cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2008)" : 10 Documents clear
URGENSI PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS LAUT DALAM MENGHADAPI OTONOMI DAERAH DAN GLOBALISASI Sugito, Nanin Trianawati
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1704

Abstract

Daerah (provinsi, kabupaten, dan kota) mempunyai wewenang yang relatif lebih luas dalam hal pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian lingkungan yang berada di wilayah lautnya setelah diberlakukan Undang-Undang No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah,. Mengingat tingginya nilai suatu wilayah bagi suatu pemerintah daerah, maka nilai tata batas wilayah pun menjadi sangat penting dan krusial, tidak hanya bagi daerah yang bersangkutan tapi juga bagi daerah-daerah yang berbatasan. Untuk mendukung kebijakan ini, para pengambil keputusan daerah harus mengerti sistem penentuan dan penetapan batas daerah di laut. Penetapan dan penegasan batas dalam konsep otonomi daerah meliputi: penetapan batas dari aspek yuridis; pengukuran koordinat batas di lapangan; dan pemetaan kawasan perbatasan di atas peta ataupun di atas basis data digital. Penulisan artikel ini akan membahas beberapa aspek teknis dalam penetapan dan penegasan batas daerah di laut, terutama yang terkait dengan peta dasar dan garis pantai yang digunakan, penentuan koordinat titik acuan, serta pengukuran batas dan pembuatan peta batas. Kata kunci: Batas laut, otonomi daerah, globalisasi.
STUDI KONSERVASI AIR UNTUK PEMANFAATAN AIRTANAH YANG BERKELANJUTAN PADA RECHARGE AREA LERENG GUNUNGAPI MERAPI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA Mutianto, Hendro
Jurnal Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak lepas dari keberadaan air yang merupakan salah satu materi penunjang kehidupan. Berbagai cara dilakukan manusia untuk mendapatkan air bersih, salah satunya adalah dengan mengambil air dari dalam bumi atau bawah permukaan tanah. Cara pengambilan air dari bawah permukaan tanah dirasa menjadi cara yang familiar dan paling banyak dilakukan manusia, karena beberapa alasan utama, yaitu: airtanah mudah untuk didapatkan, relatif bersih karena melalui filterisasi struktur tanah-batuan dan secara ekonomis lebih murah. Sedangkan ketersediaannya sangat tergantung dari tingkat infiltrasi dan perkolasi di daerah tangkapan air (recharge area). Recharge area di Yogyakarta dipengaruhi oleh kondisi fisik lahan di daerah hulu, yaitu daerah lereng Gunungapi Merapi yang merupakan tulang punggung sistem geohidrologi kawasan dataran Jogja dan sekitarnya. Akibat perubahan penggunaan lahan yang terjadi di daerah ini telah menurunkan tingkat infiltrasi sehingga terjadi fluktuasi posisi muka airtanah dataran Jogja, terutama pada saat musim kemarau. Untuk itu, perlu upaya-upaya konservasi dalam rangka pelestariannya dengan memperhatikan tipologi sistem aquifer pada daerah tangkapannya. Kata kunci: Konservasi air, airtanah, “recharge area”. 
PELESTARIAN SUMBER DAYA AIR VERSUS TEKANAN PEMANFAATAN RUANG BERASOSIASI PERMUKIMAN DI KABUPATEN PEMALANG Budi, Triton Prawira
Jurnal Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konservasi air merupakan kebutuhan yang mendesak mengingat air bukanlah produk yang dapat disubstitusikan. Kesadaran akan kebutuhan air yang dapat mempengaruhi kelanjutan hidup manusia hendaknya segera ditanamkan. Beberapa aktivitas pemanfaatan ruang yang tidak tanggap konservasi sumber daya air di Kabupaten Pemalang menimbulkan pertanyaan: apakah aktivitas pemanfaatan ruang telah mencerminkan tekanan terhadap konservasi sumber daya air kabupaten Pemalang? Kajian ini bersifat deskriptif analitik. Data sekunder diperoleh sebagian besar dari BPS dan RTRW Kabupaten Pemalang. Selanjutnya dilakukan analisis dalam bentuk tampilan tabel dan grafik sederhana. Hasil kajian ini adalah bahwa proporsi lahan sawah dari tahun-ke tahun cenderung menurun, yaitu dari 39,25% pada tahun 2004 menjadi 38,19% pada tahun 2005, dan pada akhirnya hanya tersisa 38,09 % pada tahun 2006. Demikian juga penggunaan lahan tegalan juga mengalami penurunan dari 17,82% pada tahun 2004 menjadi 17,74% pada tahun 2005, namun proporsi tersebut tidak berubah pada tahun 2006. Sebaliknya, penggunaan lahan bangunan pekarangan semakin meningkat dari 13,14% pada tahun 2004 menjadi 14,07% pada tahun 2005, dan 14,16% pada tahun 2006. Hasil tersebut dapat dimaknai 1) Meningkatnya tekanan penduduk, 2) Berkurangnya vegetation coverage, 3) Kerusakan tanah, top soil, 4) Run off meningkat, infiltrasi berkurang, dan 5) Menurunnya muka freatik. Kata kunci: pemanfaatan ruang, pelestarian, sumber daya air
PEMANFAATAN CITRA SATELIT LANDSAT DALAM PENGELOLAAN TATA RUANG DAN ASPEK PERBATASAN DELTA DI LAGUNA SEGARA ANAKAN Sugandi, Dede
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1696

Abstract

Perairan Segara Anakan yang merupakan pertemuan beberapa muara sungai, yaitu Ci Tanduy, Ci Meneng, Ci Beureum, Ci Konde, dan beberapa sungai lainnya telah berubah akibat sedimentasi oleh lumpur Ci Tanduy yang setiap tahunnya menyumbang 740.000 meter kubik lumpur dari total sedimen 1 juta meter kubik/tahun yang dibawa masuk sungai-sungai lain. Adanya penambahan luas daratan akibat proses sedimentasi tersebut tentunya akan menimbulkan berbagai dampak. Dampak tersebut tidak saja berpengaruh terhadap aspek kehidupan penduduk, tetapi juga terhadap aspek lain yang melibatkan pihak pemerintah, misalnya dalam pengelolaan tata ruang dan aspek perbatasan. Salah satu dampak sedimentasi di kawasan Segara Anakan adalah permasalahan hukum dan kelembagaan dari kepemilikan delta di kawasan laguna. Dari kondisi inilah yang menyebabkan perlunya dicari model pendekatan yang sesuai untuk penataan ruang perairan Segara Anakan. Dalam penelitian ini, upaya pengelolaan tata ruang dan aspek perbatasan dan penguasaan tanah delta akibat sedimentasi di kawasan Segara Anakan dianalisis melalui citra penginderaan jauh misalnya dengan Citra Landsat. Pemanfaatan citra satelit dipilih sebagai alternatif penelitian, karena citra satelit dapat mencakup daerah yang luas. Dari citra satelit tersebut dapat diidentifikasi secara spesifik antara daratan dan lautan dalam waktu relatif singkat, serta waktu perekamannya yang berkelanjutan. Kata Kunci: Segara Anakan, sedimentasi, citra landsat, laguna
STUDI SEDIMEN PADA ANAK SUNGAI SAKA KANAN DI DAS TENGGARONG KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Mulyadi, Rachmad
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1701

Abstract

Tenggarong watershed has several Sub-watershed. One of them Saka Kanan river basin that be one of the present environment quality depreciation. Drainage basin knowable as good or bad conditon based on erosion level in surface soil and sedimentation level in river. This research aims to detect rate of flow water level, sedimet load pregnancy flies and load basis for will detect environment quality standard. Saka Kanan watershed as one of the Sub-watershed that will give sedimet and load base material towards Tengarong Watershed. Method survey field with watch closely and measures rate of river flow, take river water sample to at sedimet load analysis flies. As sedimentation determination and water quality analysis. Terba Station in has criteria resim water as big as 1,45 % that criteria very ugly while station bensamar as big as 6,95 % also in category very ugly. Sediment load measurement result flies in Terban station sedimet load between 28.60-685 mg/l enter in good category up to very ugly. Station bensamar has value between 37.50-725.75 mg/l enter in good category up to very ugly. Keywords : River Flow Level, Sedimet load, Saka Kanan Watershed
PEMANFAATAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH UNTUK MENGIDENTIFIKASI KERENTANAN DAN RISIKO BANJIR Somantri, Lili
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1697

Abstract

Banjir adalah bencana alam yang sering terjadi setiap musim hujan. Bencana ini tidak hanya menyebabkan kerugian harta benda, tetapi juga korban manusia. Untuk itu dalam upaya mitigasi banjir, diperlukan pemetaan tentang daerah yang rentan dan memiliki risiko terhadap banjir. Salah satu teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi daerah yang rentan terhadap banjir adalah penginderaan jauh. Teknik ini memiliki kelebihan yaitu kajiannya meliputi daerah yang luas dan memiliki biaya yang relatif murah jika dibandingkan dengan survei lapangan. Kata Kunci: Penginderaan Jauh, Kerentanan Banjir, Risiko Banjir.
STUDI TENTANG MODEL HIDROGRAF SATUAN SINTETIK PADA SUB DAS BAYUR SAMARINDA, KALIMANTAN TIMUR Syafrudin, Muhammad
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1702

Abstract

The present research entitled Study of Synthetic Unit Hydrograph Model of Bayur River Basin at Samarinda, East Kalimantan was aimed to analyze and identify the best-suited synthetic unit hydrograph to apply in Bayur river basin. The research was carried out by developing models, and then those models were compared to main unit hydrograph based on 2004 field measurement. Comparative analysis was performed on two stages. The first was to calculate and compare three-unit hydrograph parameters (Tp, Qp and Tb) of two synthetic unit hydrograph to main unit hydrograph. Second stage was to develop direct runoff hydrograph of two synthetic unit hydrograph models and of the main unit hydrograph using rainfall data of April 9, 2004. Then, deviation percentage averages of the two synthetic direct runoff hydrograph were calculated. Through the two analysis stages, the best-suited synthetic unit hydrograph model to apply in Bayur river basin presumably was obtained by identifying smallest deviation percentage average on main unit hydrograph. By calculating deviation averages of direct runoff hydrograph in the two models of synthetic unit hydrograph, it was found that GAMA I model provided smallest deviation average compared Snyder model. Based on the two analysis, it was showed that GAMA I was the closest model to main unit hydrograph compared to Snyder model.Key word: synthetic unit hydrograph, river basin, direct runoff, Snyder model, GAMA I model.
PENGENDALIAN OVERLAND FLOW SEBAGAI SALAH SATU KOMPONEN PENGELOLAAN DAS Suryana, Suryana
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1698

Abstract

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dilakukan secara integratif dari komponen biofisik dan sosial budaya masyarakat. Komponen biofisik yang dibahas dalam tulisan ini berupa unsur hidrologi pada kajian overland flow untuk mengetahui air yang terlimpas dan menjadi masukan bagi kondisi air permukaan sebagai pemasok banjir. Jika overland flow yang ada di DAS besar, maka diperlukan suatu tindakan strategis dalam pengelolaan DAS, yaitu berdasarkan prinsip menurunkan jumlah overland flow dan memperbanyak infiltrasi air tanah sebagai cadangan dari sistem DAS tersebut melalui kegiatan yang bersifat fisik maupun vegetatif. Kata kunci: Overland flow, pengelolaan DAS
URGENSI PENENTUAN DAN PENEGAKAN HUKUM KAWASAN SEMPADAN PANTAI Sugito, Nanin Trianawati; Sugandi, Dede
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1703

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 17,500 pulau besar dan kecil dengan panjang garis pantai kurang lebih 81.000 km. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kondisi geografis yang sebagian besar wilayahnya merupakan daerah pantai. Kawasan pantai umumnya sangat menarik para nelayan untuk mendirikan perumahan karena ingin dekat dengan tempat bekerja mereka sebagai penangkap ikan di laut. Tapi pada kenyataannya sekarang banyak nelayan yang kesulitan untuk berlabuh di tepi pantai karena sudah banyak bangunan milik perorangan atau badan usaha privat yang didirikan di garis pantai bahkan menjorok ke laut. Tentu saja fenomena ini telah melunturkan fungsi sosial dari laut sebagai aset yang merupakan milik seluruh manusia. Kawasan pantai merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan, baik perubahan akibat ulah manusia maupun perubahan alam. Desakan kebutuhan ekonomi menyebabkan wilayah pantai yang seharusnya menjadi wilayah penyangga daratan menjadi tidak dapat mempertahankan fungsinya sehingga kerusakan lingkungan pesisir pun terjadi. Untuk mencegah terjadinya kerusakan pantai lebih jauh, diperlukan adanya kawasan sempadan pantai. Kawasan ini berfungsi untuk mencegah terjadinya abrasi pantai dan melindungi pantai dari kegiatan yang dapat mengganggu/merusak fungsi dan kelestarian kawasan pantai. Garis sempadan pantai ditentukan berdasarkan bentuk dan jenis pantai daerah yang bersangkutan. Penetapan garis sempadan pantai harus ditindaklanjuti dengan penegakan hukum (law enforcement) sehingga dapat bersifat tegas terhadap pelanggaran yang terjadi, untuk semua pihak tanpa kecuali. Kata kunci: Kawasan, sempadan pantai.
POTENSI AIR BERSIH DI KAWASAN SEGARA ANAKAN Riswandi, Agus
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1699

Abstract

Indonesia adalah Negara tropis yang hanya memiliki dua musim saja yaitu musim hujan dan musim kemarau dengan curah hujan yang tinggi. Kondisi seperti ini menjadikan Indonesia Negara yang melimpah cadangan airnya, tidak akan mengalami kekeringan maupun kesulitan untuk mendapatkan air bersih bagi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada, masih ada daerah yang kekeringan dan kesulitan untuk mendapatkan air bersih bagi kebutuhan sehari-hari. Fakta ini terjadi pula di kawasan Segara Anakan, dimana Kawasan Segara Anakan memiliki badan air yang luas dan memiliki banyak fungsi antara lain sebagai tempat hijrahnya ikan-ikan di perairan selatan Jawa. Namun, penduduk yang tinggal di Kawasan ini mempunyai kesulitan untuk mendapatkan air bersih, hal ini diperparah lagi dengan tingginya tingkat sedimentasi di kawasan tersebut sehingga ekosistem Segara Anakan menjadi rusak bahkan nyaris punah. Sebagai suatu kawasan yang potensial maka perlu kiranya upaya-upaya penyelamatan yang didasarkan pada identifikasi permasalahan yang muncul di kawasan tersebut dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan kebutuhan penduduk setempat, terutama kebutuhannya terhadap pengadaan air bersih. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara low solution, medium solution, dan high solution. Kata kunci: Potensi air bersih, kawasan Sagara Anakan.

Page 1 of 1 | Total Record : 10