cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Biopropal Industri
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 208 Documents
Pengaruh Variasi Konsentrasi Inulin pada Proses Fermentasi oleh L. acidophilus, L. bulgaricus dan S. thermophillus - (The Inulin Variation Concentration Effect in Fermentation Using L. acidophilus, L. bulgaricus and S. thermophilus) Setiarto, Raden Haryo Bimo; Widhyastuti, Nunuk; Saskiawan, Iwan; Safitri, Rina Marita
Biopropal Industri Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.014 KB)

Abstract

Prebiotics are food components that can not enzymatically digested, thus it fermented by probiotic bacteria. Inulin is a prebiotic source that widely used in processed food products such as fermented milk. This study aimed to know the variation concentrations effect of prebiotic inulin on the growth of lactic acid bacteria starter yogurt (Lactobacillus acidophillus, Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus). The growth of those lactic acid bacteries was determined based on OD (Optical Density), Total Plate Count (TPC), total lactic acid content and pH. Inulin concentration of 0.5% (w/v) increased the growth of those three bacteries. Reductioned of pH value during inulin fermentation indicated the growth of bacteria that produced lactic acid. L.bulgaricus and S.thermophilus growth rate were more sensitive than L.acidophilus in addition of prebiotic inulin concentration. The growth of those bacteries in MRSB medium supplemented inulin decreased pH around 7.00 into below 5.00 due to organic acids formation.Keywords: Fermentation, Inulin, L.acidophilus, L.bulgaricus, S.thermophilusABSTRAKPrebiotik adalah komponen bahan pangan yang tidak dapat dicerna oleh saluran pencernaan secara enzimatis sehingga akan difermentasi oleh bakteri probiotik di usus besar. Inulin merupakan salah satu sumber prebiotik yang banyak dimanfaatkan dalam produk pangan olahan seperti susu fermentasi. Pemberian inulin pada kadar tertentu perlu diketahui untuk mengetahui jumlah optimal yang diperlukan untuk menjaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi prebiotik inulin terhadap pertumbuhan bakteri asam laktat starter yogurt (Lactobacillus acidophillus, Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus). Pengamatan pertumbuhan L. acidophilus, L. bulgaricus dan S. thermophillus dilakukan dengan beberapa cara antara lain perhitungan total sel dengan menggunakan prinsip turbidimetrik OD (Optical Density),  jumlah total koloni dengan Total Plate Count (TPC), analisis kadar total asam laktat tertitrasi dan pengukuran pH. Konsentrasi inulin 0,5% (b/v) mampu meningkatkan pertumbuhan L. acidophilus, L.bulgaricus dan S. thermophilus secara signifikan dibandingkan perlakuan lainnya. Penurunan nilai pH selama fermentasi inulin mengindikasikan pertumbuhan bakteri penghasil asam laktat. L. acidophilus mengalami fase eksponensial pertumbuhannya mulai dari masa inkubasi jam ke-6 hingga jam ke-24. Sementara itu L. bulgaricus dan S. thermophilus mengalami fase eksponensial pertumbuhannya mulai dari masa inkubasi jam ke-6 hingga jam ke-18. Laju pertumbuhan L. bulgaricus dan S. thermophilus lebih sensitif terhadap penambahan konsentrasi prebiotik inulin jika dibandingkan dengan L. acidophilus. Selama pertumbuhan L. acidophilus, L.bulgaricus dan S. thermophilus dalam media MRSB yang disuplementasi inulin terjadi penurunan nilai pH dari kisaran 7,00 menjadi di bawah 5,00 karena pembentukan asam-asam organik. Kata kunci: Fermentasi, Inulin, L.acidophilus, L.bulgaricus, S.thermophilus
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI RESISTEN HERBISIDA GLIFOSAT DAN PARAQUAT DARI RIZOSFER TANAMAN PADI - (ISOLATION AND IDENTIFICATION OF RESISTANT BACTERIA TO GLYPHOSATE AND PARAQUAT HERBICIDE FROM RHIZOSPHERE OF RICE PLANTS) Widowati, Tiwit; Ginting, Rohani Cinta Badia; Widyastuti, Utut; Nugraha, Asep; Ardiwinata, Ardiwinata
Biopropal Industri Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.265 KB)

Abstract

Glyphosate and paraquat are broad-spectrum herbicides that commonly used in rice fields to control weeds. This study aims to isolate and identificate bacteria from rhizosphere of rice plants which resistant to glyphosate and paraquat herbicides. Thirty bacterial isolates were isolated from rhizosphere of rice plants and screened for their resistance of glyphosate and paraquat herbicides. One isolate was resistant to 4,000 ppm of glyphosate and 1,600 ppm of paraquat. Based on Biolog omniLog identification system, isolate 4.2 was identified as Ensifer meliloti.Keywords: bacteria, herbicide, resistant, rhizosphere  ABSTRAKGlifosat dan paraquat adalah herbisida berspektrum luas yang biasanya digunakan untuk mengendalikan gulma. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri dari rizosfer padi sawah yang resisten terhadap herbisida glifosat dan paraquat. Tiga puluh isolat bakteri telah diisolasi dari rizosfer padi sawah dan diseleksi resistensinya terhadap herbisida glifosat dan paraquat. Terdapat satu isolat yang resisten terhadap 4.000 ppm glifosat dan 1.600 ppm paraquat. Berdasarkan sistem identifikasi Biolog omniLog, isolat 4,2 merupakan Ensifer meliloti.Kata kunci: bakteri, herbisida, resisten, rizosfer
Pertumbuhan Bakteri Laut Shewanella indica LBF-1-0076 dalam Naftalena dan Deteksi Gen Naftalena Dioksigenase - (The Growth of Marine Bacteria Shewanella indica LBF-1-0076 in Naphthalene and Naphthalene dioxygenase Gene Detection) Farini, Nuzul; Thontowi, Ahmad; Yetti, Elvi; Suryani, Suryani; Yopi, Yopi
Biopropal Industri Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.664 KB)

Abstract

Crude oil exploitation which often occured offshore can cause water pollution in the sea since its contains naphthalene which is a hazardous compounds. This research used marine bacteria LBF-1-0076 that have ability in naphthalene degradation. This research aimed to study the parameter effect of naphthalene and cell concentration toward marine bacteria LBF-1-0076. This research also identified isolate LBF-1-0076 and detected the encode gene of naphthalene dioxygenase. Based on growth test result, the optimum naphthalene degradationby isolate LBF-1-0076 occured in 75 ppm naphthalene concentration with 15cell concentration. The result of 16S rDNA gene analysis showed that LBF-1-0076 was identified as Shewanella indica strain 0102 with identical value 99%. The result of naphthalene dioxygenase gene detection using Polymerase Chain Reaction (PCR) showed that the isolate contained naphthalene dioxygenase gene with size ±377 bp. Therefore, LBF-1-0076 potential as bioremediation agent to solve crude oil contamination in the sea.Keywords:   crude oil, marine bacteria, naphthalene, naphthalene dioxygenase, Shewanella indicaABSTRAKEksploitasi minyak bumi yang sering terjadi di laut mengakibatkan adanya pencemaran minyak di laut. Naftalena merupakan salah satu senyawa dominan berbahaya yang terkandung dalam minyak bumi dan dapat mengakibatkan pencemaran perairan. Penelitian ini menggunakan bakteri laut LBF-1-0076 yang memiliki kemampuan untuk mendegradasi naftalena. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh parameter konsentrasi naftalena dan konsentrasi sel terhadap bakteri laut pendegradasi naftalena LBF-1-0076. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi isolat LBF-1-0076 dan mendeteksi gen pengkode naftalena dioksigenase. Berdasarkan hasil uji pertumbuhan, degradasi naftalena yang optimal oleh isolat LBF-1-0076 terjadi pada konsentrasi naftalena 75 ppm dengan konsentrasi sel 15. Hasil analisis gen 16S rDNA menunjukkan isolat LBF-1-0076 teridentifikasi sebagai Shewanella indica strain 0102 dengan nilai keidentikan 99%. Hasil deteksi gen naftalena dioksigenase dengan menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) menunjukkan bahwa isolat tersebut mempunyai gen naftalena dioksigenase dengan ukuran ±377 bp. Oleh karena itu, isolat LBF-1-076 berpotensi sebagai agen bioremediasi untuk mengatasi masalah pencemaran minyak bumi di laut.Kata kunci: bakteri laut, minyak bumi, naftalena, naftalena dioksigenase, Shewanella indica
SEPARATION OF FERMENTED INULIN FIBER BY Lactobacillus acidophillus USING Aspergillus clavatus-CBS5 THROUGH MICROFILTRATION MEMBRANE - (PEMISAHAN SERAT INULIN TERFERMENTASI OLEH L. acidophillus MENGGUNAKAN A.. clavatus-CBS5 MELALUI MIKROFILTRASI MEMBRAN) Aspiyanto, Aspiyanto; Susilowati, Agustine; Maryati, Yati; Melanie, Hakiki
Biopropal Industri Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.759 KB)

Abstract

The condition of Stirred Filtration Cell (SFC) was used as reference to a large-scale process conditions (modules) on the separation offermented inulin fibers by Lactobacillus acidophillus. Inulin hydrolyzate as biomass was produced  from inulinase hydrolysis stage by inulinase enzyme from Aspergillus clavatus-CBS5. Separation of inulinfiber aims to obtain inulin fiber through a microfiltration (MF) membrane 0.45 μm at room temperature, 400 rpm stirrer cycle and 40 psia for 0, 30, 60, 90 and 120 min. The results showed that best separation time was 120 minutes based on optimal CBC (cholesterol binding capacity) which fermented inulin fiber concentrate was produced with a total sugar concentration of 105.21 mg/mL, total solids 2.11%, total fiber 23.36%, total acid 6.66% (dry weight), 4.05 mg of dissolved protein/mL and CBC 13.781 mg/g. MF membrane increased the CBC by 23.4% compared to no separation process.Keywords: cholesterol binding capacity, inulin fiber, microfiltration membrane, permeate, retentateABSTRAKKondisi Sel Filtrasi Berpengaduk (SFB) digunakan sebagai acuan menuju kondisi proses skala besar (modul) terhadap pemisahan serat inulin terfermentasi oleh Lactobacillus acidophillus. Hidrolisat inulin yang digunakan sebagai biomassa dihasilkan dari tahapan hidrolisa inulin oleh enzim inulinase dari kapang Aspergillus clavatus-CBS5. Pemisahan serat inulin bertujuan untuk mendapatkan serat inulin melalui membran mikrofiltrasi (MF) 0,45 µm pada temperatur ruang, kecepatan putaran pengaduk 400 rpm dan tekanan 40 psia selama 0, 30, 60, 90 dan 120 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu pemisahan yang lama dapat menahan dan meningkatkan padatan total, serat total, asam total, protein terlarut dan kemampuan pengikat kolesterol (KPK) tetapi menurunkan gula total dalam retentat. Membran mikrofiltrasi melewatkan dan menurunkan gula total, protein terlarut dan KPK tetapi meningkatkan padatan total, serat total, asam total dalam permeat. Berdasarkan KPK optimal, waktu pemisahan terbaik dicapai setelah 120 menit. Pada kondisi ini dihasilkan konsentrat serat inulin terfermentasi dengan konsentrasi gula total 105,21 mg/mL, padatan total 2,11%, serat total 23,36%, asam total 6,66% (berat kering), protein terlarut 4,05 mg/mL dan KPK 13,781 mg/g. Membran MF mampu meningkatkan KPK 23,4% dibandingkan tanpa  menggunakan proses pemisahan.Kata kunci:          kemampuan pengikat kolesterol, membran mikrofiltrasi, permeat, retentat, serat inulin
Karakterisasi Mutu dan Nilai Gizi Nasi Mocaf dari Beras Analog - (Characterization of Quality and Nutrition Value of Cooked Rice Mocaf from Rice Analog) Loebis, Enny Hawani; Junaidi, Lukman; Susanti, Irma
Biopropal Industri Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.537 KB)

Abstract

Dependence on rice consumption needs to be reduced to overcome the problems of rice supply and health problems. Alternative proposed is producing mocaf-based rice analog. This research aims to study the quality characterization and nutritional value of mocaf-based rice analog. Rice mocaf was made based on mixture of mocaf, rice flour, water and palm oil using variable: 50, 60 and 70% mocaf.  Mocaf rice then cooked by using rice cooker, steamer or microwave. The results showed mocaf rice 60% yield highest calorific value.  The best cooking method  was steaming that resulted nutrient content and calorific value consisting of 49.15% water; 2.05% fat; 2.09% protein; 46.45% carbohydrate; 35.8 mg/kg of iron; 403.4 mg/kg of potassium; 193.8 mg/kg of calcium, 2.0 mg/kg of vitamin B1 and 212.53 ca/100 g calorific value.Keywords: mocaf, nutritional value, quality characterisation, rice ABSTRAKKetergantungan pada konsumsi beras perlu dikurangi untuk mengatasi permasalahan pasokan beras dan masalah kesehatan. Alternatif yang dapat diusulkan adalah dengan pembuatan beras analog berbasis mocaf. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakterisasi mutu dan nilai gizi nasi mocaf dari beras analog. Beras mocaf dibuat berdasarkan campuran mocaf, tepung beras, air dan minyak goreng sawit, dengan komposisi mocaf  50, 60 dan 70%. Beras mocaf kemudian dimasak dengan cara menggunakan rice cooker, pengukusan atau microwave. Hasil penelitian menunjukkan beras mocaf 60% menghasilkan nasi mocaf dengan nilai kalori tertinggi. Pemasakan terbaik adalah dengan cara pengukusan dengan kandungan gizi dan nilai kalori yang dihasilkan terdiri dari 49,15%  air; 2,05% lemak; 2,09% protein; 46,45% karbohidrat; 35,8 mg/kg besi; 403,4 mg/kg kalium; 193,8 mg/kg kalsium, 2,0 mg/kg vitamin B1 dan 212,53 kal/100 g nilai kalori.Kata kunci: beras, karakterisasi mutu, mocaf, nilai gizi
PEMANFAATAN DAUN TANAMAN BERKAYU SEBAGAI PUPUK ORGANIK TANAMAN SAYURAN DAN JAGUNG - (UTILIZATION OF WOODY PLANT LEAVES AS ORGANIC FERTILIZER FOR VEGETABLES AND CORN) Priadi, Dody; Kusmawan, Dede
Biopropal Industri Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.705 KB)

Abstract

This study aimed to use woody plant leaves as organic fertilizer (compost) and their effects on vegetables and corn. The compost was made from leaves of Samanea saman, Swietenia macrophylla, Nephelium lappaceum and cow dung (1:3, 2:2 and 3:1) using OrgaDec (0.5% w/w), Decomic (0.1% v/w) and Dectro (0.1 v/w) as bioactivator. The result showed that compost from Samanea saman leaves and cow dung (1:3) using Decomic (0.1% v/w) met the organic fertilizer standard. The compost was applied to Ipomoea reptans, Capsicum annuum and Zea mays on a media from compost and latosol soil (1:3, 2:2 and 3:1) using Completely Randomized Design (CRD) with 3 replications. The analyzed data using ANOVA showed no significant difference in the growth parameter of tested plants. The best media for Ipomoea reptans was the mixture of compost and latosol soil (3:1) meanwhile for Zea mays and Capsicum annuum were 1:3 and 2:2, respectively.Keywords: compost, compost application, organic fertilizer, woody plant leavesABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan daun tumbuhan berkayu menjadi pupuk organik (kompos) serta pengaruhnya terhadap tanaman sayuran dan jagung. Kompos dibuat dari daun kihujan (Samanea saman), daun mahoni (Swietenia macrophylla) daun rambutan (Nephelium lappaceum) dan kotoran sapi (1:3, 2:2 dan 3:1) dengan penambahan bioaktivator OrgaDec (0,5% w/w), Decomic (0,1% v/w) dan Dectro (0,1 v/w). Hasil analisis kimia menunjukkan bahwa kompos yang dibuat dari daun kihujan dan kotoran sapi (1:3) yang menggunakan bioaktivator Decomic (0,1% v/w) adalah perlakuan yang paling sesuai dengan baku mutu pupuk organik berdasarkan Permentan No.70/Permentan/SR.140/10/2011. Kompos hasil penelitian diujicobakan kepada tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans), cabe keriting (Capsicum annuum) dan jagung manis (Zea mays) pada media campuran kompos dan tanah latosol (1:3, 2:2 dan 3:1) menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan sedangkan data yang diperoleh diolah dengan ANOVA. Meskipun hasil ujicoba kompos tidak menunjukkan perbedaan yang nyata secara statistik pada setiap parameter pertumbuhan ketiga jenis tanaman uji tersebut namun secara umum media yang terbaik untuk kangkung darat adalah perbandingan kompos dan tanah (3:1), sedangkan untuk jagung manis dan cabe keriting masing-masing adalah 1:3 dan 2:2.Kata kunci: aplikasi kompos, daun tanaman berkayu, kompos, pupuk organik
Karakterisasi Adsorben dari Kulit Manggis dan Kinerjanya pada Adsorpsi Logam Pb(II) dan Cr(VI) - (Adsorbent Characterization from Mangosteen Peel and Its Adsorption Performance on Pb(II) and Cr(VI)) Haura, Ulfa; Razi, Fachrul; Meilina, Hesti
Biopropal Industri Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.374 KB)

Abstract

The usage of biomass waste-based adsorbent for the adsorption of hazardous metal in wastewater is not only reducing waste but also lowering adsorbent price. This research aims to study the characteristics of adsorbent from mangosteen peel (Garcinia Mangostana L.) and activated charcoal from mangosteen peel, also to compare the adsorption performance on metal ion Pb(II) and Cr(VI). Synthetic wastewater used from a solution of Pb(NO3)2 and K2Cr2O7 with variations in initial concentration of 20, 40, 80, 100 and 200 mg/L. Adsorption performed at pH 5, ratio of adsorbent and waste solution 1/200 (w/v), 60 rpm, 0.5 gs nano-sized adsorbent. Characterization using SEM, FTIR and SEM-EDS showed that both adsorbents characteristics met the requirements of SNI 06-3730-1995. The highest adsorption capacity of activated carbon to adsorb Pb(II) and Cr(VI) were 38.543 mg/g and 36.838 mg/g while biosorbent adsorb Pb(II) and Cr(VI) respectively 3.98 mg/g and 36.12 mg/g.Keywords: adsorption, biosorbent, Cr(VI), mangosteen peel, Pb(II)ABSTRAKPenggunaan adsorben berbasis limbah biomassa untuk adsorpsi kandungan logam berbahaya dari limbah cair industri selain dapat mengurangi limbah juga dapat menekan harga jual adsorben. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik adsorben yang terbuat dari limbah kulit manggis (Garcinia mangostana L.) dan arang aktif dari limbah kulit manggis serta membandingkan kinerja kedua jenis adsorben tersebut pada proses adsorpsi ion logam Pb(II) dan Cr(VI). Limbah sintetis yang digunakan berupa ion dari Pb(II) dan Cr(VI) dari larutan Pb(NO3)2 dan K2Cr2O7 dengan variasi konsentrasi awal 20, 40, 80, 100 dan 200 mg/L. Proses adsorpsi dilakukan pada pH 5, rasio perbandingan berat adsorben dan volume larutan limbah 1:200, kecepatan pengadukan 60 rpm, adsorben berukuran nano dengan berat adsorben 0,5 g. Masing-masing adsorben dikarakterisasi menggunakan SEM untuk mengetahui sturktur morfologi, FTIR untuk mengetahui gugus fungsi dan SEM-EDS untuk mengetahui komponen kimia yang terkandung dalam adsorben tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kedua jenis adsorben memenuhi syarat mutu sesuai SNI 06-3730-1995. Kapasitas adsorpsi tertinggi dari karbon aktif untuk menyerap Pb(II) dan Cr(VI) masing-masing 38,543 mg/g dan 36,838 mg/g, sedangkan kapasitas adsorpsi tertinggi biosorben untuk menyerap Pb(II) dan Cr(VI) masing-masing 36,98 mg/g dan 36,12 mg/g.Kata kunci: adsorpsi, biosorben, Cr(VI), kulit manggis, Pb(II)
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA KIMIA ASAM LEMAK DARI MIKROALGA Lyngbya sp. - (ANTIBACTERIAL ACTIVITY AND FATTY ACID COMPOUNDS IDENTIFICATION FROM MICROALGAE Lyngbya sp.) Agustini, Ni Wayan Sri; Kusmiati, Kusmiati; Handayani, D
Biopropal Industri Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.452 KB)

Abstract

Fatty acid has biological activity to terminate or inhibit the growth of pathogenic bacteria. Lyngbya sp. is one of microalgae that producing fatty acid. This study aims to obtain a compound with antibacterial activity from Lyngbya sp. The extraction method used specifically to isolate fatty acid with dichloromethane solvents. The A, B and C extracts were tested its antibacterial activity using diffusion method with paper disc. The C extract which most active was fractionated using SiO2 column chromatography, dichlromethane-ethyl acetate (1:1). The result then tested against Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Fraction that had antibacterial activity with highest inhibition zone was identified using Gas Chromatography Mass Spectrometry. The 16th fraction of the C extract had the highest antibacterial activity with inhibition zone of 30.30 mm. The identification of 16th fraction showed it was phthalic acid (bis(2-ethylhexyl) phatalate 1.2 benzene dicarboxylic acid) with retention time 19.73 minutes which classified as fatty acid.Keywords: antibacterial, chromatography, fatty acid, Lyngbya sp.ABSTRAKAsam lemak memiliki aktivitas biologis untuk menghentikan atau menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Salah satu mikroalga penghasil asam lemak adalah Lyngbya sp. Penelitian ini bertujuan  untuk memperoleh senyawa kimia yang mempunyai aktivitas antibakteri dari mikroalga Lyngbya sp. Metode ekstraksi yang digunakan khusus untuk mengisolasi senyawa asam lemak dengan pelarut diklorometan. Ekstrak yang diperoleh adalah ekstrak A, B dan C, masing-masing ekstrak lalu diuji aktivitas antibakterinya dengan metode difusi menggunakan kertas cakram. Setelah diketahui ekstrak C merupakan ekstrak teraktif, selanjutnya ekstrak tersebut difraksinasi menggunakan kromatografi kolom SiO2, dengan pelarut diklorometana-etil asetat (1:1). Fraksi yang diperoleh kemudian diuji aktivitas antibakterinya dan ditetapkan fraksi yang mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Fraksi yang mempunyai aktivitas antibakteri dengan zona hambat tertinggi diidentifikasi dengan kromatografi gas-spektrometri massa. Fraksi 16 ekstrak C memberikan aktivitas antibakteri dengan zona hambat 30,30 mm. Identifikasi fraksi 16 dengan kromatografi gas-spektrometer massa menunjukkan bahwa kandungan senyawa yangbersifat antibakteri adalah asam ftalat (bis(2 etil heksil) ftalat 1,2 benzena asam karboksilat) dengan waktu retensi 19,73 menit yang merupakan golongan asam lemak.Kata kunci: antibakteri, asam lemak, kromatografi, Lyngbya sp.
Karakteristik Membran Asimetris Polietersufone (PES) dengan Pelarut Dimetil Formamide dan N-Metil-2-Pyrolidone - (Characteristic of Poliethersulfone (PES) Asymmetric Membrane with Dimethyl Formamide and N-Methyl Pyrolidone as Solvent) Mulyati, Sri; Razi, Fachrul; Zuhra, Zuhra
Biopropal Industri Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.947 KB)

Abstract

Membrane that is generally used for separation process could be made using phase inversion technique. This research aims to create polyethersulfone (PES) asymmetric membranes via phase inversion technique using solvent and Trans Membrane Pressure (TMP) as variable. SEM analysis indicated that membranes had asymmetric structure that consits of two layers which denser skin layer on the top surface and the porous support on the bottom. PES/DMF membrane showed larger pore structure than PES/NMP. The permeability coefficients of both membranes were in the ultrafiltration range. The coefficient permeability (Lp) of PES/DMF membrane was 35.769 L/m2.hour, much greater compared to PES/NMP membrane which was 15.364 L/m2.hour.bar. Molecular Weight Cut-Off (MWCO) of PES/DMF membrane was 177 Kda, meanwhile PES/NMP was 186 Kda. Performances of the membranes were evaluated  using dextrane as feed solution. PES/DMF membrane resulted in an higher flux and lower rejection than PES/NMP.Keywords: asymmetric membrane, membrane performance, Molecular Weight Cut-Off (MWCO), morphology, permeability ABSTRAKMembran yang umumnya digunakan untuk proses pemisahan dapat dibuat menggunakan teknik inversi fasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik membran asimetris polietersulfone (PES) yang dibuat menggunakan teknik inversi fasa dengan variabel jenis pelarut dan Trans Membrane Pressure (TMP). Hasil analisis Scanning Electron Microscopy (SEM) terhadap morfologi membran membuktikan bahwa membran yang dihasilkan merupakan membran asimetris yang terdiri dari dua lapisan yaitu bagian atas merupakan lapisan tipis dan lapisan bawah adalah lapisan berpori. Membran PES/DMF memiliki struktur pori yang lebih besar dibandingkan membran PES/NMP. Koefisien permeabilitas kedua membran yang dihasilkan berada dalam jangkauan ultrafiltrasi. Koefisien permeabilitas (Lp) membran PES/DMF sebesar 35,769 L/m2.jam, nilai ini jauh lebih besar dibandingkan PES/NMP yaitu 15,364 L/m2.jam.bar. Molecular Weight Cut-Off (MWCO) dari membran PES/DMF yaitu 177 Kda sedangkan membran PES/NMP sebesar 186 Kda. Kinerja membran PES/DMF terhadap pemisahan larutan dekstran memberikan nilai fluks yang lebih tinggi daripada membran PES/NMP sedangkan rejeksi yang dihasilkan lebih rendah. Fluks tertinggi diperoleh pada TMP 2 bar sebesar 11,4 L/m2.jam untuk membran PES/DMF dan 10,2 L/m2.jam untuk membran PES/NMP.Kata kunci:          kinerja membran, membran asimetris, Molecular Weight Cut-Off (MWCO), morfologi, permeabilitas
OPTIMASI EFISIENSI FLOKULASI PADA PROSES PANEN MIKROALGA POTENSIAL PENGHASIL BIODIESEL DENGAN FLOKULAN ION MAGNESIUM - (OPTIMIZATION OF FLOCCULATION EFFICIENCY IN THE HARVESTING PROCESS OF POTENTIAL BIODIESEL PRODUCING MICROALGAE BY USING MAGNESIUM IONS) Praharyawan, Swastika; Putri, Silviredeta Anindya
Biopropal Industri Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.105 KB)

Abstract

Flocculation is a feasible method for harvesting microalgae due to its lower cost. This research aims to optimize the flocculation efficiency in harvesting biodiesel-producing microalgae. Flocculation process was conducted towards microalgae cell suspension on 0.2-1 g/L range concentration by applying magnesium ions (1 until 5 mM) at alkaline condition (pH 9-12) in 30 and 60 minutes using neutralization and sweeping. The result showed that magnesium ion concentration, pH value and biomass concentration had significant effect on the efficiency of microalgae cells flocculation, while flocculation time did not show significant effect. Flocculation efficiency increased when magnesium ion concentration was 4 mM and started at pH 10 for microalgae culture with high biomass concentration and at pH 11.5 for low biomass concentration, while optimum pH for both culture was 11.75. Flocculation efficiency for microalgae with high concentration of biomass at optimum condition was 94.89% while for the low one was 89.75%.Keywords: flocculation, flocculation efficiency, magnesium ions, microalgaeABSTRAKMikroalga berpotensi sebagai bahan baku biodiesel. Metode flokulasi layak untuk diterapkan pada pemanenan mikroalga karena berbiaya rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi efisiensi flokulasi pada proses pemanenan mikroalga lokal potensial penghasil biodiesel yang menggunakan metode otoflokulasi di bawah pengaruh nilai pH, konsentrasi ion magnesium, konsentrasi biomassa dan waktu flokulasi. Proses flokulasi dilakukan pada suspensi sel mikroalga konsentrasi 0,2 hingga 1 g/L dengan menggunakan ion magnesium (1 hingga 5 mM) pada suasana basa (pH 9-12) selama waktu tertentu (30 dan 60 menit) melalui mekanisme netralisasi muatan dan penyapuan (sweeping). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ion magnesium, nilai pH dan konsentrasi biomassa memberikan pengaruh yang signifikan terhadap efisiensi flokulasi sel-sel mikroalga sedangkan waktu flokulasi tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Efisiensi flokulasi meningkat secara signifikan pada konsentrasi ion magnesium hingga 4 mM dan dimulai pada pH 10 untuk kultur mikroalga dengan konsentrasi biomassa tinggi (1 g/L) dan pada pH 11,5 untuk kultur dengan konsentrasi biomassa rendah (0,2 g/L) sedangkan pH optimum untuk kedua kultur adalah 11,75. Nilai efisiensi flokulasi untuk kultur mikroalga dengan konsentrasi biomassa tinggi pada kondisi optimum mencapai 94,89%, sementara nilai efisiensi flokulasi untuk kultur dengan konsentrasi biomassa rendah adalah 89,75%.Kata kunci: efisiensi flokulasi, flokulasi, ion magnesium, mikroalga

Page 8 of 21 | Total Record : 208