,66 mg/g.Kata kunci: asam asetat, gelembung renang, ikan tuna sirip kuning, kolagen
PENAPISAN ISOLAT KAPANG ENDOFIT LIPOLITIK UNTUK PRODUKSI LIPASE PADA AMPAS KELAPA (Screening of Lipolitic Endophyte Isolates for Lipase Production on Coconut Dregs) Ruth Melliawati; Nuryati Nuryati; Miftah Al Azizah
Biopropal Industri Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1970.11 KB) | DOI: 10.36974/jbi.v9i2.3954

Abstract

Endophytic fungi are microbes that live in plant tissues. This research aimed to select endophytic fungi isolates that have lipolytic function for lipase production using coconut dregs medium. Twenty endophytic fungi isolates were selected to obtain lipolytic fungi. Three potential lipolytic fungi were used to ferment coconut dregs (with and without the addition of minerals) as an internal medium to produce lipase. The highest lipase was precipitated using ammonium sulfate at 80% saturation while TLC was carried out on the filtrate. Six endophytic fungi isolates were showed to have lipolytic activtiy (i.e. producing clear zones) during screening. Three isolates with highest clear zones were HL.104F.467, JB.79F.374, and R.6F.18; with lipase activity 128.39 μmol/mL, 123.83 mol/mL and 55.46 μmol/mL respectively. Crude lipase precipitation from isolate R.6F.18 showed 2.3 times greater activity while the others were not significantly different. TLC results indicated presence of galactose in crude enzymes (JB.79F.374 and R.6F.18) and compound or sugar outside standard.Keywords: coconut dreg, endophytic mold, lipase, TLC.ABSTRAKKapang endofit merupakan mikroba yang hidup di dalam jaringan tanaman. Kapang jenis ini terus digali pemanfaatannya untuk berbagai keperluan. Tujuan penelitian ini adalah menyeleksi kapang endofit yang bersifat lipolitik untuk digunakan dalam memproduksi enzim lipase pada medium ampas kelapa. Dua puluh isolat kapang endofit diseleksi pada medium selektif (media PDA yang mengandung 0,1% bromocresolgreen dan Tween 80) untuk mendapatkan kapang lipolitik. Selanjutnya, tiga isolat kapang lipolitik potensial hasil seleksi digunakan untuk memfermentasi ampas kelapa sehingga menghasilkan enzim lipase. Tahap fermentasi ini menggunakan dua perlakuan, yakni dengan penambahan mineral dan tanpa penambahan mineral. Enzim lipase tertinggi yang diperoleh selanjutnya diendapkan menggunakan ammonium sulfat pada 80% saturasi. TLC dilakukan terhadap filtrat (crude enzyme) untuk mengetahui jenis gula yang dihasilkan. Hasil penapisan menunjukkan bahwa dari dua puluh isolat terdapat enam isolat kapang endofit yang bersifat lipolitik (membentuk zona bening). Tiga isolat memberikan zona bening yang cukup luas (HL.104F.467; JB.79F.374 ; R.6F.18); dengan aktivitas lipase tertinggi masing-masing adalah 128,39 μmol/mL, 123,83 mol/mL dan 55,46 μmol/mL (lama inkubasi 96 jam). Pengendapan crude enzyme lipase dari isolat R.6F.18 menghasikan aktivitas 2,3 kali lebih besar, sedangkan dua isolat lainnya tidak berbeda nyata. Hasil TLC menunjukkan adanya galaktosa dalam crude enzyme (JB.79F.374 dan R.6F.18) dan senyawa atau gula lain diluar standar.Kata kunci: ampas kelapa, kapang endofit, lipase, TLC

Page 9 of 21 | Total Record : 208